Mengejar harapan dari tanah Bagelen hingga Banyuwangi

  8 - Aug - 2012 -   prigel_landwb -   11 Comments »
foto ofMengejar harapan dari tanah Bagelen hingga Banyuwangi

Cerita ini diawali dari jaman sebelum kedatangan Jepang. Diantara anak-anak Kerto Diwiryo, kakak beradik Rakhiman dan Rakhijan melakukan perjalanan mbarang kesenian rebana/terbangan hingga ke pulau Bali untuk memperbaiki nasib. Keluarga Diwiryo hanyalah keluarga petani sederhana, dan setiap hari harus menghidupi keluarga dengan enam anak Abdul Kadir, Karto, Rakhiman, Rakhijan, Tanirejo dan Tinem. dalam perjalanan pulang dari pulau Bali kedua kakak beradik tersebut truko/babat alas di daerah Banyuwangi tepatnya di Dusun Gumbolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Disinilah akhirnya sebagian besar anggota keluarga Trah Kerto Diwiryo tinggal hingga saat ini. Hanya Tanirejo dan Tinem yang memilih tetap tinggal di Purworejo.


Silsilah Keluarga Trah Kerto Diwiryo, dengan background Rumah Keluarga Pakde Sumadi di Gumbolo.

Setelah kakak beradik tersebut berhasil dalam memulai kehidupan di Banyuwangi beberapa saudara mereka akhirnya menyusul ke Banyuwangi. Namun yang saat in masih sugeng di Banyuwangi adalah generasi kedua. Antara lain Par dan Tinah dari keluarga Abdul Kadir tinggal di Bangorejo. Panut/Pendit, Paiman, Langgeng dan Endang dari keluarga Kerot tinggal di Purwoharjo. Tjahjo, Keman, Sania dan Sumadi dari keluarga Rakhiman tinggal di Gumbolo. Keluarga dari Rakhijan juga tinggal di Gumbolo.

Keluarga Tanirejo hanya mempunyai satu orang anak bernama Maniso/Kasiyo (alm. tentara berpangkat letnan dahulu tinggal di Jl. Ksatrian No.41 tepatnya di depan SD Tamtama, Malang. Beliau mempunyai dua orang anak angkat bernama Tuti dan Tri.

Sedangkan keluarga dari anak terakhir/ragil dan merupakan perempuan satu-satunya bernama Tinem bersuamikan Atmo Taruno mempunyai anak tunggal laki-laki bernama Saliman@Sumarto, memilih untuk menetap di Desa Prigelan, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo.

Upaya-upaya “Nguripake Obor” Yang Hampir Padam antara Keluarga di Bagelen/Purworejo dan Banyuwangi

Meskipun keluarga Trah Kerto Diwiryo dipisahkan jarak yang cukup jauh antara Purworejo/Bagelen-Banyuwangi, Namun ikatan keluarga mendorong mereka untuk menjalin kembali tali silaturahmi. Pada saat itu (tahun 1942-1943) jarak tempuh Bagelen/Purworejo Banyuwangi membutuhkan waktu 3 hari tiga malam dengan menggunakan Kereta Api Bumel/Truthuk (sekarang cukup satu hari dengan kereta api maupun bus).

Sekitar pertengahan tahun 1942 Mbah Rakhiman bersama dengan anaknya Pakde Mangil (Tentara AD) pulang ke Desa Ngampel untuk mengurus tanah tinggalan dari Mbah Kerto Diwiryo sekaligus mencari saudaranya ke Bagelen/Purworejo, dan tinggal beberapa hari di Desa Prigelan, Kec. Pituruh, Kab. Purworejo tepatnya di rumah Mbah Tinem. Mereka mengajak keluarga Mbah Tinem untuk bersama-sama pergi ke Banyuwangi guna mencari penghidupan yang lebih baik sepeninggal Alm. Mbah Atmo Taruno pada 1939.

Pada tahun 1943 akhirnya keluarga Mbah Tinem dijemput Mustar (berasal dari Desa Ngampel meninggal di Sidoarjo) tetangga di Banyuwangi yang disuruh Mbah Rakhijan untuk menjemput dan membawa Mbah Tinem dan anaknya, Saliman@Sumarto (bapak saya) ke Banyuwangi.

