Lebaran yang selalu kunanti

  31 - Aug - 2011 -   meds -   12 Comments »

ALLAHU Akbar Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa ilaaha illalaahu, wallahuallahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamdu…,” begitulah suara takbir dan tahmid yang selalu kunantikan setiap malam 1 Syawal. Meski “hari kemenangan” itu hadir saban tahun, kami tak pernah bosan dan selalu merindukan. Ya, hari raya Idul Fitri memang hari yang sangat menyenangkan bagi kalangan anak-anak.


Salat Ied (1960) di rumah Pak Kaum, kini di mesjid Nurul Huda. (Foto: Gts)

Karena apa? Itu hari yang selalu banjir dengan makanan enak, itu hari yang memungkinkan kalangan anak kecil selalu dapat duit dari famili dan tetangga kanan kiri. Di Idul Fitri pula, anak-anak kecil menikmati baju-baju baru. Maklum, orangtuaku tak pernah memanjakan anak-anaknya. Aku, kakakku dan adik-adikku, hanya menikmati baju baru manakala Lebaran tiba, ditambah ketika peringatan 17 Agustus. Dengan baju baru warna biru putih, aku ikut upacara tujuh belasan di Lapangan Ngombol.

Jika waktunya omber biasanya dijahitkan oleh Bulik Sis yang punya mesin jahit merk Samy. Tapi jika waktunya mepet cukup beli di Pasar Jenar atau Purwodadi. Pernah saya dibelikan baju model mantrus, yang biasa dipakai pelaut itu. Aku ingat betul, warnanya hijau kecoklat-coklatan macam kain dril, ada dasi kecil, di leher belakang berjumbai-jumbai empat persegi. Kata simbok itu baju potongan Mbaledana. Buat kam-pungku kala itu, baju Mbaledana sudahlah sangat top.

Menjelang malam takbiran, aku bersama temanku Tunggono, Marno dan Udi tentu saja, selalu menyiapkan oncor, yakni penerangan dari bambu yang diisi minyak tanah. Ketika malam takbiran tiba, kami menyalakan oncor itu bersama-sama, baris berbanjar-banjar sepanjang jalan besar di desaku. Suasananya demikian indah, mulut kami sepanjang jalan selalu meneriakkan takbir yang lafalnya asal-asalan. “Abaraloh, abar-aloh….,” begitu kami mengucapkan.

Rumah Pak Kaum yang selama sebulan penuh kami kunjungi, malam itu menjadi sepi anak-anak. Tak ada lagi salat tarawih. Di tempat itu gantian dibanjiri para orangtua yang akan membayar zakat fitrah. Dari habis Isya hingga menjelang subuh, Pak Kaum nyaris tak tidur melayani tamu yang membayar fitrah. Di masa itu (1960-an) memang belum dikenal Panitia Zakat Fitrah. Semua dikendalikan langsung oleh Pak Kaum Amat Soderi sendiri, termasuk membagikannya pada fakir miskin sebelum salat Ied dimulai.


Bersama Tunggono aya naik dokar dari Njoso langsung Purwodadi. (Foto: Internet)

Simbokku di rumah malam itu juga sibuk di dapur, masak-masak mempersiapkan bancakan kolektif yang akan digelar di rumah Pak Kaum Amat Soderi besok pagi sebelum salat Ied. Menunya satu tenong penuh, terdiri dari nasi ambeng, ada mie, telur mata sapi, peyek dan ayam ingkung. Di rumah tetangga, semua juga memiliki kesibukan sama, sehingga ketika saling kirim bancakan tersebut, di meja rumahku demikian penuh kiriman nasi bancakan. Di saat itu aku sudah tak berselera lagi.

