Kakekku Tentara Kompeni

  25 - Jan - 2014 -   slamet_darmaji -   4 Comments »
foto ofKakekku Tentara Kompeni

Pada awalnya adalah Vereenigde Oost-Indische Compagnie 1602~1799 ( VOC ) orang Jawa menyebutnya dengan Kompeni, padahal mereka adalah sebuah persekutuan perusahaan dagang asal Belanda yang mempunyai bala tentara untuk memonopoli perdagangan di wilayah Hindia Timur, di masyarakat Jawa pada waktu itu bahkan sampai sekarang yang singkat kata disebut Kompeni, Mereka adalah orang orang Belanda yang berada di Indonesia sebagai penjajah, tentara VOC yang terdiri dari orang-orang pribumi pun disebut sebagai tentara Kompeni, untuk lebih detail bisa lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/VOC, meskipun VOC bubar pada 31 Desember 1799, namun di mata masyarakat Jawa tentara Belanda masih saja disebut sebagai tentara Kompeni.

Kakekku adalah salah satu anggota tentara kompeni tersebut, tentang informasi itu aku peroleh dari cerita Ibuku dan saudara-saudara Ibuku, itu hanyalah cerita keluarga secara “gethok tular” atau cerita dari mulut ke mulut di kalangan keluargaku, yang aku sendiri tidak tahu secara rinci kapan dan tahun berapakah pastinya kejadian itu.

Kakekku Suro Tirto ( sebut saja Suro ) dilahirkan di Dusun Kaliputat, Ds.Clapar, Kec.Bagelen, Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah, dusun Kaliputat adalah satu pedukuhan di desa Clapar diantara perbukitan Menoreh yang membentang dari Yogyakarta selatan sampai dengan daerah Magelang.

Cerita ini aku dapat dari Pakdhe Bejo sewaktu aku masih tinggal di rumahnya, aku sedang duduk berdua dengan Pakdhe, tanpa aku meminta tiba-tiba Pakdheku bercerita tentang perjalanan Suro sewaktu muda dulu sebagai tentara Kompeni.

Sewaktu Suro muda masih lajang ia menjadi tentara Kompeni ia pernah dikirim oleh Belanda untuk berperang melawan tentara Cut Nyak Dien di Aceh, singkat cerita peperangan yang sengit terjadi di antara tentara Kompeni dan tentara Aceh yang di pimpin oleh Cut Nyak Dien dan dimenangkan oleh tentara Cut Nyak Dien, Pada waktu sesi perang ke empat 1896~1910 di suatu tempat yang aku tidak tahu persisnya tentara Kompeni pun berhasil dipukul mundur. Walaupun dalam sesi perang ke empat tersebut yang pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda. http://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dien

Suro beserta anggota tentara yang lain lari tunggang-langgang masuk kedalam hutan belantara Sumatera dan merekapun tercerai berai.

Suro tersesat sendirian di dalam hutan belantara itu, usaha untuk keluar dari hutan di lakukan, namun ketika Suro berjalan ke arah mata hari terbit, ia kembali lagi ketempat semula, ketika berjalan kearah matahari terbenam, juga kembali ke tempat semula, bahkan kearah selatan dan utara pun Suro berjalan, tapi selalu kembali pada tempat semula, seperti dalam mimpi yang tak akan pernah berakhir dan berada dalam suatu lingkaran hutan belantara tak bertepi, tetapi selalu berada di lingkup yang sama, dunia ini serasa sempit baginya.

Ketika Suro sudah putus asa dengan usahanya untuk keluar dari hutan, ia tiduran diatas batu ( Watu Kemloso ) dan dengan pasrah berujar ‘’ Yen aku bakal mati, mati’o nangkene, ning yen aku bakal urip mesthi ono seng bakal nulungi’’ ( Kalau aku akan mati matilah disini, tetapi kalau aku akan hidup pasti ada yang akan menolong ), Suro tertidur diatas batu tersebut.