Terdapat kisah menarik dalam perjalanan tersebut. mereka bertiga (Mbah Tinem, Saliman dan Mustar) dengan tekad yang bulat pergi ke Banyuwangi. Dari Desa Prigelan mereka naik dokar ke Stasiun Kutoarjo. Kereta api berbahan bakar kayu (sepur truthuk/bumel) berjalan perlahan dari Stasiun Kutoarjo menuju Yogyakarta selama hampir 5 jam, kereta akan melanjutkan perjalanan hari berikutnya ke Madiun. Yogyakarta-Madiun ditempuh selama satu hari. Keesokan harinya kereta api Madiun-Surabaya juga butuh waktu satu hari. Selanjutnya kereta akan melanjutkan perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi di hari berikutnya.

Keesokan harinya, sambil menunggu perjalanan kereta api dari Surabaya ke Banyuwangi mereka bertiga beristirahat, dan memutuskan untuk menaiki kereta menjelang kereta berangkat. Namun naas menimpa mereka, Mustard dan Saliman lebih dahulu naik ke atas kereta. Ketika Kereta mulai bergerak, kondisi Mbah Tinem yang sudah sepuh dan menderita rabun tidak bisa mengalahkan laju kereta walau masih perlahan, ya Mbah Tinem hanya bisa berteriak-teriak memanggil Saliman sambil menangis….kereta api berjalan semakin cepat. Akhirnya Saliman mengalah dan meloncat dari kereta demi Sang Ibu yang tertinggal, mereka berdua hanya bisa menangis bingung (Saliman masih berumur +10 th). Atas kebaikan pegawai PJKA, mereka berdua akhirnya dicarikan penginapan dekat stasiun gubeng, dan menunggu kereta selanjutnya yang akan berangkat keesokan harinya. Mereka merasa lega karena diberitahu bahwa karcis masih berlaku untuk 3 hari kedepan. Sementara itu di Banyuwangi geger karena Mustar tiba di Banyuwangi sendirian, dan membawa berita bahwa Mbah Tinem dan Saliman masih tertingal di Surabaya.

Dua hari kemudian Saliman dan Mbah Tinem tiba di Banyuwangi, turun di stail/stasiun Genteng perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Saliman ingat pesan Mustar, agar dari stail naik dokar menuju Gambiran dan turun Jajag. Apa mau dikata sangu sudah habis. Dalam keadaan bingung, karena baru pertama kali ke Banyuwangi, sambil menangis Saliman dan Mbah Tinem berjalan menyusur kanal dari Genteng ke Gumbolo, tentunya sambil menahan lapar dan haus. Ditengah perjalanan di pinggir kanal antara Jajag-Gumbolo bertemu dengan Mbah Ganteng penjual bumbu dapur, tetangga Mbah Rakhijan. Mbah Ganteng memanggil Saliman mengelus-elus kepala Saliman. Rupanya kondisi baju dan celana Saliman yang kumal dan bolong-bolong terkena percikan bara api dari kereta Api Bumel, berdampak pada tanggapnya Mbah Ganteng dengan apa yang beliau amati, dan bertanya untuk memastikan bahwa ibu dan anak tersebut adalah Saliman dan Mbah Tinem yang diberitakan tertinggal di Surabaya. Dengan rasa senang mereka berdua diantar Mbah Ganteng, ibu dan anak tersebut akhirnya tiba untuk bertemu dengan keluarga di Gumbolo. Tangis haru mengiringi berkumpulnya mereka dengan sanak keluarga Gumbolo. Mereka berdua tinggal bersama keluarga Mbah Rakhiman. Selama kurang lebih satu tahun, sebagai seorang anak Saliman merasa kerasan, karena mempunyai teman sepermainan bernama (pakde) Tjahyo, (pakde) Keman, (budhe) Sania (masih anak-anak memakai jarit dari selendang)…. mungkin suasanannya seperti anak-anak jaman dahulu yang sering kita tonton di film-film….., serta (pakde) Sumadi (masih kecil belajar merangkak).

