KOTA PURWOREJO TAHUN 70-AN

  16 - Oct - 2011 -   geblex -   58 Comments »

Saya mau menggambarkan keadaan kota Purworejo pada tahun 70-an menurut pengamatan saya. Siapa tahu ini dapat memberikan inspirasi anda semua? Atau malah hanya sekadar hiburan?

 

Timur Rumah Dinas Bupati

Sekarang di sebelah timur rumah dinas bupati berdiri kantor kejaksaan dan kantor tiga parpol. Pada awal tahun 70-an, tempat itu adalah lapangan terbuka yang pada waktu sore digunakan orang untuk olah raga memanah. Para pemanah duduk bersila di sebelah timur dan sasaran panah ditempatkan di sebelah barat di dekat tembok rumah dinas bupati. Tiap pemanah mempunyai satu sasaran panah tersendiri yang bentuknya bulat bermotif lingkaran-lingkaran dengan satu bulatan sebagai pusatnya. Ternyata Purworejo pernah mempunyai atlit memanah tradisional. Apakah sekarang masih ada yah?

 

Belakang Rumah Dinas Bupati

Pada tahun 70-an, belakang rumah dinas bupati adalah lapangan terbuka yang dapat di lihat dari jalan. Kini di situ telah berdiri warung-warung atau rumah-rumah sehingga lapangan tertutupi. Apakah tanah di situ milik negara? Ataukah tanah itu telah dijual, di sewa, atau bukan kedua-duanya?

 

Gedung Bioskup

Pada awal tahun 70-an, semula Purworejo hanya mempunyai 1 gedung bioskup yaitu gedung bioskup Bagelen. Dalam memutar film, gedung bioskup ini bekerja sama dengan gedung bioskup Pelangi di Kutoarjo. Satu unit film dimainkan bersama dalam satu hari dengan jadwal pemutaran yang berselisih kurang lebih 30 menit. Film diputar pada jam 5, 7, dan 9 malam. Harga tiket dibagi menurut kelas berdasarkan jarak dari layar. Kelas terdepan adalah kelas 3 dengan harga Rp 26,-; kelas 2 dengan harga Rp 40; kelas I dengan harga sekitar Rp 60,-.(maaf lupa persisnya); dan mungkin ada kelas balkon yang harganya (maaf tidak tahu he he he). Filmnya kebanyakan koboi.

 

Kemudian, gedung bioskup Pusaka didirikan. Sebelumnya, gedung yang digunakan adalah untuk pertunjukkan wayang orang. Sejak itu, seniman wayang orang kehilangan arena berekspresi. Sangat disayangkan! Ternyata Purworejo yang katanya berumur 1000 tahun lebih tidak bisa menyelamatkan seni wayang orang.

 

Stasiun Purworejo

Pada awal tahun 70-an, stasiun Purworejo masih disinggahi kereta api jurusan Purworejo-Kutoarjo. Keretanya adalah kereta uap yang berwarna hitam. Suara uapnya jas-jes-jas-jes. Penumpangnya banyak dan banyak pedagang gerabah yang memanfaatkan jasa kereta yang tinggal kenangan ini.

 

Terminal Bis

Pada awal tahun 70-an, terminal bis tidak begitu luas dan terletak di pojok timur laut alun-alun purworejo di utara pohon beringin barat kantor pos.

 

Pantok

Konon, Pantok berasal dari bahasa Belanda, van Tok. Pada awal tahun 70-an, Pantok menjadi pusat perdagangan durian. Perempatan Pantok waktu itu sempit dengan ujung perempatan yang membentuk sudut 90 derajat. Lampu penerangan adalah lampu pijar yang tidak mempu menerangi seluruh penjuru perempatan. Oleh karena itu, penjual durian menggunakan oncor/obor sebagai alat penerangan.

 

Pasar Pagi

Pada awal tahun 70-an, mulai dari Pantok ke timur digunakan untuk pasar pagi. Pasar mulai aktif sekitar jam 3 pagi dan berakhir sekitar jam 6 pagi. Pedagang berdatangan dari arah timur dengan berjalan kaki dengan oncor/obornya atau dengan gerobak yang rodanya bergaris tengah setinggi gerobak. Oncor dibuat dari bambu berisi minyak tanah yang ujungnya ditutup kain. Kain yang berminyak tanah disulut api sehingga menjadi menyala. Kalau nyalanya redup, obor dimiringkan agar minyak membasahi kain penutup.

 

Liong Pandekluweh

Konon, Pandekluweh berasal dari bahasa Belanda van de kluwih. Pada awal tahun 70-an, masyarakat kampung ini berpartisipasi aktif dalam karnaval tujubelasan dan selalu menjadi bintang (menurut saya). Sajian andalannya adalah kesenian tionghoa liong. Liongnya bermata mencorong karena matanya terbuat dari dua lampu baterai. Sebelum diarak dalam karnaval, liong itu disemayamkan di klenteng belakang pasar Baledono. Setelah karnaval selesai, Liognya dibakar di sungai Bogowonto.

