Perjalanan Haji

  11 - Oct - 2011 -   sutiyono -   9 Comments »

Beberapa hari yang lalu jemaah haji sudah mulai meninggalkan tanah air, dan akan terus menyusul sampai 3 minggu kedepan. Untuk mangayu bagyo nderekaken poro jemaah calon haji;  saya akan menulis catatan ringan mulai dari persiapan  hingga pelaksanaannya.

PERSIAPAN YANG MENEGANGKAN

Saya dan istri sebagai muslim/mah yang awam dalam agama,  pertimbangan dan persiapan untuk  sampai kepada keputusan menunaikan  ibadah haji tentu sangat berat dan sulit.  Berbulan bulan kami mempersiapkan mental dengan serius menjelang hari keberangkatan.

Adalah teman kantor saya namanya Dodi, pada saat saya dalam puncak kegelisahan konsentrasi untuk berangkat, Dodi bilang kepada saya: “mas, nanti kalau sudah sampai tanah suci tolong sampaikan salam saya untuk Rasullulah,”.  Wah sudah keterlaluan teman saya ini bercandanya, tapi saya sudah didoktrin oleh para pembimbing untuk tetap sabar.

Kamis, 23 Januari 2003

Kepasrahan yang sudah dibina berbulan bulan tidak mampu mengurangi  kegamangan. Pagi menjelang subuh istri saya bangun dan menjalankan rutinitas biasa, padahal semalam tamu sampai larut malam. Menjelang siang  tamu semakin banyak dan kami berdua masih terhibur dengan obrolan sana sini. Sekitar jam 10.30 ada yang mengingatkan bahwa sudah waktunya untuk siap siap berangkat. Kami berdua kaget. Akhirnya waktunya  tiba untuk meninggalkan semuanya, saya harus menguatkan istri yang menangis sambil badan terlihat lunglai  dan mengajak kesalah satu ruangan berkumpul lengkap dengan anak anak. Satu demi satu anak anak ditanya kesiapannya untuk ditinggal, semua  meyakinkan kami berdua bahwa akan baik baik saja.

Jam 11.30 kami berdua dibawa ke Masjid dekat rumah yang sudah dipenuhi Jamaah. Kami berdua mengamalkan nasehat ustad Muchtar Kholid dalam suatu acara syukuran haji. Beliau memberi nasehat pada saat meninggalkan rumah, beberapa langkah dari pintu rumah berbalik dan diam sesaat, menatap rumah sambil berdoa dan menitipkan semuanya kepada yang Maha Memiliki, kemudian melanjutkan melangkah ke Masjid. Sebelum belok kami berhenti lagi untuk menatap rumah terakhir kali. Setelah prosesi di Masjid selesai, kami dengan penuh kepasrahan berangkat tanpa menoleh rumah kembali.

Hari Juma’at jam 00.30 pesawat Garuda yang kami tumpangi lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, sekitar jam 04.30 waktu Saudi crew pesawat mengumumkan bahwa beberapa menit lagi pesawat akan mendarat di Jeddah dan disebelah kiri jendela yang lampunya terang itu adalah masjidil Haram, kami berdua menoleh kekiri melihat benderangnya lampu Ka’bah, istri memegang tangan saya erat sambil menangis penuh syukur sudah bisa melihat ka’bah walau hanya benderang lampunya.

PELAKSANAAN YANG MENGGELIKAN

Perjalanan dari Jeddah ke Mekkah, karena semua Jamaah kecapaian, dalam bis kami semua tertidur, terbangun pada saat bus berhenti, sambil mata masih kriyep kriyep, terdengar orang sedang berdo’a, entah siapa yang mulai semua mengamini  aamiin… aamiin… aamiin, sampai pembimbing menegur kami semua: hei bapak ibu, ini bukan sedang baca do’a, tetapi sopir sedang menjelaskan kepada petugas check point,  semua terbahak mentertawakan kebodohannya sendiri.

Beberapa hari di Mekah, kami berangkat ke Madinah untuk melaksanakan solat arbain, keesokan harinya kami dibawa oleh pembimbing ke Raudah, sebelum masuk Raudah, pembimbing bilang, barangkali ada teman atau saudara yang titip salam untuk Rasulullah silahkan disampaikan disini, wah saya jadi teringat temen saya Pak Dodi, saya sampaikan salamnya; duh…  maafkan Pak Dodi, karena kebodohan  saya sudah berburuk sangka, saya kira Pak Dodi waktu itu mengolok olok saya.

Kami berdua menggunakan fasilitas ONH Plus, tetapi saat itu Indonesia mengirim Jemaah ONH Plus melebihi kuota, sehingga pada saat mabit di Mina semua ONH Plus dari Indonesia kecuali rombongan Amirul Haj Bpk Hamsyah Haz yang waktu itu beliau adalah Wakil Presiden, ditempatkan disebelah luar terowongan Mina (mestinya fasilitas ONH Plus ada disebelah dalam sehingga tidak lewat terowongan).

