KISAH SUKSES PERJALANAN HIDUP MAS KAMTO

  8 - Dec - 2012 -   slamet wijadi -   19 Comments »
foto ofKISAH SUKSES PERJALANAN HIDUP MAS KAMTO

Lanjutan “Jumpa Setelah 70 Tahun Berpisah”.

Suatu sore dibulan Maret 2012 yl. menjelang senja sebuah mobil Suzuki Carry berhenti di depan rumah-desa saya di Susuk. Dua orang penumpang keluar “memapah” seseorang keluar dari mobil. Setelah saya perhatikan, Masya Allah, ini kan mas Kamto (nama lengkapnya R.H. Rahardjo Sukamto), teman saya di Ongko Loro Wunut sebelum PD II. Kedatangannya samasekali tidak terduga dan “anehnya” bertepatan pula dengan keberadaan saya di desa. Sungguh satu kebetulan yang jarang, sangat ajaib dan tentunya menyenangkan.

Kunjungan mas Kamto ke rumah desa Susuk

Setelah saya persilahkan duduk, mas Kamto yang “dikawal” dua orang ponakan, satunya adalah mas Hudoyo, mantan lurah Tunjungan, menceritakan bahwa dia baru saja tilik ke desa dan dalam perjalanan pulang ke Jogja sekarang ini dia ingin mampir ke rumah saya, barangkali saja saya ada di desa. Dan seperti sudah diatur, bertemulah dua orang sahabat lama dari “jaman dulu”.  Kesan saya, penampilan mas Kamto kali ini adalah masih cukup sehat, daya ingatnya tidak berkurang dan indera pendengarannya masih cukup tajam. Hanya secara fisik nampak ada perobahan sejak dia terakhir berkunjung ke rumah saya di Jakarta sekitar tiga tahun yl. Saat ini kemampuan jalannya sudah turun dan membutuhkan bantuan orang lain.

Antara dua orang sahabat lama. Mas Kamto datang ke rumah di Jakarta

Setelah bercerita sebagaimana layaknya antara dua orang teman yang jarang ketemu, dia pamit dengan mengatakan bahwa rasa kangennya sudah terobati dan semoga kita akan masih ada kesempatan bertemu lagi, saya ucapkan terima kasih untuk perhatian dan kunjungan yang menyenangkan tsb. dengan mengharap bahwa mas Kamto dan ibu selalu diberikan kesehatan sehingga dapat menikmati kebahagiaan di hari tua lebih lama lagi bersama putra wayah dan buyutnya.

Sekitar permulaan Nopember yl. saya membaca dalam status FB putrinya bahwa mas Kamto sakit dan menjalani perawatan di RS. Tidak lama kemudian menyusul bahwa ibu juga sakit dan dirawat di RS yang sama, RS Dr. Sardjito Jogja, hanya beda kamar. Oleh karena selama ini tidak ada perkembangan tentang kesembuhannya baik untuk mas Kamto maupun ibu, hari ini 7 Desember, saya langsung menghubungi mas Kamto lewat telepon. Rupanya saat itu sedang diadakan doa bersama di rumah mas Kamto bagi kesembuhan mereka berdua, namun setelah di beritahukan ada telepon dari saya, dia bergegas menyambut saya dengan hangat dan berikut adalah ceritanya.

Sekitar sebulan yl. Mas Kamto menjalani operasi untuk “memotong” ususnya sepanjang 30 cm karena sudah membalut dan membelit tumor dalam perutnya. Pengangkatan tumor dan pemotongan usus tsb. bagi seorang yang berusia 80 tahun-plus, membutuhkan waktu sekitar dua minggu rawat inap di RS, dan selama itu ibu Kamto dengan setia mendampinginya. Mungkin karena kelelahan dan faktor usia, pada waktu menunggui sang suami itu, ibu Kamto jatuh tidak sadar kena serangan stroke yang kemudian dirawat di kamar sebelahnya. Sampai saat ini bu Kamto masih dalam pembaringan, belum bisa bicara dan juga belum mampu menggerakkan tangannya. Sekarang giliran mas Kamto yang dalam keadaan sakit dengan setia menunggui sang isteri tercinta, diatas kursi rodanya. Sungguh kisah cinta suami isteri yang luar biasa, sangat mengharukan, cinta sejati yang dalam keadaan apapun setia bersama, dalam suka dan duka.