Dalam usia balita, malam takbiran tersebut selalu kutunggu segera usai, terbit fajar dan tibalah hari raya Idul Fitri itu. Aku sudah demam memakai baju baru, aku sudah ingin sekali mengenakan sepatu lungsuran dari Lik Ismi. Ya, pernah aku memang diberi sepatu Bata warna putih oleh putrinya Mbah Suro itu. Meski ukurannya terlalu besar buat kakiku, aku senang bukan main. Di malam takbiran itu sepatu kupakai juga sampai kebawa tidur, sehingga simbokku terpaksa melepasnya ketika aku telah didekap mimpi. Saat menjelang Lebaran, mbak Yanti juga pernah dibelikan sepatu oleh simbok. Tapi karena kesibukan dagang, Lik Misdilah yang disuruh membelikan di toko Purworejo bersama Bu Mi (Sri Sumarmi) kekasihnya saat itu. Meskipun Mbak Yanti kala itu juga ikut serta, tapi pemilihan model sepatu itu justru menurut selera Bu Mi. Karena sungkan, kakakku menurut saja. Dalam prakteknya, sepatu itu tak pernah dipakai Mbak Yanti. Pada akhirnya, sepatu bertali kain merah ati berbintik-bintik itu hanya teronggok di pojok trampa (tempat padi).

Di kampungku, 1 Syawal tahun hijriah disebut udhunan, juga bada atau bakda. Hari pertama, nampak sepi karena hanya salat Ied di rumah Pak Kaum. Barulah hari kedua orang saling bersilaturahmi ke antar tetangga, saling bermaaf-maafan dari yang muda kepada orangtua. Secara populer, tradisi itu disebut halal bihalal, tapi di kampungku menyebutnya: balalan. Bahkan dik Tutik ketika kecil suka berceloteh: yo dha banganga yo…!

Sedari masa kecilku, tradisi halal bihalal untuk generasi muda telah terkena erosi, artinya lirik dan kalimatnya yang santun, panjang dan berbahasa Jawa itu mulai ditinggalkan. Diganti sekadar kata minal aidzin wal faizin, bersalaman atau cium tangan, sudahlah selesai. Kuperhatikan, tinggal Bu Sitas (Marmono) ibu Rantok lah yang selalu tertib mengikuti tradisi lama, ketika halal bihalal kepada bapak. Setelah duduk ber-hadapan di risban yang sama, dengan keempat tangan mereka terus bersalaman, mulailah Bu Sitas mengutarakan maksudnya.


Suasana Lebaran keluarga Jawa tahun 1925. (Foto: Majalah Kejawen 1925)

“Kula nuwun Mas Tjokro, sowan kula wonten ngarsanipun panjenengan, sepindhah tuwi kasugenganipun Mas Tjokro. Ndungkap kaping kalih, sarehning punika dinten riyadi, kula nyuwun pangapunten, ngaturaken sedaya dosa kalepatan, lampah kula satindak, wiraos kula saklimah ingkang mboten angsal idinining sarak, mugi Allah Ta’ala nglebur dosa kula ing dinten riyadi punika, mukaramah saking Mas…..” kata Bu Sitas dengan haru. Lalu bapakku pun menjawab: “Oh inggih Dhik Marmono, dhawah sami-sami, sedaya aturipun adhik kula tampi. Semanten ugi kula ingkang dhawah sepuh uga gadhah kalepatan utawi dosa, mugi-mugi Allah Ta’ala maringi pangapunten sarta nglebur dosa kita sedaya ing dinten riyadi punika. Sedaya dosa kabucala wonten seganten ler lan seganten kidul.”

Bu Sitas Marmono lalu menjawab pendek: matur nuwun Mas Tjokro, sementara keduanya melepas tangan masing-masing. Ini suasana yang sangat mengesankan, tapi sekarang sudah tinggal kenangan. Baik mereka sebagai pelakunya, maupun tradisi itu sendiri.

Buat anak kecil sebagaimana aku dan kawan-kawan, Lebaran di hari kedua tersebut targetnya mencari sangu kepada orang-orangtua kerabat dekat. Perburuan itu hingga sore hari. Tapi ketika dihitung di rumah, ternyata jumlahnya tak pernah mencapai “target”. Dibanding perolehan Tunggono atau Tarso temanku, duit sanguku kalah jauh. Ketika kutanyakan hal itu pada bapak, barulah jelas. Ternyata orang-orang memberikan sangu lihat-lihat juga status ekonomi orangtuanya. Karena bapak dianggap keluarga lebih mapan, mereka memberinya lebih sedikit. Bila Tunggono Rp 2,- misalnya, aku hanya disangoni Rp 1,- Inilah sebuah “ketidak-adilan” yang tak bisa kuirikan.

