H. Hardjosubianto, tokoh terlupakan dari Purwodadi

  17 - Nov - 2012 -   Gunarso TS -   12 Comments »
foto ofH. Hardjosubianto, tokoh terlupakan dari Purwodadi

Ketika aku memulai menyusun buku “Nostalgia Anak Kampung” di tahun 2007, nama Hardjosubianto dari Purwodadi, adalah sebuah “misteri” bagiku. Dulu Pak Tjokrosutikno ayahku –termasuk juga orang-orang di kampungku– sering sekali menceritakan nama beliau. Maka sungguh kebahagiaan tak ternilai, ketika saya berhasil ketemu (15/11) Bapak KRT Drs. H. Suryosunyoto MNRM (68) di Yogyakarta. Beliau adalah anak sulung almarhum. Dari sinilah baru terungkap bahwa sesungguhnya H. Hardjosubianto adalah termasuk tokoh terlupakan dari Purwodadi khususnya dan Kab. Purworejo pada umumnya.
*****
“SAUDARA Tjokrosutikno hanya petani desa yang tak tahu apa-apa, tolong dibebaskan saja. Saya yang bertanggungjawab!” kata Hardjosubianto, mantan anggota DPRD Purworejo, dari Fraksi Masyumi. Kejadian itu tak lama setelah terjadi pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Padang tahun 1958. Ikut diperiksa di Kodim (istilah sekarang), kala itu adalah Siwa Donomiharjo dan Amat Soderi, para anggota Masyumi dari desa Pulutan.


H. Hardjosubianto beserta istri, Ny. Sudarini, putri lurah Jenar Lor.(Dok: Sunyoto)

Masyumi adalah partai besar di Kab. Purworejo setelah PNI. Berkat kharisma mantan politisi yang juga bekas Lurah Tanjungrejo Kec. Ngombol tersebut, bapakku dan kawan-kawannya dilepaskan. Begitulah cerita Bulikku, Sukeyi Siswosubroto, beberapa tahun lalu. Membandingkan dengan kisah penderitaan Tapol (Tahanan Politik) pasca G.30.S/PKI 1965, saya menjadi terharu sekali. Andaikan kala itu ayah dan kawan-kawan tak dilindungi Hardjosubianto dari Purwodadi, niscaya bakal ditahan. Bisa bisa dibayangkan betapa penderitaan yang akan dialami bapak dan keluarganya.

Sedikit menengok sejarah, pada 15 Februari 1958 PRRI pimpinan Letkol Ahmad Husein di Padang menyatakan keluar dari NKRI dan membentuk pemerintahan sendiri, karena tidak percaya pada pemerintahan Sukarno. Bahkan Mr. Syafrudin Prawironegoro mantan Menteri Keuangan RI, dijadikan PM dalam kabinet PRRI. Mengingat banyaknya tokoh Masyumi yang terlibat, Bung Karno pun mencurigai bahwa Masyumi ada di balik PRRI ini. Maka Soekarno menerbitkan Keppres Nomor 200/1960 tanggal 15 Agustus 1960, yang isinya membubarkan Masyumi.

Tapi sesungguhnya, sebelum Keppres dari Presiden Sukarno terbit, Ketum Masyumi kala itu, Prawoto Mangkusasmito, telah membubarkan Masyumi terlebih dulu. Pertimbangannya adalah, dengan cara pembubaran partai sukarela, para anggota Masyumi termasuk yang kelas bawah, takkan menjadi korban penangkapan penguasa. Perhitungan itu ternyata benar. Karena kemudian yang ditangkapi hanya para tokoh besarnya seperti M. Natsir, Muhammad Roem, Kasman Singodimedjo, sementara Sumitro Djojohadikusuma melarikan diri ke LN. Dia kembali setelah pemerintahan berganti, dari Orde Lama jatuh ke era Soeharto.
Anggota DPRD ngontel