Perjalanan hidup mas Kamto sebagian telah saya ceritakan dalam tulisan saya di Blogger Pwr. sebelumnya (lihat “Jumpa Setelah 70 Tahun Berpisah”) , namun sebagai kilas balik ada baiknya secara singkat saya sarikan disini dengan tambahan cerita mas Kamto lewat telepon hari ini. Ini adalah sebuah kisah sukses perjalanan hidup seorang anak desa Tunjungan, putra seorang Lurah jaman Belanda, teman satu angkatan di Ongko Loro Wunut.  Sebagai putra Lurah yang kaya jaman dulu, (seorang lurah jaman itu bisa terima lebih dari 10 Ha sawah bengkok), mas Kamto digadang untuk meneruskan karir sang ayah setelah selesai sekolah Ongko Loro, dengan tujuan akhir menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Lurah/Kepala Desa, satu kedudukan tertinggi di desa dan paling bergengsi dengan masa jabatan tidak terbatas. Untuk itu mas Kamto disiapkan dari bawah, dimulai sebagai “kusir grobag”, suatu cara untuk “magang”. Pekerjaan itu bukanlah hina mengingat grobak itu adalah milik orang tuanya sendiri dan hanya orang yang terpandang dan kaya yang mampu memiliki sarana transpor tsb.

Sampai pada satu ketika, ini menurut cerita mas Kamto sendiri, sewaktu sedang berhenti “ngombor” kudanya di sebelah pondokan saya di Purworejo, secara kebetulan dia bertemu dengan saya dimana waktu itu saya sudah sekolah di SMP. Perjumpaan itu rupanya telah menggugah dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi untuk mengubah jalan hidupnya. Langkah berikutnya adalah memutuskan “pensiun”sebagai kusir grobag dan meneruskan sekolah. Dan akhirnya perjuangan kerasnya berbuah. Dia berhasil masuk Fakultas Teknik UGM. Namun ditengah jalan dia rupanya putar-haluan dan banting setir masuk IKIP yang akhirnya menjadikan dia seorang guru.

Dia dikirim untuk bertugas di Sumatra/Medan dan sewaktu terjadi pembrontakan PRRI, “melarikan diri” pulang kampung. Akhirnya dia mengajar di SMP di daerah Jogja sampai pensiun sebagai Kepala Sekolah ditahun 1993. Sebelumnya pada tahun 1958 Mas Kamto menyunting gadis idaman, putra keluarga terpandang dari Kedundang/Wates dan dari hasil pernikahannya ini lahir 6 orang, 1 putra dan 5 putri yang cerdas dan gagah/cantik serta berbakti pada orang tua. Mereka semuanya berpendidikan cukup memadai semuanya adalah sarjana, salah satunya, putranya, berhasil menjadi Insinyur Sipil, seakan membayar apa yang tadinya dicita-citakan ayahnya. Semuanya telah berumah tangga dengan pasangan yang serasi dan telah mandiri, masing-masing dengan kehidupan yang sangat berkecukupan. Seorang menantunya adalah dosen yang telah meraih gelar Profesor, satu mantunya lagi adalah seorang Dokter.

Dihari tuanya mas Kamto sekeluarga hidup berkecukupan, bahagia ditengah-tengah keluarga besarnya dan sudah siap dengan bekal akhirat. Mereka berdua telah menunaikan rukun Islam kelima, berangkat naik Haji ke Tanah Suci Mekah. Kini keduanya khusuk ibadah dan ini juga telah diteladani oleh para putra-putri, dan cucu-cucunya, yang menjadikan mereka insan2 yang soleh dan soleha.