Mereka bertiga (Saliman, Tjahyo, Keman) sering pergi ke Pasar Jajag membeli sate/jajan, naik sepeda ke Kota Banyuwangi bersama-sama. Bahkan kalau makan, lauknya sebutir telur ayam digoreng dan dibagi bertiga. Setiap sore mereka juga bersama-sama menggembalakan kerbau milik Mbah Rakhiman hingga ke perbatasan Bangoredjo di sepanjang pinggir kanal.


Tiga Serangkai Saliman (Bapak Saya), Pakdhe Tjahjo dan Pakdhe Keman

Tidak terasa waktu terus berjalan Mbah Tinem dan Saliman akhirnya diminta untuk tinggal di Banyuwangi, dan akan dibuatkan rumah oleh Mbah Rakhijan. Namun Mbah Tinem lebih memilih kembali ke Purworejo, mengingat masih adanya tanah dan sawah tinggalan di Desa Ngampel dan Prigelan. Sekitar bulan September 1945, Mbah Rakhijan memberi tahu jika memang Mbah Tinem dan Saliman tidak berminat tinggal di Banyuwangi saat ini waktu yang tepat karena Indonesia sudah merdeka beliau berkata,

“ Ya wis, nek kowe sak kloron ora gelem dadi wong Banyuwangi lan arep mulih Bagelen. Saiki, ndang menyango, ngertio yen negaramu saiki wis merdeka ( 17 Agustus 1945)”.

Nampaknya pada jaman dahulu Bagelen lebih dikenal daripada istilah Purworejo, dan setiap saya menelepon ke Banyuwangi hingga sekarang akan menyebut “ O…kowe le…keluarga Bagelen piye khabare…”

Akhirnya Saliman dan Ibunya, Mbah Tinem kembali ke Purworejo yang telah ditinggalkannya selama 2 tahun 1943 s.d 1945. Dengan diantar Mbah Rakhijan dan Rakhiman, Mbah Tinem dan Saliman berjalan kaki menuju Stail Genteng kurang lebih 10 km untuk kembali naik kereta api pulang ke Purworejo. Saliman kembali dan menikah di Purworejo dikaruniai tujuh anak termasuk saya yang terakhir.
Setelah itu hubungan Purworejo-Banyuwangi kembali hangat lagi dengan adanya saling kunjung keluarga dari kedua belah pihak. Kunjungan Pakde Paiman dengan anaknya, Mbak Nur, tahun 2006 terkait dengan pertemuan wisuda anak kedua di STP Jakarta, dibalas kunjungan Bapak/Saliman dan saya ke Banyuwangi tahun 2006. Kunjungan ini pun ada kisahnya, kurang lebih pukul 04.00 wib, kami turun di terminal Jajag, ndilalah Bapak lupa setelah lama tidak ke Banyuwangi (1974-2006) Bapak bilang “Aku bingung kok jajag dadi rame kaya ngene?”. Kami naik becak, seharusnya yang dituju Gumbolo Kulon tapi Bapak ingatnya Gumbolo Wetan. Tukang becaknya tidak mengenal nama-nama keluarga yang Bapak sebut. Berhubung masih sepi, kami hanya menunggu di Mushola, menunggu datangnya Subuh. Untungnya ada dua pemuda Gumbolo Wetan yang lek-lekan malam satu suro. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, saya meminta tolong untuk mengantar kami ke Purwoharjo. Dengan bermodal pendekatan sebatang rokok dan sekedar untuk mengganti bensi kami berdua dibonceng motor (pkl. 04.20 pagi) sempat ragu juga karena belum kenal medan. Pukul 04.45 WIB kami tiba di Purwoharjo dan bertemu dengan Keluarga Pakde Paiman.