Kisah Hardjosubianto yang telah menyelamatkan bapak saya, adalah bukti bahwa politisi setingkat DPRD juga memiliki power untuk bargaining dengan penguasa. Tapi ya itu tadi, untuk masa itu (1956-1959), punya pengaruh tapi tidak punya……uang! Betapa tidak, anggota DPRD gajinya kecil, kendaraan dinas tidak ada. Bila ada sidang-sidang DPRD di Purworejo, Hardjosubianto naik sepeda ontel Fongres miliknya, dari Purwodadi ke Purworejo sejauh 12 Km. Bila rapat berlanjut sampai esok paginya, Hardjosubianto harus nginep di Pangen Jurutengah, di rumah Kapt. (Purn) Indrasuparto, kakak iparnya.


H. Hardjosubianto (1980) ngumpul di dalem Purwodadi bersama anak, menantu dan dan cucu saat Lebaran. (Dok: Sunyoto)

Pak Sunyoto putra sulung alm. H. Hardjosubianto berkisah, saat nyaleg dari Dapil (Daerah Pemilihan) Ngombol waktu itu, ayahnya harus jual padi berkwintal-kwintal sebagai modal. Gambar partai Masyumi untuk kampanye, bukan dicetak print digital macam sekarang, tapi langsung dicat hitam putih satu demi satu di atas papan albasiah ukuran 30 X 40 Cm. Hardjosubianto harus mengerahkan banyak anak muda GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), termasuk Sunyoto sendiri. Di dapur kaum ibu adang (sambatan masak), untuk ngingoni para pekerja pembuat lambang partai bulan sabit itu. “Karena pekerjaan banyak orang, ada yang hasilnya bagus, banyak pula yang pating plethot (tidak rapi),” kenang mantan pejabat PU di Lombok itu, di rumahnya Jl. Patehan Lor 30, Kec. Kraton, Yogyakarta.

Gambar-gambar bulan sabit Masyumi itu kemudian dipasang di perempatan Purwodadi, Gesing, Watukuro, Pendowo, Bagelen, Piono, Ngangkruk Ketip dan lain-lainnya. Bila Masyumi akan menyelenggarakan Rapat Umum, pengumuman dilakukan dengan menggunakan dokar yang dipasangi pengeras suara, berkeliling di seluruh kecamatan, dengan mengumumkan kapan, di mana dan siapa pembicara yang akan kampanye dalam Rapat Umum tersebut

Sekali waktu Hardjosubianto mengajak Sunyoto ke Cilacap, untuk menjemput kyai kecil Abdurrahman dalam rangka kampanye Masyumi di desa Piono. Kyai kecil dengan Sutikno ayahnya beserta Hardjosubianto dan putranya, turun di Stasiun Kutoarjo pukul 16.00, kemudian naik dokar sampai Piono pukul 18.00. Pagi harinya saat menjadi jurkam kecil, Abdurrahman mampu berpidato di depan ratusan massa Masyumi dengan tenang, pelan dan memukau. “Saya waktu itu ingin seperti dia, tapi sampai setua inipun saya tidak pernah menjadi Kyai Kecil, maupun Kyai Besar,” ujar sarjana pendidikan Australia, Prancis dan Kanada ini sambil tertawa lebar.

Membesarkan AJB Bumi Putra
Sampailah kemudian Hardjosubianto mengajak istri dan kedua putranya nonton Sekaten di Yogyakarta. Di sana ketemu Ukoro Katim mantan atasannya di Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumi Putra 1912 di Surabaya. Sambil makan-makan di RM Hadi di Jl. Malioboro (Danurjan), Ukoro Katim yang telah menjadi Kepala Bumi Putra Yogyakarta itu mengajak Hardjosubianto kembali ke habitat lamanya. Awalnya dia sayang melepas posisinya sebagai anggota DPRD, tapi berkat desakan istrinya, dia rela kembali ke Bumi Putra dengan pegang daerah binaan Pekalongan. Di samping gajinya jauh lebih tinggi dari DPRD, juga dapat inventaris sepeda motor BSA 350 Cc 1956. Harga spedel (nama sepeda motor besar waktu itu) Rp 23.500,- padahal seekor kerbau Rp 1.500,-

