NAIK KERETA API DI JAMAN JEPANG

  20 - Sep - 2012 -   slamet wijadi -   12 Comments »

Mengenang Pengorbanan Seorang Ayah

Dengan menyerahnya Pemerintah/Tentara Hindia Belanda kepada Balatentara Dai Nippon/Jepang di Kalijati/Subang tanggal 8 Maret 1942, berakhirlah sudah jaman penjajahan Belanda di Hindia Belanda/Indonesia yang telah berlangsung selama 350 tahun.

Pada waktu itu saya berusia 10 tahun dan duduk di klas IV Sekolah Ongko Loro/Vervolgschool desa Wunut, Ngombol, Purworejo. Perubahan jaman yang mendadak itu berdampak sangat menentukan dan mengubah total masa depan kehidupan saya. Tahun 1942 itu saya naik ke klas V. Pada waktu naik ke klas VI tahun 1943, saya pindah sekolah di Kokumin Gakko (nama baru Sekolah Rakyat/Ongko Loro) Tegalmiring/Banyuurip karena ikut seorang kakak yang menjadi guru di sekolah tersebut.  Akhirnya tahun 1944 saya menamatkan pendidikan saya di sekolah dasar dengan ijazah “tamat belajar” berhuruf Kanji/Jepang.

Pertanyaan berikutnya, kemana akan melanjutkan sekolah? Pada waktu itu salah seorang kakak saya sudah melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama, atau Shoto Chu Gakko di Purworejo. Saya sesungguhnya juga ingin melanjutkan kesitu, namun Bapak/Ibu punya pikiran lain. Keadaan ekonomi keluarga kami setelah pendudukan Jepang tidak memungkinkan menyekolahkan dua anak sekaligus di kota. Bahkan untuk bertahan dan memberi makan keluargapun merupakan perjuangan tersendiri.

Bapak memutar otak dan nampaknya jalan keluarnya adalah ingin “menitipkan” saya pada keponakannya atau mbakyu sepupu saya yang bersuamikan seorang Mantri Tekenaar (Gambar) pada Jawatan Topografi di Bandung, dan seterusnya untuk meneruskan sekolah apapun namanya yang tidak terlalu memerlukan biaya di Bandung. Padahal keluarga itu sudah mempunyai anak empat orang kecil-kecil dan hidup dalam keadaan sederhana. Lebih parah lagi seorang kakak saya yang lain juga sudah ikut disitu. Dia sedang magang di kantor Topografi yang sama.

Namun apapun yang akan terjadi nantinya, keputusan telah diambil. Jadilah saya pada suatu pagi lepas tengah malam ditahun ‘44 itu, berangkat ke stasiun KA Kutoarjo bersama Bapak dengan tujuan Bandung. Bagi Bapak, ini perjalanan ke Bandung yang pertama, sedang bagi saya ini perjalanan keluar desa dan naik KA yang pertama dengan tujuan jauh.

KA seperti inilah yang membawa kami ke Bandung

Naik KA di jaman Jepang ini sungguh merupakan pengalaman yang sangat sukar untuk dilupakan dalam arti sengsara dan penuh deritanya, namun sebagai sebuah kilas balik juga merupakan sebuah kenangan berharga yang telah memperkaya kisah perjalanan hidup saya. Walaupun KA baru akan berangkat pukul 7 pagi, sejak pukul 2 pagi orang sudah berjejal berdesak-desakan antri karcis sampai berpuluh meter. Di depan loket karcis suasanya hingar bingar dan nampaknya sudah dikuasai sepenuhnya oleh calo/tukang catut. Melihat keadaan demikian itu Bapak sudah khawatir bahwa kami tidak akan dapat tiket. Namun entah bagaimana caranya Bapak akhirnya berhasil memperoleh dua karcis, mungkin lewat catutan/calo. O ya, istilah “catut” itu rupanya mulai dikenal sejak jaman Jepang, dimana semuanya memang serba langka dan terbatas.