Antara mimpi dan tidak, Suro dibangunkan oleh suara berisik seperti suara banyak orang, teryata Suro telah dikelilingi oleh banyak manusi kerdil ( dalam dongeng mereka disebut Kurcaca dan Kurcaci ), aku pernah baca bahwa memang ada komunitas manusia kerdil yang menempati hutan belantara gunung Kerinci dan sampai sekarang masih misterius.

Diantara manusia kerdil tersebut ada seorang pemimpin mereka berkata, hai kamu orang dari Jawa mengapa ada disini ? Suro pun menjawab apa adanya bahwa dirinya telah kalah dalam berperang, lalu melarikan diri dan tersesat di hutan ini.

Lalu sang pemimpin manusia kerdil tersebut yang mungkin merasa kasihan, atau merasa terusik dengan adanya manusia disitu, Ia pun berujar, baiklah kamu akan aku tolong, lalu Ia memberikan sebuah batu mustika seperti batu cincin berwarna merah delima dan berkata, ambillah ini sebagai bekal kamu, tapi dengan pantangan bahwa jangan dibawa atau dipakai ketika kamu buang hajat, dan Suro pun menerima batu tersebut, setelah batu dalam genggaman manusia kerdil berkata, berjalanlah kearah utara dengan mata terpejam dan jangan membuka mata sebelum kamu melangkah tujuh langkah kedepan.

Suro terheran-heran, tetapi tidak ada pilihan lain selain menurutinya, setelah berucap terimakasih kepada para manusia kerdil tersebut, Suro memejamkan mata dan berjalan tujuh langkah kearah utara, setelah langkah ke delapan, Suro membuka mata, dan ajaib, Ia sudah berada di dalam lingkungan Tangsi ( Benteng ) Belanda di tempat transit terakhir sebelum Ia dikirimkan ke medan perang.

Lalu tidak lama kemudian Suro kembali dikirim pulang ke pulau Jawa,dan ditempatkan di Kebumen, Jawa Tengah.

Suro bertugas di Kebumen, disana ia mulai berfikir tentang jodoh, Suro bertemu dengan seorang gadis dan ia tertarik dengan gadis tersebut, ternyata gadis tersebut anak seorang janda yang juga masih muda, Suro berembuk dengan temannya karena kebetulan temannya tertarik dengan janda yang empunya anak gadis yang Suro inginkan, lalu Suro besama temannya sepakat bersama mereka melakukan pendekatan untuk mendapatkan masing-masing pasangannya, Suro menginginkan anaknya, sedangkan teman Suro menginginkan Ibunya, pendekatanpun mereka lakukan namun pendekatan tersebut menyilang, Suro mendekati Ibunya untuk mendapatkan anaknya, sedangkan teman Suro mendekati anaknya untuk mendekati Ibunya, tak terduga suasana berbalik, pendekatan yang salah itu menghasilkan kasalahan juga, hingga Suro mendapatkan Ibunya dan menjadi istrinya, sedangkan teman Suro mendapatkan anaknya dan menjadi istrinya.

Suro menikah dengan sang janda hingga beberapa tahun namun tidak dikaruniai anak, akhirnya ketika Suro pensiun, Suro bercerai dengan istri yang dari Kebumen, lalu pulang ke Purworejo sebagai rakyat biasa, Suro masih mendapat uang pensiun dari negeri Belanda sebagai pensiunan tentara Kompeni.

Di Purworejo Suro menikah lagi dengan Sogiyem ( Nenekku ) dan menetap di Kahuripan, Ds.Kalirejo, Kec. Bagelen, setelah Suro menikah dengan Sogiyem, waktu itu nenek Sogiyem meminta ilmu-ilmu gaib supaya dibuang sedikit demi sedikit dan kembali menjadi petani biasa meninggalkan semua ilmu-ilmu yang bersifat gaib, Suro dikarunia tujuh anak dari perkawinan dengan Sogiyem, termasuk Ibuku adalah anak yang kelima.

