Dunia hantu orang Jawa

  20 - Jul - 2011 -   meds -   11 Comments »

Bagi pengunjung rutin dan pembaca setia tulisan di Blogger Purworejo Community yang sebagian besar atau bahkan mungkin semuanya manusia merupakan orang Purworejo, tulisan yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin tak ada ikatan psikologis emosional dengan locus atau tempat kejadian dimana peristiwa yang yang akan saya ceritakan ini terjadi. Kendati demikian, topik yang akan saya angkat mungkin cukup dekat dengan pengalaman pribadi masa lalu para pembaca yang notabene adalah manusia-manusia Jawa seperti saya. Meskipun saya bukan orang Purworejo dan bahkan tak memiliki ikatan emosional apapun dengan daerah ini, ijinkan saya menyumbangkan tulisan ini. Dengan demikian, paling tidak sumbangan tulisan ini akan membuat blog ini memiliki artikel yang senantiasa di-up date dan topiknya pun semakin bervariasi.

Sebagai orang yang, Alhamdulillah cukup berpendidikan dan memiliki pemahaman keagamaan yang lumayan baik – bahkan Alhamdulillah sudah menunaikan rukun Islam kelima—saya termasuk orang yang tidak percaya adanya hantu. Namun pengalaman masa kecil saya di tahun 1970-an di sekitar tempat tinggal saya di Magelang, cerita-cerita mengenai hantu dan jagading lelembut waktu itu cukup akrab dan sangat sering saya dengar. Nah, sebagian dari pengalaman masa lalu itu lah yang kemudian saya tuangkan ke dalam tulisan di bawah ini. Selamat menikmati tulisan yang khusus saya sumbangkan untuk blog ini.

Gambaran umum atau konsepsi mengenai apa sih hantu itu bagi Masyarakat Jawa sendiri sering kurang jelas. Hantu yang dalam bahasa Jawa disebut memedi sering dipakai dengan pengertian yang sama untuk kata lelembut atau badan alus. Akar kata memedi adalah wedi, atau takut. Sehingga memedi dimaksudkan sebagai badan halus atau lelembut yang menakut-nakuti manusia. Sedangkan badan alus atau lelembut tidak hanya berupa memedi, tetapi juga mencakup pengertian yang lain seperti tuyul, setan atau jin.

Berdasarkan asal kejadiannya, mahluk halus menurut orang Jawa bisa dibagi dua. Pertama adalah mahluk halus yang memang benar-benar diciptakan oleh Tuhan sebagai mahluk halus. Mahluk halus jenis ini tinggal di dunianya masing-masing. Mereka memiliki susunan kemasyarakatannya sendiri. Ada yang menjadi raja, menteri, prajurit dan rakyat biasa.Ada pula mahluk halus yang berasal dari manusia yang sudah meninggal, Mereka ada yang baik, ada yang jahat. Ada yang suka usil, lucu tapi ada pula yang pemarah.

Masyarakat desaku , Desa Paremono, Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang — dan mungkin masyarakat Jawa umumnya — membagi pengertian hantu menjadi beberapa kategori. Pertama adalah memedi atau mahluk halus yang saat menampakkan diri di depan manusia akan membuat manusia tersebut merasa takut. Beberapa jenis memedi juga sering mengajak manusia masuk ke dalam alamnya. Jika berhasil dibujuk, manusia tersebut sulit sekali kembali lagi ke alam nyata.

Beberapa jenis memedi yang dipercaya dan sering disebut-sebut dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa adalah Wedon (pocongan), Jrangkong, Glundung pringis, Sundel Bolong, Wewe, Banaspati, Kromoleyo, Ilu-ilu dan sebagainya.

Kedua adalah lelembut. Jenis ini adalah mahluk halus yang dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit atau gila. Lelembut tersebut masuk ke dalam tubuh orang. Kalau orang tersebut tidak diobati oleh seorang dukun , “orang pintar” atau “wong tuwo”, ia akan mati. Ini bukan penyakit medis sehingga dokter-dokter moderen lulusan terbaik dari luar negeri pun tak akan bisa mengobatinya.