 

Mesin Bertenaga Air

Pada awal tahun 70-an, di sebelah barat kampung Pandekluwih ada mesin bertenaga air. Air sungai kedung putri di alirkan ke saluran khusus untuk menggerakkan roda besar sekali. Selanjutnya, roda besar tadi akan menggerakkan roda mesin yang lebih kecil. Seingat saya, mesin itu pernah digunakan pabrik kayu gergajian dan pabrik es balok. Letaknya di sebelah utara pintu air.

 

Ikan di Sungai

Pada awal tahun 70-an, sungai Bogowonto masih banyak ikannya. Kalau kita menyelam dan membuka matanya, kita bisa melihat ikan kecil banyak jumlahnya. Sementara itu, aliran irigasi bernama sungai kedung putri yang melewati kota juga masih banyak ikannya. Jika sungai ini tidak dialiri, banyak masyarakat yang berduyun-duyun berebut mancari ikan. Kini semua itu tinggal kenangan.

 

Hotel Indra

Dulu ada hotel di Jl. A. Yani di antara Buh Menceng dan Pantok. Kini ia digunakan untuk agen bis. Hotel Indra termasuk hotel no 1 di Purworejo pada tahun 70-an. Namun, kadang-kadang, hotel itu disewakan untuk pesta pernikahan warga tionghoa.

 

Sekian dulu cerita nostalgianya.  Semoga bermanfaat.

 

16 OKTOBER 2011 (GEBLEX)

 

Category: blog, Tags: | posted by:geblex


58 Responses to “KOTA PURWOREJO TAHUN 70-AN”

  1. adhi says:

    waktu kecil saya pernah diajak bapak latihan panahan di timur rumah dinas bupati, kalau selesai latihan diajak minum es buah atau kacang hijau di warung pinggir jalan sebelah (sebrang jalan) timur rumah dinas bupati

    • Ery Koesriyanto says:

      Iya betul pa Adhi, sy dulu jg sering lihat bpk2 latihan manah di lapangan blkg kabupaten di sore hari, entah apa tujuannya. Apa skdr hoby, ltihan, mau ikut lomba atau lainnya, mbuh aku ga ngerti.

  2. titink riyani says:

    sayang stasiun purworejo sudah tak aktif lagi,mudah2han ada perbaikan pembangunan sarana tranportasi kereta api di kotaku tercinta ini, amin.

  3. Untungsubagio says:

    Wah Purworejo saiki wis koyo kota mati…isine mung tinggal mbah-mbah pensiunan, sing nom-noman yen dudu PNS,utowo guru yo petani atau pengangguran, golek pangupo jiwo ing Pwr susah banget, bab ekonomi tdk berkembang..dadi yen ngeling-eling kahanan ing tahun 70 an wis ra bakal ketemu…Bioskop Bagelen wis suwe tutup, semono ugo Pusaka, kali Bogowonto wis longko iwake, yen tibo kemaro banyune koyo kalen mili cilik, sarana infrastruktur yo isih koyo biyen ora ono perubahan, koyo malah ketinggalan karo kutho-kutho liyane

    • Ery Koesriyanto says:

      Asswrwb, mhn info apakah pa Untung Subagyo ini alumni smp2/sman pwr thn 70an? Sy jg alumni lulus smp2-69, sman-72; seingat sy dl ada kakak kls sy nmnya jg Untung Subgyo, dan kal ga slh bersaudar dgn tmn sekelas saya mba Mintarsih Iriani di kls satu smp2 pwr; Trs kal g slh mba Ir msk ke smea penabur; Jika bnr bpk adlh pa US yg sy mksd tsb, apa kabrnya mbak Iriani, dimana beliau skrg? — Tapi Kal sy keliru sy mhn maaf yg sebsr2nya.

      • Untungsubagio says:

        Waallaikumsallam..Pak Ery, ingkang panjenengan maksud mungkin bukan saya, SMP sya di PGRI bagelen tmt thn’73 gandeng ortu wong ra nduwe terpaksa hijrah ke Jkt lanjut ke Taman Madya (SMA)Tamansiswa Jl. garuda 25 Kmyoran dan tmt’76 gliyak-gliyak lanjut ke Jayabaya ning Thn 78 wis kepepet golek duit lajeng gabung kaliyan Astra akhire dpt S-1 baru thn 84.. kalo baca infonya, Pak Ery 4 thn didepan saya…ning ga masalah, yg jelas kalo saya ketemu bapak pasti bisa nyambung obrolane, wong sama-sama asli Pwr yen ketemu biasane gayeng…ok Pak Ery matur nembah nuwun atas infonya

  4. Toto says:

    tahun 71 saya tamat SMA I, dan sebelum itu lulusan SMP Negara III di sebelah timur kantor bupati. saya masih ingat kondisi pada tahun itu seperti yang diceritakan pada tulisan mas adhi. Hal yang paling menarik adalah bahwa tahun 65 sebagai anak desa untuk mengikuti ujian SR di SMP III, dan saya harus mondok selama ujian di sebelah barat alun-alun. Sebagai anak desa tidak tahu tentang sekolah SMP, dan ketika lulus SD maka saya masuk ke SMP III dengan pikiran bahwa begitu masuk sekolah langsung di kelas 3. Dan pada waktu hari pertama masuk sekolah saya heran, kok saya masuk di kelas I-A.Tentang panahan di belakang kantor bupati, pada saat ujian SR hampir saja saya kena panah dan dimaki-maki orang yang latihan panah. Dasar anak kampung masuk kota.

