MERANTAU

  26 - Apr - 2012 -   massito -   8 Comments »

Hidup di desa maupun di kota bukan pilihan melainkan tuntutan keadaan, bak air mangalir saja, e tahu2 sampai di laut. Kata orang tua: Nak kamu sekolah yang pinter, supaya nanti bisa jadi priyayi. Apa itu priyayi, aku belum pernah mendapat penjelasan secara gamblang, tetapi setelah jauh dan lama berpikir, aku menycoba menyimpulkan sendiri, bahwa priyayi kurang lebih sama dengan pegawai neger.
Apakah itu bener? aku tidak tahu pasti, tetapi rata-rata dulu para tetanggaku juga berkata begitu kepada anaknya, dan yang beruntung memang betul-betul jadi pegawai negeri.

Terus apa kelebihannya menjadi pegawai negeri, sehingga menjadi cita-cita para orang tua? setidaknya walau pun gaji tidak besar (waktu Itu) tetapi ada kepastian, tidak mungkin dipecat kalau tidak salah-salah banget (pemikiran waktu itu). Berhubung akan menjadi pegawai negeri, berarti harus meninggalkan kampung menuju kekota atau kota besar (Jakarta/Surabaya/semarang) tergantung koneksinya.
Mulailah awal perantauan, waktu itu tahun 1974, aku meninggalkan kampung halaman, harapannya bekerja sebagai pegawai negeri. Aku juga tidak tahu kalau mau jadi pegawai negeri mendaftarnya lewat mana. Setelah 3 bulan menunggu tidak menentu, aku mendaftar ke BUMN dan diterima, walaupun sebagi tenaga harian.
Dari waktu kewaktu kulalui, penghasilan masih tidak menentu, lebaran tidak pulang karena gajinya tidak cukup untuk naik bus atau kereta, akhirnya harus bersabar.

Disitulah, yang namanya merantau hampir sama dengan alunan lagu yang di nyanyikan Titiek Sandhora. Apakah betul hanya tinggal kenangan yang abadi, ternyata tidak, sampai saat ini aku masih bisa mudik dan ketemu Simbokku yang sudah sepuh.
Merantau pada awalnya memang tidak enak, dari biasanya ikut orang tua, kita bebas karena sebagai anak, setelah merantaui aku ikut kakakku dimana punya aturan yang berbeda dengan orang tuaku, ya pastilah dikota pasti berbeda dengan di desa. Dari situlah aku mulai belajar menyesuaikan dari sejak diumah sampai di kantor. umurku waktu itu masih muda, cuma aku tidak banyak membrontak, setiap aturan aku jalani, dan aku yakini itu benar, sampai-sampai aku dinilai sebagai orang yang patuh pada aturan.

Dan kebiasaan itu kubawa sampai sekarang. suatu ketika aku mendengar lagu merantau lagi, aku terus teringat waktu aku awal di Jakarta, rasanya ingin pulang, belum berfikir macam2. Beruntung walaupun hanya sebagai karyawan bawahan tetapi tidak banyak kesulitan. Itu hidup, yang mengalir seperti air yang terus akan mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah akhir kelaut, kembali ke alam abadi. Pursito/wingko

Category: blog, Tags: | posted by:massito


8 Responses to “MERANTAU”

  1. Raf says:

    Pak Purs,
    Saya juga harus muter2 wilayah Republik Indonesia untuk merantau, seperti nenek moyangku yang peladang berpindah …..

    wassalam

  2. slamet wijadi says:

    Mas Pur, konsep tentang “pegawai negeri” jaman dulu memang begitu, jadi “priyayi” gaji kecil tetapi tiap bulan pasti, tidak gampang di pecat, kalau tua pensiun dapat penghasilan tetap sampai jandanya. Itu keadaan jaman normal. Jaman sekarang banyak anak muda yang cerdas tidak ingin jadi PNS, karena kurang tantangan, gaji kecil, harus nurut/patuh pada atasan yang kadang2 makan hati dll. Masing2 ada untung ruginya, memang. Saya sudah merasakan dua2nya dan kesimpulannya, kalau kita senang dengan tantangan, ambil risiko dan pendapatan besar, ya pilihannya pegawai swasta/wiraswasta. Sekarang anak2 muda usia 30 tahunan banyak yang kaya raya, mereka kebanyakan bukan pegawai negeri. Kalau PNS bisa kaya raya kan banyak yang curiga, itulah sekedar komen saya. Selamat untuk tulisan yang bagus. Salam Sw.

