Mengenang alm WR Soepratman, Pencipta Lagu “Indonesia Raya”

  16 - Aug - 2011 -   Gunarso TS -   22 Comments »
foto ofMengenang alm WR Soepratman, Pencipta Lagu “Indonesia Raya”
Patung WR Supratman di Purworejo

Hari ini, 17 Agustus 2011 kita mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam rangka memperingati HUT RI yang ke-66. Tapi 73 tahun lalu tepat di tanggal yang sama, 17 Agustus 1938, pencipta lagu kebangsaan kita tersebut wafat di Surabaya. Almarhum yang asal Somangari Kec. Kaligesing itu sama sekali tak menduga, Indonesia merdeka yang diperjuangkan lewat lagunya, menjadi kenyataan 7 tahun setelah kepergiannya.

****

Patung WR Soepratman di prapatan Pantok, Purworejo. Dibangun jaman bupati Soepantho taun 1983. (foto: gts)

DESA Somangari terletak 12 Km sebelah tenggara kota Purworejo. Lokasinya berada di pinggang gunung, sehingga jalan raya menuju desa itu berkelak-kelok dan turun naik di antara jurang-jurang nan dalam. Sebelum tahun 1970 masuk desa tersebut harus dengan jalan kaki, karena kendaraan umum hanya sampai Desa Kemanukan, 5 Km sebelah barat Somangari. Dan siapa menduga, desa yang sepi “adoh ratu cedhak watu” tersebut 108 tahun lalu telah mengukir sejarah indah. Almarhum WR Soepratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya di tahun 1924, lahir di desa tersebut pada hari Kemis Wage, 19 Maret 1903.

Desa Somangari kini sudah lumayan rame, menikmati listrik sejak tahun 1985-an. Penduduknya yang berjumlah sekitar 3.000 jiwa (800 KK) itu bekerja sebagai petani, mengurus kebon manggis, duren, dan langsep. Saban musim panen tiba, buah-buahan Somangari dipasarkan ke Pasar Baledana, Purworejo, juga termasuk sejumlah kota semisal Semarang, Purwokerto, Surabaya dan Jakarta. Angkutan umum kini sampai di depan kantor Lurah.

Dukuh Trembelang tempat petilasan WR Supratman kini juga sudah bisa dilewati mobil, jalannya telah beraspal. Namun untuk menuju ke monumen rumah kelahirannya, mobil hanya bisa parkir depan gapura. Selanjutnya harus ditempuh dengan jalan kaki, lantaran jalanan menanjak dan berkelok-kelok sepanjang 500 meter. Namun demikian kondisi ini sudah jauh lebih baik, karena di masa kecil WR Soepratman, Mbok Senen (dieja sebagaimana mengucap oven – Admin) ibunya manakala hendak ke Purworejo harus jalan kaki sejauh 12 km!



Rumah tempat kelahiran WR Soepratman di dukuh Trembelang, saat dalam pemugaran di tahun 2007. (foto: gts)

Tempat petilasan alm WR Soepratman saat dilahirkan tahun 1903, hingga kini masih bisa dijumpai. Pada era Bupati Purworejo H. Kelik Sumrahadi, S.Sos, rumah tersebut dipugar, dijadikan monument dengan biaya Rp 400 juta. Subagio (44), Kades/Lurah Somangari menjelaskan, khusus rumah petilasan alm WR Soepratman menelan biaya Rp 71 juta, tembok tebing gunung (talud) Rp 60 juta, gapura lan jalan bertrap-trap menuju monument Rp 46 juta, jalan aspal Rp 212 juta. Total jendral menghabiskan dana sekitar Rp 400 juta.

Ari-ari WR Soepratman
Meski rumah lama dibongkar, tetapi penggantinya dibuat sama, baik bentuk maupun ukurannya. Genting tetap model plentong, sedangkan dinding anyaman bambu (dabag) diganti dengan gebyok berkeliling. Bahkan dua buah tiang lama juga dipasang lagi pada bangunan monumen tersebut. Posisi rumah juga tetap menghadap ke selatan.

