LONDO IRENG PURWOREJO. Jejak Sejarah yang Terlupakan.

  1 - Jul - 2012 -   slamet wijadi -   40 Comments »
foto ofLONDO IRENG PURWOREJO.  Jejak Sejarah yang Terlupakan.
2. Serdadu Afrika “londo ireng” bersama rekannya “londo putih”, kasih hormat setelah terima bintang jasa atas jasa-jasanya dalam Perang Aceh, tahun 1875.

Ketika saya masih kecil, ditahun-tahun ‘30-an akhir, bila saya diajak menengok orang sakit di Zending/RSD Purworejo, di daerah Pangen (Juru Tengah) kami melewati sebuah kompleks sebelah timur Rumah Sakit, di sebelah kanan jalan, yang dihuni oleh “orang2 aneh”. Yang paling menyolok adalah kulit mereka yang hitam legam, “ireng-tuntheng”, sehingga bila ketawa kelihatan sederet gigi mereka yang sangat kontras dengan warna kulit mereka. Kenangan saya yang terpatri dalam memori saya tentang kompleks pemukiman itu adalah sederetan rumah-rumah gedung yang cukup bagus dengan hiasan pohon “pisang kipas” yang banyak menghias halaman depannya. Anak anak yang bermain di halaman depannya dengan penampilan mereka, sungguh merupakan pemandangan yang betul-betul ajaib dan “menakjubkan”.

 

Foto keluarga “Londo Ireng” di depan rumahnya di Purworejo sekitar thn 1922. Mereka termasuk Indo Afrika, karena ibu-ibu mereka wanita setempat seperti yang nampak pada foto tsb.

Siapa mereka ini, darimana asal-usulnya, mengapa dan bagaimana mereka bisa berada di Purworejo, sampai berkembang biak dan bermasyarakat, dan hidup dalam kompleks perkampungan di daerah Pangen itu? Dan selanjutnya, mengapa pada satu saat tiba-tiba menghilang hampir tanpa bekas, ibarat kabur terbawa angin.  Sungguh kisah yang menarik, dan berdasar atas apa yang saya baca dari kepustakaan yang ada*) dan observasi lapangan secara pribadi berikut ini adalah yang bisa diceritakan secara singkat.

Perang Diponegoro.

Bermula dari jaman Perang Diponegoro (1825-’30), Belanda “kehilangan” sekitar 8000 tentara kulit putih, baik yang gugur dalam pertempuran maupun korban penyakit tropis. Serdadu itu direkrut dari berbagai negara Eropah, khususnya Jerman, sebagai prajurit bayaran. Belanda sendiri sebagai negara kecil tidak mungkin menyediakan tentara, yang kemudian menjadi korban, sebanyak itu. Sebagai contoh, Belanda tahun 1827 ditengah-tengah berkecamuknya Perang Diponegoro, mengirim bantuan pasukan satu resimen terdiri dari 3000 orang tentara bayaran kulit putih. Dua tahun kemudian resimen tersebut tinggal 1000 orang. Itulah dahsyatnya Perang Diponegoro yang oleh Belanda dinamakan “Perang Jawa” (Java Oorlog), perang yang paling berdarah dalam sejarah perang kolonial Belanda, dalam jumlah korban, tenaga-pikiran dan keuangan Belanda.
Dengan berakhirnya Perang Diponegoro, Belanda mulai berpikir bila nanti ada peperangan lagi di daerah jajahannya, dari mana mereka merekrut pasukan, disamping mahal biayanya juga adanya pembatasan-pembatasan dari negara yang bersangkutan untuk tidak memperbolehkan warganya di rekrut sebagai serdadu bayaran.

Kedatangan Serdadu Afrika.

Gubernur Jendral waktu itu, Van den Bosch, yang kemudian dikenal juga sebagai arsitek tanam paksa Cultuur Stelsel, mengusulkan sebuah solusi dengan merekrut tentara yang berasal dari Afrika Barat dari negara-negara yang kini bernama Ghana dan Burkina Fasau. Di sana Belanda memang memiliki pos-pos perdagangan/benteng yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk maksud rekrutmen tersebut. Alasannya disamping murah, berani perang, orang Afrika dinilai lebih tahan menghadapi iklim dan penyakit di daerah tropis.

Dengan berbagai akal dan usaha, antara lain dengan membeli budak-budak dari raja setempat, 100 gulden per kepala, Belanda berhasil merekrut tentara bayaran Afrika. Pengiriman terjadi dalam beberapa gelombang: antara tahun 1831-1836, sebanyak 112 orang, tahun 1837-1841, sebanyak 2100 orang dan antara tahun 1860-1872, 800 orang. Jumlah seluruhnya lebih dari 3000 orang, seluruhnya berstatus bujangan.

Inilah kapal Belanda pertama tahun 1831 yang membawa orang Afrika ke Hindia Belanda/Purworejo.

Serdadu bayaran dari Afrika tersebut bekerja berdasar kontrak untuk 12 tahun dan dapat diperpanjang, dengan gaji 20 gulden/bulan. Gaji 20 gulden itu masih harus dipotong angsuran untuk mengembalikan ongkos “pembeliannya” yang 100 gulden. Mereka secara hukum berstatus sama dengan serdadu Belanda putih, kecuali gajinya yang hanya setengahnya. Dan untuk membedakan mereka dengan Belanda putih, mereka dinamakan Zwarte Hollanders, Belanda Hitam, atau Londo Ireng.

Serdadu Afrika “londo ireng” bersama rekannya “londo putih”, kasih hormat setelah terima bintang jasa atas jasa-jasanya dalam Perang Aceh, tahun 1875.

