Bertemu sesama warga Purworejo di RSPI

  15 - Apr - 2012 -   Agung Prastowo -   9 Comments »

Bagaimana rasanya bertemu dengan sesama warga Purworejo di perantauan ? Dalam situasi yang ‘sedang tidak menguntungkan’ pula.

Mula-mula saya kaget dan seakan tidak percaya ketika dokter spesialis penyakit jantung Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta yg memeriksa saya menyatakan penyempitan pembuluh darah jantung saya sudah sangat serius sehingga harus segera dilakukan operasi bypass. Pemeriksaan dilakukan hari Sabtu dan operasi bypass harus dilakukan hari Rabu berikutnya tanpa boleh pulang. Waduh… seserius apakah penyakit saya sampai harus cepat dilakukan tindakan operasi? Mana umur masih 46-an lagi !? Dulu di kampung, paling cuma sakit panas dan di suntik Pak mantri juga langsung sembuh.

Tidak ada pilihan lain. Setelah isteri saya setuju jadilah saya langsung siap ’digarap’ di RSPI. Pada H-1 dilakukan pemeriksaan umum kondisi kesehatan sebagai persiapan operasi. Pada hari itulah ketika mulai masuk ruang perawatan, seorang suster begitu membaca data pasien langsung bertanya “Bapak Purworejo-nya dimana?”. Saya jawab, “Purwodadi, mbak”. “Purwodadi-nya mana?”. Sekali lagi saya detilkan karena biasanya kalau bertanya lebih detil pasti juga tahu detil, “Jenarkidul !!”. Suster sambil tertawa berkata “wah..kita satu kampung karena saya dari Wonosari-Ngombol”.

Isteri saya tertawa lepas mendengar dialog kami. Lumayan dalam situasi yang mendebarkan menghadapi operasi bypass, bertemu perawat kamar yang berasal dari satu kampung di perantauan lebih menambah ketenteraman.

Saat itu pula suster, namanya suster Berta, menyampaikan urutan cakupan perkerjaan di ruang perawatan selama menghadapi tahapan operasi, termasuk pasien harus dicukur bulu (rambut?) mulai batas dada sampai ujung kaki. Dan….tugas mencukur ini dilakukan oleh Sr. Berta. Karuan saja saya menolak !! Lha ya malu toh yang nyukur kok suster yg sekampung. Saya sesalkan mengapa RSPI saat itu tidak menyediakan perawat lelaki. Isteri saya ngomel-ngomel, “Nggak usah mikir yang macam-macam lha wong namanya menghadapi operasi !!”. Tetapi saya tetap menolak…. isin!! Akhirnya menunggu suster shift berikutnya yang nggak sekampung.

Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan 1 minggu pasca operasi sudah diperbolehkan pulang. Untuk dokter, perawat dan staff RSPI saya ucapkan terima kasih, juga untuk Sr. Berta.

Salam,

Category: cerita, Tags: | posted by:Agung Prastowo


9 Responses to “Bertemu sesama warga Purworejo di RSPI”

  1. slamet wijadi says:

    Mas Agung, pertama saya ucapkan “selamat” telah sukses dengan operasi bypass nya, syukur ketahuan tepat pada waktunya… Mengenai bertemu sesama warga Pwr itu saya juga punya pengalaman. Waktu mobil saya masuk bengkel asuransi, petugas yang menerima namanya Eko, iseng2 saya tanya dari mana, “Pwr Pak, lho kok sama, dimana Pwrnya? Ngombol Pak. Lho Ngombolnya mana, Singkil Pak. Lho Singkil mana, Singkil Kulon. Putranya siapa?…”. “Bapak dari mana?. Saya dari Susuk. Kalau Singkil saja kan banyak kenalan saya…”. Akhirnya hubungan jadi akrab dan saya mendapat pelayanan “istimewa”… Ini sekedar komentar ringan untuk tulisan mas Agung. Salam dari warga Susuk, teruskan menulis Mas Agung.Sw.

  2. Pak Slamet Wijadi, terima kasih. Saya bersyukur kepada Allah bahwa saya masih diberi kesempatan menikmati hidup di dunia ini.Bertemu rekan sekampung di perantauan memang punya rasa sesuatu. Sama halnya dengan membaca tulisan-tulisan tentang kampung kita yg di-publish di media. Salam.

  3. massito says:

    Selamat Mas Agung, karena telah melewati operasi dengan baik dan lancar, semoga lekas sembuh, terus bagaimana ceritanya SUster Berta. saya wong wingko

  4. Agung Prastowo says:

    Mas Sito,

    Terima kasih atas perhatiannya. Saya sudah tidak pernah bertemu Suster Berta pasca rawat inap di RSPI. Mungkin karena suster Berta bertugas di bangsal rawat inap, pas saya melakukan pemeriksaan rutin (bulanan) tidak pernah bertemu. Saya tetap mengingatnya karena selama 10 hari mondok di sana banyak diladeni termasuk memasang stocking khusus di kaki kanan di bekas luka pengambilan pembuluh darah kaki yang dicangkokkan ke pembuluh darah koroner jantung. Saya masih ingat kalau suster ketawa ketika saya bilang kok saya kayak penyanyi dangdut ya pakai stocking. Goyangnya saja yg saya tidak bisa.
    Mas Sito kalau Wingko dan Singkil Kulon itu dekat bukan? Lurah Singkil Kulon sekarang adalah teman seangkatan saya di SMPN Purwodadi.

