Merindukan Kebangkitan Jidur Lanang di Purworejo

  29 - Sep - 2012 -   Mbah Suro -   7 Comments »
foto ofMerindukan Kebangkitan Jidur Lanang di Purworejo

Seni tradisional Jidur Lanang, dewasa ini punah sudah di Kab. Purworejo, karena tergeser oleh populasi Jidur Wedok yang makin membumi. Terdorong keinginan untuk nguri-uri warisan budaya para leluhur, Pak Slamet Wiyadi MA minggu lalu (23/09) mencoba nanggap Jidur Lanang di kampung halaman, Desa Susuk Kec. Ngombol. Penontonnya cukup ramai, sehingga diharapkan Jidur Lanang kembali berjaya seperti tahun 1970-an.
*****
”ASSALAM mungalaeka ya ena lo’a, abe yame asalam murngali. Assalam murngalim hi asalam mungala ala moka, tumilir kilir, keroh hi asam mungalim…” demikianlah kalimat atau salam pembuka yang diucapkan oleh para pemain Jidur Lanang, ditingkah suara musik pengiring berupa terbang, kendang dan bedug. Para pemain berjumlah 12 orang berjejer baris 6-6 itu kemudian berjoged dengan gaya mirip dansah dan beksan wayang orang.


Dari rumah Pak Satiman (alm) rombongan jidur diarak menuju balai desa Susuk. (Foto: Gts)

Kostum yang mereka kenakan berupa hem panjang dan clana pendek serba hitam, berhiaskan asesoris beraneka warna mirip seragam serdadhu Belanda di era penjajajahan sebelum 1945. Jidur Lanang itu juga melengkapi dirinya dengan tanda pangkat, topi pet, wajah tanpa make up, tapi mengenakan belor (kacamata hitam). Kemudian kaos kaki merah nyaris sampai lutut, pakai sampur di pinggangnya, membuat penampilan Jidur Lanang itu semakin menyala.

Lirik lagu berbahasa Arab mirip salawat tetapi sangat bergeser dari bahasa aslinya, terus terdengar bersinambungan. Penonton semakin merangsek mendekat ke panggung yang terletak di halaman balai desa Susuk Kec. Ngombol Kab. Purworejo. Lalu tepat pukul 10.45, yakni saat yang ditunggu-tunggu para penonton, salah satu pemain Jidur Lanang tersebut mendadak ndadi (kesurupan). Dia berjoged ke arah timur-barat seluas panggung, seakan berlari maju mundur dengan kepala gela-gelo dan pacak gulu, lengkap dengan kibasan sampur.

Ini sungguh luar biasa. Betapa tidak? Dalam kondisi trance, lazimnya orang akan ngamuk dengan mengeluarkan kata-kata ngaco. Tapi ndadi-nya seorang jidur, masih mampu berjoged secara tertib dan tertata, seiring dengan derap musik pengiring. Pesan-pesan yang disampaikannya pun sangat terukur: mengajak rukun dan damai dalam hidup bermasyarakat.


Jidhur Lanang “Budi Santosa” dari Kaligesing saat manggung dengan aksesorisnya yang wah. (Foto: Gts)

Jidur Lanang sesungguhnya di masa lalu sangat terkenal di Purworejo. Namun semenjak tahun 1976-an tenggelam, tersisihkan oleh Jidur Wedok yang semakin digandrungi para kawula muda. Maklum, menonton Jidur Wedok sekalian bisa cuci mata, menikmati paha-paha mulus dan megal-megol-nya pantat njedhit para pemain. Maka tidaklah mengherankan, manakala tontonan wayang kulit berbarengan dengan Jidur Wedok, niscaya pagelaran wayang menjadi sepi lantaran penonton berpindah ke tempat jiduran untuk sekedar nggiyaki!

Jidur Lanang yang ditanggap Pak Slamet Wiyadi MA boleh dikata merupakan jidur aden utau pesanan istimewa, karena sudah berpuluh-puluh tahun tak pernah dipentaskan. Demikian besar keinginan untuk nguri-uri Jidur Lanang yang berjaya di masa kecilnya, beliau mandaulat grup jidur “Budi Santosa” dari Desa Kaliharjo, Kec. Kaligesing. Mbah Tjiptosiswoyo (67) sebagai pimpinan jidur Kaliharjo, agak “kelabakan” juga dibuatnya, karena harus meladeni tanggapan yang lain dari biasanya. “Ewa semanten kula matur nuwun sanget, dene Pak Slamet kersa nggesangaken malih jidur jaler.” Katanya kepada penulis.