Mereka disebar keberbagai lokasi, Semarang, Salatiga dan Solo, namun sebagian besar ditempatkan di Garnisun Purworejo pada Tangsi Militer Kedungkebo yang baru selesai dibangun permulaan tahun 1830-an. Pembangunan tangsi besar dan penempatan serdadu hitam di Purworejo itu bukan tanpa alasan. Di daerah Bagelen ini Belanda menderita banyak kekalahan selama Perang Diponegoro dengan jatuhnya korban terbesar diantara serdadunya, sehingga diperlukan cara khusus untuk mengatasi. Tidak kurang dari 25 benteng dibangun diseluruh daerah Bagelen ( dari Kedungkebo sampai ke Petanahan/Kebumen), inilah yang mereka namakan strategi “benteng stelsel” hasil rekayasa Jendral de Kock, untuk mengepung dan mempersempit gerak pasukan Diponegoro. Yang dekat Purworejo antara lain adalah benteng Kedungkebo, Bubutan, Lengis. Ke Barat Ambal dan Petanahan. Kekuatan pasukan Diponegoro menyebar sepanjang pantai selatan Bagelen, Urut Sewu, sehingga dari dulu sejak saya masih kecil, sampai sekarang, jalan sepanjang daerah itu dikenal dengan nama Jalan Diponegoro.

Dengan selesainya Perang tahun 1830, Belanda menilai bahwa daerah Bagelen adalah daerah rawan yang memerlukan perhatian khusus, mengingat pengikut Diponegoro masih cukup banyak dan kuat. Dibangunlah tangsi militer besar di Kedungkebo yang masih bertahan kokoh sampai saat ini. Kemampuan militer Belanda untuk daerah Bagelen dengan sendirinya juga diperbesar. Penempatan serdadu kulit putih dan pribumi dalam jumlah yang besar, sekitar satu batalyon, itu belum menjamin rasa aman Belanda, sehingga dirasa perlu untuk menempatkan serdadu Afrika sebanyak tiga kompi, di garnisun Purworejo yang berlangsung dari tahun 1831-1872.

Prestasi Serdadu Afrika.

Uji coba serdadu Afrika tersebut dimulai di Lampung, Sumatra Selatan yang nampak kurang memuaskan, kemudian dalam Perang Paderi di Sumatra Barat dimana sudah nampak kelebihan orang Afrika ini, namun yang dianggap sukses oleh Belanda adalah ikut sertanya 536 serdadu Afrika dalam pasukan yang berkekuatan 7500 orang dalam ekspedisi ketiga penaklukan Bali tahun 1849, (Perang Buleleng) yang berakhir dengan ditundukkannya raja Bali setelah jatuhnya benteng Jagaraga (Singaraja). Setelah ekspedisi berakhir sebanyak 41 orang serdadu Afrika mendapat tanda penghargaan dan citra mereka naik tinggi dimata orang Belanda.

Setelah itu serdadu Afrika ikut aktif dalam ekspedisi ke Timor, Sulawesi, Kalimantan dan tentu saja dalam perang Aceh. Disini seorang perwira dalam laporannya mengatakan bahwa “orang Afrika adalah serdadu-serdadu terbaik dalam KNIL (Serdadu Hindia Belanda)” dan “memperhatikan bahwa orang Aceh sangat segan terhadap orang Afrika”.

Belanda tidak menutup mata terhadap prestasi dan jasa orang Afrika ini. Mengingat kedatangan mereka berstatus “bujangan”, mereka menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan perempuan setempat, ada yang sekedar kumpul kebo, namun banyak yang berujung dengan pernikahan. Mereka membangun kehidupan rumah tangga dan sewaktu kontrak mereka habis, mereka yang tidak ingin kembali ke Afrika, memutuskan untuk menetap ditempat dimana mereka terakhir ditugaskan. Inilah kiranya cikal-bakal masyarakat Afrika , khususnya di Purworejo. Mereka hidup di luar tangsi dan membaur dengan masyarakat setempat bersama isteri penduduk pribumi dan anak-anak turunan mereka, yang mendapat julukan Indo Afrika.

Kampung Afrikan.

Keadaan ini nampaknya menjadi perhatian pemerintah Belanda. Sejalan dengan makin tumbuh-berkembangnya kelompok keluarga Afrika ini dan mengingat akan jasa-jasa mereka, juga alasan praktis agar dalam keadaan darurat bisa sewaktu-waktu dikerahkan, Pemerintah Belanda melalui keputusannya tertanggal 30 Agustus 1859, membeli sebidang tanah di Pangen Jurutengah yang di khususkan bagi pemukiman warga Afrika. Setiap keluarga mendapat jatah 1.151 meter persegi untuk dibangun rumah sekaligus lahan garapan untuk berkebun dan bertani. Dengan bantuan pemerintah Belanda ini tumbuhlah perkampungan/hunian masyarakat Afrika di Purworejo yang masih mempertahankan ciri-ciri identitas keafrikaannya. Inilah satu satunya hunian masyarakat Afrika di Indonesia, atau yang dikenal sebagai “Kampung Afrikan” di Purworejo, yang juga menjadi acuan/tempat berkumpul bagi masyarakat Afrika dari daerah-daerah/kota lainnya.

Yang tersisa dari kampung Afrikan di Purworejo.

Walupun mereka hidup dalam hunian khusus, namun hubungan dengan masyarakat pribumi sekitarnya relatif berlangsung baik dan harmonis dengan prinsip hidup berdampingan secara damai. Dan jangan dilupakan bahwa anak/turunan mereka itu hakekatnya adalah hasil dari perkawinan dengan wanita-wanita setempat juga. Dalam catatan terakhir ada sekitar 25 keluarga Afrika yang terdaftar sebagai pemilik tanah/rumah dengan jumlah warga sekitar 90 orang yang tinggal di Kampung Afrikan tersebut. Nampaknya masyarakat Purworejo menerima keberadaan mereka secara wajar dan ini membuktikan bahwa toleransi penduduk/masyarakat Purworejo sejak jaman dulu memang telah teruji.

Menurut warga setempat, inilah bangunnan asli/rumah Londo Ireng Purworejo dari sedikit yang tersisa.

Oerip “mengepung” Kampung Afrikan.

Satu satunya insiden yang dilaporkan terjadi sekitar tahun 1910, sewaktu Pak Oerip Sumoharjo, salah satu pendiri TNI, yang waktu itu berusia 17 tahun “mengerahkan” pasukan pemuda dari Sindurjan (perkampungan sebelah barat alun-alun) “mengepung dan menyerbu” hunian orang Afrika pada suatu senja dengan meneriakkan “Londo ireng toentheng, iroenge menthol, soearane bindheng” (Belanda hitam legam, hidungnya besar, suaranganya sengau). Pak Oerip yang bersekolah Belanda bersama Indo Afrika merasa dihina oleh mereka yang mengatakan “tubuhnya kecil dan bahasa Belanda-nya jelek”, berbeda dengan mereka yang besar dan berbahasa Belanda bagus dan tanpa aksen. Insiden tersebut dapat diselesaikan. Ayah Pak Oerip berjanji akan menegor anaknya, namun mereka juga minta agar pemuda Afrika tidak akan mengulangi ucapannya.

