BANDUNG: Sebuah “IMPIAN” yang Menjadi Kenyataan.

  2 - Mar - 2013 -   slamet wijadi -   18 Comments »

Lanjutan kisah “Naik Kerata Api di Jaman Jepang”.

BANDUNG, JAMAN JEPANG TAHUN 1944. Jaman perang, jaman pendudukan Jepang. Keadaan serba sulit dan terbatas. Keluarga mbakyu saya dimana saya mondok tidak terkecuali. Dengan anak-anak kecil empat orang tinggal di rumah sempit di perkampungan Cikawao/Bandung Selatan keadaannya sungguh berat, belum lagi dengan keberadaan saya, kakak saya dan seorang keponakan yang menyusul kemudian, ditambah seorang pembantu, seluruhnya jadi berjumlah 10 orang.

Hanya karena kesabaran, keuletan dan kebaikan hati yang tanpa batas dan tanpa mengeluh dari seorang ibu rumah tanggalah yang masih memungkinkan kami bertahan hidup. Setiap harinya kami hanya makan bubur jagung dengan sayur labu siem yang tumbuh subur merambat pada sebuah pohon di halaman depan. Anak-anak, demi pertumbuhannya, makan bubur beras. Namun, dalam menghadapi keadaan tersebut tidak ada seorangpun yang mengeluh, kita menyadari keadaan jamannya memang begitu, bahkan bisa makan saja sudah bersyukur.

Beberapa waktu setelah saya tinggal di Bandung, saya berhasil masuk Sekolah Teknik Radio yang mendidik lulusannya menjadi calon juru telegrap dan radio dibawah Jawatan PTT (Pos Telegrap dan Telepon). Djawatan ini berada dibawah kendali Jepang dengan nama Djawa Mushen Kiki Seisha Kusho berkantor pusat di jalan Tegalega Timur dimana sekolah itu berada. Setiap hari saya pulang balik menempuh jarak Cikawao-Tegalega Timur dengan jalan kaki menyusuri gang-gang sejauh sekitar 6 Km, namun ada rasa kebanggaan bahwa saya akhirnya mendapatkan sekolah yang memberikan pendidikan untuk menyongsong hari depan. Sebagai anak desa adalah luar biasa untuk dapat menempuh jenjang pendidikan lanjutan tersebut.

Suatu hari Minggu saya diajak kakak saya untuk tamasya ke Kebon Binatang di daerah Tamansari, Bandung Utara. Setelah capai keliling kami istirahat. Pada waktu istirahat itulah saya memperhatikan sebuah kelompok bangunan aneh yang seakan terletak di atas bukit, dilihat dari Kebun Binatang yang berada di lembah. Kakak saya menerangkan bahwa itu sekolahnya Ir. Sukarno, Sekolah Tinggi Teknik (orang bilang waktu itu TH-Technische Hogeschool). Hanya orang-orang pribumi istimewa dapat masuk disitu, sebagian besar orang Indo dan Belanda. Ternyata saya ketahui kemudian bahwa Ir. Sukarno termasuk 3 orang pribumi pertama lulusan tahun 1926 dari jumlah 18 orang lulusan tahun itu.

Gambar 1 ITB 30an

Kampus Technische Hogeschool (ITB) tahun ’30-an

Mendengar cerita itu , sambil memandang dengan rasa kagum ke bangunan aneh berbentuk runcing-runcing yang seakan terletak di atas mega itu, pikiran saya “ngelantur” dan mengkhayal ke dalam dunia impian. Alangkah hebatnya Ir. Sukarno, dapat masuk sekolah sehebat itu, tidak mengherankan bahwa kemudian menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Dalam alam “impian” itu saya mengkhayalkan betapa bahagianya seandainya saya bisa belajar di sekolahan seperti itu. Saya menyadari, sebagai anak desa, “impian” itu terlalu mustahil, namun demikian saya tetap “mengumbar” khayalan itu, ya kalau saya tidak bisa, mungkinkah anak saya kelak ada kesempatan…

Saya di “bangunkan” dari alam impian ketika kakak saya mengajak pulang karena hari sudah beranjak sore. Saya terkejut, namun nampaknya rekaman dari alam impian itu sudah terpatri di memori saya dan telah menjadi bagian dari alam bawah sadar saya. Ia telah menjadi bagian dari sumber inspirasi, sebuah inspirasi yang bersumber dari sebuah “impian”.

Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus ’45 disambut di Bandung dengan selebaran pada hari berikutnya yang di tempel di semua penjuru kota. Saya masih ingat judulnya besar-besar: “REPUBLIK INDONESIA”, dikuti oleh Teks Proklamasi dan nampaknya selebaran itu dicetak dan diedarkan oleh koran TJAHAJA, satu-satunya surat kabar di Bandung waktu itu dibawah asuhan Otto Iskandar Dinata. Hari-hari berikutnya suasana Bandung mulai berobah. Orang-orang menempelkan bendera/lencana merah putih di atas saku baju dan teriak ”merdeka” dengan tangan-kanan di dada, mulai menggema dimana-mana.  Namun pasukan Jepang dengan senjata lengkap masih menguasai Bandung sepenuhnya sehingga bentrokan antara pemuda dan pasukan Jepang tidak terelakkan. Korban mulai jatuh. Sampai pada suatu malam pasukan Jepang dalam jumlah yang besar menyebar ke segala penjuru kota dan “berpesta-ria” dengan tembakan membabi-buta tanpa arah untuk menteror penduduk. Saya masih ingat betapa mencekamnya suasana “pesta mercon” malam itu, kami semuanya sangat ketakutan dan berlindung di bawah tempat tidur untuk menghindari peluru nyasar.

Sekolah kami terpaksa diliburkan tanpa ada kepastian kapan akan dibuka kembali, dan dalam suasana yang demikian itu saya diminta untuk pulang ke desa. Setelah berusaha untuk masuk ke Sekolah Teknik Pertama (STP), dulu namanya Sekolah Pertukangan, di Kedungkebo Purworejo dan tidak diterima, akhirnya saya kembali mengulang SD kelas enam di SD II Widodo di belakang Bioskop Bagelen, tamat tahun ‘46 dan diterima di SMP Negeri I Purworejo dan disitu sampai kelas tiga. Kemudian pindah ke SMP Negeri II Jogya tamat tahun ’50, masuk SMA/C Negeri Jogya dan lulus tahun ’53. Selanjutnya meneruskan pendidikan ke Jakarta sampai akhirnya menyelesaiakan pendidikan di Perguruan Tinggi tahun 1959.

Kehidupan berjalan terus. Setelah berumah-tangga tahun ’61, anak saya pertama lulus SMA tahun ‘81 dan melalui Sipenmaru tahun itu diterima di ITB Bandung. Limatahun kemudian lulus dengan cukup baik sehingga langsung mendapat tawaran beasiswa untuk meneruskan studi ke Amerika Serikat. Dikemudian hari dia mengabdikan diri sebagai dosen pada almamaternya setelah menyelesaikan S 3-nya.

scan0001_resize

Wisuda ITB Maret 1987

Pada hari wisudanya itu kami menengok kebelakang. Inilah moment yang sangat istimewa dan bersejarah bagi saya. Lebih dari 40 tahun telah lewat, sejak saya duduk “bermimpi” di lembah Kebon Binatang Tamansari sambil memandang bangunan aneh nun disana di atas bukit, saya terobsesi dengan pikiran, mungkinkah anak saya bisa “masuk” kesitu? Di Hari-Wisuda ini Tuhan telah menjawab “impian” saya, ternyata tiada hal yang tidak mungkin bila memang Tuhan menghendaki. Perasaan syukur yang tiada terhingga meliputi hati dan pikiran saya atas berkah yang telah kami terima.

Setelah selesainya wisuda, saya minta anak saya untuk mengantarkan ke ruang kelas dimana Ir. Sukarno dulu mengikuti kuliah-kuliahnya yang kebetulan juga ruang yang sama dimana anak saya mengikuti kuliah-kuliahnya. Menurut anak saya ruang kelas itu masih asli, hampir tidak ada perobahan yang berarti. Saya menyempatkan duduk di bangku di kelas itu dan berdoa, bersyukur atas kejadian hari itu, sesuatu yang mustahil saya gambarkan akan terjadi lebih dari 40 tahun yang lalu. Tuhan Maha Besar… Peristiwa itu membuktikan bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan hambanya yang nampaknya “mustahil” apabila disertai doa dan diusahakan secara sungguh-sungguh. Saya juga menyadari bahwa hal ini juga hanya mungkin terjadi di alam kemerdekaan Indonesia karenanya saya juga berterimakasih kepada para founding fathers Indonesia.

wisuda itb family

Foto Bersama Keluarga Prof. Bapak dan Ibu Satmoko (alm.). Tampak Sri Mulyani (mantan Menkeu) sebagai adik dari rekan wisudawati putri kami berjongkok di depan.