Dulu Suro memang mempunyai kebisaan dalam hal ilmu klenik, namun tidak di komersilkan, pada waktu di Kebumen pernah Suro di mintai tolong oleh seorang perempuan, yang ia adalah pembantu tuan Meneer, pembantu tuan Meneer itu ingin sekali menjadi Istri tuan Meneer sedangkan tuan Meneer sudah mempunyai istri, bagaimanapun cara dan syaratnya ia mau menerima asalkan bisa menjadi istri tuan Meneer, lalu Suro berkata “ aku gelem nulungi nanging tanggungen dewe dosane, aku emoh nanggung dosane ugo emoh suwargane” aku mau menolongmu tetapi tanggung sendiri dosanya, aku nggak mau menanggung dosanya juga nggak mau surganya, perempuan itupun setuju yang penting bisa terlaksana keinginannya, kemudian Suro memberikan garam setelah di beri mantera tertentu dan berkata buatlah memasak untuk hidangan tuan Meneer, lalu perempuan itu pulang dan melakukan sesuai petunjuk Suro, tak lama kemudian keluarga tuan Meneer sering bertengkar antara Tuan dan Nyonya Meneer, lalu Nyonya Meneer dipulangkan ke negreri Belanda, dan Tuan Meneer menikahi perempuan tersebut, setelah berhasil menikah dengan tuan Meneer perempuan itu datang kepada Suro dengan membawa tanda terimakasih untuk Suro, namun Suro menolaknya, Suro berujar “ aku wes kondo yen aku mung nglantarake, dene aku emoh nangung dosane, ugo emoh imbalane “ aku sudah bicara jika aku hanya sebagai perantara, aku tidak mau menanggung dosanya, juga tidak mau menikmati hasilnya.

Suatu ketika Suro sudah di Purworejo, ia di datangi anak tirinya dari Kebumen, seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya namun gagal oleh karena salah dalam strategi untuk mendapatkannya, anak tirinya datang kepada Suro dengan maksud meminta batu mustika yang pada waktu itu Suro dapatkan dari Aceh, karena anak tirinya tersebut tahu kegunaan batu mustika itu, ia ingin memilikinya, sebenarnya Suro berat untuk menyerahkan batu mustika itu, namun karena anak tirinya memintanya bahkan dengan menangis, akhirnya Suro memberikannya dengan disebutkan pantangannya antara lain jangan dipakai ketika buang hajat kecil maupun besar.

Singkat cerita batu mustika merah delima sudah diberikan kepada anak tirinya, namun suatu saat kemudian Suro mendengar bahwa batu itu hilang karena lupa akan pantangan yang harus di hindari, Suro pun sudah menduganya.

Sepengetahuanku Kakeku tidak hanya punya Batu mustika namun juga pusaka yang lain diantaranya ada beberapa Keris dan mata tombak, yang pada waktu aku kecil kakek sudah meninggal, keris-keris itu masih ada terselip di dinding kamar nenek Sogiyem.

Aku penah dengar cerita dari Lek Yanto adik Ibuku, bahwa banyak dari pensiunan tentara Kompeni pada saat orde baru meninggal dengan cara diracun, pelan tapi pasti akan meninggal dalam jangka waktu tertentu, namun kebenaran cerita itu aku sendiri tidak tahu, hanya Tuhan yang tahu semuanya “Allahualam”.

Ketika Nenek Sogiyem baru saja meninggal pada saat semua keluarga berkumpul, semua benda pusaka peninggalan kakek Suro di taruh di atas meja, Pakdhe Suparmin yang paling tua berkata, silakan saja siapa yang ingin memiliki benda-benda itu boleh ambil, aku melihat ada keris luk sembilan ( Luk Sanga ) yang aku lihat sangat bagus, menurut cerita Pakdhe, dengan keris itu dulu Kakek Suro bisa menghilang dari pandangan orang banyak atau ngilang ketika membaca mantera tertentu, aku tertarik untuk memilikinya karena hanya kelihatan bagus bentuknya saja, bukan kegunaanya, didepan saudara-saudaraku aku berkata ingin memiliki keris itu, namun Lek Yanto pada saat itu berkata “ yo kono nek keris kuwi gelem mbok gowo, nek ra gelem paling mengko njaluk bali” silakan saja kalau keris itu mau kamu bawa, kalau nggakmau paling nanti akan minta pulang, lalu menyahut Ibuku berkata “ rausah werno-werno mengko malah ngabot-ngaboti kowe” nggak usah macam-macam nanti malah memberatkan kamu.

