PAK HARIO KECIK 90 TAHUN, PELAKU SEJARAH PERTEMPURAN SURABAYA 10 NOPEMBER ’45

  27 - May - 2011 -   slamet wijadi -   43 Comments »

Tanggal 12 Mei yang lalu saya, bersama mas Gunarso dari Blogger Purworejo, menghadiri ulang tahun ke-90 senior dan teman saya Pak Hario Kecik. Yang istimewa dari peristiwa ini adalah disamping usia yang mencapai 90 tahun (umur harapan rata-rata orang Indonesia sekitar 68 tahun), ia masih dalam keadaan sehat, segar jasmani dan rohani, lahir dan batin. Ia masih berjalan tegak tanpa bantuan, tanpa kacamata, pendengaran masih bagus, ingatan masih tajam dan kecerdasannya masih prima. Sengaja memperingati hari lahirnya di kantor penerbit buku OBOR, karena sekaligus ia meluncurkan bukunya tentang PEMIKIRAN MILITER jilid ke-4, yang masing2 jilid setebal sekitar 500 halaman. Dari dalam sakunya dia mengeluarkan flashdisk yang berisi draft buku jilid ke-5 yang akan terbit dalam waktu dekat. Sungguh orang ini satu sosok yang istimewa dan yang saya kagumi, karena itu saya ingin menulis sedikit tentang tokoh ini, siapa tahu bisa diambil hikmahnya.

Pak Hario Kecik masih tampil prima diusia 90 tahun

Pertempuran Surabaya, Oktober-Nopember ’45.

Nama lengkapnya Suhario Padmodiwiryo, lahir di Surabaya 12 Mei 1921. Menjelang kemerdekaan ia sudah hampir selesai Sekolah Kedokteran di Jakarta, teman seangkatan antara lain MT Haryono, Pahlawan Revolusi yang juga calon dokter. Pasca Proklamasi 17 Agustus ’45, ia kembali ke Surabaya dan membentuk pasukan yang kemudian merebut dan menduduki markas Kempetai (Polisi Militer Jepang) dan bersama seorang temannya membentuk Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) dengan persenjataan yang lengkap hasil rampasan dari Jepang.
Pada pertempuran dengan Inggris akhir Oktober’45, dan yang mencapai puncaknya tanggal 10 Nopember ’45 (kemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan) pasukannya merupakan bagian yang penting dalam menghadapi kekuatan Inggris yang mengerahkan dua Divisi (sekitar 20.000 orang) dengan persenjataan lengkap dan modern, didukung dengan tank, delapan pesawat pembom dan tempur dan beberapa kapal perang yang berlabuh di Tanjungperak. Inggris bertujuan untuk “menghukum” rakyat Surabaya atas kematian seorang jendralnya bersama satu Brigade tentaranya yang “dilibas habis”dalam pertempuran akhir Oktober itu.
Pak Hario bersama pasukannya dan pasukan2 lain serta sebagian besar rakyat Surabaya bahu membahu dalam pertempuran melawan kekuatan Inggris tersebut. Inggris kemudian menamakan pertempuran ini sebagai “neraka” Surabaya. Itulah satu2nya pertempuran terbesar secara frontal dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Nama Pak Hario diabadikan/tercantum pada Tugu Pahlawan Surabaya, sebagai salah satu pelaku aktif dalam pertempuran tsb. Pertempuran Surabaya telah membukakan mata dunia akan tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Bergerilya pada waktu Clash ke-2 sampai Panglima Kodam Kaltim.

Selama Clash ke-dua dia bergerilya di daerah Gunung Kawi Selatan/Malang besama Komandan Brigade 16, Letkol Warrow, dengan pangkat Mayor (pangkat Mayor waktu itu sudah cukup tinggi, karena panglima Divisi hanya berpangkat Kolonel). Setelah pengakuan kemerdekaan dia bertugas di Sulawesi Utara sebagai Kepala Staf Komando militer setempat dan ikut bertempur menumpas gerakan “Republik Maluku Selatan” bersama alm. Letkol Slamet Riyadi. Ditarik ke MBAD kemudian dikirim ke Amerika untuk pendidikan militer bagi Perwira Menengah, pangkat naik jadi Letkol. Kembali dari AS dengan pangkat Kolonel dia diangkat sebagai Panglima Kodam Kalimantan Timur, pangkat naik jadi Brigadir Jendral.