  5. beny lau m says:

    asmw.ibuku asli purworejo. Mungkin polisi wanita pertama dari purworejo.pakdeku dulu tinggal di tuk songo No.90 di depan stasiun kereta Api Purworejo.dan di rumah pakdeku tinggal ada 9 mata air yang airnya jernih. Aku rindu bila ingat kota Purworejo.Bila Kota Purworejo mau maju setiap pelajar & mahasiswa yg berasal dr purworejo diminta sarannya dan idenya. Karna ketika selesai sekolah banyak yang bekerja di 33 propinsi di Indonesia dan sangat cerdas, tentunya bisa optimalkan dr persatuan dan kesatuan utk kemajuan kota Purworejo.

  6. bagus says:

    MEMANG BETUL LOR THHK TK CUKUR PAK SURO. KALAU KONGSI ITU YANG PUNYA TEMPAT BAH OLO RUMAHNYA LOR PASAR BALEDONO SAYA KENAL DENGAN PUYUNYA ATAU BUYUTNYA NAMANYA KIAN AGUS CHANDRA. SEKARANG ANAKNYS ADA DI PURWOREJO NAMA CINANYA DJIRN KIAN. KALAU DI DALAM KONGSI ITU ADA GEDUNG PERTEMUAN NAMANYA CUNG HWA CUNG HWE SAMPNGNYA BANYAK DOKSR PENJUAL BURUNG DARA DAN LAIN LAIN KIDULNYA TERKENAL DENGN GEDANGAN KARENA BANYAK GEDANGNYA ATAU PISANG TEMPATNYA KUMUH TEMPAT ANAK NAKAL.

  7. Gunarso Ts says:

    Sesuai dengan nama samaran Anda, mestinya cerita juga dong soal geblek bumbu Mbok Djami dekat alun-alun yang terkenal itu. Kenapa pula dokter Tikno dan dokter Leim yang legendaris, tak pula diceritakan? Juga soal taman pahlawan Praja Handaka Laya yang dulu berada di sebelah barat rumah dinas Bupati, sekarang dipindah ke mana?
    Kata orang Purworejo sekarang, di tempat barunya TMP Praja Handaka Laya salah tulis menjadi: Projo Handoko Loyo. Padahal “loyo” kan berarti tidak bertenaga. Gitu kira-kira sekedar tambahan dari saya, mas Geblex. (gts)

  8. Raf says:

    Pak Geblex, bagus nih ceritanya ….punya photo-nya Pak?

    Pak Gun, tambahin dong dengan cerita yang dimaksud, biar tambah komplit .. termasuk mungkin saat itu masih banyak sawah yang ditanami tebu …

  9. yoyo.s says:

    Ya saya nambai sedikit ya Pak, Geblex dulu sebulum tahun 70 an di alun alun Purworejo setiap tahun untuk arena pacuan kuda saya waktu itu masih Sekolah SR di Brengkelan, kalo nonton pacuan kuda karena tidak punya uang untuk beli karcis saya sama teman teman ada Apong ada Tusar, Rahmat dll blobos pagar, dan pada satu saat saya pernah konangan penjaga saya di suruh keluar, dasar masih anak begitu penjaga lengah ya blobos lagi, dah dulu selamat berkarya Pak.

  10. dhanee says:

    salam kenal ya mas-mas senior.
    tahun 70an ya… menarik sekali informasi dari mas geblex ini.. tahun 70an saya belum lahir :D

  11. bimo sukreno says:

    ada yang kurang nih!
    dulu(mungkin dari sebelum tahun 70-an) sampai akhir 90-an, sepanjang jalan a yani sisi barat dari persis pintu selatan pasar baledono sampai buh menceng terdapat ‘pasar’ pingir jalan yang mejual segala macam jualan. akun ingat ini karena aku tinggal di daerah itu dulu.
    juga lupa disebutkan soal bangunan pasar baledono yang lama. pasarnya gede banget! di sisi jalan a yani ada paling tidak 3 pintu gerbang yang di tutup sekitar jam 5 sore. terus di sisi belakang ada 2 pintu gerbang, satu di dekat klenteng dan satu pas belokan ke arah jembatan kali. di dekat pintu ini, sebelah dalam pasar, terdapayt bagian penjual segala macam makanan termasuk gudeg bu darmo yang terkenal itu (langganan keluargaku).