Lek Yanto bisa berkata seperti itu karena ia pernah membawa keris itu ke Jakarta namun belum genap tiga hari keris itu minta pulang, melalui sebuah mimpi Lek Yanto seperti didatangi seorang kakek-kakek berjenggot putih dan meminta keris itu dipulangkan ke Purworejo.

Oleh karena Ibuku tidak mengijinkan aku membawa keris itu, akhirnya aku tidak jadi mengambilnya, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana cara merawatnya, lalu keris dan benda pusaka yang lain di simpan di rumah Pakdhe Suparmin, saat ini Pakdhe Suparmin sudah meninggal, aku tidak tahu dimanakah keris dan benda yang lain itu berada.

Itulah cerita singkat tentang Kakekku Tentara Kompeni, cerita tentang perjalanan hidup seorang manusia dengan segala macam keunikan dalam liku-liku kehidupannya.

Salam Hangat untuk semua.

Slamet Darmaji 23 Juli 2007 di edit ulang 24 Januari 2014.

Foto tahun 1998 : Paling kiri Kakek Suro Tirto (Alm), Mbakku Wiwit,Mbak Wibi,Mbak Lupi,Mas Sugeng,Mas.Sasongko,Mbak Yani,Mbah Sogiyem (Alm),Aku,Stenli,Mas Radiks (Alm),Adikku Giarti,Mbak Tumiati istri Mas Sarjono ,Adikku Wisnu, Mas Sarjono (Lurah Ds.Kalirejo 2014~2018 ), dan paling kekanan Ibuku.

Telah Dimuat di www.community.kompas.com, Kamis 9 Agustus 2007.

Category: blog,cerita, Tags: | posted by:slamet_darmaji


4 Responses to “Kakekku Tentara Kompeni”

  1. ADI Degreen says:

    .Salam Mas Darmadji,,, Ceritane apik dan penulisane urut koyo wartawan. Masa kecilku tahun 80an jadi ora iso cerito jaman mbiyen. Saya punya saudara (bulik) di desa suko boh kuning bagelen. dia jualan juga di pasar Clapar.

  2. Mas Adi,,terimakasih suadah mampir,,Mas Bulek njenengan namanya siapa ? barangkali saya bisa tanya teman2 tentang kabar & keberadaanya, kalau pasar di Clapar tidak ada, yang ada pasar di desa Soka atau Pasar Soka,,itu pasarnya lumayan rame hingga sekarang,, hanya saja tak serame pasar Krendetan,..Nuwun..

  3. kasiat says:

    Wah… rasane koyo melu terbawa ceritane susah senenge dadi tentara jaman dek mbiyen.
    Matur nuwun sanget mas Slamet Darmaji. salam sangking wong tlatah kidul sekampung kaleh mas admn mas Medi.suwun

  4. Mas Kasiat,,Maturnuwun sampun mampir wonten seratan dalem,..Salam ugi saking tlatah Bagelen,,..

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

PURWOREJO (sesungguhnya) KOTA POTENSIAL

2 - Jun - 2009 | eko_juli | 28 Comments »

PROMOSIKAN BLOGGER PURWOREJO?

15 - Dec - 2008 | indiez | 10 Comments »

INFO MUDIK KE PURWOREJO

24 - Jul - 2012 | Mbah Suro | 7 Comments »

Anak Malas Sekolah

21 - Mar - 2009 | eko_juli | No Comments »

Ketika Kita Gagal Mempertahankan Kemerdekaan Ekonomi

16 - Aug - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

Related Post

Kulonuwun

19 - Dec - 2008 | ien_bunda_elang | 2 Comments »

Jangan Memberi Cap Anak Nakal

28 - Aug - 2009 | eko_juli | 14 Comments »

Hijaumu Balut Luka Rinduku (2)

6 - Feb - 2008 | Raf | 1 Comment »

Perjalanan Haji

11 - Oct - 2011 | sutiyono | 9 Comments »

PURWOREJO (sesungguhnya) KOTA POTENSIAL

2 - Jun - 2009 | eko_juli | 28 Comments »

© copyleft - 2014 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net