Kuburan Gedong Magrong Magrong

  16 - Jun - 2012 -   slamet_darmaji -   2 Comments »

Kalau Rumah Gedong magrong-magrong itu sudah hal biasa, sekarang giliran Kuburan Gedong-magrong -magrong adalah hal luar biasa. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang berbeda pendapat, lagi-lagi yang saya tuangkan ini adalah opini pribadi.

Alkisah tentang rumah gedong magrong-magrong yang sekarang menjadi hutan kembali sudah banyak dan alkisah tentang kuburan yang dibuat Gedong magrong-magrong yang sekarang sudah menjadi hutan kembali juga terjadi. Kuburan di kampungku memang berada di tengah hutan atawa tempat terpencil yang orang jarang berkunjung ke sana. Di kampungku, orang berkunjung ke kuburan biasanya kalau ada acara pemakaman atau berziarah, atau kerja bakti membersihkan kuburan leluhur masing-masing. Tapi kalau sengaja main ke kuburan itu adalah aneh, jangan-jangan mau cari nomer togel, he he he.

Dulu simbah/nenek suka nyuruh aku “Le, kae kuburane mbahmu sesok diresiki yo, disaponi”. “Nggih mbah,” jawabku. Dan besoknya aku bersih-bersih di kuburan. Di sana sudah tersedia sapu regel/lidi, sapu ijuk sebagai alat bersih-bersih. Sekarang nenek sudah tidak ada, tidak ada yang memerintah lagi, dan yang diperintah juga tidak ada di sana, ya akhirnya terbengkalai.

Membuat kuburan gedong magrong-magrong sebagai wujud menghormati leluhur mereka, tentunya adalah sah-sah saja, namun bagiku adalah tidak semestinya.

Dan mereka yang masih punya pemikiran bahwa kuburanpun perlu di gedong magrong-magrong jaman sekarang saya rasa sudah pada nggak ada, termasuk nenekku sendiri dan generasi di bawah nenekku kecuali Ibuku yang sudah punya pemikiran yang berbeda. Juga generasi sebayaku, aku yakin mereka sudak tidak berfikir sampai seperti itu.

Jaman sekarang lahan kuburan semakin sempit, apalagi di kota, jika semua kuburan di buat gedong magrong-magrong, tentunya banyak memakan lahan, nanti kita nggak kebagian lahan gimana horo? Mau dikubur dalam posisi berdiri karena nggak kebagian lahan?

Pulang ke purworejo 18~19 Mei 12 kemarin aku dan anak-anak menengok kuburan Bapak yang sengaja tidak kami buat gedongan, cukup dibuatkan nisan yang kokoh saja, toh Bapakku almarhum sudah tidak merasa kehujanan jika hujan dan kepanasan jika terik, sudah terhalang tanah karena memang ditimbun tanah dan tak perlu dibuatkan kuburan yang gedongan lagi.

Salam

Slamet Darmaji, 25 Mei 2012

Ilustrasi : Abed & Joan Menjenguk Kuburan siMbah yang terhimpit Kuburan Gedong Magrong Magrong, di mbahjoyo.multiply.com

Category: blog, Tags: | posted by:slamet_darmaji


2 Responses to “Kuburan Gedong Magrong Magrong”

  1. mas adjie says:

    setuju dg pak Slamet Darmaji perihal kuburan skrg ndak usah di beri rumah yg magrong2.. mesakne anak putune sing le ngrawat, cukup ditetenger yg sederhana saja. matrial yg buat mbangun mending disumbang ke pembangunan tempat ibadah malah dpt pahala. Ngomong2 masih satu marga dg Pak Slamet Wijadi pak ? nuwun sewu … salam kenal nggih pak….

  2. Nggih salam kenal juga Mas Ajie,,mboten wonten sambetipun, namung sami naminipun mawon,,sami Slamet ipun,,hehe

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Angka liter unik

15 - Jan - 2009 | yoyokr | 5 Comments »

Berbagi Inspirasi

25 - Feb - 2010 | agus | 2 Comments »

MERANTAU

26 - Apr - 2012 | massito | 8 Comments »

PROF.DR ABDULRACHMAN SALEH DAN NDALEM SINERAN WUNUT

20 - Mar - 2010 | slamet wijadi | 37 Comments »

Cara membasmi tikus di rumah

24 - Feb - 2014 | Adi Degreen | 11 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net