"Pengawal" Mas Kamto, putri dan menantunya selalu mendampingi di Jakarta

Lewat telepon hari ini mas Kamto juga menambahkan bahwa 5 dari cucu-cunya, yang sebanyak 17 orang, kini telah jadi dokter, suatu prestasi yang luar biasa yang tidak disangsikan bersumber dari pendidikan, teladan dan semangat juang sang Kakek serta sang Nenek sebagai ibu rumah tangga yang sabar dan ulet . Itulah kisah yang saya tangkap dari pembicaraan telpun hari ini, semoga telinga saya masih cukup baik, namun kalau ada kekurangannya saya mohon maaf pada keluarga mas Kamto.

Kisah perjalanan hidup mas Kamto ini saya angkat sebagai kisah sukses yang bisa ditarik hikmah dan layak dijadikan sumber inspirasi bagi siapapun, khususnya generasi muda dan lebih khususnya lagi bagi para cucu-cucu Mas Kamto. Betapa tidak? Sebagai seorang anak desa dia telah berhasil mengubah jalan hidupnya melalui perjuangan keras sehingga berhasil membina satu keluarga besar yang menurut ukuran apapun adalah sangat berhasil. Tentunya juga tidak bisa dilupakan dukungan dan perjuangan pendampingnya. Sebagaimana sering dikatakan, dibelakang sukses seorang lelaki selalu ada seorang perempuan yang memungkinkan keberhasilan tersebut. Saya yakin bahwa seluruh keluarga mas Kamto mensyukuri hal tersebut sebagai satu karunia dan berkah yang melimpah dari Allah SWT.

Mas Kamto telah menjalani hidup dengan sukses, dan sukses itu hakekatnya adalah “berhasil mengubah sesuatu/hal dari yang kurang baik menjadi lebih baik”. Mas Kamto telah berhasil mengubah jalan hidup dan nasibnya melalui perjuangan keras dan karenanya layak untuk menikmati hasil tersebut dihari tuanya. Memang betul garis hidup manusia telah ditentukan oleh Gusti Allah, namun Allah juga tidak akan mengubah nasib manusia bila ia tidak mengubah dirinya sendiri.

Semoga mas Kamto dan ibu yang saat ini sedang “pinaringan ganjaran”/sakit mendapatkan keringanan dari Allah SWT dan segera memperoleh kembali kesehatannya, sehingga masih akan lebih lama lagi menikmati kebahagiaan hidup bersama putra, wayah dan buyut. Doa kami selalu bersama mas Kamto dan seluruh keluarga besarnya, Amin, Wass.

Slamet Wiyadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


19 Responses to “KISAH SUKSES PERJALANAN HIDUP MAS KAMTO”

  1. gunadirayap says:

    Salam pak wiek… Semoga pak Kamto dan keluarga selalu mendapatkan kebahagiaan. Demikian pula dengan pak Wiek dan keluarga. Saya sungguh salut dengan pak Wiek,, Di Usia yang telah sepuh masih gemar bersilahturahmi dengan kawan lama. Saya ingat sabda Rosul Muhammad SAW. Sing sopo wonge seneng nyambung silahturahmi, Alloh bakal paring Dowo umure, Sehat awake, Jembar rejekine. Patut menjadi contoh bagi generasi muda sekarang, untuk senantiasa peduli dengan orang lain. Nuwun

    • slamet wijadi says:

      Mas Gunadi, trimakasih untuk tanggapannya. Bersilaturahmi sesuai dengan sabda Kanjeng Nabi memang diperlukan bagi kita, apalagi bagi para lansia. Bahkan sudah merupakan kebutuhan sebab bila kita tidak melakukan hal itu hidup kita akan makin kesepian. Dan kesepian ini adalah “musuh” bagi lansia. Makanya bersilaturahmi disamping sesuai dengan sabda Rosul yang akan mendapat ganjaran, juga menjadikan hidup kita lebih bermakna dan mengalir secara alamiah, ini saya alami dan rasakan sendiri. Makanya silaturahmi adalah suatu kebutuhan, apalagi kalau dikaitkan dengan bonus sebagaimana sabda Rosul. Salam.

