Puasa dan Main Long Bumbung

  1 - Aug - 2011 -   meds -   14 Comments »

DALAM usia balita, sama sekali aku belum mengetahui makna dan hakikat puasa itu. Yang kutahu, simbok memasak di dapur menjadi lebih istimewa. Lalu, menjelang magrib bapak baru makan di meja setelah terdengar pentongan ditabuh dung dung…. dari langgar Siwa Dono. Inilah kenangan pertama saat puasa itu; bapak makan di kenap (meja kecil), sementara aku yang nimbrung ikut makan disuapi simbok dengan lauk krecek (kerupuk kulit) bikinan simbok sendiri. Kerupuk kulit itu begitu keras, digigit sini lari ke sana, di gigit sana lari ke sini. Ya, saking kerasnya, krecek itu sempat jithungan (petak umpet) dalam mulutku!

ramadhan main long bumbung
Main long bumbung, mercon ala kampung yang murah meriah.(Foto: Danu Prabowo)

Bapak selalu berbuka setelah salat Magrib. Ketika pentong ditabuh sekadar membatalkan puasa saja, yakni minum teh atau makan kolak. Tapi nanti ketika bapak makan dan aku suka ngrusuhi minta ini itu, simbok atau mbah Juwog lah yang melayaniku. Mereka selalu menjaga jangan sampai bapak terganggu ketika bersantap. Sebab sebagaimana pernah kualami, aku langsung ditempang (ditendang) ketika mencoba mengganggu bapak makan.

Meski hukumnya wajib, tapi aku baru kuat dan mampu menjalani rukun Islam ketiga tersebut setelah umur 11 tahun atau kelas IV Sekolah Rakyat. Sebelumnya, aku hanya berpura-pura puasa. Tapi bila orang tua tak melihatnya, diam-diam aku mengambil nasi di babragan (almari bambu) dan minum air sumur. Maka orang kampungku termasuk bapak sering memplesetkan gaya puasaku sebagai: pasa, alias apa-apa kersa (apa-apa mau).

Perut anak kampung rasanya lapar melulu, ingin makan selalu. Dan bulan puasa inilah surga buatku, sebab banyak makanan di rumah dengan menu istimewa. Di setiap Ramadan, pukul 15.00 sore mulai terjadi kesibukan di dapur. Selain masak berlauk daging kambing atau sapi, juga bikin takjilan berbahan singkong, dari timus, onde-onde, lemet dan kadang-kadang kurma. Lalu kolak sebagai minuman penyegar biasa dibuat dari kolang-kaling, atau singkong yang di kampung-ku disebut: kluwa.

Maunya orangtuaku, ketika anak-anak belum puasa, saat berbuka atau makan sahur tak perlu nimbrung. Tapi aku yang selalu lapar, tak pernah peduli. Saat berbuka ikut makan, nanti makan sahur tiba juga ikut makan lagi. Meski lauknya hanya oseng-oseng buncis campur udang dan pete, tapi pedes-pedes nikmat. “Ben, dadi uler jedhung (biar jadi ulat jedung),” kata ayahku yang juga diamini Mbak Yanti. Kata mereka, uler jedung itu kerjanya makan melulu, pagi siang dan malam.

Masang di meja
Waktu makan sahur di rumahku, biasanya sekitar pukul 01.00. Sebab bapak sepulang dari tadarusan sekitar pukul 23.00 pasti lalu membangunkan simbok dan mBak Yanti kakakku untuk masak. Dua jam kemudian, meski aku tidak puasa, ikut bangun makan sahur. Tapi beberapa kali aku “kebobolan” juga, saat mereka bersantap aku masih terlelap dibuai mimpi. Tinggalah paginya aku menemukan nasi dan sayur dingin di babragan.

Tetapi aku cukup banyak akal. Menjelang sahur, aku selalu tidur di risban tempat di mana keluargaku tengah malam nanti makan sahur bersama. Karena risban itu akan dibuat duduk, bisa dipastikan aku dibangunkan, dan itu berarti aku bisa ikut makan sahur. Namun demikian beberapa kali lolos juga. Soalnya risban yang aku buat tidur sengaja tak mereka duduki, sehingga aku tak tahu bahwa saat makan sahur telah tiba.