Kereta dengan penumpang yang berjubel dan tidak menyisakan ruang gerak bagi penumpang itu akhirnya meninggalkan stasiun. Jalannya sangat lambat barangkali karena kelebihan beban. Saya tidak tahu jenis kereta apa, atau bahkan waktu itu cuma ada satu macam KA saja, tetapi yang saya ingat KA berhenti disetiap stasiun kecil/halte. Masih terekam dalam ingatan saya sampai sekarang nama2 stasiun/halte yang disinggahi setelah KA meninggalkan Kroya, al. Jeruklegi, Sidareja, Kawunganten, Gandrungmangu, Lebakjero, Cipari, dll. nama-nama yang sangat eksotis dan aneh kedengarannya waktu itu.

Disiang hari waktunya makan siang, penumpang termasuk kami mengeluarkan bekal masing-masing yang telah dipersiapkan dari rumah dan ramailah suasana dalam gerbong, saling melirik bekal makan tetangganya… . Saya juga tidak ingat apa pada waktu itu apakah sudah ada pedagang asongan, kalaupun sudah ada pasti tidak bisa jalan mengingat padatnya gerbong, yang saya tahu di Kroya penjaja sudah meneriakkan peyek udang… .

Pada waktu KA masuk ke stasiun Banjar, hari sudah malam dan di dalam kereta keadaan gelap gulita, tanpa secercah peneranganpun. Dalam jaman perang keadaan ini nampaknya merupakan bagian dari kebijakan tentara Jepang untuk menghindari “serangan udara musuh”. Menurut jadwalnya KA diharapkan sampai Bandung pukul 5-6 sore. Tetapi saat itu sekitar jam 7 malam, KA baru sampai di Banjar. Sehingga dalam hati saya bertanya-tanya kapankah akan sampai di tujuan? Dalam keadaan seperti itu tidak ada seorangpun yang bicara, semuanya diam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing menerima apa adanya.

Sejak meninggalkan Banjar itu, baik Bapak dan saya rupanya jatuh tertidur pulas mungkin karena bosan dan kelelahan.  Pada waktu kami terbangun, keadaan dalam gerbong sekitar kami sudah sepi, tidak nampak adanya orang dan yang tinggal hanya kami berdua, para penumpang sudah turun. Dari ujung gerbong terdengar teriakan kuli angkut, “Cibatu, Cibatu, Cibatu…” . Dua orang diantaranya mendekati dan memberitahu kami agar segera turun, karena KA akan berhenti “menginap” disini, yaitu di Stasiun Cibatu, dan baru besok perjalanan akan diteruskan ke Bandung. Keadaan dimana KA belum sampai tujuan dan berhenti di tengah jalan itu nampaknya sudah umum di jaman Jepang.

Sebagai penumpang dari desa dan sama sekali belum pengalaman, ditambah dalam keadaan bingung dan sedikit panik kami ikuti saja para kuli angkut yang membawa barang-barang bawaan kami, yang berjanji akan mengantarkan kami ke penginapan. Namun apa yang terjadi adalah mereka membawa kami kearah daerah gelap, ke gang-gang sepi dan kemudian melarikan seluruh bawaan kami! Dengan cepat mereka menghilang ditelan kegelapan malam. Kami terperangah dan bingung di tengah kegelapan, berada ditengah lingkungan asing dan hanya membawa tas tenteng pakaian, sedang semua bawaan/oleh2 telah dibawa kabur. Namun begitu kami masih merasa bersyukur karena mereka tidak merampok uang pribadi kami.

