Sepanjang Jalan Kenangan, Antara Jenar – Purwodadi

  1 - Jun - 2011 -   meds -   22 Comments »

SEJAK usia 13 tahun aku telah meninggalkan kampung halaman, desa kelahiranku, demi menggapai masa depan. Kurun waktu itu kulalui sedari masa-masa bersekolah di Yogyakarta hingga glidig mencari nafkah dari Solo sampai Jakarta. Tetapi desaku tercinta tak pernah terlupakan. Secara priodik hampir 6 bulan sekali, boleh dikatakan aku selalu mengunjungi kampung halamanku di Desa Pulutan Kecamatan Ngombol, baik itu ketika kedua orangtuaku masih lengkap, hingga mereka telah almarhum semenjak tahun 2008 lalu.

Membaca tulisan Pak Slamet Wiyadi tentang Pabrik Gula Jenar di Blogger Purworejo ini, kenanganku di masa lalu kembali bersliweran di depan mata. Demikian penasarannya, saat pulang kampung pertengahan Mei lalu, kusempatkan diri meretas jejak-jejak peninggalan masa lalu pabrik gula itu di Desa Plandi. Ternyata, Desa Plandi dewasa ini memang telah menjadi “kuburan” sejumlah pabrik yang pernah berdiri megah di masa lalu. Di samping PG Djenar itu sendiri, yang kemudian menjelma menjadi pabrik beras (PB) Sri Rahayu, pernah pula berdiri pabrik kayu lapis, pabrik tekstil, dan home industrie susu. Semuanya kini tinggal puing-puing, seng-seng karatan dan tembok-tembok bisu termakan lumut dan semak belukar.

Jadi “kuburan” pabrik
Di masa remajaku seputar tahun 1968-1970, saat liburan sekolah aku sering membantu simbok ngloper beras ke PB Sri Rahayu ini. Aneh juga rasanya, namanya pabrik beras tapi kenapa justru membeli beras penduduk, bukannya menjual? Tapi mungkin produk padi dari petani kurang mencukupi, sehingga untuk memenuhi target Dolog (Depo Logistik) Jateng PB Sri Rahayu terpaksa membeli beras jadi dari rakyat. Tapi yang jelas, dari pengalaman ngloper beras ke pabrik ini saya sempat melihat sebuah “manipulasi” kelas akar rumput. Seorang pedagang beras teman simbok, ketahuan mencampur beras itu dengan pasir. Untung dia tak diproses ke kantor polisi, kecuali hanya dibikin malu di depan banyak orang!


Sisa PG Jenar sekarang yang tinggal tembok dalam semak. Bekas bangunan beratap seng tersebut, dulu adalah pabrik tekstil. (Gts)

Di masa anak-anak, aku bersama adik-adik juga setiap Lebaran diajak bapak-simbok “balalan” ke rumah Siwa Sonto Plandi, yang rumahnya berada di kidul pabrik dan memiliki pohon kedondong yang berbuah lebat. Selain dapat sangu, pulangnya dioleh-olehi buang kedondong yang besar-besar itu. Lalu bersama teman-teman sepermainanku, aku pernah juga berburu manuk sriti di gorong-gorong bekas bangunan pabrik gula. Kami terjun di air yang berkedalaman seleher anak-anak. Tanpa merasa takut tergigit ular, burung sriti yang tertangkap aku tumpuk dalam topi pandan hingga mati percuma. Pulangnya jalan kaki sepanjang 7 Km menelusuri tanggul Kali Purwodadi.

Empat puluh satu tahun kemudian, PB Sri Rahayu milik Pak Sidik keturunan Belanda itu sudah tinggal tembok berlumut di tengah semak belukar. Kata Pak Purnomo Sidi Kades Plandi sekarang, bekas PG Jenar sudah berubah jadi sawah, demikian juga perumahan karyawannya. Di bekas PB Sri Rahayu, sekitar tahun 1980-1995 beroperasi pabrik tekstil. Lalu sebelah utara lagi, pernah berdiri pabrik kayu lapis “Lidi Manunggal Perkasa”, tapi hanya sempat beroperasi tahun 1999-2008. Pabrik kayu lapis tersebut menempati bekas areal pemerahan susu milik K. Mook, keturunan Belanda. Salah satu anaknya, menjadi menantu Pak Sengkan, pejabat P & K yang tinggal di Jenar Kidul.

