“Nggragas”-nya anak kampung

  24 - Sep - 2011 -   meds -   20 Comments »

BERBAHAGIALAH generasi yang lahir setelah tahun 1970. Setelah masa peralihan dari pemerintahan Sukarno kepada Soeharto dengan Orde Barunya, secara umum perekonomian membaik. Jaman yang disebut murah sandang pangan telah tiba, tak ada lagi rakyat yang kelaparan. Berkat gizi yang terjamin, kesehatan pun meningkat. Salah satu contoh, bayi setelah era 1970-an beberapa hari lahir telah melek. Padahal bayi sebelum itu, matanya baru terbuka setelah umur dua minggu.

Seputar tahun 1960-an rakyat banyak yang menderita sakit dan miskin, sebagaimana kata sebuah lagu. Makanan di rumah sangat terbatas, sehingga anak-anak kampung selalu kelaparan. Di Pulutan (Kec. Ngombol) kampungku, tetangga duwe gawe (hajatan) dan sore harinya menggelar kepungan (kenduri) itulah surga bagi anak-anak kecil. Bahkan kata Saolan kawanku, bilamana bapaknya pergi kepungan, dia tak berani bermain jauh-jauh. “Kuwatir nek ra komanan brekat ,”katanya mengenang.

Nasi bancakan yang disebut brekat tersebut sebetulnya bermenu sederhana, nasi pera dengan lauk sepotong daging ayam ingkung, jangan gandul dioseng-oseng, peyek dele dan tempe. Tapi bagi anak kampung yang selalu kelaparan, itu terasa nikmat sekali. Apa lagi bila ditambah gebing (gorengan kelapa cincang), nasinya menjadi lebih gurih. Tapi yang demikian adanya cuma ketika selamatan sehari orang meninggal (surtanah = ngesur tanah).

Ngantuk nunggu “jaminan”
Ayahku yang menjadi santri bersama Mbah Amat Sadali, saat menghadiri kenduri selalu memperoleh menu istimewa. Selain makan enak, saat pulang masih ditambah oleh-oleh sucen. Brekat sucen menunya memang lebih istimewa. Selain ada ayam goreng, juga ditemukan lepet, yakni nasi ketan yang dibungkus janur. Itulah menu kebanggaan anak santri. Apa lagi bapak dan Mbah Amat sering pula diundang ke Desa Walikoro, sehingga hampir setiap minggu ada saja yang panggilan untuk baca doa kenduri.


Orangtua pulang kepungan (bancakan) membawa berkat, selalu ditunggu anak-anak.
(Foto: Gts)

Kalangan janda dan orang-orang jompo, memang tak diundang kenduri. Mereka hanya dikirim nasi bancakan tersebut dengan istilah warisan. Siapa yang bertugas mengirim, adalah anak muda di masa itu. Lagi-lagi Saolan tetanggaku, sering pula disuruh mengirim nasi warisan tersebut. Di sini kenakalannya semakin nyata, daging ingkung dalam bungkusan itu diambil dan dikantongi. “Ra bakal sing dikirimi nakokke, ya isin dhewe ” kata Saolan sambil mentertawakan masa lalunya.

Aku bersama mbakyu dan adikku juga suka rebutan nasi brekat tersebut. Kesempatan makan enak lainnya, adalah saat di rumah ada tamu. Simbok biasa menjamu dengan pacitan kemplang goreng, ubi goreng atau klenjor yang dibeli dari warung Siwa Pareng. Kami selalu menunggu kapaaaan tamu itu segera pulang. Begitu tamu pamitan dan meninggalkan rumah, kami berebut menyerbu undur-unduran (hidangan bekas tamu) tersebut. Tapi sekali waktu kami sempat dibikin malu. Di saat kami berebut makanan, mendadak tamu balik kembali karena korek apinya tertinggal. Jadi dengan jelas dia melihat betapa kami tengah berebut makanan.

Pemandangan seperti ini tidak lagi ditemukan di masa sekarang. Bagi generasi yang lahir di era makanan berlebih, anak-anak dewasa ini tak pernah lagi peduli pada undur-unduran. Jangankan berebut, melirik saja juga tidak! Padahal di masa kecilku dulu, kami selalu mengintip di balik pintu.