Tugas Belajar ke Uni Soviet sampai ke Penjara Militer Orde Baru.

Setelah 6 tahun di Kaltim dia ditarik ke Jakarta dan oleh Pangad Jendral A. Yani dikirim ke Uni Soviet/Rusia permulaan tahun ’65 untuk tugas belajar di War College, lembaga pendidikan militer tertinggi di Uni Soviet. Disitulah saya berkenalan dengan dia secara pribadi yang berkembang menjadi persahabatan sampai saat ini. Keberangkatannya ke Moskow itu adalah tugas dari atasannya, sehingga dengan terjadinya peristiwa G-30-S dia merasa heran mengapa namanya dilibatkan sebagai “tersangkut”. Tanpa rasa takut dan atas kesadaran sendiri dia kembali ketanah air dan oleh Penguasa waktu itu langsung di jebloskan ke Penjara Militer selama 4 tahun. Setelah tidak ada bukti tentang keterlibatannya dengan G-30-S, ia dibebaskan tanpa lewat proses yang berarti. Mulailah dia hidup sebagai manusia bebas, namun harus mulai dari nol lagi.

Kegiatan sebagai Manusia Merdeka.

Namun bukan seorang Suhario bila dia “putus asa” dan menyerah menghadapi tantangan hidup tersebut. Dengan bakat sebagai penulis, dia mulai menulis/menyusun scenario untuk film yang kemudian laku “dijual” kepada Menteri Penerangan waktu itu Ali Murtopo. Beberapa temannya yang bersimpati memberikan bantuan, sehingga dia mulai bisa “bangun” kembali. Dia mulai menyusun buku “Memoar Hario Kecik. Otobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit” yang berkisah tentang pengalamannya pada waktu pertempuran di Surabaya sebagai pelaku dan saksi sejarah. Bukunya itu kini diakui sebagai sumber yang paling lengkap tentang pertempuran hebat yang kini telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Frank Palmos, seorang peniliti dari sebuah Universitas di Australia yang sedang menyusun desertasi tentang pertempuran Surabaya. Kemudian menyusul buku2 Biografi ke-2, ke-3, tentang pengalaman di penjara Orde Baru, tentang pengembaraannya di luar negeri.
Sepertinya tidak pernah kehabisan bahan untuk menulis, ia menerbitkan novel sejarah, dari mulai kisah perjuangan Pangeran Sambernyowo (RM Sahid) , cerita tentang pedalaman Kalimantan, tentang “Liur Emas”( burung walet )Karangbolong/Gombong, sampai kisah misteri Leste dan Sang Pemburu. Semua buku bukunya itu bernuansa sejarah perjuangan tanah air. Kemudian dia menerbitkan buku renungan tentang “Pemikiran Militer” Indonesia sejak jaman dulu sampai saat ini sebanyak empat jilid dengan tebal masing2 lima ratus halaman, sebentar lagi menyusul jilid ke-5. Waktu ditanya kapan akan berhenti menulis, “selama masih hidup saya akan munulis”.

Dengan Frank Palmos penyusun buku tentang pertempuran Surabaya

“Old Soldiers Never Die They Just Fade Away…”

Dalam usianya yang 90 tahun dia sama sekali belum memberikan tanda-tanda tentang “keuzuran”. Ini cocok dengan ungkapan diatas, “Old Soldiers Never Die They Just Fade Away”. Dia tidak ingin “dikasiani” sebagi orang tua yang tidak berdaya. “Rambut hitam ini memang saya cat, karena saya tidak ingin nampil sebagai sosok tua yang perlu dikasihani”, menjawab pertanyaan kok rambutnya masih legam. Didampingi oleh ibu Kusuma Dewi Suhario yang setia, dan berasal dari trah Mangkunegaran itu, mereka hidup dengan damai dalam suasana kesederhanaan di pinggiran kota Jakarta, jauh dari kesan kemewahan. Satu hal yang membedakan dengan para kaum “lanjut usia” umumnya, tokoh ini tidak mau tinggal diam, selalu ada saja yang sedang ditulis.
Kesan yang ditimbulkan setelah omong2 dengan tokoh istimewa ini adalah sebuah kekaguman terhadap seseorang yang setia kepada jati dirinya, sebagai seorang pejuang sejati, konsisten dengan suara nuraninya dan pantang menyerah menghadapi segala tantangan hidup. Namun pada waktu kami tanya rahasia apa yang menjadikan dia sampai bisa usia panjang, jawabnya mantap “Ya kersane Gusti Allah…” . Selamat Pak Hario, panjang umur dan tetap sehat, semoga berkahnya menular.