Desa Plandi yang berluas wilayah 80 Ha itu secara geografis memang sangat strategis. Desa tersebut memangku jalan raya Purworejo – Yogyakarta, sehingga sarana transportasi sangat menunjang. Karena itu pula pemerintah Belanda di tahun 1908 memilih Desa Plandi sebagai areal PG Djenar. Yang membuat Pak Kades Purnomo Sidi heran, meski di wilayah “terdepan”, bangunan SD Plandi dewasa ini sangat tak memadai. Sejak dipugar tahun 1975, hingga kini tak pernah lagi dipugar. Kondisi atap gentingnya mengkhawatirkan, sementara kusen-kusen pintu sudah keropos. Meski jumlah muridnya tinggal 87 anak dari kelas I-VI, tapi SD itu masih menjadi tumpuan sarana belajar anak-anak Desa Plandi sendiri, Bragolan, Jenar dan Tlogoreja. “Kami sangat menunggu perhatian pemerintah,” kata Kades Purnomosidi.

Nunggu Bung Karno naik KA
Hingga tahun 1980-an, jalan raya Purworejo – Yogyakarta pada ruas Pendowo wilayah Jenar, merupakan titik awal orang kampung merasakan halusnya jalan beraspal. Soalnya, Pendawa ke selatan hingga ke Congot, atau Grabag ke arah barat, jalan raya di kampung semuanya masih berupa batu pating pendisil. Mencium bau apal tersengat matahari, ditingkah desing suara bis Baker (Yogya – Purworejo) atau Merdeka (Solo – Purwokerto) melaju, serasa telah hidup di kota.

Di pertigaan Pendowo ini dulu menjadi pangkalan dokar menanti penumpang yang turun dari bis. Pada masa itu belum ada ojek motor, termasuk juga becak. Maka sungguh pemandangan ajaib bagiku, ketika tahun 1958 Siwa Sikus pulang paksa dari RSU Purworejo dengan naik mencarter becak Purworejo – Ngombol sejauh tak kurang dari 14 Km. Kami murid SR Margosari juga pernah rame-rame “ndelok sepur” ke stasiun Jenar, lantaran ada berita Presiden Sukarno mau naik KA dari Jakarta ke Yogyakarta. Memang kami melihat rangkaian gerbong yang dihias di bagian depan, tapi seperti apa wajah Bung Karno juga tak pernah terlihat.

Di masa-masa sekolahku di Yogyakarta (1964-1970), di mana seminggu sekali tiap Kamis sore aku pasti pulang naik KA Bumel, biasanya simbok yang baru pulang dagang beras di Purworejo, telah menunggu di sebelah barat stasiun. “Tunggu sik, kae anakku mesthi bali seka Yoja,” kata simbok pada kusir dokar, bisa itu Sis Jemino dari Candi, atau Sutar Budeg dari Dukuh. Dekat simbok menunggu saya dengan dokarnya, dari semasa aku anak-anak hingga tahun 2008 lalu, terdapat bangunan warung makan yang bangunannya tak pernah berubah. Bangunan itu kini tak ada lagi, karena dirombak menjadi lebih besar dan bertembok.

Sebagai pedagang beras, simbok biasa berjualan di Pasar Jenar (Selasa-Jumat), Purwodadi (Senin-Kamis) dan Njoso (Rabu-Sabtu). Saya pernah membantu simbok membawa beras itu dengan cara disunggi, berjalan kaki potong kompas lewat bulak Walikoro tembus Jenar Kidul. Di sebelah utara pasar, ada tukang cukur bernama Gunawan. Aku senang potong rambut di sini, karena tempat duduknya bisa diputar. Seberang tukang cukur ini adalah toko kelontong milik Ing Tjwan, teman akrab Mas Bari. Mereka pernah ke rumah kos-kosanku (1964) di Yogya dengan naik spedel merk BSA.

Sebelah selatan Pasar Jenar, ada desa bernama Purwosari. Tahun 1960-an Pak Tomo lurah Njoso pernah buka studio foto “Kenangan” di sini. Kami seluruh murid SR Margosari berfoto di sini, untuk kelengkapan ujian akhir Mei 1964. Di halaman foto studio terdapat serumpun bambu kuning. Sekitar tahun 1962/1963, ranting-ranting bambu itu banyak dipotong anak-anak untuk dibuat kalung dan gelang dari untaian bambu kuning. Kala itu beredar takhayul, barang siapa tak mengenakan kalung semacam itu akan cepat mati. Aku pun menjadi tenang setelah mengenakan gelang bambu kuning itu.

Di Purwosari sudah dekat Purwodadi dulu terdapat toko buku “Holopis Kuntul Baris” milik Pak Badyo. Pada perkembangan selanjjtnya, toko ini pindah ke sebelah timur prapatan Purwodadi, seberangnya Toko Amir. Bapak sering membeli buku-buku Jawa di sini, begitu juga buku pelajaran SR-ku seperti: Sejarah Nasional karangan Anwar Sanusi, buku Ilmu Hayat Engkun Subari dan Ilmu Bumi karangan Dali Adiwikarta. Aku ingat benar, buku Ilmu Bumi itu kubaca malam hari hingga ketiduran. Pagi hari halaman sampulnya tertekuk karena tertindih. Betapa kecewanya aku.