Jidhur sedang ndadi kemudian mengajak dialog dengan penanggap, Pak Slamet Wiyadi. (Foto: Gts)

Kesetrom jidur ndadi
Sebagai sponsor Pak Slamet Wiyadi memang tidak setengah-setengah. Dengan dana yang cukup, Mbah Tjipto berhasil mengumpulkan kembali para bekas pemain Jidur Lanang di kampungnya. Meski tak semuanya bisa ikut main karena sudah gaek, setidaknya mereka bisa ikut melatih dan memberi masukan. Dan ternyata memang luar biasa. Meski latihan hanya sebulan, saat dipentaskan di kampungnya Pak Slamet Wiyadi, para pemain yang rata-rata kawula muda, berhasil bikin takjub.

Sebut saja Misran (40) salah satu personal “Budi Santosa”. Saat ndadi nampak luwes sekali, sirig-sirig bagaikan joged Cakil wayang orang, hingga tubuhnya kepayahan lantaran tak kurang dari satu jam dia ndadi. Bahkan pada pertunjukan gelombang kedua selepas salat dhuhur, seorang penonton wanita warga desa Susuk juga “kesetrom” ikut ndadi dan naik panggung. Maklumlah, Ny. Sunaryati (35), di masa gadisnya juga menjadi pemain Jidur wedok.

Beda dengan Mbah Sonto Imut (80) warga desa Susuk yang lain. Meski di masa muda juga pemain Jidur Lanang, tidaklah sampai “kesetrom”. Dia berterus terang, tak sampai hanyut lantaran derap musiknya agak berbeda dengan Jidur Lanang taun 1960-an.

Mbah Saryono teman main jidur Mbah Sonto Imut membenarkannya. Jika irama musiknya cocok, bekas pemain gampang larut. Bagaimana ciri-cirinya? Kata Mbah Saryono, mendadak saja jempol kaki kesemutan, lalu merambat sampai perut. “Nek empun munggah padharan, mboten saged digadani malih,” ujarnya.

Kata mbah Saryono, jidur ndadi ada pula yang dipalsukan. Gaya mainnya kentara sekali. Ndadi palsu gerakan jidur mengikuti musik, sedang ndadi asli, musik mengikuti gerakan jidur. Ndadi palsu mintanya juga aneh-aneh, minta minum saparela segala, tak cukup air kembang dan banyu degan. Kalau ndadi yang asli, sudah tidak ingat apa-apa lagi. “Suara musik terdengar di telinga hanya suara monoton: pletek, pletek, pletekkk…..” tambah Mbah Saryono.

Misran pemain jidur “Budi Santosa” juga mengakui, saat ndadi memang tak ingat lagi sekelilingnya. Tanda-tanda menjelang trance juga agak beda. Saat makhluk kajiman (jin) hendak merasuk ke dalam tubuh, mendadak tercium bau wangi. Lalu leher belakang terasa menebal, selanjutnya…..lupa deh akan segalanya. Di sinilah uniknya. Meski dalam kondisi jiwa tak lagi terkontrol, pemain masih bisa menari dengan tertib meski lebih agresif. Tapi begitu makhluk kajiman meninggalkannya, dia meloncat dengan kuat (nggejol), sehingga pawang yang memeganginyapun ikut terpental dibuatnya. “Bar niku awak raose lemes sanget,” kata Misran selepas ndadi.

Kata Mbah Tjiptosiswoyo, jin yang merasuk dalam tubuh pemain biasa disebut endang, merupakan leluwur atau leluhur penduduk setempat. Leluwur tidak gampang masuk begitu saja, tapi harus menggunakan rapal dan sarat khusus. Dia juga hadir pakai sangat-sangat (waktu) tertentu. Ketika jidur pentas malam hari misalnya, lazimnya leluwur baru masuk sekitar pukul 24.00. “Semisal tontonan wayang kulit, di situlah saatnya Gara-gara tiba.” Kata Mbah Tjipto.
Jidur “Budi Santosa”
Darah daging Mbah Tjipto memang seniman jidur. Selepas mengembara di Tanjungkarang tahun 1970, oleh bapak mertua Kromopawiro diamanatkan untuk ngleluri dan melestarikan jidur “Budi Santosa” yang didirikannya sejak tahun 1937. Pada zaman keemasan tanggapan Jidur, tahun 1978 jidur Kaliharjo pernah ditanggap hingga TMII Jakarta. Kala itu pemainnya dicoba campuran, laki – wanita. Namun bersamaan dengan itu, Jidur Lanang-nya tenggelam. Penonton lebih tertarik menikmati Jidur Wedok yang menjanjikan dan memanjakan mata lelaki.

