PEMILIHAN LURAH

  13 - Apr - 2013 -   massito -   23 Comments »

Dulu sebutannya magangan lurah, menjelang magangan bisanya para calon LURAH menyelenggarakan lek-lek-an. Para calon pemilihan bergembira ria mengunjungi para calaon LURAH, semakin banyak yang datang, para calon LURAH semakin senang, karena sedikit banyak menggambarkan banyaknya calon pemilih. Sementara para calon pemilih bersuka ria, para BOTOH mengatur strategi, bagaimana dapat mengumpulkan suara melebihi yang lain sehingga dapat memenangkan Jagonya.

Pemilihan Lurah merupakan expresi dari Demokrasi yang murni, dimana setelah selesai pemungutan suara, dan diketahui pemenangnya berangsur angsur para pihak yg semula bertarung menjadi satu sebagai sesama warga desa, tidak lagi melihat yg satu dari kubu A dan yang lainnya dari kubu B, jadi sebetulnya kalau sekarang sering terjadi kisruh pemilihan BUPATI WALIKOTA dan GUBERNUR, seharusnya bisa belajar kepada orang desa yang sudah menjalankan arti demokrasi yg sesungguhnya, walaupun berbeda dalam pilihan tetapi tetap dalam satu tujuan yakni membangun desa.

Memilih LURAH pada dasarnya memilih pemimpin, jadi seharusnya calon pemimpin seharusnya berwibawa, jujur dan pandai, tetapi kenyataannya tidak begitu. Banyak LURAH terpilih kenyataan tidak memenuhi kreteria pemimpin seperti yang tadi disebutkan diatas.

Bagi kalangan tertentu di desa, menjadi LURAH mempunyai kedudukan terhormat, sehingga untuk mencapai kedudukan itu berani mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, bahkan berani hutang kesana sini, dengan harapan setelah terpilih nanti dapat dikembalikan setelah menikmati sewah bengkok. Kenyataanya sering melenceng dari harapan, karena setiap pemilihan pemenangnya hanya satu, artinya calon yang kalah akan menderita yang banyak. Anehnya, ada calon LURAH yang sudah beberapa kali nyalon dan belum pernah menang, artinya pengeluarannya sudah cukup banyak.

Banyak orang yang punya pemikiran bagaimana cara membangun desa, tetapi tidak mau maju nyalon LURAH karena sadar bahwa biayanya banyak, sementara pemilih belum bisa menilai mana calon yang benar2 mengerti tata keloka desa, maka jangan heran kalau banyak desa yang tidak ada kemajuan dari tahun ketahun, karena para LURAHnya memang tidak punya konsep membangun desa.

Walaupun biaya yg dikeluarkan cukup banyak untuk ukuran di desa, tetapi didesa jarang ada LURAH atau KEPALA DESA tersandung kasus korupsi, karena memang tidak ada yang dikorup, atau tidak berani. Hal ini sangat berbeda dengan BUPATI WALIKOTA atau GUBERNUR, banyak yang tersangkut korupsi, karena ingin cari balik modal, tapi malang tidak bisa ditolak, belum kesampaian sudah ditangkap KPK.

Jadi yang perlu dipikirkan bagaimana cara menciptakan system pemilihan yang murah, karena selama System pemilihan masih seperti sekarang untuk segala lapisan jangan berharap mendapat pemimpin yang AMANAH. Purs

Category: blog, Tags: | posted by:massito


23 Responses to “PEMILIHAN LURAH”

  1. indra says:

    menciptakan sistem pemilihan yang murah harus diawali dari kehendak rakyat desa untuk menciptakan pemerintahan desa yang bebas korupsi. harus ada keinginan untuk bersama sama membentuk peraturan desa tentang tata cara pilkades yang disepakati bersama, yaitu menghindari praktek suap berbentuk materi, saling berkunjung ke semua wilayah desa tersebut dan mengadakan sarasehan bersama semua calon peserta pilkada.
    bila antar calon tetap terlihat akrab meski sedang berkompetisi, saya yakin rakyat desa tetap akur, karena sesungguhnya rakyat dibuat tegang karena upaya2 polarisasi dan provokasi saat sebelum pemilihan
    agar terlihat benar2 pesta demokrasi, rasanya tidak ada salahnya membuat suasana saat hari H pilkades benar2 seperti pesta, usai mencoblos rakyat desa dijamu makanan besar, kalau perlu hiburan yang menyenangkan. Biayanya? ya dari patungan antar calon yang dikoordinasi panitia pilkades.
    Yang penting rakyat tetap senang, bisa memilih calonnya dengan tenang, pesta demokrasi nya tetap terasa, tapi biaya yang dikeluarkan calon kades tetap terjangkau. yang penting ada upaya saling mengawasi.
    itu hanya soal kedewasaan para pemimpin saja, karena rakyat sekarang lebih cerdas untuk bersikap

