Radio, hiburan anak kampung tahun 1970-an

  5 - Nov - 2011 -   Gunarso TS -   22 Comments »

Di masa Menpen Harmoko, RRI wajib siaran 24 jam, dan warta beritanya yang setiap jam disiarkan RRI Jakarta, harus direlay segenap radio RRI maupun swasta. Tapi semenjak Orde Baru ambruk, kewajiban itu tak ada lagi, sehingga siaran RRI nyaris tak terdengar, kalah pamor dengan menjamurnya siaran TV. Padahal di masa kecilku, RRI dan radio swasta merupakan hiburan sehari-hari di kampung.


Radio Philips L-4 26 T, radio paling bergengsi di tahun 1960-an. (Foto: Internet)
*****
SEBELUM tahun 1970 pesawat radio merupakan kebanggaan dan menjadikan sangat prestisius bagi pemiliknya. Hingga tahun 1960-an belum ada warga kampungku yang memilikinya. Bahkan tahun 1950-an, saat radio transistor belum ditemukan, pemilik radio di kampung-kampung harus rajin menjemur batu baterai sebanyak 60 buah untuk sumber tenaganya. Maklum listrik hanya ditemukan di kota-kota.

Ketika murid-murid SR Margosari tempatku sekolah ingin mendengarkan pidato Presiden Soekarno, pak guru mengerahkan muridnya berduyun-duyun ke rumah Lurah Kedondong, ayah Suyanto teman kami. Anak-anak mendengarkan di pendapa, sementara radionya distel di dalam rumah. Apa isinya pidato Bung Karno tersebut, kalau tak salah pencanangan Trikora di Alun-alun Lor Yogyakarta 19 Desember 1961, dalam rangka merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda.

Di Desa Pulutan Kecamatan Ngombol kampungku, pemilik radio transistor pertama kali adalah Mas Bari Purbosukarto. Beberapa bulan sekembalinya dari Palembang, dia membeli radio baru merk Ralin. Untuk masa-masa tahun 1962-an harga radio mahal sekali, sehingga Mas Bari pun harus ngepaske (menjual) sawah. Pertama kali datang, radio itu ditaruh di rumah emboknya, Siwa Pawiroinangun. Diletakkan depan pintu rumah dalam, dipasangi kabel yang ditancapkan ke tanah, yang kemudian kutahu itu namanya arde.

Cah ndesa seperti aku dan teman-teman, terkagum-kagum melihat kotak yang bisa bicara dan mengeluarkan bunyi aneka musik dan gamelan tersebut. Saat kenop gelombang diputar-putar untuk mencari sebuah studio siaran, terdengar suara: kruickk, kruick..brbbt brbbt…, dan barulah ditemukan gelombang yang pas. Ketika disetel, penontonnya berjubel. Lebih-lebih bila ada siaran wayang kulit di malam Minggu, seakan orang sekampung tumpah di rumah Siwa Situr. Mbah Wiryodidjojo misalnya, ketika RRI Yogyakarta menampilkan dalang Ki Gondomargono, beliau tahan mendengarkan sampai ngebyar (sampai pagi).

Di tahun-tahun itu, radio benar-benar menjadi lambang prestise. Sejumlah orang yang punya gawe, suka pinjam radio Mas Purbo untuk dipajang. Lik Karsosemadi saat punya gawe nyunati Marno putranya di tahun 1966, pernah juga memajang radio tersebut. Tentunya ini sekadar buat “rungon-rungon” sebelum hiburan puncaknya, yakni wayang kulit dengan dalang Ki Hadisugito.

Apa merk radionya saat itu, aku tidak ingat lagi. Namun semuanya terjadi setelah beberapa tahun Mas Purbo membangun rumah dan buka toko kelontong di kidul ratan. Mas Purbo pernah juga memiliki radio bertenaga lampu, bukan baterai atau listrik seperti lazimnya. Radio dipasang di ruang tamu, sementara lampunya digantung di dalam toko. Sayang, hanya beberapa tahun dimiliki, radio Rusia merk Poga tersebut hilang dicolong maling. Selanjutnya kulihat, lampu sebagai sumber energinya merana di gantungan dimakan debu.


Studio RRI Yogyakarta di Kotabaru. Aku dulu sering ke sini untuk berkirim lagu. (Foto: Gts)

Tapi yang paling berkesan adalah, radio Mas Purbo yang bermerk Philips L4 26 T, made in Holland (Belanda). Radio itu berwarna oranye, baterai 6. Bentuknya seperti tas, bisa ditenteng dan antenenya bisa dilipat ke dalam mengikuti bentuk radio tersebut. Suaranya lebih bening, dan menambah gengsi pemiliknya. Bila malam Minggu tiba, kami bocah kampung suka mendengarkan siaran wayang kulit sambil tidur-tiduran di atas drum minyak, sementara orang dewasa duduk-duduk di dalam sambil macit (makan snack) gemblong (juadah). “Kono dha disambi, nganti ketiban lemut gilo (silakan dicoba, tuh sampai keja-tuhan nyamuk),” kata Mas Purbo kuingat jelas waktu itu, sambil mau memompa lampu petromaksnya yang mulai meredup.