Slamet Wiyadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


43 Responses to “PAK HARIO KECIK 90 TAHUN, PELAKU SEJARAH PERTEMPURAN SURABAYA 10 NOPEMBER ’45”

  1. Gunarso Ts says:

    Ketika Pak Wiek sekali waktu memperkenalkan nama “Suharyo Padmodiwiryo”, aku belum jelas tokoh mana yang dimaksud. Tapi ketika saya tebak, apakah “Haryo Ketjik” dan Pak Wiek membenarkan, aku langsung punya gambaran jelas. Sejak tahun 1980-an aku pernah mendengar nama itu, tapi dalam perspektif Orde Baru tentu saja, dia tokoh yang selalu disisihkan di era Pak Harto. Berdasarkan informasi Pak Wiek, saya baru tahu bahwa priyayi Surabaya pelaku 10 Nopember itu ternyata masih sugeng.
    Saat diajak Pak Wiek ketemu Pak Haryo di penerbit Obor, saya menjadi tahu lebih dekat “koboi” yang pernah dikerangkeng Pak Harto selama 4 tahun itu. Sungguh luar biasa memang, dalam usia 90 tahun masih enerjik, daya ingatnya masih tajam. Dalam usia di 70-an tahun dia baru menulis, dan ternyata telah berhasil menghasilkan 10 buku. Buku “Memoar Haryo Ketjik” yang 3 jilid itu misalnya, meski bukan buku sastra tapi gaya bahasanya sungguh berpijak pada alur sastra.
    Meski buku 3 jilid pinjaman Pak Wiek ini belum selesai saya baca, saya menjadi banyak tahu bahwa Pak Haryo memang ahli ilmu jiwa juga rupanya. Setiap sosok yang ditulisnya, selalu dilengkapi dengan gambaran pisik dan karakternya. Dan sebagai tokoh angkatan 45, di mana saja ditugaskan dan juga dipenjarakan, selalu Pak Haryo ketemu teman-teman lama. Buku memoar ini juga sarat dengan humor-humor segar, dengan makian khas Surabaya.
    Kebetulah majalah Jaya Baya yang muat tulisan saya tentang Haryo Ketjik telah tiba (27/05. Kapan Pak Wiek ada waktu, mengajak dolan saya ke rumahnya di Jaka Permai, Bekasi. Terima kasih Pak Wiek. (gts)

    • Mas Gun, maturnuwun untuk komennya yang sekaligus melengkapi kisah Pak Hario. Kalau dikatakan “koboi” mungkin tidak begitu salah, dia terkenal sebagai penembak “cepat dan tepat” mirip spt di film2 koboi. Hal ini juga diakui oleh alm. Jend.Sumitro. Saya memang kagum juga dgn “sense of humor”nya yang tinggi sekali. Betul,buku2nya Pak Hario penuh dengan humor2 segar khas Surabaya dan dikemukakan secara jujur dan “blak-blak-an”, termasuk humornya bersama mantan Menlu Subandriyo yang ditahan satu penjara dengan dia. Kalau ada kesempatan, kita bisa berkunjung ke rumahnya, kapan2. Salam.

      • ngudiyono says:

        betul pak, bahkan waktu di Fort Benning, saat tugas belajar beliau dijuluki Kolonel Gun Smoke. Itu karena keahliannya menembak yg membuat teman2 Amerika dn lainya kagum, dari Ngudiyono, salam kenal

        • choirul_smamda says:

          Sangat mengagumkan cerita ttg perjuangan Pak Haryo Ketjik sejak pertempuran 10 November 1945 sampai Orba. Pak Slamet boleh tidak saya minta alamat rumah Pak Haryo Ketjik. Makasih

          • slamet wijadi says:

            Mas Choirul, trimakasih untuk apresiasinya tentang perjuangan Pak Hario Kecik. Memang tokoh ini sungguh luar biasa, banyak hal yang bisa kita contoh sebagai teladan, seorang pejuang dalam arti sesunguhnya, sampai saat ini tidak berubah. Kalau ingin bertemu silahkan hubungi nomor telpun 021-884-11-03, katakan dapat nomornya dari Pak Wiyadi. Saya yakin beliau akan senang bila mas Choirul akan berkunjung. Salam, SW.