  2. gunadirayap says:

    Assalamualaikum , Memang benar mas… Di desa saya Pacor Kutoarjo untuk magang jadi lurah butuh uang cukup banyak. Kalau dihitung gaji ( bengkok ) tanah 5 tahun tidak balik modal. ( saya pernah hitung ).
    Katanya sih,,, jadi lurah bisa menaikkan derajat hidup / mungkin priyayi kali. Saya pengin nyalonin lurah,,, tapi ora ono sing milih…apes..salam

  3. mas adjie says:

    kalau dari kacamata masa anak kecil dan remaja dahulu di era tahun 80an, jika ada pilihan lurah / pilkades, merupakan berkah tersendiri bagi kami anak2 serta remaja, hampir seminggu lebih kami berpesta makanan, minuman dan rokok gratis hanya dengan mendatangi rumah para calon yang magang. baik dengan rombongan teman maupun ikut dengan bapak. suasana desa sungguh ramai dan semarak. Mendengarkan cerita para botoh / pendukung para calon sangat seru juga utk disimak, seperti cerita mistik dan laku spiritual para calon dan pendukungnya, sampe cerita dukungan pejabat daerah maupun pusat, tokoh politik maupun tokoh agama… jann pokoke seru….

  4. Yoyo.S says:

    Kayaknya ceritera magang lurah memang seru untuk di simak, kebetulan hari minggu tanggal 7 April 20l3 kemaren saya pulang kampung ( Borowetan ) dengan maksud nengok orang tua ( Simbok ) yang sudak sendirian karena Bapak sudah sedo bulan Oktober tahun 2009, seperti biasanya saya naik Bus Efesiansi yang ke Jogja dan turun di Pom Bensin Mboro ( Cungkrung ) waktu itu sudah malam sekitar jam 20.00 WIB, begitu menyeberang jalan yang lewat tengah kuburan ternyata banyak orang berseliweran naik motor saya agak heran ada apa gerangan di desa, ternyata di Borowetan pada pagi harinya ( Senin 8 April 2013) di gelar pemilihan Kepala Desa ya kebetulan sekali saya jadi bisa menyaksikan pesta Demokrasi Rakyat di pedesaan, menurut cerita Simbok,ada calon Lurah sudah mengadakan lek-lekan ( menerima kunjungan tamu) 2 bulan padahal saya menyaksikan sendiri untuk menjamu tamu tamu yang hadir yang namanya makanan dan ugo rampenya tidak sedikit, jadi ya betul kalo magang lurah harus punya modal yang cukup.
    Namun demikian itulah pesta rakyat kecil di Pedesaaan dan yang saya aga lega sekarang di Desa Borowetan sudah di bangun jembatan untuk akses dari Borowetan ke desa di sebelah barat Sungai Bogowonto meskipun masih jembatan Gantung tapi cukup menunjang lalu lintas sepeda motor dan orang pergi ke sawah, Selamat buat Pak Lurah yang terpilih

  5. mbah suro says:

    Pelaksanaan Pilkades desa Wingkomulyo diselenggarakan pada tanggal 11 April 2013, sayang saya tidak bisa pulang kampung karena sesuatu hal, konon kabarnya ada dua calon masing-masing adalah : incamben dan satu calon dari Dukuh Ngenthak dan pemenangnya incamben masih menjadi pilihannya.
    Tidak tertutup kemungkinan pelaksanaan Pilkades ada yang menggunakan permainan uang yang sering kita dengar dengan sebutan operasi fajar. Bahkan beberapa bulan yang lalu saya mendengar khabar di salah satu desa di kecamatan Ngombol ada kandidat yang berani beli satu suara sampai 1 juta rupiah. Bisa dibayangkan berapa juta modal yang dikeluarkan?
    Saya berkeyakinan dengan iming-iming uang sebesar itu, masyarakat banyak yang “tergiur” yang pada akhirnya imannya “ngglempang” jatuh pilihannya kepada si pemberi uang, sehingga demokrasi dicederai oleh politik uang.
    Semoga kedepan ada niatan yang baik dari para petinggi untuk memikirkan bagaimana cara berdemokrasi yang baik, murah, mudah, jujur dan terpercaya. Semoga……..