  12. mezy says:

    wah,,saya kayaknya belum ke Purworejo saat itu,,
    cerita berkesan

  13. Zona Baru says:

    Senengnya…. ternyata purworejo mantep bener ya….
    Asli orang porjo saya gan….

  14. ilyasa' muhtarom says:

    MAS ADMIN, KOK SUDAH LAMA TIDAK ADA UP DATE-AN MATERI (NASKAH) BARU YA? SETIAP KALI MAMPIR KE SINI, MASIH KETEMU NASKAH YANG ITU-ITU LAGI. SAYA TUNGGU2 TULISAN PAK WIEK ATAU PAK GTS KOK LAMA NGGAK MUNCUL-MUNCUL. TQ.

  15. massito says:

    Apapun yang ditulis berkaitan dengan cerita masa lalu menjadi manis rasanya, walaupun sesungguhnya waktu itu terasa pait. karena dengan itu kita bisa melihat kemajuan yang pernah dicapai. tolong Bapak2 yang punya cerita untuk melengkapi cerita nostalgia

  16. edda says:

    Liputannya bagus banget pak geblex…saya nenek moyang asli purworejo.tepatnya orang dulu bilang belakang es baru.kalo sekarang terkenal dengan komplek UMP..saya sendiri baru lahir 1982.saya terobsesi dengan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan masa lalu..selalu membayangkan bisa datang kemasa lalu melihat langsung kehidupan thn 70 an di purworejo(walaupun nggak mungkin banget)..paling tidak dengan liputan pak geblex saya jadi bisa membayangkan kehidupan masa itu…mantap.ditunggu liputan lainnya ya pak

  17. anna says:

    Salam kenal buat semuanya.Dan sebagai tambahan walau sy tdk tggl menetap di pwr paling tdk ada kenangan yg tak terlupakan sewaktu kecil ikut simbah dijln.urip sumoharjo sekitar thn 77-78,sy bersekolah di SD Kepatihan.Guru yg sy ingat ada Bpk.Kamijan,bu Tatik(yg lain lupa)dan teman”sy wkt itu Titik,Endang yg py adik kembar,Lilik,Heri,Betty,Mustakim.Jaman itu kalau tidak py sepatu ga boleh pakai sendal jepit,tp sekalian disuruh nyeker,krn sendal jepit dianggap tdk sopan.kesan yg lain adalah dimana jauh sebelum sepatu/sendal jepit dari ban bekas booming dijaman sekarang sy rasa Purworejo adl tmpt yg pertama kali memperkenalkannya,dan disebut Sendal bandol.
    Terima kasih

  18. titink riyani says:

    Jadi kangen kue clorot,moho, bacem tempe bengok,pecel kembang turi hhhmmm nyam nyam

  19. jambemule says:

    Permisi ….., nambahin sedikit, dulu jembatan Liwung di sebelah timur Pantok masih sempit dan di sisi timur utara jadi tempat pembuangan sampah yang baunya bisa bikin hidung kembang kempis, tiap hari selalu berasap karena apinya gak pernah padam.

  20. Rochid Supangat says:

    Gebleg Mbok Jami, Rokok klembak menyan SOETOER, rokok Klembak Menyan MAJOE TEROES , aku dulu jadi tukang ngecapin kertas garet nya pada rokok klembak menyan KEMBANG , upah satu tahun kukumpul cukup untuk buat baju kasmilon kotak2 , asyiik ,tapi klo abis kerja….. pulang bawa bau menyan ..

  21. Ery Koesriyanto says:

    Aku juga dulu bocah Lor Pusaka (Brengkelan) tinggal disana sampai lulus SMAN thn 1972 ( dulu sman cuma ada satu). Yang perlu di luruskan adalah bahwa gdg Pusaka itu (sdh ada sejak sblm aku lahir) aslinya memang Gedung Bioskup, hanya kmd sktr thn 65an-70an (jaman aku diSD Caritas-SMPN II)ada interval waktu beberapa tahun di pakai utk pertunjukan seni panggung Wayang Orang, Ketoprak, Ludruk , Sri Mulat dll; Lalu th 70an (aku SMA) gdg Pusaka itu di pakai Bioskup kembali; Filemnya baru2 dan bagus2 meski cuma di putar sehari sja (film lewat di sewa). Jadi sebenarnya di Pwr ada dua gd bioskup : Pusaka dan Bagelen (Bkn ada bioskup Bagelen lalu baru kmd didirikan gd bioskup Pusaka). Pemiliknya dulu china yg rmhnya kidul prapatan kembang. Tapi skrg aku ga tahu lg bgmn perkembangan kota Pwr. Yg jelas dulu nyaman sekali.