Aku lalu memutar otak bagaimana bisa ikut sahur selalu. Jalan satu-satunya adalah, tidur di meja yang akan dipakai menggelar makanan sahur. Dan kali ini tak pernah lolos lagi. Karena meja itu akan mereka gunakan, mau tak mau harus membangunkan aku, dan itu berarti aku bisa ikut makan sahur meski sambil diomeli. Kembali kalimat menakut-nakuti akan jadi uler jedung, selalu dilontarkan Mbak Yanti, tapi aku tak peduli dan makan terus sampai kenyang.

Pada kelas IV SR aku baru mulai ikut puasa dalam arti sebenarnya. Artinya, nyolong-nyolong makan dan minum di siang hari, sudah tak kulakukan lagi. Tapi pada hari-hari awalnya, itu sungguh merupakan siksaan berat. Baru pukul 12.00 siang, perutku sudah keroncongan mendendangkan stambul dua cacing kelaparan. Aku suka tergoda untuk medhot (berhenti puasa), tapi ayah dan simbok termasuk mbak Yanti selalu melarangnya. “Sabar, sedhelok meneh wis dheng,” kata Mbak Yanti menghiburku.

Tapi nyatanya, siang hari begitu panjang, matahari seakan malas benar bergeser ke arah barat. Soal lapar masih bisa ditawar, tapi rasa haus sungguh menyiksa dinding-dinding tenggorokanku. Untuk mengatasinya, aku mandi melulu dengan mengguyur leher dan tenggorokan berlama-lama. Rasa hausku berkurang dan tubuhpun menjadi segar.

Ketika Mbak Yanti sudah mulai sibuk di dapur sekitar pukul 15.00, aku mulai terhibur karena beberapa jam lagi waktu buka tiba. Sebelum ada radio, kuisi acara ngabuburit kata orang Sunda atau golek sore bagi orang Jawa, dengan main ke pinggir sawah. Tapi setelah ada radio, aku lebih banyak mendengarkan siaran keagamaan. Dari RRI Surabaya santapan rokhaninya KH. Isngadi BA, dari RRI Yogyakarta KH AR Fahrudin atau KH. Mukhlas Abror. Dan di sinilah lucunya aku, meski daerah tinggalku 60 Km sebelah barat daya Yogyakarta, tapi untuk berbuka aku sering mengacu adzan magrib RRI Yogyakarta.

Selama bulan puasa suara adzan magrib memang terasa lebih indah dan selalu dirindukan. Di kampungku, aku juga selalu menunggu pentongan ditabuh dari rumah Siwa Dono. Paling kacau adalah, ketika menjelang berbuka bersamaan dengan jatuhnya hujan lebat. Praktis suara pentongan yang ditabuh Siwa Dono tak lagi terdengar, dan kami pun makan dengan keraguan dan sekedar perkiraan. Maklum, di kala itu keluargaku tak memiliki jam. Satu-satunya orang di kampungku yang memiliki jam beker hanyalah Siwa Dono seorang.

Tak kurang lucunya adalah, dari pagi aku suka mengumpulkan berbagai makanan, dengan alasan kanggo mengko sore (untuk nanti sore). Dari buah-buahan hasil hutan, mangga jatuhan, sampai makanan pemberian orang. Padahal begitu waktu buka tiba, karena sudah kekenyangan, makanan simpanan sedari pagi tersebut malah sering tak tersentuh.

