Bapak Ibu Guru ku tercinta

  9 - Sep - 2011 -   massito -   5 Comments »

Bapak Dan Ibu Guruku!!!
Tahun 60an aku sekolah dasar, ketika itu namanya Sekolah Rakyat disingkat SR dan sekarang namanya sekolah Dasar disingkat SD. Pada hakekatnya tidak ada perbedaan karena keduanya sebutan untuk sekolah Dasar. Jaman aku sekolah dulu, sangat jauh berbeda dengan sekolah jaman sekarang. Keteraturan mulai masuk belajar sampai waktu selesai belajar tidak begitu aku pahami. Setiap Guru memegang satu kelas, dan mengajari semua mata pelajaran, makanya masing2 Guru dan masing2 murid sangat mengenal guru kelasnya.
Beberapa nama Bapak Ibu guruku waktu di SR masih banyak aku ingat, al:
1. Ibu Suharti dari Wingko Tinumpuk ngajar aku mulai waktu aku dikelas lima sampai kelas enam SR, bahwa waktu aku meneruskan di SMP Marhaen WingkoHarjo masih diajar Bu Harti, dengar2 sekarang tinggal di Ketiwijayan. Waktu di SMP mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
2. Bapak Turut Eko Wanto (Alm) dari Wingko Harjo, beliau juga mengajar aku dari waktu di SR sampai waktu meneruskan di SMP Marhaen Wingkoharjo, mata pelajaran yang diajarkan adalah Aljabar dan olahraga.
3. Bapak Wir Jubri (Alm)dari wingko SIgromulyo, mengajar aku di SR kelas empat, mata pelajaran yang aku sukai adalah pelajar sejarah, Baliau rupanya hafal sekali, dan menceritakannya sangat menarik, sehingga pelajaran sejarah yang semula merupakan pelajaran hapalan, menjadi pelajaran yuag sangat menarik.
4. Bapak Sukamto dari Wingko Tinumpuk, mengajar aku waktu di SR, beliautidak banyak yang terkesan.
5. Bapak Kamirin Budi Harsono, Guru SR, tetapi tidak mengajar aku, dan aku tidak terlalu ingat wajahnya.
6. Ibu Kentri dari Dungkamal, tetapi pernah tingaal di Sigromulyo, mengajar aku waktu di SR kelas tiga, tidak lama aku diajar beliau.
7. Ibu Imamah dari Wingko tinumpuk, beliau jadi kepala sekolah cukup lama di sekolahku, beliau selain kenal dengan aku juga kenal dengan mas-masku.
8. Bapak Marji SUbadi, dari WIngko Tinumpuk, yang paling mengesankan, beliau sering mengajar panembromo, dari sering mengieim anak didiknya mengikuti perlombaan di Purworejo.
9. Bapak Bejo Hartono dari Wingko Tinumpuk, dulu ngajar aku waktu di kelas empat SR, tidak lama.
10. Bu Katidjah, dari Wingko Sigromulyo saudaranya Pak Wir jubri, beluai ngajar aku tidak lama waktu dikelas enam.
Masih banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu, yang jelas beliau sangat berperan dalam membentuk karakter anak didiknya sehingga banyak murid2 dari SR Wingkomulyo yang kelas bisa hidup lebih baik, sehingga jasa-jasa beliau tidak mungkin dilupakan.

Bapak dan Ibu Guruku mengajarkan pendidikan namanya budi pekerti, dimana setiap murid dituntut berlaku sopan dan santun kepada sesame atau kepada yang lebih tua. Bahasa yang diajarkan pun adalah pelajaran bahasa jawa yang tinggi sering disebut kromo inggil. Waktu itu pelajaran agama bahkan diajarkan waktu aku sudah dikelas empat, tetapi manfaat budi perkerti sungguh dapat dirasakan, bahkan sampai sekarang sekalipun.

Bila dibandingkan dengan anakanak SD jaman sekarang pasti sangat jauh berbeda, dimana sekarang tidak adak mata pelajaran Budi pekerti, sehingga anak2 sekarang kurang bisa menghargai yang lebih tua. Contohnya bila ketemu Bu Guru atau Bapak Guru dijalan dan kebetulan kita sedang naik sepeda,maka aku cepat2 turun dan menghormati Gurunya, sambil menanyakan mau kemana. Bila Pak guru atau Ibu Guru datang di sekolah dan membawa sepeda maka banyak murid2 yang berebut untuk memarkirkan sepedanya.
Maka pantas lah jasa2 Bapat ibu guru untuk selalu dikenang. Terima kasih Bapak Ibu Guru.