Surutnya Kampung Afrikan.

Jatuhnya Pemerintah Hindia Belanda bulan Maret 1942, datangnya pendudukan Jepang dan kemudian disusul dengan Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 adalah pertanda jaman dan berpengaruh sangat menentukan bagi keberadaan Kampung Afrikan di Purworejo. Selama pendudukan Jepang, kampung Afrika tidak terlalu diusik karena dianggap bukan orang Belanda, walaupun berstatus hukum Belanda. Hanya sebahagian dari mereka yang aktif dalam ketentaraan ditangkap dan dimasukkan dalam kamp tahanan bersama dengan Belanda. Keadaan berubah setelah Indonesia merdeka. Orang-orang Afrika yang memang berstatus hukum sebagai “Belanda Hitam” digolongkan sama dengan orang Belanda dan diperlakukan sama dengan Belanda. Kampung Afrikan di Purworejo dengan demikian kehilangan hak hidupnya, harus dikosongkan dan penghunianya dipindahkan, sementara ke Gombong untuk kemudian ke Jakarta/Bandung dan seterusnya di repatriasikan ke negeri Belanda. Ini sesuai dengan keinginan mereka juga yang menyatakan “Saya orang Belanda dan tidak ingin jadi orang Indonesia”. Sebelumnya Bung Karno, sewaktu jadi mahasiswa di Bandung mengatakan kepada temannya seorang Indo Afrika: “…tidak ada tempat bagi Belanda Hitam di Indonesia Merdeka karena kalian dulu bergabung dengan Belanda untuk berperang melawan Indonesia”.

Sejarah yang Terlupakan.

Kini, seratus delapan puluh tahun kemudian sejak pertama kedatangan serdadu Afrika di Hindia Belanda dan seratus limapuluh tahun sejak berdirinya Kampung Afrikan atau sekitar 67 tahun sejak pengosongan Kampung itu, jejak-jejak keberadaan mereka di Purworejo nyaris hilang tidak berbekas. Beberapa rumah-rumah asli yang tersisa dan tanah-tanah yang mereka miliki telah berpindah kepemilikannya secara sah lewat proses jual-beli kepada warga Indonesia, dan Kampung Afrikan telah berobah menjadi kampung/hunian warga Indonesia biasa sebagimana kampung-kampung lainnya. Tidak ada “sisa” orang Afrika di tempat tersebut bahkan keturunannya juga sulit untuk dilacak di Purworejo. Saya diberitahu bahwa ada keluarga keturunan Afrika di Purworejo garis ketiga yang nikah dengan orang Timor, namun saya tidak berhasil menemukan alamatnya. Sementara itu Mas Gunarso dari Blogger Purworejo mengatakan bahwa salah seorang anggota keluarganya, masih kepernah Pak De nya, ada yang punya darah Indo Afrika.

Ibu Kasman, 95 tahun, istri pensiunan Sersan KNIL, tinggal di bekas Kampung Afrikan. Banyak berkisah tentang masa lalu.

Sekarang ini keturunan mereka kadang-kadang berombongan datang dari negeri Belanda sebagai wisatawan untuk “napak tilas” sejarah para leluhurnya, dengan mengunjungi bekas/situs “Kampung Afrikan”, tempat dimana nenek-kakek mereka dilahirkan dan tinggal, yang menceritakan betapa mereka menikmati kehidupan yang bahagia waktu itu, dan melihat Sukarno “sebagai orang yang mengusir dirinya dari surga masa mudanya”. Apa yang sekarang dapat mereka saksikan adalah beberapa gedung asli tempat hunian nenek-kakek mereka dan nama jalan/gang yang telah diabadikan sebagai “Gang Afrikan I dan Gang Afrikan II”. Nama-nama itupun tadinya sudah diganti dengan nama Gang Koplak, tempat kusir delman ”mengombor” kuda mereka, dan hanya karena protes para sejarawan yang didukung para penghuni, maka nama asli Gang tersebut dikembalikan ke aslinya. Mereka juga pergi ke Kerkop (makam Belanda) dibelakang Lembaga Pemasyarakatan, dan menemukan beberapa nisan dari para leluhur mereka yang masih tersisa, antara lain dengan inskripsi/tulisan dalam bahasa Belanda yang kabur dan susah dibaca:
“Disini beristirahat, Ayah kami tercinta P.de Ruiter, Lahir di Afrika dan meninggal tanggal 4 September 1900 dalam usia 75 tahun di Purworejo”.

Batu nisan salah seorang Londo Ireng di Kerkop Purworejo yang meninggal tahun 1915.

Itulah salah satu bukti sejarah tentang keberadaan orang Afrika di Purworejo yang tidak terbantahkan.

Slamet Wijadi.

*)

  • Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945 oleh Ineke van Kessel, 2005/2011.
  • Dinamika Masyarakat Pendatang Dari Afrika Di Purworejo (Suatu kajian Historis Sosiologis) oleh     Dra Endri Kusruri, 2001.
  • Beberapa tulisan dan sumber-sumber lainnya.
Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


40 Responses to “LONDO IRENG PURWOREJO. Jejak Sejarah yang Terlupakan.”

  1. gunarso ts says:

    Benar sekali, Pak Wiek. Pakde Sarosa yang tinggal di kompleks DKA Margorejo, Solo, adalah masih keturunan dari “Landa Ireng” Afrika itu. Bapak saya, dengan almarhum (wafat sekitar 2003, dalam usia 86-an tahun) kepernah nak sanak (sepupuan), karena sama-sama cucu Mbah Singorejo dari desa Pulutan Kec. Ngombol.
    Ceritanya seputar tahun 1915-an, kemungkinan di zaman lurah Kyai Tjokrosonto (Manen), ada seorang warga yang “mrengkel” ketika disuruh kerja bakti mengangkut batu untuk pengerasan jalan dari Pulutan sampai Walikoro. Orang itu adalah Mbah Singorejo. “Wong aku anake wong ana, kok bahuku ketumpangan pring sigaran (mikul). Emoh…..!” begitu alasan Mbah Singorejo.
    Kata Bulik Sis putrid, Pak Lurah murka, dan Mbah Singorejo pun diusir dari kampung. Meski sudah punya anak lelaki satu namanya Darsono, Mbah Singorejo nekad meninggalkan kampung halaman. Istrinya yang asal dari Njoso, jadi “kungrung” (ngenes) hingga wafat gara-gara ditinggal suami tanpa berita.
    Nah, Mbah Singorejo yang terusir dari kampungnya merantau sampai ke daerah Cepu, menjadi pegawai kereta api di Gundih. Di sana dia berkenalan dengan wanita “Landa Ireng” mbah Keni, disebut Mbah Geni. Anaknya yang bernama Supiyah, kemudian menikah dengan Mbah Singorejo, dan menurunkan Pakde Sarosa yang kemudian juga merintis karier di DKA (Djawatan Kereta Api).
    Tadi siang (1 Juli 2012) saya ketemu dengan Mas Djatmiko anak sulung Pakde Sarosa, dalam resepsi perkawinan di Gedung BKKBN Halim PK). Dia cerita tentang Mbah Singorejo, yang kata Pakde Sarosa masih “brendete’ dengan seorang kyai pemilik pondok pesantren di Grabak. Almarhum sang ayah, cerita banyak tentang Mbah Keni yang masih keturunan “Landa Ireng” dari Afrika tersebut. “Jadi kemungkinan bisa saja saya masih ada kekerabatan dengan Barack Obama Presidan AS, ha ha ha….,” ujarnya ceria.
    Pak Wiek, tentang Pakde Sarosa ini juga pernah saya tulis di Bloger Purworejo, dalam episode “Nostalgia Anak Kampung” beberapa waktu yang lalu. Di situ ada foto Pakde bersama istrinya yang cantik, sedang memangku Mas Djatmiko dalam usia balita. Begitulah, cerita Mas Djat ini melengkapi tulisan Pak Wiek. Matur nuwun. (gts)

    • slamet wijadi says:

      Mas Gun, kisah tentang Pak De Saroso cukup menarik. Dan memang melengkapi kisah Londo Ireng Pwr. Itu juga satu bukti bahwa walaupun Kampung Afrika dan masyarakat Indo Afrika telah hilang secara fisik dari Purworejo, namun keberadaan dan sejarah kehadiran mereka di Indonesia masih bisa dilacak keberbagai bagian Indonesia dan dunia. Di Belanda para Indo Afrika tergabung dalam organisasi Indo-Afrikaan Kontakt yang mengadakan reuni secara berkala yang juga dihadiri oleh mereka yang sudah beremigrasi ke Amerika. Dengan nama Indo-Afrika itu mereka mengakui bahwa ada darah Indonesia mengalir dari pihak nenek/buyut mereka yang wanita Jawa. Mereka yang pulang ke Afrika juga mendirikan musium di Elmina Ghana sebagai monumen dengan nama Java Museum. Mereka mengenalkan budaya bathik disana.
      Di Indonesia/Jawa memang susah melacak keberadaan mereka karena sudah membaur dan berasimilasi secara sempurna dengan masyarakat kita sebagaimana dicontohkan dari riwayat Pak Saroso. Seperti halnya yang diceritakan Mas Djatmiko mereka hanya tahu berdasar cerita dari orang-tuanya dan mungkin menyadari dari penampilan fisiknya yang “agak” berbeda. Di Pwr saya tidak berhasil menemukan satu keluargapun yang masih jelas garis turunan Afrikanya. Patut disayangkan bagi mereka yang mencintai kisah-kisah sejarah yang mengungkapakan masa lampau yang menarik.
      “Seorang kyai pemilik pondok pesantren di Grabag”? Kalau yang dimaksudkan Grabag itu Tunggulrejo, leluhur saya adalah berasal dari situ… siapa tahu ada hubungannya. Trims untuk komennya, salam.

      • ilyasa' says:

        Wah, matur nuwun Pak Wiek sampun kerso menulis kembali. Lama saya tunggu-tunggu tulisan Pak Wiek, eh baru muncul lagi. Berbicara mengenai “londo ireng” adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah kelam kolonialisme panjang yang dialami bangsa kita. Beberapa tahun lalu, saya pernah punya anak buah wanita yang menurut ciri-ciri fisiknya cocok dengan gambaran mengenai “anak turune londo ireng”. Kulitnya coklat tua, rambut keriting, perawakannya tinggi langsing dan giginya putih rapi. Kalau ketawa sebarisan giginya terlihat mencocok di balik wajahnya. Walaupun nama depannya Chris, tapi ia seorang penganut Islam yang relatif taat. Tertarik oleh penampilan fisiknya itu, saya pernah bertanya mengenai latar belakang keluarganya. Ia bilang bahwa kakek buyutnya berasal dari Afrika dan pernah tinggal di daerah Jawa Tengah. Ia mengaku keturunan generasi keempat. Saya tidak sempat menanyakan apakah kakek buyutnya seorang anggota tentara bayaran (anggota KNIL) yang direkrut oleh penjajah Belanda atau bukan.Wassalam.

        • slamet wijadi says:

          Pak Muhtarom, saya yang matur nuwun sudah kerso mampir. Saya nulis kembali untuk “brain exercise”, krn kalau otak nggak dipakai mikir, bisa cepat pikun dan itu sangat “merugikan” bagi aktivitas sehari-hari.
          Mengenai anak buah Pak Muh itu saya yakin buyutnya adalah serdadu Afrika yang didatangkan kemari oleh Belanda sebagai bagian “yang tak terpisahkan dari sejarah kelam kolonialisme” yang masih terasa akibatnya sampai saat ini. Belanda tidak pernah merasa “rela” kehilangan daerah jajahannya. Sejarah penjajahannya penuh dengan kisah berdarah dari Aceh sampai Papua. Orang2 Afrika itu tidak salah, mereka didatangkan dan di”tugaskan” sebagai serdadu untuk melawan musuh tuannya, untuk itu mereka digajih dan diberikan status sebagai “Belanda Hitam”.
          Bagi mereka yang tinggal disini dan membaur/berasimilasi dengan warga Indonesia, tidak ada yang mempersoalkan ke”afrikaan”nya, mereka lebur sepenuhnya sebagai bagian bangsa Indonesia, sebagaimana dicontohkan oleh Pak De nya Mas Gun. Mbak Cris itu saya yakin akan ketemu dengan pemuda Indonesia dan berkeluarga layaknya warga lainnya, sedang ciri-ciri fisiknya yang menonjol akan tetap jadi bagian dari jati dirinya.
          Sesungguhnya kehadiran orang Afrika jaman dulu itu bahkan merupakan berkah. Itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia betul2 kaya dengan berbagai asal-usul etnis dan bangsa, yang semestinya merupakan aset yang bisa dimanfaatkan bagi semangat kebangsaan yang positif. Wassalam, kapan kita ketemu?