Tarawih cari jaburan
Tak lama selesai berbuka, Tunggono dan Mulyono temanku sudah panggil-panggil namaku, ngampiri untuk pergi tarawih bersama. Memang, ikut salat tarawih juga hiburan menarik selama Ramadan. Namun bagi anak-anak kecil seusiaku, nilai ibadah bukanlah target. Yang dicari di rumah kaum Amat Soderi adalah jaburan yang dibagikan ketika salat tarawih 23 rakaat itu usai.

tarawih
Di sama kecilku, tempat tarawihku belum seperti ini. Hanya di ruang lebih sederhana, di mbale rumah Pak Kaum Amat Soderi. (Foto: Internet)

Di tahun-tahun 1960-an, jaburannya tak pernah berubah; jika bukan mbilworok (kambil tuwa dikerok), juga kolang-kaling yang dipotong kecil-kecil, lalu dicampur air gula Jawa dalam kuwali besar atau pengaron, itupun harus berebut. Banyak yang diminum di tempat, ada pula yang dibawa pulang untuk adik tercinta. Maka ketika aku membawa pulang secangkir jaburan itu, kakakku sering meledeknya. “Hiii, pengarone kuwe tilas nggo ngekum katoke Ganung,” kata mbak Yanti menakut-nakuti, tapi aku tak menggubris.

Di masa kecilku, anak-anak yang tarawih tak ikut salat, tapi sekadar mengamini ketika Mbah Amat Sadali membaca doa, atau berteriak lantang: amiiiiin, ketika imam selesai membaca surat Alfatekah. Selain itu, ketika salat dua rakaat selesai dan disusul kode Pak Kaum, kami anak-anak ramai-ramai berteriak lantang: soli ‘ala Muhammad, soli ‘ala Muhammad, rosu-lullaaaah…..!

Sebelum salat Isya dimulai dan disusul tarawih 23 rakaat, diisi dengan nyanyi puji-pujian, semisal: utawi rukune Islam, yaiku ana limang perkara, kang kapisan maca sahadat…, dst. Kali lain diisi lagu-lagu Islami seperti: wohing dikir isine pentil puji-pujian ya Allah, amin-amin ya Allah robil alamin…., dst. Kami mencoba menyimak lagu-lagu itu, meski seperti Tunggono dan Mul lebih banyak guyon sendiri.

Ketika salat tarawih selesai, kami siap antri dan saling dorong untuk berebut jaburan yang disiapkan Lik Konah istri Pak Kaum di rumah belakang. Tak lama kemudian kami masuk, antri menerima jaburan yang diciduk Tumlek dan dimasukkan ke dalam gelas atau cangkir bawaan masing-masing anak. Tapi bagi yang nakal seperti Mul dan Tunggono, bila jaburannya berupa kolang-kaling langsung saja tangannya masuk dalam pengaron, nggogohi (ngobok) mencari kolang-kaling itu. Meski yang lain protes atas kejorokannya, mereka tetap tidak peduli.

Pernah juga aku diajak Ardoyo ikut tarawih di Desa Walikoro, yang kaumnya adalah Pak Donowirangi, ayah Senen temanku. Tarawih di sini agak aneh. Pak Kaum salat tarawih sendirian dalam kamar, sedangkan anak-anak duduk ramai-ramai di ruang depan. Jadi anak-anak tidak melihat gerakan salat Pak Kaum, kecuali mengucap “amin” manakala bacaan surat Alfatekah selesai. Cara pujian-pujian di Walikoro juga lain dari yang lain, cenderung dipleset-plesetkan oleh anak-anak. Kata kanthi tekad diubah menjadi mbokne Tekad, karena di masa itu (1960-an) memang ada anak Walikoro yang bernama Tekad (belakangan bekerja di PJKA, Jakarta). Dan inilah paling menarik. Ketika salat tarawih usai, anak-anak memperoleh jaburan berupa dawet. Seperti di kampungku, mereka juga berebut. Aku dan Ardoyo yang statusnya sebagai “tamu” sangat tahu diri, tidak ikut nimbrung. Tapi Mbok Kaum yang tahu bahwa aku dan Ardoyo adalah putra santri santri teman kenduri suaminya, kami memperoleh dawet dalam mangkok khusus.


