Naik KA Bumel Jenar – Yogyakarta

  14 - Jul - 2011 -   meds -   19 Comments »

DI tahun 1960-1970 kereta api masih merupakan kendaraan mewah. Jangankan naik, baru melihat memanjangnya rel KA di stasiun Jenar saja, sudah merasa takjub. Aku pernah bersama Marno dan Udi kawanku, jalan kaki sejauh 7 Km ke Jenar hanya untuk ndelok sepur (lihat kereta api). Bahkan ketika Bung Karno dikabarkan ke Yogyakarta naik KA, murid SR Margosari berbondong-bondong dikerahkan ke Stasiun Jenar untuk menyambut sang presiden. Padahal ketika KA lewat, kita hanya terlihat gerbong bagian depan yang dihias, dan tak pernah jelas apakah benar Bung Karno berada dalam KA itu.

stasiun jenar purworejo tahun 1960
Suasana stasiun Jenar sekitar tahun 1960-an.

Aku menikmati sepur truthuk (bumel) sejak diajak bapak simbok ke Pacitan lewat Solo (1955). Lalu ke Yogyakarta nonton bon-bin Gembiraloka sekalian mampir ke rumah Pakde Suryadi di Jetis dan Bulik Suti di asrama CPM Sentul (1960). Kala itu aku, bapak, mbak Yanti, dan Lik Rochdati ke stasiun dengan penerangan obor blarak. Tangan kanan pegang obor, tangan kiri mengempit ikatan blarak sebagai cadangan obor selanjutnya.

KA Kutoarjo – Yogyakarta berlokomotif hitam, buatan Jerman sebelum tahun 1930-an, selalu ada kode D di nomer lokonya. Bahan bakarnya areng stengkul (batu bara), belakangan diganti potongan-potongan kayu berukuran besar. Manakala sep stasiun atau Pemimpin Perjalanan KA yang berpet merah itu telah mengayunkan eblek-nya, disusul dengan semprit kondektur, klakson KA itu pun berbunyi: ngoookkk…! Kereta api pun mulai bergerak pelan, makin cepat, makin cepat dengan suaranya yang khas: juss juss jesss, jusss jusss jesss. “Ja jajan, ja jajan, ja jajan…..,” begitu diplesetkan bunyi suara KA itu menurut buku Waosan Djawi yang pernah kubaca saat di SR.

ka bumel
KA Bumel Kutoarjo – Yogyakarta tahun 1960-an, dengan bahan bakar areng stengkul.

Sewaktu sekolah di Yogyakarta sejak Agustus 1964 hingga Desember 1970, aku kenyang naik KA, dari yang bumel, sepur grenjeng, Kuda Putih, hingga nebeng di sambungan KA Purbaya (Purwokerto – Surabaya) yang berwarna jambon putih macam kue lapis itu. Pernah aku panik dibuatnya ketika tiba-tiba sambungan antar gerbong terse-but lepas. Andaikan tanpa rantai pengikat antar gerbong, niscaya gerbong yang kunaiki akan tertinggal karenanya.

Tahun-tahun sebelum 1970, di kala kendaraan masih susah, naik KA jauh lebih murah dari bis. Dalam usia 13-14 tahun, aku masih bisa beli karcis Jenar – Yogyakarta hanya potongan separo, khusus untuk anak-anak. Itu kulakukan sampai beberapa tahun. Harganya cuma Rp 7,5,-. Kondektur yang memeriksanya juga tak pernah protes, paling-paling menyindir khas orang Jawa. “Wis arep njaluk rabi kok tuku karcis separo,” ledek pak kondektur, dan para penumpang sebelah menyebelah tertawa.

Kereta api tiba di Stasiun Jenar sekitar pukul 04.30. Berarti pukul 02.00 dinihari aku harus sudah berjaga. Untuk penanda waktu agar tak terlambat bangun, bapak selalu meminjam jam beker milik Siwa Dono. Berangkat ke stasiun kadang-kadang dibonceng bapak, tetapi lebih sering jalan kaki. Sampai stasiun Jenar sekitar pukul 04.00 kaki sudah lempoh (capek sekali).

