Jaran Mbedal

  24 - Jun - 2012 -   slamet_darmaji -   7 Comments »

Waktu aku masih kecil sampai dengan STM, di kampungku banyak orang punya Jaran / Kuda mereka yang memelihara kuda adalah orang yang punya Delman atau Gerobag, ketika itu transportasi di kampung memag di dominasi oleh Delman sebagai transportasi antar desa atau antar Pasar tradisional.

Jaran Mbedal adalah kuda yang terlepas dai kandang dan pergi semaunya sendiri seperti kuda liar, tentu si empunya kuda akan mengejarya sampai dapat,ketika mengejar kuda biasanya kami bergotong royong untuk bisa mendapatkan kembali.

Ceritaku tentang jaran mbedal.

Malam itu orang orang berteiak karena ada jaran mbedal, kuda lari di sebelah rumahku menuju barat, tanpa pikir panjang aku pun bergeas keluar rumah untuk ikut dalam menangkap kuda mbedal tadi, karena larinya orang dengan kuda tadi lebi cepat kuda tentunya,oran orang tertinggal jauh dan aku adalah orang yang paling dekat karena kuda baru saja lewat sebelah rumahku, malam itu seuasana tidk terlalu gelap karen bulan bersina sepro, aku lari mengejar kuda tadi tapi aku sendiri tidak berteriak karena takut kuda akan berlari lebih kencang, teman teman yang lain berhenti di jalan raya dan menyebar mereka kehilanagn jejak kuda dan aku, aku mengikuti kuda yang menuju arah barat mengikuti jalan setapak ke arah kuburan, tanpa rasa takut terus aku ikuti dengan berlari jinjit supaya tidah kedengaran kuda bahwa aku mengikutinya, sesampai di kuburan tinggal aku dan kuda itu, kuda berhenti pass ditengah tengah kuburan, sambil menyelinap diantara kuburan yang gedongan aku semakin mendekati kuda, pelan, diam, mengendap endap endap, kuda itu masih ada tali yang menggantung di lehernya tapi tidak panjang hanya sekitar dua meter, aku berharap akan dapat memegang tali yang menggantung di leher kuda, jarak aku dengan kuda semakin dekat 5meter, 4meter,2meter dan ketika aku berusaha menyabar tali dileher kuda itu, aku tesandung batu nisan dan membuat gerakan yang mengagetkan kuda, tali tak teraih, kuda terkejut dan berlari meninggalkanku sendiri ditengah kuburan.

Ketika aku sadar bahwa tinggal sendiri di tengah kuburan akupun berteriak sekencangnya untuk mengusir rasa takut dan memberi tahu kepada teman bahwa kuda lari ke arah selatan,’’jarane ngidul-jarane ngidul’’ dan aku sambil berlari kearan selatan kembali mengejar kuda, tak lama kemudian bertemu dengan kawan kawan lainya, kuda kini sudah terkepung diantara rumah yang ber jejer, dan yang maju adalah orang yang punya kuda karena si empunya kuda lek Penjol,  ia sudah akrab maka dengan mudah kuda bisa di tangkap kembali.

Kini Jaran mbedal yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di kampungku, karena tidak ada lagi orang yang memelihara kuda, yang ada adalah fenomena atau perilaku seperti jaran mbedal pada generasi muda kita, anak muda yang berperilaku ‘’sak karepe dhewe’’, susah diatur dan cenderung berani kepada orang tua, tugas kita sebagai orang tua memperhatiakan dan menjaga anak-anak kita supaya tidak berperilaku sepertihalnya ‘’Jaran Mbedal’’.

Salam

Slamet Darmaji 23 Juni 2012

Category: blog, Tags: | posted by:slamet_darmaji


7 Responses to “Jaran Mbedal”

  1. mas adjie says:

    hehehe… lucu juga kejadiannya mas Dar…. klo sy punya pengalaman dg “perjaranan” sekitar awal2 tahun 80an wkt masih SD kls V. Diajak bpk sekeluarga menengok simbah di Sidomulyo pwj, naik bis dari gombong turun terminal purworejo, biasanya dari terminal jln kaki nyebrang kali bogowonto, lewat ds tambakrejo, baru sampe sidomulyo. karena barang bawaan cukup banyak bapak ngajak naik Dokar berlima dg ibu dan dua kakak perempuan saya. perjalanan naik dokar sangat kami nikmati, lewat psr baledono, pantok, lewat jembatan liwung,belok kiri lewat tambakrejo, dan tdk lama lagi nyampe rumah simbah. nggak tau kenapa bbrp meter akan sampe rumah simbah, pas mau masuk gerbang rumah simbah tiba2 si jaran tiba2 meringkik ringkik sambil kaki depannya di angkat. pak kusir turun utk menenangkan sang kuda, namun kuda bukannya jadi tenang malah tambah ‘ndadi’,,, kami semua jadi panik… kuda tak terkendali muter2 di plataran rumah simbah… simbah dan tetangga podo ikut ngrubung.. nulungi kami yg akan nekat loncat dr dokar krn ketakutan. waah jadi malu campur panik gak keruan,, sejak itu kami kapok klo diajak naik dokar… klo istilah kami “Jarane Bigar”….. salam..

    • suwarto says:

      IKU INGON-INGONE SOPO ? YO NJENENGAN ORA PIRSO SING NDELENG MALAH JARANE YO WEDI AREP MLEBU , TAKOKNO KARO MBAH MU OPO IKU INGON-INGONE MBAHMU YO NGONO

  2. hera says:

    kisah2 lama yang tidak akan pernah membosankan untuk diceritakan pada generasi berikutnya….

  3. Slamet Darmaji says:

    Mas Ajie,, kalau nggak salah sih jaran mBigar itu jaran yang masih memakai pakaian lengkap berikut delman, namun berontak susah dikendalikan, atau dokar lari tanpa ada pak kusirnya,( seperti pengalaman njenengan ), tapi kalau jaran mbedal itu jaran yang sudah di kandang namun terlepas dan lari kemana maunya, dan jaran yang suka mbedal biasanya jaran yang sering dihajar sama majiknya entah karena bandel atau pemiliknya yang memang galak…,,,Mas Suwarto,, sampean kayak mbah dukun aja,hehe salam kenal…,,bwat Hera terimakasih sudah mampir n membaca,,Salam

    • suwarto says:

      maaf pengalaman waktu aku masih kecil naik dokar begitu sampai kudanya nggak mau masuk halaman malah berlari terbirit birit dokare pontang panting sang supir terlempar setelah ditanyakan ditempat itu katanya angker ada setan nya hahahaha hihihihi kalau malam menakutkan begitulah ceritanya

  4. banyak ilmu yang saya dapatkan disini, khususnya yang aku baca saat ini tentang situs, terimakasih dan salam ukhuwah wahai sauadaraku.

  5. nur basuki w says:

    jadi inget waktu kecil dulu, paling takut kalau papasan sama “jaran mbedal”… kita yg baru pulang sekolah jadi ikut lari pontang panting menyelamatkan diri bukan utnuk menagkap jaran…..

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net