  22. Ery Koesriyanto says:

    Aku dulu jg bocah Lor Pusaka (Brengkelan, tinggal di sna sejak SD Caritas, SMPN.II, sd lulus SMAN th 1972); Yg perlu di luruskan adlh bhw sbnrnya di Pwr itu aslinya ada 2 (dua) bioskup yitu Pusaka dan Bagelen (bkn cuma ada Bagelen lalu kmd didirikan gd Pusaka. Gd Pusaka sdh ada sebelum aku lahir hanya sektr th 65 – 69 (jman aku SD-SMP) di pakai pertunjukan seni panggung Wayang orang, ketoprak, ludruk, Srimulat dll); Tapi stlh thn 70an saat aku di SMA , gedg Pusaka itu kembali digunakan sesuai fungsinya menjadi Gd Bioskup kembali. Filmnya baru2 dan bagus2, aku sering nonton. Jadi sejak dulu Pwr itu sbnrnya punya 2 gd bioskup : Pusaka dan Bagelen. Ini sekedar meluruskan. Blkgan kmd Gd Pusaka konon dimusnahkan massa (entah kenapa), sdgkan bioskup Bagelen sdh tdk tahu lagi jadi apa skrg, soalnya sdh lama bgt aku ga ke Pwr. Dmk skdr meluruskan saja.

  23. Toto says:

    Tahun 70-an seingatku, Purworejo masih sepi banget, banyak pohon besar dan lampu pinggir jalan hanya bolam 15 watt, jarak tiangnya jauh-jauh. aku masih sd. di sd Kontroliran, timur lapangan Purworejo, selatan sd. maria. rumahku di dekat batalion 412. aku berangkat sekolah kadang dianterin bpk. bonceng sepeda, pulangnya jalan kaki lewat plaosan. aku dulu sama ibuku dibelikan sepatu buat sekolah, tapi banyak temen yg sekolah gak pakai sepatu jadi aku ikut2an mereka. Dulu terminal purworejo di timur alun-alun, depan sd maria, di situ ada pohon beringin, dibawahnya ada tukang cukur, kalau gak salah namanya pak Samad, anaknya perempuan, panggilannya Jiweng. Bis yg saya ingat pada waktu itu Sedar, Baker, dan masih banyak oplet juga. Lainnya lupa. Dan bagi temen2 yang ingin lihat foto2 Purworedjo lama bisa di buka di: http://agunkbening.blogspot.com. Maturnuwun.

  24. Adji Bintarto says:

    Pak Ery Kusriyanto itu temanku SMA, kalau malam tidurnya ditemani gendruwo karena rumahnya banyak hantunya. Kog nggak cerita “SIAPA KIRA” tempat terkenal dekat DKT ya?# Ir. Duto Pamungkas juga temanku SMA (SMA B)# SMA sy namanya SMA Negeri 45 Purworejo bukan SMA 1 Purworejo, direkturnya kala itu Bp Abdul Moenir Soediro adiknya ibuku#Sekolahnya di dekat markas 412 disitu ada dua pohon trembesinya besar sekali, sampai sekarang pohon itu manpaknya masih adua tinggal satu pohon. Tukang cukur Samad yang istrinya Jiweng itu “prakteknya” di Paseban. Adik kelasku yang paling cantik namnya Arini katanya sekarang Notaris di Salatiga.

  25. Purwanto Bayangkara says:

    Kayaknya kok belum ada yang ndongeng tentang “Kongsi” ya !.Didepan gedung bioskop Pusaka ada jalan yang lebar tapi masih dari tanah. Pas di pojokan jalan ada warung dawet yang akuariumnya banyak. Namanya Swie Watt kalau nggak salah, disitu juga satu2nya yang jualan alat2 mancing.
    Jalan tanah yang lebar itu tiap hari dilewati dokar karena disitu memang tempat mangkalnya dokar ( sarana transportasi yang sangat populer waktu itu ).
    Dari pangkalan dokar jalan terus ke timur ada area yang populer dengan nama KONGSI.Saya sendiri nggak tahu persis kenapa daerah itu kok dinamakan Kongsi.
    Kalau hari pasaran ( Minggu dan Kamis ) tempat itu selalu ramai. Banyak penjual obay kaki lima menggelar berbagai pertunjukan disitu. Disitu juga tempatnya orang jualan burung dara. Yang masih saya ingat disitu ada beberapa tukang cukur dan ada juga tempat sewaan buku2 komik.

  26. Adji Bintarto says:

    @Purwanto Bayangkara: Tempat makan yg top enaknya n murah, kala itu “Anko”, selatan bioskop Pusaka dan RM “Canton” yg ganti nama jadi RM “Bagelen” (punya YongWe) di Jl. A Yani atau Dawet di Warung Hijau, Kala itu toko roti n makanan yg terkenal sekali Toko Budi juga di Jl. A Yani. Toko buku paling ngetop satu2nya toko “Merdeka”. Radio yg ngetop “Amatron” dan “RPD”. Makanan khas yg enak (sampai sekarang masih ada tapi keliling pakai sepeda motor sdh pakai panci) Gule Winong kambing muda, jualannya pakai pikulan n kuali (gentong), sy biasa makan gule itu kalau ke makam eyang kakung di Pucangagung, makan di penggir jalan biasanya numpang di teras rmh orang. Ada juga toko ngetop di dekat dokter Tikno yi toko Wahyu Atmo (tokonya Sugeng). Kala itu hanya ada 3 dokter di Pwr, dr Tikno, Priswanto di Jl. Tribrata dan dokter tentara dr Koo.