Sukses di Pekalongan selama 2 tahun, Hardjosubianto tahun 1958 dipromosikan ke Pontianak (Kalbar) untuk mendirikan AJB Bumi Putra 1912 di sana. Wong Purwodadi ini memang jago melobi orang, sehingga tokoh-tokoh penting di Pontianak kala itu berhasil diprospek (menggarap calon nasabah)-nya. Misalnya, Pangdam Tanjungpura, Kolonel Soedharmo, dan Wakilnya Letkol Iwan Supardi bahkan Gubernur Kalimantan Barat, JC Oevang Oeray (1960-1966). Kini Hardjosubianto kendaraannya bukan lagi motor BSA, tapi mobil jeep Willys 1950, sementara keluarganya tinggal di rumah dinas Jln. Nusantara Timur, Gang Ruper 8 Pontianak.


Keluarga agung KRT Drs. H. Suryosunyoto MNRM. (Dok. Sunyoto)

Selama 5 tahun bertugas di Pontianak, AJB Boemi Poetera 1912 bisa membeli tanah dan membangun kantor berlantai dua yang cukup representatif yang terletak di Jl. Kalimantan Pontianak. Karena keberhasilan Hardjosubianto di Pontianak itu pulalah maka sejak 1963 dia dipromosikan menjadi Pemimpin AJB Boemi-Poetera 1912 untuk seluruh Pulau Kalimantan yang berpusat di Banjarmasin. Dan akhirnya AJB Bumi Putra 1912 tahun 1971 dapat membeli tanah dan membangun kantor baru di kota Banjarmasin dan juga dapat membangun kantor baru di Balikpapan.

Hardjosubianto pensiun tahun 1974 pada usia 56 tahun. Mengingat begitu besar jasanya mengembangkan perusahaan, beliau mustinya memperoleh pesangon yang cukup besar dari AJB Bumi Putra. Tapi Hardjosubianto tak mengejar materi, keculi akhirat. “Saya hanya pengin naik haji,” begitu katanya. Maka tahun 1975 beliau naik haji atas tanggungan perusahaan, dan sekembalinya menunaikan ibadah haji mendapat nama H. Muchtar Hardjosoebianto.

Pak Sunyoto berkisah, almarhum sang ayah pernah ngudarasa, jika umur sudah melebihi usia Nabi Muhammad (63 tahun) haruslah mulai bersiap-siap. Dan ternyata benar, setahun kemudian H. Hardjosubianto menderita sakit gula dan tensi. Setelah dirawat selama 5 hari di RS Bethesda Yogyakarta, tokoh terlupakan dari Purwodadi itu meninggal pada 12 Agustus 1982 dalam usia 64 tahun. Almarhum dimakamkan di belakang mesjid Purwodadi. Setiap ulangtahun AJB Bumi Putra 1912 yang jatuh pada tanggal 12 Januari, tim dari Jakarta dipastikan datang ke Purwodadi untuk berziarah ke makam Hardjosubianto.

Pemuda mbangun turut
Hardjosubianto dilahirkan di Benawe –ujung tenggara– Kec. Ngombol 10 September 1918 dengan nama Muhammad Bahran atau dipanggil Sukarno. Orangtuanya, pasangan Mbah Kaji Sarbini – Mbah Burni, adalah Kepala Desa Benawe sejak 1926 hingga 1940. Selain tokoh terpandang di jamannya, beliu juga sangat kaya. Terbukti, mampu “memanjakan” emosi dan harga dirinya lewat harta ketika sedang marah dengan guru Belanda. HIS Muhammadiyah di Purwodadi tempat Sukarno kecil sekolah, terpaksa pindah tempat setelah guru Belanda itu bersitegang dengan Mbah Lurah Sarbini.