Hanya dukun sakti yang dipercaya dapat mengeluarkan lelembut tersebut dari badan si sakit. Dengan ilmunya ia bisa menunjukkan kepada keluarga si sakit dimana bersemayamnya lelembut. Bisa di bagian kaki, perut, leher atau punggung. Media pengobatan selain dengan pusaka-pusaka sakti seperti keris atau akik juga dengan berbagai macam ramuan dan sesajen. Anehnya, dukun-dukun yang ampuh biasanya justru tidak dianggap memiliki ilmu tinggi oleh tetangga atau masyarakat sekitarnya. Justru orang-orang yang datang dari jauh dan mendapatkan kabar mengenai keampuhan dukun itu melalui informasi gethok tular (dari mulut ke mulut) yang mempercayai keampuhan dukun tersebut.

Di Paremono sendiri terdapat beberapa orang yang dipercaya memiliki kemampuan mengobati penyakit yang disebabkan oleh lelembut .Terkadang mereka juga diminta tolong untuk melariskan dagangan (penglarisan), memenangkan seseorang dalam pemilihan kepala desa, membantu mendapatkan jodoh, atau bahkan saat ramai-ramainya undian berhadiah yang disebut SDSB, mereka menjadi tumpuan bertanya orang-orang yang ingin mendapatkan nomor “jitu”. Selain berpraktik di rumah, mereka juga sering dijemput untuk mengobati “pasien-pasien “ jauh.

Ketika saya masih kecil, saya bertetangga dengan Mbah Umbuk (alm). Saya tidak tahu persis nama yang sebenarnya. Dia seorang janda yang dipercaya banyak orang memiliki kemampuan lebih (daya linuwih) mengobati orang yang sakit karena lelembut. Teknik yang dipakai untuk pengobatan adalah melalui media perantara danyang. Sebelum melakukan pengobatan, Mbah Umbuk akan melakukan semedi sebentar untuk mengundang kedatangan danyang yang menjadi “prewangan” atau temannya. . Ubo rampe sesajen telah disiapkan oleh keluarga pasien berupa sebutir telur ayam kampung, tiga jenis kembang (kembang telon), segelas air putih dan sebungkus rokok kretek cap Djeruk, rokok yang diproduksi di Kota Magelang dan hanya beredar di seantero Kedu. Sambil komat-kamit melafalkan mantra, Mbah Umbuk akan menyulut sebatang rokok, kemudian diisap. Memasuki beberapa isapan, “danyang” berhasil merasuk ke tubuh Mbah Umbuk.

Seketika suara Mbah Umbuk yang sebelumnya cempreng akan berubah menjadi serak-serak berat. Mereka yang percaya mengatakan bahwa danyang yang merasuk ke tubuh Mbah Umbuk adalah seorang kakek-kakek tua. Setelah itu, tubuh Mbah Umbuk kemudian akan menghadap si pasien yang telah dibaringkan di amben. Keluarga pasien akan mengucapkan ,”Sugeng rawuh Mbah,” sambil menyebutkan keluhan yang dirasakan si sakit. Sambil memijat, “danyang dalam tubuh” Mbah Umbuk akan menyebutkan apa sebab dia sakit — misalnya dia sakit karena melewati sebuah tempat yang angker, sakit karena perbuatan (digawe) seseorang dan sebagainya.

Setelah itu, “sang danyang” akan menyebutkan dimana lelembut bersarang dalam tubuh dan akan dikeluarkan. Proses pengobatan selesai setelah “danyang” keluar lagi dari tubuh Mbah Umbuk. Selain mengobati penyakit yang diakibatkan oleh “ulah” lelembut, beberapa orang juga mempercayakan jasa Mbah Umbuk untuk memasang susuk pengasihan untuk menarik lawan jenis (mencari jodoh) atau membuat dagangan laris.

Jenis terakhir adalah tuyul. Tuyul sering digambarkan sebagai anak-anaknya mahluk halus yang sering dikonsepsikan anak-anak seumuran lima-tujuh tahun, berkepala botak, badan agak gemuk, tanpa mengenakan baju dengan sorot mata tajam. Mereka tidak menakut-nakuti orang, tidak menyebabkan sakit dan tidak mengajak orang “hijrah” ke alam gaib. Sebagaimana mahluk gaib, mereka bisa menghilang dan bepergian jauh dalam sekejap. Orang yang ingin kaya mendadak sering dipercaya memelihara satu atau beberapa tuyul. Mereka diperintahkan untuk mencuri uang dari orang-orang kaya.