Kesibukan di stasiun sudah terasa. Satu persatu calon penumpang berdatangan, lalu antre di tempat loket karcis. Ketika loket dibuka, terasalah kesibukan dalam antrian. Tak lama kemudian terdengar suara: jeglek jeglek…silih berganti, itu suara mesin pemberi tanggal pada karcis. Saat hendak antri beli karcis, aku pernah ketemu teman di SR bernama Suminem. Lalu dialah yang mengalah antri. Sayang, hingga kini aku tak pernah lagi ketemu teman sekelasa asal desa Candi itu. Yang kuingat, dalam pertemuan terakhir tersebut dia mengenakan baju terusan warna ijo lumut.

Di stasiun Jenar juga tersedia bufet, yakni warung wedangan untuk para penunggu KA. Pukul 04.00 warung itu sudah mulai buka. Kuingat benar, di balik sinar lampu teplok itu kulihat wajah cantik seorang ibu-ibu tengah mempersipkan warungnya di pagi yang dingin dengan segala dagangannya. Tapi aku tak pernah makan minum di situ. Bagi anak kecil sepertiku, medang di warung tidak lazim.

Trayek KA Bumel Kutoarjo – Yogyakarta waktu itu sebanyak dua kali. Pagi pukul 04.30 dan siangnya pukul 13.30. Ada lagi KA Barang yang biasa disebut sepur grenjeng. Ini berangkat dari Jenar sekitar pukul 11.00, dan tiba di Yogya ya semaunya masinis. Bila KA Bumel cukup 3 jam perjalanan, KA Barang bisa dua kali lipatnya. Maklum, di samping berhenti di saban stasiun, biasanya selalu langsir untuk menaikkan dan menurunkan barang/bagasi. Sungguh sangat membosankan. Tapi dari sini pula aku menjadi hafal urut-urutan stasiun Yogyakarta – Kutoarjo, yakni: Patukan, Rewulu, Sedayu, Sentolo, Kalimenur, Wates, Pakualaman, Kedundang, Waja, Karangjati, Jenar, Montelan dan sampailah Kutoarjo.

Aku juga menjadi hafal akan berbagai pengumuman yang disampaikan Kepala Stasiun atau PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api) Stasiun Tugu. Bila ada pemberitahuan: dua selatan segara masuk dari Lempuyangan, itu artinya: akan masuk KA dari Lempuyangan dan diparkir di rel ke-2 di jalur selatan. Lalu bila PPKA ngomong lewat pengeras suara: Malioboro tutup; maksudnya: palang pintu KA di Jalan Malioboro segera ditutup untuk memberi jalan KA yang mau lewat.

Paling lucu adalah ketika PPKA memberi tahu pedagang yang hendak naik KA Bumel ke Solo Balapan atau jurusan Kutoarjo, maka PPKA menyampaikannya dalam bahasa Jawa halus: “Ngatos-atos ibu-ibu, sampun kesesa, mangke dhawah, wekdalipun taksih anter.” Agaknya PPKA tahu bahwa di tahun 1960-an itu masih banyak wong ndesa yang tak paham Bahasa Indonesia.

Naik KA Bumel memang murah. Tapi numpang KA Grenjeng lebih murah lagi, cuma harus siap dengan keterlambatan demi keterlambatan. Bila tak dapat tempat di gerbong, bisa naik di bordes saja, yakni tempat duduk antara sambungan gerbong barang. Di sini sering ada “untung”-nya, menghemat ongkos. Sebab kondektur takkan sampai ke sini-sini, penumpang cukup memberi uang ala kadarnya pada tukang. Tapi lebih sering lolos alias gratis.

“Keuntungan” lain yang pernah kuperoleh, sewaktu berada dalam tumpukan karung-karung kacang tanah. Dasar anak kampung; ketika terlihat salah satu karungnya yang sobek dan kacang kulitnya berantakan ke mana-mana, sebagian langsung saya “amankan” dalam tas. Meski tiba di stasiun Jenar sudah pukul 20.00 malam, aku terhibur juga karena sambil jalan di kegelapan malam masih bisa nyisil kacang mentah dari stasiun hingga kampungku.

Pulang dari Yogya kemalaman, paling kutakuti saat melintas di jaratan Ngabean, Sumbersari. Di siang hari saja suasananya demikian menyeramkan, karena terdapat sebatang pohon besar condong ke jalan raya, bak sebuah gapura layaknya. Karenanya, bila telah tiba di perempatan Purwodadi, aku menunggu dulu sampai dapat barengan. Pernah aku bisa membonceng sampai desaku, tetapi pernah pula kecele. Soalnya, ketika aku berlari-lari anjing mengikuti laju sepeda orang itu ke arah barat, tahu-tahu dia membelok ke arah Mblembeng. Terpaksa aku balik lagi ke perempatan Purwodadi, menunggu barengan yang lain. Sungguh, jaratan Ngabean kala itu sangat menakutkan.