Perlu diketahui, di masa itu siaran wayang di radio tak bisa ditemukan sembarang waktu macam sekarang. Ada tradisi setelah kemerdekaan yang hingga kini tak pernah berubah, siaran wayang di RRI digilir setiap minggu. Minggu ke-1 RRI Semarang (gelombang 76 m), minggu ke-2 RRI Yogyakarta (127,6 + 59,43 m), minggu ke-3 RRI Surakarta (63 m + 123 m), minggu ke-4 Jakarta (41 m) atau Surabaya (75 m). Tapi bila terdapat minggu ke-5 pada bulan tersebut, maka minggu ke-4 lowong tanpa siaran wayang kulit.

Saat kawanku, Mulyono – Ganung – Titit mau pergi mengadu nasib ke Palembang pada tahun 1963, radio Mas Purbo disetel di rumah Mul sampai pagi. Malam itu, Sabtu Paing 7 Desember 1963, RRI Yogyakarta siaran langsung wayang kulit dari Gedung PPBI (Persatuan Perusahaan Batik Indonesia), dengan lakon “Karno Tanding” bersama dalang Ki Tjermowasito (Tulung). Yang nonton banyak sekali, tapi baru pukul 04.00 ketika siaran wayang belum usai, radio tersebut sudah dibawa pulang oleh Mas Titon. Ah, aku kecewa sekali waktu itu.

“Nanti kalau aku sudah bisa cari duit sendiri, pengin beli radio seperti itu,” begitu kataku waktu itu, sepotong khayalan dan “dendam” seorang anak kampung. Tapi pada perkembangan selanjutnya, ketika aku sudah bekerja dan punya duit sendiri, radio model punya Mas Purbo sudah tak ada lagi di pasaran, kecuali bikinan Indonesia. Bahkan ketika aku sempat melawat ke Nederland Oktober 1996, radio obsesiku itu tak juga ditemukan meski di negeri asalnya sekalipun.

Sekitar tahun 1966, selama beberapa bulan Lik Misdi pamanku mengikuti pendidikan peternakan di Solo, selepas PHK dari PN Padisentra Ngombol. Sekali waktu dia pulang membawa radio Philips, nggenteni milik Pakde Sarosa yang ditinggalinya selama di Solo. Kami para ponakan berebut menyetel radio itu. Pernah pula malam-malam radio mungil itu kubawa pulang. Susah sekali menangkap siaran. Diputar sana putar sini gelombangnya, hanya dapat lagunya Bing Slamet “Nonton Bioskop” yang sedang ngetop kala itu. “Malam minggu aku pergi ke bioskup, bergandengan ama pacar nonton koboi….”

Begitulah, di kampungku radio mulai mewabah sejak tahun 1967, saat Orde Baru mulai berhasil menggeliatkan ekonomi anak negeri. Harga radio jadi murah. Dengan uang Rp 4.000,- yang berarti senilai emas 8 gram atau padi dua kwintal, orang sudah bisa beli radio transistor berbaterai 3, yang belakangnya ditutup harbord. Bila semalaman nyetel wayang, pagi harinya baterai tersebut dijemur, agar kuat kembali suaranya. Bahkan ada, baterai itu dikukus (direbus) di atas nasi liwetan.

Pak Sis pamanku membeli radio sekitar tahun 1968, merknya Telesonic, model gelombang mata bagongan. Saban Minggu malam, aku sering nonton ke sana, untuk mendengarkan siaran sandiwara radio “Keluarga Yogya” RRI Yogyakarta. Dari pukul 22.30 hingga pukul 23.30, kami biasa mendengarkan kisah-kisah drama bahasa Jawa karya Sumardjono, dengan bintangnya antara lain: Hastin Atas Asih, Habib Bari, Arif Hartojo, Mimi Natakusuma, Subroto, Sri Lestari Kartaningrat, dan Bagus Giarto; yang mayoritas penyiar RRI Yogyakarta sendiri.

Pada siang hari kuping bocahku juga diperkenyang dengan pilihan pendengar lewat berbagai stasiun radio. Untuk RRI selain Yogyakarta, ada RRI Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Untuk radio swasta di Yogya tempatku sekolah, ada Arma 11, dan Reco Buntung. Paling gila adalah Radio mahasiswa IAIN Purworejo, pilihan pendengar dari pukul 08.00 hingga 17.00 tanpa henti, padahal pengirim lagu harus bayar. Pendengar anak muda dimanjakan dengan lagu-lagunya Tety Kadi, Titik Sandora – Muhsin, Alfian, Erni Djohan, Anna Mathovani, Tanti Yosepha hingga Vivi Sumanti dan Christine.

