Hari Ulang Tahun

  16 - Jun - 2012 -   slamet_darmaji -   9 Comments »

Satu ketika aku bertanya sama simbok “mbok biyen aku iseh cilek yen ulang tahun sukak di rayakne nggak ? kata simbok “alah, ora tau wong nang ndeso ra ono ngono-ngonoan”.

Ulang tahun di kampungku dulu dan bagi keuargaku nggak pernah diingat-ingat apalagi dirayakan, semua berjalan seperti hari-hari biasa dan malah kadang lupa karena memang nggak diingat-ingat tadi.

Kini ulang tahun bagi sebaya anak- anaku sering dirayakan bahkan ada yang pakai acara makan makan di restoran dan dibuat meriah, namun bagiku yang sedari kecil nggak pernah merayakannya adalah merupakan hari biasa saja yang nggak pernah diingat-ingat bahkan dirayakan jadi menurut saya adalah bukan budaya orang Jawa (sepoerti saya, maaf bukan anda ) tidak merayakan hari ultah itu.

Di FB juga saya tidak mengklik pengingat hari ulang tahun sehingga tidak ada pemberitahuan kepadaku dan juga kepada kawan kawan di FB. Yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku rata-rata dari Bank, Asuransi, dan lain-lain yang aku menjadi member disana, ada yang melalui email dan ada yang melalui sms.

Satu ketika menjelang hari ulang tahunku ada salah satu mantan teman sejawat menelponku yang mengingatkan bahwa tiga hari lagi aku akan ulang tahun dan ia menginginkan bertemu untuk merayakanya. Ya wis, akhirnya kami berdua bertemu di sebuah warung kopi di daerah Alam Sutra, sebuah perayaan kecil dan sederhana sambil ngbrol karena sudah lama tidak bertemu.

Tujuh hari kemudian, aku sore itu ada acara pertemuan dengan teman sejawat untuk membahas tentang Proyek baru, jam 18.30 aku baru keluar Cikarang barat dari arah Bekasi tiba-tiba ada telpon dari rumah dan yang bicara anakku nomer 2,

An : Halo pak
Q : Halo Juan
An : Pak, hari ini Juan kan ulan tahun,,
Q : oh iya, bapak lupa
An : Beliin kue pak
Q : ya udah nanti bapak beliin ya, lalu telpon ditutup.

Terbayang aku akan ada pertemuan jam 19.00 dan perkiraan selesai jam 21.30 lalu aku jalan pulang Cikarang ke Tangerang, kalau tidak macet satu jam, maka sampai rumah jam 22.30, belum lagi mampir ke tukang kue, apakah masih ada yang buka malam malam begini.

Selasai pertemuan jam 21.30, aku bergegas meluncur pulang ke Tangerang, sampai di rest area Karang Tengah aku mampir dengan harapan bisa mendapat kue ulang tahun buat anaku. Ternyata sudah pada tutup toko kuenya, tinggal dunkin donat saja yang masih buka. Maka daripada tidak membawa kue, akupun membeli donat dan meneruskan perjalanan. Sesampainya di dekat komplek ternyata ada satu toko kue yang buka dan disana masih ada kue ulang tahun saya langsung mampir dan beli satu kue ulang tahun yang dihiasi coklat, lega rasanya, dengan harapan anaku belum tidur.

Sampai dirumah anaku sudah tidur dan aku coba bangunkan namun sudah terlanjur pulas dan aku hanya bisa meciumya dan berkata maafkan bapak ya nak yang lupa akan hari ulang tahunmu.

Salam

Slamet Darmaji,16 Juni 2012

Category: blog, Tags: , | posted by:slamet_darmaji


9 Responses to “Hari Ulang Tahun”

  1. meds says:

    Kalau di kampungku tradisi ulang tahun juga tidak ada. yang ada “peringatan” netu/ weton. Pertemuan hari dan pasaran. Dilaksanakan setiap selapanan (36 hari?) sekali. Peringatan juga bukan dengan pesta, tapi dibuatkan jenang abang putih, lalu dibagikan kepada anak-anak kecil.