  27. Yoyo.s says:

    Betul Pak Pur, memang dulu di depan gedung biaskup Pusaka ada jalan yang ke timur, yang menuju ke Kongsi dan pasar Brengkelan, gedung kongsi pada waktu itu sering untuk kegiatan kesenian orang orang PKI , termasuk wayang kulit, memang gedungnya besar dan luas, kalo hari minggu di sebelah utara gedung tersebut rame sekali orang berjualan ada bakul obat, burung dara termasuk tukang jahit yang mesinnya masih di ontel dengan tangan kala itu, di sebelah barat untuk koplak dokar, di lokasi koplak dokar banyak pohon jambunya, jambu air dan sekaligus untuk tambatan kuda kuda yang sedang menunggu waktu, di situ ada beberapa tukang tapel kuda di antaranya Pak Karjo, karena perkembangan jaman sekarang daerah konsi sudah jadi Pertokoan dan pemukiman,
    Kalo gedung Pusaka ke arah utara sebelah timur jalan ada sekolahan Cina pada waktu itu, namanya THHK, muridnya Cina semua, hla saya tinggal di utaranya sekolahan cina itu yang dulu tukang Cukur yang sudah modern, alatnya sudah pake listrik, tapi rumah itu Mbah saya nyewa sama Mbah Mangun Gedong ( Mbah nya Mas Yanto ) .
    Itulah sekelumit ceritera tentang daerah Kongsi yang saya tahu. Salam.

  28. purwanto bayangkara says:

    PURWOREJO TAHUN 1970 masih jarang sekali yang punya sepeda motor. Yang banyak cuma sepeda onthel. Saya dan teman2 sekampung ( Sebomenggalan ) kalau sekolah jalan kaki. Terakhir saya sekolah di Purworejo di STM YPT ( tempatnya di ST 1 Kedung Kebo ) tiap hari jalan kaki kira2 2 km dari rumah. Padahal sekolahnya siang, jadi sampai sekolahan ya sudah kemringet dulu. Sekarang mana ada anak sekolah jalan kaki sejauh itu karena sudah dimanjakan oleh angkot.

  29. yoyo.s says:

    Gini Mas Pur, mungkin Mas Pur kurang cermat, di antara rumah Pak Kirman Daging dan THHK. itu ada rumah jawa, rumah utu milik Mbah Mangun Gedong, Mbahnya Mas Ery Kusriyanto yang juga sering corat coret di forum ini, kalo ngak salah setelah saya pindah ke desa tahun 1968, tempat itu juga untuk tukang cukur, tapi sudah bukan dari keluarga Mbah saya dulu, saya dulu sekolahnya di SR Brengkelan yang di Galmalang, dan kalo Mas Pur seangkatan Mas Udin anaknya juragan krupuk, kalo saya bareng dengan adiknya namanya Hamid, Pada waktu itu saya sering di suruh nusul Mbah putri saya ngaji di Sebomenggalan, kalo g salah di tempatnya Kyai Asnawi, waktu itu lewat sebelah selatan toko Karto sentono masuk ke dalam .
    Kalo Mas Pur berangkat sekolah jalan kaki kurang lebih 2 Km, kalo saya lebih jauh lagi saya dari desa ( Borowetan ) ke ST.l/ YPT Kedungkebo 2 kalinya Mas Pur, belum lagi kalo Sungai Bogowonto banjir saya harus muter lewat Cangkrek, Tambak terus Pantok, walah sampe sekolahan sudah payah sekali, waktu itu memang yang namanya alat traspotasi belum kayak sekarang, orang Kepala Sekolahnya aja masih pakenya sepeda ontel. Begitulah Mas Pur perjalanan hidup, kita kan sebagai umat jadi apa kehendakNya kita nikmati saja. Salam.

  30. Raf says:

    Pak Gun,
    itu bis BAKER yg jurusan Jogja – Cilacap? waah ternyata sudah lama juga tuh bis eksis… yg dua nama lainnya kayaknya dah nggak kelihatan yaa..

