Masa Indah di Sekolah

  16 - Jul - 2012 -   slamet_darmaji -   16 Comments »

Masa indah di sekolah masing-masing kita berbeda, dan mengapa dikatakan indah ?, karena pada masa itu kita belum banyak mempunyai beban dan tanggung jawab sebagaimana orang tua yang sudah mempunyai keluarga atau sebagai tulang punggung keluarga dan entah apa peran kita di dalamnya,kita hanya memikirkan kesenangan diri kita sendiri, di masa itu biasanya masa puber pertama bagi laki-laki maupun perempuan sebayanya.

Masa indahku sendiri ketika aku masih duduk di bangku sekolah SMP di Soka, Bagelen, Purworejo, ketika pertama mengenal naksir sama teman perempuan, di sini aku akan bercerita tentang masa itu.

Gadis pujaan itu terlalu cantik buatku,semua temanku ingin menjadi pacarnya termasuk juga aku, namun bagiku ” Bagaikan pungguk merindukan Bulan”, dan aku harus memendamnya dalam-dalam rasa itu, hingga kini dan entah sampai kapan, dia berbeda kelas denganku.

Satu ketika aku naksir sama tamanku satu kelas sebut saja Sun, namun karena masih malu malu jadi dalam menyampaikan pun degan tersembunyi, aku menulis kata “I Love You” di sebuak kapur tulis yang masih utuh dengan tinta dan aku letakan di meja temanku Sun yang aku taksir itu, namun karena ia duduk berdua dengan Ati, maka tulisan itu dibaca oleh kedua temanku yang satu bangku, mereka bingung siapakah yang dituju dan siapa yang menulisnya,tak lama mereka tahu bahwa aku yang menulisnya, aku bertujuan ke salah satu dari mereka yaitu Sun.

Tak lama kemudian ketika masuk semester akhir ada kebijakan dari guru karena didalam kelas selalu gaduh, diputuskan bahwa antara laki laki dan perepuan di kelasku akan dilakukan tukar tempat duduk, yang mana laki laki akan bersebelahan satu bangku dengan perempuan, maka dilakukan lotre, yang di lotre adalah nama para perempuan, bagi laki laki yang mengambil lotre dan mendapatkan nama seorang perempuan temanya, maka dia akan duduk satu bangku.

Aku mengambil lotre, kertas kecil yang digulung itu aku buka dan keluar adalah nama Ati,, ah,,,, tulisanku di batu kapur itu, ternyata Ati yang  jadi teman satu bangku denganku.

Mula mula kami sama sama canggung dan malu, namun lama kelamaan kami mulai ngobrol dan bercanda, kata sederhana sebagai anak muda yang masih ingusan, di dalam canda tidak berebihan, kami biasa saja bercanda dan obrolan pun nggak banyak, ketika ada ulangan dia begitu rapat menutupi jawabanya takut akau akan menconteknya, tapi semua tidaklah masalah memang aku juga nggak mau mencontek.

Akumerasa suka atau naksir kepada Sun teman sebangku Ati sebelum ia sebangku denganku, namun akau tak punya keberanian untuk mengungkapkannya dan sampai sekarang rasa itu tetap terpendam dan tak pernah tersampaikan.

Satu ketika aku dipanggil papi oleh salah satu teman perempuanku yang lain sebut saja Ras, yang sudah biasa berpacaran dan dia juga pacar temanku sekelas, aku nggak mengerti apa yang dia maksut dengan panggilan Papi,  aku pikir dia mungkin suka sama aku, tapi setelah aku berfikir lagi ternyata aku sebagai bahan pelampiasan saja kareana dia sedang tidak baik hubunganya dengan pacarnya, namun aku takambil pusing atas semuanya, karena kami tidak saling pacaran.

Hari hari berlalu begitu cepat dan tak tersasa ujian sudah usai, setelah lulusan kami pun semua berpisah dan saling tak bekomunikasi lagi hingga kini.