  3. haryadi says:

    Selamat merantau dan sukses selalu

  4. massito says:

    Mas Raf, Pak Wi, Mas Haryadi terima kasih atas komentarnya,
    Keadaan tahun 60an dan 70an memang begitu, anak-anak begitu lulus SLTA, yang bisa kuliah, kuliah yang tidak pergi merantau kekota besar mencari kerja untuk memperbaiki hidup, wktu itu cari kerja masih mudah. Sekarang keadaan sudah lain, lapangan kerja terbatas sementara pengangguran melimpah, maka persaingan menjadi ketat.
    Untuk bisa meningkatkan hiduptidak harus merantau, nomor satu adalah ketekunan kerja, mereka yang merantau menjadi sukses juga karena ketekunan, berangkat pagi pulang malam, berapa jam itu?. jadi bagi yang tidak merantau tetap bisa berkembang dan maju asal semangatnya sama dengan yang pergi merantau.

  5. Gunarso Ts says:

    Oh simbokku, hatiku pilu seorang diri….. Begitulah kira-kira lirik lagunya Titik Sandhora bila diadaptasikan dengan nasib kita-kita ini ya Mas Pursito. Kita ternyata bagian dari orang yang tidak memilih PNS sebagai sandaran hidup.
    Sebagai pelajar Ikatan Dinas, th 1971 sebetulnya aku sudah jadi PNS, dengan status Guru Agama. Tapi karena tak merasa berbakat di sana, tugas guru Ikatan Dinas itu kutinggalkan. Aku sudah kadung senang dengan dunia tulis menulis (wartawan).
    Dalam sebuah wawancara, pengusaha Bob Sadino mengatakan: kalau mau kaya, keluar dulu dari wartawan. Tapi aku tak pernah menyesal dengan pilihanku. Begitulah romantika wartawan. Bila bareng presiden dan menteri, tidur di hotel berbintang. Tapi selesai liputan, kembali naik angkot dan tidurnya pun di rumah BTN tipe 45. (gts)

  6. yoyo.s says:

    Mas Gun, begitulah dinamika hidup tapi Mas Gun masih beruntung bisa mempunyai rumah tipe 45 bukan 21, itu semua tetap harus di syukuri karena itu karunia dari Yang Maha Kuasa.
    Saya waktu masih sekolah dulu juga di nasehati sama Simbah, kalo besok dewasa pingin jadi orang kaya jangan jadi Pegawai negeri jadilah orang partikelir ( Swasta ) maklum pada waktu itu tahun 1964 yang namanya Guru gajinya sangat sedikit menurut ceritera Simbah jadi ya nggak salah Simbah memberi nasehat seperti itu, Nggak kaya sekarang yang namanya gaji Guru rata rata sudah jauh lebih baik di banding PNS lainnya. Selamat berkarya buat Mas Gun.

  7. Gunarso Ts says:

    Benar Mas Joyo, th 1960-1970, puncak penderitaan kaum guru. Guruku SR sampai transmigrasi gara-gara gaji guru yang tak memadai. Bahkan saat di PGAN Yogya,guru PD ngobyek dagang sapi Bondowoso – Bandung, sementara tugas mengajar dioperkan pada guru lain. Kata Pak Pedro (pemain teater),”Nek sapiku ming mati loro sak angkatan, ora rugi aku.”

  8. massito says:

    Pak Yoyo, kalau Simbokku lebih konvensional, belum ngerti kalau waktu itu gaji pegawai Negeri masih kecil, tahunya hanya Pegawai Negeri, tompo bayar, biar sedikit pasti, kalau yang sudah maju tahu bahwa pegawai swasta gajinya lebih besar, jadi kalau jadi pegawai swasta biar gajinya besar tapi pasti.
    Semua itu dorongan orang tua yang bisa menjadikan kita2 ini lebih siap menghadapi realita hidup.
    trims mas Yoyo

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Undangan Mengisi Blog

23 - Aug - 2007 | meds | 7 Comments »

Forum Blogger Purworejo

28 - Aug - 2007 | meds | 12 Comments »

Kuburan Gedong Magrong Magrong

16 - Jun - 2012 | slamet_darmaji | 2 Comments »

Sekedar Mudik ke Purworejo atau Mudik Selamanya

21 - Jul - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

PROMOSIKAN BLOGGER PURWOREJO?

15 - Dec - 2008 | indiez | 10 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net