Aku pernah juga bareng Mas Purbo yang hendak bisnis ke Yogya. Terjaminlah aku bersamanya. Di samping karcis dibelikan olehnya, di jalan juga diajak makan tahu misro (isi cambah) dan minum wedang jahe. Saat naik dari Stasiun Jenar, penumpang berjubel sekali. Mas Purbo minta tolong aku membawakan tas kulitnya yang mirip milik priyayi tempo dulu. Karena desakan orang dari sana sini, tas tersebut terlepas. Untung Mas Purbo berhasil mengamankan kembali. “Kok diculke, nek ilang priye hara. Iki isine dhuwit thok nek kowe ngerti,” kata Mas Purbo agak marah, dan orang-orang pun terkagum-kagum.

Kemarahan Mas Purbo bisa dipahami, sebab di antara berjubelnya penumpang kawanan pencopet sering beraksi. Aku pernah mengalami, kaca mataku night and day, begitu istilahnya di tahun 1970-an, disikat kawanan pencopet menjelang KA Bumel tiba di stasiun Tugu, Yogyakarta. Paling celaka, kacamata tersebut dijambret ketika tengah aku pakai.

Sore itu aku memang baru kembali dari kampung. Karena bawaanku tak begitu banyak, aku duduk santai saja meski KA sudah hampir berhenti di stasiun Tugu. Tiba-tiba di antara kesibukan kuli yang berebut naik gerbong untuk mencari muatan, mendadak wuttt…., sebuah tangan berkelebat di wajahku dan kacamataku pun amblas dibawanya. Percuma aku mengejar, karena si penjambret langsung meloncat di antara gerbong dan gerbong. Paling apes, ketika hal itu kuceritakan pada Pakde di rumah Ngasem, komentarnya pendek saja. “Sukur…., sore-sore kok adol bagus,” kata Pakde Suryadi tanpa ekspresi.

Di tahun 1970-an, penumpang KA memperoleh reduksi (pemotongan harga) hingga 50 persen bukan saja dinikmati anggota DPR, tapi juga kalangan pers. Maka sebagai wartawan pemula dalam usia 19 tahun, aku beberapa kali memanfaatkan kartu pers mingguan Kembang Brayan (Yogyakarta) untuk naik KA Senja Utama ke Jakarta PP. Tapi sekali waktu aku pernah sial sepulang dari Ibukota. Saya kira KA berhenti di stasiun Jenar, ternyata bablas ke Yogyakarta, padahal kehabisan sangu. Untung aku segera dapat akal. Kupanggil becak dengan tujuan ke Kadipaten Wetan (Ngasem) rumah Pakde. Ongkosnya kala itu hanya Rp 50,- “Kula bayar satus, ning artane njing-enjing teng kantor Kembang Brayan, nggih Pak?” Ternyata dia setuju. Dan benar juga, tukang becak itu telah menunggu dan saya bayar dari tabungan honorarium tulisan di koran tersebut.

Masih cerita di atas gerbong, sering juga aku bareng seorang gadis yang berusia jauh di atas saya, mungkin dia anak daerah Ngombol. Meski acap kali ketemu di stasiun Jenar, gadis cantik itu tak pernah mengenalkan dirinya, dan aku juga malu untuk menanyakannya. Yang jelas, sangat perhatian padaku. Sekali waktu dia pernah meraba-raba kantong bawaanku sambil berbisik: “Apa iki isine, Dhik?” Begitu tahu isinya gaplek mentah, dia tertawa terpingkal-pingkal, dan aku pun tersipu-sipu dibuatnya. Mungkin dia membatin, dasar anak kampung, sekolah di Yogya kok masih doyan tiwul!

Sebetulnya, tak hanya gaplek dan beras yang sering kubawa dari kampung. Acap kali pula aku membawa segepok tembako untuk Pakde Suryadi. Beliau me-mang sering titip kepadaku ketika aku pulang kampung. “Matura Wakmu Dana, ya. Aku njaluk kiriman mbako,” begitu pesan Pakde. Dan ketika hal itu kusampaikan kepada Siwa Dono, saat kembali ke Yogya pasti Siwa Karni istrinya menitipkan tembako Boyolali yang jadi kegemaran Pakde Suryadi.