Sementara anak-anaknya berburu sangu selama Idul Fitri, orangtuaku di rumah juga diburu anak kecil kerabat dan tetangga untuk minta sangu. Karenanya, setiap hari Lebaran simbok selalu banyak menyediakan uang receh. Mereka sudah hafal betul bahwa siwa/lik atau mbah Tjokro suka memberi sangu pada anak-anak. Jadi, sebelum simbok membuka kampekan (tempat duit) mereka takkan beranjak dari rumahku. Tapi kadang juga ada anak-anak yang nakal. Meski sudah disangoni simbok, kesempatan berbeda masih ikut antri lagi bersama anak-anak lain. Untungnya simbok hafal anak siapa saja yang belum disangoni.

Di daerahku, hiburan selama Lebaran adalah ke Ketawang, wisata pantai di selatan Grabag. Saat pulang mereka membawa kembang srengenge, sebagai bukti baru saja dari Ketawang. Namun di masa kecilku kami dilarang bapak simbok main ke tempat itu. Mereka takut anak-anaknya terbawa ombak, atau tenggelam ditelan ganasnya laut Kidul. Sebab kata orang, pantai Ketawang merupakan daerah kekuasaan Nyai Lara Kidul. Barang siapa ke sana memakai baju ijo gadung, akan mati kalap, dibawa oleh penguasa Laut Selatan itu. Karena gugon tuhon (takhayul) semacam itulah, aku sangat patuh pada larangan orangtuaku.

Dalam rangka berburu sangu pula, pada Lebaran tahun 1960 aku pernah diajak Tunggono ke Tunjungan, tempat asalnya ayahnya. Kami berjalan kaki tak kurang dari 8 Km, menyelusuri pinggir kali dari pojok desa Ngombol hingga desa tujuan. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan rasa haus mendera kerongkongan. Lagi-lagi aku kecewa. Karena aku “orang asing” dalam keluarga itu, di Tunjungan hanya dapat sangu Rp 1,- sedangkan Tunggono berlipat-lipat.

Pulang dari Tunjungan, dengan sangu bawaan dari rumah, aku bersama Tunggono dari Pasar Njoso langsung naik dokar Sutar Budeg tujuan Purwodadi, mau nonton keramaian di pasar itu. Sebab ketika Lebaran tiba, di pasar tersebut banyak sekali dijual mainan wayang yang bagus-bagus. Dari yang seke-dar kardus yang ditatah, hingga yang dicat aneka warna macam yang dipakai dalam pergelaran wayang kulit. Aku langsung membelinya 10 wayang kecil-kecil, tapi asal comot saja, sehingga tanpa kusadari banyak yang kembar; Dursosono-nya ada dua, begitu pula Gatutkaca-nya.

Dengan bangga aku pulang bersama Tunggono. Tiba di perempatan Purwodadi ketemu bapak yang mau halal bihalal ke desa Guyangan. Aku kemudian ikut dalam boncengan bapak, sementara wayang kutitipkan Tunggono untuk dibawa pulang. Di tempat kami bertamu, seperti biasanya dijamu makanan menu Lebaran. Tiba-tiba yang empunya rumah menawariku makan: “Mangan nggo sambel ya (makan pakai sambal ya)”. Aku langsung menggeleng. “Apaan, Lebaran kok makan pakai sambel, kalau hanya itu di rumah juga banyak,” pikirku kala itu.

Ternyata, ketika hidangan itu keluar wujudnya adalah nasi putih dengan lauk sambel goreng iwak banyu. Menyesalah aku jadinya, kenapa tadi menolak? Melihat ayahku makan begitu lahap, terbitlah air liurku. Tapi untuk meralat sikapku, aku merasa gengsi juga, sehingga aku bertahan terus dalam lapar. Sejak itu barulah aku tahu, bahwa kalimat “mangan nggo sambel” itu adalah sekadar basa-basi, sikap merendah dalam bingkai etika dan budaya masyarakat Jawa.


