BUDI DAYA ITIK (BEBEK)

  25 - Jul - 2011 -   Ratno -   13 Comments »

Pengembangan Ternak Itik “Bebek” . UPAYA menumbuhkan ekonomi kerakyatan seperti sekarang ini menjadi salah satu bagian visi dan misi dari ketiga pasangan capres- cawapres. Harapannya tentu untuk merebut simpati calon pemilih sebanyak-banyaknya . Namun, dibalik itu semua masih membuat kita bertanya-tanya apa bentuk riil upaya menumbuhkan ekonomi kerakyatan yang benar-benar bisa dinikmati oleh rakyat itu?entahlah , kita tunggu saja saat terpilih dan menjalankan roda pemerintahan nantinya. Sebenarnya wujud nyata upaya menumbuhkan ekonomi kerakyatan bisa digiatkan salah satunya melalui bidang subsektor peternakan. Misalnya, dengan mengembangkan sentra-sentra peternakan kerakyatan terpadu yakni mulai dari penyediaan bibit, pakan dan kemudahan pemasaran pada jenis-jenis ternak yang biasa dibudidayakan petani di pedesaan dan daerah masing-masing.

Sebagai contoh di Jawa Tengah dikenal ada 2 jenis itik “bebek” yakni itik Tegal (Anas javanica) yang banyak dijumpai di daerah Tegal, Brebes dan daerah sekitarnya (Pantura) dan itik Magelang di daerah Magelang dan sekitarnya. Sebagai bagian dari jenis unggas lokal, itik Tegal dan itik Magelang ini sebenarnya merupakan komoditi ternak unggas yang potensial sebagai penghasil telur dan daging (dwiguna) . Bayangkan saja, sumbangan ternak itik secara umum terhadap produksi telur nasional menurut Rusfidra dari Fakultas Peternakan Andalas Padang cukup signifikan, yakni sebagai penyumbang kedua terbesar setelah ayam ras.

Ditinjau dari tingginya angka permintaan produk telur-telur itik ini, tidak mengherankan jika Brebes sebagai salah satu sentra peternakan itik di Jawa Tengah masih kekurangan stok telur asin seperti yang dibahas dalam rubrik yang sama edisi (23/5 ). Masih Terkendala Hingga kini, usaha peternakan itik di Jawa Tengah khususnya masih terkendala beberapa permasalahan. Diantaranya usaha-usaha peternakan itik yang ada sekarang masih didominasi peternak skala kecil yang bersifat tradisional ekstensif (diumbar), kecilnya modal, sulitnya mencari bibit DOD (Day Old Duck) unggul serta pengetahuan peternak yang masih rendah. Tidak mengherankan jika produktivitas ternak itik di pedasaan saat ini masih rendah dan jauh dari harapan.

Pada itik Magelang misalnya. Secara fenotip dulunya mempunyai kemampuan memproduksi telur yang baik, bahkan beberapa literatur mengatakan kemampuan produksi telurnya dapat mencapai 250– 300 butir/ekor/tahun . Namun pada kenyataannya, menurut hasil penelitian Mahfudz dkk (2005) dari Laboratorium Ilmu Ternak Unggas FP Undip, sekarang ini sangat sulit untuk mendapatkan itik yang mampu bertelur diatas 150 butir/ekor/tahun. Hal ini akibat dari sistem perkawinan yang dilakukan oleh peternak masih secara alami, tidak adanya seleksi calon induk-pejantan unggul dan belum adanya program pembibitan (breeding) yang baik. Sehingga lama kelamaan kualitas itik Magelang baik secara genetik maupun fenotipe diduga menurun.

Disisi lain, sistem pemeliharaan itik secara tradisional ekstensif memiliki banyak kekurangan. Diperlukannya lahan yang luas, itik yang diumbar berpotensi mengganggu tanaman pertanian yang baru ditanam, membutuhkan tenaga kerja untuk pengembalaan “sontoloyo” , serta tingginya resiko itik terkontaminasi pestisida akibat petani yang sering menggunakannya untuk membasmi hama. Upaya Pengembangan Tujuan utama dari pemeliharaan itik adalah menghasilkan telur bagi itik betina produktif dan daging untuk itik jantan dan betina afkir. Produksi telur itik kadang bervariasi, antara lain dipengaruhi faktor umur (masa produksi), genetik (breeding) , pakan dan sistem pemeliharaan (manajemen).

Sudah saatnya sistem pemeliharaan yang selama ini bersifat tradisional ekstensif diganti dengan semi atau intensif. Selain itu, ada beberapa upaya alternatif pengembangan terpadu peternakan itik rakyat skala kecil sampai menengah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan populasi itik yang ada sekarang.