Menjelang Lebaran tahun 1968 RPD (Radio Pemerintah Daerah) Purworejo yang kini berganti nama Suara Kenanga, menggelar ucapan selamat Idul Fitri lewat rekaman berbayar. Aku ikut pula merekam suara, dengan meniru-niru aksen penyiar RRI Yogyakarta favoritku. Begitu selesai rekaman, operatornya bilang, “Ee, suaramu kok mirip Bagus Giarto, ya?”. Wah kepalaku langsung membengkak.


Aku (tengah) bersama adikku, Sukapdi, dan sepupuku Hastoko, asyik mendengarkan pilihan pendengar RPD Purworejo seputar tahun 1973. (Foto: Gts)

Setelah Pak Sis, pemilik radio berikutnya di kampungku, adalah Siwa Pawiro Selung. Beliau juga membeli dengan merk Telesonic, warnanya merah ati. Menyusul kemudian Mbah Wir dan Lik Karsosemadi dengan merk Cawang. Keluargaku sendiri baru memiliki tahun 1968, ketika aku dapat rapelan Ikatan Dinas Rp 8.000,- dari sekolahku, PGAAN Yogyakarta. Rp 4.500,- kubelikan radio, sisanya kuserahkan kepada simbok. Radio itu merknya juga Telesonic, warnanya biru dan modelnya juga mata bagongan. Sejak itu rumahku juga dibanjiri para tetangga, paling setia adalah Yu Welas dan Yu Klamprah. Begitu senangnya aku, setiap pukul 04.00 sudah kusetel men-dengarkan RRI Ujangpandang, sebagaimana kebiasaan Pakde Suryadi di Yogya. Dan karena radio itu pula, aku jadi ngefans sekali pada penyiar RRI Yogyakarta sebagaimana Bagus Giarto, Mimi Notokusuma dan Sri Lestari Kartaningrat.

Yang kusebut terakhir ini orangnya cantik. Aku suka mengaguminya ketika main ke RRI Nusantara II Yogyakarta, beli kartu pilihan pendengar bersama Marno temanku. Tapi untuk bertegur sapa, tak ada keberanian. Sebagai ABG aku merasa malu dan minder. Profesi penyiar bagiku kala itu sangat di awang-awang, begitu hebat sebagaimana presenter TV sekarang.

Mas Syamsudin sepupuku pernah memotret penyiar idola remaja tahun 1970-an itu. Dia mengenakan rok hitam kotak-kotak dengan baju lengan panjang warna putih, dilipat. Setidaknya begitulah yang nampak pada foto berlatar pemancar RRI itu. Dan dengan baju yang sama (1969), Sri Lestari Kartaningrat pernah kulihat di samping boks penyiar sedang mencoba mengangkat beras jatah PNS. Lagi-lagi aku cuma ndomblong (terpana) seakan menatap sebu-ah menara gading!

Aku memang menggemari acara pilpen RRI Yogya. Tapi karena terbatasnya kantong, aku hanya kadangkala saja membeli kartu pilpen tersebut. Maka aku sungguh heran, kawula muda bernama Hartuti – Hardjito kala itu royal banget kirim lagu, setiap acara pilpen pasti tersiar nama mereka. “Oo, itu anak tukang sate depan Stasiun Tugu, langganan RRI,” kata Bu Sri Lestari Kartaningrat saat kutemui di Surabaya tahun 2005.

Radioku Telesonic juga pernah dipinjam Siwo Sari ketika punya hajatan mantu Sunti. Tak tahu siapa yang berulah, bodinya pecah. Aku hanya bisa ngedumel, karena tak tahu harus minta ganti pada siapa. Tapi akupun semakin kecewa, ketika suatu hari dikabari bahwa radio kesayanganku tersebut hilang dicolong maling bersama taplak mejanya. Sedih sekali rasanya hari itu, karena untuk sekian waktu selanjutnya aku tak punya radio lagi di rumah.

Tapi agaknya aku tak bisa lagi hidup tanpa radio. Karena minta pada orangtua tak juga dibelikan, suatu hari aku nekad menjual gelang simbok di Purworejo dan kubelikan radio Sanyo di Malioboro, Yogyakarta. Hari berikutnya aku kembali ke rumah “asrah bongkokan” pada orangtua tentang segala kelancanganku. “Ya wis, jane kuwi gelange wakmu Amat nggunung, ning durung kober mbalekake,” kata simbok tenang. Legalah aku, bagaikan terlepas dari beban satu ton!