  2. Luar biasa, ternyata setelah membaca semua postingan Pak Slamet di sini, membuat saya merinding sekaligus terinspirasi. Semua tokoh yang di”hadir”kan, merupakan contoh, “koco benggolo” buat kami untuk terus mengikuti jejak mereka, termasuk pak Slamet.
    Kalo berbicara tentang Pak Hario, walaupun tidak kenal secara langsung, dan hanya tahu dari cerita Pak Slamet, namun sudah bisa ditebak bahwa dia pasti sosok yang sangat berwibawa, Semoga kami, yang memang beda generasi dengan dia, dapat mengisi kemerdekaan dengan sebaik2nya, amien

    • Mas Julian, saya merasa senang bhwa mas Julian daoat “terinspirasi” dengan kisah dalam tulisan saya itu dan menjadikanya sebagai “koco benggolo” yang bisa ditarik hikmah manfaatnya. Dan sebagai saya katakan, memang itu juga merupakan harapan, mengapa saya sajikan kisah tersebut. Bagi saya, seseorang yang bisa mencapai usia 90 tahun dan masih sehat serta pruduktip adalah sesuatu yang sangat langka, apalagi ditambah dengan karakter yang kuat/pantang menyerah dan jiwa pengabdian dan kecintaan kepada tanah-air sepanjang hayat, itulah hal2 a.l. yang saya kagumi dari tokoh ini.Semoga mas Julian yang masih muda belia dapat menarik manfaat/hikmahnya.
      Saya juga ingin menyampaikan “selamat” atas wisudanya yang saya ikuti di FB. Maju terus jangan pernah berhenti belajar dan sukses saya doakan. Salam, Sw.

  3. Amien, Terima Kasih Pak Slamet atas ucapannya, semoga ini bisa menambah, pemicu semangat saya pribadi untuk terus belajar.
    kalo berbicara masalah Tokoh yang satu ini, saya benar2 kagum, saya memang senang membaca biografi seseorang, apalagi seperti Pak Hario yang bisa dijadikan panutan/contoh. Semoga untuk ke depannya, pak Slamet bisa menghadirkan tokoh2 hebat lainnya.
    Sekedar tambahan, saya sebenarnya juga ingin numpang corat coret di blog ini, namun coretan saya sepertinya masih kurang layak, mohon Pak Slamet bisa memberikan kiat2 menulis yang baik di Blogger Purworejo ini. terima Kasih

    • Mas Julian, belajar dari contoh/teladan yang baik akan bermanfaat bagi kita. Seperti mas Julian, saya juga senang membaca biografi tokoh2 terutama yang saya kagumi. Dari mereka kita bisa belajar tentang hidup dan kehidupan yang kemudian bisa kita terapkan untuk diri kita tentunya dengan adaptasi sesuai dengan situasi dan kondisi kita. Saya mengagumi Pak Hario, terutama karena karakternya dan prestasinya, bisa mencapai usia 90 tahun dalam keadaan sehat dan masih produktip adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
      Mulailah bikin coretan2 yang sederhana berdasar pengalaman pribadi, yang penting mulai saja dan dengan tekad yang keras, Insya Allah akan berhasil. Salam.

  4. terima kasih untuk kisah keteladanan Pak Hario Kecik ini, Mbah Wiek.
    saya jadi malu mengingat kecengengan2 sikap saya tatkala menemui masalah hidup. berkaca pada kisah tersebut saya bertekad untuk menata langkah agar hidup saya menjadi bermakna bagi diri dan orang-orang di sekitar saya.
    ditunggu kisah-kisah yang lain, Mbah Wiek. nuwun. salam hormat saya.

    • Mas Tammi, trimaksih untuk tanggapannya. Setiap generasi itu hakekatnya adalah “anak jamannya” jadi memang kurang tepat untuk sepenuhnya membandingkan generasi produk ’45 dengan generasi sekarang. Idealimse waktu itu adalah “alamiah”, saat ini siapa yang idealis ya tidak akan “makan”, cuma memang betul bahwa apa yang bisa dicontoh dari generasi pejuang dulu adalah menyangkut “karakter”, sebagaimana dicontohkan oleh Pak Hario Kecik. Mungkin juga betul apa yang dikatakan Mas Tammi tentang “kecengengan”, namun yang menyedihkan ialah tiadanya contoh dari para pemimpin saat ini, sehingga generasi muda kehilangan panutan dan pegangan… Sekedar ikut “ngunandiko” aja… Salam Sw.