Monument kelahiran WR Soepratman sejatinya telah dirancang sejak taun 1985-an. Tapi lantaran tempat kelahiran itu masih menjadi polemik, di Jatinegara (Jakarta) ataukah Somangari (Purworejo), rancangan ditunda dulu. Setelah Pengadilan Negeri Purworejo menetapkan lewat keputusan No. 04/Pdt.P/ 2087/PN PWR, tanggal 29 Maret 2007 bahwa WR Soepratman lahir di Desa Somangari, baru monument mulai dibangun oleh Pemda Purworejo sejak September 2007.


Darto Untung di depan kuburan ari-ari almarhum WR Soepratman. (foto: gts)

Bukti-bukti dan saksi memang menguatkan bahwa alm WR Soepratman lahir di Desa Somangari. Bekas kuburan embing-embing atau ari-ari (placenta) almarhum, hingga kini masih rapi terpelihara, berwujud gundukan tanah dekat pondasi rumah yang berupa batu, kemudian dikrapyak (pagar) bambu. Harap dimaklumi, di masa itu terdapat kepercayaan bahwa bayi perempuan ari-arinya dikubur di sebelah kiri pintu, sedangkan bayi lelaki di sebelah kanan pintu. “Mbah Martowidjojo bapak kula, riyin nggih tumut bancakan slametan puputane Pak Wage niku…,” ujar Darto Untung (74) warga setempat, di mana ayahnya dulu juga menyaksikan kelahiran pencipta lagu Indonesia Raya tersebut.

Kata Darto Untung berdasarkan cerita almarhum ayahnya, WR Soepratman diberi nama Wage, karena lahir di hari Kamis Wage. Pak Martowidjojo ayah Darto Untung, yang masih bujangan usia 18 tahunan kala itu, saat hendak bermain di malam hari ditegur orangtuanya, katanya malem Jumat Kliwon banyak hantu lewat. Dan masih kata Darto Untung sebagaimana cerita warga Somangari, setelah bayi Wage berumur tiga bulan diboyong orangtuanya ke Jakarta. Kartodikromo, orangtua lelaki WR Soepratman berasal dari Godean, tentara KNIL pangkat sersan. Ketika mbok Senen istrinya hamil tua, sengaja disuruh pulang ke Somangari untuk bersalin di kampung.

Di masa jabatan Bupati Supantho (1975), ayah Darto Untung pernah dipanggil sehubungan dengan tekad Pemda Purworejo untuk melacak jejak dan asal-usul WR Soepratman. Pak Martowidjojo saat itu ditantang Pak Bupati, apakah siap dijak sowan Pak Harto di Jakarta, sebagai saksi bahwa menyaksikan kelahiran sang komponis tersebut di Desa Somangari? Pak Martowidjojo alias Mbah Tepok tak berkeberatan. “Emanipun, dereng ngantos kaleksanan dijak sowan Pak Harto, Pak Pantho kelajeng lereh saking kalenggahanipun,” ujar Darto Untung.

Sejarah yang membelok
Setelah diboyong kembali ke Jakarta oleh orangtuanya, tahun 1924 Wage menjenguk kampung kelahirannya saat Pak Kartoyono familinya punya gawe tetakan dengan nanggap wayang. Sebagai anak muda usia 21 tahun, anak kota pula, penampilan Wage yang berbaju kodokan tersebut nampak lain dari yang lain. Namanya pun juga demikian mentereng tak tampak ndesit lagi: Wage Rudolf Soepratman! Kabarnya, nama Rudolf menempel dalam namanya lantaran Wage pernah main tonil sebagai tokoh Rudolf, di mana permaiannya sangat cemerlang.

WR Soepratman kembali pulang kampung di tahun 1935, saat namanya mulai dikenal sebagai komponis lagu Indonesia Raya. Tapi karena posisinya sebagai pencipta lagu itu, perangkat Desa Somangari tahun 1932-1935 pernah dibikin repot. Berulang kali polisi Belanda PID mencari WR Soepratman yang kabarnya berasal dari kampung itu. Tapi Pak Lurah berhasil melindungi bahwa tak kenal dengan nama itu, dan di kampung Somangari juga tak ada anak bernama WR Soepratman.


