Apa Kabar Stasiun Jenar?

  19 - Jan - 2015 -   Febri Aryanto -   5 Comments »
foto ofApa Kabar Stasiun Jenar?

Bagi warga Purworejo yang tinggal di desa Bragolan, Ketangi, Bagelen, Wonosari dan sekitarnya mesti tahu dengan yang namanya stasiun Jenar. Terletak di desa Bragolan kecamatan Purwodadi, stasiun yang mulai sepi dari keramaian ini sudah digunakan sejak jaman kolonial belanda dan sejak tahun 2013, tanggal 1 April tepatnya saat jadwal kereta diubah dan peraturan baru mulai diterapkan, Purworejo semakin “memantapkan”┬ánamanya sebagai kota pensiun karena stasiun Jenar pun juga sepertinya secara tidak langsung mendukung suasana tersebut. Sepi, ngelangut, suwung dan sebagainya. Kalau tidak percaya boleh deh datangi stasiun yang terletak 18 meter dpl ini.

Stasiun Jenar dari Pintu Rel Kereta. Foto: masfebjalanjalan.blogspot.com diambil bulan Juni 2014

Pigura Alami Pemandangan dari Stasiun Jenar. Foto: Panoramio Febriaryantoxic diambil bulan Juni 2014

Sayang memang stasiun sebagus ini harus terkena dampak perubahan jadwal KA. Karena perubahan jadwal yang ditetapkan oleh PT. KAI tersebut, kereta api yang berhenti di stasiun ini hanya beberapa saja semisal Prameks dan kereta Ajisaka. Dan itu pun hanya pagi dan sore alias jam tertentu. Berbeda di era 90-an dan awal tahun 2000, ketika masih banyak kereta jarak jauh yang berhenti di stasiun ini. Ketika itu, stasiun Jenar masih melayani penjualan tiket kereta api jarak jauh seperti kereta api Progo, Serayu, Logawa dan lainnya. Biasanya saya membeli tiket kembali ke Jakarta on the spot di stasiun Jenar ini.

Kereta Prameks yang Berhenti di Stasiun Jenar Sekitar Pukul 9.45. Foto: Panoramio Febriaryantoxic diambil bulan Juni 2014

Masih di era 90-an dan awal tahun 2000, romantika pedesaan masih kental terasa. Meskipun hanya desa, tapi di sekitaran stasiun masih ramai karena setiap selang waktu satu jam mesti ada kereta yang berhenti distasiun Jenar. Otomatis hal itu menjadi pemicu bagi penjual jasa angkutan seperti andong, ojek maupun carteran mobil. Saya masih teringat ketika diajak Bapak menggunakan kereta api Empu Jaya (sekarang bernama KA Progo) pulang ke rumah simbah di desa Ketangi dan turun dari kereta api di stasiun ini saat pagi hari. Udara ketika itu begitu menyegarkan dan masih berbekas didalam ingatan saya suasananya. Keluar dari bangunan stasiun, saya masih bisa mencium aroma tanah dan rerumputan yang basah oleh embun. Masih banyak andong yang mangkal dibelakang stasiun dan banyak orang yang duduk-duduk pesan kopi ataupun teh poci diwarteg belakang. Lekat sekali ingatan itu, diajak oleh bapak makan sarapan nasi rames di warteg belakang. Bapak juga ketika mudik sering mampir ke warteg ini sekedar sarapan sambil ngobrol dengan pemilik warung ataupun hanya untuk menyeruput teh atau kopi hangat.