Begitulah selanjutnya, aku berganti-ganti radio sesuai seleraku dan kemampuan kantongku. Dari Conion, Philips L-4 produk Indonesia, sampai Telesonic, Johnson dan Nivico. Yang bermerk Philips bahkan sampai 2 biji; aku pakai di Jakarta dan satunya lagu kutinggal di kampung. Tapi keduanya kini telah menjadi bangkai, sementara radio Sanyo yang “beraroma” emas itu di “hari tua”-nya dilungsur mbakyu Klamprah em-boknya Sarino.

Demikian pula radio Telesonic Pak Sis yang semula nggenteni milik Bulik Senthir adiknya di Kroya tersebut, pada akhirnya juga berantakan karena dibuat praktek dik Toko untuk reparasi radio. Tetapi keahlian dalam bidang elektronic tersebut selanjutnya menjadi sumber mata pencaharian Dik Toko hingga kini, “pasien”-nya hampir di seluruh Kecamatan Ngombol. Tapi sesuai dengan tuntutan zaman teknologi, pelanggannya kini bukan lagi radio melainkan teve berwarna dan video. Dik Toko memang terus mengikuti tehnologi perangkat electronik yang terus berkembang pesat dari waktu ke waktu. (Gunarso TS)

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:Gunarso TS


22 Responses to “Radio, hiburan anak kampung tahun 1970-an”

  1. Hasto says:

    Cerita nostalgia Mas Gun tentang radio , mengingatkan juga kenanganku diwaktu kecil dulu,,saat itu ada acara sandiwara radio serial Dokter Darman, tokoh pelaku yang lain ada yg namanya Erna,, ada yang berjudul “ Butir Butir Pasir di laut “, kalau tidak salah dari pemancar radio Yasfi Purworejo yang sekarang menurut khabarnya pindah di Cilacap. Bila menjelang siaran tersebut aku dan Mas Caryo kakakku pasti berlari-lari mendengarkan ke rumah Bude Sum,,karena saat itu di rumah belum ada radio, pernah suatu waktu kami kecewa karena setelah sampai di Bude Sum acaranya sudah selesai,,Cuma kebagian iklannya saja yg kalau tidak salah sponsor iklannya obat batuk Vicks Vaporub , aku sebenarnya tidak paham akan ceritanya karena pemahaman bahasa indonesiaku saat itu masih terbatas , maklum anak kampung tapi aku senang mencoba mengartikannya , beda dengan kakakku Mas Caryo yang dari dulu sangat senang dengan acara radio bahkan cita-citanyapun kesampaian jadi penyiar radio , sempat menjadi penyiar radio Amatron , juga pernah jadi penyiar di Semarang bahkan sampai saat ini kerja di Radio Unisi Jogya.
    Untuk acara yang aku sukai juga Wayang Kulit, apalagi dalangnya Ki hadi Sugito,,pernah waktu itu mendengarkan bersama kakakku Mbak Ning,,sambil makan cemilan,,kue/roti “corah “,ketika kutanya Mbak Ning apa itu corah dan dijawab eco tur murah dan akupun ketawa.
    Beda lagi dengan kakakku yang lain, ( mas Toko,) ,yang dulu pernah sekolah di ST ( Sekolah Teknik ) setingkat SMP ,dengan bakat dan kecerdasannya menekuni elektronik radio hingga sekarang dan menjadi mata pencaharian.
    Itulah sekelumit kenanganku tentang radio dimasa kecilku dulu.

    • Buka kenangan tahun 70-an di saat itu saya masih duduk di bangku SD, dirumah juga tempatnya konco-konco bapak ngumpul hingga tengah malam, saaat itu saya terpikir pada ngapain ya ,awalnya ngobrol masalah aktifias disawah,pasar dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.Sementara simbok dibelakang menyiapkan teh pait dan cemilan seadanya ,adakalanya slondok,legendar( krupuk ),goreng ubi,dan malah tanpa cemilampun jadi,sementara saya tidur merem melek karena terganggu mereka yang lagi ngobrol.setelah pukul 10 an gending pambuko Radio RRI Yogyakarta mulai menyapa ,spontan obrolan berhenti tuk menyimak siaran kethoprak mataram RRI Ngayogyokarto penyiarpun mulai dengan suara kasnya :”Nuwun poro miarso ,ngaturi kasugengan sugeng pepanggihan malih kalian keluargo kesenian jawi Kethoprak Mataram RRI Ngayogyokarto ,Ingkang wekdal dalu punika badhe ngaturaken lelampahan…..”demikian pak widayat bintang panggung menyampaikan prakata.Saya masih ingat pemeran kethoprak yakni Bp.marjikun,Bp.Kemin.Bpk Paeran,Bp Ripto (bambangannya)Bp.Suyatman (yang suaranya sepuh )Bp.basiyo dan istrinya ,Bp.Glinding,Ngabdul,Poniman,Miayanto,bagong Sutrisno,Bagus Giyarto,Marjono,.Bila sabtu sore menjelang Magrib ada acara buat kawulo mudho yaitu “syair dan lagu ‘acara ini bisa membius anak muda unutk didepan radio ,Acara ini dikemas awalnya lagu diputar kemudian setelah selesai penyiarnya membacakan syair dan diikuti sebaris lagu dengan musknya hingga lagu itu tntas dibacakan.Maka teman muda hampir memilikinya catatan lagu,hal ini populer tahun 80-an .Mungkin catatan itu sampai sekarang ada yang masih menyimpan.Demikian kenangan dengan RRI Nusantara II Yogyakarta.