Salamah (paling kiri) bersama Ny. Tjiptomangunkusuma (paling kanan) seusai menerima
satya lencana dari Presiden Soekarno, taun 1961. (foto: Pak SIN)

Setelah Indonesia merdeka, di tahun 1957 tim dari Jakarta melacak asal-usul WR Supratman ke Somangari. Tapi celaka tigabelas, ingat pengalaman zaman Belanda, keluarga beserta Pak Kadesnya juga tutup mulut. Akhirnya untuk mengejar waktu, Tim Jakarta terpaksa menetapkn bahwa WR Soepratman lahir di Mister Cornelis (Jatinegara). “Ya sejak itulah sejarah kelahiran alm WR Soepratman berbelok,” ujar Pak Supardjo, mantan Lurah Somangari (1985-1993) yang pernah nyadran ke makam WR Soepratman di Surabaya tahun 2006.

Sekitar tahun 1993 Supardjo pernah diprimpeni almarhum. Di alam mimpi WR Soepratman berpesan: “Yen pengin aku bali menyang Somangari, jupuken lemah kuburanku ing Surabaya, jer jasadku wis dititipake ana kana. Ing kene sedulur-sedulurku dhewe ora ana sing gelem ngakoni”. Impian itu selalu mengganggu pikiran Lurah Supardjo. Kapan bisa mengambil tanah makam tersebut sebagaimana pesan almarhum? Siapa tahu dengan cara-cara tersebut polemik asal usul WR Soepratman segera berakhir.

Barulah di tahun 2006, didukung Bupati Kelik Sumrahadi, mantan lurah Somangari bersama tim Dinas Pariwisata datang ke makam WR Soepratman di Surabaya. Aneh tapi nyata, saat tanah makam Tambak Segaran Wetan tersebut dicampurkan dengan tanah kuburan embing-embing WR Soepratman di Somangari, terjadilah peristiwa menakjubkan. Seusai Supardjo rampung membaca do’a, pintu depan rumah membuka dengan sendirinya, tertiup angin besar. Tak lama kemudian tercium bau wangi aroma bunga campur kemenyan. Makin terasa aneh, dari 8 orang yang hadir di situ hanya 4 orang saja yang merasakan bau itu. “Anggep wae donga kita dikabulake Pangeran, lan seminar WR Soepratman Selasa sesuk kuwi bisa aweh katetepan sing bener,” ujar Supardjo melerai perdebatan tersebut.

Siapakah perempuan Salamah?
Alhamdulillah, seminar “Pelurusan Sejarah WR Soepratman” di Purworejo saat itu berhasil menetapkan bahwa almarhum memang lahir Desa Somangari hari Kamis Wage tanggal 19 Maret 1903. Kemudian di bulan Maret 2007 berikutnya, pihak Pengadilan Negeri Purworejo, dengan keputusan sebagaimana di atas, juga memperkuat bahwa almarhum WR Soepratman memang berasal dari desa tersebut, berdasarkan keterangan saksi yang tersumpah.

Seperti telah diketahui masyarakat pada umumnya, alm WR Soepratman wafat di Surabaya tanggal 17 Agustus 1938, beberapa hari setelah diperiksa polisi Belanda sehubungan dengan lagu karangannya yang baru, berjudul “Matahari Terbit”. Tapi kata mantan lurah Supardjo, masih ada sedikit “ganjelan” bagi ahli waris WR Soepratman, yakni mengenai siapa sebenarnya perempuan Salamah yang pernah akrab sekali dengan almarhum. Pada buku-buku sejarah disebutkan bahwa perempuan itu istrinya. “Andaikan dia istrinya, kenapa saat sakit hingga wafatnya dia tak pernah merawatnya?” ujar Supardjo berdasarkan keterangan ahli waris almarhum.