Dengan tertatih-tatih kami kembali mencari tempat yang terang dan malam itu kami tiduran di emperan stasiun Cibatu. Kalau teringat pengalaman ini, sungguh timbul rasa trenyuh, sedih dan haru namun juga bangga dan kagum kepada Bapak yang telah begitu besar pengorbanannya demi memperjuangkan hari depan anaknya dalam keadaan yang serba terbatas. Seorang dari desa yang sederhana dengan pengalaman seadanya mengantarkan anaknya ke kota jauh yang belum dikenal dan harus berhadapan dengan pengalaman yang sangat pahit dan menyakitkan.

Hari berikutnya kami meneruskan perjalanan ke Bandung dan sekitar pukul 11.00 siang kami sampai di tujuan. Bandung adalah kota yang sama sekali asing, namun apa yang dipikirkan Bapak ialah bagaimana bertamu ke tempat kemenakan dengan keluarganya yang besar yang tentunya akan merepotkan karena akan menitipkan anak, namun sama sekali tidak membawa sekedar oleh-oleh. Semua yang telah kami persiapkan dan dibawa dari desa telah lenyap di”bawa” kuli angkut di Cibatu semalam.

Bapak segera memanggil sebuah delman dan dengan bahasa Melayu-nya yang terpatah-patah minta diantar ke alamat di Kampung Cikawao daerah Lengkong dimana kemenakannya tinggal, tetapi sekaligus Bapak juga minta agar bisa singgah di pasar untuk membeli oleh-oleh. Kusir menyatakan kesanggupannya dan naiklah kami dengan hanya membawa tas tenteng pakaian. Setelah beberapa waktu berlalu Pak Kusir memberhentikan delmannya dan mengatakan telah sampai tujuannya di Cikawao. “Lho, kan tadi saya minta mampir di pasar untuk beli oleh-oleh”, kata Bapak, yang dijawab enteng oleh Kusir, “wah pasarnya sudah kelewatan…”. Untuk kedua kalinya kami ditipu dalam perjalanan ini, dasar nasib… .

Saya tidak dapat membayangkan betapa rasa sedih dan malunya Bapak waktu tiba di rumah kemenakannya. Datang dari desa berdua dengan tangan kosong. Setelah Bapak menjelaskan seluruh kisahnya, mbakyu ikut merasa sedih dan bisa memahami bahkan mengucap syukur bahwa akhirnya bisa selamat sampai tujuan. Namun perasaan malu tetap tidak terhindarkan, hanya karena sikap yang luar biasa baik dan ketulusan hati mbakyulah yang menjadikan kami agak lega. Tidak lama Bapak berada di Bandung, sekitar 3 hari, tentunya setelah menyerahkan saya untuk di titipkan agar dapat meneruskan sekolah seadanya. Saya tidak tahu perjanjian apa yang telah dibuat antara keduanya menyangkut “barang” titipan yang adalah diri saya, yang terang bahwa mbakyu ini, dengan segala keterbatasannya, menerima saya dengan baik. “Soal sekolah, biar nanti diurus oleh Dik Roto”, kata mbakyu. Dik Roto (Suroto) ini adalah kakak saya yang telah ikut mbakyu lebih dulu untuk magang sebagai pegawai.

Itulah sepenggal kisah perjalanan hidup saya di jaman Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan dan pertempuran dengan pihak Jepang mulai berkecamuk, sekolah dimana saya belajar ditutup. Tidak ada alasan bagi saya dan kakak-kakak saya untuk tetap berada di Bandung. Kami bersama-sama meninggalkan Bandung kembali ke desa. Kisah selama satu tahun berada di Bandung pada jaman pendudukan Jepang semoga dapat diceritakan pada tulisan berikutnya. Betapapun, itu adalah merupakan bagian dari perjalanan hidup saya.