Orang yang sering diisyukan memelihara tuyul dapat dilihat ciri-cirinya seperti bisa kaya raya dalam waktu sebentar meskipun pekerjaan atau profesinya kurang meyakinkan dan dia memiliki penyakit tertentu di bagian tubuh dan tidak pernah sembuh-sembuh, atau dia akan terus menerus memelihara tukang kayu/batu untuk memperbaiki rumah, meskipun rumah tersebut sudah bagus (kandang bubrah). Para pemburu tuyul (pesugihan) mendapatkan tuyul yang kemudian dipiaranya melalui proses riyalat atau semedi di tempat-tempat yang dikenal sebagai sarang tuyul seperti Bulus nJimbung dan Bayat (Klaten) , Telaga Kemusuk (Purwodadi) atau Gunung Srandil (Cilacap).

Dalam hubungan kemasyarakatan, isyu mengenai tuyul ini sangat sensitif dan bisa berakibat mengganggu tatanan sosial. Selain bisa menimbulkan saling curiga antartetangga (misalnya jika ada barang berharga hilang), masalah ini juga sering menjadi ekspresi sikap iri atau cemburu atas kesuksesan orang lain. Tetangga saya , misalnya, yang tinggal selang satu rumah oleh masyarakat di sekitar kampung saya dari saya kecil hingga kuliah di Jogja pada tahun 1980-an diisyukan memelihara beberapa tuyul. Gejala lahirnya tampak dari profesinya yang hanya menjadi tukang reparasi jam (jam tangan, jam weker dan sebagainya) di Pasar Muntilan. Di banding tetangga sekitar lainnya, tetangga saya satu ini memang cukup mencolok dari sisi kekayaan. Jauh sebelum orang lain punya TV, sepeda motor dan rumah gedong yang bagus, dia sudah memiliki semuanya. Pakaian yang dikenakan anak-anaknya serba bagus dan sang isteri memiliki perhiasan emas yang memenuhi pergelangan tangan, kalung dan giwang yang selalu berganti-ganti.

Kendari secara materi tergolong berlebih, tetangga saya ini tergolong manusia pelit. Tak hanya dia, di sekitar dusun kami, beberapa orang lain juga diisyukan memiliki piaraan tuyul. Beruntung seiring kemajuan pendidikan dan pemahaman agama yang meningkat, isyu mengenai tuyul ini sekarang sudah tak begitu menonjol lagi di masyarakat desa.

Ada satu jenis tuyul lagi yang dipercaya oleh sebagian masyarakat desa, yakni mentek. Merekapun anak-anak mahluk halus. Ada sebagian menyebut mereka sebagai saudara sepupu tuyul. Mentek tinggal di sawah dan dipelihara oleh seseorang. Oleh pemiliknya, mentek-mentek ini diperintahkan untuk menghisap bulir-bulir padi sawah tetangga dan memimdahkannya ke bulir-bulir padi pemilik mentek. Akibatnya, bulir-bulir padi pemilik mentek penuh terisi sementara bulir-bulir padi di sawah tetangga pada kosong (gabug).

Cerita hantu mentek ini sekarang hampir sudah tidak pernah terdengar lagi. Saat desa dilanda kekurangan pangan (paceklik) dulu, kabar keberadaan mentek ini sangat ramai. Juga kabar mengenai aksi hantu kromoleyo, yakni sekumpulan hantu yang tengah menggotong keranda mayat. Hantu ini muncul dinihari.

Cuma mereka bukan benar-benar hantu. Mereka adalah sekelompok orang yang mencuri padi yang sudah tua di sawah-sawah (ngrojeng). Untuk mengangkut padi hasil curian, agar orang-orang takut, mereka pura-pura seperti hantu kromoleyo yang tengah menggotong keranda mayat. Padahal sebenarnya di dalam “keranda” tersebut berisi penuh padi hasil curian.