Pertama, model penyediaan bibit itik DOD (Day old Duck). Pada model ini yang menjadi sasaran adalah daerah sentra bibit itik agar mampu menyediakan bibit itik yang dibutuhkan peternakan skala kecil sampai menengah secara kontinyu. Sebagai penyedia bibit unggul, model ini memerlukan adanya sistem seleksi induk sebagai calon tetua dan inseminasi buatan (IB) untuk sarana perkawinan yang mampu mempercepat penyediaan bibit.

Kedua, model pelestarian plasma nutfah. Dalam model ini lebih diarahkan pada pelestarian ternak itik- itik berbasis lokal asli “murni” khas daerah asal masing- masing. Seperti itik Magelang dan itik Tegal asli yang nantinya sebagai sumber plasma nutfah unggulan propinsi Jawa Tengah, itik Mojosari di Jawa Timur, dan lain sebagainya.

Ketiga, model pengembangan sistem bagi hasil. Pada jenis model ini, peternak itik hanya menyediakan kandang dan tenaga kerjanya saja untuk memelihara itik dari pemilik modal. Sistem ini memerlukan kesepakatan yang saling menguntungkan antara peternak dengan pemilik modal.

Keempat, model Bapak dan Anak Angkat. Para peternak yang menjadi binaan nantinya meliputi peternak kecil dan menengah. Sedangkan sebagai bapak angkat diharapkan adalah para pengusaha peternakan, pengusaha Poultry Shop, BMUN, dan lain sebagainya. Bapak angkat dalam hal ini tidak hanya memberikan bantuan dana, tetapi juga aspek manajemen pengelolaan dan kepastian pemasaran produk peternakan itik yang dihasilkan peternak plasma nantinya.

Model-model tersebut saling terkait dan sangat mendukung tujuan pembangunan peternakan yakni meningkatkan produksi dan pendapatan peternak dalam rangka mewujudkan industrilisasi peternakan rakyat. Untuk menjamin suksesnya aplikasi model ini, perlu dilakukan penyuluhan intensif dan pembinaan secara terus menerus sampai terciptanya kemantapan usaha. Bimbingan dan pembinaan dapat dilakukan oleh perguruan tinggi atau instansi terkait melalui pembentukan kelompok-kelompok Tani Ternak Itik (KTTI).

Melalui upaya-upaya pengembangan terpadu ini, diharapkan para peternak itik ini nantinya semakin termotivasi, cepat berkembang, dan mampu meningkatkan taraf perekonomian keluarga. Dengan demikian, upaya pengembangan itik (bebek) berbasis lokal seperti itik Tegal, itik Magelang dan itik-itik lokal lainnya di Indonesia yang selama ini masih belum optimal bisa segera dioptimalkan

Category: blog, Tags: ,, | posted by:Ratno


13 Responses to “BUDI DAYA ITIK (BEBEK)”

  1. Gunarso Ts says:

    Wek wek wek wek wek wek, itik berjalan ramai, wek wek wek we wek wek, mari menuju sungai. Ha ha ha ha ha ha aku tertawa, ha ha ha ha aku melihat kamu….. mari kawan berloncat loncatan, satu dua hip kiri dan kanan……. Begitulah, setiap aku melihat itik, selalu teringat akan lagu Tari Bebek yang diajarkan Pak Guru Pramono di SR Margosasri (Ngombol) seputar tahun 1962/1963.
    Maka ketika Mas Ratno menulis artikel tentang bebek ini, otomatis ingatanku kembali ke masa lalu, ketika diajari lagu-lagu Tari Bebek. Dalam keseharian, karena ayahku juga punya sejumlah bebek buat “klethekan”, aku juga punya kewajiban cari keong di sawah atau bekicot di tembok-tembok lembab rumah orang. Setelah dapat satu ceret penuh baru pulang, untuk dicacah buat makanan bebek.
    Angon meri atau bebek kadang kala saya lakukan. Senangnya bila bebeknya “ngenthit”, bisa dijual untuk beli jajan. Tapi dukanya, mana kala meri atau bebek itu hilang salah satu, pasti diomeli bapak dan disuruh mencari sampai ketemu di tengah sawah. Bayangkan, di hamparan tanduran nan luas, saya harus pasang telinga dan mata, mencermati suara wek wek wek atau tit tit tit….. Bila ketemu, senangnya bukan main. Bila tak ketemu, alamat samblek bapak menanti.
    Telur bebek digoreng atau direbus, sangat lezat bagi bocah tahun 1960-an. Untuk masa itu, jarang bisa makan telur bebek rebus sebutir. Satu butir itu musti dibagi delapan. Dan ini biasanya ditemukan dalam acara among-among atau nggaoki di sawah. Saya tidak tahu Mas Ratno, apakah tradisi semacam ini masih ada di kampung. Terima kasih. (gts)

  2. RATNO says:

    Salam hormat kepada para sesepuh/admin blogger purworejo yang nggak bisa saya sebutkan satu persatu.Smoga blogger purworejo di jadikan wadah untuk menjalin tali silahturohmi warga purworejo khususnya.