Meninggalkan kampus ITB bersama keluarga setelah selesai acara wisuda, pikiran saya masih larut dan diliputi oleh sebuah “misteri” di lembah Kebon Binatang lebih 40 tahun yang lalu. Sebuah impian yang “mustahil” yang kini telah menjadi suatu kenyataan dan untuk itu saya hanya bisa mengucapkan “Syukur Alhamdullilah, Allah Maha Besar…”.

Slamet Wijadi.

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


18 Responses to “BANDUNG: Sebuah “IMPIAN” yang Menjadi Kenyataan.”

  1. mas adjie says:

    Cita-cita sepertinya memang bermula dari impian, cita-cita yg luhur tentunya berawal dari impian yg positif, Alhamdulillah.. terbukti sudah impian Pak SW yg 40 tahun terpatri akhirnya diwujudkan oleh anak tercinta. Kisah yang sangat menyentuh pak… mungkin dan pastinya banyak dari kita yg mempunyai pengalaman serupa namun utk berkisah masih harus banyak belajar menyusun kata-kata… terima kasih kisahnya pak SW.. salam..

    • slamet wijadi says:

      Terimaksih Mas Adjie untuk apresiasinya. Saya setuju, cita-cita memang bermula dari “impian”, namun harus diakui bahwa jarak antara “impian” dan terujudnya menjadi sebuah kenyataan membutuhkan perjuangan sesuai dengan besar kecilnya cita-cita. Makin tinggi yang ingin diraih tentunya makin sulit perjuangan yang harus ditempuh.Banyak yang harus mengalami kegagalan ditengah jalan. Hanya orang yang mempunyai disiplin yang tinggi dan konsistensi serta keuletan pantang menyerah lah yang akan meraih sukses. Kuwajiban kita sebagai orang tua adalah memberi contoh pada anak kita bahwa apapun yang dicita-citakan bila memang disertai dengan pejuangan pantang menyerah, Insya Allah akan memberikan hasil. Saya yakin Mas Adjie juga mempunyai pengalaman soal ini, kenapa tidak dituliskan, disamping untuk berbagi pengalaman juga penting untuk melatih otak kita agar tidak beku. Sekali lagi matur nuwun, salam Sw.

  2. gunarso ts says:

    Suasana Bandung di zaman Jepang yang Pak Wiek gambarkan, tidak jauh beda dengan yang dikisahkan Achdiat Kartamihardja dalam novelnya, Atheis. Ketika saya ke Bandung bersama anak istri (1995), dari Kampus Ganesha (ITB) kebon binatangnya memang tampak di bawah. Menatap kampus itu, saya juga langsung teringat BK yang dulu kuliah di sini. Tapi saya memang tidak sampai membayangkan sejauh Pak Wiek, di mana sampai berkhayal apa mungkin bisa menuntut ilmu di PT yang bergengsi tersebut.
    Bung Karno selalu mengatakan: gantungkan cita-citamu setinggi langit. Pak Wiek ketika dudu termangu di bonbin depan ITB, sudah memenuhi harapan sang founding father. Cita-cita itu sungguh “mengangkasa”, tapi berkat keuletan dan kedisiplinan, Pak Wiek bisa mengujudkan untuk anak-anaknya. Saya sebut disiplin, sebab saat pernah tiba di “tikungan tajam” sejarah hidup, Pak Wiek tetap tidak lupa akan cita-cita awal. Misalnya saat jadi sopir omprengan selepas keluar dari Deplu, Pak Wiek sempat ngudarasa, “Masak sarjana lulusan Amerika kok akan terus-terusan jadi sopir.”
    Dari situ Pak Wiek gumregah dan cancut taliwanda untuk kembali ke rel cita-cita, di mana pada akhirnya bisa “nglancangi” teman-teman seangkatan, meski dengan jalur berbeda. Kini semua putra-putri Pak Wiek telah mentas dan dadi wong, kebahagiaan dan karuniai Allah Swt yang tak semua orang bisa mendapatkannya. (gts)