Pak Dhe (Alm) dan Budhe Sania biar sudah sepuh ! lihatlah….kesetiaan dan cintanya….benar-benar abadi sampai kake ninen……(BWI 2010)

Harapan saya semoga hubungan silaturahmi antara Trah Kerto Diwiryo tetap terjaga, tidak akan lekang terlindas jaman dan terpisah jarak. Jaman boleh berubah, jarak boleh jauh namun silaturahmi keluarga tetap dekat. AJA NGANTI KEPATEN OBOR….

Dengan melihat perjuangan keluarga pendahulu kita, bagaimana pengorbanannya, usahanya, dan suka dukanya yang kesemuanya dilakukan demi bertemu dan membantu keluarga untuk bisa hidup lebih baik. Kita selayaknya banyak belajar banyak dari beliau-beliau.

Akhirnya saya mohon ma’af bila ada salah kata dalam coretan saya ini. Karena kisah ini berdasarkan cerita bapak saya sendiri yang bernama Saliman@Sumarto. Mungkin masih ada anggota keluarga Trah Kerto Diwiryo yang belum tercantum, Saya masih berusaha untuk menelusuri. Saya sengaja tidak mencantumkan sebutan mbah atau pakde atau budhe dalam awal cerita tersebut semata-mata hanya untuk menggambarkan bagaimana alur cerita berjalan, nyuwun pangapunten dumateng keluarga Banyuwangi, dan diluar cerita tetap memanggil dengan sebutan pakde, budhe, mas maupun mbak dan tetap menyayangi semua. Saya senantiasa mendoakan keluarga yang telah terlebih dahulu dipanggil Yang Mahakuasa dan tidak sempat mengenal wajah maupun suara beliau, semoga mendapat tempat yang layak disisi- NYA. Amin, Matur Nuwun. WB

**admin: Kagem Mas Widhi. Mohon maaf baru saya upload, saya lupa.

Category: cerita, Tags: | posted by:prigel_landwb


11 Responses to “Mengejar harapan dari tanah Bagelen hingga Banyuwangi”

  1. Jadi terharu melihat kakek2 dan nenek2, yang masih setia hingga akhir hayat,,semoga aku nanti juga akan seperti mereka,,tetap hidup dengan penuh kesetiaan,,..Nuwun

  2. Ngapunten kulo ngopi fotonipun Mas,,Nuwun

    • widibintoro says:

      Matur nuwun tanggapannya Pak Slamet, Pak Dhe sudah meninggal 2 th yang lalu dalam usia 110 tahun. Karena usia tua walaupun sudah seusia itu masih bisa mendengar dengan jelas siapa yang diajak bicara. Lahir di wilayah Bener, Purworejo. Besar di pesantren Jawa Timur, menetap di Banyuwangi. Untuk copy foto tsb saya persilahkan…jarang lo yang setia ketika seseorang sudah dalam keadaan payah/susah sudah semoga menjadi contoh ya. Nuwun. Widi B.

  3. mas adjie says:

    Kesetiaan dan kegigihan yang sangat luar biasa, memang seperti yg saya dengan dari cerita orang tua maupun dari media cetak/elektronik, bahwa semangat dan kegigihan warga Bagelen terutama jaman dahulu patut mendapat acungan jempol. seperti yg saya baca di bahwa perintis babat alas transmigrasi jaman belanda di lampung adalah Warga Bagelen Purworejo, hal ini menjadi kajian/cerita yg sangat menarik…

    • widibintoro says:

      Mas Adjie, saya sependapat dengan Mas Adjie, memang orang Bagelen terkenal ulet dan pekerja keras, makanya banyak juga putra Purworejo yang sukses dan menjadi orang penting di mana-mana. Kalau mendengar ceritanya ketika pertama membuka lahan di Banyuwangi, saya yakin kalau orangnya tidak mumpuni pasti tidak sanggup, bagi pendatang saat itu “gangguannya” luar biasa. Nuwun

  4. widibintoro says:

    Saya sependapat dengan Mas Adjie, memang orang Bagelen sudah terkenal tangguh dari Jaman Dahulu. Katanya Pasukan Khusus Mataram banyak dari Bagelen (mungkin karena terkenal setia dan Gigih itu). Cerita ketika pertama kali babat alas di Banyuwangi tidak mudah, gangguan dari warga lokal maupun warga “lokal” yang nggak kelihatan juga kuat. Kalau orang biasa belum tentu sanggup. Walaupun saya kurang begitu tertarik dengan yang klenik-klenik sampai saat ini di Banyuwangi masih ada saja, hal-hal yang aneh dan diluar nalar. Nuwun