  31. Gunarso Ts says:

    Betul Mas Raf. Saya nggak tahu bila sekarang Baker routenya sampai Cilacap. Tahun 1960-1970, bus Baker favorit saya bila pulang kampung, jika tidak naik sepur karena ketinggalan. Kala itu bis-bis yang melayani Yogya – Purworejo adalah: Merdeka, Estu, Petram, Sedar, dan Mulyo. Sekarang yang masih ada sepertinya tinggal Merdeka dan Estu, lainnya sudah wasalam.
    Kala itu ada kondektur Baker Purworejo – Yogya yang “feodalis” banget. Orangnya tampan, usia 60-an, pakai peci, sepertinya orang pensiunan, begitu. Jika penumpangnya menyerahkan ongkos dengan tangan kiri, langsung disemprot dengan ucapan khasnya: “Tangane tengen nggo apa?” (gts)

  32. yumant says:

    kalo bisa ditampilakan poto-poto jadulnya mas/mbak

  33. Ery Koesriyanto says:

    Kondektur itu bukan feodal ( tapijustru edukatif), memang begitulah yg semestinya dilakukan bagi yg pernah belajar budi pekerti dan bgt pulalah orang tua mengajarkan tata krama pada anak2nya disamping pa Ustadz juga sering menyampaikan hal itu ; Sampai sekarang pun norma sopan santun itu tetap berlaku ; kalaupun terpaksa harus memberi sesuatu menggunakan tangan kiri (krn tngan kanan sdg terganggu/ atau sdg tdk bisa di fungsikan) selalu dibarengi dengan permohonan maaf :” Maaf (pak, bu, mas ..dll), pakai tangan kiri.”

  34. Haryanto says:

    Purworejo, sudah lama ku tinggalkan ,aku rindu pasar pantok dan kue moho.

  35. rita says:

    ada dokmentasi yang menggambarkan tentang semua itu tidak pak? munkgin ada dokumen2 tertulis atau foto foto gitu pak? kami sangat tertarik… seandainya ada, di mana kami bisa melihatnya?

  36. meds says:

    iya pak muhtarom, karena ini blog sukarela, jadi tulisan-tulisan tergantung kiriman dari para member. mungkin aktivitas member banyak yang di fb.

    untuk para member, ditunggu kiriman tulisannya…

  37. titink riyani says:

    Mas gunarso TMP nya pindah ke desa Lugosobo

  38. Ery Koesriyanto says:

    Saya dulu sering di suruh mbah ku beli rokok Makhuto yg pabriknya di pojok sblh Barat Alun2/Kabupaten (jalan mau ke Sindurjan). Ga tahu apa skrg masih ada atau tidak.

  39. Toto says:

    Dulu di sebelah timur SPG purworejo (perempatan jln 412) ada penjual kacang, di bawah pohon asem, namanya pak Japar, perbungkus seingatku harganya limang-ringgit. Dan di timur DKT (rumah sakit tentara) ada POM Bensin yg operasionalnya pakai tangan (engkol) tapi kebanyakan yg ngisi di situ mobil2 batalion 412. Waktu itu masih berseliweran motor2 gede seperti BSA atau Dukati.

  40. Yanto, ex Lor Pusaka says:

    Disekitar DKT dulu (th 70an)ada beberapa teman sekolahku di SMPN II sd SMAN, al mba Sri Hadiningsih (dpn DKT kulon dalan, punya toko/warung), Sri Suharyani (Rumah jejer/ Lor DKT, Duto Pamungkas (dpn Kerkop/kuburan cino, kmd jadi mantunya pa Pamudji), Imam Sudibyo (tmn sd Caritas ),dll; Ada yg mengenal mrk dan tahu dmn skrg?

  41. Yanto, ex Lor Pusaka says:

    Pa Toto dulu dan skrg tinggal di mana? Wkt di Pwr Sekolahnya dimana n thn berapa?

  42. Gunawan Wd says:

    Pak Toto ternyata kita satu alumni, Saya lulusan SD Kontroliran th. 1984. Guru saya dulu seingat saya ada Bp. Karno, Ibu Prapti, ibu Maunah dll.Salam kenal…

  43. Ery Koesriyanto says:

    Arini nek gak salah anake Kaji Azhari juragan batik kulon Alun2, adine Hamdan, Iyo bocahe pancen ayu, lencir kuning (pa Adji byen naksir yo? he3x); Akeh cowok sing naksir deweke( tp sy tdk lho), akhirnya mbuh ra ngerti sopo sing berhasil entuk deweke, ha3x

  44. Purwanto Bayangkara says:

    @Mas Adji, Toko Buku Merdeka memang ngetop di tahun 70an karena usahanya selain toko buku juga sebagai percetakan, biro iklan, foto, agen bus dsb. Kalau mau mundur lebih kebelakang lagi, di Pandekluwih dulu juga ada 2 toko buku yang terkenal yaitu TB Murni di kulon jalan dan TB Djwa Gen Siong di wetan jalan bersebelahan dengan Foto Studio Sin Kong.
    Mengenai Foto Studio ditahun 70an yang terkenal selain Sin Kong ada lagi Min Sin disebelah barat Buh Menceng, Saia di A. Yani dekat Pegadaian, terus di Lor Pusaka juga ada tapi namanya saya lupa.

  45. Purwanto Bayangkara says:

    Nek sing sak angkatan karo aku Hamdan karo Nurul Soraya ( undang2ane mbak Oyah ).