Bila ada orang mengirim punjungan (kiriman nasi orang punya gawe), itu juga pertanda bahwa aku bakal ketemu makanan enak di rumah. Menunya memang lebih istimewa dari brekat. Ketika orang punya gawe, anak-anak kecil sebagaimana aku juga suka hadir sebagai “tamu tak diundang”. Targetnya adalah, nanti ketika acara jaminan atau makan nasi rames tiba, bisa ikut pula menikmati. Menunya memang enak, ada sambel goreng daging, mie, peyek, bergedel, juga tempe goreng. Sayangnya hidangan yang diistilahkan orang kampungku sebagai “gara-gara” tersebut selalu muncul menjelang pukul 24.00. Akibatnya, anak-anak kecil sebagaimana aku dan teman-teman, suka kebablasan. Ketika jaminan keluar, kami telah tertidur pulas. Begitu kami bangun, semuanya sudah selesai. Menyesal dan kecewaaa….. sekali waktu itu.

Lagi-lagi anak kecil, urusannya memang makaaan melulu. Dalam berburu “jaminan” tersebut, tidak pernah mempertimbangkan loyalitas kekerabatan. Saat magangan lurah misalnya, tak peduli di rumah si A atau si B, ketika di situ banyak makanan, kami hadir. Saat berlangsung magangan sekitar Mei tahun 1965, ayahku berpihak pada jago Mas Suladi bertarung melawan Siwa Pawiro Selung, ayah Udi kawanku bermain. Tak peduli “perseteruan’ orang tua, bersama teman-teman ABG aku juga ikut lek-lekan di rumah Siwa Pawiro untuk cari jaminan pada pukul 24.00. Nah ketika kami tengah menyerbu nasi rames, tiba-tiba Udi muncul. “Kowe rak ora melu kene, kok madhang kene?” tegur teman sepermainanku itu telak. Tetapi dasar bocah saen (tak punya malu), aku terus saja makan lahap hingga usai.

Limun minuman mewah
Sega penek (nasi pincuk) juga merupakan makanan istimewa bagi anak-anak kecil di jamanku. Kata simbok, era sebelum masa kecilku Penek Ngandul sangat terkenal kelezatannya. Sedangkan di masaku, sega penek dari Pasar Purwodadi atau Pasar Njasa sudah merupakan makanan mewah tiada bandingan. Padahal menunya hanyalah beberapa suap nasi putih, diberi bencek tempe dan opor ayam barang sedikit.

Ketika aku jatuh meriang, suka merindukan nasi penek tersebut. Dan anehnya, begitu nasi tersebut dikirim simbok, sakitku berangsur sembuh. Apa lagi ditambah dengan minuman limun yang dibeli dari tokonya Bu Adi kidul ratan, makin cepat saja penyakit itu pergi. Memang, limun merupakan minuman mewah di jaman itu. Penutup pada botolnya belum pakai kaleng dipres bergerigi sebagaimana kini, melainkan masih menggunakan keramik putih dengan kawat sebagai pengunci tutup. Bila dibuka terdengar bunyinya yang khas: josss! Lalu minumnya pun hanya seteguk demi seteguk, bukan sekali tenggak macam anak-anak makmur sekarang. Pendek kata limun hanya dinikmati ketika anak sunat atau ada keluarga sakit. Maka ketika itu, setiap terlihat orang menenteng botol limun dari toko, pertanyaan yang muncul adalah: sapa sing lara?

Jajan pasar yang kugemari dan biasa dibawa pulang simbok adalah cenil dari pasar Njasa. Sering juga growol sangon, atau getuk alot berwarna merah. Saking alotnya, aku pernah keselek dan hampir celaka gara-gara getuk itu menyumbat kerongkonganku. Untung saja simbok segera memukul tengkukku dan meloncatlah getuk sialan itu dari mulutku.