  5. Yono says:

    Mas Agung,
    Selamat atas kesuksesan operasi jantung, semoga saat ini benar benar sudah fit.
    Menarik sekali tulisan Mas Agung, bisa menceritakan sesuatu yang sebenarnya berat menjadi begitu cair dan ringan, saya yakin ini cermin kepribadian Mas Agung sehari hari. Walaupun demikian saya penasaran dengan pengalaman Mas Agung : kapan kejadian operasi ini, berapa lama dan apa yang dikeluhkan sampai vonis dokter harus operasi, dan apakah saat ini harus ada pantangan makanan dan aktifitas. Beberapa artikel mungkin sudah pernah kita baca tetapi tulisan dari yang mengalami sendiri tentu lebih bermakna.
    Salam hormat, yono.

  6. Agung Prastowo says:

    Mas Yono, terima kasih banyak atas perhatian anda. Perlu diketahui bahwa operasi yg saya lakukan adalah operasi bypass pembuluh darah koroner jantung yg umum disebut sebagai penyakit jantung koroner (PJK), jadi yg dioperasi adalah pembuluh darah, bukan jantungnya itu sendiri. Jantung saya baik-baik saja dari dulu hingga sekarang. Syukur penyempitan pembuluh darah jantung saya tidak/belum sampai terjadi penyumbatan. Jika sampai terjadi penyumbatan akan menyebabkan aliran darah ke jantung berhenti sehingga berakibat jantung berhenti berdetak dan bisa fatal bagi penderitanya.

    Saya dioperasi pada tgl. 26 Oktober 2011. Sebagaimana penderita PJK, secara fisik mungkin tidak terlihat. Saya tinggal di Bogor dan diminta dokter untuk mulai masuk RSPI tgl. 24 Okt 2011 untuk memulai prosesi operasi. Saya bahkan masih bisa nyopir ke RSPI, tentu didampingi isteri.

    Operasi berlangsung kira-kira 4,5 jam dimulai jam 18:00 s/d 22:30, tapi sudah dibius sejak pukul 16:00. Oh ya, suntikan bius pertama dilakukan oleh Sr. Bertha van Wonosari Ngombol itu. Saya sadar dari bius selesai di operasi pukul 01:30-an.

    Keluhan pertama adalah nyeri dada kalau lari. Biasanya, setiap week end, saya melakukan jogging secara menerus selama kira-kira 25-30 menit. Maret 2011, ketika jogging seperti biasa, baru berlangsung 5 menit dada kiri saya sakit nyeri seperti diremas atau ditekan. Ketika lari saya hentikan dengan istirahat atau ganti jalan kaki, rasa nyeri ini berangsur angsur hilang. Saya sebenarnya sudah curiga dg ketidakberesan jantung saya hingga April 2011 saya mendatangi dokter jantung di Bogor untuk menjalani treadmill. Anehnya hasil uji treadmill saya dinyatakan ok.

    September 2011 (5 bulan dari rasa nyeri yg biasa muncul saat jogging) adalah jatah medical check-up (mcu) tahunan saya dari perusahaan. Mcu inilah menyatakan saya un-fit untuk bekerja di lapangan dan harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter jantung. Saya bekerja di perusahaan minyak (saya ditempatkan di kantor) yg mempunyai lapangan minyak lepas pantai dan juga di onshore dimana setiap saat saya harus siap ditugaskan ke lapangan. Oleh karenanya saya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut baik ct-scan ataupun kateterisasi jantung hingga tgl. 26 Oktober 2011 harus menjalani bypass.

    Setelah 4 bulan pasca operasi, saya sudah bisa kembali jogging secara menerus lagi. Masalah yg masih ada hanya bekas luka dada bekas pembedahan yg meninggalkan bekas luka sepanjang kira-kira 16 cm. Seperti halnya bekas luka umumnya kalau ada gerakan yg menekan atau menarik akan memberi rasa nyeri. Tapi interm of jantung dan pembuluh darah bypass sepertinya oke-oke saja.

    Saya diet makanan rendah lemak. Menghindari gorengan dan santan serta secara rutin minum obat pengencer darah dan penurun kolesterol darah. Disarankan dokter agar selama hidup saya harus minum obat itu. Ini tantangan besar buat saya utuk bisa menjalaninya.

    Demikian mas, mudah-mudahan berguna. Jaga kesehatan karena menjaga kesehatan masih lebih murah dan mudah daripada dada ini harus di-dhedel duel.

    • Yono says:

      Wah, berbeda to, matur nuwun pencerahannya, semoga luka bekas operasi lekas sembuh, pulih seperti sediakala.
      Tapi kan operasi bypass pembuluh darah koroner sudah deket ke jantung. La yang parah kan temen saya yang baru pindah ke Bandung, saya tanya rumah dimana, dia bilang depan pengadilan, rumah nomer berapa dia jawab sebelah Gedung Olah Raga (GOR), lo emang ada GOR didepan pengadilan, dia jawab GOR Jl. Jakarta kan depan LP Kebonwaru. La ora genah wong iki, LP kok dibilang Pengadilan.
      Oh ya Mas, saya tinggal di Cimahi, masih satu Gubernur dengan Bogor, kelahiran desa Kemadu, lor Gunung Tugel, Kutoarjo.

  7. Sastra Bangun says:

    Tolong Nama atau alamat Pak Agung Prastowo di Face Book pak, supaya kita bisa sharing dengan Chatting, karena saya juga sudah operasi by pass pak

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Perjalanan Darat Brunei-Pontianak Naik Bus Damri

19 - Jan - 2010 | prigel_landwb | 69 Comments »

Jangan Memberi Cap Anak Nakal

28 - Aug - 2009 | eko_juli | 14 Comments »

Mengejar harapan dari tanah Bagelen hingga Banyuwangi

8 - Aug - 2012 | prigel_landwb | 11 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

Feodal dan Power Distance

20 - Dec - 2008 | nurrahman18 | 11 Comments »

© copyleft - 2012 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net