Lali SiMbok

  7 - Sep - 2012 -   slamet_darmaji -   4 Comments »

Aku dan kakak perempuanku Wiwit, merantau ke Jakarta sejak lulus Sekolah SMA  sekitar 1990 an, dan adiku perempuan Harti, setelah selesai kuliah juga merantau ke Bandung, begitu juga adik laki-laki ragil Wisnu setelah lulus kuliah di Jogja juga merantau ke Salatiga dan kadang tugas di Jogja, kami masing-masing sibuk dengan pekerjaaan karena tuntutan keadaan.

SiMbok tinggal sendirian di rumah, rumah  yang dulu begitu ramai  waktu keluarga kami masih lengkap dan kami masih sekolah di Purworejo, kenangan itu begitu terasa indah  walaupun bapak sejak aku duduk di bangku kelas empat SD sudah tidak bisa bekerja karena lumpuh atau mati separo badan,Bapak dua kali terkena struk, dan pensiun dini, sebelas tahun Bapak dalam keadaan badan mati separo, tapi masih bisa berjalan dengan bantuan tongkat, walau hanya di dalam rumah, hingga aku lulus  STM, 11 Tahun kami semua merawat Bapak dengan kondisi sakit dengan segala kesabaran dan tanggungjawab dalam satu keluarga, dan setelah aku dua tahun merantau ke Jakarta, Bapak meninggal 1993 dalam usia 69 Tahun.

Sampai saat ini siMbok tinggal sendiri di rumah, kamipun anak-anak jarang pulang ke Purworejo, belum tentu setahun sekali kami pulang, malah siMbok yang kadang ke Jakarta  ketempat kami, karena aktifitas kami yang sangat padat maka siMbok lah yang mengalah datang ke Jakarta atau Bandung, jika kangen dengan cucu-cucunya.

Suatu saat siMbok datang ke Jakarta dan berada di rumah kakak, pass sampai di Jakarta juga menelponku bahwa sudah sampai di rumah kakak, aku masih sibuk dengan pekerjaanku waktu siMbok menelponku, aku hanya menanggapi sekilas saja dan nggak mengingat-ingat lagi.

Dua minggu kemudian aku OL di FB dan chatingan dengan tetangga depan rumah waktu di Purworejo, tetangga depan rumahku yang sekarang rumah itu sudah menjadi hutan kembali karena semua anak-anak sudah merantau ke Jakarta, rumah itu tidak ada yang menghuini lagi dan akhirnya runtuh dimakan usia, tinggal tembok sekeliling rumah yang masih tersisa, lalu tetanggaku tadi menanyakan kabar siMbok dan berada dimana.

Karena aku nggak tahu siMbok ada dimana maka aku menelponya,,ah, ternyata siMbok ada di Jakarta sudah dua minggu, selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku  hingga lupa bahwa siMbok berada di Jakarta, juga lupa untuk maen ke rumah kakak di Jaktim sekaligus bertemu siMbok,padahal aku setiap Jumat sore nglewati rumah kakak.

Aku  kadang lupa sama siMbok, lupa nelpon, lupa untuk menanya kabar,karena kalau siMbok baik baik saja, itu tidak jadi masalah, tapi kalau siMbok sedang sakit kami juga selalu memantau dari jauh,namun sewaktu siMbok sakit parah saya bawa ke Jakarta saja karena di Purworejo nggak ada yang merawat atau nunggui,pernah sampai sembilan bulan baru bisa sembuh normal dari sakit lambung yang kelebihan zat asam.

Kita kadang lupa dengan orang tua di kampung karena kesibukan kita masing-masing di rantau, tapi kita tak boleh melupakannya.

Pangapurane yo Mbok, aku kadang lali karo riko,,tapi aku ora nglalekake riko kok Mbok..

Salam

Slamet Darmaji,02 Agustus 2012

Category: blog, Tags: | posted by:slamet_darmaji


4 Responses to “Lali SiMbok”

  1. mas adjie says:

    dear mas darmaji.. kasih ibu sepanjang jalan, sedang kasih kita hanya sepanjang galah, memang kadang krn kesibukan kita lupa pd simbok kita.. meskipun sekedar menyapa lewat telepon. saya juga mengalami hal spt anda … terima kasih pepelingnya mas…

  2. Mr. GUN'S says:

    Kadang qt lupa akan kasih mereka. Mereka rela menjual tanah & hartanya untuk qt yang disayangi. Namun?? kadang qt melupakannya. Dia selu beroa untuk kita.Kawan,,, ia sedang rindu denganmu, dia butuh bantuanmu, kapan terakhir namanya kau sebut dalam doamu?? salam lare kutoarjo.

  3. Untungsubagio says:

    Mas Darmaji….kalo menurut saya panjenengan ora lali…tetapi karena di Jkt ini orang pada sibuk nggolek pangan, jadi kadang ora kepikir, lha nanti pada saat kita santai lalu kepikir…o iya durung kirim duit nggo simbok..atau ooo..belum telpun simbok, jadi sejatine anak itu tidak akan pernah lupa sama wong tuo mas. Hal tsb hampir dialami oleh banyak orang yg ada di perantauan…kalo saya sebagai anak kepengin orang tua itu tak sanding di Jkt mas..dengan maksud kalo kita pulang dari glidik, ada simbok dirumah, trus sebagai anak kepengin bekti karo wong tuo,istilahe kepengin opo tak turuti sebatas saya mampu…ning simbok saya itu nggak pernah mau, jawabane..”emoh di jkt, ben nang ndeso wae penak iso ngurusi pitike, nek nang jkt ra betah panas” matur suwun Mas..tulisan panjenengan menarik

  4. Nggih,, monggo-monggo pinarak sedoyo mawon,,kampir teng Blogg niki,,sukur2 kerso ngramekaken,,kulo namung namabah-nambahi mawon,,mugi tambah regeng suasananipun,,maturnuwun

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net