  2. ilyasa' says:

    Iya Pak Wiek, kok belum sempat-sempat ya untuk silaturahim. Padahal perasaan sudah “kumudu-kudu” bisa ketemu sekalian kepingin ngangsu kawruh yang saya yakin bahwa Pak Wiek adalah sosok gudangnya kawruh. Insya Allah nanti menunggu waktu yang pas Pak. Suwun.

    • slamet wijadi says:

      Mas Muhtarom silahkan datang kalau ada kesempatan, setiap saat, ajak juga mas Gunarso untuk teman. Salam.

  3. ruth thiemann beelt says:

    perkenalkan saya ruth, nenek saya merupakan keluarga dr perkampungan afrika tersebut. dan semua keluarga dari ayah saya sekarang tinggal di belanda karena kakek saya org ambon yg menjadi KNIL dulu kala. saya sendiri menggunakan nama keluarga dr nenek saya. merupakan tugas pribadi saya sendiri dari dulu mengumpulkan berbagai sumber tentang kampung afrika tersebut. ayah saya menikah dengan alm ibu saya org sunda di bandung. senang rasanya mengetahui bahwa saya berasal dari rumpun sana sini. senang dapat membaca artikel anda. regards ruth.

    • slamet wijadi says:

      Ibu Ruth Thiemann, trims untuk komentarnya. Senang mengetahui bhw artikel tsb. masih terkait dengan jalan hidup dan leluhur anda. Memang betul, ibu beruntung “berasal dari rumpun sana sini” dan setidaknya masih mengalir darah Indonesia dan kampung Afrikan di Purworejo. Apakah salah seorang anggota keluarga sdh ada yang pernah berkunjung kesana? Bagaimana cerita versi mereka tentang keberadaan kampung tersebut? Bhs. Indonesia ibu bagus sekali, dimana belajar, dan apakah masih ada diantara anggota keluarga memahami bhs. tsb? Sudahkan ibu pernah berkunjung ke Indonesia? Kami sudah berkali-kali ke negeri Belanda. Sekian dulu, selamat berkenalan, dan salkam. Sw.

      • ruth says:

        saya lahir dan dibesarkan di indonesia dari SMP, kalau ke belanda hanya berkunjung saja saat ini. semua yang saya tau hanya cerita dari ayah saya, dan saya masih terus ingin tau lebih lanjut lagi :) . menurut saya yang paling penting bagi saya dari dulu, saya sudah melihat perbedaan disana sini apalagi keluarga saya sendiri, sehingga sulit bagi saya untuk melihat dimana perbedaannya, bagi saya semua sama-sama saja kita semua :) boleh saya tau alamat email anda atau facebook? saya ingin sharing lebih banyak :) terimakasih ..

  4. nur basuki w says:

    Yang saya inget, dulu waktu saya sekolah di sman 1 pwr th 1975 an, sering jalan didaerah gang afrikan I dan gang afrikan II. Dlm hati timbul pertanyaan, kok nama gang nya aneh sendiri ini dibanding yang lain.
    Baru sekarang mendapat pencerahan ….
    Terimakasih kepada penulisnya….

    • slamet wijadi says:

      Mas Nur Basuki, trimakasih untuk tanggapannya. Senang bahwa tulisan tersebut telah memberikan pencerahan tentang masa lalu Purworejo. Salam.

  5. widibintoro says:

    Pak Wik, dahulu teman sekelas saya di SMA Kutoarjo ada juga yang masih Keturunan Londo Ireng. Namanya kalau tidak salah Hery Abrison. Saya hanya bertanya dalam hati soalnya mau tanya asal usulnya takut tersinggung, dan saat itu belum begitu paham tentang Londo Ireng dari Purworejo. Sekalian saja kalau Mas Hery Abrison sempat membaca artikel ini, Ma’af Mas Hery mau memberi taggapannya. Nuwun

    • slamet wijadi says:

      Mas Widi, saya yakin bahwa banyak “sisa-sisa” keturunan Londo Ireng ditengah-tengah kita yang kini telah menjadi bagian dari warga Indonesia, namun ciri-cirinya masiuh nampak jelas,sebagaimana yang diceritakan mas Gun dan Mas Muhtarom itu. Itulah kekayaan sejarah bangsa Indonesia, yang multi etnis, multi rasial dan multi agama. Semestinya itu merupakan aset dan bukan sesuatu yang menjadikan pertengkaran, Bhinneka Tunggal Ika kan sudah diakui sebagai dasar keberadaan bangsa kita, salam Hari Proklamasi, Sw.

  6. Akbar says:

    Ulasan yang sangat menarik,semenjak saya masuk ke kota Purworejo di tahun 1998 saya sudah tertarik dengan bnyaknya rumah2 kuno model belanda disekitar kota dan kebetulan saya pengangum arsitektur Belanda. Dan tanpa sengaja saya juga pernah dapat file scan foto2 purworejo tempo dulu, termasuk diantaranya adalah bangunan yg dipakai oleh SMA 7 sekarang dan foto pom bensin Shell yang sekarang tidak tau dimana posisinya. Mohon pencerahannya apa ada yg tau dulu gedung SMA 7 itu dipakai untuk apa dan letak pob bensin Shell itu dulu dimana?
    Terima kasih dan salam kenal buat pak slamet wijadi

    • slamet wijadi says:

      Terimakasih untuk apresiasinya thd tulisan saya. Memang betul di kota Pwr banyak rumah-rumah kuno tinggalan jaman Belanda. Jangan dilupakan bahwa Pwr dibangun permulaan tahun 1830-an oleh Bupati pertama Pwr. Tjokronegoro dengan bantuan arsitek tata-kota Belanda, karenanya juga banyak bangunan yang seusia dengan jaman itu fdengan arsitektur Belanda. Rumah Bupati sebagai pusat induk bangunan masih bertahan asli sampai saat ini. Alun-alun kabupaten, (terbesar di Jawa), juga Mesjid, Gereja, Penjara, rumah dinas Asisiten Residen, makam belanda (kerkop), semuanya termasuk peninggalan jaman dulu, juga stasiun KA. Sekolah-sekolah banyak dibangun permulaan abad 20, seperti HKS (Sekolah Guru Tinggi) di Kedungkebo/Pangen, ELS (Sekolah Rakyat untuk anak belanda/priyayi) sebelah timur Kantor Pos, HIS (Sekolah Rakyat untuk anak priyayi) di sebelah HKS. Jangan dilupakan juga bangunan tangsi militer di Kedungkebo yang dibangun tahun 1830-an, sekarang masih utuh. Kalau tertarik bangunan kuno Pwr. itu banyak obyeknya. Saya nggak tahu yang dimaksud SMA 7 itu dimana?. Waktu jaman saya hanya ada SMP 1 dan 2 yang terletak di Kedungkebo/Pangen itu. Salam.

    • slamet wijadi says:

      Mas Akbar, SMA 7 itu dulunya dibangun sekitar tahun 1915 diperuntukkan untuk Pendidikan Guru Sekolah Atas, Hogere Kweekschool (HKS), di Indonesia hanya ada 3, di Probolinggo, Bukittinggi dan Pwr. Lulusannya calon pengajar di sekolah Rakyat Belanda HIS. Kemudian menjadi gedung Sekolah Menengah Belanda, MULO. Jaman Jepang jadi Shoto Chu Gakko, SMP Jepang, jaman permulaan RI jadi SMP 1 Negeri, saya masuk di situ.
      Pompa bensin yang saya ingat terletak di depan pertigaan ke tangsi Batalyon 412, kemudian jadi pompa bensin militer, atau memang demikian sebelumnya. Saya tidak ingat. Pwr dibangun dengan design arsitek Belanda sebagai kota “modern” pada jamannya, tetapi tidak meninggalkan tradisi kota Jawa dengan Dalem Kabupaten, Alun-alun, Masjid Agung dan unsur Belandanya dengan Gereja serta Kantor Asisten Residen, Kantor Kehakiman, Penjara dan Makam Belanda. Memang menarik bagi mereka yang senang sejarah, gedung-gedung itu bisa seakan2 masing-masing bercerita tentang jaman lampau…

  7. Akbar says:

    Matur nuwun atas jawabannya, SMA 7 berlokasi di sebelah barat 412 atau di sebelah timur Rumah sakit Kasih Ibu. Oh iya ada satu pertanyaan lagi mengenai gedung yang bekas Bioskop Bagelen klo dilihat juga hasil arsitektur Belanda, kira-kira dulu digunakan untuk apa ya?
    Wah senang saya bisa membaca tulisan Bapak. Sekedar usul pak, bagaimana kalau bapak menulisnya dalam sebuah buku (buku sejarah kota Purworejo) yang lengkap dengan foto2 nya dan saya adalah orang pertama yang akan membeli karya bapak :)
    Salam dan sukses selalu untuk bapak

    • slamet wijadi says:

      Mas Akbar, SMA 7 itu kalau disitu lokasinya ya sekolah saya jaman tahun ’47-’48 ketika gedung itu adalah SMP Negeri 1, saya disitu sampai klas 3 terus pindah ke SMP 2 Jogja sampai tamat tahun ’50. Gedung Bioskop Bagelen menurut ingatan saya sejak semula memang gedung bioskop. Tahun ’45 juga sudah jadi gedung bioskop. Design gedungnya memang dibikin untuk maksud itu, mungkin dibangun tahun ’30-an sewaktu pertunjukan film mulai populer. Sebagai kota kompeni dan kota pendidikan memang membutuhkan gedung hiburan itu yang sewaktu-waktu juga diperuntukkan pertunjukkan kesenian. Waktu saya perpisahan di SD yang terletak disebelah selatannya, kami mengadakan pertunjukan kesenian di gedung itu tahun ’46. Waktu jaman revolusi banyak menampilkan sandiwara untuk menghibur masyarakat dan tentara di Pwr. Yang saya ingat ada penyanyi kroncong yang kondang namanya Miss Surip dengan mata bolanya, banyak yang tergila-gila…
      Munulis buku? wah saya bukan penulis, hanya sekedar mengisi waktu dan melatih otak agar nggak cepat pikun. Memang ada yang mengusulkan untuk membukukan kumpulan tulisa saya selama ini, bahkan sanggup menerbitkan/memasarkan, namun saya belum merasa “sreg”, masih mikir-mikir. Terimakasih atas sarannya dan menyatakan akan menjadi “pembeli pertama”, sungguh suatu dorongan yang “patut” untuk dipertimbangkan. Namun sementara ini biarlah berjalan spt apa adanya.
      Salam pecinta sejarah, Sw.

  8. Akbar says:

    Maaf tambahan, barusan saya browsing ke http://media.kompasiana.com/buku/2012/01/31/sejarah-serdadu-londo-ireng-di-indonesia/ disebutkan disitu:
    “Kajian mengenai orang-orang Afrika ini sebenarnya pernah dibahas oleh Endri Kusruri dalam skripsinya “Orang-orang Afrika di Purworejo: Suatu Analisa Historis Sosiologis Atas Latar Belakang dan Peranan Mereka” (1979). Menurutnya pilihan daerah Purworejo (disebut juga Kedong Kebo) bukanlah suatu kebetulan belaka. Distrik Bagelen merupakan sumber pemberontakan dalam Perang Jawa (1825-1830)”
    wah jadi semakin menarik nih untuk menguak lebih dalam lagi tentang Purworejo

    • slamet wijadi says:

      Mas Akbar, tulisan Endri Kusruri itu memang saya cantumkan sebagai salah satu sumber reference tulisan saya disamping beberapa sumber lainnya, salam Sw.