Warung Nasinya Masih Ada Sampai Sekarang. Foto: masfebjalanjalan.blogspot.com diambil bulan Juni 2014

Tapi suasana tersebut kini sudah sirna. Walaupun warteg tersebut tetap ada, tapi romantika desa yang ramai sudah hilang. Beberapa tahun yang lalu ketika double-track mulai digunakan, posisi bangunan stasiun pun digeser dan dibangun gedung stasiun Jenar baru yang letaknya beberapa meter ke arah timur dari posisi bangunan stasiun yang lama. Kalau saya tidak salah duga, posisi bangunan stasiun yang lama sekarang terletak ditempat penitipan motor. Dugaan saya kuat karena persis diseberang gedung penitipan motor terletak warteg yang dulu sering disambangi Bapak saya. Sekali lagi saya katakan: sayang banget. Kenapa? Karena bangunan khas arsitektur belanda yang merupakan bagian dari sejarah harus dihancurkan demi membangun bangunan baru untuk stasiun yang lebih memiliki fasilitas memadai. Padahal kalau saya pikir, seandainya saja bangunan lama masih ada bisa saja fasilitas yang mendukung operasional stasiun dibangun ditempat baru tanpa perlu menggusur bangunan lama. Bangunan lama bisa dijadikan obyek cagar budaya (bila dilihat dari segi arsitektur jadulnya).

Stasiun Jenar. Foto: masfebjalanjalan.blogspot.com diambil bulan Juni 2014

Apa mau dikata, bangunan jadul itu sudah lenyap. Apa kabar stasiun Jenar? Kini yang tersisa hanya suasana sepi pedesaan yang menunggu waktu tidurnya. Ya mudah-mudahan tidak demikian. Kelak harapan saya, stasiun ini bisa terbangun dari lelap tidurnya bila nanti bandara yang akan dibangun di Kulon Progo benar-benar dibangun. Semoga..

Category: blog,cerita,desa,foto,lain2,Nostalgia,Wilayah, Tags: | posted by:Febri Aryanto


5 Responses to “Apa Kabar Stasiun Jenar?”

  1. Adi Degreen says:

    Salam mas Feby. Kebetulan kemarin sekitar tgl 10 Januari 2015 saya pulang kampung ke desa Pacor Kutoarjo. Saya naik Kereta api Sawunggalih Utama ( Bisnis Malam ). Saya tidang menyangka banyak perubahan yang terjadi. Dulu saya naik kereta api sekitar Tahun 1994 setelah saya lulus stm kutoarjo awal ke Jakarta. Dari segi kondisi kereta, pelayanan dan lainnya saya angkat jempol.AC Nya dingin banget, pelayannya ramah, bersih banget malah ada clening serviceman, Nyaman sekali ( Pokoke MAK nYUSS ). Namun yang membuat saya lebih kaget adalah ” Kok satu gerbong isinya cuma 10 orang. Saya melihat2 ke gerbong depan saya malah lebih kaget ” Tidak ada penumpangnya satupun alias kosong blong.” Saya bertannya pada petugasnya:::” Mas kok keretanya sepi banget? Dia jawab, memang kalau hari biasa sepi,,, ramainya kalau weekend doang. Saya bertanya ke penumpang yang biasa naik kereta jawabynya ” HARGA TIKETNYA NAIKNYA SELANGIT. Memang untuk tiket kereta api Bisnis kutojaya harga dipatok antara 170 rb s/d 400rb. Sungguh harga yang fantastik bila di banding dengan tahun kemarin. Sayang memang, untuk mendapatkan kenyamannan, masih dibutuhkan harga yang mahal.,,, Coba kalau murah ya????

    • Harga tiket KA untuk kelas bisnis dan ekonomi kalau tidak salah memang naik per Januari 2015 mas. Naiknya ndak main2, 100%! Menurut kabar dari teman saya, wacana kedepan KA ekonomi akan dihapuskan. Mungkin juga salah satu triknya adalah menggiring penumpang KA untuk memilih menggunakan KA kelas eksekutif dan bisnis. Caranya ya itu tadi dengan menaikkan harga tiket menjadi 100%. Sehingga calon penumpang ketika akan membeli tiket menimbang selisih harga tiket antara kelas eksekutif-bisnis-ekonomi. Benar atau tidak, kita hanya bisa memantau saja.
      Dampak dari naiknya tarif KA tersebut menyebabkan saya tidak bisa backpackeran menggunakan angkutan kereta api mas.. Hadeeuh..

  2. Raf says:

    Mantep info ne…..

