Beras “Bogowonto”, produk Desa Ringgit

  6 - Oct - 2011 -   meds -   39 Comments »

Secara umum para petani padi di negeri ini belumlah sejahtera dalam kehidupannya. Tapi setidaknya di Desa Ringgit Kecamatan Ngombol, berkat tanam padi organik sistem SRI, perekonomian para petani berhasil dibangkitkan. Beras organik berlabel “Bogowonto”, adalah kreasi membanggakan sekaligus jembatan kemakmuran bagi para petani wilayah Purworejo Selatan.
*****
DESA Ringgit termasuk desa yang agak terpencil di Kec. Ngombol. Tapi siapa menduga bahwa desa ini ternyata cikal-bakal pengembangan beras organik yang menjadi produk unggulan Kabupaten Purworejo. Berkat keberdayaan masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani di Desa Ringgit, kini mereka bisa bernapas lega karena sudah menikmati hasil berlebih bila dibandingkan ketika dulu masih menanam padi non-organik.


Beras “Bogowonto” beras organik produk Desa Ringgit dan sekitarnya. (Foto; PH

Bicara beras organik dari Ringgit, tak bisa lepas dari peran Slamet Supriyadi (47 th), tokoh Pembina Kelompok Pemuda Tani “Lestari” yang telah berhasil dirintisnya. Diakuinya, bertolak dari rasa keprihatinan dan kepedulian terhadap nasib petani, mendorong komunitas masyarakat Desa Ringgit melakukan terobosan.

Tahap awal Slamet Supriyadi mencoba menanamkan dasar pola pikir bahwa: Pertama, petani supaya lebih mengenal lahannya sendiri. Kedua, petani agar menjadi ahli di lahannya sendiri. Ketiga, petani bebas menentukan kreasi (membikin pupuk dan bibit sendiri ). Ke empat, petani dapat menentukan sendiri harga sesuai margin yang layak dengan membentuk jaringan pemasaran yang baik.

Kreasi dua kakak beradik
Berbekal pengalaman mengikuti pelatihan Pembelajaran Ekolologi Tanah (PET), pada tahun 1997 silam penanaman perdana padi organik dimulai dengan dibantu sejumlah anggota LSM. Sistem organik menjadi pilihan karena produk beras organik mulai naik daun, yang sebagian besar dikomsumsi oleh masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, yang umumnya berdomisili di perkotaan. Di samping itu, faktor pelestarian tanah menjadi pertimbangan utama karena struktur tanah tidak lagi kecanduan pupuk non-organik.


Kantor sekretariat pengelolaan padi organik sistem SRI di Desa Ringgit. (Foto: PH)

Program awal dilakukan oleh Slamet Supriyadi dan adik sendiri, Wuryanto S.E. Dengan teknik pengelolaan yang lebih spesifik, dilakukan dengan lebih seksama dan cermat, maklum ini produksi pertama. Perbedaan yang nampak adalah penggunaan pupuk yang semula memakai pupuk non-organik, kini dengan memanfaatkan kompos jerami dan kotoran ternak menjadi menu utamanya. Saat panen tiba hasilnya ternyata secara kwantitas merosot cukup tajam bila dibandingkan dengan penggunaan pupuk non-organik. Sebagai tolok ukur, waktu itu untuk luasan sawah 1200 m2 dengan pupuk non-organik dapat menghasilkan gabah 1 kwintal, sedangkan dengan pupuk organik hanya menghasilkan sekitar 0,8 kwintal saja.

Namun satu hal yang menjadikan Slamet Supriyadi tetap bersemangat adalah, ternyata harga jual beras organik masih lebih tinggi sekitar 30% bila dibandingkan beras biasa, sehingga secara total margin yang diperoleh masih lebih tinggi sekitar 10%. “Faktor pemulihan struktur tanah yang belum stabil, kemungkinan menjadi salah satu penyebab belum maksimalnya hasil produksi,” kata Slamet Supriyadi

Seiring berjalannya waktu serta inovasi yang terus dilakukan tanpa henti, ternyata membuahkan hasil. Fakta membuktikan bahwa bertanam padi organik lebih menjanjikan, sehingga semakin bertambah saja anggota kelompok tani. Sampai tahun 2000 telah tercatat sebelas orang. Bahkan di desa lain, penanaman padi sistem organik juga dilakukan Kelompok Tani Margodadi pimpinan Suheni.

Beralih ke sistim SRI
Tahun 2001 adalah masa suram bagi petani. Harga gabah yang anjlok sangat drastis, berdampak pula terhadap kelompok tani di Desa Ringgit. Sebagian besar dari mereka kemudian keluar dari keanggotaan sementara yang masih bertahan tetap mencoba bersabar menyikapi kondisi yang ada. “Untung saja saya tahun 2003 berkenalan dengan Pak Alik Sutaryat seorang ahli dari Kementerian Pertanian Pusat di Jakarta,” kenang Slamet Supriyadi lagi.
Diapun berkisah, waktu itu Pak Alik Sutaryat sedang mengembangkan SRI (System of Rice Intensification) di daerah Ciamis Jawa Barat (AOSC). Berkat petunjuk beliau, metode SRI organik mulai diujicobakan oleh kelompok tani Desa Ringgit. Sekilas Slamet Supriyadi menuturkan, proses pelaksanaan SRI organik lebih mengandalkan segi intensifikasi. Lahan dibentuk menjadi beberapa alur parit kecil, hal ini untuk mengendalikan level muka air dengan maksud agar kandungan pupuk dapat terserap secara optimal.