Kenduren Lebaran di kampungku, suasananya juga seperti ini. (Foto: Pandji Pustaka 1929)

Selama Lebaran, dari hari ketiga sampai hari ke-6 aku memang sering diajak bapak halal bihalal ke berbagai tempat. Pernah ke Ketitang, Pasir, Hargorojo daerah pegunungan sebelah timur Krendetan. Yang sangat aku berkesan, di manapun berada bapak selalu berusaha salat tepat waktu. Pernah ketika waktu asar tiba, perjalanan kami pas sampai di daerah Ngangkruk Ketip sepulang dari Sendang. Bapak pun salat dengan berwudlu pakai air sawah, sementara sebagai sajadah adalah jas beskap yang dikenakannya.

Pada Lebaran tahun 1958 itulah aku diajak bapak ke Hargorojo, ke rumah Siwa Amat Sadali yang berada di kaki gunung sebelah timur laut Pasar Krendetan. Kami berangkat ke sana sekitar pukul 14.00 sore. Jalan kaki saja karena bapak belum memiliki sepeda. Begitu tiba di pertigaan jalan raya Purworejo – Yogyakarta sebelah selatan Buh Ngandul, hujan lebat jatuh membasahi bumi. Aku dan ayah berteduh di sebuah gedung SR, duduk-duduk di antara bangku kosong karena telah usai belajar. Lalu kulihat penjaga sekolah itu, atau mungkin pemilik rumah, ke sana kemari membawa tongkat, membetulkan genting-genting bocor. Orangnya bisu, bicaranya ak uk ak uk …. mengingatkan pada si Peak, familinya mbah Amat Putri dari Sembir.

Hujan reda kami melanjutkan perjalanan. Tiba di rumah Siwa Amat di Hargorojo telah menjelang magrib. Aku kemudian diajak menginap. Lalu malam harinya bapak dan Siwa Amat berbincang-bincang mengenai perekonomian sehari-hari, tentang ladangnya yang dirusak oleh babi hutan. “Tanduranku tela padha dipangan celeng (tanaman ubiku dimakan babi hutan) Kro…,” kata Siwo Amat berbisik, sepertinya takut kedengaran oleh binatang tersebut.

Ketika pulang sekitar pukul 07.00 pagi, bapak diberi oleh-oleh duren, yang dikemas daun kelapa dan dipikul di pundak. Kami berjalan kaki dari Desa Hargorojo itu, menelusuri jalan raya Yogya – Purworejo, untuk menuju nambangan (penyeberangan) Sembir. Perasaanku jauuh sekali, aku berjalan seakan lempoh rasanya. Saat mau menyeberang pakai rakit, bapak terpeleset jalanan yang licin dan menurun. Kecepak….., bapak jatuh terduduk, celana jadi kotor. Dan tak lama kemudian terdengar suara: diiiiiit….! Itu suara juru satang seakan menirukan suara klakson mobil, sebagai tanda perahu berangkat. Dan rakit itupun berlayar menuju tebing di daratan Purwodadi. Sekitar pukul 09.00 aku sampai di rumah. (Gunarso TS).

Category: blog, Tags: | posted by:meds


12 Responses to “Lebaran yang selalu kunanti”

  1. massito says:

    Tulisan Pak Gun membawa saya ke alam 40 tahun yang lalu dan persis seperti waktu aku masih dikampung, lebaran saat yang sangat ditunggu, wayang juga kesukaan ku dari mulai membeli sampai membuat sendiri, bahkan aku pernah jalan dari purwodadi beli kardus bekas untuk membuat wayang. Sayangnya lebaran tahun ini aku tidak bisa pulang, bagaimana Pak Gun, jadi jalan ke Ngangkruk dan terus ngalor?, semoga pegalnya sudah hilang.

