TRADISI “ZIARAH” LAUT SELATAN

  17 - Aug - 2012 -   Mbah Suro -   10 Comments »

Pantai Ketawang sejak jaman dulu sudah banyak dikenal orang khususnya masyarakat Kabupaten Purworejo, apalagi saat perayaan Idul Fitri, banyak orang tua, anak-anak remaja bahkan balita mengunjungi pantai tersebut untuk rekreasi setelah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan.

Saya masih teringat pada tahun 60 an, saya dan kakak serta Mbah Putri selalu mengajak saya dan kakak saya untuk pergi ke Pantai Ketawang pada hari kedua setelah Lebaran dengan berjalan kaki dari Wingko, Piyono, Seboropasar, Secang, Tanjung (Siwatu), Pasar Grabag dan menelusuri jalan raya kearah kepantai Ketawang. Pergi kepantai Ketawang bukan sekedar untuk rekreasi, tetapi ada maksud untuk “ziarah” kelaut selatan. Sebelum sampai kebibir pantai sudah tampak banyak berjejer penjual makanan dan penjual kembang sebagai sarana untuk sesaji.

Setelah sampai kepinggir laut, saya dan simbah Putri menggali pasir sedalam kurang lebih satu lutut dan meletakkan kembang sesaji dengan berharap kalau ada gelombang yang cukup besar lubang yang kami gali bisa terisi air laut. Ternyata benar setelah beberapa saat menunggu ada gelombang yang cukup besar, galian kami terisi air laut dan simbah putri menyuruh kami semua untuk cuci muka dan cuci kaki agar kami mendapat keselamatan dan berkah katanya. Kami hanya menurut saja apa yang diperintahkan Mbah Putri.

Kebiasaan ini kami jalani dari tahun ketahun selama Mbah Putri masih sugeng, kami tidak berani menanyakan apa makna dari ritual tersebut apalagi protes, justru kami merasa senang setiap tahun diajak Simbah Putri untuk melakukan semacam ziarah kelaut selatan sambil plesir.

Dengan perkembangan jaman dan semakin majunya peradaban manusia, acara ritual tersebut lama kelamaan mulai ditinggalkan dan hilang bagai ditelan bumi. Pantai Ketawang sekarang berubah menjadi tempat rekreasi, dahulu orang pergi kelaut selatan hanya pada saat Lebaran, sekarang sudah berbeda. Setiap hari minggu pantai Ketawang dipenuhi pengunjung layaknya tempat rekreasi pantai. Tidak hanya pantai Ketawang saja, pantai Keburuan, pantai Jatimalang dan pantai Congot menjadi tujuan wisata setiap hari minggu. Sampai tahun 70 an tidak satupun perahu berani mengarungi laut selatan, tapi saat ini sepanjang pantai selatan Purworejo sudah banyak perahu penangkap ikan, walau kadang tidak dapat melaut karena adanya musim angin barat. Saat liburan panjang jalan menuju pantai Ketawang atau Jatimalang sudah terjadi kemacetan lalu lintas layaknya Jakarta.

Dipantai Jatimalang anda tak usah khawatir untuk mencari kuliner, sampai menjelang malampun hidangan seafood tetap buka, sayang harganya hampir-hampir sama dengan hidangan seafood Jakarta. Demikian tadi sekedar kenangan masa kanak-kanak saya dalam mengukuti “ziarah” laut selatan bersama Mbah Putri.

Akhirnya saya dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H dan Mohon maaf lahir dan bathin. Wasalam Mbah Suro……

Category: blog, Tags: , | posted by:Mbah Suro


10 Responses to “TRADISI “ZIARAH” LAUT SELATAN”

  1. gunarso ts says:

    Mbah Suro, saya baru tahu bahwa dulu ada juga sejumlah warga yang melakukan ritual dan sesaji di pantai Ketawang. Yang saya tahu, anak-anak remaja setiap Lebaran berbondong-bondong ke sini untuk ndelok segara. Pulangnya nanti selalu membawa kembang srengenge yang ditaruh di setang sepeda masing-masing.
    Sejak kecil aku kepengin bisa melihat Ketawang, tapi dilarang bapak simbok, takut disaut alunatau digawa Nyai Rara Kidul. Baru setelah usia remaja, tahun 1968 saya bisa ke pantai Ketawang bersama teman-teman.Hanya sekali itu saja. (gts)

    • Mbah Suro says:

      Itulah sepenggal kenangan bersama Mbah Putri, dengan berjalan kaki sejauh lebih kurang 15 km tanpa alas kaki. Bekal yang kami bawa : nasi dengan lauk iwak pitik dan minuman air teh diwadahi gendhul warna hijau tua.
      Kembang srengenge, kiyengking (yuyu) dan komang” (semacam siput) merupakan oleh” dan bukti dari nonton segoro di Ketawang.
      Tahun 2008 yang lalu saya ingin bernostalgia lebaran ke pantai Ketawang tidak kesampaian, karena terjebak macet di perempatan Ketawang dengan jalan Daendeles hampir 2 jam mandeg jegedeg sampai menjelang magrib.