Es lilin juga makanan lezat bagi anak kecil sepertiku. Lantaran es lilin itu rasanya manis, aku pikir semua jenis es memiliki rasa yang sama. Karenanya ketika melihat bongkahan es batu di samping toko Es Dawet-nya Fatkol di perempatan Purwodadi, penasaran aku mencicipi pecahannya yang kecil-kecil itu. Ternyata anyep saja, dingin tanpa rasa sama sekali. Jauh berbeda dengan es dawetnya Fatkol yang selalu rame dikunjungi pembeli. Tak hanya es dawet, roti bolu klumbeng Fatkol juga lezat, lembut macam karet busa. Bandingkan dengan bolu produk lainnya, bantat dan keras sekali, cocok untuk nimpuk anjing sampai kaing….kaing.

Sayang, setelah toko Bawean makin berkembang di tahun 1970-an, usaha es dawet dan roti bolunya tersebut tak ditekuni Fatkol lagi. Tapi beruntung lidah kecilku masih terhibur oleh dawetnya Amat Rusdi, yang dijajakan pakai sepeda. Bandingkan dengan dawet pikulan yang biasa ditemukan di persawahan di musim panen, sangat nyata benar bedanya. Dawet persawahan pakai legen (nira), sedangkan punya Amat Rusdi bergula pasir. Namun di musim panen aku juga suka ngurup (barter dengan padi) dawet di persawahan.

Jajanan anak-anak yang juga kusuka adalah arum manis, yang terbuat dari busa atau uap gula pasir. Rasanya manis dan berwarna warni, hijau kuning dan merah. Sayang, makanan ini di kampungku tersedia hanya ketika ada tontonan wayang kulit. Yang unik, di daerah Ngombol kulon, arum manis disebut anak-anaksebelum tahun 1960 (maaf): jembut kucing!

“Nggaoki” panen padi

Lalu, jamu gandring yang dijajakan dengan dipikul. “Obat anget” yang sebetulnya jenang jahe itu dibungkus dalam klaras (daun pisang kering). Untuk menarik anak-anak, di ujung pemikulnya sengaja dipasang wayang klithik Jiweng. Aku ingat benar, ketika diminta memainkan si Jiweng, “kidalang” ngawur sekali. Dia tak mendalang seperti yang kusaksikan di desa Ngombol, tapi cuma kata-kata pendek (maaf): “Truk kenceng, truk kenceng…..!” Anak-anak pun tertawa tergelak-gelak.

Bersama Tunggono, Udi, Marno dan Tarso, di malam hari aku juga sering uthut alias nyolong padi di persawahan. Padi itu dipotong pakai cangkang keong dalam gelap, sehingga saat terkumpul padinya berjenis macam-macam, ada ketan, ada Jawa. Setelah terkumpul sak agem (satu ikat), padi colongan itu dibawa ke rumah Biyang Pareng, ditukar klenjor dan juga rokok. Selanjutnya, sambil merokok bergantian, kami makan klenjor itu. Kenikmatan sejenak dari sepenggal dunia kriminalitas anak-anak!


Derep memaki ani-ani, tetapi “uthut” cukup dengan cangkang keong, hasil padi itupun macem-macem. (Foto: Intenet)

Saat musim panen tiba, sawah-sawah yang dikeramatkan diselamati dengan tradisi miwit atau methik. Upacara untuk menghormati Dewi Sri itu sekaligus merupakan hari pesta bagi anak kampung sepertiku bersama teman-teman. Mana kala ada orang miwit, bersama Tunggono, Tarso, Marno, Udi dan Dayat kami berebut ke sana. Begitu pemilik sawah selesai dengan upacaranya, kami memperebutkan makanan itu, yang biasa disebut nggaoki. Di situ terdapat nasi tumpeng urap, ingkung ayam kecil, telur bebek rebus, sampai bandos dan jangka (bandos manis).