Di lincak atau risban bambu tutul semacam inilah saya dulu selalu tidur nunggu waktu sahur. (Foto: Internet)

Mercon barang mewah
Di kampungku kala itu, jumlah santrinya terlalu sedikit. Seingatku hanya 5 orang, yakni: Mbah Amat Sadali, Siwa Donomiharjo, kaum Amad Soderi, Tjokrosutikno ayahku, dan Kromosentiko ayah Cindil. Dari jumlah itu yang jadi imam tarawih biasanya, Mbah Amat Sadali, Siwa Dono, atau Kaum Amat Soderi sendiri. Bila ayah Mas Syamsudin yang jadi imam, biasanya lebih lama, karena gerakan salatnya pelan. Paling menyenangkan bila imamnya Pak Kaum Amat Soderi, karena bacaan surat-suratnya pendek, berarti kami lebih cepat menikmati jaburan.

Secara priodik ada juga imam “tamu” mengisi tarawih. Selain Kiai Mugeni dari Kebumen, ada juga Mas Mashuri, pacarnya Mbak Sun, putri siwa Pawiroinangun. Bila Mas Nasori (begitu aku menyebut) hadir, suasana menjelang salat tarawih menjadi lebih berwarna. Sebab mahasiswa IAIN Yogyakarta tersebut selain pandai bergaul, juga enak diajak diskusi soal agama oleh para santri-santri di kampungku. Mbah Amat dan Siwa Dono suka manggut-manggut mendengarkan penjelasan santri muda intelek dari Kedungbanteng, Kec. Sedayu, Yogyakarta itu.

Selama Ramadan sekolah libur selama 40 hari. Karenanya kami anak kampung makin kenyang saja bermain. Pendek kata kami bersenang-senang, bebas belajar hingga hari sekolah tiba. Sehari-hari hanya diisi dengan bermain dan bermain.

Tradisi mainan di bulan puasa adalah membakar mercon dan membunyikan long. Tapi mercon bagi kami anak-anak kampung adalah sebuah kemewahan, karena harus mengeluarkan uang untuk memilikinya. Maka selama menjalani masa kanak-kanakku, saya dan teman-teman tak pernah sekalipun membakar mercon. Kalaupun pernah, paling-paling yang dinamakan bakar kembang api. Kala itu pemberian dari Lik Misdi dan aku bersama Dik Tutik dan Toko memainkannya di malam hari, di omah wetan. Kami lemparkan kembang api itu ke dedaunan pohon pisang, preketek….preketek….byarrrrr byarrrrr, ah indah sekali!

Di tahun 1960-an, main atau membakar mercon sudah menjadi larangan. Saya ingat betul, yang mengatakan itu Bayan Siwa Soma Djanan ayah Mas Narto, sambil keliling desa mengawasi anak-anak bermain long. Bahasanya kala itu: ndak diladekke (baca: dilaporkan polisi). Di masa itu, anak kecil mendengar kata tersebut takutnya bukan main. Jangankan diladekke, baru melihat polisi lewat saja sudah ketakutan luar biasa.

Koran Kedaulatan Rakyat edisi 12 Februari 1963 memuat tentang bahaya main long bumbung. Sejumlah anak Sumatera Timur tewas gara-gara ledakan long bumbung. Padahal kata ayahku, di masa kecilnya bermain atau membakar mercon belum dilarang, bahkan menjadi lambang status bagi anak-anak tahun 1925-an. Semakin banyak sampah bakaran mercon di halaman rumah, makin bergengsi pemilik rumah. Karenanya, ayahku yang juga bukan anak keluarga berada, yang dilakukan hanyalah mengumpulkan serpihan kertas mercon itu lalu disebar di halaman rumahnya.

Long bumbung Lik Pawiro
Giliran generasiku, juga anak-anak desa yang tak punya duit. Hanya dengan long bumbung lah menghibur diri selama bulan puasa. Tapi meskipun hanya terbuat dari bambu yang dilobangi dan disulut dengan minyak tanah, asalkan ukurannya pas suaranya juga menggelegar bagaikan sang halilintar pada mangsa kesanga (baca: musim hujan lebat).

