Anak Desa dan Pengalaman dengan Pesawat Terbang

  23 - Jun - 2013 -   slamet wijadi -   30 Comments »
foto ofAnak Desa dan Pengalaman dengan Pesawat Terbang

Sebagai anak desa yang dilahirkan tahun 1932, pertama kali saya lihat pesawat terbang melintas di udara desa (daerah Purworejo selatan) pada permulaan Perang Dunia II tahun 1942, sewaktu dua pesawat bomber Amerika tiba tiba melintas dengan sangat rendah. Saya yang pada waktu itu baru berada diatas pohon kedondong sebelah Mesjid desa, kaget setengah mati, suaranya yang memekak telinga dan besarnya pesawat yang  “luar biasa”, sungguh memberikan efek yang sangat dramatis dalam memori saya. Kemudian hari saya tahu bahwa pesawat itu adalah dua bomber B-17 milik Amerika yang terbang menuju Bandung untuk kemudian melarikan diri ke Australia, menghindari kedatangan/serbuan tentara Jepang.

Segera setelah Belanda menyerah tanggal 8 Maret ’42 di  Kalijati, Subang, suatu hari terlihat formasi pesawat Jepang sebanyak sekitar sepuluh pesawat terbang melintas agak tinggi di atas udara desa kami, namun nampak jelas tanda bendera Jepang, bulatan merah Hinomaru di bawah sayapnya. Orang-orang desa termasuk saya terkesima melihat pemandangan aneh tersebut yang baru pertama kali kami lihat. Ternyata penerbangan itu sekaligus merupakan simbol berakhirnya Jaman Penjajahan Belanda dan datangnya Jaman Baru, Penjajahan Jepang di Indonesia.

Itulah dua “perkenalan” saya “melihat” pesawat terbang. Bagi anak desa, jangankan pesawat terbang, bahkan mobil (montor)pun adalah merupakan barang “ajaib”. Sekali-sekali melintas mobil di jalan depan rumah kami, anak-anak bersorak “horee…..” sambil mencium/mengisap asap mobil yang kami anggap “harum”…aneh, tapi itulah pengalaman saya sebagai anak desa di jaman Belanda.

Garuda_Indonesia_Douglas_DC-3_TTT-1

Garuda Indonesia Douglas DC-3

Tahun ’50 saya diminta mengantarkan/menemani kakak saya untuk menyusul suaminya yang bertugas sebagai tentara di Makassar dengan pesawat terbang dari Surabaya. Garuda Indonesia (GIA) baru saja lahir, penerbangan pakai pesawat Dakota DC-3. Pilot dan Pramugarinya masih Belanda/Indo. Inilah pengalaman saya pertama kali melihat dari dekat dan naik pesawat terbang yang tidak mungkin dilupakan, penuh dengan sensasi yang mendebarkan.

Tahun ’54-an di Jakarta,  Garuda memberikan kesempatan kepada Umum untuk terbang dalam acara “Joy Flight” selama 15 menit dengan Dakota DC-3 dari Kemayoran dengan membayar 15 ribu, melihat Jakarta dari udara. Saya ikut penerbangan ini untuk “menikmati” Jakarta dari udara walau hanya sekejap saja, terasa sangat membanggakan dan… tambah pengalaman “jam” terbang.

“Lompatan” hebat pengalaman terbang yang luar biasa terjadi tahun 1957. Saya dengan beberapa kawan memperoleh beasiswa dari Pemerintah AS  lewat “International Institute of Education” untuk melanjutkan studi di Amerika. Ada sekitar lima belas orang dari berbagai Perguruan Tinggi seluruh Indonesia mendapat kesempatan ini antara lain (dikemudian hari: ) Prof. Teuku Jacob dan Prof. Hasjim Jalal.

Garuda convair 340

Garuda convair 340

Kami  berangkat dari Kemayoran dengan Garuda Convair 340 ke Singapura dan menginap semalam. Selama perjalanan ini kami mendapat layanan makanan dan minuman serta “dimanjakan” dengan tawaran-tawaran makanan dari Pramugari  Indonesia yang cantik dan ramah. Perjalanan diteruskan ke Bangkok, berganti pesawat Pan Am yang agak lebih besar dari Convair, namun masih berbaling-baling. Pan American World Airways (Pan Am/PAA) adalah sebuah maskapai penerbangan Amerika yang sangat terkenal waktu itu.  Kala itu kami menginap semalam di Bangkok.

Pan American World Airways Boeing 377 Stratocruiser

Hari berikutnya dengan pesawat besar  Pam Am “Clipper” Boeing 377 Stratocruiser  berbaling-baling empat melanjutkan penerbangan  ke Tokyo, transit di Airport Haneda, mengisi bahan bakar.  Selanjutnya kami terbang menuju  Hawaii  dengan singgah di Wake Island di tengah-tengah Samudra Pacific untuk mengisi bahan bakar.  

