BANG MARDI PENJUAL BAKSO DESA SUSUK

  21 - Oct - 2010 -   slamet wijadi -   21 Comments »

Jalan hidup manusia memang penuh misteri. Tidak seorangpun dapat meramal, hidup yang bagaimana yang bakal dijalani dikemudian hari. Memang betul bahwa manusia bisa berencana dan wajib berusaha, namun pada akhirnya Tuhan lah yang akan menentukan bagaimana seseorang menjalani hidup senyatanya. Berikut adalah contoh tentang jalan hidup seseorang yang tidak lain adalah teman bermain saya di desa waktu kecil.

Pak Mardi, selalu bersyukur menjalani hidupnya...

Pak Mardi, selalu bersyukur menjalani hidupnya...

Tidak ada yang istimewa dari kisah perjalanan hidupnya, hanya kebetulan dia adalah teman bermain diwaktu kecil yang kini tinggal sedikit yang masih tersisa, dan sekarang sama-sama menjelang usia kepala delapan. Disamping itu, menurut saya, dari kisah perjalanan hidupnya yang “sederhana” itu mungkin ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik manfaatnya.

Kesempatan bertemu dan omong-omong dengan teman lama ini terjadi sewaktu saya baru- baru ini selama lebih dari sebulan berada di desa.  Namanya Mardi, sekarang berprofesi sebagai penjual bakso yang mangkal di depan pasar desa Susuk, namun bila pembeli sepi dia “menjemput bola” dengan menarik grobag baksonya keliling desa Susuk dan beberapa desa tetangga menjajakan dagangannya. Kini dia terkenal dengan nama Bang Mardi penjual bakso, dan memang dia sendiri pernah memasang “brand name” “Bakso Bang Mardi” pada kios tempat mangkalnya.

Pada suatu pagi yang cerah sehabis Lebaran yl., saya bertandang ke warung “Bakso Bang Mardi”. Sambil menikmati bakso yang terkenal cukup sedap, dan disela-sela dia melayani pembeli, kami omong-omong nostalgia, mengungkap memori jaman waktu kecil sekitar 70 tahunan yl. sewaktu kami bersama menikmati dunia masa kanak-kanak , sekitar pertengahan tahun ‘30-an.

Masih terasa segar dalam ingatan saya betapa kami, bersama-sama dengan anak2 sebaya lainnya, yang sebagian besar telah lama meninggal, menghabiskan waktu untuk bermain, menggembala kerbau di sawah, mandi di kali sambil ngguyang kerbau, main layangan, cari ikan di selokan dengan cara “tawu” (menguras airnya dengan ember/cething), cari dan adu jangkrik, adu kecik, adu ayam, adu gambar, main panggalan/gangsingan, benthik, egrang, kasti, manjat pohon asem untuk cari buahnya dll.. Waktu itu di desa ada dua pohon asem tua dan besar, satu di makam desa sebelah timur dan lainnya ada di pasar Susuk. Buahnya bila sudah tua/mateng sangat manis. Kini keduanya sudah hilang.

Ada lagi permainan lain yang biasanya dimainkan pada waktu terang bulan, seperti gobag sodor, ci meneng/muni, bithungan dan bagi anak-anak perempuan jamuran, lepetan, gojegan lesung, nini thowong dllnya. Kini sebagian besar bentuk permainan itu sudah lenyap ditelan jaman.

Seiring dengan berjalannya waktu, dunia kanak-kanak kamipun berakhir. Waktu itu bersamaan dengan jatuhnya pemerintah jajahan Hindia Belanda dan kedatangan Jepang sebagai penjajah baru. Setamat Ongko Loro/Kokumin Gakko jaman Jepang, hidup kami berpisah. Saya meninggalkan desa dan ikut kakak yang sudah bekerja di Bandung dan seterusnya tidak pernah tinggal di desa lagi. Berpuluh tahun tidak pernah ketemu lagi, dan inilah kisahnya sejak kami berpisah.