  2. Gunarso Ts says:

    Terima kasih Dik Hasto. Serial “Dokter Darman” kan tahun 1980-an ya? Di masa itu Dik Toko kan sudah banyak “pasien” radio, masak di rumah tak ada radio? Saya ingat betul, saat di Solo (1972-1976) dik Toko suka ke Solo untuk belanja onderdil radio, karena harganya murah sekali di kota Bengawan.
    Soal kue “corah”, saya bisa menebak itu mungkin bolumprit atau roti ganjel ril, ya? Atau juga galundengnya Bu Citro, atau juga apemnya Mbah Sar, Trukan. Masih ingat kan khayalanmu di masa anak-anak dulu? “Suk nek kiyamat, aku arep nggrumut apeme nggone Mbah Sar sik…..”. Ini memang mirip khayalan saya dulu, pengin makan kerupuk satu kaleng sendirian. (gts)

    • Hasto says:

      Untuk acara serial sandiwara radio Dokter Darman kuingat ketika aku masih di SD Margosari di akhir tahun 70 an, sandiwara tersebut dimainkan oleh Sanggar Prativi sedangkan untuk judul “ Butir –butir pasir di laut “ drama pembawa pesan untuk keluarga berencana , dimana pemerannya adalah Olan Sitompul penyiar RRI saat itu sebagai dokter Syarif . Berdasarkan sebuah sumber , drama tersebut dibuat RRI Pusat sejak tgl 10 Pebruari 1977 dan dalam konperensi kependudukan di New Delhi The Population Institute menyatakan drama itu sebagai programa terbaik di Asia.
      Tentang kue “ corah “ bentuknya bulat pipih , kue kering,,sedangkan “khayalan anak kecil” tentang kiamat , gara-gara setiap disuruh beli sesuatu di warungnya Mbah Sar , aku selalu melihat kue apem besar sekali,,warnanya coklat dan pengin mencicipi namun tak bisa karena tak punya uang ( jadi Cuma bisa kemlecer saja ,he,he ), namun kerinduan akan kue apem terobati ketika aku pulang ke Pulutan aku sempatkan mampir ke pasar Jenar, Purwodadi ataupun pasar njoso,untuk beli apem atau serabi yg besar.
      Wah,,kenangan yang berkesan

  3. ikyasa; muhtarom says:

    Wah luar biasa daya atau kemampuan mengingat peristiwa masa lalu pak GTS sampai ke detil. Pengalaman mendengarkan radio yang sampai sekarang masih saya ingat adalah kebiasaan mendengarkan acara Musik Pelepas Lelah (MPL) RRI Pusat Jakarta dengan para penyiar kawakan Sazli Rais dan Hasan Ashari Oramahe di tahun 1970-an. Ketika Hari Lebaran di masa kanak-kanak, mengiringi acara pilihan pendengar di banyak radio swasta niaga menemani warga masyarakat ujung )bersilaturahmi sambil bermaaf-maafan)waktu itu selalu diperdengarkan lagu “Selamat Lebaran” sebagai lagu latar (backsound) dari penyanyi asal Minang Oslan Husen. Sampai sekarang saya suka menitikkan air mata kalau mendengar lagu itu saya putar di MP3 saat Lebaran. Program2 siaran RRI yang saya suka dengar adalah Obrolan Pak Besut dan Ketoprak Mataram (RRI Nusantara II Jogjakarta) dan Laras Madyo (RRI Wonotolo Surabaya)setiap malam Jumat. Terima aksih Pak GTS atas infonya yang sangat memorable.