Nggaoki sajen bukan urusan anak kecil dalam tradisi methik saja. Di makam Mbah Tandjung yang berada di sebelah selatan rumahku, juga Mbah Secang di belakang rumah kaum Amat Soderi; adalah tempat-tempat anak-anak berburu makanan untuk lelembut yang mbaureksa (menunggu) daerah itu. Marno berkisah, dia pernah berebut uang dalam sajen bersama Tunggono ketika nggaoki di makam Mbah Tandjung tersebut. Memang, kecuali makanan, dalam sajen yang ditaruh di atas ancak itu diselipkan juga sejumlah uang logam.


Di kala ada orang “methik”, anak-anak berebut nggaoki. (Foto: Pudjo Hastoko)

Nyolong jeruk dan mangga
Begitu nggragasnya sebagai anak kampung, makanan apa saja yang ditemukan di luar langsung disikat, bahkan tak jarang pula berani nyolong buah-buahan di pomahan suwung. Padahal secara ekonomi, orangtuaku tidaklah kesrakat (kurang makan). Tapi mungkin karena pengaruh lingkungan sekitar, aku jadi ikut-ikutan nggragas, suka berburu buah-buahan milik orang. Bersama Mulyono aku pernah diajak nyolong pisang di pekarangan kulon ndesa. Setandan pisang itu diambil dari batangnya lalu diperam dalam tumpukan klaras (daun pisang kering). Empat-lima hari kemudian dibuka dan dimakan bersama. Begitu juga cari “cebuk”, yakni sisa orang panen ubi jalar, juga hobi kami. Begitu dapat, tanpa dicuci dulu langsung dikremus. Rasanya manis sedikit bau tanah!

Ketika Tinon anak Jakarta ngundhuhi wuni yang tumbuh di tengah hutan desa kami, aku bersama Udi, Marno, Tarso, Tunggono dan juga Dayat, ikut pula pesta buah yang berasa asam-asam manis itu. Cuma ketika Marno Cs cari duwet dengan manjat gunung ke Wetan Kali, aku tak pernah ikut karena dilarang simbok. “Rasah glarangan tekan nggunung barang, nek ming dhuwet wae tak tukokke sak bosenmu,” kata simbok selalu. Dan memang benar, dari pasar simbok sering membawa duwet yang lidhuh-lidhuh (masak benar) tersebut. Pohon mundhu yang tumbuh di hutan belakang rumah Mbah Sonto, juga selalu awoh bocah ketika musim berbuah. Buahnya kuning-kuning Golkar bila telah matang, rasanya cukup manis di lidah anak kecil. Kami juga pernah pula nyolong manggis di pekarangan orang. Apa lagi melempari buah mangga orang, itu sepertinya telah menjadi “lagu wajib” bagi anak kampung. Dalam usia ABG aku pernah dilabrak Bu Sum karena nyonggroki buah pelem Siwa Kadji almarhum tanpa ijinnya.

Setelah mangga, sasaran colongan anak kampung adalah jeruk. Dua pohon jeruk di halaman rumah Siwa Kartomodjo buahnya lebat dan manis-manis pula. Karenanya, sering pula kami colongi bersama Marno dan Udi. Marno ini memang hebat nyalinya. Pernah bersama Tarso, Jarwo, Jarno, Narko dan sejumlah anak gang selatan, dilaporkan ke Camat Ngombol gara-gara nyolong jeruk Mbah Bekel Hormat orang kaya di desa kami. Saat Pak Camat bertanya jeruk tersebut dimakan atau dijual, Marno Cs menjawab serempak: dipun tedha Pak. Pejabat pamong praja itu langsung memerintahkan mereka pulang sambil menasihati, “Aja dibaleni maneh ya!” (Gunarso TS)

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:meds


20 Responses to ““Nggragas”-nya anak kampung”

  1. meds says:

    Nggaok, kalau di desa saya pasaranom istilahnya “ngicik”. kalau mau panen, pemilik sawah memberi “sesajian” berupa jajan pasar, jenang abang putih (?), dan kelapa muda (degan), lalu anak-anak meminta bagian (biasanya berebutan).

    sering belum usai di “srah-kan oleh pemilik sawah, anak-anak sudah berentan. Sehingga tak jarang jajan pasar tak bisa dimakan karena sudah hancur akibat berebutan. jenang biasanya buat lempar-lemparan. (dikaprot-kaprotan).

    itulah fenomena meng-gaok di desa saya.