  3. Adi Degreen says:

    Salam mas Feby,,, Tanggal 31 Mei 2015 kemarin saya pulang kampung. Terus di ajak muter2 ke rumah saudara saya. Yaitu desa Jenar Lor. nggak tahunya bapak saya lahir di Jenar Lor. Disana saya banyak ketemu saudara2 dari bapak saya. Mau tanya??? stasiun Jenar itu jauh tidak dari jenar Lor?? Kok kemarin saya tidak lihat. ADI Dgreen

  4. subagiountung says:

    salam kenal mas feby….Tgl 18 Juni 2016 deso sampeyan keno banjir gede mas, termasuk ndesoku mbakungan, omahe simbok kelelep sak pengeret, piye mas lebaran iki kondur ora, tilik banjir mas

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

LUMBUNG PADI KEDU SELATAN

25 - Jul - 2009 | massito | No Comments »

Forum Purworejo mau Migrasi ke WordPress

14 - Nov - 2008 | meds | 14 Comments »

Lebaran yang selalu kunanti

31 - Aug - 2011 | meds | 12 Comments »

Purworejo

21 - Aug - 2007 | meds | 10 Comments »

Mohon Maaf bagi yang belum di Approve

17 - Feb - 2009 | meds | 3 Comments »

Related Post

PURWOREJO (sesungguhnya) KOTA POTENSIAL

2 - Jun - 2009 | eko_juli | 28 Comments »

“Njajah Deso Milang Kori”, Petualangan Panjang Menuju Kota Purworejo

25 - Nov - 2014 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Mengejar harapan dari tanah Bagelen hingga Banyuwangi

8 - Aug - 2012 | prigel_landwb | 11 Comments »

Nostalgia Anak Kampung

24 - Dec - 2009 | Gunarso TS | 6 Comments »

Mengenal Bapak Slamet Wijadi

9 - Apr - 2009 | meds | 37 Comments »

Related Post

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Desa & Kelurahan di Kabupaten Purworejo

26 - Jan - 2009 | Raf | 89 Comments »

Ketika Kita Gagal Mempertahankan Kemerdekaan Ekonomi

16 - Aug - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

Desa Mangunrejo Almarhum

14 - Mar - 2009 | slamet wijadi | 41 Comments »

Mengenal Desa Pasaranom, Grabag

13 - May - 2008 | meds | 17 Comments »

Related Post

Menara masjid besar, Kutoarjo.

23 - Oct - 2008 | sudutkreasi | 4 Comments »

Curug Gunung Condong, Bruno

25 - Feb - 2009 | meds | 35 Comments »

“Njajah Deso Milang Kori”, Petualangan Panjang Menuju Kota Purworejo

25 - Nov - 2014 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Selis

23 - Oct - 2008 | sudutkreasi | 6 Comments »

Related Post

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

1 - Sep - 2008 | meds | 4 Comments »

Mengapa?

9 - Dec - 2008 | wahyudi | 3 Comments »

Mengembangkan PKBM Purworejo berbasis IT menuju usaha produktif

26 - May - 2013 | indra.ngombol | 4 Comments »

Purworejo Ku

1 - Jul - 2008 | oetoet | 10 Comments »

Mengunjungi Purworejo Melalui Dunia Maya

29 - May - 2016 | Febri Aryanto | 2 Comments »

Related Post

Nostalgia Anak Kampung (2)

27 - Dec - 2009 | meds | 2 Comments »

Radio, hiburan anak kampung tahun 1970-an

5 - Nov - 2011 | Gunarso TS | 26 Comments »

Nostalgia Anak Kampung (3)

5 - Jan - 2010 | meds | 3 Comments »

Mengunjungi Purworejo Melalui Dunia Maya

29 - May - 2016 | Febri Aryanto | 2 Comments »

Jalan kaki “napak tilas” Ngombol – Purworejo

11 - Sep - 2011 | Gunarso TS | 46 Comments »

Related Post

PURWOREJO (sesungguhnya) KOTA POTENSIAL

2 - Jun - 2009 | eko_juli | 28 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

© copyleft - 2015 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net