Maka menurut pendapat ahli waris WR Soepratman termasuk yang di Somangari, Salamah tak lebih sekedar pembantu, yang aktif melayani almarhum saat aktif sebagai jurnalis di Jakarta. Pada kenyataannya, saat WR Soepratman pindah ke Surabaya, dia tidak juga ikut. Salamah sesungguhnya perempuan yang dikenal WR Soepratman, ketika wanita itu sedang mencari keluarganya di Cimahi (Jabar). Setelah dicari tak juga ketemu, pada akhirnya dia ikut WR Soepratman di Gang Tengah, Salemba, Jakarta. “Sepanjang pengetahuan ahli warisnya, almarhum belum pernah menikah,” ujar Supardjo sembari memberikan buku “Beberapa Catatan Seputar WR Supratman” karya Radix Penadi, sebagai referensi tulisan ini. (Gunarso TS)

Category: berita, Tags: | posted by:Gunarso TS


22 Responses to “Mengenang alm WR Soepratman, Pencipta Lagu “Indonesia Raya””

  1. Bagus mas Gunarso, cerita ini lebih masuk akal daripada yang menjadi versi resminya. Saksi2 orang desa sejamannya lebih menguatkan dan secara formil telah dikuatkan oleh putusan Pengadilan. Tinggal sekarang apakah versi resmi sebagaimana tercantum dalam buku2 sejarah itu bisa diganti, ini termasuk tugas yang berwajib/pemerintah. Salam, Sw.

  2. mbah suro says:

    Wah… saya salut dengan penelusuran Mas Gunarso sampai kepelosok desa Somangari yang sepi “adoh ratu cedhak watu” untuk mencari nara sumber yang patut dipercaya dalam rangka meluruskan sejarah.
    Harapan kita semua dengan tulisan ini bisa mendapat respon positif dari pemerintah pusat, sehingga “kekeliruan” sejarah yang sudah diyakini oleh publik bisa diluruskan sesuai dengan bukti-bukti yang ada, termasuk keputusan pengadilan negeri Kab. Purworejo.
    Semoga Purworejo menjadi semakin semerbak dengan munculnya putra daerah sebagai pahlawan nasional. Amin…..
    Terima kasih Mas Gun, ditunggu tulisan berikutnya… Jan ngangeni temenan ki…..

  3. kang_nanok says:

    harusnya purworejo makin dikenal ya di seantero polosok negeri….ada beberapa tabir kehidupan yang belum terkuak dari kota purworejo

  4. Khyae pernah kesara tekan Rumah kelahiran Simbah WR. Supratman.. tahun 2007 an..

  5. Gunarso Ts says:

    Terima kasih Pak Wiek dan Mbah Suro. Tapi sepertinya harapan kita dan juga harapan seluruh rakyat Indonesia tentunya, belum bisa terwujud. Soalnya Menteri Budaya dan Pariwisata Jero Wacik, dengan bangganya membuka peringatan Hari Musik Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta (Pasar Baru) pada 9 Maret 2011 lalu. Jika beliau sudah mengetahui Ralat dari Kemensos mengenai tanggal kelahiran WR Soepratman, mestinya kekeliruan itu takkan terjadi.
    Seperti diketahui, Hari Musik Indonesia tersebut ditetapkan pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, pada 9 Maret 2004. Tanggal itu diambil, mengacu pada hari kelahiran komponis besar WR Soepratman, yang menurut versi lama lahir di Jatinegera 9 Maret 1903. Ketika sudah terbit keputusan Pengadilan Negeri Purworejo, dan Ralat (pelurusan) itu sudah dibuat oleh Kementrian Sosial (2009), pejabat-pejabat pemerintah sepertinya masih saja mengamini versi lama. Demikianlah Pak Wiek dan Mbah Suro. (gts)

  6. massito says:

    Purworejo adalah kota pensiunan, demikian orang sering menyebutnya. Bahkan masih banyak anak2 atau orang yang tidak tahu dimana Purworejo, ada yang sungguh aneh seorang teman di Jakarta yang ngakunya berasal dari Jogya tidak tahu dimana letak Purworejo. Padahal sejak jaman kemerdekaan sampi sekarang sungguh banyak tokoh2 penting dinegeri ini yang berasal dari Purworejo yakni : WR Supratman, Jendral Urip SUmoharjo, Jendral Ahmad Yani, Jendral Sarwo Eddy, Jendral Indrarto Sutarto, Eman Suparman semua beliau2 tersebut diatas sangat mengharumkan nama negara. Memang untuk menjadi terkenal tidak harus berasal dari daerah yang sudah terkenal. Yang penting prestasinya banyak dikenal.