Saya dan Pak Slamet Supriyadi (tanda X) pelopor beras organik di Ringgit. (Foto: PH)

Untuk penanaman bibit yang berasal dari satu bulir gabah yang telah disemaikan, umur bibit tidak boleh lebih dari sepuluh hari, berdaun 2 lembar dengan tinggi rata-rata 7 cm, jarak tanam diatur setiap 30 cm. Yang agak unik adalah, cara menanam (tandur) yang umumnya dengan berjalan mundur, tetapi dengan sistem tandur ini justru berjalan maju. Setelah melakukan beberapa kali uji coba, maka hasilnya cukup menggembirakan. Maka masa keterpurukan petani padi organik tak berlangsung lama. “Dulu satu hektare hanya menghasilkan 10 kwintal gabah, kini dengan sistem SRI hasilnya bisa mencapai 16 kwintal,” kata Slamet Supriyadi bangga.

Beras Bogowonto
Hingga tahun 2011 ini, jumlah kelompok tani di Desa Ringgit mencapai 19 anggota dengan lahan seluas 10 hektar. Bahkan di beberapa tetangga desa di kecamatan Ngombol sudah mengikuti jejaknya dengan pengelolaan oleh kelompok masing-masing, 10 desa di kecamatan Ngombol kini sudah tergabung dalam kelompok jaringan Produksi PETANI SRI ORGANIK KABUPATEN PURWOREJO, berlabel BOGOWONTO. Varietas yang dihasilkan antara lain : Menthik Wangi, Pandan Wangi, Sintanur, Ngaos, Saodah, C4 dan juga padi merah.

Jaringan pemasaran sudah terbentuk dalam sistem, sehingga petani cukup menjual kepada jaringan kelompok dengan harga yang disepakati bersama. Hasil hitungan saat ini, menurut Slamet Supriyadi margin yang diperoleh berkisar 40 % – 50% dari biaya/ modal yang dikeluarkan. Selanjutnya kelompok jaringan ini menjual kepada konsumen ataupun perwakilan jaringan dengan harga yang kompetitif. Selama ini sudah tersebar jaringan pemasaran, antara lain ke kota Purworejo, Wonosobo, Purwokerto, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Ciledug dan daerah lain. Distribusi selama ini berjalan cukup lancar.

Slamet Supriyadi mengakui, saat-saat awal merintis program tanam padi organik di tahun 1997 tidaklah mudah, khususnya dalam mengajak para petani untuk ikut bergabung dalam kelompok. Semuanya dilakukan Slamet Supriyadi dengan penuh ketelatenan, khususnya bagi para Pembina selaku motivator. Mereka seakan berjuang sendirian karena pihak pemerintah belum turut membantu dalam pengembangan program ini.

Prestasi membanggakan
Itu masa-masa awal perintisan yang pada akhirnya di tahun 2010 setelah pemerintah mencanangkan Go Organik, barulah usaha ini mulai mendapat dukungan. Sejak bergabungnya kelompok tani dalam jaringan petani SRI organik Kabupaten Purworejo di tahun 2003, sejak itu pula mereka gencar mengikuti pembelajaran dan praktek pertanian SRI organik.

Pada 12 – 16 Oktober 2003 pembelajaran dan praktek pertanian SRI organik. berlangsung di Desa Ringgit dengan mengundang nara sumber Bapak Alik Sutaryat. Pada Nopember 2007 selama sepuluh hari 10 orang perwakilan petani meningkatkan pemahaman dan praktek di ToT PET SRI organik di Lakbok Ciamis Jawa Barat dan masih dipandu oleh Bapak Alik Sutaryat. Pada tanggal 12-14 Agustus 2008 pembelajaran berlangsung di Desa Mendiro dan masih mendatangkan nara sumber Bapak Alik Sutaryat.

Pada tanggal 20 – 21 Oktober tahun 2008 empat orang petani diundang oleh Kementrian Pertanian Pusat di Jakarta untuk mempresentasikan karya mereka dalam Workshop Nasional SRI, bahkan petani ini dapat bertemu langsung dengan Ir. Suhartanto Direktur PLA Kementerian Pertanian Pusat. Beliau sangat mendukung dan terbukti sengaja hadir dalam Lokakarya Petani Pelaku dan Pengembang SRI organik yang diselenggarakan di desa Mendiro dan Ringgit pada tanggal 26 – 27 Januari 2009.

Dengan keberhasilan yang sudah dicapai, kelompok ini memperoleh penghargaan serta hadiah dari pemerintah yaitu: 1. Tahun 2008 mendapat bantuan satu unit mesin pengolah sampah organik. 2. Tahun 2010 mendapat bantuan satu unit mesin Traktor. 3. Tahun 2010 mendapat bantuan proyek 2 paket dengan nilai Rp 618 juta. Dengan rincian Rp 8 juta untuk tanah, Rp 8 juta untuk tanaman, Rp 30 juta untuk rumah kompos, Rp 30 juta untuk kendaraan motor roda tiga sebanyak 2 (dua) unit, Rp 190 juta untuk sapi yang berjumlah 60 ekor, dan Rp 352 juta rupiah peningkatan infrastruktur pengairan.