  2. gunarso ts says:

    Trims Mas Pursito. Allamdulillah jadi juga, meski waktu mundur 4 jam dari yang direncanakan. Tadinya mau jalan tepat pukul 06.00 ketika masih edum dan udara segar. Ee, ndilalah ada tetangga teman di SR dulu tewas ditabrak motor di malam takbiran. Jadi harus melayat dulu.
    Bersama dik Maji dan dik Caryo, perjalanan “legan golek momongan” itu kami mulai pukul 10.30 dan tiba di protelon Pangen pukul 15.45, karena sambil mampir-mampir untuk salat dan motret obyek-obyek menarik. Dan selama kami jalan, ada 3 orang yang “melasi” kami, karena tidak tahu tujuan sebenarnya. “Mbok nitih angkot mawon, Purworejo teksih tebih, tur bentere sanget….,” kata orang-orang yang berpapasan dengan kami.
    Ini memang perjalanan nostalgia 40 tahun silam, setidaknya untuk dik Maji. Kala itu jalan kaki karena ora gableg dhuwit, sekarang sekadar “neter kasudibyan” di usia senja. Alhamdulillah perjalanan lancar, meski kaki ngethok-ngethok. Minggu depan Insya Allah “reportase”-nya akan saya posting di sini. Terima kasih Mas Pursito, selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. (gts)

  3. Rustam says:

    Tahun 80 an saya juga masih merasakan suasana yang sama lho pak, di ajak ngalor ngidul balalan sama bapak

  4. Pujo Hascaryo says:

    Lumayan pegel sikilku tapi menyenangkan bareng pakde Gun dan kak saya Mas maji , Ya itung2 mbakr lemak makanan lebaran yang uda numpuk hee hee ….

    salam

    Pujo hascaryo
    Unisi fmJogja

  5. Widodo says:

    Masa lalu memang indah. Maka, kita rasanya ingin selalu memutar masa lalu. Bagaimana dengan Lebaran era digital? Apakah masih seperti dulu? Apakah makna dan ritualnya sudah berubah? Kemajuan teknologi dan banyaknya orang pintar setidaknya telah menggeser “kenangan” Lebaran pada saat ini menjadi tak berkesan. Lihat saja, penetapan Idul Fitri yang selalu berbeda. Ini membuat kebersamaan menjadi hampa. Saya merasakan Lebaran saat ini tidak seindah dulu. Saya juga mengharapkan agar Lebaran era sekarang bisa seindah Lebaran tempo dulu. Bisakah?

  6. Eko says:

    Kadang kalau ingat masa lalu kita bisa senyam senyum dewe, apalagi membaca cerita di atas rasanya kok sama ya. Dulu nek Riyoyo rame banyet orang jualan lotek sepanjang jalan Purwodadi sampai Congot( opo maneh neng Bubutan )
    Kemaren yang ada orang jualan semangka,

  7. ketika membaca tulisan Pak Gunarso, saya menemukan nuansa lebaran yang berbeda dengan yang saya alami waktu kecil. kebetulan masa kecil (hingga 1989) saya lewati di baledono ngentak, kampung pinggir kali kedung putri. suasana lebaran tidak semeriah itu. keluarga saya juga lebih banyak tinggal di rumah karena sanak saudara dari bener dan loano justru yang berkunjung ke baledono.
    sekarang saya menemukan sisa2 nuansa lebaran semacam itu di tempat mertua saya, kiyangkongrejo.

  8. Gunarso Ts says:

    Mas Tammi,seputar th 1963-an saya juga sering diajak “balalan” ke Baledono, ke rumah Bu Syamhudi yang punya anak bernama Tasmiyatun. Rumahnya belakang pasar Baledana, dekat kali Kedungputri Bahkan di masa itu, kebutuhan MCK juga dari kali tsb, yang ditampung di blumbang-blumbang khusus. Maka di sebuah acara Muludan dan kataman kakak saya di rumah Bu Syam tersebut, ada anak balita mati tenggelam di empang itu Barangkali Mas Tammi ada kenal dengan keluarga tersebut? (Gts)

  9. rosyid amin says:

    Cerita cukup menarik,apalagi foto-fotonya, ijinkan mengkopy yo Mas, maturnuwun sakdurunge

  10. mas adjie says:

    setuju kaliyan mas rusatam, suasana lebaran/balalan th 70an akhir dan awal 80an yg saya rasakan di rumah kakek saya di Sidomulyo dan di rumah siwo saya di Sucen masih spt yg diceritakan pak GTS. belum ada listrik jadi klo balalannya mlm sy wkt itu masih kecil klo jalan di bawah papringan trimo merem karo digandeng bapak…

  11. reza says:

    wah baguse cerita nang duwur

  12. vidastic says:

    tahun 80 an ane blm lahir nih hehe…

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net