    • Gunarso Ts says:

      Mas Pursito, mungkin teman Anda ini generasi angkatan 1970-an, yang di SD tak belajar Ilmu Bumi. Jaman kita dulu, murid SR harus tahu peta buta, di mana murid dengan cepat bisa menunjuk nama kota pada peta sederhana yang dibuat Pak Guru. Anak-anak sekarang termasuk anak-anakku juga, sudah tidak tahu Mata Angin, mana barat dan mana barat laut. Tahunya ke kanan dan kiri saja. Plat mobil juga tahunya B, karena tinggal di Jakarta. Menyedihkan. (gts)

    • Joko R says:

      saya kira yang menyedihkan adalah temannya sdr Massito itu, pasti tak pernah belajar geografi, atau kuper. ini purworejo, sebuah kabupaten sebelah barat yogyakarta, kok tidak tahu. sebagai perbandingan, saya seluruh kabupaten dan kota di jateng dan jogja hafal. sebagian kabupaten di jawa timur dan jawa barat juga.

  7. Mas Gun, tanggal 19 Maret 1903 jatuh pada hari dan hari pasaran apa? Kalau memang Kamis Wage, kemudian dibanding dengan hari dan hari pasaran 9 Maret 1903, apa juga jatuh pada hari pasaran Wage? Yang jelas nama Wage itu pasti bener, hanya masalah harinya. Yang menetapkan 9 Maret itu dasarnya apa? Namun saya tetap percaya bahwa kesaksian orang2 tetua desa sejamannya itu yang lebih bener, apalagi sudah dikuatkan oleh Putusan Pengadilan dan Kementerian Sosial, sekarang tinggal siapa yang dekat dengan Menteri Budaya dan Pariwisata saja agar bisa membisikkan adanya Ralat tersebut. Semoga bisa menjadi kenyataan, sebab pengakuan resmi Pemerintah tersebut pasti sangat berati bagi nama/keharuman Purworejo. Salam, Sw.

  8. Bali SEO says:

    tak terasa sudah 66 tahun Indonesia Merdeka

  9. Yoyo.sakiyo says:

    Ada ceritera Somangari saya jadi ingat, bahwa di daerah itu adalah gudangnya buah durian dan buah manggis, sewaktu saya masih kecil di tahun 60 an saya pernah di ajak Bapak untuk nengok saudara Bapak yang tinggal di desa tersebut ( Somangari ) dari Desa Borowetan jalan kaki melewati Desa Wonoroto, Semawung, terus menyeberang sungai masuk desa Kemanukan, terus ketimur yang kala itu belum ada kendaraan dan jalannya masih berbatu batu dan masih belum selebar sekarang.
    Kalo tidak salah Desa Somangari juga terkenal kesenian Incling ( Kuda Kepang) dan bila bulan Sapar ( Jawa ) tiba ada tradisi Saparan (Kebo Manggis), yaitu tradisi masyarakat Somangari dan sekitarnya merayakan selamatan sejenis sedekah bumi, membikin beraneka ragam makanan yang di bagikan kepada para pengunjung yang datang untuk menyaksikan acara perayakan tersebut.
    Biasanya Acara/ pawai di mulai dari tempat yang namanya Kedono Kedini ( Petilasan ) menuju arah kebarat dan malamnya di ada pertunjukan Wayang kulit di Bale Desa, wah kalo ingat masa duludi desa memang sangat menyenangkan, orangnya guyup-guyup saling bantu membantu sehingga tercipta lingkungan yang aman dan tenteram.
    Tahun yang lalu saya sengaja dari Purwokerto ( Tempat tinggal saya sekarang ) Pulang kampung di Purworejo ( Borowetan ) nengok orang tua yang masih ada di desa, dan saya menyempatkan waktu untuk berkunjung di Sodara yang tinggal di Somangari, ternyata jalan ke Somangari jauh sudah bagus kalo di bandingkan waktu saya masih kecil, jalannya sudah lebar dan beraspal sampai puncak, termasuk ke Halaman Rumah Bpk WR Supratman, dari Kedono Kedini naik ke utara masuk Gapuradan saya berhenti di tanjaakan, karena kendaraannya gak kuat naik dan saya takut mbok tergelincir masuk jurang.