  4. Gunarso Ts says:

    Terima kasih Mas Muhtarom. Soal kedetilan kenangan masa lalu, selain berdasarkan ingatan semata, sesungguhnya akurasi data itu juga terbantu dengan kegemaran saya menyambangi Perpustakaan Negara depan Hotel Garuda Yogyakarta, hingga kini. Setiap ke Yogya, saya mesti menyempatkan diri mampir ke situ. Di situ saya membuka koran-koran lama KR (Kedaulatan Rakyat), sehingga ketemulah data-data yang kubutuhkan.
    Sama Mas, setiap mendengar lagu “Selamat Lebaran”-nya Oslan Husin, aku ingat Lebaran di kampung seputar tahun 1967-1970. Karena domisili kita memang seputar Yogya, kenangan akan “Obrolan Pak Besut”(Kamis malam dan Sabtu malam), Pangkur Jenggleng (Senin malam), dan Ketoprak Mataram (Rabu malam); demikian kuat. Namun sayang, aku mencari rekaman suara Pak Besut semisal di Youtube tidak menemukan.
    Saya masih ingat betul Pak Besut setiap mengawali obrolannya. Setelah gending Bima Kurda usai, lalu katanya: “Nuwun para miarsa kakung miwah putri, sugeng pepanggihan malih kalih Pak Besut lumantar radio. Jarene Mang Jamino………, dst. Setelah selesai, Pak Besut menutupnya dengan kata-katanya: “Cekap semanten obrolan Pak Besut dalu menika. Menawi boten wonten alangan setunggal punapa, saben Kemis lan Setu ndalu panjenengan saged kepanggih malih kaliyan Pak Besut lumantar radio. Wasana, sekali merdeka tetap merdeka…..
    Acara MPL RRI Jakarta juga sering saya ikuti. Selain Hasan Ashari Oramahe dan Sazli Rais, penyiarnya kala itu Dahri Oskandar dan Maryono (orang Kulon Progo). Begitulah Mas Muhtarom. (gts)

  5. Raf says:

    Pak Gun benar2 gemar mendengarkan siaran radio..sampai frekuensi gelombang hafal ..muantap2..

    Dengerin siaran langsung sepakbola lewat radio ..wuih heboh luar biasa…

    Salam, raf

    • Gunarso Ts says:

      Betul Mas Raf, di jaman itu belum ada TV di kampung, sehingga radio memang jadi satu-satunya alternative hiburan elektronik. Di masa itu, mulai dari pukul 04.30 sudah bisa nyetel RRI Ujungpandang gelombang 60-an m dengan penyiarnya Komarudin. Selain studio RRI favorit, bisa juga nyetel RRI Bandung (90 m) dengan penyiarnya Baskara, Palembang (61) bersama Herman Sawiran. Yang saya heran, meski RRI Purwokerto relative lebih dekat, tapi tak tertangkap siarannya.
      Soal siaran bola di RRI, di masa itu saya kagum pada almarhum Sumardjono penyiar RRI Yogyakarta. Dia angkasawan RRI serba bisa. Baca berita oke, laporan pandangan mata sepakbola juga piawai, jadi pengarang dan sutradara sandiwara radio (Keluarga Yogya) juga ahlinya. (gts)

  6. massito says:

    Radio satu2nya hiburan gratis pada tahun 60 an dan 70an, dominasi oleh RRI, kemudian menyusul di PURWOREJO RPD ada juga IAIN dan amatron. acara paling ditunggu2 adalah pilihan pendengar, satu lagu yang minta banyak banget.
    RRI Jogyakarta acara paling menarik siaran Kethoprak Mataram, setiap malam Kamis, sekarang tidak tahu lagi masih ada apa tidak. Selain itu setiap sore ada siaran Pak Besut, yang dibawakan secara humor. Ada lagi RRI SOLO yaitu Empu Sambang dalan, acara menjelang Magrib dibawakan secara lucu, pendengarnya sangat banyak. Dan tentu saja acara siaran Wayang Kulit semalam suntuk. selamat Pak Gun yang mengingatkan kita kepada tahun 70 an dimana masih miskin hiburan.

  7. Gunarso Ts says:

    Trima kasih Mas Pursito. Dulu Purworejo memang ada radio Amatron juga ya. Tapi untuk “Obrolan Pak Besut”, bukan setiap sore. Yang ajeg hanya saban malem Jumat dan malem Minggu, dalam acara “Pelangi Nusantara” pukul 21.20-21.30. Memang pernah juga seminggu 3 kali, tapi tidak lama.
    Acara “Empu Sambang Dalan” RRI Solo disiarkan habis magrib, setiap Sabtu malam dalam acara “Panggung Integrasi Siaran ABRI”. Setiap dimulai dan ditutup acara itu, selalu diberi ilustrasi gending “Uler Kambang”. Saat mengawali pembicaraan Ki Empu mengucapkan kata khas: “Hallo hallo anak putu, mari mendekat radio……” Isyunya kala itu, acara yang dibawakan Mayor Tohir itu dihapus tahun 1970-an setelah dikritik Arswendo Atmowiloto. Begitulah Mas Pursito, kapan Anda ikut bernostalgia lagi di forum ini?