Permulaan tahun ’50-an dia meninggalkan desa untuk mengadu nasib di daerah Serang, Banten, mengikuti orang sedesa yang telah bermukim di sana lebih dulu. Tinggal di desa termasuk kecamatan Cimanuk, rupanya dia bernasib mujur karena mendapat pekerjaan sebagai pegawai kecamatan. Dengan pekerjaan itu dia berani membangun rumah tangga dengan mempersunting gadis setempat. Kehidupan rumah tangga berjalan lancar dan mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Bahtera rumah tangganya mulai oleng setelah, karena satu sebab, dia diberhentikan dari pekerjaan. Untuk menopang kehidupan rumah tangga dia bekerja serabutan, namun dengan keadaan seperti itu sang isteri mulai “menjauh” dan akhirnya terpikat pada lelaki lain dan minta cerai. Bersama dengan suami baru, mereka meninggalkan Serang dan pindah ke Lampung bersama anaknya. Tinggalah Pak Mardi seorang diri sebagai duda.

Bertahun-tahun hidup menduda di “tanah asing” tanpa pekerjaan tetap sungguh menyengsarakan. Dia mulai teringat untuk kembali ke desanya. Akhir tahun tujuhpuluhan dia “pulang kandang” setelah berkelana hampir 30 tahun. Masalahnya adalah bagaimana dia akan menopang hidupnya di desa, sawah tidak punya lagi. Akan menjadi buruh-tani /penggarap tidak sanggup lagi, karena pada dasarnya dia adalah cucu orang yang dulunya tergolong berada di desa.

Namun Tuhan selalu memberikan jalan bagi seseorang untuk menemukan rejekinya. Sewaktu jadi pengangguran di Serang, rumahnya menampung pemondokan bagi dua orang tukang bakso dari Solo. Dari mereka itu Pak Mardi mulai memperhatikan seluk-beluk usaha “perbakso-an”, dari mencari/ memilih dan membeli daging, mempersiapan proses pembikinan bakso dengan segala bumbu dan ramuannya sampai pemasarannya. Rupanya pengetahuan inilah yang kemudian menjadi modal untuk memulai kehidupan di desanya.

Mulailah dia memperkenalkan makanan bakso di desa yang pada waktu itu masih “asing”. Dia membuka kios di depan pasar Susuk dengan papan nama “Bakso Bang Mardi”. Sedikit demi sedikit usahanya mulai menampakkan hasilnya. Dengan tekunnya dia berpromosi tentang “budaya baru” makan bakso. Setiap kali ada orang hajatan dengan tanggapan/tontonan dia hadir dengan grobag baksonya, sampai jauh ketetangga desa dalam kecamatan Ngombol. Waktu itu pedagang bakso masih langka dan dia merasa menguasai pasar.

Dengan perkembangan usahanya itu dia kemudian menikah lagi dengan gadis sedesa-nya. Rupanya pernikahan ini memberikan berkah karena kini dia ada yang membantu, sehingga usahanya makin maju. Dari perkawinan ini dia dikaruniai dua orang anak yang kemudian diberi pendidikan yang cukup. “Semuanya berkah dari dagang bakso itu”, katanya dengan mantap. “Tidak pernah menyesal saya menekuni usaha ini”, katanya, “inilah rejeki yang diberikan Tuhan pada saya dan keluarga, inilah jalan hidup saya”. Itulah kata penutup antara dua sahabat sepermainan diwaktu kecil.

Dengan usianya yang makin senja kemampuan fisikpun makin menurun. Disamping itu kini persaingan usaha bakso juga makin ketat sehingga pendapatan harianpun makin menurun. Namun demikian dia tetap bertahan dalam kondisi yang seadanya. Sampai kapan? “Ya sampai saya tidak bisa jalan lagi”, katanya. Untuk mengantisipasi keadaan itu dia sudah mulai “usaha sampingan” dengan memelihara beberapa ekor kambing untuk “jaga-jaga”.

Satu hal yang mengagumkan, saya tidak mempunyai kesan sedikitpun bahwa dia menyesali jalan hidupnya, bahkan sebaliknya tersirat ada perasaan bangga bahwa dengan usaha yang dia lakukan itu dia, secara halal, telah bisa menghidupi keluarga dan mendidik anak-anaknya dengan baik. “Saya bersyukur”, katanya.