Tapi walau penempatan disebelah luar, fasilitas Plus tetap kami dapatkan. Hikmahnya kami bisa merasakan romantika berdesakan masuk terowongan Mina. Saat itu jemaah haji dari Turki terkenal solid dalam bergerombol, mereka rata rata lebih tinggi dan besar dari jemaah Indonesia, sulit sekali dipecah formasinya, karena mereka sudah mengatur yang kuat kuat dipinggir membentengi seluruh rombongan. Pada saat rombongan kecil kami memasuki seperempat terowongan, terdengar dari belakang gemuruh rombongan jemaah, rapat memenuhi terowongan, jumlahnya ribuan, berdengung kaya  barisan tawon melintas, langkahnya tegap. Pimpinan kami langsung berteriak: bapak ibu kepinggir, beri jalan, tetapi kita jangan terputus, kami semua mengikuti perintahnya. Rombongan Turki semakin dekat dan semua minggir untuk memberi  jalan; setelah dihadapan kita, kami semua kaget dan kagum, rombongan itu bukan Turki, tetapi membawa bendera merah putih, jumlahnya ribuan; ternyata mereka adalah para TKI dan TKW yang sedang melaksanakan haji dan terkoordinasi dengan baik. Semua kami kagum dan bergumam: ternyata bukan hanya jemaah Turki saja yang ditakuti, Indonesia pun bisa unjuk kesolidan.

Itulah catatan kecil yang kami alami, catatan lebih lengkap tentu terlalu panjang untuk ditulis disini; tetapi dalam versi lengkap sekalipun, kami berdua tidak mengalami hal hal yang aneh ditanah suci, tidak mengalami peristiwa yang seru seperti yang sering saya dengar ceritanya dari teman teman yang pulang dari tanah suci. Ini barangkali karena seperti yang saya tulis diawal, bahwa kami berdua  adalah jamaah yang awam dalam pengetahuan agama.

Untuk bapak, ibu, saudara, saudari yang kebetulan tahun ini atau tahun depan, pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa setiap orang yang akan menunaikan ibadah Haji, baik itu yang sudah berkali kali, apalagi yang baru pertama kali akan merasakan keadaan yang sama: takut, gelisah, gamang dan was was bercampur aduk dalam persiapannya. Tetapi akan merasakan kebahagiaan, kepasrahan dan kenikmatan yang luar biasa dalam pelaksanaannya.

Terima kasih atas dimuatnya tulisan ini,

yono

Category: cerita, Tags: | posted by:sutiyono


9 Responses to “Perjalanan Haji”

  1. Raf says:

    Pak Yono,

    ceritanya sangat inspiratif … mudah2 an bagi orang seperti saya yang belum merasakan, lebih giat berusaha & do’a sehingga segera “terpanggil”

    btw, tulisan – tulisan berikut dari Bandung di tunggu lho, Pak …

    Salam,

    • Sutiyono says:

      Mas Raf, terima kasih responnya, senang tulisan pertama bisa dimuat; semoga usaha&do’a Mas Raf dapat segera terwujud.
      Ya, ingin sekali menulis kenangan tentang Kemadu, terinspirasi tulisan tulisan Pak Wiek, Pak Gunarso dan penulis lain yang sangat bagus dan enak dibaca.
      Salam BP dan K3

  2. Darsono says:

    Kalau saya kaitkan komen sampean tentang beras Bogowonto yang menyebut nyebut Kemadu kayanya saya kenal, opo iki Sutiyono SMEAN Kutoarjo 70-72? Kalau ya, ingat dulu suka nongkrong omahe Gandung karo Naryanto, sasi poso jajan es nggone cowan; saiki wis insap, dadi kaji barang. Ojo nesu, guyon iki.
    Rombongan sing menuhi terowongan aku ora melu lo yo, nek aku melu weruh awakmu tak tabrak tenan hahaha….

    • Sutiyono says:

      Mas Darsono,
      Hehehe, yo bener tapi saiki Gandung karo Naryanto opo isik nang Torjo yo, aku nek pas mudik suka nyempetin minum es di cwan, yo isik koyo mbiyen suasana karo rasane.
      Lo awakmu manggon nang tanah suci, menetap nang kono to, kontak aku yo pingin ngobrol : sutiyono@megamedikamandiri.com