Di sepanjang perjalanan KA Bumel Yogyakarta – Kutoarjo atau sebaliknya, selalu penuh oleh penjual tahu Kalimenur, orang jualan gebleg, juga wedang jahe. Di kala udara panas karena penumpang berjubel, minum wedang jahe memang cocok sekali sebagai pengusir dahaga. Tetapi pada akhirnya aku jadi kapok minum wedang jahe di da-lam KA, ketika pernah memergoki wedang jahe yang tak habis diminum pembeli tahu-tahu dikembalikan lagi ke dalam gentong besarnya. Jadi jijik aku melihatnya.


Stasiun Jenar sekarang, setelah diremajakan. Posisi bergeser ke arah timur lebih sedikit.

Dan paling kasihan, pernah kulihat penjual gebleg berwajah cantik, berkulit putih, berkebaya dengan baju kain lurik, capek digoda para pemuda di Stasiun Wates, tetapi tanpa pernah mereka membeli dagangannya. Sambil mencolek pantat si penjual gebleg, seorang pemuda menggoda: “Yu, gebleg sak emblek ditambah karo sing dodol regane pira?” Penjual gebleg nan jelita itu tak menjawab sepatah katapun, kecuali menampakkan wajahnya yang cemberut, lalu pindah tempat tanpa menanggapi pertanyaan menggoda tersebut. Untuk masa kini, pastilah tindakan para anak muda itu bisa terkena pasal pelecehan. (Gunarso TS)

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:meds


19 Responses to “Naik KA Bumel Jenar – Yogyakarta”

  1. meds says:

    Waktu saya kecil (mungkin sekitar tahun 83-an, tepatnya lupa) kalau ke kutoarjo juga masih “menangi” sepur truthuk. hitam, ada asapnya. tapi saya tidak tahu apakah masih beroperasi atau hanya lansir saja.

  2. Diajeng says:

    Wah jan lucu tenan critane agek moco “ngooookk” unine klakson sepur wis mulai kepingkel pindo mbayangke rikolo semono nek sok numpak kreto, trus lha wong kreto kok diarani lapis, po wis nate ngicipi ta? he he lucu tenan, lha nek aku krungu olehe crito rak yo iso mrebes mili mergo ora iso direm le ngguyu. Tks tlah buatku tertawa hr ini. Slm Porjo sukses slalu.

  3. Maturnuwun, begitu indahnya cerita perjalanan panjenengan dengan sepur trutuk/klutuk dari Jenar ke Jogja/Jodjo, mengingatkan saya dikala kecil “ntlideske” paku buat pisau-pisauan, mengingatkan saya dikala Weekend saat jadi siswa TNI AU, mengingatkan saya dikala mudik bersama anak istri, semuanya penuh suka duka. Bravo Purworejo.

  4. mas sito says:

    Mas Widodo, aku jadi ingat dulu temanku dari Benco kerjaannya nlideske paku katanya untuk bikin pisau, sampai aku main ken Benco hanya untuk melihat cara nlideske paku. Purs

  5. mbah suro says:

    Nambahi cerito sedikit Mas. Ceriteranya beli tahu kalimenur, agar makannya lebih nikmat dan untuk mengusir rasa kantuk dalam perjalanan pasti pakai cabe rawit, karena sangunya ‘cupet’ tahu yang dibeli hanya 2 potong dan kebetulan ndak bawa air minum pula.

    Supaya ndak kepedesan diawali dengan
    cabenya dulu diceplus, baru tahunya dimakan belakangan, cabe rawit besar dipegang tangan kiri dan sudah diceplus, tiba-tiba tahu kalimenur yang dipegang ditangan kanan kesenggol orang sebelum masuk mulut, akhirnya tahu jatuh kelantai dan malu untuk mengambilnya. Bisa dibanyangkan seperti apa pedesnya itu mulut, megap-megap dan airmata drewesan, kontan rasa ngantuknya sirna dan wajah brubah menjadi merah karena menahan rasa pedas, untungnya kereta api segera berhenti di stasiun Njenar, jadi nggak begitu malu dilihat orang. Salam….