    • hasmadji says:

      Pak Sakiyo, menilik nama dan alamat serta pengalaman yang dipaparkan saya patut menduga bahwa Panjenengan adalah teman sekolah saya sewaktu di STN 1 Kedung Kebo pada tahun 1969 silam. Benarkah? Kalau benar syukur Alhamdulillah,kita dapat bertemu lagi via media ini namun kalau ternyata salah tentu saya sampaikan salam kenal dan bergabung ke blog sugeng rawuh yang kita banggakan.
      Salam, hasmadji

  10. Rustam says:

    Somongari ya , saya ingat waktu masih duduk di kelas satu sma bruderan purworejo tahun 1989 pernah , saya berkemah di sini( somongari) hanya sayang waktu malamnya kehujanan deres banget , semua persediaan baju basah semua, akhirnya paginya njur pulang, mampir di rumah teman di kemanukan, kata ibu temanku ” ya begitu itu kalau gegeden empyak kurang cagak” kami hanya bisa berdiam diri,dan senyum senyum nggak tau apa artinya ungkapan ibu temanku tersebut. semoga somongari makin di kenal seperti WR, Supratman

  11. Gunarso Ts says:

    Mas Rustam, maksud ungkapan “kegedhen empyak kurang cagak” tersebut kira-kira sama artinya dengan “nafsu besar tenaga kurang” untuk istilah masa kini. Jelasnya lagi, bercita-cita mencapai sesuatu, tapi modalnya cekak (kurang). Misalnya, kepengin jadi dokter, tapi tak mampu bayar SPMA (Sumbangan Peningkatan Mutu Akademis) di Perguruan Tinggi Negeri, yang sekarang memang sangat mencekik leher. Walhasil, maunya jadi dokter, bisa jadi mantri klinik saja sudah bagus. Terima kasih. (gts)

  12. Rustam says:

    Matur suwun Pak Gun sampun kersa paring pepadang , memang waktu itu hanya modal seneng mau kemah tanpa memperhatikan apa saja yang musti di bawa , akhirnya ya njur pulang cepet nggak jadi nerusin kemahnya, Pak Gun , ternyata menggayuh sesuatu itu nggak cuma semangat saja ya Pak? perlu biaya juga , hehe , pokonya JER BASUKI MAWA BEA ya Pak? Dokter itu kan profesi yang mulia dan bergerak di bidang kemanusiaan kok nggak di subsidi saja ya Pak Gun biar kalau banyak dokter , harga berobat jadi murah, dan kalau berobat murah masyarakat jadi sehat,dan kalau masyarakatnya sehat semua kan jadi cepet maju bangsa ini.

  13. teuku saif says:

    mengapa harus memorial house

    papan di “rumah kelahiran ” pak WR Supratman, kenapa memorial housenya dalam tanda kurung dan kecil saja ya ? Rumah ini seharusnya menarik bagi warga sendiri tau khususnya warga Purworejo, sekedar masukan saja, coba ada tulisan Indonesianya saja..saya rasa lebih memasyarakat…

    mari bangun Purworejo….

  14. teuku saif says:

    ralat mengapa tulisan memorial housenya TIDAK dalam tanda kurung saja …kenapa justru menonjolkan tulisan memorial house..kenapa harus berbahasa ENGLISH…? sekedar masukan saja…

  15. Anung FP says:

    Ikut bangga, terimakasih kpd semuanya yg telah terlibat “meluruskan” sejarah yg amat berharga ini.
    Pangeling-eling anak putu…
    Maturnuwun

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net