Sacara umum di Kab. Purworejo jidur disebut Ndolalak. Tapi entah kenapa, di daerah Purworejo Kidul (Bagelen) dan sekitarnya, dinamakan Jidur, mungkin karena piranti musiknya terdapat pula jedhor (bedhug kecil). Yang jelas, kesenian Jidur sudah ada sebelum tahun 1925. Bahwa dalam pentas jidur sarat dengan syair-syair bernafas Islami, itu tidaklah mengherankan lantaran para penciptanya kalangan santri. Mbah Tjiptosiswoyo memberikan contoh, saat jidurnya ndadi, endang yang masuk Islami sekali, karena sebelum pergi minta ditunjukkan Al Qur’an dan disembah-sembah pula.

Seiring dengan kemajuan zaman, alat musik atau tabuhan jidur dewasa ini tak lagi sekedar rebana ketimpring (terbang), kendang dan bedug, tapi dilengkapi juga organ tunggal. Gaya permainannya ada sedikit perbedaan, tergantung “aliran” atau gaya jidur mana yang dianut. Kata Mbah Tjiptosiswoyo, gaya Pasisiran (Purworejo selatan), Kaligesingan, Pripihan masih cenderung tradisional. Tapi untuk Mlaran ke barat termasuk Mlogung, telah ada penambahan tertentu mengikuti selera kekinian semisal coklekan, dan ula nglangi.


Misran yang selesai ndadi tengah disembuhkan oleh pawang Sudjono dan Mbah Tjipto. (Foto: Gts)

Untuk masa pentas yang tak kurang dari 6 jam (pukul 10.00 – 16.00) ongkos tanggapan jidur terhitung murah sekali. Dengan personal tak kurang dari 20 orang, Mbah Tjiptosiswoyo hanya mematok tarif Rp 3 juta bersih (di luar panggung dan dekorasi). Berkat dorongan Pak Slamet Wiyadi pula, grup jidur “Budi Santosa” sekarang siap meladeni tanggapan Jidur Lanang, di samping Jidur Wedok yang pemainnya cantik-cantik dan seksi menggemaskan.

Menghidupkan Jidur Susuk
Sebagai basis jidur di masa lalu, pentas jidur di Desa Susuk Minggu 23 September 2012 kemarin, sungguh membuat warga itu kembali bernostalgia. Sejak diarak dari rumah Pak Satiman (alm) mantan Siner (Penilik Sekolah) tahun 1960-an, anak-anak telah mengiringkannya hingga balai desa tempat pertunjukan berlangsung. Para penonton menunggu jidur itu ndadi, sehingga panitia pun menyilakan warga setempat ikut berpartisipasi. “Ingkang mangkenenipun kesetrom, ampun isan-isin minggah panggung mawon, saged ndadi sakatogipun,” kata panitia dalam sambutannya.

Desa Susuk dari tahun 1940-hingga 1976 memang memiliki sendiri grup jidur, di mana orang menyebutnya “Jidur Susuk”. Sebagaimana kata Mbah Sonto Imut, di masa kejayaannya dulu jika pentas ke mana-mana jalan kaki, dengan jarak tempuh 20 Km sekalipun. Upahnya perorang hanya Rp 8,- tapi itu sangat banyak lantaran harga beras sekilo cuma 15 sen. Tapi seiring dengan perintisan karier masing-masing personalnya, Mbah Sonto Imut bilang: “Angger pun rabi leren, angger rabi leren…….”

Maka ketika Jidur Lanang kembali hadir di kampungnya, mereka sangat berkeinginan kembali menghidupkan seni tradisional tersebut. Ini memang tujuan utama Pak Slamet Wiyadi, sehingga gayungpun bersambut. Mantan diplomat dan dosen PTIK di Jakarta itu menantang, “Lebaran ketiga Idul Fitri tahun depan pentas ya, nanti tak ragadi sakgendingmu.” Maklum, Pak Slamet memang sangat mendambakan, kapan Jidur Lanang kembali berjaya di Kab. Purworejo.