Sekarang ini setelah hampir 70 tahun sesudah peristiwa itu terjadi, apa yang dapat ditarik sebagai hikmah pelajaran dan renungan? Bagi saya kesan/pesan yang paling mendalam adalah perjuangan seorang ayah untuk mengantarkan anaknya menuju hari depan yang lebih baik. Segala pengorbanan telah ditempuh bahkan dalam keadaan yang serba terbatas dan dengan segala resiko.  Pada waktu kami di “rampok” di Cibatu dan berakhir dengan tiduran di emperan stasiun, saya sebagai anak kecil tidak menyadari betapa Bapak telah memberikan pengorbanan yang luar biasa demi hari depan saya. Kini dalam renungan masa senja saya, saya yakin sepenuhnya bahwa apa yang sampai sekarang ini kami nikmati, disamping jalan hidup yang memang telah digariskan oleh Tuhan, hakekatnya tidak terlepas dari rangkaian kisah yang terjadi di Cibatu malam itu. Itulah sebuah bentuk pengorbanan seorang ayah demi masa depan anaknya… .

 

Slamet Wijadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


12 Responses to “NAIK KERETA API DI JAMAN JEPANG”

  1. gunarso ts says:

    Pak Wiek, agaknya tanda-tanda orang sukses itu memang harus mengalami aksi penipuan dalam merintis karier. Dalam buku biografinya, Bpk. Sukamdani Gitosadjono pemilik Syahid Grup, juga mengalami kejadian serupa. Saat masuk Jakarta tahun 1950-an, koper berikut pakaiannya dibawa lari kenalan barunya yang memberi tumpangan di daerah Kemayoran. Tapi dari kejadian pahit itu, bocah Carikan Sukoharjo (Solo) tersebut menjadi sangat hati-hati dan akhirnya, kini jadi pengusaha sukses.
    Lalu pakde Suryadi (alm) familiku dari Ngombol, saat merantau ke Palembang tahun 1951, juga mengalami kejadian serupa. Saat mampir di Jakarta bersama 2 orang teman sekampungnya, baju yang dicucikan tetangga di Tanjung Priok, juga dibawa lari. Walhasil mereka berempat ke Palembang hanya dengan baju yang melekat di badan. Tapi akhirnya di Palembang pakdeku sukses jadi tentara (AURI) bagian perminyakan, meski kala itu hanya berijasah SR.
    Nah, Pak Wiek yang di kala bocah begitu getir karena bersama ayah ditipu orang saat mau ke Bandung, kini sangat berbahagia hari tua bersama putra wayah. Bapak demikian sukses meniti karier, meski harus membelok di “tikungan tajam”. Padahal teman-teman Bapak yang mengambil jalur “ndlujur” saja, terlihat biasa-biasa saja di hari tuanya, karena mereka memang tak bisa kerja selain itu. Sukses terus Pak Wiek. (gts)

    • slamet wijadi says:

      Mas Gun, trimakasih atas komennya yang melengkapi kisah saya tsb. Mungkin hanya kebetulan bahwa untuk sukses harus mengalami “penipuan”, namun intinya pengalaman itu selalu akan berharga sebagai pelajaran untuk meniti hidup selanjutnya. Bagi seorang dari desa yang masih lugu, menganggap semua orang itu “baik”, makanya korban penipuan selalu terkait dengan orang dari desa yang datang ke kota, sebagaimana kisah-kisah yang terjadi di terminal bus. Namun tidak berarti orang yang “pengalaman” tidak akan tertipu, seperti kisah seorang naik bus/KA, yang diberi minuman yang sdh disuntik dengan obat “bius”, akhirnya tertidur selama 24 jam, dan kisah ini melibatkan orang “pengalaman”, hanya dia terlalu percaya pada orang yang baru dikenal. Tetapi kalau sampai baju yang dicucikan dibawa kabur, ya sungguh keterlaluan, menunjukkan “malingnya” klas recehan…. tapi itu kan ditahun ’50-an. Rupanya ditipu/dirampok itu suatu pengalaman yang luar biasa sehingga Pak Sukamdani harus menceritakan sebagai bagian kisah hidupnya menuju sukses. Memang semuanya itu ada hikmahnya, tapi untuk saya yang paling berkesan adalah betapa ayah saya telah memperjuangkan hari depan anaknya, yang waktu itu tidak terlalu saya sadari. Soal kini saya bisa “menikmati” hidup ya memang berkah yang selalu kami sukuri, tanpa ingin membandingkan dengan orang lain. Namun seperti saya katakan, peristiwa di Cibatu itu memang sudah menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup saya. Sekali lagi, trims untuk komennya yang selalu mengena. Salam, Sw.