Category: blog, Tags: | posted by:massito


5 Responses to “Bapak Ibu Guru ku tercinta”

  1. Gunarso Ts says:

    Benar sekali mas Massito. Anak SD sekarang sepertinya tak diajari lagi pelajaran Bahasa Jawa/Krama Inggil di sekolah, karena gurunya juga tidak menguasai. Maka saya sungguh sedih, anak-anak balita di Solo, Yogya, Purworejo, di rumah sehari-hari ngomong Bahasa Indonesia. Tapi ini yang sangat disukai oleh alm Prof. Anton Mulyono dadi UI, yang pernah mengatakan bahwa matinya Bahasa Daerah (Sunda/Jawa/Minang) tak perlu diratapi.
    Tapi lihat sekarang, yang di Purworejo sendiri sekarang sudah banyak yang tak mengerti unggah-ungguh Bahasa Jawa. Saya pernah naik dokar dari Jenar ke Ngombol, sambil megang lis kuda kusirnya bilang: “Kala wingi jaran kula nembe seda….!” Di Pendowo, seorang penumpang bis saya tanya kok sendirian, jawabnya: “Enggih, garwa kula mboten tumut!” Bahka di Magelang, seorang tukang sate bercerita soal kemacetan mudik mengatakan, “Wingi lancar, wong kula miyos Wleri.” Bagaimana ini?
    Sikap murid pada gurunya pada angkatan kita memang seperti itu. Saya ingat benar, saat duduk di kelas VI SR Margosari. Begitu Pak Ismadi (tinggal di Singkil Kulon) datang dengan sepeda Simplex-nya, murid berebut mengambil alih sepedanya untuk diparkirkan. Murid lain dengan “gupuh” membawakan tas kulitnya hingga di depan meja kerjanya. Anak-anak sekarang, masihkan demikian? (gts)

    • mas sito says:

      Pak Gun, walau nama cuma toto kromo tetapi kalau tidak diajarkan secara terus menerus ternyata punah juga buktinya jarane sodo, kolo bade dahar rumiyin, dsb. bagaimanapun sangat penting pelajaran Budi pekerti dihidupkan kembali. mudah-mudahan masih ada yang terbuka pikirannya untuk hal ini. Suwun Pak Gun.

  2. Rochid Supangat says:

    Masyaallah, jaman sudah banyak berubah , jaman kita SR dulu banyak bergaul dengan alam yang masih bersih dan asri ,klo ud pelajaran sejarah dimulai sukacita, gembira mewarnai wajah wajah polos nan ceria serta membuahkan banyak inspirasi yang terbawa sebagai bekal hingga kini . Sambil duduk manis bak mendengarkan cerita layaknya, saat Pak Guru R.Soenaryo ( guru SR.10/Ngeposan PWR )menerangkan . Trims Mas Sito sejenak telah membawa kita bernostalgia 60 tahun yl .

  3. mbah suro says:

    Begitu mendengar nama Pak Wir disebut saya jadi teringat “kekejaman” beliau. Jaman KS nya Pak Wir, murid-murid kelas VI setelah ujian selesai diwajibkan untuk kerja bhakti “nggepuki” batu bata dalam rangka pembuatan semen merah untuk pembangunan ruang kelas baru, sekarang baru terpikir mengapa pemerintah saat itu tidak menganggarkan biaya pembangunan penambahan ruang kelas? sampai murid-murid harus “rodi” bikin semen merah.

    Satu hal yang sangat aneh dan “kejam”, saat perpisahan kelas enam, murid-murid kelas enam yang perempuan disuruh nginang (makan sirih) dan nyusur pakai tembakau, sedangkan anak laki-laki disuruh merokok klembak menyan sampai mblenger. Karena tidak biasa nginang dan merokok, banyak murid-murid yang muntah-muntah, pusing dan gumoh.

    Saya nggak tau apa maksudnya Pak KS saat itu, mungkin kalau sekarang ada guru/ KS yang menyuruh seperti ini sudah pasti didemo dan diperkarakan.

  4. bambang sudiyono, sh says:

    Tahun 1959 aku tamat SR Wingko, aku cah Ngentak. Konco-konco ra kelingan embuh nang endi. Guru sing paling kelingan yo mung Pak Mardji, Ibu Imamah, nek liyane ra kelingan. Aku saiki Pensiun TNI pangkat terakhir Kolonel, nduwe gelar Strata-1 Hukum.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net