Pukul delapan malam suasana desa telah sepi, gerimis yang mengguyur tiada hentinya sejak sore tadi menambah keadaan makin “tintrim”. Dari jalan samping rumah saya tiba- tiba terdengar suara “thing, thing, thing, thing”. Itulah suara khas bakso Bang Mardi . Ia dalam perjalanan pulang setelah berkeliling beberapa desa menjajakan dagangannya, tidak peduli dalam keadaan gerimis sekalipun.. Sungguh luar biasa,diusia senjanya, betapa saya mengagumi keuletannya dalam menjalani dan menghadapi hidup tanpa mengeluh. Dia tidak ingin jadi beban orang lain, juga tidak ingin merepotkan anak-anaknya. “Selama saya bisa jalan, saya akan tetap jualan bakso, itulah rejeki saya”, katanya.

Mas Mardi, mungkin kamu tidak menyadari bahwa saya terkesan dan telah banyak mengambil hikmah serta pelajaran dari perjalanan hidupmu: “ ulet dalam menghadapi hidup,tidak ingin menjadi beban orang lain, pantang mengeluh, semangat hidup yang tinggi, dan ini yang tidak kalah penting, selalu mensyukuri semua berkah yang diterima dari Tuhan Yang Maha Kuasa”.  Apakah ini bukan bekal baik dalam menjalani hidup bagi siapa saja?

Slamet Wijadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


21 Responses to “BANG MARDI PENJUAL BAKSO DESA SUSUK”

  1. pada awalnya saya sempat bepikir kenapa pak wik memakai judul ‘bang’ mardi bukan “kang’ mardi yg mungkin lebih tepat untuk logat didaerah susuk yg telah saya kenal betul. tetapi setelah saya membaca alur ceritanya ternyata memang sangat tepat pemakaian sebutan tadi. Sama seperti pak wik sayapun sangat berempati dengan perjalanan hidup ‘bang’ mardi yang penuh liku dan butuh ketabahan serta kesabaran. dan alhamdulillan kiranya bang mardi bisa melewati dengan baik serta ahirnya bisa merengkuh kebahagiaannya kembali. bravo bang mardi semoga anda selalu mendapat rahmat hidayah dan barokah dari allah swt. hidup bukan tujuan tetapi hanyalah sarana untuk menggapai tujuan yang sesungguhnya yakni kebahagiaan didunia dan achirat.
    wassalam. eyang bethoro.

    • Pak “eyang bethoro” saya senang dengan tanggapan “hidup bukan tujuan tetapi hanyalah sarana untuk menggapai tujuan yang sesungguhnya yakni kebahagiaan didunia dan akhirat”, dan sedikit-banyaknya itulah yang dilakukan Bang Mardi, justru karena itu ia tidak pernah mengeluh dan menyesal dalam menjalani hidupnya dan selalu mensyukuri berkah yang telah ia terima dari Yang Maha Kuasa. Bayangkan diusainya yang hampir kepala delapan dia masih “jalan” dalam cuaca apapun. “Orang kota” usia 60 tahun sudah merasa tua, mengidap berbagai macam penyakit dan stres yang berkepanjangan, mungkin perlu belajar “wisdom of life” dari Bang Mardi… Trims, atas komentnya yang selalu “berbobot” dan salam jumpa kembali. Salam.

  2. cah_ndhiro says:

    sungguh luar biasa Pakde mengkemas cerita, sungguh menajubkan, membaca tulisan pakde bener-bener jadi rindu kampung halaman, nderek dipun shar wonten FB cah_ndhiro_pwr

    salam

    • Mas Novi, trimakasih atas komentnya, syukur kalau bisa nggugah rindu kampung, nanti kalau ketemu bisa mbakso sama2 tempatnya Pak Mardi. Waktu itu saya sempat “nraktir” yu Samirah, orang Mendiro teman main saya waktu kecil, kenal nggak? Silahkan untuk ditampilkan di cah ndiro, kalau dianggap layak. salam.