Membunyikan long dengan suara menggelegar, aku harus mengacungkan jempol kepada Lik Pawiro Mono ayah Kuncung. Kala itu kedua anaknya yang masih kecil, si Kuncung dan Parjiah, memang juga larut dalam permainan anak-anak lelaki. Sebagai ayah yang sayang anak, dia tak perlu merasa malu sudah tua masih ikut dolanan long bumbung di pagi dan sore hari selama bulan puasa. Mengambil tempat di sebelah barat rumahnya, anak-anak kecil berjibun menonton sambil menutup kedua telinganya.

Aku sangat menginginkan long bumbung seperti itu, tapi sayang tak memiliki bambu sebesar punya Lik Pawiro Mono. Maka bersama Tunggono dan Marno, aku harus puas main long bambu ukuran kecil, itupun bekas tiang penyangga dapur. Begitu inginnya aku memiliki long besar sebagaimana Lik Pawiro punya, aku nekad menebang sendiri pohon bambu wulung yang tumbuh di tenggara rumah Siwa Djikem. Kata simbok, itu rumpun bambu milik keluarga. Tetapi ternyata aku salah cara menebangnya, sehingga pohon bambu tersebut terbelah dua sebelum tumbang. Makin sial lagi, aku ternyata salah tebang bambu milik Siwa Djikem. Kulihat kemudian emboknya Kang Belal itu menangis, meratapi pohon bambunya yang telah tumbang. Menyesal sekali bila aku ingat akan hal itu.

Bila target bermain long ingin memperoleh suara keras, bisa dibuat juga dari bahan kimia yang dinamakan karbid. Tetapi aku bersama Tunggono dan Marno belum pernah mencobanya. Sebab diperlukan tehnik yang tinggi, di samping uang tentunya. Kata orang yang pernah membuatnya, karbid itu dipendhem (ditanam) dalam tanah, lalu diberi lobang sedikit, kemudian disulut api, maka bleng…. suaranya macam Bom Bali 12 Oktober 2002 itu. Jika mau long yang paling aman dan murah meriah, bisa dibuat juga dari klaras daun pisang. Caranya mudah sekali. Daun pisang kering itu cukup dilipat sedemikian rupa, lalu dilobangi bagian atasnya. Selanjutnya ditiup hingga menggelembung secara penuh, kemudian ditaruh di tanah dan dipukul pakai potongan bata merah, ….dorrrr! Itulah ajaran Mulyono kawanku tentang bikin “bom”. (Gunarso TS)

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:meds


14 Responses to “Puasa dan Main Long Bumbung”

  1. meds says:

    Pengalaman yang lucu ya Pak Gun.

    Kalau di tempat saya long itu pakai karbit (CaC2: kalsium karbida). Yang lebih dahsyat lagi yang dinamakan long pendem, dengan cara membuat lubang seperti tungku (keren), di atasnya dibuat lubang, karbit dimasukkan air dalam tempat kecil (gelek), di masukkan dari lubang depan. tunggu beberapa saat, nyalakan dari lubang atas. dan Doooor.

    Kalau komposisi pas akan menghasilkan suara yang menggelegar, sampai kalau mau “nyumet” harus sambil menutup telinga.

  2. Anston says:

    Long bumbung kalo di bruno namanya JEBLUGAN, karena suaranya seperti sesuatu yang njeblug / meledak

  3. Diajeng says:

    Wah long bumbung asyik tenan… ben no aku cah wedhok aku nate lho nduweni lan dolanan long bumbung, pokoke weteng kencot ora kroso yen wis dolanan long bumbung, dadi pengen dolanan maning

  4. maztoko says:

    sayapun jadi ikut teringat masa bocah dulu, asyik .seolah kesibukan penuh kompetisi,makin besar long bambunya makin bangga.jeadar-jedhor menghabiskan waktu buar gak terasa jenuh. Cepat sore lupa perut lapar.kendati raut muka sampai kinclong-2 berkilat kena minyak juka meniup lobang terlalu keras…..whuss..whiaa tiga kali tiup trus disulut……” DDORRRR …!!

