CLOMPRING NGAPUSI

  20 - Jul - 2011 -   Mbah Suro -   9 Comments »

Melihat orang lain celaka mestinya kita wajib dan harus menolongnya, tapi sebaliknya jaman itu justru membuat orang celaka, pelaku malah bangga dan tertawa cekikak-cekikik. Alkisah ini terjadi pada tahun enam puluhan, dimana penulis bersama teman-teman sebaya melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Penulis berharap kenakalan ini tidak ditiru karena benar-benar bisa mencelakakan dan mencederai orang lain.

Begini ceriteranya, entah siapa awal mulanya yang punya ide dan memulainya. Ketika itu jalan raya yang ‘membelah’ desa Wingko belum diaspal, jalannya masih ‘kricak’ tetapi dibagian tepi kiri dan kanan jalan ada jalan setapak tanpa batu kricak yang enak dilalui dengan sepeda. Jalan setapak tersebut sering dilalui sepeda pengangkut padi yang dikenal dengan loper, biasanya loper padi ini ‘konvoi’ dua sepeda bahkan tiga sampai empat sepeda.

Didepan balai desa itu ada rumpun bambu wulung, clompring adalah kelopak batang bambu yang sudah kering dan mudah terlepas dari pohonnya, clompring bambu wulung pasti besar-besar, biasanya dipakai untuk membuat pekerjaan tangan murid SR dalam bentuk ‘topeng’ dilukis dan dilobangi bagian mata, hidung dan mulut.

Namun clompring itu disalah gunakan untuk membuat “jebakan” tanpa ada maksud untuk mencelakai orang lain. Caranya : meletakkan beberapa clompring secara berderet. Clompring yang pertama diletakkan melintang dijalan setapak yang mulus tanpa diisi batu, manakala dilindes sepeda loper padi hanya berbunyi kropraakkk, clompring kedua tetap kosong, sehingga kalau dilindes sepedapun hanya berbunyi kropraakk lagi dan pengendara sepedapun biasanya suka dan sengaja melindasnya karena bunyi “kropraakkk” tersebut. Lha clompring ke tiga dan selanjutnya didalamnya diisi dengan 2 buah batu bata besar. Begitu kelindes sepeda apalagi sepeda loper tetap bunyi kroopraak, tetapi sepeda langsung “nggronjal” dan “njombla” Otomatis karena didalam clompring ada batu bata besar yang tertabrak, sepeda yang dikendarai oleng dan geol-geol, akhirnya sepeda berikut muatannya ambruk dan pengendaranya glangsaran, malah kadang temangsang di pagar tanaman. (bhs Indonesianya temangsang ki apa tho yo?)

Si pemasang jebakan clompring biasanya umpetan di balai desa sambil mengamati siapa-siapa yang masuk dalam perangkap “Clompring Ngapusi” Sambil cekikak-cekikik menahan tertawa. Satu persatu “buruan” berjatuhan dan glangsaran, malah ada yang sampai ‘undung-undungan’ karena kejatuhan temannya sendiri. Suatu ketika Bu Guru SR lewat, kondur dari sekolah, tanpa sengaja “Clompring Ngapusi” itu dilindes juga, bisa dibayangkan akibatnya, Bu Guru yang pakai nyamping ‘nyaris’ saja jatuh, dia sempat turun dari sepedanya dan ngedumel sambil misuh-misuh sendiri. Dia tengok kekiri dan kekanan, pikirnya kelakuan siapa ini? Ini pasti anak didikku juga. Ampun Bu Guru…..

Sekali lagi Penulis melalui tulisan ini mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para “korban” atas “kenakalan” masa lalu dan penulis berpesan agar “Clompring Ngapusi” seperti ini jangan sampai dipasang lagi, terutama kepada generasi remaja, walaupun ‘lucu’ untuk dilihat dan dinikmati, namun dapat mencelakakan dan merugikan orang lain. Salaammm…..