    • slamet wijadi says:

      Mas Gun, komentarnya membikin saya jadi GR, terlalu baik untuk saya terima, nanti bisa bikin saya tekabur… Padahal apa yang saya lakoni itu kayaknya ya “mengalir” saja. Bahwa saya mempunyai “impian” dan cita-cita itu kan lumrah bagi setiap orang. Demikian juga kalau kita menjawab tantangan didepan kita itupun wajar. Barangkali yang saya rasakan pada diri saya ialah sebagai anak desa saya tidak ingin “kalah” dengan sesama angkatan saya, apakah ia anak priyayi atau anak orang terkenal. Di sekolahan saya selalu berusaha menjadi “unggulan” tanpa bersikap sombong. Dan untuk “mendukung” sikap ini memang diperlukan disiplin dan sikap tidak kenal menyerah. Perjalanan hidup saya nampaknya memang membuktikan bahwa hanya dengan sikap dan perilaku demikian itu kita mampu menghadapi tantangan. Soal menggantungkan cita-cita setinggi bintang itu memang saya peroleh dari BK waktu sering mengikuti ceramahnya di Istana Negara Jogja. Kini Alhamdulillah Tuhan telah memberikan berkah dan nikmatNYA dan untuk itu saya tidak pernah berhenti untuk bersyukur… Salam, Sw.

  3. gunadirayap says:

    Salam pak wiek… Saya mengambil pelajaran bahwa dalam hal sesulit apapun, kita jangan pernah putus asa. Teruslah berusaha dan berdoa’, Insya Alloh tercapai cita-cita. Semoga banyak lagi cerita yang menginspirasi generasi masa kini yang semua serba mudah. Nuwun

    • slamet wijadi says:

      Mas Gunadi, trims untuk tanggapannya. Syukur kalau kalau tulisan yang sekedar kisah masa lalu tsb. dapat dipetik manfaatnya bagi generasi muda. Saya ingin mengulang “bahwa dalam hal sesulit apapun, kita jangan pernah putus asa”, itulah memang inti tulisan tsb. Dan bisa saya tambahkan, bahwa “tidak ada jalan yang mudah untuk mewujudkan impian”. Salam, Sw.

  4. suprapto says:

    Subhanallah…. sy sangat terharu pak Wiek…. dream come true…. sangat inspiratif.

    • slamet wijadi says:

      Mas Prapto trims untuk komennya. Kisah itu saya tulis sebagai ungkapan syukur atas berkah yang telah kami terima. Kalau itu bisa jadi inspirasi dan bermanfaat bagi pembaca, khususnya Mas Prapto, ya saya senang dan itu saya anggap sebagai bonus. Salam Blogger. Sw.

  5. kasiat says:

    Sangat menginspiratif sanget pak wie, mugi dados semangat kawulo muda sak niki termasuk kulo sing cetak pengalaman lan kawruh. mugi pak wie tansyah pinaringan wilujeng lir ing sambi kolo lan sehat sell, sukses terus, salam sangking lare kidul dusun pasarano. wss.

    • slamet wijadi says:

      Mas Kasiat, trimakasih untuk apresiasinya. Saya senang kalau kisah tsb bisa memberikan inspirasi positif. Semuanya harus dimulai dengan tekad, dan secara konsisten, setapak demi setapak, di usahakan untuk bisa tercapai. Memang tidak ada hasil yang bisa di capai tanpa usaha keras dan tentunya disertai doa. Trims juga untuk doanya semoga Tuhan mengijabahi. Mas Kasiat dari Pasaranom? Kalau begitu satu kampung dengan Mas Meds? Salam Sw.

  6. kasiat says:

    Inggih pak wie leres, kulo sekampung kalih mas meds rumiyen waktu teng sekolah dasar kulo kakak kelas mas meds, namung sak lanjengipun kulo dados tukang ngarit, malah nek ngarit sering lewat dalemipun pak wie dusun susukan,beda nasib beda rejeki pak wie mas meds lanjut sekolah kulo mboten, namung alkhamdulillah kulo selalu bersyukur rejeki tak kan kemana pun diatur sama gusti ALLAH , kulo nggih bangga dados wong pordjo, walaupun pengalaman mung wong ngarit tapi wonten kenikmatan tersendiri , saget jajah deso milangkori,hehehe…matur nembah nuwun. salam kasiat.