  5. maztoko says:

    o, ya. selain komentar . ya Mas Gun. ini saya numpang pesan dari mBah SIS untuk mengetikkan tembang Dhandhanggula yang mana tembang ini akan lebih afdol di tembangkan pada acara sungkeman dihari raya lebaran

    Bapak ibu kang luhuring budi / Ingkang angukir jiwa lan raga / Kang agung pangurbanane / Paring pitutur luhur / Rina wengi ingkang kaesthi / Mrih tahayuning putrs/ /Lulus kang ginayuh / Sadaya ribed-rubeda / Linambaran kanthi sabar ing penggalih / Tuhu pantes sinembah /// Bapak ibu kang kula bekteni / Putra wayah nyuwun pangaksama / Sadaya kekilapane / Kanthi sungkemanipun / Ngaturaken Sugeng Riyadi / Mugi Alloh ta’ala / Ngebur dosanipun / Pikantuk pangaksama / Bapak ibu putra wayah buyut sami / Nugi tansah widada /// /// Kadya sinendhal rasanung galih / Panyungkeme putra wayah samya / Tumetes deres waspane / Tan kwawa jronung kalbu / Ngondhok-ondhok rasaning ati / Alon ngandikanira / Euh putraku / Sun tampa panyungkemira / Muga-muga pikantuk berkahe Widhi / Mulya ing gesangira /// Pawelingku aja nganti lali / Anggonira mbangun bale wisma / Di bisa momong klawargane / Tindakna guyub rukun / Tansah eling wajib lan ngerti / Mring sedulurira / Aja gampang mutung / Yen ana ribed-rubeda / Tinampaa kanthi sabaring penggalih / Ywa padha cecongkrahan / ***
    Mas Gun, mohom di koreksi juka ada yang salah ketuk salah ukara, Matur nuwun, Komentar di tunggu, Wassalam.

    • Gunarso Ts says:

      Terima kasih Dik Toko, tembang Dandanggula itu setelah saya perbaiki, hasilnya seperti ini:

      Bapak ibu kang luhuring budi,
      Ingkang angukir jiwa lan raga,
      Kang agung pangurbanane,
      Paring pitutur luhur,
      Rina wengi ingkang kaesthi,
      Mrih rahayuning putra,
      Lulus kang ginayuh,
      Sadaya ribed-rubeda,
      Linambaran kanthi sabar ing penggalih,
      Tuhu pantes sinembah.

      Bapak ibu kang kula bekteni,
      Putra wayah nyuwun pangaksama,
      Sadaya kekilapane,
      Kanthi sungkemanipun,
      Ngaturaken Sugeng Riyadi,
      Mugi Alloh ta’ala,
      Nglebur dosanipun,
      Pikantuk pangaksama,
      Bapak ibu putra wayah buyut sami,
      Mugi tansah widada.

      Kadya sinendhal rasaning galih,
      Panyungkeme putra wayah samya,
      Tumetes deres waspane,
      Tan kwawa jroning kalbu,
      Ngondhok-ondhok rasaning ati,
      Alon ngandikanira,
      Dhuh dhuh putraningsun,
      Sun tampa panyungkemira,
      Muga-muga pikantuk berkahe Widhi.
      Mulya ing gesangira.

      Pawelingku aja nganti lali,
      Anggonira mbangun bale wisma,
      Dibisa momong klawargane,
      Tindakna guyub rukun,
      Tansah eling wajib lan ngerti,
      Mring sedulurira,
      Aja gampang mutung,
      Yen ana ribed-rubeda,
      Tinampaa kanthi sabaring penggalih,
      Ywa padha cecongkrahan.
      Demikian Dik Toko, salam buat Bu Sis dan Pak Sis. (gts)

      • meds says:

        wah, rasane mak nyess. lagu jawa pancen nentremake ati.

      • Mas Toko/Mas Gun, tembang Dandanggulo isi pitutur yang baik sekali, bila di tembangkan oleh orang yang tepat bisa betul2 nggugah hati yang mendengarkan terutama generasi saya mas Toko dan mas Gun. Pak Sis itu beda yuswanya sama saya sekitar 3 tahunan, masih termasuk genersai saya, jadi betul2 bisa menikmati ular2 dalam tembang Dandanggulo tsb. Saya jadi ingat guru saya di Volksschool/Sekilah Desa tahun 30-an yang ngajari saya nembang Dandanggulo, bait2nya masih lengket dalam ingatan saya. Mas Toko, salam katur Pak Sis, nanti kalau Lebaran smoga bisa sowan. Salam, Sw.