Category: blog, Tags: , | posted by:Mbah Suro


9 Responses to “CLOMPRING NGAPUSI”

  1. Gunarso Ts says:

    Keisengan sekaligus kenakalan anak kecil seperti itu juga pernah kualami. Dalam usia 6 tahun aku diajak Tunggono dan Marno masang duri kemarung di jalan samping rumahku. Korban pertama ternyata Pakde Tarto, pemuda usia 17 tahunan kala itu. Marno temanku yang masih berada dekat lokasi, langsung dijewer kupingnya oleh Pakde Tarto. Meski merintih-rintih bukan pelakunya, terus saja dibetot kupingnya. “Ora perduli, wong kowe sing ana kene, ya mesthi melu.” Aku dan Tunggono di tempat persembunyian melihatnya dengan iba.

    • mbah suro says:

      Mas Gun
      Saya jadi teringat pernah “ketangguh” nyolong jambu klutuk didepan pasar Sirending, Wingko. Saya bersama Lik Sis baru metik 5 buah, tau-tau pemiliknya sudah ada didekat pohon. Saya disuruh turun dan diminta untuk menghabiskan jambu klutuk yang saya petik, padahal jambunya rasanya masih sepet sekali. Saya dan Lik Sis terpaksa menghabiskan jambu hasil “nyolong” sampai lenggrerekan karena kesereten. Ampun deh nggak lagi-lagi…..

    • Sunarno N says:

      mbah mau nanya posisi di jakarta timur dimana , kami terdampar di perumnas klender, bolehkah kami yang muda silaturahmi ketempat njenengan…????

      • Anston says:

        Mas sunarno perumnas klender, deket mbah suro, mbah suro kan di penggilingan.

      • mbah suro says:

        Monggo Mas Narno saya tunggu rawuhnya, saya tinggal di Jl. Pendidikan No, 25 RT 009/ RW 05 Kel. Pulogebang, tidak jauh dari Perumnas Klender. Gubuk saya dekat SMA 11 mudah dicari kok. Sebaiknya kalo mau ke gubuk saya tlp dulu di (021)70952727. Matur nuwun sebelumnya.

  2. agus says:

    temangsang,njomplang,glangsaran banyak lagi kesamaan bahasanya sama seperti desa mlaran tempat saya lahir,tapi kalau saya melihat keluarga priyayi didesa saya bahasanya lebih halus (totokromo) berbeda dengan bahasa keseharian orang2 biasa seperti saya semrawut…itulah keunikan orang purworejo kali yaa.kadang saya sering lupa bahasa kromo inggil sama orang yang lebih tua,seringnya pakai bahasa indonesia campuran nuwun sewu nggih….

    • mbah suro says:

      Yth Mas Agus
      Saya sengaja menggunakan bahasa guyonan dan ngoko dengan maksud agar mudah “dicerna” tanpa ada maksud pelecehan. Mari kita sama-sama sambil belajar berbahasa Jawa yang baik dan benar melalui BP ini.

      Sedikit boleh saya tambahkan dalam ceritera tsb, biasanya korban yang terjebak tidak marah, walaupun mereka jatuh, mereka justru tertawa geli sambil berusaha mengangkat sepedanya yang rubuh. Karena tidak disangka clompring ke tiga berisi batu bata. Hiiikkss….Nek kelinggan melu ngguyu dewe.

  3. Dwi yn jabrq says:

    Jadi teringat kenakalan jaman sekolah dulu…nyolong mangga di tmpt aparatur ds klandaran
    karena lari jadi di teriaki maliiiiing sm orang skampung,yg lucu nya lagi bapakku ikut pula ngejar…
    Indah mmng kenangan dulu d kampung halaman

  4. mas adjie says:

    mbah suro.. clompring… klo jaman kecil sy dulu th 70an akhir dipake/diselipke di jeruji sepeda supaya bunyinya kayak motor… udug..udug..udug.. keliling kampung awan2.. diseneni simbah.. brisik..!!! hehehe..

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Slogan “Purworejo Berirama” Kurang Inspiratif

29 - Apr - 2009 | masdodi | 34 Comments »

NAIK SEPOR

8 - May - 2008 | GUNIDA | 18 Comments »

BERNOSTALGIA DENGAN ALAM

27 - Jul - 2009 | massito | 4 Comments »

KOTA PURWOREJO TAHUN 70-AN

16 - Oct - 2011 | geblex | 58 Comments »

MMB Naik? Mari Berhitung

28 - Oct - 2014 | slamet_darmaji | 2 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net