Dikisahkan Pak Sunyoto, di saat kelas IV HIS Muhammadiyah Purwodadi, biasanya Sukarno jalan kaki 4 Km diantar Siwa Slamet pembantu kelurahan. Tapi hari itu diajak bareng Mbah Kaji Sarbini, yang kebetulan mau ke Purworejo lewat Purwodadi. Sebelum berangkat ternyata ada tamu, sehingga harus menemui dulu. Walhasil, meski lari kuda sudah dipacu sedemikian rupa, tiba di sekolah sudah pukul 08.00. alias terlambat 30 menit. “Ndara guru, anak ini terlambat karena kesalahan saya. Mohon tidak distrap, ya…,” kata Mbah Kaji Sarbini kepada guru Belanda, Meneer Gusil.

Legalah Mbah Lurah, karena guru mengiyakan. Tapi mendadak ada perasaan tak enak. Maka sebelum naik ke andongnya menuju Purworejo, dia kembali ke kelas. Alangkah marahnya, karena melihat Sukarno putranya disetrap juga dengan nyunggi sabak di atas kepala. Tapi Mbah Kaji Sarbini masih bisa menahan diri, sehingga tanpa banyak kata anaknya detik itu juga dikeluarkan dari HIS Muhammadiyah Purwodadi, dan diajak ke Purworejo bersama Siwo Slamet. Sebulan kemudian ketika mendengar kabar rumah yang disewa HIS itu mau dijual, langsung dibeli oleh Mbah Lurah. Otomatis HIS Muhammadiyah Purwodadi terusir dari tempat itu.

Sukarno kemudian disekolahkan di HIS Yogyakarta dan berlanjut masuk ke Madrasah Mualimin di Ketanggungan. Karena nama paling kondang kala itu adalah Ir. Sukarno tokoh pemuda pejuang di masanya, di tempat kos-kosannya di Ngadiwinatan Sukarno dipanggil sebagai IR (I-Er). Tamat Mualimin tahun 1938, pemuda Sukarno yang sangat aktif di Muhammadiyah kemudian oleh PP Muhamadiyah waktu itu, KH Mas Mansyur (1937-1941), hendak ditugaskan menjadi konsuler Muhammadiyah di Bima (Sumbawa). Tapi saat pamitan pada sang ayah, Mbah Kaji Sarbini, malah melarang. “Golek gaweyan aja adoh-adoh le, wis nang omah wae,” kata sang ayah.

Tapi sebagai sosok pemuda yang mbangun turut, perintah ayah dilaksanakan juga. Sukarno membatalkan kesanggupannya, termasuk memulangkan ongkos yang sudah diterimanya dari PP Muhammadiyah. Habis itu dia bekerja di Asuransi Bumi Putra di Surabaya. Ee, baru enak-enaknya bekerja, diminta pulang ke Benawe untuk magang lurah, karena Mbah Kaji Sarbini mau mengundurkan diri. Untuk kedua kalinya harus “mbangun turut” pada orangtua. Ternyata menang, sehingga tahun 1940 M. Bahran atau Sukarno resmi menjadi Kades Benawe dalam usia 22 tahun.
Pak Kades mutung
Ketika menikah ketiga kalinya tahun 1943 dengan gadis Sudarini putri ragil Lurah Jenar Lor Sastroprawiro, namanya pun berganti menjadi: Hardjosubianto. Dua kali sebelumnya Hardjosubianto sudah menikah dengan gadis lain. Istri kedua tak disebut namanya, tapi Kartini istri pertama –asal Nganjuk– yang teman kerjanya di Surabaya, minta cerai. “Karena Bu Kartini ini tak mau tinggal di desa dan hanya menjadi bini Kepala Desa,” kisah Pak Sunyoto lulusan UGM tahun 1970 ini.