TB “Holopis Kuntul Baris” juga menerima langganan koran dan majalah. Ketiga paklikku masing-masing berlangganan koran Kedaulatan Rakyat, Nasional dan Harian Rakyat, sedang bapakku majalah Waspada. Pakliku Siswosubroto juga berlangganan majalah Panjebar Semangat. Sekali waktu aku pernah dihajar bapak pakai blungkeng, gara-gara malas mengambil majalah Waspada di TB Holopis. “Maca gelem, njupuk nang nggone Badyo ora mangkat,” omel bapak.

Untuk tahun-tahun sebelum 1970, berlangganan koran pagi tapi baru bisa baca di sore harinya. Maklum, koran KR dari Yogya tiba di agen Badyo sekitar pukul 17.00, dibawa KA Bumel yang tiba di Jenar sekitar pukul itu. Maka Paklikku pun lalu menikmati berita-berita “basi” tersebut. Di masa itu, lembaran koran hanya 4 halaman, mutu cetaknya juga masih jelek, karena baru model intertype belum ofset sebagaimana sekarang. Tapi berkat koran-koran basi tersebut, ilmu pengetahunku di sekolah paling lumayan. Pernah Pak A. Ismadi (tinggal di Singkil Kulon) guruku bertanya, siapa pembunuh presiden John Kenedy 23 Nopember 1963 itu. Semua murid terdiam, hanya aku yang berani tunjuk jari dan menjawab yakin: “Oswald, Pak!”

Dawet Amat Rusdi
Masih berurusan dengan beras, di sebelah selatan SMP Bakti Mulya Purwodadi, aku sering ngloper beras utuk diselipkan di huller milik Dollah Saproni. Sambil terkantuk-kantuk aku menunggu baras itu hingga selesai diputihkan. Selanjutnya oleh bapak diloper ke Pasar Baledono Purworejo dengan sepeda, atau sering juga pakai dokar jika dagangan lebih banyak. Kadang aku juga membantu ngloper. Nanti pulangnya mampir di warung makan Kongde (berpantat besar) di Pangen. Sering kulihat para sopir truk itu menggoda pemilik warung yang semog dan lumayan cantik.

Seputar tahun 1960-1970, Purwodadi terasa sebagai “kota” bagi anak-anak kampung. Toko “Bawean” di pojok barat laut prapatan Purwodadi, merupakan toko kelontong terbesar di masa itu. Istrinya, Ny. Fatkol, nyambi berjualan kue bolu yang lezat sekali, harum dan terasa lembut bagaikan karet busa. Es dawet jualannya juga terkenal kelezatannya. Beberapa kali aku diajak Pak Tjokrosutikno ayahku jajan ke sini, sambil menikmati geplak atau kacang bawang. Bu Ribut Aryati dari Ngombol, yang kemudian dipersunting sastrawan Suparto Broto dari Surabaya, juga mengakuinya. “Es dawete Fatkol Purwodadi kae enak tenan ya,” ujarnya sekali waktu saat ketemu di Surabaya.

Di prempatan Purwodadi sebelah barat daya, tak jauh dadi toko milik Amat Solaki, selalu mangkal dawet Amat Rusdi yang sangat terkenal seputar tahun 1968-1980. Dawet ini selalu dijajakannya dengan bersepeda. Berbeda dengan dawet wetan kali yang pakai legen, dawet milik orang Ngguyangan ini pakai gula pasir. Ketika disedu berwarna merah dan kental. Amboi nikmatnya. Di kala ada pertunjukan wayang, baik itu dhalang Wandi, Gito maupun Timbul, Amat Rusdi pasti mangkal dalam gelap, dan larisnya bukan main!


Warung sebelah barat Stasiun Jenar ini, sedari tahun 1960 hingga 2008 bangunannya tetap bertahan seperti itu. (Gts)

Purwodadi sekitar tahun 1960, pernah memiliki gedung bioskop ‘darurat” di Mblembeng. Disebut darurat karena hanya beratap rumbia. Itu pun hanya bertahan beberapa tahun, karena kurang animonya masyarakat pedesaan. Hiburan orang kampung yang sangat digemari memang hanya wayang dan ketoprak. Di hari-hari Lebaran, di Pasar Purwodadi diselenggarakan pertunjukan ketoprak Sumbersari, pemainnya antara lain Sarwan yang bergigi emas, Uda tukang cukur yang piara monyet. Pertunjukan itu pakai karcis, dan setiap 30 menit berhenti untuk ganti penonton baru.