Di Kec. Ngombol tahun 1970-an, jidur Susuk, Tunjungan, Sumbersari, Pasir, memang sangat terkenal. Di masa kecil penulis sempat nonton jidur dua kali, yakni di mBokor saat sunatan Ismail (1957) putra Siwa Dhuwur dan di Walikoro saat sunatan Markam anak Tjokro Djakiman (1961). Bahkan ayah Tunggono temanku, meski hanya penonton langsung ikut ndadi karena dia semula adalah personal Jidur Tunjungan.

Yang tak pernah terlupakan di ingatan penulis, manakala habis ada tontonan jidur, bocah-bocah kampung nyanyi-nyanyi lagu jiduran di sela permainannya. Misalnya: Rokok kretek taline sutra, kirim potret kanggo tandha mata. Ada pula: Grimis-grimis nggunduhi klapa, nongas-nangis nangisi sapa. Yang agak panjang liriknya, salah satunya adalah: Lele mati kethuthuk sujenana pring siladan, ngawe-awe sing kalung andhuk, entenana dalan prapatan. Ada juga blenderan yang lucu bagi anak-anak: Jidhur ndadi kathoke polet, bali njidhur (maaf) silite kopet…..!.

Itulah kenangan masa kecilku tentang jidur. Lama tak nonton, baru menyaksikan kembali tahun 1999 di Jakarta saat Bupati Purworejo Gurnito memboyong jidur dan pentas di Gedung Brimob, Kwitang. Ternyata pemainnya semua wanita, dengan pahanya yang mulus-mulus (pakai atal?). Pantesan anak muda sekarang lebih tertarik nonton jidur semacam ini. (Gunarso TS)

Category: blog, Tags: , | posted by:Mbah Suro


7 Responses to “Merindukan Kebangkitan Jidur Lanang di Purworejo”

  1. gunadirayap says:

    Sugeng sonten mbah suro, memang jidur / ndolalak sekarang sudah agak kurang digemari oleh kawula muda. tergerus oleh globalisasi. Anak muda sekarang lebih suka musik dangdut, rock, metal, dancer dll. Kulo angkatan tahun 80an pernah belajar ndolalak wonten desa katerban kutoarjo. disana juga banyak lhoo ndolalak pria siang apik2.nuwun

    • slamet wijadi says:

      Mbah Suro/Mas Gunarso,
      Pertama, trimakasih untuk mbah Suro yang telah meng-upload laporan mas Gunarso tentang pentas jidur di Susuk. Ini karena mas Meds yang biasa membantu mas Gun meng-upload sangat sibuk saat ini.
      Mas Gun, laporan “pandangan mata” pentas jidur di Susuk sangat lengkap dan menarik. Trimakasih sudah hadir dalam event itu dan sekaligus juga laporannya.
      Betul mas Gun, peristiwa itu bagi saya sangat mengesankan, sudah lama saya ingin nonton jidur sebagaimana saya kenal dan tonton tahun ’40-an dan akhirnya klakon juga.Selama pertunjukkan itu saya sungguh menikmati baik tariannya, kostumnya tabuhannya dan syair-syair yang dinyanyikan, seakan membawa saya ke jaman lampau waktu saya kecil.
      Karena itu waktu para mantan jidur Susuk menyatakan mau menghidupkan kembali kesenian asli jidur Susuk, dengan spontan saya mendukungnya dan ternyata Pak Luarh bersedia untuk bertindak sebagai Pembina dan Pelindungnya. Rencananya, Insya Allah, Lebaran tahun depan sudah dapat dipentaskan dan kalau mas Gun ada waktu tentu kami undang, semoga.
      Bagi saya, sebuah desa yang tidak memiliki kesenian aslinya akan menjadi “sepi” dan kurang regeng, juga kehilangan akan kebanggaan akan identitasnya. Dalam hal ini “jidur” sudah identik denga identitas desa Susuk, karenanya perlu untuk dibangkitkan kembali, syukur bahwa Pak Lurah menyambut hangat gagasan tersebut.
      Sekali lagi trimakasih mas Gun yang telah berpartisipasi. Salam.

