Ular dan kehidupan manusia (1)

  14 - Mar - 2014 -   Adi Degreen -   8 Comments »
foto ofUlar dan kehidupan manusia (1)
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Ular

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering atau pernah menjumpai binatang yang bernama ular. Kadang ketika kita pergi ke kebun, ke sawah secara tidak sengaja kita melihat ular. Sering timbul kekhawatiran yang sangat menegangkan, apalagi bila bertemu dengan ular kobra. Secara spontan kita akan berteriak, bahkan berlari menjauh karena ketakutan. Pada kesempatan kali ini saya mencoba berbagi sedikit cerita dan pengalaman yang selama ini saya dapatkan baik dari buku-buku yang saya baca maupun training-training yang saya dapatkan tentang pengendalian hama ular. Kenapa di sebut hama?? Karena memang, pada beberapa waktu dan tempat ular itu termasuk menggangu bahkan membahayakan manusia.

Ular adalah reptile yang tak berkaki dan bertubuh panjang. Ular memiliki sisik seperti kadal dan sama-sama digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata). Perbedaannya adalah kadal pada umumnya berkaki, memiliki lubang telinga, dan kelopak mata yang dapat dibuka tutup. Akan tetapi untuk kasus-kasus kadal tak berkaki (misalnya Ophisaurus spp.) perbedaan ini menjadi kabur dan tidak dapat dijadikan pegangan.
Habitat dan makanan

Ular merupakan salah satu reptil yang paling sukses berkembang di dunia. Di gunung, hutan gurun , lahan pertanian, lingkunganpemukiman sampai ke lautan, dapat ditemukan ular. Hanya saja, sebagaimana umumnya hewan berdarah dingin, ular semakin jarang ditemui di tempat-tempat yang dingin, seperti di puncak-puncak gunung., di daerah Irlandia dan Selandia baru dan daerah daerah padang salju atau kutub.

Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang hidupnya berkelana di pepohonan dan hampir tak pernah menginjak tanah. Banyak jenis yang lain hidup melata di atas permukaan tanah atau menyusup-nyusup di bawah serasah atau tumpukan bebatuan. Sementara sebagian yang lain hidup akuatik atau semi-akuatik di sungai, rawa, danau, dan laut.
Ular memangsa berbagai jenis hewan lebih kecil dari tubuhnya. Ular-ular perairan memangsa ikan, kodok, berudu, dan bahkan telur ikan. Ular pohon dan ular darat memangsa burung, mamalia, kodok, jenis-jenis reptilyang lain, termasuk telur-telurnya. Ular-ular besar seperti ular sanca dapat memangsa kambing, kijang, rusa dan bahkan manusia.
Kebiasaan dan reproduksi

Ular memakan mangsanya bulat-bulat, tanpa dikunyah menjadi keping-keping yang lebih kecil. Gigi di mulut ular tidak memiliki fungsi untuk mengunyah, melainkan sekedar untuk memegang mangsanya agar tidak mudah terlepas. Agar lancar menelan, ular biasanya memilih menelan mangsa dengan kepalanya lebih dahulu.

Beberapa jenis ular, seperti sanca dan ular tikus, membunuh mangsa dengan cara melilitnya hingga tak bisa bernapas. Ular-ular berbisa membunuh mangsa dengan bisanya, yang dapat melumpuhkan sistem saraf pernapasan dan jantung (neurotoksin), atau yang dapat merusak peredaran darah (haemotoksin), dalam beberapa menit saja. Bisa yang disuntikkan melalui gigitan ular itu biasanya sekaligus mengandung enzim pencerna, yang memudahkan pencernaan makanan itu apabila telah ditelan. Untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk membantu kelancaran pencernaan, ular kerap kali perlu berjemur (basking) di bawah sinar matahari.

Kebanyakan jenis ular berkembang biak dengan bertelur. Jumlah telurnya bisa beberapa butir saja, hingga puluhan dan ratusan butir. Ular meletakkan telurnya di lubang-lubang tanah, gua, lubang kayu lapuk, atau di bawah timbunan daun-daun kering. Beberapa jenis ular diketahui menunggui telurnya hingga menetas; bahkan ular sanca ‘mengerami’ telur-telurnya.
Sebagian ular, seperti ular kadut belang, ular pucuk dan ular bangkai laut ‘melahirkan’ anak. Sebetulnya tidak melahirkan seperti halnya mamalia, melainkan telurnya berkembang dan menetas di dalam tubuh induknya (ovovivipar), lalu keluar sebagai ular kecil-kecil. Sejenis ular primitif, yakni ular buta atau ular kawat Rhampotyphlops braminus, sejauh ini hanya diketahui yang betinanya. Ular yang mirip cacing kecil ini diduga mampu bertelur dan berbiak tanpa ular jantan (partenogenesis).
Ular dan manusia

Anggapan-anggapan terhadap bahaya ular kini turut berpengaruh dan menjadikan kebanyakan orang merasa benci jika bukan takut kepada ular. Meskipun sesungguhnya ketakutan itu kurang beralasan, atau lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan orang umumnya terhadap sifat-sifat dan bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh ular. Pada kenyataannya, kasus gigitan ular yang sampai menyebabkan kematian sangat jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kasus kecelakaan di jalan raya, atau kasus kematian oleh penyakit akibat gigitan nyamuk.