  2. gunarso ts says:

    Mas Darmadji, kita-kita yang lahir nang tampah, memang tak kenal dengan budaya ulang tahun atau yarig kata orang Belanda. Kalau ada slametan,paling bayi usia 36 hari (selapanan). Orantua lalu bikin among-among, bubur merah dengan nasi urap. Kalau ada telur bebek, dibagi seperdelapan.Itu pun anak-anak kemruyuk berebutan.
    Kebetulan aku menikah dengan orang kota, sehingga mereka punya gejala merayakan ulangtahun segala buat anak-anakku. Aku tak suka itu. Maka ketika kue tart sudah tersedia, lilin dan kelinci plastik sebagai hiasan telah tersedia, diam-diam kelinci itu saya benamkan dalam kue tart tersebut. Istri dan iparku protes, saya jawab santai saja: Lho, truwelu gaweyane pancen ngerong kok.
    Sejak itu tak ada lagi budaya ulang tahun di rumahku. (gts)

    • Didik Winarko says:

      Whalah!! aku koq yo dadi ngakak dewe ki, carane gawe ilang budaya ulang tahun kuwi lho…
      Ndadak marmut dicublekno nang kue tart… Lha po truwelune clamitan po ya… hahahahahhaaa…

      Tapi salut maas…. jempol deh…
      Aku ki sing lagi nyari cara ben anak-anakku sing kadung “dididik” karo lingkungan je…
      Yen aku sih yo babarblas gak nate ngeling2 hari ultah… Tapi anak-anak wis kadung angel je… :(

  3. massito says:

    Dari kosakata sebetulnya tahun tidak pernah berulang, yang berulang jam, hari dan bulan, sedang tahun maju terus, tapi berhubung sudah salah kaprah, maka jadilah ulang tahun.
    Setuju kata Pak Gunarso, dulu kita adanya selapanan dimana hari dan pasarannya sama itupun sekedar nasi tempe dan kluban untuk anak@ sekitar, mis senen wage, seloso kliwon dll. jatuhnya memang 36 hari.
    Tapi okelah yang penting semua aman dan damai.

  4. Mudah mudahan budaya yang memang buakan budaya kita tidak terlanjur mendarah daging di keluarga kita, kalau saya lihat budaya itu memang ramai dirayakan padasaat anak-anak kita masih kecil, dan akan hilang ketika mereka dewasa,namun tergantung orang tua masing masing yang akan membuat budaya itu ada dan tidak ada,dan kedamaian dalam keluarga adalah tujuan kita semua,terimakasih buat teman2 pembaca atas perhatianya,Salam.

  5. Bagongkusdiharjo says:

    Pak Slamet Darmaji….saya itu lahir dan besar di Ketangi…nek dolan kadang-kadang tekan pasar Kuripan wong tinggal nyabrang kali bogowonto…gandeng anake wong ora nduwe, trus saiki di Jakarta dan alhamdulillah biso mangan sedino ping telu..ya tidak pernah menganjurkan anak-anaku “ultah” segala, paling-paling kalo anak-anak kelingan hari lahire…wis tak jak mangan keluar karo moco Do’a bareng-bareng..mungkin karena saya wong ndeso dadi ora bioso…suwun pak slamet

    • Mas Bagongkusudiarjo,,berarti njenengan sudah pernah lewat depan rumah saya,wong rumah saya cuma 100mtr lor pasar Kuripan pinggir jalan,,Salam kenal & Maturnuwun sampun mampir..

      • Bagongkusdiharjo says:

        Salam kenal kembali Pak Slamet…yg pasti saya sering ke Kuripan wong saya punya konco deket namanya Mbak Uminarti, sekolahe di smp PGRI bagelen, omahe wetane njenengan, tapi mbuh saiki nang endi ra ngerti khabare…barangkali njenengan kenal dan tau alamate mbak Umi, dan mungkin kalo ketemu saya pasti kenal njenengan….matur nuwun

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net