Pernah sekali aku nonton dengan cerita “Aryo Penangsang”, dengan roll-nya Sarwan. Belum puas menikmati pertunjukan itu, di luar aku mencoba mengintip suasana dalam tobong pemain. Wooo….., yang kulihat hanyalah Sarwan Aryo Penangsang masih mbrakoti ayam goreng dhadha menthok dengan sayur bening kubis.


Prapatan Purwodadi sekarang. Toko “Bawean” sekarang (kanan) kecil saja, kalah bersaing dengan toko lainnya. (Gts)

Begitulah kenangan masa kecilku hingga remaja, sepanjang jalan raya Jenar hingga Purwodadi. Masa-masa indah yang tak pernah kembali. Toko “Bawean” milik Fatkol kini hanya kecil saja, karena makin banyak pesaingnya. Pada Juni 1991 terjadi peristiwa tragis pada keluarga ini. Saat mantu di Pulo Bawean, banyak orang Purwodadi yang kondangan ke sana. Tiba-tiba musibah terjadi, di laut Jawa kapal itu bertabrakan dan tenggelam. Tiga rombongan dari Purwodadi jadi korban, yakni Bu Topo dan Bu Kamid orang Jenar. Paling tragis adalah nasib Pak Dono guru SR-ku di Margosari, mayatnya tak ditemukan, ditelan ganasnya ombak laut Jawa. (Gunarso TS)

Category: Nostalgia, Tags: | posted by:meds


22 Responses to “Sepanjang Jalan Kenangan, Antara Jenar – Purwodadi”

  1. Mas Gun, kalau ada lagu “Antara Anyer-Jakarta”, nostalgia mas Gun ini berjudul “Antara Jenar-Purwodadi”, penuh kisah kenangan yang sangat menyentuh, dari riwayat desa Plandi dengan kuburan pabrik2nya mulai pabrik gula sampai pabrik kayu lapis dan home industri Susu perah, yang semuanya gagal. Nampaknya Plandi sebagai lokasi pabrik memang “tidak cocok”, entah mengapa, mungkin “”danyang”nya kurang berkenan, walaupun secara geografis lokasinya sangat strategis dengan segala kemudahannya.Apa masih ada lagi yang mau mencoba?
    Kenangan “Sepanjang Jalan Jenar-Purwodadi” penuh dengan nostalgia yang sangat menyentuh. Walau saya hampir 20 tahun lebih tua dari mas Gun namun apa yang dikisahkan itu merupakan juga bagian dari kenangan masa kecil saya, tentang stasiun Jenar, warung di pertigaan, masih terpatri dalam benak saya. Di depan warung itu dulu ada usaha penggergajian dengan masang plang “Nampi Pedamelan Nggrantos”yang semula jadi teka-teki, ternyata maksudnya “nggraji”… Di pasar Purwodadi setiap Lebaran ada Kethoprak di los/bango yang diberi tobongan. Nontonnya pakai “masukan” satu sen, namun hanya satu adegan harus keluar untuk bayar lagi kalau mau nonton lagi. Lakonnya kalau tidak Ario Penangsang ya Menakjinggo/Damarwulan. Pemainnya banyak yang tangannya trotol2 dengan “panu”… Ya semuanya itu bagian dari masa kecil, termasuk kisah kasih sayang seorang ibu yang berjuang demi hari depan putranya. Saya bisa membayangkan betapa senangnya mas Gun ditunggu simbok di depan warung itu dan kemudian “nyemplo” ke dokar bersama pulang ke Pulutan.
    Bagi para Blogger Pwr pemula, tulisan mas Gun bisa dijadikan contoh penulisan kisah nostalgia masa lalu, yang berguna. Selamat mas Gun dengan tulisannya, semoga akan ada kisah2 lain menyusul. Salam.

  2. Gunarso Ts says:

    Terima kasih Pak Wiek, ternyata warung kulon stasiun Jenar itu sudah kuno banget ya, keberadaannya. Sebenarnya kisah seputar warung itu masih ada yang tercecer. Kala itu sekitar tahun 1974, aku melihat sedan kecil terhenti di palang pintu KA, 15 meter sebelah utara warung. Pengemudi anak muda dan penumpang lelaki temannya, tampak bercanda ria. Aku menyaksikan pemandangan itu, karena dokar yang kucarter menuju Pendowo juga berhenti di tempat yang sama.
    Setengah jam kemudian, saat saya naik bis Merdeka Purwokerto – Solo, di Mbakungan sebelah utara Krendetan, terlihat mobil sedan kecil itu terbakar, menabrak mohon mahoni di jalur sebelah barat. Kedua penumpangnya sudah berada di luar, dalam kondisi kejet-kejet meregang nyawa. Aku hanya tahu, mereka adalah mobil yang mendului andongku di kulon stasiun Jenar.
    Seminggu berikutnya ketika aku pulang ke desa, barulah semuanya jelas. Korban sedan mini itu salah satunya adalah putra bekel Purwodadi. Ceritanya, sang kakak baru datang dari kota membawa mobil. Si adik yang penasaran menjajalnya ke jalan raya. Di Purwosari, dia ngampiri temannya yang jadi guru SMA Budidarma tempat sekolah Martiyah (kembang kampung, adik lurah Daldiri) dari Sruwoh. Nggak tahunya itu menjadi ajakan maut, karena dia juga tewas dalam kecelakaan di Mbakungan tersebut. Betapa tragisnya kisah perjalanan anak adam. (gts)

