Jalan kaki “napak tilas” Ngombol – Purworejo

  11 - Sep - 2011 -   Gunarso TS -   46 Comments »

Ketika transportasi sekarang begitu mudah, jalan kaki Ngombol – Purworejo sejauh 13 Km, sebenarnya sama saja “legan golek momongan”. Tapi demi mengenang masa sekolah 40 tahun lalu, hal itu sengaja kami lakukan bersama. Dulu jalan kaki karena tak punya uang, kini sekedar bernostalgia. Karenanya “napak tilas” rute-rute masa keprihatinan tersebut kami lalui dengan senang hati, meski kaki lempoh juga!
******
“WERDININGKANG wasita jinarwi, wruh ing kukum iku watekira, adoh marang kanisthane, pamicara puniku, weh resepe ingkang miyarsi, tatakrama puniku, ngedohken panyendhu, kagunan iku kinarya, ngupa boga dene ………..” sepenggal tembang Jawa pupuh Dandanggula karya Sinuwun Pakubuwono IV (Wulangreh – pen) itu terdengar sayup-sayup indah di pagi itu, seakan melepas perjalanan kami, jalan kaki “legan golek momongan” Ngombol – Purworejo.


Bersama Dik Caryo (kiri) dan Dik Madji (kanan), kami menapaki jalan Ngombol – Purworejo di terik matahari. (Foto: Gts)

Jarum jam menunjuk pukul 11.30, perjalanan kami baru sampai di bulak lor desa Sruwoh. Di bale desa Sruwoh saat itu rupanya sedang diselenggarakan halal-bihalal bersama warga. Informasi ini kami peroleh dari Bu Sumidjo, karena saat kami sowan ke rumah beberapa menit sebelumnya, Pak Sumidjo tokoh guru legendaris dari Sruwoh itu tak di tempat lantaran tengah menghadiri acara tersebut. Jangan-jangan, suara tembang Dandanggula sayup-sayup sampai lewat pengeras suara itu juga suara Pak Sumidjo teman bapak-bapak kami.

Bertebaran proyek PNPM
Menurut rencana, perjalanan “napak tilas” ini akan kami lakukan di pagi hari sekitar pukul 06.00. Tapi karena ada acara sungkeman Keluarga Siswosubratan orangtua Dik Madji – Caryo, juga harus takziah almarhum Pudjiono temanku yang tewas ditabrak motor di malam takbiran; perjalanan itu baru bisa dimulai pukul 10.30. Hari itu Rabu tanggal 31 Agustus, bertepatan dengan Idul Fitri versi pemerintah. Di Pulutan desaku, warga secara umum memang salat Ied baru di hari itu, sedangkan kami sudah melaksanakannya hari Selasa sebelumnya di lapangan lor Pasar Purwodadi.

Kami bertiga, saya dan Dik Madji – Caryo, mulailah perjalanan ini dari kampungku, melintasi Desa Walikoro. Saat lewat di depan rumah mantan Pak Carik Walikoro, kami ingat Suharti temanku di SR dulu. Kebetulan dia juga sedang mudik. Kami bertemu kembali setelah 50 tahun berpisah menapaki perjalanan nasib. Dia ternyata menikah dengan polisi dan setelah pensiun tinggal di Nggrabag. Cucu Harti kini sudah 7 orang, sedangkan kami belum ada yang punya. “Kacek pitu no, karo aku….,” ujarku mencoba melucu.


Jalan penghubung Sruwoh–Walikoro kini nampak rapi berkat proyek PNPM. (Foto: Gts)

Lepas dari rumah Harti, di Sruwoh kami mencoba mampir ke rumah Sumanto, teman SR-ku di tahun 1960-an. Ternyata dia sudah lama pindah ke Lampung, dan menetap di sana. Di rumah itu tinggal Ngatilah yang juga teman di SR. Kakak mereka yang bernama Djawen, sebelum tahun 1960 terkenal sebagai gadis kembang desa, sehingga jadi rebutan kalangan perjaka di masa itu, termasuk dari kampungku juga.