Selama perjalanan dari Tokyo-Honolulu tersebut kami dimanjakan dan “pesta pora” layanan makanan dan minuman yang bagi kami cukup “asing” namun menyenangkan dan dengan uang saku sebanyak  US$25 yang diberikan oleh Kedubes AS Jakarta,  mampu membeli rokok Kent dan coklat, harganya masih bilangan sepuluh sen-an. Rokok Amerika waktu itu sangat langka di Indonesia dan harganya tidak mungkin terjangkau. Dengan bekal $25 itu kami merasa sudah jadi orang kaya. Beasiswanya cuma $100/bulan komplit, kecuali uang biaya kuliah dan uang buku sebesar $50 yang mereka tanggung, semuanya harus dicukupi sendiri, masih mampu menabung dan membeli radio, tape recorder dan mesin ketik. Hamburger/Hotdog, milkshake 10/15 sen-an. Kami hanya bawa satu jas dari Indonesia, itupun dengan cara utang orang tua… dengan uang itu bisa beli jas baru.

 Di Hawaii kami tinggal 2 bulan untuk menjalani masa Orientasi di Univ. of Hawaii bersama-sama mahasiswa dari berbagai negara Asia yang mendapat beasiswa yang sama.  Kami  ditempatkan di Dormitory/Asrama dan beberapa keluarga Amerika dengan maksud agar dapat cepat beradaptasi dengan “American Way of Life”.

Dua bulan kemudian kami tebang menuju San Francisco dan tinggal dua minggu di keluarga Amerika yang baik hati dan kami diajak tour keliling kota dan diperkenalkan tempat-tempat yang menarik. Dikemudian hari mereka sempat berkunjung ke Indonesia dan menjadi tamu kami.  Perjalanan terus dilanjukan dengan  terbang ke Seatlle, Washington State dengan pesawat domestic United Airlines. Akhirnya dengan Gray Hound Bus saya menuju ke kampus University of Oregon, Eugene, tempat tujuan dimana saya akan membutuhkan waktu dua tahun belajar guna meraih gelar.

Itulah barangkali kenangan pengalaman terbang yang paling mengesankan sebagai seorang anak desa, yang kecilnya penggembala kerbau, sungguh sesuatu yang yang tidak pernah terimpikan. Bahkan untuk melihat mobil saja di desa adalah satu kelangkaan, apalagi dapat menaikinya. Inilah berkah kemerdekaan yang saya rasakan, karena tanpa kemerdekaan saya hanya akan bisa sekolah desa maksimum sampai Ongko Loro kelas lima.

Setelah itu pengalaman terbang sudah menjadi rutin, bahkan dalam pejalanan karier, pekerjaan dan liburan, kami kemudian sempat berkunjung ke berpuluh negara  dengan berbagai maskapai penerbangan termasuk naik pesawat Catalina yang mendarat di sungai di pedalaman Irian Barat, berkeliling dunia dua kali lewat selatan dan lewat utara.  Namun tetap kenangan paling berkesan adalah waktu saya terbang dari Surabaya ke Makassar  dengan Garuda Indonesia yang baru lahir, dan dari Jakarta menuju  Amerika tahun 1957 dengan pesawat Pan Am yang sayangnya sejak tahun 1991 maskapai tersebut ditutup karena bangkrut.

Itulah sekedar rekaman pengenalan dan pengalaman dengan pesawat terbang, sesuatu yang selalu saya ingat dan syukuri tanpa henti sampai saat ini.

Slamet Wijadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


30 Responses to “Anak Desa dan Pengalaman dengan Pesawat Terbang”

  1. widibintoro says:

    Pak wik, sekali-kali jadi yang “pertamax”. Wah…sebuah pengalaman yang luar biasa Pak. Naik pesawat terbang untuk anak-anak desa apa lagi jaman Bapak banyak yang hanya sebuah impian dan tidak jarang sampai akhir hayat tidak kesampaian. Mungkin hanya nyanyian saja yang kurang lebih “montor mabur diane mati, bapak kondur jajane roti” sebagai lagu penghibur ketika melihat ada pesawat melintas tinggiii sekali.. diatas desa kami. Bahkan hingga saat ini banyak yang masih bermimpi untuk naik pesawat. Meskipun ada maskapai bilang setiap orang bisa terbang. Ya bagi yang sudah pernah apa lagi sering, tinggal mensyukuri nikmat yang sudah kita rasakan. Pak Wik kalau lihat photo pesawatnya jaman dahulu bagaimana tuh Pak Rasanya/pengalaman didalam pesawat komersiel jaman dahulu..apakah mirip naik pesawat hercules saat ini ya ? maksudnya lumayan bising dan deg-degan kalau nabrak gugusan awan. Wassalam

