BERNOSTALGIA DENGAN ALAM

  27 - Jul - 2009 -   massito -   4 Comments »

Kurang lebih empat puluh tahun yll, waktu itu aku masih duduk di SR sekarang SD, memiliki kebiasaan kurang lebih sama dengan teman2 yang lain. Waktu musim nyangkul, ikut nyangkul disawah bersama orang tua, waktu musim panen ikut memanen padi, waktu musim cari ikan ikut cari ikan. Semua dijalani dengan ikut2an, karena bermain dengan air memang mengasikkan.

Kala itu aku sering mendengarkan orang tua pada ngobrol soal jenis padi, jenis padi terbagi dalam 2 kelompok besar, satu jenis namanya Jero dan yang satu lagi namanya Cempo. Padi jenis Jero, umurnya sampai 120 hari berbeda dengan padi sekarang cukup 90 hari sudah panen, biasa ditanam di musim rendeng yakni musi banyak hujan. Dan yang jenis Cempo umurnya kurang lebih sama, tetapi sering ditanam pada musin kemarau karena lebih tahan kering, artinya air di sawah tidak harus penuh. Sedangkan jenis yang pertama tadi, airnya harus banyak.

Ciri2 nya tanama ini, batangnya tinggi2, dan dalam satu rumpun hanya ada beberapa batang, sekitar lima sampai delapan batang. Aroma padi terasa segar sekali, bila waktu menguning, dan ditiup angin semribit, nampak bagaikan gelombang emas yang terhampar di persawahan.

Jaman terus berkembang, para ahli pertanian berhasil menemukan jenis varitas baru, waktu ini namanya lebih dikenal dengan PB 5, rumpunnya lebih besar, dalam satu rumpun bisa terdiri dari 10 bahkan sampai 15 batang padi, hasilnyapun diperkirakan dapat mencapai 4 kali lipat hasil padi lama. Melihat perkembangan itu orang masih kurang percaya, sebagian yang berpikir lebih maju, mereka mencoba, sedangkan para petani tua belum mau ganti tanam padi PB 5. Memang padi jenis baru ini, pupuknya harus banyak, karena kalau pupuknya kurang maka hasilnya akan sedikit. Perkembangan selanjutnya aku sudah meninggalkan kampung halaman, merantau ke Jakarta, dan tidak mengikuti perkembangan mengenai padi dan sawah.

Para petani waktu itu banyak memakai pupuk organik, misalnya daun2 trembisi dan juga bisa menggunakan abu dapur, sering menjadikan kaki gatal2. Perasaan ku waktu itu, air di persawahan lebih banyak dari pada sekarang. Dan juga banyak ikan disawah2, biasanya setelah panen orang pada mencari ikan disawah. Akupun sering memasang ikan memakai alat sejenis bubu, dipasang waktu sore dan diambil waktu pagi. Biasanya kalau malam harinya hujan, maka ikan tangkapannya lebih banyak dari pada kalau tidak hujan. Setelah sering dilakukan penyemprotan padi disawah, ikan2 banyak yang mati, belutpun sudah jarang. Padahal waktu itu aku kalau ngobor sekali berangkat bisa dapat 2 kg belut, biasanya kalau menjelang musim tanam kemarau. Sekarang sudah susah mencari belut disawah bahkan mungkin sudah tidak ada. Jadinya sekarang kalau sedang mudik, sering napak tilas, kesawah2 yang dulu sering aku datangi.

Keadaannya sudah lain sama sekali, rasanya sawah2 sekarang sudah dangkal, atau karena waktu aku masih kecil, sehingga merasakan sawah terasa dalam sekali.

Setelah sekian lama merantau di Jakarta, rasanya tiba saatnya untuk kembali ke Kampung halaman, dengan sisa tenaga ingin mencari ketenangan hidup, dan kembali seperti dulu waktu masih anak2. Bedanya kalau sekarang sudah tidak main2 lagi tetapi harus sungguhan dalam mengerjakan sesuatu.

Category: blog, Tags: | posted by:massito


4 Responses to “BERNOSTALGIA DENGAN ALAM”

  1. Jaman saya kecil(tahun ’30-an)yang saya ingat disamping pembagian padi “jero” dan “cempo” masih ada padi2 jenis lain misalnya padi “ginjah”, usianya sekitar 90 hari, biasanya ditanam untuk menjembatani antara musim paceklik dengan panen dengan padi jero yang usianya lebih lama. Padi ini produksinya tidak banyak, tetapi rasanya wangi dan cukup pulen. Ada lagi padi “molok”, berasnya hitam, rasanya lebih “gurih”. Waktu saya barusan ke Lembang, masih dijual di pasar, katanya produksi dari Subang. Di Bantul dikenal dengan beras “melik”, katanya masih ada. Di daerah Pasir/Wonoroto, dulu banyak ditanam “padi gogo”, agak mirip dengan cempo, nasinya “pero”. Kalau beras merah saya tidak tahu masuk jero atau cempo, kini makin populer karena dinilai lebih “sehat”. Beberapa kosa-kata yang kini hampir lenyap, “wiwit”, “ngayar”, “angkir2″. Paling asyik kalau musim panen bisa “ngurup” dawet di sawah sambil “derep”, sampai rumah dapat “bawon” biasanya seperdelapan dari hasil derepnya. Musim panen banyak orang hajatan, tanggapannya jidur dari Ngandul, Nglogung atau Kesih, terkenal waktu itu, pasti di akhiri dengan “mendem”…indahnya kenangan…

  2. Purs says:

    Pak Slamet, apa yang Pak slamet alami sama dengan saya alami, beberapa tradisi sudah banyak ditinggalkan, angkir2 sudah tidak ada karena padi sekarang tidak pakai tangkai, jadi kalau menjemur bentuknya sudah gabah. Berkat kemajuan jaman hasil padi satu iring kalau dulu 5 kwt sekarang bisa 10 kwt gabah. Tapi karena kebutuhan orang saat ini jufga meningkat, maka peningkatan hasil panen juga habis dijual. Terima kasih Pak Slamet.

  3. ARI says:

    kangen deh ke purworejo, walaupun kotanya kecil tapi aku lahir dan dibesarkan disana hingga aku merantau sekarang.
    i miss u purworejo ku yang indah dan mungil

  4. kasiat says:

    Wah salam kenal buat semua warga purworejo terutama warga urut sewu ketawang ngulon.
    iki cah gading klenton.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Blog baru ini saya review yah

9 - Dec - 2008 | indra | 2 Comments »

Purworejo, Kota Kecil, Barisan Bukit Menoreh

3 - Aug - 2007 | meds | 10 Comments »

Tuhan, Berilah Aku Kentut

27 - May - 2009 | cahloano | 9 Comments »

PAHLAWAN DEVISA

21 - Aug - 2009 | massito | 12 Comments »

MAGANGAN LURAH

30 - Jul - 2009 | massito | 14 Comments »

© copyleft - 2009 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net