  3. Anston says:

    Terima kasih pak Gun dan pak Wiek. Yang masih aktif berbagi pengalaman. Walaupun saya tidak mengalami di jaman2 tersebut. tapi saya masih bisa mendapatkan ceritanya.. 1 cerita yang belum pernah saya dapat sebelumnya.

  4. Setelah melihat foto kuburan pabrik itu, saya jadi teringat masa2 SMA dulu. Kalau gak salah, kebetulan di sebelah timur bekas pabrik gula dan pabrik kayu lapis itu adalah sekolah di mana saya “bertapa” mencari ilmu,
    SMA N 3 Purworejo, dulu dikenalnya SMA keduren(SMA N 1 Purwodadi). Sewaktu saya menjadi anggota Pramuka Dewan Ambalan Abimanyu-Srikandi SMAN 3 Purworejo (2004-2005), pihak sekolah selalu mengadakan acara di area bekas pabrik tersebut, entah itu jeritan malam, plonco (walaupun sudah dilarang), ataupun berkemah.Salah satu momen yang masih saya ingat waktu itu adalah ketika salah seorang adik kelas saya kesurupan tepat jam 1 malam saat acara perkemahan Dianpinsa(Penggladian pimpinan sangga) dimulai,lokasinya tidak jauh dari bekas pabrik itu, dekat jembatan di areal persawahan warga. Otomatis saya yang memang sedang bertugas menjaga pos Semaphore (cara untuk mengirim dan menerima berita dengan memakai dua bendera), kaget dan ikut ketakutan. Karena saking paniknya saya langsung menghubungi pembina melalui Hp, dan sialnya, karena jarak dari sekolah ke lokasi lumayan jauh, untuk menunggu pembina terlalu lama. saya bersama kedua rekan saya harus berjibaku menenangkan adik kelas saya yang sedang kesurupan, yaitu dengan mengikatnya di pohon waru. Karena saking kuatnya, cakar demi cakarpun bersarang di wajah saya. Akhirnya setelah beberapa lama kemudian, para pembina datang dan berhasil menenangkannya, setelah dibacakan sesuatu, entah itu apa.akhirnya dia sadar dan pingsan. lagi2, mungkin karena sedang ditimpa kesialan, saya bersama rekan dari Dewan Ambalan harus menggotongnya ke sekolah, bukan maen beratnya, karena memang badannya (maaf) gemuk. Mungkin itu sekilas kisah saya berada di tempat itu. Dan Menurut info dari salah seorang teman saya di Bandung, bekas kuburan pabrik itu pernah dipakai untuk foto cover CD salah satu band beraliran underground dari kota kembang, Bandung, dan salah satu personilnya adalah teman saya di Dewan Ambalan.Kalau gak salah nama band itu PRASASTI.Memang area pabrik itu diyakini warga setempat sangat angker, mulai dari daerah pabrik tekstil-pabrik kayu lapis-pemerasan susu-hingga dusun Persidi desa sumberejo.

    • Gunarso Ts says:

      Wah, hebat juga ya Mas Setyawan. Meski “fengsui” bekas PG Jenar itu kurang bagus, tapi dalam kondisi sebagai “kuburan” ikut menghiasi blantika musik Indonesia juga. Di jaman tahun 1970-an, seingatku di Keduren itu baru ada SD. Lalu aku pun ingat kenangan masa lalu, saat Minarsih temanku SR Margosari, dititipkan di sebuah rumah seberang SD Keduren, gara-gara mabuk saat hendak bertamasya ke Kampung Laut (Cilacap).
      Kala itu bulan Juli 1964, murid SR Margosari mengisi perpisahan murid kelas VI tahun ajaran 1963/1964 bertamasya ke Kampung Laut, dekat Segara Anakan. Truk rombongan tamasya itu baru berangkat pukul 11.00, eh baru sampai Pendowo Minarsih temanku sudah luntak-luntak mabuk. Pak Saryono guru kelas III segera ambil inisiatip. Temanku yang malang itu dititipkan di rumah kenalan Pak Sar, yang letaknya di seberang SD Keduren. Rombongan tamasya itu pun melanjutkan perjalanan.
      Pulang tamasya sekitar pukul 22.00 malam, barulah Minarsih dijemput diajak pulang. Ketika ditanya orangtua tentang kesan-kesannya bertamasya di Kampung Laut, jawab Minarsih mungkin: “Kampung Laut itu, ya……kepala muter, pusing-pusing dan muntah.” Belakangan, Minarsih menikah dengan Tugiman anak Kedondong. Entah sekarang mereka di mana. Mungkin ada pengunjung blogger ini yang mengenalnya? (gts)