Agresi Militer Belanda I terjadi pada 21 Juli 1947. Wilayah Kec., Ngombol juga termasuk yang diacak-acak tentara Belanda. Lurah yang bersedia kerjasama dengan Belanda –disebut Recomba– bisa tetap nyaman duduk di kursinya. Tapi yang anti Belanda harus ngili (mengungsi) secara berpindah-pindah. Banyak Lurah yang tinggalkan desanya, termasuk Hardjosubianto, bahkan beberapa di antaranya mati ketangkap Belanda. Tapi setelah agresi Belanda I usai dan para lurah kembali ke desanya, tahu-tahu Bupati Purworejo R. Moeritno Reksonegoro (1945–1949) tahun 1948 memecah sejumlah desa. Desa Benawe hilang, diubah menjadi Jeruken, Kalitanjung dan Tanjungrejo.

Kecewa sekali Hardjosubianto, sehingga dia mutung dan mengundurkan diri dan jabatan Kades Tanjungrejo diserahkan kepada adiknya, Sulaiman. Dia pindah ke Purwodadi tahun 1951, bikin rumah di kulon kawedanan, bersebelahan dengan poliklinik. Bersama kawan-kawan mendirikan bioskop “Penghibur” di wetan Prapatan Purwodadi. Ketika Pemilu 1955 Hardjosubianto masuk Masyumi dan berhasil menjadi anggota DPRD. Saat dia mundur dari DPRD tahun 1956, kabarnya penggantinya lewat PAW (pergantian antar waktu) adalah Nilo Handoko dari Njoso.

Rumah peninggalan Hardjosubianto kini sudah dibongkar, dibeli menantu alm. Syaebani dari Jenar Lor. Si sulung KRT Drs. H. Suryosunyoto MNRM tinggal di Yogyakarta, sementara putra kedua Muhammad Rovky tinggal di Jatibening Bekasi. Ketika aku menatap sisa-sisa rumah peninggalan ini, teringat ketika Pak Tjokro ayahku sering sowan ke sini, kemudian saat pulang diantar Hardjosubianto yang berpeci dan berbaju koko itu sampai regol rumahnya. (Gunarso TS)

Category: blog,cerita, Tags: | posted by:Gunarso TS


12 Responses to “H. Hardjosubianto, tokoh terlupakan dari Purwodadi”

  1. Miki says:

    Terimakasih pak Wik dan Pak Gunarso untuk cerita-cerita Anda yang selalu memikat. Sejak membaca cerita-cerita Anda, saya ingin sekali bisa bertemu dengan bapak-bapak. Pak Gun dan Pak Wik, bolehkah saya tahu email Anda? Terimakasih.

    Salam hormat,

    Miki

  2. slamet wijadi says:

    Mas Gun,kisah menarik dari seseorang yang dalam banyak hal perlu dicontoh keteladanannya. Saya terkesan atas kerasnya pendirian dan prinsip hidupnya, namun sebagai seorang anak tetap menghormati “keinginan” orang tuanya, jaman sekarang sudah langka sekali, ini termasuk nilai-nilai jaman dulu.
    Bapak saya sering menyebut lurah Tanjungrejo sebagai temen yang baik hati dan kaya, karena itu terjadi ditahun 30-an, mestinya waktu itu ya ayahnya Pak Harjosubianto.
    Ada lagi tokoh Masyumi dari daerah Grabag/Tunggulrejo, yaitu Mr.Yusuf Wibisono, bekas Menteri Keuangan, dia berasal dari Grabag Mutihan yang masih satu clan/trah dengan saya. Saya sudah pernah kerumahnya di Pegangsaan Timur dan dia menceritakan hal tsb. Belakangan saya tahu bahwa dia besanan dengan Pak Hario Kecik.Sedikit pelurusan mengenai fakta sejarah. Pada waktu Agresi Militer I bulan Juli ’47, daerah Ngombol/Pwr belum diduduki Belanda, yang tertahan di Gombong. Waktu itu saya sebagai anggota Mobilisasi Pelajar Pwr. dikerahkan kedesa-desa antara lain Tanjungrejo untuk memberikan “penerangan” tindakan2 yang perlu diambil bila Belanda sampai menyerbu ke Pwr. Hal itu baru terjadi pada Agresi Militer II Desember ’48. Recomba Jawa Tengah baru dibentuk setelah itu dan betul bahwa lurah2 yang anti Belanda/Recomba harus “kucing-kucingan” terhadap mereka.
    Selanjutnya mengenai PRRI, koreksi sedikit, tokoh2 Masyumi ditangkapi, “sementara Soemitro Djojohadikoesoemo melarikan diri ke luar negeri”, memang betul, tapi dia adalah tokoh PSI, makanya Partai itu termasuk yang di bubarkan juga.
    Mengenai “pemecahan desa-desa”, itu terjadi ditahun ’45-’46, setelah kemerdekaan. Sesungguhnya itu bukan pemecahan, namun kembali kepada desa-desa asli sebelum penggabungan sekitar tahun ’26. Itu saya jelaskan dalam tulisan saya Desa Mangunrejo Alm.di Blogger ini.
    Namun lepas dari koreksi2 kecil saya senang dengan kisah Pak Hardosubianto yang di disajikan oleh mas Gun dengan cara yang menarik.
    Semoga kisah keteladan itu bisa diambil hikmahnya. Salam Sw.

  3. mas adjie says:

    sangat menarik kisah yg disampaikan pak Gun.. dpt sebagai pembelajaran kami sbg generasi penerus. seperti kata pak Wiek betapa orang anak masih menghormati “keinginan” orang tua meskipun mungkin “galau” dlm mengambil keputusan tsb….
    Untuk Pak Wiek kami tunggu kisah2 nya lho pak…

    suwun…

  4. gunadirayap says:

    Asslkm, salah satu hikmah yang dapat saya petik adalah, ternyata banyak orangtua kita dulu yang berjuang tanpa pamrih, jujur dan amanah. Juga ternyata dulu partai ISLAM banyak juga ya digemari oleh masyarakat. Mungkin karena keteladanan yang luhur dari para pemimpinnya. Beda dengan sekarang,,, banyak yang berebut sesuatuuuu.Matur Nuwun ceritanya sangat meng- inspirasi.

  5. gunarso ts says:

    Benar sekali Mas Adjie, kepatuhan alm H. Hardjosubianto yang begitu “mituhu” kepada orangtuanya, sangat mengagumkan. Itulah salah satu perwujudan “bekti” atau “panembah” anak kepada orangtuanya. Dalang Ki H. Anom Suroto sering menyebutkan, dununging panembah iku ana papat 4, yaiku: 1. Manembah marang Pangeran, jer iku sing nitahake urip ing alam padhang, 2. Manembah marang wongtuwa, jer iku sing nglantarake tumitah ing alam donya, 3. Manembah marang guru, jer iku sing aweh ngelmu, 4. Manembah marang maratuwa, jer iku sing aweh “jumbuhing rasa nikmat” marang sira.
    Begitu “bekti”-nya pada orangtua, segala perintahnya dilaksanakan tanpa reserve. Padahal jika Hardjosubianto kala itu menjadi konsuler Muhammadiyah di Bima dan berhasil, niscaya namanya makin besar di Muhammadiyah, sehingga kemungkinan besar akan menjadi tokoh nasional seperti Prof. Dr. Malik Fadjar dan Dien Syamsudin dewasa ini. Tapi begitulah perjalanan umat Mas Adjie, orang Ngombol bilang: wong kuwi mung bisa gawe “pestha”, ning “pesthi” tetep ana ngarsane Gusti. (gts)