  2. Gunarso Ts says:

    Terima kasih Mas Sumedi. Meski hanya berjarak sekitar 8 Km, bahasa sudah berbeda ya? “Nggaoki” di kampungku, sudah jadi “ngicik” di Nggrabag. Sama halnya dengan “cebuk” di desaku, di Susuk kata Pak Wiek sudah berubah menjadi “cuplak’.
    Ternyata perilaku anak tahun 1960-an masih sama juga ya dengan bocah tahun 1980-an. Di kampungku, bocah seangkatanku yang namanya Dayat itu memang “cukat trengginas” dalam urusan berebut makanan orang methik. Maka sekali waktu, saat sajen itu sudah boleh diserbu, sebagian anak megangi dulu si Dayat, agar dia tidak ikut “ngentek-entekke” makanan. Saya suka kasihan jika ingat masa lalu yang lucu itu. (gts)

  3. Anston says:

    mengingatkan masa kecil dulu. “methik” mungkin kalo di bruno sana namanya rajik. sebagai tanda padi sudah boleh di panen. dan yang ngambil makanan rajik itu juga namanya nggaoki

    • sukapdi says:

      mas Gun mbaca crita methik mengingatkan saya sama siwa Jikem, sebab aku pernah ikut nggaoki di sigunung tempat sawahnya siwa Jikem, kalau jaman sekarang luar biasa sebab telur ayam satu bisa dibagi 16potong supaya rata kebagian semua ini merupakan lauk istimewa ditambah kluban dan tempe goreng wah tetap saja nikmat

  4. Dengan tampilnya beberapa cerita nostalgia mas Gun akhir2 ini, Blogger Purworejo terasa tambah “semarak”, semoga ini akan menjadi dorongan bagi yang lain untuk mengikuti jejak mas Gun demi makin tambah “berkibar”nya blogger kita.
    Cerita “ngGragasnya Anak Kampung” walau itu terjadi dan berbeda satu generasi dengan pengalaman saya, pada dasarnya masih mirip, hanya tingkat dan sifat nggragasnya mungkin agak berbeda. Tentang “limun” hanya bagi yang sakit itu sudah ada sejak jaman saya,padahal ibu saya punya “toko” yang jual limun, namun saya juga baru minum kalau sakit, cari “cebuk”,(di tempat saya “cuplak”) rebutan sajen atau juga rebutan “sawur” di depan pikulan jenasah untuk “recehan setengah sen/satu sen an, goris di pasar untuk cari manis-jangan dan sisa sisa lainnya, menek asem gede di makam desa/pasar untuk methik buah yang mateng, sungguh bagian dari “nggragas”nya kehidupan anak kampung namun bila kini kita melihat kebelakang terasa betapa indahnya untuk di kenang. Saya bahkan “kasian” pada anak2 kota yang tidak pernah merasakan kehidupan dunia kanak2 seperti itu. Kesimpulan, cerita yang menggugah kenangan indah dunia masa lalu, masa kanak2 di kampung. Siapa yang akan menampilkan cerita2 berikutnya. Kita tunggu. Trims mas Gun. Salam, Sw.

    • Gunarso Ts says:

      Benar sekali Pak Wiek, maksud tulisan saya memang untuk memancing dan menggugah teman-teman keluarga besar Purworejo, berbagi pengalaman di masa kecil. Pasti banyak yang lucu-lucu dan merupakan kenangan yang sangat indah. Dan ternyata Pak Wiek, dari berbagai komentar yang masuk, pengalaman masa kecil anak-anak kampung nyaris sama meski generasi dan angkatannya sudah berbeda.
      Kami juga ingin mendengarkan cerita masa kecil Pak Wiek yang lebih lengkap dan lucu-lucu itu, di antaranya soal “diamuk bapak” karena minta tegesan rokok di depan tamu, atau “kaulan” minum limun 2 botol sekaligus karena sudah bisa mencari uang sendiri. Kami tunggu lho Pak. Trims. (gts)