  3. Gunarso Ts says:

    Mas Sutiyono, ini kenangan masa lalu tentang Panggilan Nabi Ibrahim yang cukup bagus. Tetapi kenapa Anda belum/tidak menabalkan titel “H” di depan nama? Padahal ini sudah menjadi tradisi Islam Indonesia sepulang haji. Maaf, saya punya pengalaman lucu. Teman saya di kantor, begitu pulang haji langsung mengurus ke bagian TU, menanyakan kenapa namanya belum ditambahi “H” di depan namanya. Bahkan ada pula teman yang lain, begitu diumumkan tahun depan mau diberangkatkan haji, langsung pesan kartu nama dengan nama baru: H. Widodo.
    Mas Sutiyono di Tanah Suci mungkin mengalami “kisah religius”, sebagaimana yang sering dialami jemaah lain. Saya sendiri, saat berangkat tahun 2001, mengalami kejadian aneh yang mungkin bisa dikategorikan dalam “pengalaman religius” itu. Kisahnya, sebagaimana lazimnya jemaah haji, baik di Masjidil Haram (Mekah), Masjid Nabawi (Madinah) maupun hotel tempat istirahat, setiap ada kesempatan kita selalu menderes Qur’an, dengan kitab yang berganti-ganti. Tapi anehnya, setiap kali pertama membuka Qur’an, selalu ketemu dengan surat Anissa ayat 3.
    Terjemahan dari ayat itu kurang lebih adalah: “Nikahilah perempuan satu, dua, tiga sampai empat, jikalau mampu. Kalau tidak, cukup satu saja.” Akupun tercenung dibuatnya. Apa maksudnya ini? Mungkinkah ini sebuah “izin” untuk poligami? Padahal secara moril dan materil, saya tidak memiliki kemampuan untuk ini. Untuk menjaga perasaan istri, pengalaman aneh ini baru kuceritakan padanya 10 tahun kemudian, meski kala itu kami berangkat berdua. Begitulah Mas H. Sutiyono. (gts)

    • sutiyono says:

      Mas Gunarso, senang sekali tulisan pertama saya dibaca dan dikomentari Mas Gun yang selama ini saya kagumi. Ibadah Haji tentu membanggakan bagi muslim/muslimah, karena sudah bisa menunaikan rukun Islam paripurna, sehingga teman Mas Gun perlu mengurus penambahan H didepan namanya ke TU, tetapi kalau tahun depan baru rencana berangkat sudah cetak kartu nama, itu semangatnya luar biasa. Tentang pertanyaan kenapa saya tidak pakai H, barangkali pertanyaan yang sama untuk Mas Gun yang sudah lebih dulu dari saya.
      Pengalaman spiritual Mas Gun menarik, karena menurut beberapa Ustad, yang kita alami disana mencerminkan apa yang kita lakukan disini, jangan jangan tahun 2001 Mas Gun sedang ada keinginan poligami hehehe…… nyuwun pangapunten.
      Saya dan istri waktu itu termasuk dari sedikit jemaah yang tidak terkena batuk, ini tentu sangat kami syukuri, setelah selesai tawaf ifadah, sa’i dan tahlul, saya dan istri mensyukuri selesainya prosesi dengan makan direstoran siap saji dekat pasar seng, ada sedikit kesombongan dalam hati kami berdua, bahwa kami merasa lebih sehat dari jemaah lain, karena tidak kena batuk. Beberapa langkah kami keluar restoran langsung terkena batuk dan semakin lama semakin parah, dan kebawa pulang sampai Indonesia sampai berminggu minggu. Kalau ini termasuk pengalaman spiritual, ya itulah yang kami alami, inilah tanah suci, dimana kesombongan akan langsung mendapat balasannya.
      Matur nuwun

  4. yoyo.s says:

    Wah rupanya rupanya bloger ini makin semarak ceriteranya, dari katagori sejarah, budaya dan perjalanan Spiritual, nah saya juga tak nulis sedikit sedikit tentang perjalanan menuna8ikan ibadah Haji dan pengalaman menjadi tamu Alloh, betul apa yang telah di sampaikan oleh yang terdahulu, bahwa karena seperti saya sendiri bukanlah seorang yang berkecukupan ilmu Agama Islam maka pada waktu mau berangkat juga mengalami dad dik duk, namun setelah kami sadar bahwa semua itu adalah milik Nya, maka hal hal yang tadinya terbayang sangat menakutkan dan melelahkan ahirnya sirna dan pengalaman spiritual saya pribadi dan istri waktu berada di Arofah yang kabarnya panas sekali ternyata hawanya bias saja nyaman, sejuk dan tanpa kekurangan, baik kebutuhan makan, minum, toilet semua tercukupi, tidak ada kendala apa apa, inilah sedikit untuk menambahi kisah perjalanan Haji. Nuwun

    • sutiyono says:

      Mas Yoyo S, matur nuwun komen panjenengan.
      Kalau boleh saya simpulkan, kepasrahan total membuat kita terbebas dari bayangan yang sangat menakutkan dan melelahkan. Dalam menjalani kehidupan, kepasrahan juga menjadi sandaran kuat dalam menghadapi permasalahan yang sulit dan komplek.
      Pengalaman spiritual panjenengan sangat menarik, semoga ini gambaran dari keseharian Bpk dan Ibu Yoyo yang senantiasa memberikan keteduhan dan kedamaian bagi keluarga, saudara dan masyarakat sekitar.
      Matur nuwun

  5. fandy says:

    jd kepengen naik haji,,tp kpn y ALLAH??
    smg cpt,,,AAMIIN.

    slm cah CPP

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net