  2. widibintoro says:

    Mbah Suro mohon ma’af lahir bathin, jaman dahulu bukit-bukit pasir di Pantai Ketawang cukup bagus dan ditumbuhi tumbuhan pantai seperti kembang srengenge dll, tetapi sayang semenjak ada tambang pasir besi bukit-bukit pasir itu pun ikut hilang. Saat ini, saya sendiri jarang ke Ketawang dan lebih memilih ke Pantai Kaburuhan, bisa sembari membeli ikan dengan harga relatife murah ketika perahu sedang mendarat atau ke Jatimalang tinggal pilih dan makan, harganya memang hampir sama dengan sea food di Jakarta. Pengalaman pertama ke Ketawang tahun 80 an, dibonceng sepeda sama Bapak pakai sepeda onthel kayaknya kok jauuuh ya pantat sampai semutan. Terus di Pasar Grabag ada “Operasi Peneng Sepeda” (pajak sepeda). Kalau sepedanya tidak berpeneng disuruh beli peneng meskipun harus diwarnai perang mulut dulu, karena peneng sering hilang walaupun sudah ditempel di tempat tersembunyi. Di Ketawang makanan favorit saat itu Kupat Tahu, minumnya Es Cincau (gulane pake Tares Abang Banget mungkin itu yang disebut Rodamin he..he) rasane ya suegerrr. Pulang ireng thuwek karena kejemur dan dus-dusan seharian, baju dan badan penuh pasir, oleh-olehe selain Kembang Srengenge seperti cerita Pak Gun, juga undur-undur (kyutuk) sampai rumah di goreng, warnannya kaya udang goreng, rasane enak tetapi kalau kebanyakan ngometi. Salam

  3. Mbah Suro,,maaf kalau dari tempat saya Bagelen ngalor,pantai ketawang tak terlalu dikenal karena jauhnya dan transportasi dulu masih sulit, yang terkenal dan setiap tahun kami kunjungi waktu lebaran kedua/H+2 adalah Pantai Congot, karena kalau naik mobil sekali dari bagelen selanjutnya jalan kaki atau naik dokar sampai pantai congot, sekarang setelah jembatan penyebrangan yang menghubungkan Krendetan dan Purwodadi sudah jadi maka wisata pantai pindah ke Jatimalang yang lebih dekat dan disana bisa menikmati kuliner hidangan laut yang masih segar,,,Nuwun

  4. mas adjie says:

    bener mas Darmaji.. setelah ada jembatan baru antara krendetan purwodadi jadi cepat jika mau ke purwodadi dst.. (kebetulan mertua rumahnya krendetan). lebaran kemarin H+3 main ke Pantai jatimalang nggak kesampaian, macetnya luar biasa..!! baru masuk dari jln daendels, antrian mobil dan motor yg rata2 plat “B” dawane ora nggejamak… akhirnya gak sabar puter balik ke arah pantai congot…. hadeuh….

    • suwarto says:

      AKU WIS KAPOK MULIH PAS LEBARAN SOALE MACET NANG NDALAN TAK TAHAN LAH YAO ?

    • Walah,,ngoten to Mas Ajie,jatimalang niku macet?? benerjuga karena saya lihat parkirane terlalu sempit pas jalan masuk ada jembatan juga sempit,,tidak seperti congot lebih luas ngenthak-enthak, saya kemaren pulang Purworejo nggak mampir jatimalang,,cuma ke pasar Krendetan Hari Rebo Pagi ( Hari Pasaran ) nyari ikan gabus nggak dapat,dapete cm gebleg sak entheng Rp.10,000,terus ngulon pasar Purwodadi tutup ( nggak pasaran ) terus ngalor ke pasar Jenar juga ikan gabus nggak dapet,,banyakan ikannya lele dumbo,wis bosen,,akhire cuma beli kembang di depan pasar Jenar buat nyekar kuburan Bapak,dan pulangya muter lewat Pendowo, ngidul Bagelen,ngalor,sampai di rumah lagi, makan gebleg,,,Nuwun

  5. mas adjie says:

    mas Darmaji… kemarin setelah lebaran, saya juga nganter istri sm mertua ke pasar krendetan pas hari Rabu (pasaran)sekitar jam 10an, spt biasa sing dituju “sego penek”, kupat tahu, bubur sumsum dll…. saat itu pasar ramainya bukan main, dan rata2 pembeli juga wong sing do mudik…. tentunya utk wisata kuliner di pasar krendetan….. (jangan2 kita bareng mas Dar ning do ra tepang… hehehe..)

  6. Mas Ajie,,saya di pasar Krendetan jam 7an,parkirane sempit bareng tukang dodol pitek sama ankot ngetem paling kidul,,stiker Blogger Purworejo klo pasang samping kiri-kanan-belakang,,tukang dodol penek saking larisnya,sampek ra ketok bokonge,hehe,,,,saya cuman ndomblong ngeliatin,, dagangane buanyak banget,tp sy nggak tumbas,,hehe

  7. As.ww,
    Hai sobat wong Kutoarjo lan Purworejo,salam sejahtera semua.Kami dari Putro Rodo Tjokrowidjoyo mau kenalan sekalian mau ngelacak keturunan yg ada di sana,katanya romo ku dari wilayah sana dan karuhun ku ada di Makam Pekutan,katanya lagi uyutku namanya Imam Dzuriat dan uyut yg lainnya bernama Mbah Sriwati istri Bupati Kuto arjo,dan uyut Joyo Sindergo putranya Eyang Tambak buaya dari wilayah Kutoarjo.
    Barangkali ada yang tau mohon di sambungkan ya.Ngatur nuwon.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Blogger Purworejo

28 - Aug - 2007 | meds | 6 Comments »

Hamil dan Resikonya ( Bayi di bawa makluk Halus )

25 - Mar - 2014 | slamet_darmaji | 4 Comments »

Gagal panen gara-gara tikus

30 - Oct - 2013 | Adi Degreen | 6 Comments »

Jaman Sekolah nang nDesa

28 - Jan - 2015 | slamet_darmaji | 11 Comments »

PEMILIHAN LURAH

13 - Apr - 2013 | massito | 23 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net