    Oh memang benar pak Gunarso, di desaku (Rowodadi grabag)sekarang masih banyak yang budi daya bebek,ada yang sistemnya cuma membesarkan meri saja,ada khusus petelur saja.
    Masih banyak juga memelihara bebek kletekan.

    Pak Gun…teryata di kampung ku masih kental dengan tradisi-tradisi misalkan sesaji di sawah dan nanti di gaok anak-anak kecil.

    Pak Gun ternyata sangat mengetahui tentang kehidupan di kampung ,memang benar sekali tradisi yang pak Gun sebutkan sampai sekarang tradisi -tradisi masih terpelihara dengan baik .

  3. Mas Ratno, ingat Rowodadi jadi terkenang waktu ikut “ngarit” bersama kusir grobag kami tahun 30-an. Waktu itu istilahnya Benco-Rowodadi. Rumputnya banyak di rawa2 sebelah selatan desa (kali Lereng?). Sebagai anak usia 5-6 tahunan, kesenangan saya juga “ambil” mangga sepanjang jalan, langsung dipetik dari pohonnya melalui grobag. Kalau rumput sudah penuh,diatasnya digelari tikar, pulang sambil makan mangga “curian”, nikmat. Baru2 ini saya napak tilas ke Mundusari, kayaknya suasananya sudah berubah, atau karena saya berubah juga. Tambahan, Benco itu dulu terkenal karena dalang wayang klithik,namanya dalang Guno…sekedar nostalgia.salam, Sw.

  4. RATNO says:

    Pak Slamet Wiyadi benar sekali,daerah saya memang begitu keadaannya,apalagi di tahun-tahun itu di desa kami masih sering banjir,mungkin karna datarannya rendah.
    Mungkin juga desa kami desa termuda di kabupaten Purworejo .Teryata pak Slamet Wiyadi sangat paham banget desa kami.Ktrims pak sw.

  5. Rustam says:

    Saya dari desa jenar mas Ratno , sekarang tiap malen di depan pasar Jenar ada warung tenda yang menjual menu bebek goreng lho, rasanya uenak , atau mungkin karena biasa makan ayam goreng jadi begitu kena bebek goreng kok njur ‘nggalesi’

  6. Rustam says:

    Buat mbah Slamet kalau dari desa ada teman yang seangkatan mbah salmet atau tidak ? atau adik kelas misalnya?

  7. slamet riyadi says:

    PANBERS ANGKATAN 1987, SMP PEMBANGUNAN NGOMBOL 1984, SD PUCANGGADING 1981 LAN KONCO-KONCO KARANGKATLUN NGOMBOL PIYE KABARE KABEH AKU WIS KANGEN SAMPEAN I LOVE YOU

  8. slamet riyadi says:

    aku INDUT piye kabare konco2 Karangtalun po ra do mengudara yo

  9. badri says:

    salam kenal..
    saya pak badri, saya juga sedang bisnis bebek, saya butuh bebek perhari 1.000 ekor, kalau misal ada info hubungi saya ya pak..
    ini nomer saya 085226240610
    terima kasih.

  10. Bagongkusdiharjo says:

    Lho kok okeh temen mas…1000 ekor/hari…sampeyan ngingu bebek atau usaha restoran bebek goreng

  11. jumari says:

    saya cari DOD cukup banyak…apa ada stok di tempat bapak? hub saya segera (085865421456).trimakasih

  12. zaintt says:

    butuh pencerahannya para peternak2 bebek purworejo.
    saya dari bruno kpengen sekali budidaya bebek pedaging.kl berkenan hub sy 087888681231.utk pengarahannya..suwon

  13. ilham says:

    Jual Konsentrat Berkwalitas
    Konsentrat kami sangat berkwalitas dan Tersebar di beberapa kota di Jawa Tengah

    Adapun Bahan yang kami Gunakan sbb:
    1.Kepala Udang
    2.Nasi Sisa Hotel & Restoran Seafood
    3.Tepung Tulang
    4.Tepung Ikan
    5.Bungkil Kelapa
    6.Tepung Daun

    Harga 4000/kg Pemesanan min. 1 Ton
    Melayani Area Jateng DIY

    Contact Person
    082137012765 (Sdr. Ilham)
    Pin BB : 3263E1F8

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

BUDI DAYA ITIK (BEBEK)

25 - Jul - 2011 | Ratno | 13 Comments »

informasi kerukunan orang purworejo di kaltim

21 - Mar - 2009 | eko_juli | 5 Comments »

Mbah Tomo, Dukun Sakti Dari Desa Susuk

4 - Jul - 2011 | julian_putro_pardjo | 18 Comments »

Ular dan kehidupan manusia (1)

14 - Mar - 2014 | Adi Degreen | 6 Comments »

Purworejo, Kota Kecil, Barisan Bukit Menoreh

3 - Aug - 2007 | meds | 9 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net