  2. Eyang Kamto ini kepernah adik sepupu dari mBah Kakung saya yang dulu tinggal di desa Mendiro Ngombol, yang didesa kelahiran saya biasa disebut Keluarga KulonLorong.
    Masih jelas dalam ingatan, pertama kali saya mengenal buah yang namanya kesemek adalah berkat oleh2 Eyang Kamto ( saat masih muda) dari Medan.
    Alkisah disuatu malam saat saya masih anakanak tidur di rumah mBah, pintu rumah diketuk orang .. ternyata ada kejutan besar .. Eyang Kamto datang tiba2 dari Medan .. seisi rumah terbangun .
    Kala itu memang transportasi masih sangat minim .. jangankan larut malam .. disiang haripun jalan antara Mendiro/Wunut /Karangtalun ke Tunjungan tidak bisa dilewati kendaraan pada musim hujan.
    Bayangkan dari Kutoarjo ke Tunjungan yang hanya belasan kilometer harus memerlukan transit diperjalanan .. delman/dokar hanya mampu sampai jalur jalan Purwodadi-Grabag.
    Pagi harinya mBah memerintahkan 2 orang yang biasa membantu keluarga, untuk stan by di KulonLorong .. sementara Eyang Kamto ndudah oleh2 dari dalam keranjang rotan penjalin raksasa .
    Ada salah satu oleh2 yang membuat saya plonga plongo gumun .. yang pada akhirnya saya ketahui itulah yang dinamakan buah kesemek.
    Setelah mBah Putri matengan dapur .. berangkatlah Eyang Kamto meneruskan perjalan kondur ke Tunjungan.
    Perjalanan yang benar2 jalan kali .. karena tidak ada kendaraan yang bisa melewati rintangan jalan berlumpur menuju Tunjungan. Barang2 bawaan dipikul oleh 2 orang pembantu mengunakan salang-embat.
    Terbayang .. mungkin berkali kali mereka terpeleset, bahkan mungkin jatuh .. dalam perjalanan menaklukkan medan lumpur.
    ——————————-*
    Ketika saya lulus SMA dan mau melanjutkan sekolah di Jogja, saya ke Wates tempat Eyang Kamto ngajar di SMP dekat alun2 .. untuk nyuwun tambahing sangu (maaf modal cekak).
    Beliau ngendiko .. mudah2an nanti siang ada uang .. rencananya nemoni Eyang Sepuh Kedundang (morosepuh beliau) yang biasanya naik sepor ndas ireng dari Jogja siang hari. Kamongko jaman kolosemono belum ada halo2 by handphone untuk janjian. .. jadi harus cepat .. cekat ceket .. dalam rentang waktu perjalanan kereta dari stasiun Wates sampai Kedundang harus berhasil menemui serta “merayu” Eyang Sepuh Kedundang diatas kereta .. kamongko lagi .. saat itu bulan Ramadhan.
    Rupanya melihat alasan/peruntukan / penggunaan uang yang di suwun, beliau langsung maringi .. kontan diatas kereta karena saya harus langsung meneruskan perjalanan pulang sampai stasiun Jenar.
    —————————–*
    Semoga beliau selalu dalam keberkahan Gusti Allah .