Demikian sekilas cerita saya sekadar intermeso atau selingan. Cerita mengenai hantu yang akrab dengan manusia Jawa ini masih bisa saya sambung-sambung lagi dengan cerita-cerita yang lain yang Insya Allah lain kali bisa saya sampaikan di forum ini. Itu pun kalau Pak Gunarso selaku administrator dan para pembaca berkenan. Matur nuwun.

(Kiriman: Yasra Muhtarom, Magelang)

Category: cerita, Tags: | posted by:meds


11 Responses to “Dunia hantu orang Jawa”

  1. Saya menyambut “bergabung”nya mas Muhtarom di Blogger kita, saya yakin mas Meds selaku administrator juga akan merasa senang bahwa Blogger asuhannya kini makin “semarak” dengan tulisan2 yang bervariasi dan bahkan menarik penulis dari luar daerah Purworejo.
    Memang betul bahwa dari namanya saja blogger ini adalah dengan embel2 Purworejo, namun bila ada yang ingin bergabung, seperti mas Muhtarom ini,mengapa tidak, dan pasti akan lebih menaikkan “pamor” blogger kita.
    Untuk mas Muhtarom, selamat bergabung dengan keluarga Purworejo. Salam persaudaraan, Sw.

  2. ilyasa' muhtarom says:

    Terima kasih Pak SW atas sambutan dan komentarnya. Mudah2an tulisan saya yang saya tulis (seperti pernah dikatakan Pak SW) “sinambi kalananing nganggur” ini berguna, minimal mampu memberi hiburan bagi para pembaca. Insya Allah, lain kali saya bisa sumbangkan tulisan yang lain. Terima kasih.

  3. Gunarso Ts says:

    Wah, maaf Mas Muhtarom, bloger ini domainnya mas Sumedi, bukan saya. Tapi yang jelas, meski sudah berjarak 40 Km dari Purworejo Kidul, ternyata istilah nyolong padi di sawah juga sama ya. Di daerah Ngombol, istilah untuk itu juga “ngrojeng”. Tapi jika dilakukan anak-anak dan dalam partai kecil, disebutnya “uthut”. Kami dulu bersama teman-teman dalam usia 10 tahunan, juga melakuannya dengan senjata cangkang keong. Padi hasil uthutan itu lalu dibuat “ngurup” (barter) peyek dan tempe bacem termasuk rokok menyan, lalu satu batang diisep rame-rame.
    Hama sawah yang bernama “mentek” juga pernah kudengar di masa kecil, tapi sungguh baru tahu bahwa itu bagian dari orang golek pesugihan. Kata Senen temanku sekolah di SR (1964), di persawahan antara desa Walikoro – Sruwoh, hama “mentek” itu suka muncul di sekitar Buh Kethek, dalam wujud anak kecil telanjang. Mereka menginjak-injak padi petani sambil bilang: ja iwek (ngliwet) ja adang, ja iwek ja adang!
    Soal “thuyul”, di kampungku tahun 1970-an juga pernah ada warga yang “kampungan setan” yang kemudian menyebut nama “Mr X” sebagai pemiliknya. Ternyata, ketika si Mr X dihadirkan, mendadak korban kampungan setan itu sembuh. Konon, si tuyul itu pulang sambil ngamplok di punggung tuannya. Yang kuingat, Mr X ngomel-ngomel “wong kok cangkeme dha nggambleh” karena dia disebut sebagai pemilik tuyul.
    Begitulah, dalam pemahaman orang Jawa sebagaimana istilah Mas Muhtarom, konon ciri-ciri pemilik tuyul itu selalu berjalan sambil “mbanda tangan”, karena dia sedang menggendong ingon-ingonnya. Sebagai penangkal agar uang tak diambil tuyul, disarati dengan kacang ijo. Bahkan konon pula, mengikat yuyu di pojok rumah juga efektif untuk mengusir tuyul, karena dia akan sibuk main yuyu dan lupa mencuri uang. Cara pengusir lain, seret saja blarak pada bagian ujungnya, lalu dibawa berkeliling di seputar rumah pemilik tuyul. Konon tuyul yang berujud anak kecil telanjang itu akan segera minggat.
    Maaf Mas Muhtarom, komontar ini serba “konon”, karena dunia pertuyulan memang tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Terima kasih. (gts)