    • slamet wijadi says:

      Mas Widi, foto ini sungguh menyentuh dan menakjubkan, apalagi mengetahui bahwa Pak De mencapai usia 110 tahun, bisa masuk Musium Muri sebagai orang Indonesia dengan usia terpanjang, tentunya harus disertai bukti/catatan atau peristiwa yang mendukung, kalau saksi, terang sudah tidak ada. Kalau untuk record dunia yang terpanjang, katanya, 123 tahun. Memang menurut ilmu biologi, manusia itu di design untuk mencapai usia 120 tahun. Di Indonesia sampai 90 tahun saja sudah hebat, usia harapan rata2 orang Indonesia masih dibawah 70 tahun. Pak De ini hebatnya inderanya masih berfungsi dan masih punya pasangan (sambungan?). Pokoknya saya kagum, semoga bisa nular pada orang2 muda sekarang yang hidupnya penuh macet dan stressss. Salam,

  5. widibintoro says:

    Pak Wik, matur nuwun tanggapannya, semoga kita juga bisa panjang dan banyak amal tentunya. Saksinya memang sudah tidak ada, itu karena dihitung dari selisihnya usia Bu Dhe. Saya hanya bisa mendoakan saja karena beliau sudah meninggal. Saya juga kagum atas kesetian Bu Dhe yang dengan sabarnya, tidak ada keluhan untuk merawat Pak Dhe bagaimanapun kondisinya. Salam

  6. ubed says:

    Saya sering sekali menerima pertanyaan ini, “apa rahasianya pak ubed??”… lagi… dan lagi… dan lagi… dan lagi… dan lagi…

    Sebenarnya apa yang mereka tanyakan tidak salah, karena dibalik kesuksesan seseorang pasti ada rahasianya… pasti ada sesuatu yang kita tidak tahu atau tidak jelas.

    Duduk manis dan tarik nafas anda dalam-dalam, karena sebentar lagi akan saya beberkan apa rahasianya… tenang, saya bukan orang yang pelit ilmu ;-)

    Tapi sebelumnya saya ingin mengingatkan kembali…www.mudakaya.com

  7. Eva Rohayani says:

    Jadi terharu nich baca artikelnya om widi,,, apa lagi liat foto mbah putri dan mbah akong jadi ikut terbawa suasana ^_^ dengan baca artikelnya om widi saya jadi semakin tahu silsilah keluarga, saya eva cucu dari bude saniyah om,,, anak dari Samudji – Bali,, saya pernah bertemu om widi kalo ndak salah 2 kali,,, pertama waktu om widi sama mbah saliman maen ke banyuwangi, sama waktu eva ke jakarta sama bapak nginep di rumahnya bude rusidah,,, masih inget gk om hehehehe,,,, salam ya om buat keluarga di bagelen,,,

    • widibintoro says:

      Ya Eva masih ingat saya, bagaimana khabar, kebetulan saya lagi disuruh main ke tempatnya Om Obama he..he..lumayan satu bulan bolak-balik New York-Washington DC. Saya sduah coba hubungi klg BWi via Telpon Mbok De tapi susah conect. Ya salam sama keluarga di BWI ya. Wassalam. Tks

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

RAHASIA SI UNTUNG

6 - Feb - 2010 | sugeng Ikasapala | 4 Comments »

Perjuangan Sang “Pahlawan Devisa” di negeri jiran, TKI di Brunei Darussalam (Bag I)

2 - Feb - 2010 | meds | 3 Comments »

Warnet pelosok & Firefox

18 - Mar - 2008 | indra | 3 Comments »

Dunia hantu orang Jawa

20 - Jul - 2011 | meds | 12 Comments »

DILEMA NASIONALISME

4 - Jul - 2009 | eko_juli | 6 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net