Sejak dari Walikoro hingga desa-desa yang kulalui selanjutnya, banyak terlihat bertebarannya proyek-proyek PNPM–MP (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Mandiri Perdesaan). Ada yang sedang dikerjakan, banyak pula yang sudah jadi. Kebanyakan perbaikan saluran air (sekaligus diperlebar). Jalan di bulak antara Desa Walikoro – Sruwoh misalnya, kini nampak rapi. Dengan lebar badan jalan 7 meteran, diperkeras bata conblok di tengahnya, jalan itu kini menjadi demikian kokoh karena diturap di pinggir kanan dan kiri. Padahal di masa kecilku, jalan itu selalu maluh (becek) di musim penghujan.

Hanya disayangkan, proyek PNPM – MP senilai Rp 142,3 juta itu baru terlaksana sepanjang 300-an meter saja. Selebihnya yang menjadi tanggungjawab Desa Walikoro, yakni setelah Buh Siketek ke arah timur, masih terlihat “berantakan”, meski jalanan juga sudah diperkeras sebagaimana di kampungku. Padahal secara kasat mata, di mana rumah-rumah bagus kini lebih banyak di desa ini, potensi keswadayaan lebih kuat dari kampungku. Di tahun 1960-an, di Walikoro masih banyak ditemukan rumah atep (beratap daun kelapa), kini sudah berubah menjadi omah-omah gedong a la Jakarta.


Prapatan Ngangkruk Ketip sekarang. Tahun 1960-an terkenal menjadi tempat penjahat mbegal. (Foto: Gts)

Tapi terlepas dari semua itu, Buh Siketek yang kini sudah dibangun rapi, di masa lalu menyimpan banyak kenangan, khususnya pada masa revolusi kemerdekaan. Di sekitar tahun 1949, saat tentara Republik – Belanda terlibat perang di daerah Mbokor – Pulutan, Lik Keyi (ibunya Madji – Caryo), Siwa Selung dan Lik Misdi, bersembunyi di kolong jembatan Buh Siketek untuk menghindari peluru nyasar. Kala itu mereka bertiga baru pulang dari Pasar Njoso. “Swarane pelor kala semana tor josss, tor joss, tor josss…..” kata Bulik setiap mengenang jaman geger.

Ngangkruk Ketip yang legendaris
Kami tiba di Ngangkruk Ketip, yakni perempatan jurusan Sruwoh – Pundensari – Wingko – Jenar, tepat pukul 11.55. Inilah perempatan jalan yang sangat terkenal, sepi mamring lantaran adoh lor adoh kidul. Di masa kecilku, konon di sini sering menjadi lokasi pembegalan orang lewat sendirian. Bahkan di tahun 1980-an, seorang korban aksi kejahatan di Banyumas, mayatnya dibuang di daerah perempatan Ngangkruk Ketip ini. Dik Madji masih ingat, nama korban Kuncung, ditemukan dalam tubuh hangus karena dibakar.

Tahun 1960-an, Pak Karpus suami Bu Sainem guruku di SD Margosari tahun 1958-1959, pernah kecelakaan sepeda motor spedel di sini. Ceritanya, habis main ke rumah Pak Sis ayah Dik Madji, pulangnya lewat Sruwoh, terus ngalor menuju Jenar Kidul rumahnya. Tapi pas di perempatan Ngangkruk Ketip spedelnya oleng dan ambruk. Pak Karpus tak apa-apa, tapi kakak iparnya yang dibonceng, Pak Sardjo, tergencet kakinya sampai cacat hingga kini.

Seperti pernah kuceritakan pada tulisan sebelumnya (Lebaran yang selalu kunanti – Pen), aku punya kenangan manis bersama almarhum ayahku di sini. Sepulang “balalan” di Ketitang, tiba di Ngangkruk Ketip sekitar pukul 15.30. Bapak pun turun dari sepedanya, lalu ambil wudlu dengan air sawah. Selanjutnya, dengan bersajadah baju beskapnya, bapak salat Ashar di tanggul jalanan menuju Sruwoh. Bapakku memang selalu berusaha salat tepat waktu.

