Pesarean Bagelen

  4 - Mar - 2014 -   slamet_darmaji -   5 Comments »
foto ofPesarean Bagelen
Foto:budayapurworejo.blogspot.com

Sebagai orang Bagelen seharusnya tahu tentang Pesarean Bagelen atau Petilasan Nyai Bagelen yang berada di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kab. Purworejo. Setelah aku menulis tentang Sapi Bagelen , aku tertarik dengan cerita temanku yang ku tulisakan disini agar di mengerti juga di ketahui oleh teman-teman di Bagelen sebagai keturunan orang Bagelen, ataupun bertempat tinggal di Bagelen.

Beberapa waktu lalu aku melakukan searching di google tentang Pesarean Bagelen, disana muncul acara yang di unggah di Youtube yaitu “Mister Tukul Jalan-jalan ke Pesarean Bagelen”,

aku tertarik melihatnya sehingga membuka isi dari tayangan di Youtube itu, disana di jelaskan bahwa jika kita melewati area Pesarean Bagelen ada peraturan tidak boleh mengunakan kendaraan di dalam komplek Pesarean atau harus berjalan kaki, karena dulu pernah ada orang lewat menggunakan kendaraan, setelah keluar dari komplek Pesarean orang tersebut meninggal tertabrak truk di jalan raya.

Begitu mengerikan akibat ketidaktahuan melewati sebuah tempat yang di keramatkan, apakah itu akibat melanggar larangan atau hanya suatu kebetulan “Allah Maha Tahu”, kita kadang selalu menghubung-hubungkan saja, juga pernah ada orang Bagelen yang melanggar larangan memelihara sapi perah, namun yang menjadi korban atas larangan itu adalah si sapi yang semua mati, bukan orang yang memelihara yang meninggal, suatu usaha memang mempunyai akibat positif dan negatif dan jika kita sudah tahu itu dilarang yang akan mengakibatkan suatu hal yang negative, untuk apa kita coba-coba jika bermodal pas-pasan karena akibatnya akan merugi.

Peraturan untuk tidak mengandarai kendaraan ketika melewati Pesarean Bagelen, aku sendiri tak tahu darimana aturan itu aku tahu,waktu aku remaja sekitar tahun 1990an dulu sering melewati komplek Pesarean Bagelen, jika aku pergi ke puskesmas Bagelen biasanya aku memotong jalan lewat Pesarean Bagelen, dari arah utara Desaku Kalirejo, begitu melewati jembatan, lurus masuk jalan setapak bawah pohon bambu lalu tembus di Pesarean Bagelen, jika aku bersepeda ontel pasti aku selalu turun dari sepeda, lalu sepeda ontel aku “tuntun” , aku tak pernah lupa untuk tidak menaiki sepeda ketika melewati dalam Komplek Pesarean itu, tak ada masalah bagiku yang penting aku selamat sampai tujuan tanpa gangguan apapun.

Aku punya teman mempunyai pengalaman berbeda ketika melewati Pesarean Bagelen, temanku asal Desa Soka, Bagelen, sebelah utara desaku berjarak 2 kliometer dari rumahku, temanku perempuan namanya Ngatemi dan Ngatini ( mereka dilahirkan sama-sama pada hari Minggu ).

Siang itu Ngatemi dan Ngatini ingin ke puskesmas Bagelen, kira-kira tahun 2012 mereka mengendarai sepeda motor berboncengan berdua, karena ingin memotong jalan dari arah utara setelah melewati jembatan Bagelen mereka masih lurus, lalu ada pertigaan sebelum pertigaan Bagelen yang ada patung kambingnya, mereka belok kanan, pas sebelum jalan raya setelah rumah Ibu guruku Bu Marmi, mereka belok kanan arah Pesaren Bagelen, jam menunjukan 12.00 siang, rupanya mereka masuk komplek Pesarean Bagelen, mereka terus mengendarai motor, begitu masuk komplek Pesarean mereka bingung tak menemukan jalan keluar kearah puskesmas, mereka terhalang pintu gerbang berjeruji besi warna hiaju diatasnya terdapat lampu hias jaman dahulu, pintu gerbang itu tertutup, mereka tak dapat keluar, duakali berturut-turut mereka selalu dihadapkan dengan pintu gerbang berjeruji besi warna hijau berhiaskan lampu jaman dahulu.