  9. jarir amrun says:

    Eyang saya namanya Semejo (ada yang bilang wongso sumejo) dia merantau ke deli sekitar 1890, sebab embah saya (Marsimen pegawai PU masa belanda) punya anak pertama 1920. Saya ingin cari kampung eyang dan embah saya, tapi enggak jumpa lagi. Kabarnya dari wilayah perbatasan ngapak (purworejo, kebumen, purwikerto), kata abang saya desa ketug, tapi ada yang bilang lemahjaya. Tolong, kalau ada yang kenal, hubungi saya. Saya ingin cari jaringan keluarga yang hilang itu.

    Dari jarir amrun
    (hp 08127542057). email jaroten@yahoo.com

    • slamet wijadi says:

      Mas Jarir, perbatasan daerah ngapak dan bandek itu dimulai dari Butuh, yang merupakan daerah transisi,”campuran”, sebelah barat, Prembun, termasuk daerah ngapak dan sebelah timur, Kutoarjo, termasuk daerah bandek. Karena disebut desa Ketug, maka memang betul desa itu wilayah perbatasan dari dua daerah dialek tsb. Desa itu termasuh kecamatan Butuh, karena itu bila mas Jarir berminat untuk menulusuri jejak leluhur bisa di mulai dengan berkunjung ke desa Ketug dan menemui para tetua desa yang masih tersisa, semoga sukses, salam, Sw.

  10. mas adjie says:

    dear jarir amrun..

    sekedar share.. informasi yang diberikan sdr jarir amrun sangat minim. Namun untuk daerah perbatasan khususnya wilayah jalur selatan (purworejo-kebumen-purwokerto), dialek bahasa Jawa “Ngapak” (Dialek Banyumasan)dengan dialek “Bandek” (dialek jawa “wetan” / Yogya – solo) menurut saya di sekitar Kecamatan Kutowinangun s/d Kec. Prembun. Bahasa daerah tersebut kaya sekali dialek campuran antara ngapak dan bandek. Kemungkinan asal Eyang anda dari daerah tersebut. Demikian pandangan saya sekiranya ada masukan dari rekan2 yg lain monggo… salam.

  11. Teguh Setiawan says:

    Perkenalkan, nama saya Teguh Setiawan. Saat ini saya bekerja sebagai wartawan Republika.

    Saya baca tulisan Bapak, setelah mengkonsumsi tulisan Inneke van Kessel berjudul Belanda Hitam: the Indo-African Communities on Java.

    Saya berniat mengunjungi Kampung Afrika, dan menuliskannya di koran tempat saya bekerja. Saya berharap Bapak bersedia menjadi narasumber saya.

    Tolong beri no telepon dan alamat Bapak di Purworejo. Besar harapan saya Bapak bersedia membantu.

    • slamet wijadi says:

      Mas Teguh, trimakasih untuk tanggapannya. Saat ini saya berdomisili di Jkt dan kalau ingin kontak silahkan hubungi nomer HP:081648496. Salam.

  12. Waskito Jati says:

    Salam.

    Perkenalkan saya Waskito Jati, saya mahasiswa UIN Sunan Kalijaga di Jogja,

    Memang ini seperti sejarah yang terlupakan. Kebetulan saya di tahu 2011 mendapat kesempatan untuk ke Ghana, Afrika Barat, dan mengunjungi Elmina Castle. Sebuah benteng dan juga dermaga kuno yang digunakan untuk perjual belian budak.

    Saya agak terkejut pada saat saya melihat di gerbang benteng itu ada tulisan “February 1855 Java” nya. Saya juga ada fotonya. Pada saat itu saya masih muda jadi kurang begitu peduli.

    Kemarin saya kepikiran lagi dengan tulisan itu dan saya kemudian melakukan riset kecil2an di internet dan menemukan bahwa orang2 di sekitar Ghana dikirim ke Indonesia di tahun 1800an. dan dikirim melalui benteng tersebut.

    Ternyata benar ada hubungannya tulisan di benteng itu dengan pulau Jawa.

    Semoga sejarah ini dapat digali lebih dalam lagi di masa depan

    Terimakasih

    • slamet wijadi says:

      Trimakasih Mas Waskito, komennya melengkapi tulisan tentang Londo Ireng Purworejo. Silahkan untuk terus dikembangkan sekaligus juga ditampilkan foto-fotonya, pasti lebih menarik. Sesungguhnya Pemda Pwr itu itu bisa mengemas jejak sejarah ini sebagai obyek turisme disamping obyek obyek lainnya di Pwr. Memang dibutuhkan kreativas dan imaginasi yang tinggi untuk itu. Pwr itu kaya dengan obyek sejarah lho, tinggal bagaimana pinter-pinternya untuk mengemas sebagai sajian yang menarik. Salam.

  13. Jacob Tanasale says:

    Saya berasal dari Maluku dan berdomisili skr di Jakarta…Kota Purworejo telah akrab dgn saya karena masa kecil ayah dihabiskan kurang lebih 4 thn (1928-1932) kakek saya adalah tentara KNIL yang pernah bertugas di Purworejo dan tinggal dalam tangsi tentara . Adik ayah saya (almarhum) lahir di Purworejo thn 1928 dan skr berdomisili di Belanda . Adik yang satu lagi lahir juga di Purworejo thn 1930 namun bbrp bulan kemudian meninggal dan di kuburkan di Purworejo….sekitar tahun 1986, ayah saya bersama 4 adik laki2 nya melakukan napak tilas ke Purworejo….walau tdk banyak memory yg terekam namun msh ada tempat yg msh ada dalam ingatan ayah saya …tangsi itu sendiri yg tdk berubah dan kata nya ada tempat mandi di sekitar tangsi . Sayang nya ke-lima saudara tdk berhasil menemukan kuburan adik nya yang bernama Jan Tanasale….dalam sebuah kesempatan (sekitar thn 1988) say pernah menjenguk seorang Oma (janda) yg bersuamikan orang Ambon , Oma tsb setelah suami nya meninggal , memutuskan utk kembali ke Purworejo dan didaerah sekitar nya di kenal dengan sebutan “Mbah Cengkeh” , beliau kawin dgn tentara KNIL marga Rikumahu….dan sempat lewat daerah Brengkelan dan melihat ada komunitas Orang Maluku di daerah tsb ….Purworejo tetap ada di hati ayah saya dan adik2 nya walau mereka telah tiada…dan ada sepenggal cerita ttg Purworejo di dalam memory saya ….