  5. mas sito says:

    Jalur Jenar purwodadi, th 60-70 sudah laksana kota karena jalan sudah diaspal, satu dua kendaraan sudah ada yang lewat, ketika itu yang dominan dokar. Apa yang ditulis mengingatkan aku waktu kecil, ketika itu sekitar th 66 aku masih kelas 5 SR. kalau diajak ke Jenar rasanya sudah kekota, kemudian sekali-sekali ke stasiun jenar. Waktu pertama melihat kereta dari dekat, rasanya mau kesedot angin kereta, itulah hiburan yang ada waktu itu. Mudah mudah an tulisan-tulisan seperti ini membuat seolah-olah menjadi muda kembali. Terima kasih Pak Gunarso, tak tunggu tulisan berikutnya. Mas sito.

    • Gunarso Ts says:

      Mas Masito masih mengalami sepur “endas ireng”? Kali pertama diajak orangtua ke Yogya (1960) untuk melihat bon-bin Gembira Loka, semalam tak bisa tidur karena membayangkan besok pagi bakal naik KA dari Jenar ke Yogya. Dalam gerbong KA gelap gulita, tak ada penerangan.
      Empat tahun kemudian, setiap seminggu sekali aku naik KA ke Yogya atau ke Jenar, karena sekolah di kota gudeg. Kala itu aku berusia 13-14 tahun, beli karcispun masih boleh separo, dengan harga Rp 7,5.- Kondektur tak pernah menegurnya, kecuali hanya meledek khas orang Jawa: “Wis arep njaluk rabi kok tuku karcis separo!” Para penumpang lain tertawa, tapi minggu berikutnya tetap kembali beli karcis separo.
      Sering pula pulang dari Yogya naik KA Grenjeng (barang), sehingga penumpang nyampur dengan muatan aneka macam. Pernah gerbongku ada kacang karungan yang bedah, sehingga isinya berantakan. Sebagian kecil lalu “kuamankan” dalam tasku. Lumayan, jalan kaki Jenar – Ngombol tengah malam sambil nyisil kacang mentah. (gts)

      • HUGENG says:

        Sepur Grenjeng enak tenan Pak, saya pertama naik tahun 1981. Saya waktu itu kelas 1 SD. Bersama 2 teman dari Pendowo Alm Kelik (Anak Pak Tris andong) dan Agung (anak Pak Tumpal). Kita bertiga naik kereta Grenjeng ke Jogja, tapi di Wates tertangkap petugas, sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Jogja. Dan kebetulan salah satu dari petugas tersebut ada yang mengenal keluarga saya ( Kakek PAIKOEN Pendowo, waktu itu belum pensiun sebagai POLISI).
        Saya diberi makan Gudeg stasiun Wates, dan di pulangkan ke Pendowo dengan Bus SEDAR.
        Seminggu berlalu, aku dan Kelik mencoba ke Jogja kembali, Ingat, hati-hati di Wates jangan sampai tertangkap lagi!!!
        Horeeee sampaiii Jogja, Keberhasilan ini juga tidak menyenangkan. Petugas POLISI yang berjaga menangkap kita bertiga, dan kita dibawa ke Asrama POLISI PATHOK. Dengan dikawal 2 orang POLISI, saya dibawa Kantor POLISI PATHOK.
        Setiba disana saya terkejut ketemu dengan kakek PAIKOEN dan KARNO. Ternyata data diri saya sudah tercantum di setiap stasiun, apessss
        Minggu ketiga saya ulangi lagi, kali ini cukup sampai Temon aja. AMAN….