  8. ikyasa; muhtarom says:

    Nyambung lagi Pak GTS, mungkin kalau panjenengan dulu tidak memilih berprofesi sebagai wartawan tapi sebagai pengajar Ilmu Sejarah, mungkin sekarang sudah menyandang gelar Propesok (istilahnya Mr.Rigen untuk profesor. Mr. Rigen adalah tokoh rekaan Pak Umar Kayam, dosen Fakultas Sastra UGM yang rutin menulis Kolom Mangan Ora Mangan Kumpul di Harian KR Jogja setiap Selasa). Sekali lagi, tulisan Oak GTS detil dan correct. Suatu saat saya ingin Pak GTS nulis pengalaman hidup di Ngayogyakarto Hadiningrat sewaktu belajar di kota gudeg ini jaman itu. Nuwun Pak.

  9. Gunarso Ts says:

    Mas Muhtarom, terima kasih atas komentarnya, yang bagiku terasa seperti “disundul puyuh”. Dari kecil saya memang menggemari sejarah, dan anti Ilmu Ukur dan Aljabar. Namun meski gemar sejarah, saya tak pernah berfikir au menyaingi Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Dr. Abdullah, Prof. Dr Anhar Gonggong dan Dr. Asvi Warman Adam.
    Kenangan sekolah di Yogya sangat banyak, kapan-kapan saya tulis di sini. Tapi kesemuanya hanya menggambarkan kemiskinan anak kampung tahun 1960-1970. Di Yogya kala itu ke mana-mana jalan kaki. Punya sepeda hanya ketika dapat warisan dari paklik yang mati muda. Lihat sate “Pak Amat” atau martabak “Populer” di alun-alun lor, hanya bisa “ngulu idu” karena tak mampu beli. Nonton bioskop cuma mbludhus. Kalau duit habis, harus buru-buru pulang naik sepur bumel. Beda dengan anak sekarang, tinggal SMS dan kemudian masuk bilik ATM.
    Ketika kuceritakan “penderitaan” anak sekolah di masa lalu, anak-anaku hanya tertawa. Kasihan amat remaja masa itu, wedang ronde saja sampai nggak kebeli. Tapi begitulah, semuanya menjadi manis untuk dikenang Mas Muhtarom. (gts)

  10. Nur says:

    Maaf numpang tanya pak Gun.. RRI di zaman 1960-1970 ada lagu yang di siarkan setiap beberapa menit sekali, lagu perjuangan tentang persatuan dan kesatuan kemudian lagu itu digantikan dengan lagu Keluarga Berencana yang mau saya tanya apa nama judul lagu tsb? dan pengarangnya? atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

  11. Gunarso Ts says:

    Terima kasih Mas Nur, lagu penutup warta berita RRI di masa itu adalah mars “Garuda Pancasila” karya Sudharnoto. Lalu penggantinya adalah mars “Keluarga Berencana” ciptaan Muchtar Embut. Di masa itu, di kala Orde Baru sedang memasyarakatkan program KB, corong RRI dinilai paling efektif. Sekarang, seiring dengan ambruknya Orde Baru, KB menjadi tidak populer lagi. KB sekarang diplesetkan jadi: Kerep Bayen!
    Sekedar mengingatkan Mas Nur, lirik lagu mars KB itu sebagai berikut:
    Keluarga Berencana
    Sudah waktunya
    Janganlah diragukan lagi
    Keluarga Berencana besar maknanya
    Untuk hari depan nan jaya

    Putra-putri yang sehat
    Cerdas dan kuat
    Kan menjadi harapan bangsa
    Ayah-ibu bahagia rukun raharja
    Rumah tangga aman sentosa…(gts)

  12. Mengenai radio jadul ..
    akhir dekade 60an saya sudah sekolah di Yogya ..
    Betul kata Mas Gun .. kala itu sandiwara RRI Yogya punya tokoh seperti : Hastin Atas Asih .. Habib Bahri . Sutradara : Rahutomo , Samodra.
    Dirumah Paklik yang saya derek’i di Yogya radionya masih radio tabung (bukan transistor).. suarane gandem.
    Pengalaman menarik:
    Suatu malam Mimggu saya jalan2 di Malioboro .. orang2 podo ribut ngoyak oyak Hastin Atas Asih yang sedang jalan dengan suaminya .. pengin podo salaman. Saya juga ikut penasaran .. koyo ngopo sih rupane Hastin Atas Asih.
    Ning bareng deket.. mak jegagig .. saya kaget .. terus mundur umpetan .. Tidak nyangka kalo suami Hastin Atas Asih adalah dosen Fisika saya : Drs Mudrika Sz (dah rada2 lupa nama dosen ini).
    Duh malunya .. kamongko saya belum lulus mata kuliah nya.