    • slamet wijadi says:

      Mas Widi, thanks untuk jadi “pertamax”, tanggapannya memang pas sebagai sama-sama anak desa, padahal beda waktunya mungkin lebih dari 50 tahun. Jamannya mas Widi semuanya serba jet dan penerbangan jauh lebih mulus, itu karena bisa membandingkan. Waktu saya perbandingan belum ada, bahkan pengalaman juga baru pertama kali,maka terasa enjoy2 saja, bahkan merasa sensasi penerbangan sangat terasa luar biasa, begitu lama dan sering berhenti ngisi bahan bakar. Pramugari juga terasa lebih ramah, makanan berlimpah, mungkin karena yang naik pesawat juga belum banyak dan “orang pilihan”, padahal kami itu kan gratisan.
      Saya yakin mas Widi juga punya pengalaman naik montor mabur pertama, mbok coba diceritakan kalau ada waktu longgar. “Montor mabur dianne mati, bapak kondur jajane roti”, dulu begitu berharga roti bagi anak desa, makanan “lux”, anak sekarang roti dipandang sebelah mata, sekedar untuk “ganjel perut”.
      Bagaimana keluarga semoga sehat semua dan si kecil mestinya sdh besar, sdh “minta” adik? Salam.

      • widibintoro says:

        Alhamdulillah dan terima kasih berkat do’anya Pak Wik. Saya dan keluarga dalam keadaan sehat wal afiat dan Si Kecil sudah bisa lari-lari dan belajar “ngoceh”, kalau “minta adik” Alhamdulillah sebelum diminta sudah mau disusul sekitar Januari 2014 insya allah lahir junior saya yang ke dua he..he…Salam utk keluarga, dan mungkin lebaran depan maunya Shalat Ied di Purworejo saja. Salam

  2. slamet wijadi says:

    Mas Widi, senang mendengar kabar bahwa keluarga semua dalam keadaan baik bahkan sudah akan tambah anggota baru, Isya Allah, tahun depan. Semoga kehadiran sikecil nanti akan berlangsung lancar dan mulus dan akan menambah kekokohan dan kebahagiaan keluarga mas Widi. Tinggal di daerah mana? Salam.

    • widibintoro says:

      Keluarga masih di “Portugal”, maksudnya Purwokerto Metu Tegal, karena istri jadi kuli di lereng Gunung Slamet jadi ya saya yang ngalahin pulang tiap satu atau dua minggu sekali. Apalagi sekarang lebih “terasa” karena jalur pantura sedang diperbaiki yang biasa Jkt-Pwkt 6 jam sekarang waktu tempuh bisa 11/12 jam dengan Bus. Hari senin masuk kerja badan pegel kabeh…tapi semua harus tetap disyukuri Pak dan tetap semangat. Salam

  3. slamet wijadi says:

    Wah bikin kaget, kirain di Lisbon, jebule tiyang Toya Jene (Banyumas). Orang kita memang pinter bikin plesetan, ada yang bilang tinggal di L.A. jebule Lenteng Agung, ada yang tinggal di BSD (Bintaro Sono Dikit), ada lagi yang tinggal di Lepen Tangi (Kaliwungu)… . Mas Widi, hidup adalah memilih yang terbaik dari pilihan yang tersedia, kalau cara yang kini dilakukan mas Widi adalah pilihan yang terbaik saat ini ya dijalani saja dengan senang. Memang yang kendala skr adalah jalan pantura yang selalu bermasalah, sejak puluhan tahun lalu tidak ada pemecahan tuntas, padahal jalan yang begitu vital. Kehidupan spt mas Widi ini banyak sekali dijalani, khususnya pasangan muda, semoga kedepan akan ada perkembangan yang menjanjikan, sementara itu ya, life goes on… Salam untuk keluarga.

  4. hariadi says:

    Assalamuallaikum
    Sugeng sonten eyang Wiek,dan pak Widi

    Setelah cukup lama saya tidak exist, nyuwun sewu mau “ngrusuhi” tentang pengalaman saya naik pesawat (montor mabur):)
    Juli 2002
    Berbekal surat pengantar dari kampus, kami ber-9 menuju ke Malang, tepatnya Lanud Abd Saleh.
    Dengan ramah Bapak perwira yang ditunjuk untuk mendampingi kami, menyambut dan membawa kami ke bapak Danskadron.
    Singkat cerita kami memulai kerja praktek yang akan berlangsung selama 3 bulan ke depan.
    Hingga suatu hari sesuai dengan schedule adalah praktek pelajaran Navigasi di pesawat Hercules.
    Kebetulan waktu itu ada bapak-bapak pilot yang sedang terbang refreshing, jadi diajaklah kami 9 orang lugu yang rata-rata dari ndeso, terutama saya sendiri yang baru kali ini melihat pesawat secara langsung (biasanya cuma lihat pesawat melintas di desa saya di Purworejo).
    Begitu pintu pesawat dibuka..beberapa kawan langsung “ngowoh” saking takjubnya, sampai harus ditegur dulu supaya segera masuk.
    Perasaan pertama yaitu bingung, bukan bingung arah utara selatan, tapi bingung menentukan atas bawah…parah..
    Namun dari peristiwa inilah yang kelak akan sediit banyak menjadi pengantar saya untuk bergabung selama beberapa waktu di sebuah perusahaan Avionic US (Honey**** Avionic).
    Dan mulai saat itu beberapa kali bepergian dengan pesawat, bukan lagi terasa asing dan tidak ngowoh lagi walaupun tetap mengingat peristiwa pertama kali naik pesawat..
    Begitu mungkin yang bisa saya ungkapkan dan selalu akan saya kenang..
    Wassalam