    • slamet wijadi says:

      Mas Wariso, lama tidak muncul, kini tampil dengan komentar “segar” a la bahasa lugas gaya Mendiro. Kisahnya kocak, pengalaman masa kecil di desa. Betul jaman itu dimusim hujan jalan Karangtalun-Ringgit-Tunjungan memang “maluh” karena juga jadi jalan kerbau. Saya juga masih ingat waktu angon kebo jaman itu dan langen di kali Karangtalun-Trukan sambil ngguyang kerbau, kalau diingat jadi nostalgia juga. Itu oleh2 kok sampai dipikul 2 orang, apa saja yang dibawa mas Kamto dari Medan ya.
      Soal “modal cekak” itu sudah biasa. Ditempat saya orang tua “menjual” kerbau pada mbakyu Satiman, tapi bayarannya dengan cicilan bulanan untuk membiayai anak-anak di kota. Satu hal yang jelas mas Kamto itu orang baik, disambati cucu langsung bereaksi lewat kedermawanan sang Mertua yang diuntungkan ya mas Wariso karena “misi”nya berhasil.
      Sementara itu, mengingat mas dan mbakyu Kamto sedang menandang gerah, marilah kita doakan bagi kesembuhan beliau sehingga bisa lebih lama menikmati kebahagiaan dihari tua bersama putra, wayah dan buyut, Amin. Semoga keluarga mas Wariso semua sehat dan sejahtera. Salam.

  3. mas adjie says:

    Membaca tulisan ini saya mencoba “mbukak” artikel bapak sebelumnya perihal “Pak Kamto” yang ternyata kisah Suksesnya diilhami dari Bapak Slamet Wiyadi.
    Maaf pak saya copy dialog di cerita bpk sebelumnya, sbb: “Mas Slamet barangkali sudah lupa, tetapi jalan hidup saya ini sangat dipengaruhi oleh Mas Slamet,” Dia memulai ceritanya.
    Saya kaget dan heran dan langsung bertanya, “kok bisa”. “Begini”, dia meneruskan ceritnya, “selepas dari Ongko Loro itu kan kita berpisah, saya tahu Mas Slamet meneruskan sekolah ke Purworejo, sedang saya oleh orang tua saya disuruh tinggal di rumah, sebagai petani, bahkan saya dibelikan gerobag dan kuda sebagai sarana angkutan hasil-hasil pertanian. Mas Slamet kan tahu, ayah saya lurah jaman dulu yang punya sawah luas. Dalam pengangkutan hasil-hasil pertanian ke Kutoarjo dan Purworejo, saya bertindak sebagai kusir grobag. Ya saya jalani saja kehidupan demikian itu. Sampai pada suatu hari, waktu saya berhenti “ngombor” (kasih makan) kuda di Kedungkebo, tiba-tiba secara kebetulan, Mas Slamet keluar dari suatu gedung, yang ternyata asrama pelajar. Mas Slamet nampak bergas dengan pakaian seorang pelajar yang bersih dan rapih, sedangkan saya sebagi kusir grobak berpakaian ala kadarnya, kucel dan kumel. Sungguh saya tersentak dan terkesan atas perjumpaan yang mendadak itu. Mas Slamet kan kaget dan mendekati saya, ‘hee Kamto, kenapa kamu jadi kusir grobag, kamu kan putro lurah, mengapa tidak meneruskan sekolah seperti saya’, itulah kata2 yang tidak pernah saya lupakan dalam hidupku.”
    Sungguh luar biasa.. sesuatu yg terkadang kita ucapkan tanpa maksud menggurui ataupun hanya iseng belaka namun hal tsb dpt menjadikan suatu hal yg sangat berarti bagi orang lain…
    Inilah yg saya suka membaca dan meresapi kisah2 yg ditulis oleh bapak2 pinisepuh di blogger ini, ringan penuh canda namun sarat makna yg mendalam, serta kental nuansa historis… salam..

  4. slamet wijadi says:

    Memang betul mas Adjie, sesuatu yang hanya secara iseng saja di sampaikan bisa diterima berbeda beda bagi orang yang berbeda, tergantung yang menerimanya. Dalam hal kasus mas Kamto, apa yang secara iseng saya sampaikan itu nampaknya telah menjadi sumber inspirasi yang mampu mengubah jalan hidupnya. Mas Kamto termasuk manusia istimewa karena sangat jarang hal tersebut terjadi pada orang lain, umumnya ya dianggap lelucon dan angin lalu. Mengapa hal tersebut bisa terjadi pada orang/anak tertentu, yang tergugah oleh sesuatu tantangan? Barangkali mas Ajie bisa memberikan jawabannya. Salam, Sw.