  5. Gunawan Wd says:

    Membaca cerita diatas, langsung teringat kenangan masa kecilku sekitar 30 tahun yang lalu di Kec. Ngombol sekitar tahun 1978 s/d 1982 saat bapakku dinas di Kantor Kec. Ngombol. Saat itu ketika SD, aku mempunyai teman akrab Sukaryadi namanya, putra Pak Dullah dari desa Njoso. Ya namanya anak-anak, kalau masalah makanan pasti diburu dengan semangat empat lima. Demikian pula dengan kami berdua. Kami sering bersepeda ontel dari Njoso sampai Randu Gapit hanya untuk mencari sisa potongan tebu yang baru dipanen. Ada kepuasan tersendiri disaat udara panas nyesep manisnya air tebu….

  6. Raf says:

    Jaman dulu sega berkat selalu ditunggu walau sampai nganthuk …. th 90-an, sego berkat & juga punjungan banyak yang dibuat kerupuk legendar ( karena nggak kemakan) … tahun belakangan di beberapa tempat sudah mengganti nasi punjungan dengan roti, nasi berkat diganti dengan bahan mentah spt indomie, telor dll …

    • Anston says:

      Ita namanya sega BERKAT yang BERKAH mas raff..

    • Gunarso Ts says:

      Mas Raf, perubahan budaya memang juga sudah terjadi di Purworejo selatan. Mungkin sejak tahun 90-an ya, entah siapa yang mempelopori, orang ulem-ulem selalu dilengkapi dengan munjung roti. Ini serba merepotkan. Karena “punjungan” itu menyebabkan orang yang diundang seperti ditodong harus datang. Sebaliknya, orang yang mencoba kembali ke tradisi lama, yakni ulem-ulem tanpa lampiran kue-kue, ada juga yang komentar: “Wong ra niyat nduwe gawe, kok nduwe gawe!”
      Padahal, jika mengenang uleman model tahun 1960-an, itu sangat terasa kekeluargaannya. Utusan yang punya gawe datang dengan takzim sambil membawa segepok kerta ulem bergambar tangan salaman. Lalu katanya: “sowan kula sepindah tuwi kasugenganipun bapak ibu sekaliyan, ndungkap kaping kalih kula dipun utus….dst. Selesai matur sedemikian rupa dan menyerahkan kertas ulem-ulem, pasti dilanjutkan dengan kalimat: “Nuwun sewu, menawi dalemipun Pak Kromowisatro sisih pundi nggih?”
      Kalau uleman sekarang, katanya cukup didrop pada seorang kenalan di desa itu, lalu dialah yang berkewajiban mengedarkannya. Lagi lagi mas Raf, kemajuan tehnologi memang banyak menenggelamkan tradisi dan budaya masa lalu. (gts)

      • Anston says:

        Pak Gun. Untuk wilayah selatan mungkin sudah berubah begitu, tapi untuk wilayah utara uleman tetap masih sama seperti penjelasan pak Gun versi 1960-an. engan sowan ke tempat orang yang di percaya untuk menyebarkan uleman cukup dengan segepok uleman kertas

        • Gunarso Ts says:

          Wah bagus sekali itu Mas Anston. Apakah undangannya juga masih berbahasa Jawa, kertasnya yang dilipat dan pojoknya ada gambar tangan salaman? Aku ingat betul kata-kata awalnya, begini: “Nuwun wiyosipun, kula ngaturi priksa hing panjenengan sedaya, menawi benjing tanggal…… kula badhe gadhah kajat netakaken anak kula…… Sru sanget pengajeng-ajeng kula, panjenengan saged angrawuhi paring berkah pangestu… dst.
          Barangkali ada keluarga yang masih koleksi uleman model begitu? Soal uleman ini saya punya kenangan di kampungku yang sangat tak terpuji. Seorang pemuda yang ditugaskan mengedarkan uleman tersebut ke kampung lain, tidak menjalankannya. Paling ironis, segepok uleman itu malah dibuang di kali. Kemudian ada keluarga yang menemukan kertas-kertas uleman itu dan ketahuanlah siapa pelakunya. Daripada rame, soal itu hanya “disidem”, tapi menjadi catatan dalam keluarga. Sekarang pemuda itu minggat ke Sumatra jadi transmigran, karena susah cari makan di kampungnya. (gts)