        • Gunarso Ts says:

          Terima kasih Pak Wiek. Tembang Dandanggula di atas memang karangan Bu Sis, bulik saya. Sebagaimana suwargi ayahku, beliau memang pemerhati Sastra Jawa, dan kakak beradik ini mahir ngarang tembang. Dulu setiap ada pahargyan manten, Pak Tjokro ayahku sering didaulat memberi sambutan dalam bentuk macapatan.
          Benar Pak Wiek, sampai era sekolahku (1958-1964), guru-guru SR Margosari masih mengajari murid Tembang Jawa. Pak Sudono dari Purwodadi mengajari Asmaradana, Pak Parkun (Jenar Wetan) tembang Pangkur. Bahkan Bu Sainem dari Jenar Kidul, ketika melatih nembang Jawa untuk murid-murid, mampu menghentikan ayunan cangkul para petani di sawah. Suara Bu Sainem almarhum memang “empuk eyub” atau “urut usuk” kata orang-oran dulu.
          Lalu di kelas IV SR, saya punya teman Tuwono Plempung anak Kedondong. Setiap nyanyi ke depan tembangnya monoton Dandanggula “Jago kluruk rame kapiarsi, lawa kalong luru pandelikan……dst. Teman-teman sekelas sampai hafal betul, sehingga ketika dia maju ke depan seperti biasanya, belum juga mulai buka mulut, sudah didahului teman-teman: “Jago kluruk……!” Tuwono pun mati kutu, mulutnya mendadak blangkemen. (gts)

  6. ilyasa' muhtarom says:

    Pak Gun, ceritanya seperti potongan2 film yang diputar ulang dan berhasil membangkitkan memori masa kecil yang kendati sangat indah namun mustahil diulang kembali. Meskipun ceritanya mengambil setting waktu sekitar tahun 1960-an (sesuai usia masa kecil Pak Gun), namun pengalaman-pengalaman nyaris sama masih bisa saya alami di waktu kecil saya di tahun 1970-an. Jarak Magelang-Purworejo yang tak terlalu jauh menyebabkan adat kebiasaan, tradisi, budaya dan nuansa keagamaan masyarakat dalam menyambut dan menyemarakkan bulan Ramadhan tak jauh berbeda.
    Kata Tukul Arwana, wonderful.

    • Gunarso Ts says:

      Benar Mas Muhtarom, tradisi Magelang dengan kampungku juga tak jauh beda. Mertuaku yang di Potrobangsan III Magelang, karena aslinya orang kampungku, tata budayanya juga masih kebawa. Maka anak-anaknya bila sang ibu berperilaku “ndesani”, komentarnya: jan Pulutan (Ngombol) asli!
      Asal tahu saja, mertuaku lelaki di tahun 1960-an hobinya mbedil bajing di kampungku, dan aku yang bertugas membawa bajing hasil perburuannya. Eh, nggak nyangka, 20 tahun kemudian aku “diopahi” jadi mantunya. He he he….., begilah romantika kehidupan, Mas Muhtarom. (gts)

  7. ilyasa' muhtarom says:

    Membaca tulisan Pak Gun ini saya seperti diputarkan kembali film lama mengenai kehidupan masa kecil saya di kampung. Jarak Magelang-Purworejo yang tidak terlampau jauh membuat setting peristiwa dan pengalaman masa kecil Pak Gun di tahun 1960-an tak beda jauh dengan kehidupan masa kecil saya di tahun 1970-an. Tradisi, budaya dan nuansa keagamaan di Purworejo dalam menyambut dan meramaikan bulan Suci Ramadhan sangat mirip dengan di Magelang.
    Khusus kaitannya dengan main long bumbung dan mercon, saya mempunyai pengalaman –yang boleh dikata unik dan tragik — yang menimpa teman-teman saya. Sewaktu menyalakan mercon gong (mercon berukuran besar sebagai penutup rentetan atau rentenga mercon sepanjang beberapa meter) oleh temanku mercon tersebut dikira mejen atau tidak menyala. Mercon seukuran pangkal lengan orang dewasa itupun diambil dan dipegang sambil ditiup sumbunya. Tak berapa lama setelah itu, tiba-tiba “blaaaaar”, mercon meledak. Dalam sekejap kerumunan orang yang menyaksikan atraksi menyulut rentengan mercon panjang di halaman masjid seusai menunaikan sholat iedul fitri itu pun gempar. Temanku yang tergolong pemberani itu seketika pingsan dengan tangan bersimbah darah.
    Kejadian lain berkaitan dengan long bumbung. Setelah mengisi bumbung dengan minyak tanah, temanku segera menyulut lubang bumbung tersebut dengan lidi yang diujungnya dipasangi sepotong kain yang diikat dan telah dicelupkan di minyak tanah. Karena sewaktu menyulut bumbung muka temanku ini terlalu dekat dengan lubang, maka seketika lontaran api yang keluar dari lubang itu pun menyambar muka temanku. Muka temanku inipun berubah menjadi hitam dan di beberapa bagian melepuh. Setelah dibersihkan, alis mata temanku ini habis terkena sambaran api. Untuk beberapa hari kemudian, dia tidak bisa masuk sekolah karena kejadian ini. Begitu sekelumit tambahan cerita pengalaman saya.

  8. mbah suro says:

    Didesaku saat itu belum ada Musholah/ langgar, sholat tarawih dilaksanakan di Balai Desa, seperti yang diceriterakan Mas Gunarso pengalaman tarawih di Walikoro sama persis didesaku. Mbah Kaum Wongsomungalim sholat sendirian didepan sebagai imam, sedangkan jamaahnya kebanyakan anak-anak hanya duduk silah ditikar mengamini saja.

    Tarawih yang diikuti anak-anak memang ala kadarnya, justru yang paling ditunggu adalah jaburan berupa wedang jahe manis pakai gula jawa. Jarak Balai Desa dengan rumah Mbah Kaum lebih kurang 100 meter, jaburan selalu diambil dari rumah Mbah Kaum, suatu ketika anak-anak yg ditugasi ngambil jaburan “iseng” sebelum sampai dibalai desa berhenti dipinggir blumbang dekat balai desa, sèsèr yg sudah disiapkan sejak sore dipakai nyèsèr ikan sepat yang sedang ‘nggathuk’ (mau bertelur) dapatlah seekor sepat yang lumayan besar.

    Dasar anak-anak ‘ndlodor’ sepat yang baru didapat dimasukkan kedalam klenting wadah jaburan, begitu jaburan dituangkan ke masing-masing cangkir yang sudah sisiapkan, pada sendokan terakhir sepat didalam klenthing menggelepar klèpèk-klèpèk. Hebohlah anak-anak, Mbah Kaum ‘duko yayah sinipi’, anak yang ditugasi ambil jaburan dimarahi habis-habisan, namun masih diberi maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi
    Jaburan yang tidak diminum anak-anak dipaksa untuk dihabiskan, Waduh.. wetengku kembung, terus piye jal nek ngene?
    Ampun Mbah Kaum saya lepat…….

  9. Dwi yn jabrq says:

    Jan dadi kangen jaman semono..salam kenal saking lare klandaran

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Puasa dan Main Long Bumbung

1 - Aug - 2011 | meds | 14 Comments »

Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah

19 - Apr - 2009 | slamet wijadi | 56 Comments »

Nostalgia Anak Kampung (2)

27 - Dec - 2009 | meds | 2 Comments »

Jalan kaki “napak tilas” Ngombol – Purworejo

11 - Sep - 2011 | Gunarso TS | 44 Comments »

Purworejo tahun ’45-’49. Kenangan dan Nostalgia

23 - Jul - 2009 | slamet wijadi | 66 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net