  3. widibintoro says:

    Membaca tulisan ini, jadi teringat suasana kampung di sore hari “thing-thing” suara sendok beradu dengan mangkok penjual bakso. Juga teringat permainan di waktu kecil, tempat-tempat favorit, pohon asem di pinggir jalan sampai pohon dhuwet maupun widaran ngalas (pasti hafal pohon mana yang buahya lebih enak) di pekuburan yang kini telah menghilang dan berubah fungsi mengikuti jamannya. Selain itu, saya salut dengan Sosok Bang Mardi yang tidak mau menyerah di usia senja dengan berjualan bakso plus jemput bola keliling kampung. Saat ini sungguh berat berjualan bakso bersaing dengan Bakso2 terkenal di Purworejo dari A sampai Z. Ketika saya mampir kerumah Bapak dari arah Brosot sampai Ketawang saja ada puluhan penjual bakso mangkal di sepanjang jalan. Semoga perjuangan dan semangat hidup sosok Bang Mardi menjadi inspirasi bagi kita semua. Sekali lagi saya tidak ada bosennya membaca tulisan2 Pak Wik. Nuwun, Wassalam. WB

    • Mas Widi, terimakasih atas tanggapan dan apresiasinya.Syukur kalau kisah hidup orang sederhana ini bisa dan mampu untuk menginspirasi kita. Terus terang “diam-diam” saya mengagumi juga semangat hidup dan keuletan teman sepermainan saya ini. Dia jalani hidup sebagai aliran air sungai menuju ke laut, just go with the flow, tanpa keluh kesah, pantang merepotkan orang lain, menerima semuanya sebagai jalan hidup yang perlu disyukuri, makanya dalam usia yang sebagian besar temannya sudah “game” dia masih “bertahan” dan sanggup berjalan keliling desa mendorong grobagnya, dalam keadaan cuaca apapun. Sampai kapan? “Ya, sampai tidak bisa jalan”, katanya. Seorang bijak mengatakan “I want to die with my boots still on…” Bang Mardi tentu tidak bisa mengatakan itu, namun itulah sesungguhnya apa yang dia lakoni… Salam.

  4. Julian Setyawan says:

    Ass, mbah Slamet
    Benar2 tulisan yang bikin sy merinding…
    Saya jadi pengen nangis inget kampung halaman, walaupun saya baru 4 tahun meninggalkan desa Susuk. saya dulu sering banget main ke warung bakso Mbah Mardi, warungnya tepat berada di samping Kantor Desa dan di atas “kalen” depan pasar.
    Dulu itu warung itu adalah satu2nya warung bakso yang ada di sekitar desa Susuk, Mendiro, Karang Talun, Klandaran , namun sekarang sudah banyak sekali yang menjadi saingannya.
    Tapi kini mungkin usaha baksonya sudah diwariskan kepada anak laki2nya yang pertama!
    Mbah Slamet kenal gak mbah Sontodimejo yang rumahnya di sebelah timur pemakaman desa Susuk, sebelah selatan rumahnya Pak Raden, tolong ceritakan sedikit ya mbah! Terima Kasih

    • Trimakasih atas komment-nya. Sayang saya tidak mengenal mbah Sontodimejo, yang saya tahu mbah Sontodimejo itu adalah lurah Susuk setelah jaman kemerdekaan sampai tahun ’68 yang kemudian diganti oleh Pak Markun, putranya, masih pernah nak ndulur saya. Kalau Pak Raden (Pranoto)saya kenal baik, beda umurnya kira2 3-4 tahun diatas saya, sekarang bekas rumahnya sudah jadi kebon kosong. Salam.

  5. Desain Web says:

    passion dgn pekerjaan yg telah ditekuni memang susah dibendung, mungkin karna ada kepuasan hidup dgn menjalaninya

  6. andri wijaya says:

    mbah mardi adalah satu dari beberapa orang susuk yang mempunyai etos kerja yang sangat besar. saya ingat sekali dulu waktu kecil saya sering makan bakso tempat mbah mardi walaupun tidak setiap kali mungkin bisa dibilang, hanya setiap lebaran karna kalo lebaran dapet sangu dari sodara2.saya ingat betul dulu kiosnya ada diutara pasar susuk.dari comment ini saya juga ingin menyampaikan sedikit tentang apa yang menjadi keinginan saya membuat rumah inspirasi dimana saya punya mimpi untuk merubah rumah saya menjadi taman bacaan dan bimbingan belajar.saya sudah mulai mengumpulkan buku2 bekas dari sodara2 saya berharap mbah slamet juga memberikan dpoa dan membantu menyumbangkan buku dan majalah bekasnya agar desa susuk mjd lebih berwarna