  2. mas adjie says:

    luar biasa kisah dari pak Wiek, saya sampai “mrebes mili” membaca dan menghayati kisahnya. Sungguh besar pengorbanan/ Perjuangan seorang Ayah demi masa depan anaknya. Terkadang kita sebagai anak lupa akan hal itu… matur nuwun pembelajarannya Pak Wiek… kami sangat menanti cerita2 dari Bapak selanjutnya..

    • slamet wijadi says:

      Mas Adjie, terimakasih untuk apresiasinya thd kisah tsb. Saya tampilkan kisah sederhana itu karena saya ingin mengenang pengorbanan yang telah ditunjukkan oleh seorang ayah. Pada waktu terjadinya kisah itu saya sama sekali tidak menyadari, kini dalam renungan dihari tua kisah tsb muncul dan mempunyai makna istimewa untuk mengenang pengorbanan seorang ayah. Dan memang demikian. Kisah tersebut tidak bisa dilepaskan dari rangkaian kisah perjalanan hidup saya secara menyeluruh, bahkan seakan merupakan bagian yang dasar untuk kisah-kisah berikutnya. Hikmahnya adalah jelas, Orang tua yang bijaksana akan mengorbankan segalanya demi hari depan anaknya. Sekali lagi, trimakasih. Agak terlambat membalas karena baru kembali dari kampung. Salam, Sw.

  3. gunadirayap says:

    Ceritanya menyentuh hati pak, banyak pelajaran yang bisa diambil dan dipetik hikmahnya. Betapa besar pengorbanan orangtua kita, kadang kita sering melupakan , matur nuwun. Salam hangat pak Wiek

    • slamet wijadi says:

      Mas Gunadi, trimakasih untuk komennya, saya senang bahwa kisah itu bisa dipetik pelajaran dan hikmahnya. Saya sendiri baru menyadari betapa perjuangan ayah saya waktu itu, setelah menjadi orangtua sendiri. Setiap orang tua pada dasarnya ingin agar anaknya berhasil dalam hidupnya, dan untuk itu tiada pengorbanan sebesar apapun yang tidak akan ditempuh, demi sang anak. Jaman saya waktu itu lebih-lebih lagi, mengingat pendidikan lanjutan setelah sekolah dasar Ongko Loro hampir tertutup untuk anak desa. Untungnya orang tua kami lebih sadar tentang pendidikan anak dibanding rata-rata orang sedesanya. Perjalanan ke Bandung itu adalah bukti betapa pengorbanan yang harus ditempuh. Dan kenyataannya keberadan saya di Bandung selama setahun telah mengubah pandangan dan cakrawala hidup saya untuk selanjutnya, inilah hasil dari pengorbanan seorang ayah. Kini saya baru sepenuhnya menyadari hikmah apa yang telah saya peroleh sebagai bagian dari rangkaian kisah malam di Cibatu itu… Salam, Sw.