  5. Gunarso ts says:

    Pak Wiek, orang sukses banyak juga yang dimulai dari pekerjaan yang remeh temeh. Adam Malik misalnya, dari pedagang buku di masa muda, di hari tuanya menjadi Mentri Luar Negeri hingga Wapres. Lalu, meski jadi tukang patri di zaman Jepang, di hari tuanya Radius Prawiro menjadi Gubernur BI dan menterinya Pak Harto berkali-kali. Tak ketinggalan juga Ali Wardhana Menko Ekuinnya Pak Harto, di masa muda tahun 1960-an dia masih karyawan Percetakan Massa Merdeka.
    Di Kec. Ngombol ini, dari cerita Pak Wiek saya lalu mencatat setidaknya ada dua “tukang gerobak” yang sukses di hari tuanya. Selain Mbah Kamto sebagaimana dalam tulisan di atas, ada juga Guru Nongso pensiunan PS (Penilik Sekolah) yang jaman Belanda disebut Siner. Di masa mudanya beliau juga sempat jadi tukang gerobak, ngewula pada Lurah Benawe tahun 1930-an, Mbah Kaji Sarbini.
    Entah siapa pula yang memotivasinya, dia berhenti jadi pekerja di atas roda gerobak, lalu sekolah guru dan setelah berhasil jadi guru meningkat terus sampai menjadi PS. Setelah pensiun dipercaya pula menjadi Kepala Desa di Ngombol. Aku masih ingat pula di masa kecilku, setiap orang kampungku punya gawe, Guru Nongso-lah yang didaulat sebagai penyambut mewakili tuan rumah. Bahkan belakangan, beliau besanan dengan orang kampungku, Pak Guru Tukiman.
    Apa beliau masih sugeng ya? Kalau masih, saya kok kepengin ngobrol-ngobrol sama beliau, mungkin bisa jadi bahan tulisan di blog ini. Mungkin Pak Wiek yang lebih dekat, lebih tahu informasinya. Matur nuwun. (gts)

    • slamet wijadi says:

      Wah mas Gun rupanya senang baca biografi tokoh-toh terkenal ya? Bagus, karena kita bisa banyak mengambil hikmah sebagai sumber inspirasi bagi perjalanan hidup kita sendiri. Yang jelas, orang-orang yang sukses itu adalah manusia yang ulet yang tidak mudah menyerah dan cepat putus asa. Pertanyaannya mengapa seseorang itu mempunyai jiwa dan semangat demikian sedang yang lain umumnya tidak, cepat puas dan menyerah. Mengapa seseorang mampu mengambil putusan yang tepat pada saat yang tepat dan konsisten untuk memperjuangkan sampai berhasil. Dalam wayang contoh tokoh yang terkenal untuk itu adalah Werkudara pada waktu ingin nggayuh air suci perwitasari, dan memang akhirnya berhasil sukses setelah melewati berbagai tantangan dan kesulitan. Dalam kehidupan kita sehari-hari contoh orang sukses dengan kadarnya masing-masing cukup banyak. Mas Kamto saya anggap luarbiasa. Dalam kurun waktu tiga generasi dia bisa membina keluarga dengan puluhan sarjana, termasuk tujuh orang dokter, 5 diantaranya adalah cucunya. Ini adalah “mantan kusir grobag” yang telah menjungkir-balikkan nasib kehidupannya lewat perjuangan dan “ketepatan” pengambilan putusan.
      Contoh yang lain yang masih dekat adalah pak Nongso/Pak Soma sebagaimana mas Gun ceritakan. Saya kenal baik dan tahu sejak jadi kusir grobak. Ini juga manusia istimewa. Lebih lagi, usianya bisa mencapai 90 taun lebih dan nampaknya cukup sehat. Kalau mas Gun ingin ketemu kapan-kapan kita samasama kesana jika kebetulan ada di desa, saya sudah pernah ke rumahnya juga. Trimakasih untuk komennya yang khas mas Gun… salam, sw.