Selepas SMP Aku meneruskan sekolah di STM YPP dan ambil jurusan listrik, semua temanku laki-laki dan terasa tak seindah ketika aku SMP, satu saat aku bertemu dengan teman SMP ku Pujiati yang bersekolah di SMEA Penabur, di perempatan lampu merah timur alun-alun Purworejo, Pujiati setap sore pulang sekolah berjalan dari SMEA Penabur ke prapatan Pantok untuk kemudian naik angkutan ke Soka, sedangkan aku setiap sore menunggu Bis dari terminal lama ke arah Jogja, aku di sebelah selatan lampu merah, dan Puji berjalan di sebelah utara lampu merah, namun dia menyempatkan diri menemuiku, Pujiati adalah teman akrab Ati, teman sebangku ku, ternyata dia memberikan surat kepadaku, nih dari Ati katanya, dan aku bilang trimakasih Ji.

Sesampai dirumah aku membuka surat itu, dan kata- kata pertama aku baca adalah dia tanya kabar tentangku, lalu juga tanya tentang nilai NEM EBTANAS dapat berapa, dan kata kata terakhir di surat itu yang sampai sekarang aku tak pernah lupa ialah,

“ Salam manis tak akan Habis, Salam Sayang tak akan Hilang, Jauh dimata, Dekat dihati”.

Ah,, aku tak kan pernanah menyangka bahwa dia suka atau naksir denganku saat itu, mungkin karena ‘’ Witing tresno jalaran soko kulino ’’, karena tiga tahun dalam kebersamaan dan enam bulan dalam satu bangku, setelah lulus kami berpisah begitu jauh, dia Ati, kembali kepada orang tuanya di Salatiga dan aku di Purworejo, karena aku nggak pernah dan belum bisa membuat sebuah surat pada waktu itu, maka aku tidak membalas surat itu, kini sudah 24 tahun berlalu, aku berharap akan dapat bertemu dengan Ati, walau hanya dalam dunia maya, supaya aku bisa minta maaf kepadanya bahwa aku tak pernah membalas suratnya hingga saat ini.

Maafkan aku kawan.

Salam

Slamet Darmaji 28 Juni 2012

Category: blog, Tags: | posted by:slamet_darmaji


16 Responses to “Masa Indah di Sekolah”

  1. mbah suro says:

    Pacaran jaman dulu cukup dengan surat, itupun tidak berani menyampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan, saya juga pernah mengalami, mau menyatakan cinta kepada seorang sahabat satu sekolahan kebingungan bagaimana caranya.
    Akhirnya saya menemukan akal, saya pura-pura pinjam buku catatan untuk beberapa saat dan pada waktu mengembalikan buku catatan tersebut saya selipkan “surat cinta” Akhirnya dia juga menjawab dengan cara yang sama. Itulah komunikasi cinta pada jamannya……

    • gunarso ts says:

      Mbah Suro ternyata lebih berani. Kalau saya meski naksir teman sekolah, saat di PGA Muhammadiyah Jogjakarta, hanya terpendam dalam hati. Kalau kuungkapkan, paling dalam cerpen di mana tokoh wanitanya selalu kumirip-miripkan dengannya.
      Maklum, dia kakak kelas. Tapi aku pernah bertekad, jika cari bini kelak yang seperti dia, yang seksi, cantik, putih, betis mbunting padi. Tapi ternyata nggak kesampaian, sementara gadis idolaku itu kemudian menikah dengan Ketua HMI, priode sebelum Akbar Tanjung.(gts)

    • Mbah Suro,,berarti tasih sami kalian jamane kulo 88an, surate ditaruh dalam buku catatan,,saoale saya pernah melihat teman saya yang begitu,,ning kulo waktu itu dereng wani taseh jerih dalam hal surat mnyurat,,,jadinya ya merana sendiri takter sampaikan..