  4. ilyasa' says:

    Subhanallah. Dua kali saya baca tulisan Pak SW ini dan membuat saya sangat trenyuh, begitu besar pengorbanan orang tua Pak SW di jaman dimana sebagian besar orang tua waktu itu lebih banyak menerima nasib, pasrah dan merasa tak memiliki kekuatan untuk keluar dari belenggu keterbelakangan. Kondisi itu bahkan masih itu bahkan masih saya alami di era tahun 1980-an dimana orang tua saya merasa pasrah dan tidak mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Hanya kenekatan saya yang membuat saya bisa mengenyam universitas. Karena orang tua tak memiliki uang sekadar untuk membeli formulir pendaftaran masuk PT, saya terpaksa “mencuri” cincin nenek yang buta huruf. Cincin seberat 5 gram saya tukarkan menjadi seberat 3 gram yang bentuknya persis. Selisih dari penjualan cincin itulah yang kemudian saya belikan formulir pendaftaran masuk PTN. Setelah lulus ujian masuk, orang tua saya terpaksa mengalah dengan kenekatan dan kengototan saya untuk kuliah. Akhirnya satu-satunya petak sawah yang dimiliki terpaksa dijual. Separo hasil penjualan sawah digunakan untuk merehabilitasi bangunan rumah yang hampir roboh dan separohnya diserahkan ke saya untuk dikelola. “Aku wis ora duwe duit maneh. Separo duit hasil dol-dolan sawah iki gunakno tekan kowe lulus mengko, mboh kepriye carane.” Alhamdulillah, setelah diselingi dengan berbagai aksi jibaku, diantaranya dengan berdagang kecil-kecilan, akhirnya saya lulus PTN.
    Soal pengalaman pertama kali naik kereta api, saya ingat cerita Pak Sarno Eryanto, pemilik jaringan laboratorium klinik PRAMITA yang buku biografinya sedang saya tulis. Di usia SD ia diajak ibu tirinya ke Surabaya. Dari Brebes, tempat lahirnya, ia harus pergi ke stasiun KA Tegal untuk naik kereta api. Karena takut terlambat, mereka terpaksa rela menunggu berjam-jam sampai KA berangkat. “Pas kereta mulai bergerak, saya heran kok pohon-pohon, sawah-sawah, sungai-sungai bisa bergerak sendiri,” kenangnya. Sekali lagi salut, Pak, dengan cerita Bapak kali ini. Ditunggu lanjutannya.

    • slamet wijadi says:

      Mas Muhtarom, kisahnya untuk bisa masuk perguruan tinggi dan sukses sampai selesai sungguh luar biasa, jarang sekali yang mempunya keberanian dan “kenekatan” seprti Mas Muhtarom ini. Tindakan untuk “mencuri” dan “memalsukan” cincin nenek untuk bisa beli formulir pendaftaran masuk PTN itu hanya dimiliki oleh seseorang dengan tekad dan mental petualangan yang sangat mengagumkan. Akalnya sudah tergolong klas super canggih… Saya tidak akan sampai “klas” itu… Tapi semuanya berbuah yang melezatkan, dimana orang-tua “menyerah” setelah ditunjukkakan bukti bahwa mas Muhtarom tidak main-main, ini bukan “pemerasan” tapi perjuangan dengan bukti nyata. Saya jadi ingat kisah lucu waktu kecil, kalau minta uang tidak dikasih, “mengancam” akan minggat. Rupanya ibu saya membiarkan, bahkan ditantang “minggat lah”, memang betul juga saya “minggat” cuma hanya “purik” ketempat embah dilain desa, setelah bosen dan kangen rumah ya pulang juga… Lain waktu saya minta sangu untuk “nonton segara” waktu Lebaran, dikasih uang beberapa sen, saya marah dan mengancam akan berenang di laut biar tenggelam, itupun dibiarkan juga, akhirnya saya sadar bahwa ancaman itu tidak “bermanfaat”… Kalau kisah Mas Muhtarom kan sukses story tapi pengorbanan orang tua sungguh luar biasa, bagi petani menjual sawah itu sudah tindakan terakhir, kini hasilnya telah dinikmati sepanjang hidup. Orang tua saya pada dasarnya sangat sadar akan pendidikan anak dan untungnya juga tergolong agak mampu untuk ukuran desa. Tetapi untuk jaman itu bisa melanjutkan sekolah lepas ongko loro itu sungguh luar biasa. Hanya karena perobahan jamanlah yang menolong saya, dan itu memang dimulai dengan keberangkan kami ke Bandung, yang membuka cakrawala hidup saya. Di Bandunglah saya mendapat inspirasi untuk “maju”, mungkin karena pengaruh lingkungan. Sekali lagi maturnuwun untuk komennya yang sekaligus menampilkan kisah pribadi yang istimewa. Kapan kita ketemu? Salam, Sw.