  46. purwanto bayangkara says:

    Mas Yoyo.S, saya bener2 nggak kelingan kalau di lor THHK ada tukang cukur. Yang saya inget lor THHK itu cuma Kirman Daging sama Foto Siem ( kalau ndak kleru lho ), kalau ngalor terus pas pertigaan kan Pasar Kewan ( sebelum dipakai terminal ). Di pasar kewan itu kalau Minggu juga rame. Saya sering diajak Bapak jalan2 kesitu. Disitu yang dibeli pasti klembak sama menyan sama mbako mbendungan.
    Pas pojokan protelon depan pasar ada yang jualan kijing dan disitu juga tempat titipan sepeda orang2 yang lagi ke pasar.
    Disebelah utara Gedung Pusaka ( masuk kedalam dikit ) ada pabrik krupuk mbandung tapi saya namanya lupa. Saya cuma inget anaknya ada yang namanya UDIN, dia teman seangkatanku di SR 11 (SD. Kepatihan).

  47. Gunarso Ts says:

    Benar Mas Purwanto. Di kota saja begitu, apa lagi di desa seperti Kec. Ngombol. Tahun 1970-an, yang punya sepeda motor Honda (1969) baru Yanto, putranya Pak Lurah Kedondong. Honda tahun itu sungguh sangat mewah, padahal kalau sekarang masih ada, ditumpaki selalu bunyi ngokkkk engoookk……
    Saya memang lahir di desa, 12 Km ke arah selatan Purworejo. Bila mau diajak ke kota (1960) oleh bapak, wooo…..senangnya bukan main. Bapak nggenjotnya sepeda pelan-pelan. Dilancangi bis Baker, Narayana atau Prawarso yang ngebut, rasanya sepeda bapak goyah, hatiku pun kari sakmenir.
    Ketika th 1963 ada pacuan kuda di alun-alun, murid-murid SR Margosari naik truk bersama untuk nonton. Simbok membekaliku kupat dengan kering tempe yang lebih tepat disebut oseng-oseng. Biar ngirit, minumnya bawa sendiri, teh manis diwadahi gendul bekas bir. Wah, nikmatnya minta ampun. (gts)

  48. Ery Koesriyanto says:

    Tkg Cukur mbah Suro paling top alat cukur listriknya (bunyi nya ngoooong …) dan kursinya jg bisa di dengklak ke barang, jadi kalau cukur rambut tdk sakit krn ke jenggit2 spt pakai alat cukur yg manual (bunyi krek krek krek krek ..)// Kalau sebelah Wetan pasar kewan ada gadis cantik namanya Yulaichah (ada yg kenal?)’ Kalau di Kongsi juga ada Amoy cantik anak sma negri tapi lupa namanya, wah kalau pas dino Minggu rame sekali; sewaan komiknya Ester, masih adakah skrg?

  49. fuad cah kepatihan says:

    gedung bioskopnya bukan 2 tap ada 3 mas, purworejo teater yang ada di jalan buntu

  50. yoyo.s says:

    Wah kayaknya lama Mas Yanto nggak nongol ni, gimana kabarnya di Jakarta ? Mas Yanto Jakartanya di daerah mana, nanti kalo saya pas nengok anak di Jakarta tak mampir, anak saya di daerah Rawamangun.

  51. Ery Koesriyanto says:

    Jaman saya dulu (th 70an)Pwr Theater belum ada tuh mas fuad, sma negri nya juga cuma satu (kepsek nya pa Abd Munir BA).

  52. ndaru says:

    Purworejo Theater baru ada tahun 80-an
    Di sudut barat laut perempatan antara Jl. A. Yani-Jl. KHA. Dahlan-Jl. Buntu ada garasi bis SEDAR, di sanalah tempat favorit saya sambil nonton bis SEDAR dipanasi mesinnya jika diajak bapak jalan-jalan sambil nunggu ibu belanja di pasar Buntu

  53. Ery Koesriyanto says:

    Jamane aku jaman sikil ora nyepatu, jamane kowe jaman sikil ora tau mlaku, nek mbok sing eling biyen sikil keno beling, … dst. (cuplikane lagu Koes Plus)

    Piye kabre kawan2, kok staus ini kayaknya trs stag (macet) ga ono sing neruske crito jaman biyen.

    Pak Purwanto dan mas Yoyo itu biasanya sugih pengalaman di telatah Purworejo yg biso di ceritakan.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

“PASAR ILANG KEMANDANGE”, KISAH TENTANG PASAR DESA SUSUK

24 - Dec - 2010 | slamet wijadi | 37 Comments »

MUDIK LEBARAN

23 - Sep - 2008 | massito | 6 Comments »

BANDUNG: Sebuah “IMPIAN” yang Menjadi Kenyataan.

2 - Mar - 2013 | slamet wijadi | 18 Comments »

Blogger Purworejo kumpul-kumpul mangan enak

25 - Jul - 2011 | Gunarso TS | 22 Comments »

DEPRESI…????

21 - Nov - 2009 | cahkroyo.85 | 4 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net