      Mas Gun,,njenengan sudah kuliah ssaja nggak berani apalagi saya yang masih SMP,,tambah ndredeg,hehe

  2. Bagongkusdiharjo says:

    Kalo Lebaran gini pulang kampung..terus kelingan masa-masa dulu ketika masih cinta monyet waktu SMP atau SMA…tapi bareng ketemu cewek idaman kita dulu ternyata wis dadi Eyang putri..Pak Gun, wis podo nduwe putu…..apa ini perlu di masukkan ke kolom “Nah Ini Dia” nya Pos Kota

  3. mas adjie says:

    Wah.. sangat romantis kisah remajanya mas Darmaji nih. omong2 dulu waktu smp tahun berapa? sepertinya blm jamannya hand phone nggih mas apalagi bbm-an. gak spt anak sekarang nggih.. cilik2 cekelane wis bb,, hadeuh.. tp mungkin memang sdh jamannya nggih mas. jaman dulu media surat sangatlah suatu hal yg luar biasa. spt critne mas darmaji sebagai ungkapan rasa “katresnan” ya via “orek2an kapur”, apalagi trima surat dari si dia.. wis jan.. awak adem panas. Nah kita tunggu nih kisah2 pinisepuh kita (eyang SW, pak Gun dll) bgm kisah romantisme beliau jaman dulu.. hehehe… kito tenggo njih pak.. suwun..

  4. haryadi says:

    Romantis sekali jadi ingat masa SMA

  5. mas adjie says:

    betul mas haryadi. spt lagunya obbie mesaakh.. malu aku malu pd semut merah..dst… tiada masa paling indah.. masa2 di sekolah,,, tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah… mas darmaji, mas haryadi nanti lebaran bln agustus pada mudik ke purworejo mboten..?

  6. Mas Haryadi,,ditunggu versi cerita penjenengan,, mungkin lebih rontis,,hehe

  7. Raf says:

    Indah yaa… padahal sudah lama tapi perasaan kisah itu masih kemarin …. romatisme masa lalu memang selalu indah tuk dikenang

    NB, BP-ers kalau mudik bawa spanduk biar mudah dikenali, siapa tahu ketemu dijalanan yg lagi maceettt

    Salam,
    raf

  8. sukardi kardi says:

    Masa remaja masa yang paling indah, Masa punya teman cewek waktu di SMEP tahun 1974 walaupun sekedar pulang bareng naik sepeda beramai ramai di jalan raya ketawang.

  9. mas adjie says:

    mas Raf… menawi sticker Blogger Purworejo wonten mboten?

  10. Mas Ajie,,kira2 tahun 1989,media komunikasi waktu itu memang surat,belum ada HP,sudah berbeda jauh sama jaman sekarang,memang jaman nggak bisa dilawan,kemajuan pemikiran anak SMP jaman sekarang sanagatlah jauh berbeda,seiring kemajuan teknologi,bahkan ada yang menjadi korban kemajuan teknologi,hingga mengabaikan perilaku sopan santun,,,,mari kita tunggu kisah kisah romantis jaman dulu dari sesepoh kita,,Suwun & Salam..

  11. Mas Ajie,,Lebaran besok saya masih belum pasti, karena kalau saya ada perkerjaan shutdown electric di pabrik ban dunlop cikampek berarti lebaran hanya mengantar istri dan anak2 ke blora dan menjempunya kembali spt tahun kemaren,,tapi kalau nggak jadi ada kerjaaan di cikampek,, saya rencana Lebaran hari ke 2 pengin berada di Purworejo,,la monggo di rencanakan ketemu rekan2 BP di Purworejo,,ditunggu infonya,,nuwon..

  12. Mas Sukardi, tahun 74 saya baru lahir, denger kata SMEP dulu kata bapak saya di depan kantor pos Purwodadi itu ada sekolah SMEP, dan katanya bapak dulu pernah mengajar disana nama bapak saya, Midi Atmodidjojo, barangkali mungkin Mas Sukardi tahu?,, salam kenal,,

  13. Setuju Mas,, nanti di belakang Grobag saya tak tempelane copas dari website dan print warna mawon nggih,,

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net