    • Gunarso Ts says:

      Kwa kwa kwa….. (ketawa gaya internet), jadi clingusan ya? Hastin Atas Asih priyayinya “nyempluk” kan, kalau kata orang Ngombol? Setelah tidak di RRI Yogya dia ditugaskan di RRI Pusat Jakarta, tapi sayang sudah meninggal pada 4 Februari 2202. Teman mainnya dalam sandiwara, Sri Lestari Kartaningrat, kini tinggal di Bratang Surabaya, setelah pensiun sebagai Kepala RRI Madiun. Sedangkan Mas Bagus Giarto tinggal di perumahan dekat Jalan Kaliurang, Yogya. Salah satu anaknya jadi wartawan majalah Tempo. Begitulah Mas Wariso, sekedar informasi. (gts)

  13. … Xixixixixi (ketawa gaya wong mengi) ..
    apal suaranya .. tp belum pernah liat orangnya ..
    bareng dikejar meh ketemu .. jebul istri dosen’nya.
    xixixixixi ..
    Nuwun mas Gun .. info nya.

  14. mas adjie says:

    liat foto pak GTS yg sdg denger radio bertiga dg adiknya, klo gak salah radionya merk philip nggih pak gun? wkt pak gun lulus PGA sy baru lahir. namun th 70an sy inget ayah sy juga punya radio spt itu dan skrg sudah tak slametke.. jd koleksi saya… salut utk kisah dr pak GTS…

  15. Yogar says:

    Wow… Luar biasa daya ingat pak gun. Klo saya lahir th 1971 kira2 umur 7 tahun baru suka dengan radio. Yg msh saya ingat acara di rri adalah siaran langsung pandangan mata sepakbola, all england ada rudi hartono, luan jin, liem sweking, icuk sugiarto. Reportenya ripto syahfidi, sawarno, adjat sudrajat. Klo pmbaca brita yg msh saya ingat ada arif rusman, sigit kamseno, hatifah bahrun. Nah klo buku pelajaran sd yg msh sy ingat ada tulisannya: “Buku ini milk Negara dipinjamkan kepada murid untuk dibawa pulang, pelajarilah isinya rawatlah baik-baik tahun depan adikmu yang akan menggunakan buku ini”.

  16. Sunaryo(rio) says:

    Inget radio jadi inget acara syair dan lagu dimana, lagunya dibaca pelan2 dan diulang sementara para pendengarnya mencatat` setelah selesai baru lagu diperdengarkan, kadang2 karena teralalu cepat ada yang kelewatan syairnya he he he luu juga jaman dahulu ya.

  17. wibi says:

    Ingat masa kanak kanak di tahun 1970 an. Pulang sekolang jalan kaki sampe gembrobyos kringeten… setelah minum air kendi yang sejuk terus nyetel radio kesayangan…dengar RRI Jakarta acara Musik Pelepas Lelah (MPL).

    Kalau pagi dengar Radio Australia Seksi Indonesia (RASI) dengan penyiar yang top waktu itu… Nu’um Khayyath, Istas Pratomo, Istanto, Eddy Tanddo, Debra Yatim, Ebet Kadarusman, Abdurrahman, dll

  18. Syahranie says:

    Salam kenal semuanya, saya lahir tahun 1962 di Banjarmasin (kata ortu sih..) seingatku saat itu (paling tidak disekitar rumahku) radio masih berdaya listrik, tombolnya cuma ada 2 satu volume dan satunya tuning dan radio itu yang punya tetanggaku seorang haji, pedagang baju. Keheranan pertama kali melihat radio tsb adalah aku mengelilinginya sambil mengintip dari lubang yang ada pada bagian belakang radio, dipikiranku hanya ada satu pertanyaan, mana orangnya yang sedang menyanyi di radio tsb (kata orang banjar “Udik” atau Ndeso ujar tukul, peristiwa yang masih kuingat sehubungan dengan siaran radio tsb adalah ketika RRI Jakarta menyiarkan soal tragedi 30 S-PKI pada pagi hari, aku, ortuku dan kakakku hanya bisa mendengarkan dari samping rumah pak haji, untung dia nyetel radionya keras.(Heran kan? padahal usiaku saat itu baru 3thn,tapi itulah anugrah tuhan, aku masih mengingat jelas ketika mahasiswa sembunyi dirumahku ketika demo soal pembubaran PKI dan dia dikejar-kejar tentara yang kuingat jelas membawa kayu yg ada pakunya. Baru sekitar tahun 1973 ortuku baru bisa beli radio bekas merk Telesonic 1 band dan radio stb sangat berkesan bagi aku dan keluargaku (dulu ada sandiwara radio judulnya “Jaka Dilaga” yg selalu kami nantikan setiap hari.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net