    • mbah suro says:

      Mas Gun Yth
      Minggu lalu saya pulang kekampung selama satu minggu, hampir setiap pagi saya jalan santai ke Pasar Ndemplo, Ngentak bahkan sampai ke Pasar Ngori, Banyu urip. Saya memang sering jalan sambil “mbondo tangan” karena saya anggap ini cara santai, pantesan banyak orang yang memperhatikan saya, mungkin dikira “nggendong tuyul”
      Untungnya nggak ada orang nyeret pucukan blarak keliling rumahku. Padahal dulu aku juga pernah jadi tuyul, tukang ‘nyutiki’ celengan…. Ha,ha,ha…

  4. Gunarso Ts says:

    Mbah Suro, terlepas dari masalah pertuyulan, jalan santai sambil “mbanda tangan” sudah menjadi kebiasaan orang. Bahkan di zaman Orde Baru dulu, kita memiliki seorang Wapres yang suka “mbanda tangan” ketika mau menghadiri sidang kabinet terbatas atau meninjau proyek di lapangan. Beliau adalah suwargi Bpk Sudharmono SH. Mungkin dengan sikap jalan seperti itu, bisa menemukan ide-ide baru. Dan kita semua tahu, suwargi Pak Sudharmono SH merupakan Wapres paling kreatif di masa Orde Baru, misalnya dengan “pengawasan melekat”-nya. Matur nuwun. (gts)

  5. ilyasa' muhtarom says:

    Wah nyuwun ngapunten dumateng Mas Sumedi. Dari awal saya kurang memperhatikan bahwa creator dan sekaligus admin di situs ini adalah Mas Sumadi. Matur nuwun buat Pak Gunarso atas komentar dan info-info tambahannya. Saya setuju kalau bicara soal hantu atau dunia lelembut serba memakai kata “konon” karena kita tidak pernah melihat buktinya dan memang sulit untuk membuktikan kebenarannya.

  6. sugeng tepang sedoyo ….
    matur nuwun wejanganipun bab hantu (wonten ing padesan kulo asmane medi)

  7. amat muchlas says:

    Kendati banyak yang tidak percaya berarti tidak memenuhi kriteria kepercayaan .
    Cerita dikit saja, Pada saat saya klas III st. swasta di purworejo, saya menjelang dewasa dan bertampang sok gagah istilah sekarang Mejeng di Prapatan yang konon dekat sekolahan dan pohon bambu, dengan tiba2 ada suara krosok2 dan nyrosot jatuk kebaah seperti barang nglumpruk , yang tadinya kukira tikus ternyata begitu nglumpruk bergelinding menjadi cumplung dan berubhah menjadi kepala manusia yang tak berambut, saking saya berani tak tendang tapi nggak kena malah menggelinding menuju kearah utara, dan kurang lebih 50m dia menggelinding ke pekarangan yang posisinya lebih tinggi daripada jalan, setelah dikejar dilongok diseberang pagar bumi tsb sudah berubah menjadi ayam dan ayak2 nya juga percis ayam sedang momong anaknya , saaya baik sambil ngomong dasar demit, semalam saya tidur paginya ada kejadian yaitu bakul getuk yang tinggal di surobayan, sakinh iseng dia nemu ayam yang masih dere atau menjelang bertelor, dia bilang lumayan untuk tambah blanjan, ditaruh ayam itu di senik atau bakul, setelah sampai tengah sawah makin berat kemudian diturunkan bakul tersebut, dan dibuka,astaga. ayam tadi sudah berubah menjadi kepala orang mringis sampil ketawa hi hi hi hi, seketika itu kaget bukan main jatuhlah dan pingsan tukang getuk tersebut, juga jatuh kelumpur sawah yang lagi dimusim kemarai jadi hanya sebatas bathok kepala masuk dalam lumpurdan pingsan, Kebiasaan orang desa saya pergi kesawah pagi2 melihat adanya bakul dan badan orang yang kepalanya nyungsep segera di bopong dibawa pulang kerumah dan diberikan air teh anget, tentunya setelah siuman, tapi……. setelah itu ditanya nggak mau cerita dan di ajak pulang mau diantar kerumahnya tidak mau melewati tempat nyungsep tapi ,………….malah milih lajur yang jauh, baru dia bisa cerita apa adanya,, stoplah jualan getuk,……..selang seminggu kebutuhan mendesak jualan lagi dan melalui jalan yang jauh, dan berangkatnyapun sudah siang, alhasil sampai pasar walau yang lain berangkat pagi, justru dia yang datang belakangan habis lebih awal,sampai kurang lebih 40 hari itulah sekelumit cerita ini dimuat bahwasannya jin setan itu ada dan ada juga yang lain yang saya alami di jakarta dan didesa. demikian