    • slamet wijadi says:

      Lama nggak muncul, senang dengan komennya mengenai kisah pengalaman yang kelak mempengaruhi jalan hidup mas Hariadi. Sangat menarik kalau tiba2 sebagai anak desa dihadapkan pada sesuatu yang tidak terduga seperti melihat pesawat terbang, bahasa Pogung nya “ngowoh”, apa sama dengan “ndomblong”? Sangat beruntung memperoleh pengalaman pertama secara gratis tersebut, mungkin bisa diceritakan kesan teman2 lain waktu take off dan melihat pemandangan dari atas, berapa lama diajak terbang? Lalu setelah mendarat bagaimana “obrolan anak-anak desa” yang baru pertama kali punya pengalaman luar biasa itu.
      Saya yakin teman2 lain juga punya cerita menarik mengenai pengalaman terbang pertama, tidak ada salahnya diceritakan disini.Sekedar untuk meramaikan Blogger kita. Salam Sw.

      • widibintoro says:

        Pak Hariyadi, kalau bicara pengalaman lucu mungkin beberapa kali terbang pesawat komersiel pada awalnya adalah bagaimana harus nahan sakit perut, karena takut kalau yang saya buang akan jatuh ke mana-mana, pikir saya kalau kencing ndak apa-apa jadi kaya air hujan nah kalau sakit perut apa ndak nibani wong liwat. Akhirnya ya nahan 2 jam sampai pesawat turun baru ke toilet…jan… ndeso banget tak kiro pembuangan pesawat sama kaya di kereta api ha..ha..wasalam

        • slamet wijadi says:

          Mas Widi, saya pernah punya pengalaman waktu sudah masuk toilet, pesawat goncang-goncang, ada pengumuman yang sedang ditoilet segera keluar dan kenakan sabuk pengaman, wah sudah kebelet kencing jadi harus keluar dan terus duduk sambil menahan sakit, untung nggak sampai ngompol…

  5. -Saya bangga jadi warga desa Susuk, tempat kelahiran Mbah Wiek!

    • slamet wijadi says:

      Trimakasi Mas Julian, kini kan kariernya mulai “nanjak”, selamat dan sukses. Saya juga bangga mengikuti perjuangan mas Julian meraih sukses dalam karier, maju terus. Tolong ceritakan juga pengalaman pertama terbang mungkin ada yang menarik untuk di bagi. Salam sukses, Sw.

  6. hariadi says:

    Betul Eyang Wiek,
    Sedikit banyak saya terpengaruh kosakata jawa timuran, ngowoh bahasa pogungnya domblong itu pak..
    Menambahkan cerita diatas,
    Pengalaman terbang pertama hampir 2 jam kami diajak putar-putar malang dan sekitarnya..
    Pak pilot sepertinya pengin nge-test kami (dalam hati saya) karena beberapa kali pesawat manuver dan touch and go..ketika sudah lega pesawat mau landing, yah…naik lagi..akibatnya beberapa kawan “nyerah” dan perwira pendamping sudah paham segera menyerahkan kantong kresek dan tau sendiri …^-^
    Karena kami duduk di belakang bapak pilot (co pilot tepatnya) adalah perasaan kagum, hebat..kok bisa menerbangkan burung besi sebesar ini.
    Satu yang masih saya inget pas di dalam, yaitu komunikasi harus lewat interphone, karena suara mesin yang sangat mengelegar.
    Dan ini yang tidak saya temukan di pesawat komersil..
    Selama beberapa waktu kedepan kami sering diajak terbang lagi..dan sudah tidak asing lagi dengan suasana dalam pesawat..
    Dan setelah kerja, saya jadi paham fungsi dari masing2 panel avionic di ruang kokpit, maklum yang memproduksi harus tau cara membuat, fungsi, menggunakan dan memperbaiki..
    hehehe..
    salam

    • slamet wijadi says:

      Mas Hariadi,kocak sekali kisah penerbangan pertama anak desa, ketemu dengan pilot yang “nakal”, maka judulnya adalah “Anak Desa di Gojlog oleh Pilot Hercules”…Mungkin Pilotnya mbatin “enak aja kalian mau naik pesawat gratisan, sekarang lu rasain sendiri akibatnya…” Saya ketawa memabayangkan “ketika sudah lega pesawat mau landing, ya… naik lagi…akibatnya beberpa kawan ‘menyerah’ dan … Ho-ek, ho-ek, minta ampun, ampun kapok… Mas Hariadi pengalaman menarik ini bisa ditulis tersendiri di Blogger tentu dengan bumbu humor disana-sini, pasti banyak yang seneng.
      Mengenai suara “menggelegar” dalam pesawat militer, itu memang wajar karena tidak didesain dgn akustik/peredam suara yang cukup, tidak diperlukan sebagaimana pesawat komersiil.
      Memang kalau kita dalam pesawat rasanya kagum pada pilot yang lihay menerbangkan pesawat, tetapi kalau sudah turun biasanya lupa, cuma kayaknya profesi penerbang itu membutuhkan pribadi yang khusus… Thanks untuk komennya yang melengkapi kisah penerbangan anak desa, salam, Sw.

  7. mas adjie says:

    Luar biasa pengalaman Eyang Wiek numpak “montor mabur”. Di era tahun 50 an sudah klakon mabur.. Kalau pengalaman saya melihat pertama kali pesawat terbang “in action” dari dekat yakni sekitar tahun 80an pada saat ada penyemprotan hama wereng di desa kami dengan memakai pesawat terbang kecil (mungkin pesawat jenis capung). saat itu kami masih di kelas (SD) sedang mengikuti pelajaran. Sekolah kami (SD Inpres) kebetulan di pinggir sawah. Tiba2 terdengar suara menderu nderu dekat sekolah. spontan anak2 teriak “montor mabur… montor mabur..” sambil berhamburan keluar menuju pinggir sawah… pak guru hanya bisa geleng2 kepala sambil ikut berlarian juga keluar melihat aksi terbang rendah pesawat tsb. Teman2 sambil riuh rendah bersorak sorak… “montor mabuuuurrr njaluk duwite… ora uliiiih tembak (maaf) silite…” . Alhamdulillah bbrp puluh tahun kemudian (2007an) klakon deh mabur numpak montor mabur pertama kali ke Makasar meski dengan perasaan was was bercampur keringat dingin….. salam.

  8. slamet wijadi says:

    Ha, ha, ha, pengalaman anak desa pertama kali lihat montor mabur, sangat orisinil, mas Ajie, saya bisa membayangkan bagaimana “hebohnya” suasana yang terjadi saat itu, murid” berhamburan keluar dan gurunya cuma geleng”… ya siapa yang bisa nahan anak” mau lihat barang ajaib, dan itu terjadi ditahun’80-an… Lha ini yang saya maksud agar para Blogger Purworejo menuliskan pengalaman pertamanya lihat burung ajaib, pasti berbeda-beda dan menarik. Lh itu ada parikan “montor mabuuuur njaluk duwite… ora oliiiih tembak silite…” cukup orisinil. Saya mengundang mas Gunarso dan teman” lain untuk komentar … Trims Mas Ajie sdh bikin ketawa sendirian… Salam, Sw.

  9. adidegreen says:

    Asslamkm wr wb.. sugeng sonten p wiek. masa kecil saya dulu tahun 80an, sering pak lik dan bulik saya pulang dari jakarta naik pesawat terbang. saya suka nanya berapa lama sih jakarta yogya di jawab ” nek misale ngrokok sebatang wae durung entek wis tekan yogya. Kalo saya sekarang kalau ada kerjaan di yogya, malang , surabaya suka naik pesawat, dan ternyata memang lebih cepat kalau tidak delay. Cuma kurang enaknya dari rumah mesti pagi2 banget supaya tidak telat. Nuwun. Salam Adi Degreen

  10. slamet wijadi says:

    Mas Adi, memang betul, sekarang ke Jogya dari Jkt naik pesawat terbang 40 menit, padahal lewat darat paling sedikit 12-13 jam, kalau nggak macet. Banyak keuntungannya naik plane. Kendala yang sering kita alami adalah berangkatnya dari rumah ke Airport paling sedikit 3 jam sebelumnya, dan kalau delay bisa sangat membosankan. Namun dengan plane tetap merupakan pilihan utama bila harus antar pulau. nampaknya pakai pesawat kini sudah mirip seperti naik bus, kalau melihat suasana hiruk-pikuknya di Airport.Thanks untuk komennya dan salam.Sw.