        • Anston says:

          Pak Gun. Kalo undangannya mengikuti kemajuan jaman. sekarang sudah pake bahasa nasional. tai sempet ada beberapa undangan bahasa jawa. judule “ULEM-ULEM”

  7. agus says:

    saya kira cuma saya aja yang punya pengalaman masa kecil “ngraggas” saya juga punya pengalaman paling lucu kalo diinget2 ketawa sendiri pas kumpul guyonan karo konco pas lebaran , ketika kecil umur 8 tahun pulang ngaji nyolong nangka (gori) mburi mesjid pesantren,terus dibawa ke kali jali belakang mesjid untuk di”imbu”nganggo karbit ditutupi klaras ben mateng,pas seminggu wis mambu gori mateng trus sing podho ngaji ora ono bocah,konangan karo pak kyai muslihun(almh),podho bubar kabeh ,besoknya podho diseneni(dimarahi)waaah jan podho ngraggas kabeh…

  8. Dwi yn jabrq says:

    Menginggat masa lalu mmg indah y pak…
    Kalau d ds ku(klandaran) nama ny ”wiwit” adalah ut mmulai panen,sbg ucapan syukur kpd Yang Maha Esa krn sudah mendekati panen.
    Cerita ttg wiwit sy sm tmn2 sy kala it(seti aji,petong,musri)karena saking ngragas nya sy dan tmn2 smp keracunan pelas tawon,akhir ny di tlg sama simbok nya seti…

  9. Rustam says:

    selain apa yang semua diceritakan diatas , masa kecilku yang paling seru kalau pas lagi main di kebon lihat ada susuh manuk, biar ada di ujung pang pasti berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkanya, seneng karena banyak nemu endog manuk, dulu kalau musim layangan endog tadi buat bikin benang gelasan biar kalau di adu , bisa menang, kalau kalah ya terpaksa rebutan layangan putus, kalau mengenai sega berkat pengalaman dulu karena keluarga besar sega berkat tadi di pegang mamak lantas anake di dulang satu satu, sampai masa sma kalau mamak sedang makan sok minta di suap rasanya benar benar tak bisa di ungkap dengan kata kata nasi suapan mamak tadi. wiwit ya sama seneng kalau pas dapet jatah “NGGUAKI ” di pojokan karena bungkusane pasti lebih besar dan isinya lebih banyak daripada yang ikut wiwit biasa, ini ceritaku pak

  10. sanusi says:

    mengingatkan masa lalu sugeng siang tepangaken kulo saking pogung jurutengah nunut mampir wonten blog panjenengan mugi mugi sae sedanten gih monggo mampir teng blog kulo

  11. he he .. limun .. softdrink jadul ..
    dulu waktu lulus SD saya dihadiahi bulik sebotol limun .. merknya Bagelen .. warnanya merah .. tutupnya seperti isolator listrik dengan kaitan kawat ..
    nek dibukak muni mak jhuwozzzzzs … ga wani mbukak sendiri ..

    • Limun bocah saiki wis ora gelem?? kalah karo spite fanta dll. Kendurian saiki yo wis akeh sing ora masak dewe . ora ngaggo tumbu ( besek ). ditempatku malah pesen nasi padang / ayam bakar wong solo. jaman wis makin modern, podo males sayah ( capek )

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Purworejo tahun ’45-’49. Kenangan dan Nostalgia

23 - Jul - 2009 | slamet wijadi | 70 Comments »

Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah

19 - Apr - 2009 | slamet wijadi | 56 Comments »

Rumah dan Kenangan masa kecil di desa

4 - May - 2009 | slamet wijadi | 74 Comments »

Puasa dan Main Long Bumbung

1 - Aug - 2011 | meds | 14 Comments »

Apa Kabar Stasiun Jenar?

19 - Jan - 2015 | Febri Aryanto | 5 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net