        • Gunarso Ts says:

          Mas Hugeng, Anda menyebut Asrama Polisi Pathok, mengingatkanku jaman sekolah di PGA Gedong Tengen (1964-1967), belakang asrama polisi tersebut. Setiap hari saya potong kompas, melewati jalan di kompleks asrama itu. Lalu suatu siang sepulang sekolah, saya melihat lelaki tua berpakaian Jawa lengkap dengan destarnya. Saat ketemu perempuan muda, langsung dipegang perutnya.
          Lalu katanya: “Wis meteng durung ndhuk?” Perempuan itu menjawab sopan: “Dereng mbah!”. Ee, tiba-tiba si kakek itu menjawab sambil cengengesan: “O, ya suk tak tengi.” Kontan si wanita menyumpah-nyumpah. “Oo, lha wong ediannnnn!”
          Kasihan juga ya petualangan Mas Hugeng. Saya tak menyangka bahwa 15 tahun berikutnya setelah generasi ABG saya, penjagaan KA Grenjeng begitu ketat. Di masaku dulu, asal memberi uang ala kadarnya pada tukang rem di bordes, semuanya aman-aman saja.
          Lucu juga ya, naik KA gelap diperlakukan seperti “teroris” saja, data-datanya sudah masuk file kepolisian. Atau juga mungkin karena nama Anda, yang mirip-mirip Kapolri kita di era tahun 1970 (Jendral Pol. Hugeng Imam Santosa), sehingga polisi merasa perlu mengawal Anda. He he he……. (gts)

  6. Koreksi Mas Gun , Kecelakaannya didukuh Wirontakan (Krontakan) ,sebelah selatan dukuh Cimanah, Kel Bragolan. Salam

    • Gunarso Ts says:

      Terima kasih atas koreksinya, ternyata daerah itu yang benar namanya Krontakan. Sedari kecil saya sering dengar nama “krontakan”, tapi juga belum tahu persis lokasinya. Barangkali Mas Wahid Pamudji ikut menjadi “saksi mata” peristiwa tragis itu, saya tunggu untuk berbagi cerita di ruang ini. Matur nuwun! (gts)

      • mungkin ini sepenggal cerita kebakaran mobil di dukuh krontakan, padamalam itu pada saat saya dan ibu sedang ngikat padi yang habis panen tiba-tiba terdengar bunyi kedobrak disertahi ledakan yang keras , saya langsung berlari ingin tahu apa yang terjadi ternyata mobil nabrak pohon mahoni dan langsung terbakar, katanya cerita orang, bahwa adiknya bukan pinjam mobil kakaknya tetapi ngambil disaku celana kakaknya yang sedang tidur karena kecapean.sekarang pohon mahoniitu telah ditebang,dan ada tanah dipinggir jalan/ disebelah kejadian tersebut diwakafkan untuk dibuat mushola.

        • Gunarso Ts says:

          Makin lengkap saja kisah tragis di Krontakan itu. Tapi jelas waktunya bukan malam hari, melainkan siang hari sekitar pukul 09.00. Soalnya saya melihat dengan jelas ketika dua penumpang sedan kecil itu berketawa-ketiwi di kidul teteg sepur, menunggu KA melintas. Terima kasih Mas Wahid Pamudji, atas tambahan informasinya. Saya tunggu yang lain. (gts)

  7. ilyasa' muhtarom says:

    Cerita-cerita masa lalu seperti ini sangat menginspirasi dan menarik dinikmati ‘sinambi rikalane nganggur’. Saya yang termasuk ‘orang luar’ dan tidak bersentuhan sama sekali dengan peristiwa dan lokasi cerita dan kejadian saja merasa ikut hanyut. Salam kenal nuat Mas Gunarso. Kapan2 saya kepingin ikut menyumbangkan tulisan di Pos Kota-nya Mas Gun. Matur nuwun.

    • Gunarso Ts says:

      Terima kasih Mas Muhtarom, jika tulisan ini bisa bikin Anda “hanyut”. Yang jelas aku menulis di sini karena ingin ikut meramaikan blog ini, dengan tulisan-tulisan spesifik Purworejo kampung kelahiranku. Cuma karena saya termasuk “cah wingi sore” ketimbang generasinya Pak Wiek, nilai kesejarahannya sangat minim. Mas Muhtarom, tulisannya di PK saya tunggu, mungkin punya bahan untuk “Sental-Sentil” atau Nah Ini Dia. (gts)

      • Mas Gun, kalau kelahiran th ’50 merasa “cah wingi sore” itu tidak benar samasekali.Mas Gun adalah generasi kini sedang saya adalah generasi masa lampau, tulisan mas Gun mewakili masa kini, sedang tulisan saya mencerminkan masa lampau… Salam.