Tapi Ngangkruk Ketip sekarang sudah reja (rame). Apa lagi dalam suana Lebaran saat itu, hampir tiap menit kendaraan melintas dari arah timur barat dan utara selatan, baik itu berupa mobil maupun sepeda motor yang rata-rata berplat B. Di pojok tenggara perempatan kini juga ada warung, bahkan pemulung pun berani bikin “gudang” botol bir di arah barat laut perempatan. Pendek kata, Ngangkruk Ketip kini tak lagi menyeramkan bagaikan cerita kidalang: jalma mara jalma mati.

Kami bertiga terus melaju ke arah utara. Tiba di Desa Pundensari, kami melihat mesjid “Nur Rahman”, sehingga kami pun menunaikan salat dhuhur tepat pukul 12.10. Kampung ini adalah kampung mertua Pudjimin temanku, saat dulu bersama-sama menjadi siswa PGAN Yogyakarta tahun 1967-1969. Kini dia menjadi Penilik Pendidikan Agama Islam (PPAI) di Purworejo. “Mertuwaku tresnane tenanan karo aku, wong aku isa ngladeni karemane,” kata Pudjimin sambil terkekeh, saat ketemu dalam reuni di Bantul Januari 2010.

Perjalanan dilanjutkan. Sepanjang jalan kami selalu “diganggu” dering telepon dari adik-adik dan para sepupuku. Mereka selalu memantau, karena mencemaskan keselamatan kami yang “tuwa-tuwa padha golek mala”. Maklum, kami bukan lagi muda. Saya sendiri 60 tahun, Dik Madji 55 tahun dan Dik Caryo 50 tahun. Kata para penelpon itu, kalau sudah tidak kuat menyerah saja, nanti segera dijemput pakai mobil. Tapi kami bertahan, namanya juga sedang “neter kasudibyan” menurut istilah pelawak Basiyo.

Bukan saja keluarga sendiri, sejumlah orang di perjalanan juga sempat “jatuh iba” pada kami bertiga. Di bulak antara Desa Kesugihan – Sendangsari misalnya, ada yang bertanya: “Kok mlampah mawon, badhe tindak pundi?” Lalu saat bertanya rute selanjutnya karena dik Madji sudah lupa, seorang penjual bakso mengatakan, “Mbok nitih angkot mawon, Purworejo taksih tebih tur bentere sanget.” Bahkan di Desa Tegalboto, saat kami berhenti di warung beli Akua botolan, tamu pemilik warung malah “nglulu” bernada humor. “Saene mlampah ngeten niki pas pasa wingi nika…,” ujar Mas Pardi yang ternyata pegawai P2B di Pemda DKI Jakarta, rekan tetanggaku di Ibukota.

Demikianlah, semakin ke utara panas matahari semakin menyengat. Tapi karena angin kencang di tengah bulak selalu menemani kami, menjadi tak begitu terasa. Desa-desa di depan nampak seperti punthuk kecil nan jauh, mengingatkan pada kisah pengembaraan Sang Pradjaka pada novel bersambung di majalah “Jaya Baya” (Surabaya) tahun 1957-1990. Tapi dibanding kisah itu, atau juga kisah “Tentara Hijrah” pada Februari 1948, perjalanan kami belumlah apa-apanya. Seperti diceritakan Kang Pawiro Mono tetanggaku di kampung, saat ikut Tentara Hijrah 69 tahun lalu, dia jalan kaki dari Cilamaya (Karawang) hingga Purworejo selama 21 hari.

Jalan kaki demi Bung Karno
Pukul 13.15 perjalanan kami tiba di lintasan KA Sendang. Setelah istirahat sejenak minum es campur seharga Rp 2.000,- permangkok, kami bertiga melanjutkan perjalanan. Makin ke utara jalanan bertambah jelek. Sepanjang pengamatanku, setelah Desa Brondongrejo, ngalor terus dari Desa Wangunrejo – Sawioro – Surorejo – Tegalboto hingga Tegalrejo; jalannya berantakan, aspalnya terkelupas di sana sini. Ditambah saatnya musim kemarau, manakala mobil atau truk melintas, debu pun beterbangan.