  11. mas adjie says:

    Seandainya rencana pembangunan bandara di daerah Congot terwujud, alangkah enaknya kalau pulkam ke purworejo naik plane jadi lebih cepat sampai rumah simbah… gak perlu ke jogja dulu. Menurut pak Wik rencana pembangunan Bandara tsb kira-kira bagaimana pak realisasinya, mungkin ada informasi ttg hal tsb? suwun…

  12. slamet wijadi says:

    Setuju mas Adjie, malah saya pernah bilang turun plane bisa naik ojeg, asal cuma bawa tas kecil. Menurut perkiraan saya, pembangunan itu hampir dipastikan jadi, karena pilihan lokasi lainnya kurang menguntungkan. Masalahnya skr hanya terkendala “lahan”, masih tarik tambang soal harga pembebasan, semoga hal ini bisa mendapatkan penyelesainnya dan pembangunan bisa segera dimulai. Insya Allah, salam.

  13. Pursito says:

    Pengalaman Bapak membuktikan bahwa siapa saja, kapan saja, dimana saja, bisa maju asal ada kemauan.
    Contohnya seperti Bapak, pada jaman itu, kata orang jaman sepur lempung, banyak hal yang terasa mustahil, tetapi riil. Setiap generasi mempunyai tantangan yang berbeda, tetapi kembali pada semangat dan motivasi.
    Jaman itu montor mabur seperti fatamurgana, yang seolah-olah hanya ada dalam angan2. Sekarang sudah banyak orang bisa menikmati montor mabur.
    Saya pernah mendengar cerita seorang tetangga yg dikirim ke Yogoslovakia sekolah militer tahun 60an, katanya naik pesawat itu seperti naik gerobak, gludak-gludak dan grunjal2, saya terheran2 apa di langit ada bebatuan sehingga kalau ketabrak pesawat bunyi gludak2, ee belakang jadi tahu rupanya kalau menabrak awan CB seperti nabrak batu dan bisa lebih hebat.
    Pak Wiek saya bangga, sesama warga asli Ngombol, Bapak sudah keliling dunia, mudah2 bisa nular kebawah, kegenerasi selanjutnya, karena sekarang semua fasilitas mudah diperoleh, beda dengan jaman dulu. Selamat Pak Wiek.

    • slamet wijadi says:

      Mas Pur, kita harus merasa beruntung dilahirkan pada kurun sejarah yang luar biasa. Bagi saya lebih” lagi karena lahir pada waktu peralihan jaman, dari jaman penjajahan Belanda ke Jepang dan Jaman Merdeka. Beratus tahun sebelumnya jaman nenek-moyang kita hanya mengalami hidup dalam jaman penjajahan yang statis dan hinaan sebagai bangsa terjajah dengan kemajuan teknologi yang lamban. Pesawat terbang baru ditemukan pada permulaan abad ke-20, namun tidak sampai 50 tahun kemudian sudah berkembang menjadi pesawat jet yang sangat canggih.Bagi anak desa seperti saya jaman itu tidak bisa membayangkan dapat sekolah menengah, karena sistem kolonial membatasi anak desa untuk sekolah lebih tinggi dari Ongko Loro, apalagi bermimpi sampai “keluar negeri” dengan montor mabur, melihat saja belum…. Kemudian datang Jepang dan Merdeka, yang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi “siapa, dimana saja, bisa maju asal ada kemauan”, kata mas Pur. Itu memang betul, namun harus diakui bahwa bagi generasi sekarang juga menghadapi tantangan sendiri, harus mampu bersaing untuk meraih kemajuan, dunia sekarang makin penuh dengan persaingan yang “super ketat”, hanya yang terbaik bisa lolos untuk maju dalam bidang apa saja. Jadi memang betul bahwa setiap generasi mempunyai tantangan yang berbeda, namun setidaknya sekarang kesempatan terbuka bagi semua, tinggal bagaimana masing” kita menjawabnya.
      Trimakasih untuk tanggapan yang menyenangkan dan juga menyangkut Ngombol, daerah kita juga banyak yang “peng-pengan” lho, cuma kurang di ekspos saja. Salam kompak dari Ngombol. Sw.

  14. Pursito says:

    Saya berterima kasih karena bisa bertemu Bapak, karena bergaul dengan lintas generasi akan menambah wawasan dan wacana yang lebih beragam. Semoga tulisan-tulisan pengalaman Bapak terus mengalir. Sugeng siang. Pursito

    • slamet wijadi says:

      Sama-sama mas Pur, generasi tua yang senang bergaul dengan generasi muda juga diuntungkan, disamping bisa memahami aspirasi dan masalah yang mereka hadapi, juga akan “ketularan” berjiwa dan semangat muda, disamping yang pasti menunda kepikunan. Insya Allah saya akan terus menulis sebisanya karena itu juga bagian dari latihan otak “gunakan atau kamu akan kehilangan selamanya…”, salam Blogger, Sw.