Kegigihan dan keuletan Slamet Supriyadi dan kawan-kawan petani dari Desa Ringgit ini patutlah mendapat acungan jempol. Karena bermula dari Desa Ringgit inilah kemudian berkembang jaringan petani SRI Organik Kabupaten Purworejo yang hingga kini sudah tersebar di 16 kecamatan. Penulis berharap semoga kelompok tani ini tetap solid dan harus semakin solid agar tidak tergilas oleh dahsyatnya globalisasi.

Di Desa Ringgit penulis menyempatkan membeli lima kantong beras Bogowonto kemasan 5 kg sebagai oleh-oleh. Sesampainya di Bekasi tiga kantong kuhadiahkan untuk tiga teman tetanggaku sambil berpromosi mengenai hasil dari daerah asal yang sangat membanggakan. Penulis berharap semoga Beras Bogowonto kelak akan menjadi komoditas unggulan dari Kabupaten Purworejo setelah gula jawa, durian dan manggis. (Hasmadji)

Category: pertanian, Tags: | posted by:meds


39 Responses to “Beras “Bogowonto”, produk Desa Ringgit”

  1. Sumedi Mp says:

    Saya tertarik dengan pertanian organik, ternyata di Ngombol sudah ada.

    saya pernah lihat videonya cara tanam padi SRI yang menanam dengan jarak lebar. juga sistem akar sehat, dimana padi ditanam pada umur yang muda, tidak merusak akar, ditanam satu-satu, dengan jarak lebar. hasilnya adalah tanaman padi dengan anakan yang banyak.

    Di Grabag apa sudah ada ya? Inginnya mengembangkan di lahan kering, grabag.

    • hasmadji says:

      Terima kasih mas Med, sehat dan alami adalah ciri produk pertanian organik. Bicara organik tak lepas dari pupuk organik yang sarat berbahan kompos. Sudah tiga tahun ini saya juga sudah membuat pupuk cair organik yang berbahan sisa sampah dapur. Cara buatnya mudah sekali, menggunakan alat dan cairan biori yang saya beli dari sang ahli penemu/pembuat pupuk cair merk PROPURI yakni Bapak H.Suwito yang berdomisil di Cempaka Baru Jkt Pusat. Hingga kini kami sudah tidak lagi membuang sampah organik, ada rasa senang karena dari dalam rumah kami tidak lagi berkontribusi bau sampah yang sdg diangkut truck ke TPA yang sering tersua di jalanan Jkt dsk.
      Di Grabag menurut info juga sdh ada kelompok SRI Organik, tapi persisnya saya kurang tahu. Mas Med berminat? Boleh dicoba dan ditekuni, Insya Allah berhasil. Salam sukses bloger Pwr. (hasmadji)

      • meds says:

        Iya Pak Hasmadji, saya sebenarnya hoby bertani dan berkebun.

        mengenai pupuk, saya juga pernah ikut pelatihan membuat kompos metode Takakura, cocoknya memang untuk wilayah perkotaan dengan lahan terbatas.

        inginnya suatu saat bisa menggeluti hoby ini. salam sukses juga buat Pak Hasmadji.

  2. Gunarso Ts says:

    Dik Madji, secara garis besar beras organik adalah beras produk pertanian menggunakan pupuk alami, bukan dari pabrik sebangsa Urea dan ZA, ya? Ini mengingatkan pada kisah orangtua termasuk Mbah Tjokro ayahku alm. Tahun 1968-an, seiring dengan ditemukannya varietas padi PB-5, PB-8 dan IR, di daerah Purworejo selatan termasuk daerah pertanian seluruh Indonesia tentunya, pemerintah (Orde Baru) melarang rakyat menanam jenis padi tradisional sebangsa pari jero, beras konyal, sampang, marlenah. Petani wajib menanam padi jenis baru yang tingkat produktivitasnya sangat tinggi. Jika penduduk tetap menanam jenis lama, harus sembunyi-sembunyi. Caranya, padi jenis lama itu ditanam di tengah, tersamar dengan padi selera pemerintah.
    Petani juga diarahkan menggunakan pupuk buatan pabrik, meninggalkan pupuk alam sebangsa abu dapur dan kotoran kerbau/kambing. Banyak pula petani yang kembali nyolong-nyolong. Beli mes Urea atau ZA hanya untuk menyenangkan Pak Lurah dan perabotnya saja. Tapi pupuk tersebut tak pernah dipakai, karena dia setia pada pupuk kandang dan dapur. Nah, ketika tak lama kemudian muncul wabah hama padi bernama wereng di seluruh Indonesia, banyak kecurigaan bahwa hama tersebut “berkat” pupuk made in pabrik tersebut. Namun pemerintah menafikannya. (gts)

    • hasmadji says:

      Betul mas Gun, petani SRI Organik memang menggunakan kompos organik.Hebatnya Pak Slamet dkk, mereka itu cerdas dan berdaya. Pupuk mereka buat sendiri yang bahannya cukup murah dan mudah didapat di lahan sawah maupun pekarangan rumah dan juga kotoran ternak, memang harus mau sedikit capek untuk mengolah, tapi kini sudah tersedia alat, sehingga lebih efektif. Untuk penyilangan bibit mereka juga sangat ahli, tidak itu saja dalam hal antisipasi penanggulangan kalau terjadi hama merekapun sdh punya resepnya. Misalnya kalau terkena wereng cara penanggulangannya yaitu areal sawah ditaburi pupuk kompos yang setengah jadi kemudian muncul jasad renik laba-laba kecil yang bertugas menjadi predator.Kalau hama berupa kupu-kupu maka penanggulangnya dengan cara disuluh pakai lampu petromak pada malam hari disekitar lampu ditaruh baskom/ember yang telah diberi cairan minyak/air maka kupu akan terperangkap, hama berupa ulat/batang penggerek dibasmi cukup menebarkan abu dapur pada tanaman padi dan matilah ulat-ulat itu. untuk mengetes telur yang tersisa maka cukup diambil beberapa telur untuk dibawa pulang dan ditunggu apakah telur itu menetas menjadi ulat apa tidak, kalau menetas berarti telur yang disawah juga akan menetas maka penebaran abu dapur terus dilakukan. Jadi kalau sampai harus dilakukan penyemprotan itu sudah upaya yang terakhir.
      Mengenai kerinduan akan beras konyal, marlenah,jero dll ya cukuplah menjadi kenangan orang-orang seusia/diatas kita saja.
      Terima kasih (hasmadji)

  3. Bangga dengan prestasi orang Ngombol, khususnya Desa Ringgit, Lebih dari 10 tahun berkecimpung di dunia pertanian (Ndaut, Nyodok, Ngarit, Nyerit,dsb)di daerah sekitar Susuk, Mendiro, Karangtalun,Ringgit, Namun belum pernah mendengar tentang Beras Bogowonto asal Ringgit.

    • hasmadji says:

      Pak Julian terima kasih, itulah salah satu kehebatan BP yang ternyata bisa membuat panjenengan terperanjat menyimak tulisan kiprahnya orang Ringgit, Susuk, Mendiro dan Karangtalun yang ternyata sudah menjadi sentra produknya si Bogowonto yang inuk tenan. Ada baiknya kapan waktu kalau pas pulang kampung coba tengok-tengok kesawah maka akan tersua beberapa papan nama Kelompok Tani SRI Organik bla bla bla……
      Ya sambil nostalgia dulu waktu macul tempah dll.
      Saya sangat senang atas komennya, tentu tak lupa harus ucapkan terima kasih lagi kepada sobat kita Mas Med dan Mas Anston manager BP.
      Salam BP, (hasmadji)

      • Raf says:

        Nambahin dikit Pak Madji….
        Mas Meds itu Chief Executive Officer (CEO) nya BP, nah sedangkan Mas Anston Bruno itu Managing Director BP, ha..ha..ha.. kabur ah sebelum dimarahin…

        Salam,

        • meds says:

          wah mas Raf ada-ada saja, nanti jadi BP inc.

          Lama tak ada kabar, sekarang di jakarta bagian mana?

        • Raf says:

          Mas Meds,
          iya nih begitu di Jakarta malah aku tenggelam… banyak kegiatan luar rumah sampai nge-blog, nonton bola, nonton balapan saja sekarang jarang banget pas waktunya …

          Aku di daerah Cileungsi arah Mekarsari, maunya sih cari daerah pinggir yang nggak macet, eh nggak tahunya macet juga …

  4. Mas Madji, saya merasa “kecolongan” dengan adanya kisah beras organik dari Ringgit, karena baru sekarang saya tahu adanya kegiatan tsb., padahal bila saya di desa hampir setiap pagi desa Ringgit saya lewati sebagai bagian dari OR jalan pagi saya. Ternyata setelah saya cek dengan pembantu saya yang baru datang dari desa, memang betul adanya kegiatan tsb. Memang pada Lebaran yl. saya lewat Tunjungan, sebelah timur Ringgit, terdapat beberapa hektar sawah yang nampak hijau (lainnya kering) dengan papan “Proyek Kelompok Tani Padi Organik”. Mereka bisa tanam padi dimusim kemarau dengan menggunakan pompa dan ternyata berhasil, terbukti dengan tanaman yang ijo royo2. Saya pikir kalau mereka berhasil apakah tidak mungkin dikembangkan, sehinggga nantinya tidak lagi tergantung dari hujan.
    Saya ikut bangga dengan prestasi orang Ringgit ini, namun saya koreksi sedikit bahwa desa Ringgit itu tidak terlalu perpencil, setiap hari dilewati rute angdes dari Wonoroto-Kutoarjo. Desa ini juga telah menghasilakn seorang tokoh nasional, Jendral Isman, komandan TRIP Jawa Timur dalam jaman perang kemerdekaan. Selamat untuk mas Madi untuk tulisan yang menarik. Salam Ngombol, Sw.

    • hasmadji says:

      Matur nuwun Pak Wiek, kula inggih merasa kecolongan lho!! Saya baru tahu si Bogowonto saat Lebaran yang lalu begitu mendapat kiriman dari Purnomo (adik sepupu) yang sudah lama tinggal di Ringgit. Info dari Pak Slamet Supriyadi, di kecamatan Ngombol baru beberapa desa (sekitar belasan) yang tergabung Kelompok Tani SRI Organik (ds Pulutan blm termasuk)dan lokasinya dominan di area kidul kecamatan Ngombol. Ketika saya singgung kronologis mengapa diberi nama Bogowonto? “nGgih sakjane wonten sejarahe dan agak panjang,ya karena juga mendapat aliran dari dari sungai Bogowonto ya gampangnya itu saja alasannya” begitu kilahnya.
      Pak Wiek betul, bulak sak wetan desa Ringgit sejauh mata memandang nampak hijau tanaman padi yang masih muda meskipun dimusim kemarau, hal demikian juga terjadi disebagian persawahan desa Candi yang sdh tergabung SRI organik.Disamping mengandalkan mesin pompa air tapi konon juga masih mendapat pasokan sisa sedikit debet air dari Boro. Mengutip keterangan Pak Slamet sistim SRI memang tidak begitu memerlukan banyak sekali air jadi masih dimungkinkan untuk dapat tiga kali panen dalam setahunnya.
      Kita patut berikan apresiasi kepada Pak Slamet Supriyadi dkk akan kegigihannya dalam bertani secara total. Kami berharap semoga pemerintah dapat meningkatkan pembangunan infra struktur pengairan untuk wilayah persawahan di Purworejo bagian selatan yang hingga kini masih berpredikat petani tadah hujan. Sepanjang pengamatan kami sewaktu nostalgia jalan kaki memang booming proyek PNPM Mandiri, tapi masih sebatas normalisasi saluran tersier, harus diakui inipun sudah bermanfaat besar.
      Pak Wiek terima kasih mengenai koreksi “terpencil”. Maaf itu hanya sebatas istilah dalam menyebut lokasi yang memang tidak di jalur strategis seperti misalnya dalam jalur jalan raya Grabag-Susuk-Purwodadi atau dekat kantor Camat dsbnya. Tapi sekarang saya optimis paling tidak di forum BP istilah sudah akan berubah menjadi “TERKENAL”.
      Begitu Pak Wiek saya sampaikan terima kasih.
      Salam BP.(hasmadji)

  5. Raf says:

    Bagus..bagus.. kita siarkan ke dunia bahwa Purworejo itu ADA!!!

    • hasmadji says:

      Terima kasih mas Raf, saya sangat setuju mari kita promosikan paling tidak dilingkungan terdekat kita khususnya produk beras organik Bogowonto. Saya tinggal di Bekasi, beberapa hari lalu saya sudah berhasil menghubungi jaringan pemasaran untuk wilayah Bekasi yaitu Mas Subandi. Beliau tinggal di Tambun pada hari Minggu lusa (09 Okt) saya ada janji mau ketemu. Dari mas Subandi nanti yang akan menjelaskan tentang sistim distribusi ke konsumen,info lebih jelas tentu akan berguna khususnya bagi teman-teman yang berminat mencoba.
      Terima kasih, salam BP (hasmadji)

  6. Yono says:

    Kalau saja disetiap desa ada orang yang segigih Mas Slamet Supriyadi – Mas Wuryanto, petani kita tentu lebih makmur, dasar pola pikir yang ditanamkan ke petani sangat mengagumkan, membuat petani menjadi juragan dan punya kebanggaan dalam profesi petaninya.
    Mas Hasmadji : saya ingin berkenalan dengan Mas Subandi, tolong alamat lengkap dan nomor telpon yang bisa dihubungi ya, siapa tau saya bisa ikut mengenalkan bogowonto di Bandung.
    Mas Raf : ya kita siarkan kedunia, sambil kita dorong petani Kemadu ikut ambil bagian, begitu baca tulisan ini, saya langsung telpon ke Kemadu, alhamdulillah Mas Soleh sebagai tokoh muda Kemadu sudah mengikuti berbagai pelatihan tentang ini, Mas Soleh saya sarankan membawa beberapa teman sowan Mas Slamet Supriyadi di Ringgit untuk menimba ilmu.
    Semoga keberhasilan yang sudah dinikmati petani Ringgit akan merata kedesa desa di seluruh Purworejo pada tahun tahun mendatang.

    • hasmadji says:

      Terima kasih Pak Yono, saya sependapat kalau petani selain ahli secara teknik harus juga paham tentang managemen pasar, dengan serikat/berkelompok kiranya langkah ini akan lebih cepat dalam merubah nasib. Saya menyambut gembira bahwa di Kemadu sudah ada tokoh muda Mas Soleh yang sudah pernah mengikuti pelatihan dimaksud. Pak Slamet sempat berujar kepada saya bahwa beliau bersedia berbagi ilmu kepada siapa saja yang berminat bertanam padi SRI Organik, jadi langkah untuk ke Ringgit saya pikir tepat sekali.
      Mas Subandi juga sudah ikut baca keinginan Pak Yono, tapi karena baru kulonuwun di BP dan blm dibukakan pintu jadi dereng saged respon. Intinya beliau menyambut baik dan menitipkan E-mail bandinpi@yahoo.com
      Makaten Pak Yono, salam sukses untuk teman-teman Kemadu. (hasmadji)

      • Raf says:

        Pak Yono,

        Walaupun tidak terjun langsung kita semua mendorong pemberdayaan lebih bagi agraria Indonesia (baca: PurworejO) , agar cita2 kemandirian pangan & petani dapat segera terwujud ….

        dan jika ada aktivitas berkaitan dengan ini baik di Kemadu ataupun di Bandung silahkan di sebarluaskan melalui BP ….

  7. mbah suro says:

    Provisiat untuk Mas Slamet Supriyadi dkk yang telah merintis dan mengembangkan beras organik di Ringgit ini, keberhasilan memang perlu kesabaran dan perjuangan dengan tanpa mengenal putus asa yang pada akhirnya menjadi sebuah hasil yang diharapkan.