  5. Alhamdulillah Pak Wiek, tanpa bermaksud ria atau menyombongkan diri, pengorbanan orang tua telah berusaha saya bayar lunas. Rumah yang dulunya kurang representatif sehingga sering membuat saya malu kalau ada teman main ke rumah sudah saya rehab total menjadi bangunan dua lantai dan cukup nyaman untuk tinggal orang tua dan menjadi tempat yang lumayan enak kalau saya, isteri dan anak-anak pulang kampung dari Jakarta. Sawah yang “hilang” sudah saya ganti dengan luas beberapa kali lipat. Nenek saya sebelum almarhum juga sudah saya ganti cincinnya. Yang masih mengganjal adalah sampai sekarang saya belum kesampaian memberangkatkan haji kedua orang tua karena uang masih muter-muter terus untuk usaha. Pernah suatu saat saya mau memberangkatkan mereka umroh, sudah saya bayar lunas, eehhhhh ternyata orang yang mengelola usaha travel yang rencananya akan mengatur perjalanan ibadah umroh kedua orang tua saya plus ditemani seorang adik laki-laki saya, ternyata tidak amanah. Uang pembayaran umroh dibawa kabur. Tanpa mengurangi rasa syukur, inilah yang masih mengganjal pikiran saya. Saya dan isteri sudah sempat menapakkan kaki (ibadah haji) ke Arab Saudi, tapi sampai sekarang saya belum dikaruniai kemampuan untuk memberangkatkan haji orang tua berdua sebelum mereka wafat. Sekali lagi salut dan kekaguman saya atas luasnya pengalaman hidup dan cerita-cerita inspiratif dari Bapak. Sayangnya forum ini terbatas audience-nya sehingga pengalaman hidup dan ide-ide Pak Wiek kurang menjangkau banyak khalayak.

    • slamet wijadi says:

      Mas Muhtarom, apa yang telah berhasil mas Muhtarom lakukan untuk kedua orang tua, dan kemudian dikisahkan, bukanlah suatu tindakan kesombongan ataupu ria, melainkan merupakan ungkapan rasa syukur seorang anak bahwa telah diberi kesempatan untuk “membalas” semua, bahkan sebagian dari, pengorbanan beliau. Saya yakin bahwa beliau sangat bangga memiliki putra yang pandai berbakti kepada orang tua, termasuk kepada almh.neneknda. Bahwa sekarang belum “berhasil” menghajikan beliau, itu masalah waktu, Insya Allah. Demikian mengenai tidak amanahnya pengelola umroh, saya yakin ada hikmahnya di balik itu. Pada saatnya nanti semoga Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk terlaksanya niat suci mas Muhtarom tersebut. Kami berdua bersama dua anak/mantu sudah melaksanakan ibadah haji 4 tahun yl. setelah isteri saya dapat bagian dari warisan yang pas untuk keperluan biaya, sedang anak-anak membiayai sendiri, usia saya waktu itu 76 tahun isteri 72 tahun, termasuk tertua dalam rombongan 150 orang, namun Alhamdulillah kami dapat menjalani semua ritual baik yang wajib maupun sunah tanpa hambatan yang berarti. Saya dengar bahwa rombongan haji kloter pertama dari Jogja ada yang berusia 88 tahun dan nampaknya masih sehat, subhanallah.
      Sebagai bagian dari cara kami untuk mengabadikan nama orang tua, kami telah mebentuk Trah yang menghimpun seluruh keluarga besar kami. Hari Raya Idul Adha yad. kami akan mengadakan kumpul-kumpul keluarga besar Trah Atmosudarmo (nama ayah kami) bertempat di rumah cikal-bakal yang telah kami namai Griya Atmosudarmo di desa Susuk, Purworejo, diharapkan dari sekitar 200 warga trah sebagian akan hadir. Kami akan memotong beberapa ekor sapi/kambing dalam rangka Idul Qurban tsb.
      Trimakasih untuk apreiasi terhadap tulisan-tulisan saya, namun saya tetap menganggap hal itu adalah sekedar “sinambi kalaning nganggur”, untuk latihan otak agar tidak cepat karatan. Salam, Sw.