  14. Moh Maliki says:

    Wah saya yang lahir dan kecil di kerkop sampai ga pernah mbaca ada yang lahir di Afrika, dan baru tahu kalau sejarahnya begitu. Saya nya kok kebangetan banget ya. apa mungkin dulu cerita tuh ga ada yg tahu cerita, atau memang akses ke perpustakaan yang sulit. Atau bahkan literatur yang membahas ini memang tidak ada atau belum ada. Saya salut sekali dengan cerita yang diotulis diatas, walaupun belum sempet mbaca reply-an nya.

    • chandra satriawan says:

      salut buat bapak sang penulis..saya sangat terkesan dengan tulisan bapak ini,kebetulan saya tinggal di rumah peninggalan belanda dari tahun 1982-2004 di pangenjuru tengah,letaknya di sebelah selatan rumah sakit tentara yang terletak satu komplek dengan pom bensin militer(mungkin yang ada di foto pom shell tersebut)..saya jadi inget masa2 kecil saya dulu setelah membaca artikel bapak ini.kebetulan juga saya sekolah di SMP 1 purworejo dan SMA 7 purworejo.jadi ya masa kecil saya selalu berkutat di komplek tersebut..oiya pak saya mau tanya,jadi dulu itu smp 1 dan sma 7 itu jadi satu ya pak??bukan terpisah seperti sekarang?dulunya sma 7 itu juga bagian dari smp 1?

  15. maliki says:

    wah aku tinggal di kerkop puluhan tahun br tau itu kuburan londo ireng

  16. Agnes says:

    excusus untuk bahasa saya miskin Indonesia .
    Ayah saya datang ke Belanda dengan ibunya pada tahun 1952. Kami selalu percaya bahwa nenek kami adalah totok Indonesia . Sementara itu ayah almarhum dan nenek . Sekarang adik saya telah menjalani tes DNA dilakukan . Yang sangat mengejutkan kami berasal dari ini : asian – Afrika . Dan seperti yang kita telah belajar bahwa komunitas belanda hitam besar sebelumnya di Indonesia . Meskipun sejarah sulit dan menyakitkan , tapi kami bangga Eropa / Indonesia keturunan / Afrika untuk menjadi .

  17. Topo says:

    Membaca artikel ini saya bangga jadi orang purworejo sekaligus prihatin dengan keadaan sekarang dimana purworejo sulit berkembang dibanding kabupaten lain.mungkin purworejo sedang mencari jatidiri kemana arah pembangunan.melihat rangkaian sejarah dimana dulu bagelen atau purworejo adalah kota yang sangat terkenal,wilayahnya bahkan sampai purwokerto,wonosobo dan sebagai basis pertempuran pangeran diponegoro.dari daerah wojo (ada peninggalan benteng pendem) sampai goa seplawan (kaligesing).banyak orang penting di indonesia yang dilahirkan dari purworejo seperti wr supratman,ahmad yani,orip sumoharjo,sarwo edi,sunan geseng,dll.saya pikir sekarang ini purworejo sedang kehilangan jiwa kepahlawanan dan semangat membangun wilayah purworejo.dimana orang2 yang berpendidikan banyak berada diluar purworejo.mungkin karena dulu ada sekolah yang hanya ada 3 seluruh indonesia maka setelah lulus mereka ditempatkan diluar purworejo.dijogja atau di daerah lain banyak perantauan purworejo yang memiliki kedudukan penting,ibu any yudoyono,gubernur jateng (ganjar),direktur tabloid pulsa (legiman)dll.mari kita nguri uri mengenang sejarah masa lalu,merenungkan keadaan sekarang dan memikirkan bagaimana purworejo dimasa yang akan datang.

  18. Windha Alini says:

    alhamdulillah nambah ilmu :)

  19. Windha Alini says:

    saya dari Tunggulrejo, Grabag, Purworejo.
    Alhamdulillah ilmunya sangat bermanfaat pak Wiek. Terimakasih :)

  20. dwi says:

    ulasan yang luar biasa pak.
    saya dari semawung purworejo..
    apa njenengan pernah mendengar tentang ada perusahaan batik peninggalan hindia belanda di purworejo ?
    soalnya disamping rumah saya ada reruntuhan bangunan lama dengan luas area yang besar mirip bangunan pabrik…
    nuwun…..

  21. Agung says:

    Pak mau tanya apakah sebagian besar penduduk purworejo itu pendatang dari berbagai daerah karena adanya penugasan sebagai tentara pejuang pada masa lalu, bisa digambarkan bagaimana sebenarnya pendatang menjadi penduduk di purworejo?? Terima kasih Agung

  22. hardianto says:

    Pak sy jg kturunan londo ireng, mbah buyut dulu KNIL dr kutoarjo pernah bpk cerita mbah buyut ikut perang aceh, bpak sy dari bagelen tp sy lahir dan besar di palembang, sy jg heran gk ada saudara2 mbah disini mngkin stelah merdeka mereka pergi ke belanda, sdangkan mbah sy nikah dgn mbah putri yg kturnan pihak pangeran diponegoro, smpai skrg drmah msh nyimpen pedang dr perang diponegoro

  23. anwar hadi says:

    Mbh buyut saya dr puworejo yg satu knil fotonya msih ad di rmh saya di lmpung, klo yg adiknya sdh mninggal dlu kpla polisi d purworejo, almt rmhnya di jln sndrjan kli kpuh, dlu wkt mbh msih hdup saya suka bermain di rel kreta dket sibdurjan puworejo..

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

MENGENANG MAS KARDIYONO DARI PURWODADI, BUPATI MADIUN (‘6I-’65)

19 - Feb - 2011 | slamet wijadi | 21 Comments »

MENGENANG ‘SEKOLAH DESA’ WUNUT DI JAMAN BELANDA

16 - May - 2009 | slamet wijadi | 49 Comments »

SEKOLAH YANG DILUPAKAN

11 - Aug - 2009 | massito | 4 Comments »

Sopir Taxi Purworejo

25 - Mar - 2009 | slamet wijadi | 16 Comments »

Pandangan Politik

9 - Apr - 2010 | slamet_darmaji | 7 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net