  2. gunarso ts says:

    Benar Pak Wiek, sebagaimana Bapak, nonton jidur di Susuk kemarin, saya juga seakan kembali ke masa kecil dulu. Gaya joged dan musiknya sama persis, seperti yang kutonton di Mbokor dan Walikoro dulu. Begitu juga saat ndadi, “menu” untuk pemain juga sama, banyu kembang dan air degan.
    Di jejaring internet sebetulnya banyak ditemukan video jidur atau ndolalak. Tapi melihat dan membandingkan video ndolalak di Youtube, kebanyakan sudah lari dari pakem. Di samping seluruhnya pemain wanita, musik pengiringnya sudah banyak berubah, sehingga tak menyentuh emosi dan memoriku dulu. Satu-satunya jidur di Youtube yang masih asli hanyalah yang ditayangkan oleh Prigel, karena pemainnya juga lelaki seperti di masa kecilku.
    Seiring dengan cita-cita Pak Wiek untuk nguri-uri budaya tinggalan leluhur, mungkin kiranya ditanggap lagi Wayang Klithik yang sudah lama juga hilang di Kec. Ngombol. Di masa kecilku beberapa kali saya nonton di Njoso, melihat kiprahnya Umarmaya, Prabu Jayengngrana yang naik kuda Sekardiyu, Betara Nursewan dari Medayin, dan tak lupa si Jiweng astralelaaaaa…… (gts)

    • slamet wijadi says:

      Mas Gun, jidur yang ditayangkan di Youtube oleh sanggar Prigel itu ya jidur yang pentas di Susuk barusan, dari Sanggar Prigel, kelompok Budi Santoso Kaliharjo, Kaligesing. Keinginan saya untuk mementaskan jidur priya ya setelah melihat Youtube jidur priya dengan tarian Saya Cari, bahkan yang nari itu adalah Mas Jono yang kemarin mimpin team Jidur bersama Pak Cip dan Lurah Kaliharjo.
      Untuk Wayang Klithik saya bersedia nanggap demi nguri-uri kesenian tempo dulu sebelum di klaim oleh Malaysia. Kabarnya masih ada dhalang yang sanggup mementaskan, silahkan cari informasi. Lakonnya nanti dipilih dimana Umarmoyo, Jayengrono dan Imam Suwongso berperanan. Juga Prabu Nursewan dari Medayin dan Patih Bestak (Durno nya wayang klithik) dengan segala intrik-intriknya, tidak ketinggalan Bagindo Kilir sebagai “dewanya” wayang klithik. Jiweng dan Toples sebagai pengocok perut. Salam, Sw.

      • gunarso ts says:

        Matur nuwun Pak Wiek, atas keseriusan dan perhatiannya. Dhalang wayang klithik atau golek sebagaimana yang dulu dipentaskan di Njoso, ternyata sekarang masih ada di Sentolo, Yogyakarta. Berdasarkan informasi Mas Dhanu Priyo Prabowo temanku dari Temon Kulon Progo, nama dalang itu Ki Suparman Amat Djaelani (Demung), sebagai penerus dalang Regud Widiprayitno dulu.
        Kalau Pak Wiek ngersakake, dipesen sebulan sebelum hari H pun bisa, karena sekarang penanggapnya memang sudah jarang. Matur nuwun. (gts)

        • slamet wijadi says:

          Mas Gun, trimakasih infonya, memang saya pernah dengar bahwa di Sentolo itu sejak dulu ada dalang terkenal wayang klithik, mungkin itu dalang Widiprayitno, dia sekaligus juga pembuat wayang menak itu. Beberapa waktu yl. belum lama ini saya dengar ada pementasan wayang klithik di Purwodadi, apa mungkin dengan dalang Ki Suparman itu?
          Nanti kalau saya pulang kampung akhir bulan akan saya konsultasikan dengan Pak Lurah, sebab pada akhirnya dia yang akan mengatur penyelenggaraannya. Sekali lagi trims untuk infonya. Salam, Sw.

  3. Gundala says:

    Jidur lanang didelok apane sikile wae ireng2 akeh wulune

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Omah Gedong Magrong Magrong

5 - Jun - 2012 | slamet_darmaji | 8 Comments »

KENANGAN NGLONJO DARI WINGKO KE PURWODADI

27 - Jun - 2011 | Mbah Suro | 8 Comments »

SEKOLAH YANG DILUPAKAN

11 - Aug - 2009 | massito | 4 Comments »

Hasil Seleksi Siswa Berprestasi Tk. SMP Tahun 2009 Kab.Purworejo

22 - Dec - 2009 | Riyadi | 5 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net