KENANGAN NGLONJO DARI WINGKO KE PURWODADI

  27 - Jun - 2011 -   Mbah Suro -   8 Comments »

Sewaktu saya masih duduk dibangku SMP Bhakti Mulia Purwodadi tahun 1965/66, banyak kenangan baik kenangan manis maupun kenangan pahit yang saya alami. Setiap hari saya berkendaraan sepeda ontel egrek-egrek dengan kedua ban depan dan belakang yang sudah kampasan karena harga ban sepeda yang sangat mahal, sepeda tersebut dengan setia menemani perjalanan saya dari Wingko ke Purwodadi pulang pergi selama hampir dua tahun.

Ada kenangan pahit yang tidak dapat terlupakan pada saat harga minyak tanah mahal, saya mendapat tugas tambahan dari Pakde yang saya ‘dereki’ sepulang sekolah dari Purwodadi saya disuruh mampir membeli minyak tanah di agen dekat Pasar Jenar, berbekal wadah jerigen bekas oli yang sudah karatan saya membeli minyak tanah sebanyak 4 liter. Jerigen isi 4 liter saya gantungkan di stang sepeda, pada saat itu saya giliran masuk siang hari, pada perjalanan dari Jenar ke Wingko sore itu cuaca sudah mulai gelap. Jalannya masih kricak belum diaspal seperti sekarang, begitu sepeda kegreol batu besar jerigen minyak kepentok andang sepeda dan jerigen mendadak bocor, sehingga minyak mengalir keluar dari jerigen.

Saya bingung mau ditambal pakai apa wong ditengah bulak dan saat itu musim kemarau, lempung dan sabun batanganpun tidak mungkin ada. Saya mencoba menutup kebocoran itu dengan jari tangan dan terpaksa sepeda saya tuntun perlahan-lahan. Rasanya jari semakin ‘keju’ dan tidak tahan lagi menahan kebocoran jerigen, suasana semakin gelap karena menjelang magrib.

Perjalanan dari Jenar sampai Wingko terasa semakin jauh karena terbebani dengan rasa bersalah dan tanggung jawab serta takut dimarahi Pakde saya. Akhirnya perjalanan pulang sampai dirumah sekitar jam setengah tujuh malam, baju seragam sekolah basah dengan keringat, perut rasanya sudah lengket karena menahan lapar dan stress. Untung Pakde saya memaklumi dengan apa yang terjadi dan saya bersyukur karena tidak mendapat amarah dari Pakde.

“NGLONJO” adalah perjalanan dengan naik sepeda dari Wingko ke Purwodadi merupakan perjuangan dalam menuntut ilmu. Resiko kepanasan dan kehujanan bahkan petir saat melalui Ngangkruk Ketip menjadi terbiasa, walau ditempat tersebut sering terjadi tindak kejahatan berupa rampok dan begal, namun saat itu saya tidak pernah merasa takut. Setelah berjalan hampir dua tahun saya merasa terbebani dengan perjalanan NGLONJO tersebut. Akhirnya saya memutuskan pindah ke SMP yang lebih dekat, saya pindah ke SMP Mahaenis di Wunut sampai tamat walaupun tetap nglonjo juga tetapi tidak terlalu jauh.

Masih teringat beberapa guru dan murid di SMP Bhakti Mulia Purwodadi tahun 1965/66 antara lain : Kepala Sekolah saat itu Pak Untung Suparno, Pastor Thomas dan Pastor Nero pengajar agama katolik dengan speda motornya merk NSU yang ‘nglonjo’ juga dari Purworejo, Ibu Sri Mulat guru Bahasa Inggris yang pinjam kamus bahasa inggris saya sampai sekarang lupa mengembalikan, Pak Suparjo guru olah raga yang sepatunya paling cepat rusak dan boros terutama bagian tungkaknya. Juga Pak Sudiyono guru Aljabar yang agak “kemayu” Adapun teman seangkatan yang masih saya ingat : Sukotjo dari Kembang Kuning, Heruwati dan Sugondo dari Jenar Lor, Sartono, Sujadi dari Krendetan dan Sunaji dari Wingkoharjo.

Lengkap sudah kenangan saya ‘nglonjo’ dari Wingko ke Purwodadi yang berakhir dengan kelulusan saya di SMP Marhaenis Wunut. Sungguh kenangan ini tak akan terlupakan sampai diakhir hayat.