  15. mbah suro says:

    Pengalaman pertama kali saya nunggang montor mabur adalah penerbangan ke Bali kira-kira 25 tahun yang lalu, perasaan takut dan deg degan ada dalam pikiran dan dada saya, telinga rasanya mau pecah saat pesawat lepas landas, setelah sampai pada ketinggian tertentu baru terasa tenang dan nyaman karena cuaca saat itu cerah. Namun demikian rasa was-was selalu ada, karena sering terlintas dalam pikiran “engko nek mesine mati piye jal”. Akhirnya saya hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi terjadilah sambil bibir “ndemimil” mohon pertolongan dengan doa seadanya.
    Sampai saat inipun dalam setiap penerbangan perasaan saya selalu was-was dan takut tetap ada, apalagi dengan sering terjadinya kecelakaan pesawat terbang.

  16. slamet wijadi says:

    Mbah Suro, saya kira semua orang sama, kalau naik pesawat terbang selalu was-was dan deg-degan, bahkan ada yang ekstrim nggak berani naik pesawat terbang. Tokoh terkenal seperti Petinju Moh Ali paling tidak senang naik pesawat terbang. Presiden Korea Utara, Kim Yong Il malah tidak mau naik pesawat terbang, kalau ke Moskow selalu naik KA yang makan waktu berminggu, padahal dengan pesawat terbang hanya bilangan jam. Memang paling ngeri kalau selalu berpikir kalau mesinnya mati gimana, tidak ada jalan lain kecuali pasrah Gusti Allah. Padahal dibanding kendaraan darat, secara statistik pesawat lebih aman. Cuma kalau dengan mobil pikiran kita kalau mogok paling cuma berhenti dan kita turun selamat, lha kalau pesawat? Yang lucu juga kalau pesawat lewat udara yang jelek dan tegoncang-goncang, penumpangnya semua pucet dan masing2 “ndremimil” dengan doanya masing2 sambil kuat2 pegangan kursi… Namun kalau sudah selamat sampai didarat semuanya sudah dilupakan, bahkan lupa terimakasih pada pilotnya… Itulah barangkali sudah menjadi sifat manuasia, hanya ingat dan butuh bilamana perlu… Salam.

    • gunarso ts says:

      Maaf Pak Wiek, saya baru hari ini bisa menanggapi tulisan bapak seputar montor mabur. Karena saya harus merekonstruksi dulu kenangan masa-masa lalu sekitar pesawat terbang itu. Di antaranya, parikan di masa kecil setiap melihat ada motor mabur melintas di langit Ngombol, baru muncul sekarang dalam memori benakku. Kala itu (th 1960) anak-anak kampung manakala melihat pesawat di udara langsung pada mendendangkan parikan: montor mabur diyane mati, sing nang nduwur sing ngati-ati.
      Entang ciptaan siapa parikan tersebut, tapi anak-anak kecil di kampungku hafal sekali. Sama seperti pemikiran Mas Pursito, saat guru SR-ku menerangkan bahwa pesawat bisa bunyi gludug-gludug manakala menabrak awan; aku juga merasa aneh. Memangnya awan itu sekeras batu, bukankah dia bukan benda padat?
      Setiap di daerah Ketawang ada latihan militer, bunyi dentuman meriam terdengar hingga kampungku yang berjarak 8 Km dari lokasi. Bersamaan dengan itu sering terlihat helikopter terbang rendah, dan anak-anak sekolah melihatnya sampai cengeng karena harus mendongak berlama-lama. Seperti apa dalamnya helikopter dan pesawat, tak bisa menggambarkan. Yang jelas dalam buku “Nyamikan” bacaan SR, pelayan pesawat yang sekarang disebut pramugari, istilahnya dulu: sterwades (yang betul: stewardess) lengkap ada gambarnya.
      Pertama kali naik pesawat Agustus 1982, dari Kemayoran ke Adisucipto Yogyakarta. Tarifnya masih terhitung mahal, Rp 45.000,- padahal gajiku baru Rp 160.000,- Tahun 1987 hingga 2007 aku menjadi sering sekali naik Garuda karena tugas liputan jurnalistik ke berbagai daerah, di antaranya pernah ikut Capres Wiranto kampanye ke Kaltim dan Bali (2004).
      Yang menarik saat ditugaskan ke Suriname (Amerika Selatan) Oktober 1996. Naik pesawat KLM 27 jam lamanya, yakni Jakarta – Singapura – Schipool (Amsterdam) selama 18 jam, dan ditambah Schipool – Paramaribo selama 9 jam. Rasanya pantat sampai ngelot (tepos) dan panas. Paling lucu, ternyata orang Jawa Suriname selalu keplok-keplok begitu pesawat mendarat.
      Sesuai dengan pertambahan usia, tugas kejurnalistikan saya kemudian lebih banyak di dalam, sehingga sekarang sudah jarang naik pesawat, karena harus …..bayar sendiri. Makanya bila pulang kampung cukup naik Mbak “Rosalia Indah” Kampung Rambutan – Yogyakarta (Wonosari), turun Pendowo.
      Bila bandara Adisucipto jadi pindah ke Temon, daerah kita niscaya akan menjadi akrab sekali dengan montor mabur. Karena runwaynya di Congot, pasti nanti di atas rumah Pak Wiek di Susuk pesawat itu telah terbang rendah. Siap-siap saja warga Ngombol jadi bising karenanya. Begitulah kemajuan pembangunan, ya Pak Wiek. (gts)

