Dalang Perempuan Dari Kecamatan Bruno

  10 - Oct - 2011 -   Anston Bruno -   7 Comments »

Seiring dengan perkembangan jaman dan globalisasi, semakin banyak kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Generasi muda bangsa kita semakin lupa akan budaya bangsanya sendiri, mereka seakan-akan tertelan arus globalisasi yang lebih mengandalkan teknologi dan melupakan akar budayanya sendiri. Kebudayaan asli seakan-akan hampir punah karena tidak dilestarikan dan semakin tertelan arus perubahan jaman. Salah satu contoh seni budaya wayang kulit yang semakin jarang di jumpai.

* Gambar di ambil dari koleksi photo pribadi dalang.

Tapi tidak dengan Dwi Puspita Ningrum, dalang perempuan dari Desa Kemranggen Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo ini, dengan gigihnya menggeluti profesi sebagai dalang . Mengikuti jejak sang ayah Priyo Widodo yang juga seorang dalang. Untuk sekarang ini desa Kemranggen salah satunya desa yang memiliki dalang dan kesenian wayang di kecamatan Bruno. Dwi Puspita Ningrum sebagai dalang perempuan layak di aparesiasi sebagai seniman yang konsisten dengan profesinya. Sang dalang yang kelahiran Jakarta 12 Desember 1986 ini adalah Mahasiswi Jurusan Pendidikan bahasa dan Sastra di UMP ( Universitas Muhammadiyah Purworejo). Yang sebentar lagi menyandang gelar S1.

Bakat memainkan mayang ini sudah terlihat dari kecil. Putri kedua dari dua bersauadara ini dari kecil memang sudah sering ikut duduk dipangkuan ayahnya ketika sedang ada pementasan wayang kulit. Seakan akan belajar di dekat sang ayah. Dan baru berani menunjukkan bakatnya ketika masuk di sekolah menengah pertama (SMP) dengan di dampingi ayahnya. Seiring bertambahnya usia dan cukup bekal pengetahuan berkat didikan ayahnya beberapa tahun belakangan, dalang perempuan ini sudah berani tampil tanpa di damping langsung sama ayahnya.

Terbilang sukses pentas di wilayah kabupaten Purworejo, bahkan sudah beberapa kali pentas di luar kota . Dan belum lama ini pentas di Gedung pusat dakwah Muhammadiyah Jakarta dalam rangka memperingati Hari Kartini, sehingga acara secara tak langsung mampu membawakan pesan emansipasi dan kesetaraan gender.

*  Pentas di jakarta dengan lakon “Semar Mbangun Kayangan”

Pementasan yang digawangi oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini mengambil judul Semar Mbangun Kayangan. Pada kisah ini, isu Semar yang akan membangun Kayangan seakan menjadi ancaman makar terhadap kekuasaan para Dewa. Namun sesungguhnya Semar hanya ingin membangun ‘Kayangan Moral’ yang semestinya bersemayam dalam benak setiap manusia.

Category: budaya, Tags: | posted by:Anston Bruno


7 Responses to “Dalang Perempuan Dari Kecamatan Bruno”

  1. Raf says:

    Patut diapresiasi, ditengah gempuran budaya masih ada oase yang melestarikan budaya bangsa secara nyata … ini menjadi nilai lebih karena wayang merupakan salah satu karya seni yang komplit.. seni suara, seni musik , seni lukis bergabung dalam satu karya….

    di rumah saya nyimpen dua buah wayang (Abimanyu & Permadi), beli di Jogja… kemudian satu lakon pita kaset (8 kaset) dengan dalang Anom Soeroto lakon “Karno Tanding” saya beli 15 tahun yang lalu sekarang masih bisa diputar….

    Mudah2an nanti kesempatan nonton pertunjukan dalang putri diatas jika pas pulkam ada gelaran …

  2. Yono says:

    Belum habis kekaguman saya kepada Mas Slamet Supriadi dari Ringgit dengan beras Bogowontonya, kini muncul lagi tulisan yang membanggakan Purworejo.
    Bayangkan dalang wayang kulit perempuan, mahasiswi pula, dari sosoknya saja sudah pasti membuat daya tarik tersendiri bagi generasi muda untuk mendatangi pagelaran, barangkali mereka menonton karena penasaran ingin melihat kecantikan dalangnya, tetapi kehadirannya adalah awal dari pengenalan yang pada akhirnya dapat mencintai kesenian adi luhung ini.
    Nyi Dalang Dwi Puspita Ningrum sudah memupus anggapan bahwa wayang kulit hanya digemari orang tua.
    Kalau pentas lagi di Jakarta jangan lupa woro-eoro di BP.

    • Anston Bruno says:

      Mas yono. Terima kasih atas tanggapanya. nanti kalau ada pementasan di jakarta lagi saya bagi informasinya.

      Ya sekalian promosi barang kali pembaca setia BP ada yang berminat naggap.

  3. Kabul Khan says:

    lestarikan budaya bangsa turunan dari nenek moyang kita. bangga rasanya teman main waktu kecil sekarang telah banyak memberikan sumbangsih teradap kelestarian budaya. apalagi pentas di Pusat dakwa Muhammadiyah. sesuatu yang langkah baik untuk muhammadiyah maupun kader muda kemranggen. semoga mbak pita bisa menjadi salah satu inspirator pemuda desa kita (kemranggen).

  4. Marso Permono says:

    Ass Wr Wb

    Purworejo pancen kondang dadi kelahirane dalang 2 kondang,koyo swargi KTCM asli jenar/plandi lan dalang kasepuhan swargi mbah jayeng asli popongan lan Ki Tarko kuthoarjo.

    Dadi yo ora kaget yen saiki ono dalang perempuan seko purworejo, mugo sederek dipun dukung lan sesarengan memuji mugo 2 biso koyo KTCM swargi.

  5. Kumaidi Id says:

    mugi-mugi kemawon waget damel media dakwah kadol para wali rumiyin dakwah melalui wayang slamat berkarya smoga purworejo tetap jaya matur nuwun…

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net