Category: blog, Tags: | posted by:Mbah Suro


8 Responses to “KENANGAN NGLONJO DARI WINGKO KE PURWODADI”

  1. Gunarso Ts says:

    Wah, kasihan juga ya, Mbah Suro. Saya bisa membayangkan betapa repotnya kala itu. Tangan kanan pegang setang sepeda, tangan kiri menutup pet berisi lenga patra. Pikiran pun sutris karena takut didukani Pakde. Kaki pasti juga lempoh karena terpaksa jalan di krakalan menjelang malam. Tapi bagaimanapun juga, itu kenangan manis yang tak terlupakan.
    Mbah Suro masih beruntung, ada sepeda untuk sekolah. Jaman itu bila ada uang cukup, beli ban sepeda biasanya merk Dunlop, yang ada garis merahnya memanjang (super). Selama saya sekolah di Jogya, tiap hari jalan kaki sepanjang 2 Km. Baru punya sepeda torpedo Simpleks ketika paklikku meninggal. Bapak di rumah memang hanya memiliki satu sepeda, itupun untuk ngloper setiap hari membantu simbok bakul beras di Pasar Jenar, Purwodadi dan Njoso.
    Masih ingat nggak Mbah Suro, di tahun-tahun 1966/1967 sebelah utara Pasar Jenar terdapat bekas bangunan lama yang tinggal tembok-temboknya saja. Tempat itu ada yang “mbaureksa”, lelaki gelandangan rambut gimbal. Setiap melewati tempat itu, pasti terlihat si gelandangan itu duduk bengong, seakan menerawang masa depannya yang gelap.
    Mbah Suro ternyata berasal dari Wingko, ta? Wingkomulya, Tinumpuk atau Harjo? Beberapa kali aku pernah ketemu priyayi Wingko dalam perantauan. Saat hendak mewawancarai janda-janda TNI yang suaminya jadi korban GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Surabaya, pejabat Humasnya di TNI-AL ternyata orang Wingko. Karena merasa orang sekampung, wawancara makin mengalir saja. Saat hendak mudik, di Bekasi mobil kami pernah dirazia polisi pasca pengeboman Hotel Mariot. “Bomnya sudah habis, dipakai di Mariot kemarin,” komentarku guyon. Karena aksenku Njawani, polisi itu langsung bertanya: “Bade tindak pundi Pak?” Ternyata dia priyayi Wingko, tetangga sekampung.
    Eh, ngomong-ngomong Mbah Suro, bagaimana itu “nasib” Mbah Kadir tempo hari? Terima kasih. (gts)

    • mbah suro says:

      Kenangan yang tak pernah bisa dilupakan ini menjadi semakin lengkap setelah Mas Gunarso melengkapi ceritera ini disekitar tahun 66/67. Saya terlahir di Rumkit Purworejo dan tinggal di Kedungkebo sampai dengan th 1956 dan pindah ke Wingkomulyo antara th 56 s/d 67 setelah itu “hijrah” ke Jakarta sampai sekarang.

      Selama hampir 11 th bertempat tinggal di Wingkomulyo saya sering “njajah deso milang kori” Itupun rasanya belum “kemput” Setiap ada kesempatan pulang kampul selalu ingin ‘bernostalgia’ apalagi kalau ada kesempatan berbarengan dengan Pak Slamet Wiyadi pasti lebih gayeng. Saya ada rencana tgl 10 Juli ini mau pulkam sekitar 4 hari di Wingko, mudah-mudahan bisa “kulak warto” untuk bahan posting, termasuk mencari tau tentang Pak Kadir kepada para sesepuh yag masih ada di Wingko.
      Matur nuwun Mas Gun atas komennya, Salam sehat dan tetap semangat….

  2. Mbah Suro, selamat datang bergabung di Blogger kita, tambah regeng-gayeng dengan kehadiran si-mBah. Tulisan pertamanya sudah mulai “menggigit” dengan kisah nostalgia yang menggambarkan betapa “pahit-getir”nya meniti kehidupan dari nol. Kini semuanya itu sudah menjadi cerita yang “menyegarkan” dan berisi pelajaran bagi siapa saja yang bisa menarik hikmahnya, khususnya bagi para kawula muda/anak-cucu. Lanjutkan, kita tunggu kisah2 lain yang “khas” mBah Suro dengan “selera humor”nya yang tinggi. Salam sesama kerabat Wingko,Sw.

    • mbah suro says:

      Matur nuwun Pak SW sudah disemangati, kita sering bertemu di FB juga di Blogger Purworejo tapi belum pernah ada kesempatan bertemu di Purworejo, kapan kondur ke Purworejo Pak?
      Mudah-mudahan ada kesempatan, sehingga bisa “temu kangen” dikampung halaman sambil bernostalgia mengenang masa lalu, menikmati penek ngandul dan kuliner khas Purworejo. Matur nuwun…..

  3. massito says:

    Pak Gun dan Pak Wi, mbah Suro ini satu lurah dengan saya dan saudara pula, pokoknya mengenai pengalaman masa lalu makin menggema, setidaknya untuk menambah semangat bagi yang muda,kalau bagi yang tua ya untuk nostalgia. Apalagi kalau bicara Jenar dan Purwodadi jaman dulu, sudah seperti kota bagi saya yang wong wingko. Dan itulah kenangan masa lalu.Tk. pursito

  4. Kenangan masa masa sekolah memang tidak bisa begitu saja dilupakan. Postingan Mbah Suro patut diacungi jempol, bukan hanya dari cara penulisannya, namun dari isi dan pesan yang terkandung di dalamnya juga begitu luar biasa. Bisa menjadi contoh generasi mendatang. Kalau berbicara masalah “NGLONJO” sebenarnya bukan hanya mbah Suro atau orang2 segenerasi simbah yang merasakan nglonjo! sayapun yang sekolah SMA tahun 2003 saja masih nglonjo dari desa Susuk sampai Desa Keduren, selama 3 tahun, karena apa?yah yang pertama karena masalah ekonomi, dan lain sebagainya.
    salam dari keluarga Mas Pardjo

  5. alexbucely says:

    ane masih newbie gan… mohon bantuan nya :)

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

facebook antara positive dan negatif

19 - Feb - 2010 | singgih | No Comments »

KESASAR BERSAMA MBAH PUTRI

10 - Jul - 2011 | Mbah Suro | 14 Comments »

MUDIK LEBARAN

23 - Sep - 2008 | massito | 6 Comments »

Yang Mau Di Link

5 - Sep - 2007 | meds | 4 Comments »

MENGENANG ‘SEKOLAH DESA’ WUNUT DI JAMAN BELANDA

16 - May - 2009 | slamet wijadi | 49 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net