  6. Pursito says:

    Terima kasih buat Bapak dan Mas yg telah memberi komentar; Mas Gunadi, Mas Yoyo, Mas Adji dan Mbah Suro, pada dasarnya kita sepakat, selagi uang berperan nomor 1, maka untuk pemilihan tingkat apapun akan sulit mendapatkan yg terbaik.

    Tetapi kabarnya, ada beberapa desa yg warganya tidak ada yg mau nyalon, terus siapa yg jadi lurah? Ini sebetulnya awal yg baik, tidak mau nyalon belum tentu tidak mau jadi Lurah, barangkali tidak mau jor joran duwit, tetapi boleh dicoba ditawarkan jadi Lurah gratis, mungkin ada yang mau,,, terserah saja bagaimana rakyat,,

  7. Pengin nyalonin lurah ora duwe duit. Duwe duit ora ono sing milih. Ono sing milih duite ilang. Duite ketemu wis ono sing dadi lurah. apes temen toooo.

  8. Pursito says:

    Mas D3, wah susah mau panggil namanya, kalau mas maju, aku pasti nyoblos, tetapi dimana pilihannya apa aku bisa ikut milih????

  9. yono says:

    Didesa saya Kemadulor, pilkades diadakan hari Kamis, 11 April 2013, diikuti oleh 3 calon, pemenangnya calon yang memakai jalur putra desa, berdomisili di cimahi, jawa barat. Semoga dengan bekal pengalaman diperantauan dapat memajukan desa.

    • Raf says:

      Pak Yono, selamat atas kesuksesannya….. semoga amanah ini menjadi bagian dari amal ibadah, dan tentunya menjadi garda terdepan dalam rangka membawa kemajuan desa/bangsa…amiin

      Sukses selalu….

      Salam
      Raf

  10. Pursito says:

    Mas Yono, Kemadulor itu daerah mana ya, kok saya belum tahu, maklum waktu pelajaran ilmu Bumi aku ga masuk, memang ada baiknya kalau yang jadi lurah sudah pernah merantau, karena akan menambah wawasan, karena bagaimanapun kalau kita pernah melihat dunia luar, banyak hal-hal positif yang bisa diterapkan.

    • Kemadu lor ki sebelah utara gunung tugel. Emang mas pursito durung pernah mampir gunung tugel po??? Ati2 akeh kuburan lhoo.

      • yono says:

        Benar, desa Kemadulor terletak diutara Gunung Tugel Kecamatan Kutoarjo. Ada 8 desa wilayah Kecamatan Kutoarjo berada diutara gunung tugel yaitu : Sokoharjo, Tepus Kulon, Tepus Wetan, Kemadulor, Kaligesing, Karangrejo, Tursino dan Wirun. Dari delapan desa yang mengadakan pilkades 8-12 April kemarin ada 3 desa : Kemadulor, Kaligesing dan Wirun, ketiganya berhasil memilih Kepala Desa baru dengan lancar dan selamat (baru dalam arti tidak ada incumben)

        • yono says:

          Matur nuwun RAF, mohon bantuannya untuk selalu memberikan saran dan masukan untuk Kemadu kita tercinta, lebaran mudik kan…

  11. slamet wijadi says:

    Ada beberapa “keanehan” tentang pilihan lurah jaman sekarang. Info terakhir mengenai pilihan lurah di Purworejo: dari 142 desa yang menyelenggaran pilihan, 27 desa calon tunggal dan dua diantaranya calon tunggal tsb. kalah dengan kotak kosong, sehingga perlu diulang tahun depan. Ini sangat berbeda dengan jaman dulu dimana magangan luar (jaman Belanda) merupakan pergulatan habis2an, khususnya antar para botoh.
    Nampaknya jabatan lurah sekarang tidak lagi terlalu menarik sehingga animo menjadi kurang.
    Di desa Mendiro, lurah inkamben menyatakan tidak bersedia lagi maju sehingga calon tunggal mulus dipilih, dari sekitar 300 pemilih hanya sekitar 5 yang masuk kotak kosong.
    Di desa saya Susuk, Lurah maju ke dua kalinya, berhadapan denga kotak kosong, hasilnya hampir 300 milih dia kembali sedangkan 30 dinyatakan milih kotak kosong, 32 dinjatakan cacad.
    Gambaran ini cukup menjadi bukti bahwa pilihan lurah bagi sementara desa bukan lagi merupakan peristiwa yang “luar biasa”, sudah menjadi semacam rutinitas. Mungkin juga periode yang “hanya” limatahun” menjadi sebab, dibanding jaman dulu jabatan lurah adalah selama hidup dengan prestise dan kekuasaan yang luar biasa.
    Lurah jaman sekarang juga sudah mirip dengan orang kantoran, ada jam kerjanya, sedang diluar itu, kalau dia pedagang ya masih menjalankan profesinya di pasar2.
    Sekian sekadar komentar, terimakasih pada Mas Pur telah menampilkan tulisan yang menarik. Salam.

    • Benar pak wiek,, di desa saya tahun kemarin lawan kotak kosong , untungnya dia menang. Memang jabatan lurah sekarang sudah kurang menarik. mungkin disamping membutuhkan cukup banyak uang tapi kurang menghasilkan ( tdk balik modal ). Sehingga saya melihat tidak ada gebrakan / terobosan yang signifikan dalam memajukan desa. Desa tidak makin maju. Waton ono, kayaknya.

      • yono says:

        Sebenarnya mestinya Purworejo mengadakan pilkades di 143 desa, tapi 1 desa tidak ada peminatnya. Kemudian melengkapi yang ditulis Pak Wiek, dari 142 pilkades, ada 5 desa yang pemenangnya hanya selisih 1 suara, dan sampai dengan tanggal 16 April dari 3 dari 5 calon yang kalah dengan selisih 1 suara sudah melakukan gugatan.
        Mohon maaf Pak Wiek, masih ingat kan diskusi kita tentang RUU Desa bbrp waktu yang lalu, dan ternyata RUU Desa sampai sekarang masih dalam pembahasan, dan kalau selesai Juni nanti baru dibawa ke paripurna. Berarti Calon Kades Kemadulor terpilih yang menggunakan jalur putra desa yang bbrp waktu yang lalu berdiskusi dengan Pak Wiek akan ikut dilantik.

        • slamet wijadi says:

          Mas Yono, saya baru menyadari bahwa “jalur putra desa” itu menyangkut keikut-sertaan Mas Yono, dan ternyata ada berkah tersembunyi dengan belum di undangkan RUU Desa baru, sehingga Mas Yono lolos untuk dilantik berdasar aturan lama. Selamat Mas Yono, ini betul2 merupakan GONG dalam menutup karir. Saya berdoa semoga Mas Yono Sukses dalam mengemban tugas, menjadikan desa Kemadulor sebagai percontohan keberhasilan seorang putra desa yang kembali dari rantau… Selamat, nanti kalau saya pulang tilik saya akan mampir ke kelurahan untuk sowan Pak Lurah baru…

  12. Pursito says:

    Matur nuwun dateng sedoyo sutresnaning tulisan2 sing rodo ngawur lan nglantur kangge mangayu bagyo dateng lurah ingkang menang magangan,,, suwun Pak Wik,,,

  13. mas adjie says:

    selamat buat mas Yono, semoga sukses dan barokah dalam mengemban amanah… salam kenal,

  14. yono says:

    matur nuwun Mas Adji, salam kenal kembali.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Renungan (secangkir kopi)

7 - Jun - 2010 | agus | No Comments »

Selamat Tahun Baru 2008

2 - Jan - 2008 | meds | No Comments »

INFO MUDIK KE PURWOREJO

24 - Jul - 2012 | Mbah Suro | 7 Comments »

TRADISI “ZIARAH” LAUT SELATAN

17 - Aug - 2012 | Mbah Suro | 10 Comments »

Mengapa kita sulit untuk Tertib Lalu Lintas ???

25 - Aug - 2010 | shuenk | No Comments »

© copyleft - 2013 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net