    Sudah saatnya Purworejo bangkit dalam sektor pertanian, khususnya tanaman padi untuk mewujudkan swa sembada pangan, paling tidak bisa mencukupi kebutuhan lokal, syukur-syukur surplus sehingga kesejahteraan petani semakin meningkat.

    Harapan saya semoga tanaman padi organik ini semakin berkembang diseluruh lahan pertanian di Purworejo, mungkin juga bisa dikembangkan jenis tanaman lainnya seperti jeruk yang dulu pernah “ngetop” jeruk Purworejo.

    Sekali lagi provisiat…..

    • hasmadji says:

      Hallo mbah Suro sobat yang Xlalu gembira, semoga tawa Anda bisa jadi cerminan petani SRI Organik Kab Purworejo yang kini mulai bangkit. Betul lho mbah Suro saya pencet keyboard ini sambil senyum mbayangin wajah mbah Suro yang humorist.

      Yah kita patut bangga terhadap langkah Pak Slamet dkk. Secara teknologi barangkali mereka sudah pegang kendali namun masih harus juga siap mengantisipasi masalah yang bersifat global. Tentu ini bukan lagi yang harus dipikul oleh para petani, segenap komponen/elemen bangsa inilah yang lebih bertanggung jawab yang kalau ditarik ke atas ya pemerintah di negeri ini. Tapi saya optimis kok kalau padi organik ini akan berhasil kuncinya yaitu kesungguhan masyarakat petani dan pemerintah yang harus dalam satu visi dan misi.

      Jeruk memang pernah jaya di Pwr, tapi sudah “game over” setelah th ’70 an. Tentu kami tidak ingin kalau padi organik Pwr akan kembali bernasib seperti pendahulunya si jeruk.
      Oke mbah Suro kapan kita copy darat lagi? Salam-Tawa, senang selalu. (hasmadji)

    • sutiyono says:

      Mbah Suro, saya juga teringat akan kejayaan jeruk di Purworejo, saat itu petani Kemadu juga banyak yang sukses kebagian rejeki jeruk.
      Kenapa jeruk yang dulu jaya di Purworejo menghilang dalam belasan tahun, sebagai orang awam saya menduga nduga; bahwa petani jeruk saat itu masih menggunakan pupuk pabrik dan pestisida yang barangkali over dosis, sehingga tanaman jeruk dipaksa untuk berproduksi secara instan sehingga umurnya tidak panjang, atau tanah yang rusak akibat pupuk pabrik yang berlebihan.
      Saya yakin ada teknik semacam budidaya bogowonto yang bisa mengembalikan kejayaan jeruk Purworejo secara berkesinambungan.
      Tantangan untuk putra putri Purworejo yang berkomitmen mbangun deso. Matur nuwun.

  8. hasmadji says:

    INFO TAMBAHAN ; Tanggal 16 Oktober Hari Pangan Sedunia. “Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani” menjadi tema diskusi panel terbatas Harian Kompas dan Oxfam dengan nara sumber beberapa pejabat petinggi negara dan para ahli. Harian Kompas edisi hari ini, Jumat tanggal 14 Oktober 2011 menurunkan laporan di halaman 1, 33, 34, 36 dan 38. Ada baiknya penggemar BP membacanya. Terima kasih. Salam.

    • Raf says:

      INFO TAMBAHAN JUGA : Purworejonews.com kemarin menurunkan berita tentang panen raya jagung di desa Triwarno Banyuurip Purworejo…

      jagung bisa dijadikan alternatif diversifikasi pangan sebagai usaha Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani …dan kini Purworejo telah merintisnya …

      ingin info lengkap silahkan klik situs tsb..

  9. cah_ndhiro says:

    tulisan dari Mas Hasmadji sangatlah mengingatkan saya akan kampung halaman, akan rindunya bermain di sawah untuk minggiri, nlaktor, ngecek, gawe papan sebaran, tempah, ngemes, matun, nyodok, derep, ngorop dawet pas panen, mepe gabah, kegiatan itu tidak mudah dilupakan begitu saja yang notaben saya dari anak petani yang di didik keras harus kesawah setelah pulang dari sekolah, yang dijalani dari kelas 4 sd dampai dengan selesai kuliah, didikan yang secara tidak langsung dari orang tua sangatlah bermanfaat bagi saya untuk menjalani kehidupan di jakarta yang terkenal sangatlah keras, pernah terbesit dipikiran jika saya tidak ditempa oleh kedisiplinan dari orang tua mungkin saya sangatlah sulit untuk menjalani kehidupan saya saat ini, wualah kok malah cutrat to…. habis tulisan mas Hasmadji sangat berkesan sekali, kebangga tersendiri dengan prestasi orang Ringgit yang patut diberikan apresiasi atas kegigihan untuk mensejahterakan petani kecil dengan menciptakan beras organik BOGOWONTO….. cayo maju desaku maju PURWOREJOKU, jangan lelah untuk berkiprah ciptakan ide-ide cemerlang, teruslah berkarya ……..

    salam
    novianto Cah_ndiro
    +268176637370

  10. hasmadji says:

    Mas Dwi jumpa lagi kita di BP, smg keluarga sehat.
    Wah ternyata Mas Dwi begitu “ngelothoknya” cerita bab bertani padi semasa remaja dulu, menandakan bahwa pernah menjadi petani sejati sehingga bekal keuletan menjadi sangat berarti dalam mengarungi kehidupan di Jkt dewasa ini. Sukses untuk Anda !!. Karena beda generasi dengan saya (sebelum th ’70an) mungkin Mas Dwi belum pernah nutu pari dilesung, nyosoh beras dilumpang, tapen, nginteri, ngirig serta mengumpulkan merang, dhedhak dan katul. mengingat saat itu di desa belum ada gilingan padi. Tetapi jangan heran lho kalau sekarang ini banyak sekolah mulai TK hingga SLA di Jadebotabek mengajak para murid merasakan bertani dalam acara Wisata Agro Sawah seperti di Pasir Mukti Citeureup, Ciseeng Parung, Telaga Arwana Cibubur, Taman Wisata Matahari Cilember dll. Tentu kegiatan ini positip untuk mengenal sisi kehidupan petani.
    Kembali ke petani Ringgit Cs yang giat berinovasi, tentu masih terus berjuang khususnya dalam meningkatkan kwalitas produk yang bermutu sehingga beras Bogowonto akan tetap eksis.

    Begitu Mas Dwi, terima kasih coment-nya. Selamat beraktivitas dan sukses,
    Salam (hasmadji)

  11. pujo_hasto says:

    Mas Madji,,waktu lebaran kemaren saya juga dibawain beras Bogowonto ,produk desa Ringgit, saya baru tahu juga kalau beras Bogowonto tersebut dari desa Ringgit. rasanya uenak tenan, legit , empuk, pulen. Apapun lauk dan sayurnya bila nasinya dari beras Bogowonto ya mantep tenan .Tanpa terasa dalam hitungan hari kami sekeluarga tidak dapat menikmati lagi mengingat persediaan/stok beras sudah habis,,mau beli di tempat saya ( Bojong Gede ) kayaknya gak ada. Terkait dengan produk beras Bogowonto, berarti terbuka peluang budidaya pupuk organik yg dapat juga dijadikan usaha bagi masyarakat Purworejo dan sekitarnya guna mendukung komoditas dan kelestarian Beras Organik Bogowonto,
    Taklupajuga saya ucapkan terima kasih kepada Mas Sumedi dan manager BP, atas diterimanya saya yg baru menjadi anggota BP,..
    Salam ( Hasto )

  12. hasto says:

    Mas madji,,waktu lebaran kemaren saya juga dibawain beras Bogowonto, saya juga baru tahu kalau beras Bogowonto tersebut produk Desa Ringgit.Rasanya uenak tenan, empuk,pulen. Apapun sayur dan lauknya bila nasinya dari beras Bogowonto yaa,mantep tenan. Tanpa terasa dalam hitungan hari kami sekeluarga tidak dapat lagi menikmati mengingat persediaan ternyata sudah habis.
    Terkait dengan produk beras Bogowonto berarti terbuka peluang budidaya pupuk organik yang dapat juga dijadikan usaha bagi masyarakat Purworejo dan sekitarnya guna mendukung komoditas dan kelestarian beras organik Bogowonto.
    Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada Mas Sumedi dan manager BP atas diterimanya saya menjadi anggota baru BP
    Salam ( Hasto )

    • meds says:

      Sami-sami pak Hasto. Ditunggu tulisan-tulisannya.

    • hasmadji says:

      Pak Hasto selamat bergabung di BP.
      Seiring giatnya petani organik di Pwr tentu peluang cukup terbuka bagi yang berminat membuka usaha pupuk organik.
      Kalau merasa ketagihan dan ingin mendapatkan beras Bogowonto, silakan untuk menghubungi Mas Subandi hp no o813 8521 8305, karena beliau berdomisili di Tambun selama ini pemasarannya di sekitar Bekasi dan Lippo Cikarang. Semoga Mas Subandi bersedia melayani pesanan khusus ke Bojong Gede.
      Salam (hasmadji)

  13. Qower Epy says:

    Ayo kembangkan SDM purworejo tanpa merusak bumi kita (save Eart) masih banyak cicit-cicit kita yang akan menikmati porworejo, jadikan genersi muda purworejo yang mandiri, cerdas, mau berkembang dengan segala prospek yang bumi sediakan….. Peduli dengan BUMI PURWOREJO adalah PEDULI SAMA ANAK CUCU KITA…..

  14. cah_ndhiro says:

    bade nderk tanglet kagem mas ADM, menawi bade up lood tulisan2 yang di BP ke FB tanpa copy paste kepripun njih? kadose tulisan2 wonten BP sangat bermanfaat untuk Khalayak family purworejo, menawi katah sing maos dadose kayaknya sami mawon promosi daerah kito ke khalayak umum biar tambah maju …..

    suwun salam
    novianto

    • meds says:

      Kagem Cah_ndiro,

      bisa dengan klik tombol “like” di bawah setiap tulisan. itu akan men-share artikel ke facebook. berlaku juga untuk share ke google+.

      Untuk sharing manual, copy url artikel misal: “htp:///bloggerpurworejo.com/2011/01/judul-artikel” dan masukkan ke wall facebook. maka ringkasan artikel akan muncul di wall facebook.