    • slamet wijadi says:

      Mas Kasiat, kalau “tukang ngarit” dulu saya juga mengalami, malah tempatnya lebih jauh, di Benco Rowodadi/Mundusari. Bawa grobag, pulang penuh rumput, digelari tiker bisa tiduran serti dikasur… Sayang kalau liwat depan rumah tidak mampir, lagian memang kebanyakan kosong, paling kalau lebaran kumpul2. Kenikmatan hidup itu ada dalam diri kita sendiri, kalau kita merasa senang, ya namamya senang. Kita harus pandai bersyukur atas semua berkah yang diberikan Gusti Allah, tanpa perasaan itu hidup tidak pernah puas/bahagia. Sekarang tinggal dimana? Salam, Sw.

      • meds says:

        Pak Wik, mas Kasiat itu orangnya rendah hati, dulu memang “tukang ngarit”, tapi sekarang sudah menjadi orang sukses. beliau ini termasuk warga Pasaranom yang bisa dibanggakan. Rak nggih ngaten Mas Kasiat?

        • slamet wijadi says:

          Mas Meds, kalau dulu “tukang ngarit” dan sekarang sudah jadi orang sukses, itu tandanya orang istimewa, namun setelah “jadi orang” tetap bersikap rendah hati, itulah ciri orang yang berilmu padi, dan semestinya begitulah sikap seseorang menjalani hidup. Lagi pula apa jeleknya “tukang ngarit”, kan pekerjaan halal. Jangan seperti Ruhut yang bilang “tukang mebel nggak pantas nyalonin presiden”. Heran pekerjaan orang ini kok hari-hari cuma menghina orang. Kemana aja selama ini mas Meds. Thanks sudah hadir. Salam sw.

          • meds says:

            Betul Pak Wik. Saya rutinitas biasa saja, cuma lagi berusaha tidur teratur, jadi jarang online sampai malam. Memantau blog ini juga tidak setiap hari.

          • slamet wijadi says:

            mas meds, tidur teratur dan lain-lain yang teratur itu perlu untuk menjaga kesehatan. Ada tiga hal yang penting agar tetap sehat, tidur cukup dan teratur, makan yang bener/seimbang dan olah raga yang teratur dan terukur, itulah yang telah saya lakukan selama ini. Salam.

  7. kasiat says:

    Amin-amin yarobbal alaimin, matur nembah nuwun pak wie, atas masukkannipun mugio dados tentreming ati lan alkhamdulillah puji syukur dumateng Guti ALLAH atas rahmat lan barokahipun , kagem mas meds ,biasa mawaon mas meds pun duwur-duwur le nyanjung bok tibane loro, hehehe…..pak wie kulo sak meniko kerjo teng tangerang, keluarga teng pasaranom 1-2 bulan pulkam tombo kangen.salam kasiyat

    • slamet wijadi says:

      Mas Kasiat, saya kagum atas keuletan perjuangan hidupnya demi keluarga. Kalau itu yang menjadi kenyataan ya perlu disyukurin saja sebab pada hakekatnya “gampang kalawan angel iku sanyatane gumantung karo sing nglakoni”, kalau dilakoni dengan ikhlas semuanya akan terasa sama saja. Itulah nasehat/bekal yang diberikan oleh Prabu Romo pada Anoman waktu dia akan mengemban tugas mencari Dewi Sinta. Salam perjuangan. Sw.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

Click here to cancel reply.

 

Related Post

Sekedar Mudik ke Purworejo atau Mudik Selamanya

21 - Jul - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

“Njajah Deso Milang Kori”, Petualangan Panjang Menuju Kota Purworejo

25 - Nov - 2014 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Jaran Mbedal

24 - Jun - 2012 | slamet_darmaji | 7 Comments »

GONG GEDE ANGGRENG UNINE

26 - Feb - 2011 | massito | No Comments »

Lebaran yang selalu kunanti

31 - Aug - 2011 | meds | 12 Comments »

© copyleft - 2013 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net