    • Gunarso Ts says:

      Kwa kwa kwa (tertawa gaya internet)……, lucu juga ya pengalaman Mbah Suro di kala muda. Tapi sayang ya Mbah, tahu Kalimenur yang “cakel/gempi” dan lezat macam tahu takwa Kediri ini kini tak ada lagi. Atau mungkin saya yang tak pernah ketemu lagi. Sebab sejak tahun 1971 hingga kini, saya tak pernah menikmati lagi tahu yang bentuknya tipis (4 x 10 Cm) dan sedikit gosong itu. Atau jangan-jangan tahu Kalimenur tak diproduksi lagi seiring dengan dihapusnya jalur KA Bumel Yogyakarta – Kutoarjo tahun 1974 (Kompas 14 Nov 2010). Matur nuwun Mbah Suro. (gts)

  6. ilyasa' muhtarom says:

    Pak gunarso (admin Blogger Purworejo Community) yth. Saya sudah kirim email berupa naskah untuk dimuat di blog ini. Terima kasih.

  7. titink riyani says:

    jAMANNE AKU SD TAHUN 78 DARI STASIUN PURWOREJO KE JAKARTA NUMPAK SEPUR TRUTHUK,MUNINE JES JES JO JAJAN,KATA BAPAKKU NGGAK ENTUK JAJAN,SAIKI SEPURE WIS RA ONO,PURWOREJO PUN SUDAH NGGAK DISINGGAHI KERETA API LAGI,PADAHAL WARGA PURWOREJO MASIH SANGAT MENGHARAPKAN.

  8. Gunarso Ts says:

    Mbak Titink Riyani, mungkin bapak Anda generasi di atas saya, sehingga tahu persis ungkapan “ja jajan, ja jajan”. Kata-kata itu awalnya dari buku bacaan SR (Sekolah Rakyat) tahun 1960-an. Nama bukunya WAOSAN DJAWI, karya L. Tedjosusastro.Di halaman 81 bab 18, ada dialog begini: SRI:,,Mas, mas djadjal rungokna swarane sepur sing pada ditunggangi iki, dja-djadjan, dja-djadjan, dja-djadjan.”
    Kemungkinan ayah Mbak Titink sewaktu di SR memakai buku itu, atau justru beliau menjadi guru? Semoga cerita ini menamah “sesusurupan”. Matur nuwun. (gts)

  9. Suryo says:

    Ceritanya cukup segar dan sangat realita .. bisa untuk hiburan.

  10. Mahisa says:

    Walau gk hidup di jaman itu, tapi kisah-kisahnya sungguh membuat angan ini berkhayal sesuai alur cerita.. Salam kenal buat pakdhe, budhe semua yg tertulis diatas, saya lahir di Purworejo, orangtua asli Jenar skrg tinggal di Yogya, bapak saya Poerwono, mbahkung saya dulu mantri namanya Tjokrodirjo…

  11. Untungsubagio says:

    Mau tanya Pak Gun….Pak Purbo itu apa tinggalnya di margosari ya…dia itu kalo ga salah saudaranya Pak Sastro Gimun mBakungan, memang keluarga mereka terkenal sugih pada jaman itu, tp pada jaman gestapu mereka pada dikirim ke pulau Buru

    • gunarso ts says:

      Benar, tinggalnya di Margosari Kec. Ngombol. Tapi dia tak punya adik bernama Gimun. Tahun 1970-an tinggalnya di seberang makam desa Margosari (Pulutan). Beliau meninggal sebelum tahun 2000, dan tak pernah ke Pulau Buru. Matur nuwun (gts)

  12. totok says:

    Ceriosipun sae sanget, Pak. Detail lan romantis. Damel mbayangke wedal semanten. Nuwun.

  13. sulis says:

    kereta kuda putih. seingat sy, waktu kecil dl kami jg menyebutnya sebagai sepur ‘lekar’, untuk memudahkan pengucapan tulisan berbahasa asing yg tercantum di gerbong kereta tsb. sy sdh mereka2 tulisan asli ‘lekar’ tsb, tp mentok. mungkin penulis msh ingat? thx.

  14. gunarso ts says:

    Yang betul Mas Sulis (No. 13), di tahun 1970-an KA Kuda Putih memang juga disebut “lekar” plesetan khas lidah Jawa dari “rail car”. Sampai saya kerja jadi wartawan Parikesit Solo (1972-1976) saya masih sering naik Kuda Putih Purworari – Mbalapan, ora mbayar. (gts)

  15. It is based mostly on scientific research , not ethics, faith or a preconceived notion of what a nutritious diet ought to be like.

  16. Bambangsud says:

    Entah kenapa,saat saya makan tahu yang ada dimeja, tiba2 saya ingat tahu kamimenur yang saya beli tiap kali naik sepur grenjeng dari Kenar ke Jogja atau sebaliknya.
    Salam dari Bandung

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net