  15. slametwijadi says:

    Mas Madji, penasaran dengan tulisan/kisah beras organik “Bogowonto” produksi desa Ringgit, saya langsung pesen dari sumbernya liwat pembantu saya yang kebetulan pulang kampung. Saya pesan 50kg @ 5kg/bungkus, harga Rp.12/kg,digiling tanggal 27 Nopember, jadi fresh sekali, kirim liwat Sumber Alam, ongkos kirim Rp.50.000 sampai Lebakbulus tadi pagi dan diambil dengan ojek sampai dirumah (deket sekali). Langsung saya coba untuk sarapan pagi dengan tempe kiriman dari desa bersama beras, tambah ceplok telor dan sambel tempenya, rasanya luar biasa, berasnya pulen, varitas Sintanur, wangi dan mantaaab di perut, betul2 tidak rugi. Siapa yang mau pesen, silahkan hubungi Pak Slamet Ringgit, sungguh perlu dicoba. Sudah lama tidak makan beras pari jero jaman bahela kini kenangan waktu kecil terbangun lagi.
    Terimakasih mas Madji atas info/tulisannya. Beras akan saya bagi2 kepada anak2 kami/teman2 deket sekaligus promosi desa Ringgit/Purworejo. Salam, Sw.

    • Gunarso Ts says:

      Matur nuwun Pak Wiek, tadi pagi (02/11) paringannya beras Bogowonto kemasan 5 Kg sudah dijajal dimasak Mbok Ratu. Ternyata memang pulen, tapi agak pera ya? Jangankan pakai lauk, “dipuluk sega thok” saja sudah enak dan wangi. Benar-benar mengingatkan masa lalu di kampung tahun 1968-an.
      Kala itu simbok njangan bebek tumbuk, dengan nasi beras anyar pari jero. Bagaikan Kumbokarno dari Pangleburgongso, nasi sesumbul hanya saya habiskan berdua dengan Kang Partono familiku dari Palembang. Komentar simbokku langsung: “Oo lha blawong, sega saksumbul cah loro kok entek….!”
      Terima kasih Pak Slamet. Mengutip pelawak Timbul, beras Bogowonto memang uenak tenaaaaan! (gts)

      • slametwijadi says:

        Mas Gun, paling siiip kalau lauknya jangan lompong dan sambel trasi dengan tempe goreng, dipuluk waktu panas2 mak leeb tanpa di kunyah langsung masuk, itu kalau jaman waktu kecil di desa. Sekarang mana ada ada jangan lompong di Jakarta. Beras ini betul2 ueeenak, dengan lauk minim sudah cukup. Trims kembali, mas Gun menikmati dan juga trims telah “nyambangi” rumah kami. Salam, Sw.

    • hasmadji says:

      Komentar Pak Wiek setelah mencoba menikmati nasi dari beras organik Bogowonto kiranya memang tidak berlebihan, ya begitulah beberapa keistimewaan produk Ringgit dan teman petani di Ngombol. Sejauh ini teman-teman petani di desa terus giat untuk meningkatkan mutu. Info tersebut dari Mas Subandi yang kini juga jadi langganan kami untuk suplai beras tsb. Kami memang sepakat untuk bekerja-sama memperluas pemasaran agar produk ini bisa eksis di masyarakat Jabodetabek, sasaran khusus tentu mereka yang berasal dari Pwr, agar mereka juga bangga. Saya sangat setuju dengan Pak Wiek yang berniat ikut berpromosi, mengenai suplai-nya saya kira tidak usah khawatir, Mas Subandi selama ini sudah melayani pelanggan berkisar 800 – 1000 kg dalam sebulannya. Matur nuwun Pak Wiek, selamat menikmati Sintanur dan juga selamat menempati rumah kediaman yang baru. Salam kagem Ibu saha putra wayah.

      • slametwijadi says:

        Maturnuwun mas Madji, semoga promosi produk desa Ringgit/Purworejo akan menemukan sasarannya, sekaligus untuk membantu para petani organik. Di Jakarta beras organik dijual berkisar antara 15-20 ribu/Kg, kalau produk Ringgit bisa bersaing mungkin akan terbuka pasarannya, masalahnya memang “jumlah”nya, makin banyak bisa ditekan ongkos angkutnya. Kemudian promosinya, mungkin bisa liwat inertnet seperti yang lain2. Menurut keterangan Pak Slamet ada ;persediaan 10 ton gabah yang siap digiling bila sewaktu2 ada pesenan. Semoga bisa berkembang… Salam, Sw.

  16. amat plaosan6 says:

    tolong pakde/mbah yang punya video/bisa di shoot lah padi yang masih ijo royo royo supaya kita yang jauh dari porjo bisa ndelok porjo masih hijau gitu..
    saya jadi rindu pingin mulih negok kali bogowonto..
    hk hk hk..
    kalau bisa di masukkan youtube sekalian alamatnya biar bisa di download..
    matursuwun bapak lan ibu kabeh.

  17. endang s says:

    minta no tlp pihak pemasaran bers guna ikut memasarkan bers bogowonto. trim

  18. parjo says:

    semoga semakin bagus lagi hasil pertaniannya dan jaya desa ringgit

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Beras “Bogowonto”, produk Desa Ringgit

6 - Oct - 2011 | meds | 39 Comments »

Kambing Purworejo

23 - Jan - 2009 | lentera-ijo | 9 Comments »

Gedang Pank

14 - Mar - 2009 | Anston Bruno | 8 Comments »

Durian Purworejo

23 - Jan - 2009 | geblex | 8 Comments »

Bertani organik ala Sutomo Di Wingkomulyo

10 - Jul - 2008 | meds | 7 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net