  7. Giri says:

    tepangaken,dalem Giri.Ragile Keluarga Cokro.
    Salut….tulisane sae.Mugi2 tulisan meniko saget nambah inspirasi kangge kaum muda desa Susuk dan terutama kangge putra putrine lek Mardi (Martini & Maryadi). Untuk Maryadi…..monggo di pun conto semangat kerjane bapak…Nuwun

  8. Mas Giri, memang betul Pak Mardi memiliki etos kerja yang luar biasa dan bisa dijadikan “inspirasi” bagi para kawula muda dimana saja. Dia telah ditempa oleh kehidupan yang keras, namun mampu bangkit untuk menjalani hidup tanpa mengeluh bahkan dengan selalu bersyukur dengan berkah yang telah dia terima dari Gusti Allah, ini perlu kita contoh. Btw, mas Giri tidak jagong penganten Pak Lurah? Salam.

  9. andri wijaya says:

    alhamdulilah semua sudah berjalan,taman bacaan masih dalam proses pengumpulan buku majalah dari keluarga atmo sumarto dan atmo sudarmo.insyalloh akhir tahun in saya mengambil beberapa dijakarta.alhamdulilah temen2 juga mengapresiasi bulan kemaren ada tambahan dana dari makasar..

  10. Super banget Mbah Slamet

  11. Your web blog is astonishing. I wonder how don’t you manage to write down posts so generally. I am extremely lazy.

  12. Erfina Mahkdalena says:

    Bbrp thn yg lalu, ada isu mengenai daging babi yg d’gunakan sbg bahan pembuatan bakso. Hal tersebut m’bwt resah konsumen, bahkan Para pembuat bakso sendiri.
    Menurut Anda Pak sbg penjual yg berpengalaman dlm menanggapi hal demikian. Anda pasti punya tanggapan sendiri krna anda yakin bahwa Bakso yg Bpk jual dijamin Halal.
    Tolong jelaskan bagaimana Anda mengatasinya Pak,
    Trims…

    • Mbak Erfina, trimakasih untuk tanggapannya. Perlu dijelaskan, yang penjual bakso itu Bang Mardi, jadi saya tidak bisa menjawab sepenuhnya tentang isu tsb. Namun saya percaya kalau baksonya Bang Mardi itu asli daging sapi, tidak ada campuran daging lain, apalagi babi, disamping risikonya terlalu tinggi bila ketahuan, saya kenal Bang Mardi sejak kecil sebagai orang yang jujur dan taat sebagai seorang muslim. Salam, Sw.

  13. Mbah Mardi sekarang sudah sepuh alias tua. terakhir saya dapat info bahwa mbah Mardi sudah tidak berjualan lagi karena sakit! 1 tahun sebelumnya saya masih melihat beliau menjajakan dagangan baksonya didepan rumah saya! sungguh prihatin dan sedih mendengar kabar tersebut! mbah Mardi bisa dibilang founding fathernya bakso didesa susuk bahkan daerah ngombol sekalipun karena beliau yang pertama kali memperkenalkan bakso!

    • slamet wijadi says:

      Saya ikut sedih mendengar berita tentang Pak Mardi yang kini dalam keadaan sakit itu. Jadi teringat waktu kecil sama2 main cari buah asem di makam sebelah timur desa, disitu ada pohom asem besar dan buahnya manis, sekarang sudah hilang. Memang setahun yl. sewaktu saya pulang dia masih jualan baso keliling, namun kini mungkin fisiknya sudah mundur, semoga bisa istarahat untuk memulihkan kesehatannya.Kalau nanti saya pulang akan saya tengok. Salam.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

H. Hardjosubianto, tokoh terlupakan dari Purwodadi

17 - Nov - 2012 | Gunarso TS | 12 Comments »

Matematika & Bilangan Prima

9 - Apr - 2010 | Anu Dhihasto | 13 Comments »

The Heart Capital -1

23 - Jul - 2009 | Cah-DkDungus | 2 Comments »

Lagu Buka Sitik Jos untuk Mencegah Korupsi

6 - Sep - 2013 | indra.ngombol | 1 Comment »

Refleksi Sertifikasi Guru

22 - Oct - 2009 | Riyadi | 6 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net