Di luar perhitungan saya, tapi sudah diperhitungkan oleh Dik Madji, sepanjang perjalanan dari Sruwoh hingga Tegalrejo, tak ditemukan warung penjual nasi. Begitu juga bakul “Dawet Ireng” yang sedang ngetrend di Kab. Purworejo. Walhasil untuk mengisi “bahan bakar”, siang itu kami terpaksa hanya jajan bakso di sebuah gardu pos ronda daerah Tegalrejo. Untuk pembasah kerongkongan, kami hanya mengandalkan botol Aqua – Mizon yang kami tenteng sepanjang perjalanan.

Kata para penunjuk jalan, jika sudah ketemu “Patung Kuda” (monumen Jendral Urip Sumohardjo) di Mboro Kulon, perjalanan sudah dekat. Dan memang begitulah, tepat pukul 15.00 tampaklah di depan kami patung kuda berwarna kuning keemasan itu. Melintasi ring road, kami sudah masuk Desa Pakisrejo, dan tak lama kemudian tibalah di pertigaan belakang pasar Pangenrejo tepat pukul 15.45. Dik Nur adikku telah menunggu kami dengan mobilnya, di warung lesehan samping RS PKU Pangen. Kami makan bersama, mungkin “merayakan” keberhasilan sekaligus kekonyolan kami bertiga.


Tak ada warung makan sepanjang jalan, sehingga untuk mengisi “bahan bakar” terpaksa jajan bakso. (Foto: Gts)

Meskipun kaki terasa ngethok-ngethok, bahkan telapak kaki terasa pedas, kami sangat berbahagia di sore itu. Sekitar 40 tahun lalu, saat Dik Madji duduk di bangku STN-STM Kedungkebo tahun 1969, beberapa kali pulang ke Ngombol dengan jalan kaki seperti ini. Bedanya, kala itu dia jalan kaki karena tak punya uang, kini hanya sekedar uji nyali. “Waktu itu, didera perut lapar dan kehausan, mau pingsan rasanya. Tapi saya terus bertahan sampai rumah,” kenang Dik Madji.

Bersama Dik Toko kakaknya, Dik Madji juga pernah melakukan perjalanan yang sama. Bahkan putra Bu Djaptu pemilik rumah kosnya di Kauman, Arinto dan Ariyo Tumoro (kini Redaktur Pelaksana majalah “Panjebar Semangat” di Surabaya), juga mau ikut bercapek-capek jalan kaki Pangen – Ngombol sejauh 13 Km itu. Dik Tutik, kakak Dik Madji yang lain, juga pernah jalan kaki bersama Sri Lestari temannya di SKP (Sekolah Kepandaian Putri), karena tak punya uang. Bedanya, mereka mengambil rute jalan raya Purworejo – Purwodadi via Pendowo.

Mas Syamsudin yang kini di Kendari (Sulawesi Tenggara) dan Lik Paham mantan Carik Pulutan, saat sekolah di Purworejo juga pernah berjalan kaki dari Pulutan hingga Purworejo atau sebaliknya. Jauh sebelumnya, Tjokrosutikno ayahku bersama Siwa Donomihardjo ayah Mas Syamsudin dan Pak Siswosubroto ayah Dik Madji, di tahun 1947 juga pernah jalan kaki Ngombol – Purworejo PP, karena ingin melihat Bung Karno pidato di Purworejo. Pulangnya hari sudah menjelang malam. Keasyikan membicarakan Bung Karno yang berhasil dilihatnya di kota Purworejo, saat tiba di pertigaan Pendowo bablas saja, bukannya berbelok arah Purwodadi. Baru setelah melihat Buh Ngandul di depan mata, mereka sadar telah salah jalan. Terpaksa ayahku Dkk pulang potong kompas lewat Mbakungan. (Gunarso TS)

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:Gunarso TS


46 Responses to “Jalan kaki “napak tilas” Ngombol – Purworejo”

  1. pungky says:

    bpk sy alm lurah ngombol 2001-2005,pak sutrisno

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net