  6. annisrina says:

    Pak de Slamet hebat, klw cerita naik kereta api jaman dulu, saya jadi terbayang wkt desember kemarin ke rumah mbah dari suami saya di kutoarjo, selama 43thn saya hidup baru sekali ke kutoarjo, padahal alm mbah saya kabarnya dari kutoarjo, almh ibu saya ga pernah ke kutoarjo karena sejak thn 42 sdh yatim (mbah saya yg dari kutoarjo wafat) krn itu sejak itu kami kematian obor. Jodoh Alloh yang tentukan, di usia 41thn saya baru menikah dan kebetulan ayahnya jg orang kutoarjo. Jadilah desember kemarin saya baru napak tilas ke kutoarjo, namun itu blm memuaskan hati saya karena saya masih buta dengan saudara2 alm mbah saya “Warno bin ronotiko” yg kabarnya dari kutoarjo. Terbayang bagaimana dahulu mungkin zaman belanda thn 20an ke jakarta naik kereta api…betapa jauhnya ..entah berapa lama baru sampai ke jakarta sampai akhirnya menjadi supir mobil jenazah di rs cipto mangunkusumo, sampai akhirnya punya anak pertama (uwa ku) sekitar thn 1925 …dan di usia relatif muda sekitar 47thn mba warno wafat …

    Pak de, kemarin saya ke rumah ibu darmi yg kata ibunya masih saudara tp ibu darmi yg lahir thn 50 jg ga bisa ngasih byk keterangan, tp dari pak sutamto suami ibu darmi yg jg asli kutoarjo nyuruh saya bertanya ke Lik Mar atau Marsiah atau Pak sarman di desa kaliwungu tentang silsilah/ saudara2 dari mbah saya yg masih ada.

    Bagaimana caranya ya pak de biar bisa menelusuri pendahulu2 kami. Terima kasih

    Buat mas arief owner blog. terima kasih banyak ya …hehehe ..saya ga bisa bahasa jawa … eh iya ga ditanya ya … :)

    • slamet wijadi says:

      Mbak Annis,susah memang kalau sudah kepaten obor,untuk melacak kembali diperlukan usaha yang khusus. Untuk kasusnya mbak Annis, mungkin cara yang disarankan oleh Pak Sutamto itu bisa dijadikan langkah awal.Kalau ada waktu coba datang ke desa Kaliwungu dan bertanya kpd. Lik Mar, Marsiah atau Pak Sarman, dari situ mungkin bisa dilacak lebih lanjut. Kaliwungu itu tetangga desa saya, Lurahnya yang dulu saya kenal, kalau kebetulan di desa saya bersedia untuk menemani. Semoga berhasil, salam, Sw.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Rencana 2009

1 - Jan - 2009 | meds | 21 Comments »

Hipertensi

15 - Aug - 2009 | sugeng Ikasapala | 10 Comments »

PILKADA

30 - Jan - 2009 | lentera-ijo | 4 Comments »

Perencanaan Mudik Lebaran

11 - Aug - 2009 | Cah-DkDungus | 8 Comments »

Cara membasmi tikus di rumah

24 - Feb - 2014 | Adi Degreen | 7 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net