  8. Subari says:

    Waaaah matur nuwun dumateng Pengersanipun penulis, kulo ndherek maca seratan Nostalgia panjenengan, kulo lare sukomanah namung sak meniko manggen wonten bandung, kulo lahir ing dusun sukomanah ugi sinau dumugi smp negeri 1 purwodadi (status negeri tahun pertama), kula tasih kemutan rumiyin ugi asring ndherek simbok kulo kulakan dateng pasar Baledono mawi dokar saking sukomanah dateng koplak purworejo. Tempat-tempat kadosdene Toko Ing Tjwan (kulo nyebat Ingyan)penggilingan Pak Dolah, Toko Ahmat Solaki, dawet Pak Rusdi, Toko Bawean (kleresan putrane Pak Fatkol Mas Suhari rencang SMP sak kelas) Toko Pak Badyo (Holopis KB) Toko Photo Pak Amir, Warung Baso Mas Situr sebelahe Pak Darmo Polisi (Ramane Mbak Heni Wulandari) he…he…he.. kulo sempet naksir, Waaaah pokoke jian kulo saged ‘flash back’.

    Perkawis wayang kulit kulo kleresan sak meniko ndherek dados pengurus paguyuban pecinta wayang mapan wonten bandung, kemutan rumiyin nate wonten dhalang Pak Wandi (Ketangi) malah kulo gertos Ramane Pak Pujo asring dipun tanggap bersih dusun sukomanah, kulo cuntel ing babagan wayang kulit gagrak kedu meniko, kulo sedyo ngunggah dumateng internet wayangprabu.com menawi wonten vidio utawi audio nipun dalang-dalang kedu, awit radi trenyuh kepaten obor perkawis wayang gagrak kedu. Mbok menawi para kadang ‘pembaca’ komen meniko wonten ingkang kagungan kaset utawi video dalang-dalang wayang kulit gagrak kedu saget sesambetan kaliyan kulo lumantar e-mail roni.subari@yahoo.com utawi hp 087 821 232 070, Ing pangajab saged ndherek nguri-uri wayang kulit gagrak kedu supados saged lestatntun saged ka warisaken dumateng putro wayang ing jaman sak mangkeh.

    Malah kulo gadah cita-cita menawi ke-umuran bade ndherek upload munculaken daerah-daerah ing sak indenging Purworejo ingkang tasih ngrumat seni budaya tradisional, supados Purworejo saged anggadhahi ‘nilai’ plus ing babagan kabudayan.Mtr nuwun

  9. Gunarso Ts says:

    Mas Subari, saya dulu juga suka nonton dalang Pudjo, yang biasa disebut dalang Sukrowo atau Suwing. Meski suaranya agak bindeng, tapi lucunya minta ampun, tak kalah dengan dhalang Gito almarhum. Tapi soal pedalangan gaya Kedu itu yang bagaimana sih? Setahu saya di daerah kita juga berkiblat pada gaya Yogyakarta. Nah, kebetulan aku memiliki kaset dalang Hadisugito lakon “Gatutkaca Krama”, rekaman Radio Suara Kenanga Purworejo. Waktu itu saya memang nanggap kidalang di Pulutan Kec. Ngombol, dalam rangka perkawinan adik saya, Maret 1996. Tapi masih bentuk kaset 8 set. Kalau bisa, nanti saya ambil di Radio P2C karena sudah lama dipinjam di sana.
    Th 1974, saya dulu pernah motret makam keramat di pemakaman tengah sawah Ds Sokamanah (Kyai Napsoka),untuk konsumsi skm Buana Minggu, Jakarta. Kata orang, lokasi itu angker, tp karena tak tahu, aku tak takut kesambet. Kata orang kampungku th 1950-an, dulu ada orang desaku beli rumah dari sini. Saat empyak dipanggul rame-rame, sebentar-sebentar ditemukan ular nyelip di empyak tersebut. Barangkali Mas Subari bisa menambahkan ttg kisah Kiai Napsoka itu. Trima kasih. (gts)

  10. yondha ,, anjelo says:

    WAH critanya hampir sama ma aq nie ,,,
    aq jga skarang tingal di jakarta , nma desa q jenar lor ,,,,

    salam buat teman teman alumi smp n 27 tahun 2004 ea ,,,
    smoga sukses slalu ……

    saya udah jarang k jenar ,, nie bsok pinggin pulang , pingi nostalgia ajha lah ,,,,,,

    • tari says:

      kalau lulusan smp tahun 2004 berarti sama kaya ane dunk? jenar lor juga,,,saya juga sudah jarang sekali ke jenar lor, numpang lahir numpang besar setealh itu meningalkan kota kelahiran keliling indonesia..he

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Puasa dan Main Long Bumbung

1 - Aug - 2011 | meds | 14 Comments »

Naik KA Bumel Jenar – Yogyakarta

14 - Jul - 2011 | meds | 16 Comments »

Jumpa Setelah 70 Tahun Pisah

19 - Apr - 2009 | slamet wijadi | 56 Comments »

Rumah dan Kenangan masa kecil di desa

4 - May - 2009 | slamet wijadi | 73 Comments »

Radio, hiburan anak kampung tahun 1970-an

5 - Nov - 2011 | Gunarso TS | 22 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net