  6. mas adjie says:

    Yth pak Gun.. apakah buku “Nostalgia Anak Kampung” yg bapak tulis, isinya sama dg yg ditulis di blog ini ? Bukunya masih ada di toko2 buku nggak pak? Kemudian kalau tdk salah bapak pernah ke Suriname sekitar th 1996? tolong pak diceritakan kehidupan saudara2 kita disana pak.. barangkali wkt itu bpk sempat “gerilya” menemui saudara2 kita yg mungkin kebanyakan dari jawa, malah kemungkinan banyak juga yg dari daerah purworejo.. terima kasih pak

  7. gunarso ts says:

    Pak Wiek, terima kasih banyak atas koreksinya. Data-data seputar “pemecahan” desa-desa di Kec. Ngombol, lurah-lurah yang harus kucing-kucingan dengan kaki tangan Belanda, kalender waktunya ternyata kurang tepat. Begitu juga soal Sumitro Djojohadikusuma yang lari ke luar negeri, ternyata kaitannya karena dia orang PSI. Dengan demikian ditahannya Sutan Syahrir hingga meninggal di Zurich (Swiss) tahun 1966, apa sehubungan dengan pembubaran PSI juga ya Pak?
    Koreksi Pak Wiek dan info tambahan dari pembaca yang lain selalu saya tunggu, dan akan menjadi acuanku saat memasukkan kisah perjalanan hidup alm H. Hardjosubianto ini dalam buku “Nostalgia Anak Kampung” edisi lanjutan. Terus terang Pak Wiek, ketika saya berhasil kontak kali pertama via telepon dengan Pak Sunyoto putra almarhum, kalimat saya tersendat-sendat setengah nangis karena membayangkan kebudimanan H. Hardjosubianto terhadap bapak saya. Bapak saya dulu sering sekali bercerita ketika mertamu ke rumah almarhum, tapi tak pernah bercerita siapa latar belakang tokoh ini sehingga sering jadi bahan pembicaraan orang kampungku.
    Bapak bekel Atmosudarmo ayah Pak Wiek, rupanya bergaul akrab dengan Mbah Kaji Sarbini lurah Tanjungrejo (Benawe) priode tahun 1930-an. Kata orang-orang Pulutan, Pak Siner Nongso di masa remajanya juga ngewula lurah Mbah Kaji Sarbini yang kaya raya ini. Kala itu dia menjadi tukang gerobaknya, yang dalam bahasa Jawa disebut “bajingan”. Kalender waktunya kemungkinan sebelum tahun 1944, karena ketika saya chek dengan Pak Sunyoto yang kelahiran tahun 1944, beliau tidak pernah dengar nama tersebut.
    Soal Menteri Keuangan Jusuf Wibisono yang ternyata juga orang Nggrabag, ini info baru buat saya. Saya menjadi penasaran, kapan-kapan saya ingin menelusurinya. Tapi dari mana saya kali pertama harus “mbobok” informasi ini ya Pak. Semoga anak keturunannya masih banyak yang di Jakarta. Terima kasih Pak Wiek. (gts)

  8. gunarso ts says:

    Terima kasih Mas Gunadi-rayap. Begitulah orang dulu, terjun ke partai karena kekayaan idealisme. Hardjosubianto misalnya, beliau siap nombok untuk menghidupi partai Masyumi, demi perjuangan “fastabikul khoirot” (berlomba-lomba dalam kebajikan). Kalau politisi sekarang, justru mencari hidup dari partai, sehingga kemudian muncul politisi Senayan “tukang palak” sebagaimana yang dilansir Meneg BUMN Dahlan Iskan.
    Maka pakar hukum Prof. Dr. JE Sahetapy pernah mengatakan, politisi sekarang sudah menjadi politikus, karena politisi itu tega menjadi tikus negara. Tragis ya Mas Gunadi-rayap (kapan gontengnya nih, he he he….). -gts