  6. Dasiran says:

    Assalamu’alaikum Pak slamet, nyuwun sewu nepangaken kulo putranipun Pak Amat Kasrun/Tito wayahipun Mbah Cokro Pahing Tunjungan, Mugi-mugi Pak Kamto lan Pak Slamet sekeluarga tansah pinanggih kawilujengan . Mugiyo saged dados tuladha generasi sakterasipun.
    Yen rumiyen namung mireng ceritanipun saking Bapak, sakpunika saged sumerep priyantunipun. maturnuwun

    • slamet wijadi says:

      Mas Dasiran, trimakasih sudah mampir. Mas Kamto memang contoh orang yang sukses yang diperoleh dengan perjuangan hidup bersama Ibu, yang bisa dijadikan tauladan. Mas Dasiran sekarang tinggal dimana? Masih sering pulang ke Tunjungan. Kalau di kampung saya sering jalan pagi sampai di Wonoroto, lewat Tunjungan. Salam.

  7. Dasiran says:

    Nggih maturnuwun Pak, kulo sakniki wonten Cikarang. Lebaran wingi boten wangsul insyaAllah lebaran ngajeng memawi senggang.
    Menawi Pak Slamet Jakartanipun pundi?

    • slamet wijadi says:

      Mas Dasiran, saya tinggal di daerah Jkt-selatan, Lebaran tahun depan Insya Allah akan pulang juga, nanti bisa mampir ke rumah di Susuk. Salam.

  8. hariadi says:

    afterwardspnforc

  9. hariadi says:

    Assalamuallaikum,
    Sugeng enjing pak Wik dan bapak/ibu
    Setelah sekian lama saya gak buka blog ini,
    kangen rasanya..
    Dulu waktu di kepri selalu buka forum ini dan memimpikan desa.
    Sekarang sudah dekat di Jakarta malah jarang
    lagi,,
    Terimakasih pak wi, dan ditunggu untuk tulisan dan pitutur2 nya.
    saya akan berusaha untuk membuat sesuatu yang mungkin laya ditampilkan di forum ini.
    matur suwun
    Hariadi

    • slamet wijadi says:

      Mas Hariadi, trims sudah mampir setelah sekian lama absen. BP itu milik kita besama jadi harus “ikut andarbeni”, makanya kalau Mas Hariadi ada rencana “membuat sesuatu”, segera jangan ditunda untuk ditampilkan. Saya yakin banyak kisah yang layak diceritakan selama “merantau” di negeri orang. Sekarang sdh dekat di Jkt. silahkan mampir kalau ada waktu. Tulisan saya akan menyusul pada waktunya. Salam BP.

  10. mas adjie says:

    Pak SW, menawi angsal kulo pengin sowan wonten pd indah pak… suwun..

  11. hariadi says:

    Allhamdulillah..
    INsyallah kalo diparingi umur panjang, keluangan waktu boleh saya sowan ke dalemipun pak Wik.
    Sekaligus nimbo ngelmu, bagaimana umur saya yang sudah 30 tahun tapi kok masih’nomaden”hehehehe..
    INsyallah akan belajar menulis pak, bagaimana
    membuat tulisan yang layak dan dimengerti oleh banyak orang.
    Matursuwun
    Hariadi

    • slamet wijadi says:

      Mas Hariadi, semuanya dimulai dari niat dan segera di laksanakan, spt kata pemeo, “perjalanan 1000 km dimulai dari langkah pertama”. Silahkan kapan” datang ke rumah. Salam.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net