      • slamet wijadi says:

        Mas Gun, akhirnya muncul juga komentarnya, meskipun lambat tapi tetap manteb, dan menambah warna-warni pengalaman Anak Desa dengan montor mabur. Waktu jaman saya kayaknya belum ada parikan yang menyangkut montor mabur spt di desa Mas Gun, namun parikan itu sungguh menarik karena berisi doa bagi mereka yang lagi terbang, jadi positif bagi jiwa anak2. Bagi orang Indonesia umumnya fenomena pesawat terbang itu baru dikenal menjelang PD II, makanya pada waktu saya pertama kali lihat bomber Amerika melintas di desa, takjub saya luar biasa, demikian orang2 desa lainnya. Guru saya Pak Sastro berkomentar bahwa pesawat itu menjatuhkan “barang cair” yang baunya “wangi”, padahal itu mungkin air kencingnya si pilot… Menjelang PD II pilot umumnya orang Belanda, hanya ada beberapa gelintir orang/pemuda kita yang nekat seperti Adi Soecipto, Abdurrachman Saleh dan beberapa yang belajar sendiri waktu jaman Jepang. Soeriadarma sebagai Ka Staf Angkatan Udara bukan seorang penerbang. Jadi mengherankan bahwa pada waktu tahun ’47 kita sudah berani mengebom Ambarawa dan Semarang dengan pesawat rongsokan Jepang. Walaupun balasannya Belanda tidak tanggung2, sebuah pesawat sipil yang baru datang dari Singgapura dan membawa Adi Soecipto, Abdurrachman Saleh ditembak waktu akan mendarat di Meguwo. Cerita itu sudah kita bahas pada kisah sebelumnya.
        Pada waktu Garuda Indonesia lahir tahun ’49/50 praktis belum ada pilot Indonesia. Wiweko yang waktu itu penerbang di Burma dengan pesawat Seulawah memang seorang penerbang namun bukan penerbang sipil. Tahun 1950 sebanyak 60 orang pemuda Indonesia, a.l. Oemardani, Dewanto, Andoko di kirim ke Amerika dan ini merupkan “cakal bakal” angkatan penerbang Auri. Dari 60 orang itulah mereka kemudian mendidik angkatan2 berikutnya di Kalijati. dengan datangnya pesawat jet dan MIg Rusia, Auri pernah berjaya sebagai kekuatan udara yang di perhitungkan waktu itu. Itulah sekedar kilas balik “pengalaman anak desa dengan pesawat terbang” sebab Dewanto, Rusmin dan lain2nya itu juga berasal dari “desa” yang kemudian mengharumkan nama Indonesia dalam dunia penerbangan.
        Pengalaman Mas Gun waktu terbang ke Suriname sungguh istimewa, karena lama dan jauhnya, kalau sekedar untuk kunjungan wisata, Suriname tidak ada yang tertarik karena jauhnya, namun karena adanya “orang Jawa” itulah Suriname jadi menarik. Sekarang ini Suriname bisa dijadikan “laboratorium” untuk bahasa dan kebudayaan Jawa yang “asli” dari perdesaan dari tahun 1900-an. Kalu kita dengarkan penyiar radio Suriname dengan bhs. Jawanya tersa agak asing ditelinga, bahkan agak “lucu”, namun itu adalah bhs. Jawa yang lebih “asli”. Juga kebudayaannya. Mas Wardi Wusono alm. yang mantan Dubes, yang mas Gun kenal, banyak cerita yang lucu2 yang dia temukan selama dia bertugas disana.
        Soal Congot jadi runnway Airport yang akan datang kita nikmati saja. Yang terang kalau kita pulang cukup pakai ojek untuk sampai tujuan. Sehubungan akan adanya Airport baru itu kabarnya harga tanah sepanjang Congot-Ketawang melonjak drastis, menurut mas Rowo sudah sampai 400 ribu per m2nya, mas Gun tidak tertarik berinvestasi disana? Sekian dulu, trimaksih dan salam.

  17. deni says:

    Obrolan seperti inilah yang membuat saya semakin bangga dan kangen dengan kampung halaman Purworejo …..,Maafkan tahun ini tidak bisa pulang kampung..!

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2013 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net