  9. slamet wijadi says:

    Mas Gun, kalau mau “nlisik” Mr. Yusuf Wibisono mungkin dapat menghubungi putranya Pak Hario Kecik yang adalah “mantan” menantunya, tetapi saya ragu apakah putranya menyadari kalau asal-usul ortunya itu dari desa Grabag, dari Trah Kyai Khatib Anom, Grabag Mutihan, kecuali kalau Pak Yusuf menceritakan, seperti diceritakan pada saya sekitar tahun 90-an.
    Lain lagi, waktu itu mas Gun dengar sendiri dari mantan lurah Kliwonan, Banyurip, Mas Marsaid, dirumah saya, yang mengatakan bahwa Jendral Surono itu asalnya dari desa Singkil. Saya setengah percaya dan tidak, tetapi kalau mas Gun mau nlusuri, silahkan hubungi mas Marsaid itu. Kalau Mas Isman dari TRIP itu memang betul ayahnya dari desa Ngringgit, namanya pak Kasdan, ini ceritanya Bapak saya. Silahkan di lanjut… mungkin bisa menghubungi Pak Hayono Isman… Salam Sw.

  10. gunarso ts says:

    Terima kasih Mas Adjie. Buku “Nostalgia Anak Kampung” sebagian isinya memang sudah saya turunkan di BP kesayangan kita. Tapi itu baru sebagian kecil, dan tidak terlalu komplit karena terbatasnya halaman. Isi buku tersebut dewasa ini sudah mencapai 560 halaman, dan sepertinya masih berkembang terus, sesuai dengan informasi baru yang berhasil saya gali.
    Di toko buku jelas tidak ada Mas Adjie, karena hanya saya terbitkan untuk kalangan terbatas. Dijual pun takkan laku, di samping isinya terlalu pribadi juga harga buku menjadi sangat mahal bila dibanding buku umum. Buku-buku terbitan Gramedia setebal itu, paling harganya sekitar Rp 80.000,- sedangkan bukuku dengan cetak ala print digital, sudah menelan biaya Rp 100.000,-
    Trima kasih jika Mas Adjie tertarik juga kisah perjalananku ke Suriname tahun 1996. Dulu pernah dimuat bersambung sampai 9 seri di majalah “Jaka Lodang” Yogyakarta. Kapan-kapan saya tulis kembali di BP ini. Di sana saya memang sempat ketemu orang yang mbah buyutnya dari Banyuurip. Bahkan Pak Suwardi Wusono (alm) Dubesnya kala itu, ternyata adalah teman Pak Slamet Wiyadi di ADLN (Akademi Dinas Luar Negeri) angkatan tahun 1954. (gts)

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Mbah Tomo, Dukun Sakti Dari Desa Susuk

4 - Jul - 2011 | julian_putro_pardjo | 22 Comments »

Awas Nyamuk Demam Berdarah

26 - Jun - 2013 | Adi Degreen | 4 Comments »

BANDARA CONGOT AKAN TERWUJUD????

4 - Jun - 2012 | massito | 2 Comments »

Duren Kaligesing Lan Sejatining Hurip

11 - Jan - 2012 | masdodi | 16 Comments »

Ketika Kita Gagal Mempertahankan Kemerdekaan Ekonomi

16 - Aug - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

Related Post

PURWOREJO (sesungguhnya) KOTA POTENSIAL

2 - Jun - 2009 | eko_juli | 28 Comments »

TES PENGACAU OTAK KIRI DAN OTAK KANAN. MAU COBA?

16 - May - 2009 | eko_juli | 38 Comments »

Feodal dan Power Distance

20 - Dec - 2008 | nurrahman18 | 11 Comments »

Bahagianya hidup di purworejo

5 - Feb - 2009 | fadly | 29 Comments »

Hijaumu Balut Luka Rinduku (4)

31 - Mar - 2008 | Raf | 7 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net