  8. Bagongkusdiharjo says:

    Iki crito pengalaman Paklik saya di jw Mas Amat..thn 73 Paklik dinas di Polres Pwr, pangkate kalo ga salah Serma, lha dasar paklik wonge tukmis utowo nylutis yen weruh wedokan yo pethakilan….Ndilalah malem Jum’at dheweke pas piket dinas malem di Pwr..dengan mengendarai Yamaha L2G th’73anyar kolo semono yo ngengsreng banget, berangkat dari Mbakungan jam 6 sore tekan lor pendowo jarene ono wong wadon arep melu bareng, dengan alasan kentekan bis ngalor…paklik yo seneng2 wae..dalam pikiran keno dinggo konco ngobrol
    Tekan Buh Wesi Cengkawak..bocah wadon mau kondo yen arep ketemu sedulure di Mangunrejo..ndilalah paklik yo nurut wae..mulo sepeda motore dikon menggok kiri metu pinggir kali, dumadakan sak pandelengane paklik ing ngarep kethok ono wong lagi ewuh, lampune padhang gumebyar…terus paklik diaturi lenggah, cah wadon mau mlebu ra ngerti parane, ndilalah paklik ngantuk banjur keturon….bareng tangi kedandapan, ra ngertiyo lokasi ono kuburan cengkawak…gageyan dheweke nyengklak motor, jalaran dalam posisi bawah sadar paklik kecemplung kali sak motore, ning wong kaline cethek yo ora opo-opo, mung klambi dinas lan spd motor glopot lendhut. Mbengi kuwi kiro2 jam 12 paklik ora sido dines malah mbalik ngomah dalam kondisi glopotan…dheweke crito yen entas ngalami kedadeyan koyo iku, aku meruhi dhewe ning ra wani komentar

  9. Untungsubagio says:

    Saya tertarik menanggapi tulisan Pak Yasra Muhtarom…karena cerita bab per “hantu”an ini kan gak ada habisnya..liyo deso liyo crito…
    Ini juga pengalaman Paklik saya thn 74…paklik dinasnya di Polres pwr, waktu itu umur paklik kira2 37 thn,pangkate kalo gak salah Serma, dasare polisi masih muda nek liat perempuan yo masih jlalatan.
    Hari kemis sore, pas dia dapat tugas piket di pwr, berangkat dari mBakungan jam 6 sore habis magrib, dengan mengendarai Yamaha L2super ngengsreng banget, dasare sepeda motore masih baru. Tekan lor pendowo ono wong wadon arep melu mbonceng, jarene kentekan bis ngalor, maka dengan senang hati paklik mboncengke wong wadon tadi. Sampe di buh wesi Cengkawak, wong wadon tadi bilang kalo mau mampir ke Mangunan, maka motor mbelok kiri turut pinggir kali irigasi arah mangunan, tiba-tiba dalam pandangan paklik didepan ada wong ewuh (hajatan) lampune padhang gumebyar, terus paklik diaturi lenggah mampir,dan perempuan tadi masuk kedalam rumah, tak terasa paklik ngantuk trus ketiduran, begitu bangun kedandapan ternyata dia berada di kuburan cengkawak..dengan pikiran yg gak karuan paklik nyengklak motor malah kecemplung kali irigasi, akhirnya malem itu ora sido dines malah baju dinas dan motor glopotan lendhut, pagi-pagi saya tanyain paklik..kok montore glopotan, dia cerita nek mau bengi mengalami kedadean seperti itu, disamping rasa kasian sama paklik tp di balik itu pengin ngguyu…ning rawani

  10. Suwun sampun bagi pengalamane

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net