Pada pihak yang lain, ular pun telah ratusan atau ribuan tahun dieksploitasi dan dimanfaatkan oleh manusia. Ular kobra yang amat berbisa dan ular sanca pembelit kerap digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan keberanian. Empedu, darah dan daging beberapa jenis ular dianggap sebagai obat berkhasiat tinggi, terutama di Tiongkok dan daerah Timur lainnya. Sementara itu kulit beberapa jenis ular memiliki nilai yang tinggi sebagai bahan perhiasan, sepatu dan tas. Seperti halnya biawak, kulit ular (terutama ular sanca, ular karung, dan ular anakonda) yang diperdagangkan di seluruh dunia mencapai ratusan ribu hingga jutaan helai kulit mentah per tahun.

Dalam kenyataannya, ular justru kini semakin punah akibat aneka penangkapan, pembunuhan yang tidak berdasar, serta kerusakan habitat dan lingkungan hidupnya. Ular-ular yang dulu turut serta berperan dalam mengontrol populasi tikus di sawah dan kebun, kini umumnya telah habis atau menyusut jumlahnya. Maka tidak heran, di tempat-tempat yang sawah dan padinya rusak dilanda gerombolan tikus, seperti di beberapa tempat di Kabupaten Purworejo, Sleman, Jogjakarta, petani setempat kini memerlukan untuk melepaskan kembali (reintroduksi) berjenis-jenis ular sawah dan melarang pemburuan ular di desanya.

Ular tidak memiliki daun telinga dan gendang telinga, tidak mempunya keistimewaan ada ketajaman indera mata maupun telinga. Matanya selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat gerakan di sekelilingnya, namun tidak dapat memfokuskan pandangannya. Ular baru dapat melihat dengan jelas dalam jarak dekat.

Indera yang menjadi andalan ular adalah sisik pada perutnya, yang dapat menangkap getaran langkah manusia atau binatang lainnya.

Lubang yang terdapat antara mata dan mulut ular dapat berfungsi sebagai thermosensorik (sensor panas). Organ ini biasa disebut ceruk atau organ Jacobson. Ular juga dapat mengetahui perubahan suhu karena kedatangan makhluk lainnya, contohnya ular tanah memiliki ceruk yang peka sekali.

Manusia sebenarnya tidak usah takut pada ular karena ular sendiri yang sebenarnya takut pada manusia. Ular tidak dapat mengejar manusia, gerakannya yang lamban bukan tandingan manusia. Rata rata ular bergerak sekitar 1,6 km per jam, jenis tercepat adalah ular mamba di Afrika yang bisa lari dengan kecepatan 11 km per jam. Sedangkan manusia, sebagai perbandingan, dapat berlari antara 16-24 km per jam.. SOOO, ada ular???, ngapain takut. Salam Adi Degreen.

Category: blog, Tags: | posted by:Adi Degreen


8 Responses to “Ular dan kehidupan manusia (1)”

  1. meds says:

    walaupun sudah membaca tulisan Pak Adi, saya tetap takut dengan ular. jangankan ular berbisa, ular jinak saya tetap takut untuk memegang. Tapi kalau ular dalam sangkar, hanya melihat, saya tidak takut. Seperti kalau bediri di tempat yang tinggi, takut, tapi kalau memakai tali pengaman ya berani. Mungkin phobia ringan ya pak.

  2. Adi Degreen says:

    Memang benar mas MEDI. Sebagian atau bahkan kebanyakan manusia adalah takut dengan ular. Karena terpikirkan akan bahayanya, banyak yang menganggap ular itu musuh yang berbahaya. Memang sulit membedakan mana itu” Takut, Jijik, Geli,Phobia karena tipis bedanya. Namun untuk hewan ular ” ojo kewanen ” kalau yang belum mengerti, karena memang bisa berbahaya. Matur nuwun sampun mampir.

  3. Kiki says:

    Mas ADi, mau tanya?? Penggemar ular yaa? kok kayaknya familiar banget ama ular . Kalau saya ngeri-ngeri takut gitu. Takut digigit. Kan bisa berabe. Sipp, di tunggu tulisan selanjutnya. Termakasih.

  4. Mas Adi,,,trimakasih tulisanya,,,mari kita ramaikan Blogger Purworejo ini,,saya kadang punya cerita tapi mangu-mangu mau saya upload, karena hanya cerita ringan saja, takut tak berkenan atau atau dikatakan tak berbobot,,he he salam

    • Adi Degreen says:

      matur nuwun mas Slamet sampun mampir. NGGIH,,, mari kita meramaikan blogger PWR, ayo kawan2 kapan nih pada nulis.?? Kalau menurut saya, semua tulisan itu bagus. Bisa berwujud cerita, usul, ide, saran, ilmu pengetahuan, karya ilmiah dll. Jadi tidak usah ” mangu-mangu”. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Salam sejahtera.

  5. adi degreen says:

    Terimakasih mas kiki. Saya sebenarnya bukanlah penggemar ular. Cuma pekerjaan saya berhubugan dengan pengendalian hama. Sehingga musti banyak belajar terutama yg berhubungan dgn hama’ misalnya ya ular inii.

  6. enkosa says:

    Saya masih takut dengan ular,, takut sama sisiknya,,takut gatel

  7. manusia takut sama ular dan ular takut sama manusia,ular melata kita lari jadinya,wek wek

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Tahukah anda tentang rayap ???

28 - Apr - 2013 | Adi Degreen | 18 Comments »

KARENA CUMA BERDUA

10 - Sep - 2009 | massito | 5 Comments »

Kakekku Tentara Kompeni

25 - Jan - 2014 | slamet_darmaji | 4 Comments »

Masihkah Memilih Kucing dalam Karung?

17 - Dec - 2013 | indra.ngombol | 2 Comments »

facebook antara positive dan negatif

19 - Feb - 2010 | singgih | No Comments »

© copyleft - 2014 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net