Mereka bingung dan akhirnya motor dimatikan dan jongkok, mereka heran mengapa selalu saja berada di tempat itu, tak bisa menemukan pintu keluar, lalu mereka berdua sepakat untuk berdoa dan minta maaf jika mereka bersalah, setelah keduanya berdoa dan meminta maaf barulah mereka bisa melihat pintu keluar tempat mereka semula masuk yaitu dari arah selatan, lalu mereka keluar dari komplek Pesarean, melewati jalan raya ke arah puskesmas dengan “Slamet”.

Pengalaman yang mengherankan atas dasar ketidaktahuan tentang peraturan atau tatacara melewati sebuah tempat yang di keramatkan, aku menulis ini agar diketahui dan tak terjadi pada teman-teman yang lain di Bagelen,meski pun jika melanggar larangan itu tidak membahayakan jiwa kita…Semoga…

Salam

Slamet Darmaji, 03 Maret 2014

Foto diambil dari : lihat tulisan di fotonya

Category: blog, Tags: | posted by:slamet_darmaji


5 Responses to “Pesarean Bagelen”

  1. Adi degreen says:

    Salam Mas Slamet, sedikit mengomentari nih.. Memang kalau lewat makam / kuburan kita musti mempunyai etika. Ada beberapa etika yang sekarang ini sudah banyak dilanggar ( mungkin karena kemajuan jaman.). Contohnya dilarang pipis dikuburan, duduk2 diatas makam dll. Duluuuu kuburan merupakan tempat yang angker, serem ( medeni ). Tapi sekarang kuburan sudah tidak menakutkan. Kuburan sudah dijadikan tempat nongkrong2 dan maaf ( pacaran ). Saking ramenya orang, malah kayak jadi pasar malam, ada yang jualan bakso, sate, gorengan dll. pokoknya sudah kayak wisata malam. Terus orang sekarang juga pada aneh-aneh,, . Hantu pada di buru buru ( di tangkepin ) Makanya mungkin mereka marah terus pada kesurupan masal di mana-mana. Nuwun

  2. Mas Adi,,betul njenengan,itu kuburan terutama yang di kota besar,,tapi kalau kuburan di kampungku,,malah semakin sepi dan kelihatan lebih angker,karena tempatnya yang terpencil,juga sekarang ini sudah jarang kegiatan kerjabakti untuk bersih2 di kuburan,,jadi semakin tak terawat,,..nuwun

  3. meds says:

    Saya kira itu merupakan pesan agar di manapun kita berada harus bersikap sopan terhadap siapapun. Apalagi kuburan adalah tempat disemayamkan para leluhur yang sudah meninggal, jadi sudah seharusnyalah kita menghormati. Apapun keyakinan kita tentang kuburan, bertindak sopan, menghormati kepercayaan lokal, adalah lebih baik daripada bersikap sombong dan menyepelekan. Mungkin dengan begitu kita akan lebih “slamet” karena banyak orang yang melihat juga hatinya “ayem” dan simpati.

  4. pujo h says:

    Selain untuk menghormati para leluhur yang dimakamkan di pesarean tersebut, tujuan pelarangan agar tidak mengendarai kendaraan dari jalan besar sampai pintu gerbang pasarean mungkin lebih bertujuan agar suasana tenang terjaga, karena pasarean sering dipakai untuk meditasi ataupun hanya duduk-duduk untuk merasakan ketenangan. Jika kita berada dilingkungan pesarean memang merasakan tenang dan tentrem, ditambah lagi dengan pepohonan yang tinggi menambah kesejukan pesarean.

  5. Gunarso Ts says:

    Jaman kita kecil bila nuding kuburan harus nglomot driji, nggak tahu apa maksudnya. Anak sekarang sama sekali tidak takut masuk kuburan, bahkan saar ada pemakaman pada nonton. Saking beraninya mungkin, setelah jadi pejabat juga begitu berani. Contohnya di Jakarta, ada walikota dan kepala agraria masuk penjara gara-gara kasus tanah makam.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2014 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net