      • kehilangan panutan dan pegangan membuat kami gamang menyikapi hidup, Mbah Wiek. apalagi perubahan zaman yang begitu cepat berjalan, sehingga tatanan nilai dan norma yang dulu disampaikan sepenuh hati oleh orang tua, guru kami di sekolah, ataupun pak kyai saat mengaji di langgar pun terasa usang. sebenarnya panduan moral itu tidak pernah hilang dari jiwa kami, namun saya pribadi mengalami kesulitan untuk bisa menerapkannya sesuai kondisi zaman. barangkali panjenengan yang alhamdulillah diparingi yuswa panjang sehingga bisa melintasi berbagai zaman suatu ketika kersa paring pitutur lewat tulisan sebagai pegangan bagi saya dan teman seangkatan. bagaimana menyikapi hidup agar kami tidak keterusan menjadi generasi cengeng? suwun, Mbah wiek.

        • Mas Tammy, maaf saya tidak dapat memberikan “pitutur” dalam mengahadapi jaman yang serba “edan” ini. Cuma saya jadi teringat “pitutur”nya Pujangga Ronggowarsito, kira2 spt ini “arep melu ngedan ora tahan yen tan melu ngedan datan keduman, nanging sabeja-bejane sing lali isih beja sing eling lan waspada”, kata kuncinya “eling lan waspada”, “ngono ya ngono ning ya aja ngono”,ini kiranya lebih luwes dalam menghadapi jaman edan sekarang ini. Tinggal terserah masing2 orang untuk penerapannya. Salam, Sw.

  5. Gunarso Ts says:

    Betul sekali Pak Wiek, suwargi pujangga R. Ngb. Ranggawarsito rupanya telah meramalkan lewat buku “Kalatida”-nya, bahwa sepeninggalnya Indonesia akan mengalami “jaman edan” itu. Yang jujur hancur, yang ngawur malah makmur. Negara mau berantas korupsi, KPK-nya malah dijegal melulu. Maka kuncinya seperti kata Pak Wiek itu tadi, ngono ya ngono ning aja ngono. Atau kalau pinjam ajaran Mangkunegara I: landep aja natoni, dhuwur aja ngungkuli, banter aja nglancangi. Trims (gts)

    • Mas Gun, trims untuk komen-nya yang cukup “tepat”, menurut saya ajaran “eling lan waspada” dan “ngono yo ngono…” juga “dhuwur ora ngungkuli” dll. itu adalah mutiara ajaran Jawa yang sangat tinggi, khususnya tepat untuk menghadapi jaman “era-eru” saat ini. Kita diingatkan agar tidak terbawa arus namun harus mampu beradaptasi sesuai keadaan demi “survival”, dengan bekal “eling lan waspada” dan berpegang pada sikap “ngono yo ngono…” (sak-madiya), jangan “grusa-grusu”, agar bisa “mrojol saselaning garu…” dengan menyerah pada kekuasaan Gusti Allah.Salam, Sw.

  6. Ayu Saraswati says:

    Dear Pak Slamet Wijadi

    Saya sangat tertarik setelah membaca tulisan anda terkait Bapak Hario Ketjik, terlebih pada peringatan Hari Pahlawan nanti kami akan mengadakan acara dan bermaksud untuk mengundang beliau. Terkait hal tersebut, bisakah kiranya kami mendapatkan contact person beliau?
    Atau bila tidak memungkinkan, contact person pihak yang sekiranya dapat mempertemukan kami dengan beliau. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih :)

    Thanks & Best Regards,

    Ayu Saraswati (ARA)
    Telepon031-353 9000 x 24112
    Email : ayu.saraswati@sampoerna.com
    Museum Researcher, House of Sampoerna
    Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163, Indonesia

    • Mbak Ayu, thanks untuk komennya, saya senang mbak tertarik dengan tulisan saya itu. Saya sudah kontak dengan Pak/Bu Hario tentang maksud mbak tsb. dan dengan senang hati dipersilahkan untuk langsung menghubungi beliau di rumahnya dengan nomer telpun:
      021-884-11-03.Semoga sukses dengan “proyek”nya tsb.

      Wass.S.Wiyadi

  7. Gunarso Ts says:

    Mbak Ayu Saraswati, rencana yang bagus ini sejalan dengan gagasan Panitia 10 Nopember oleh DHD 45 Surabaya. Menjelang Idul Fitri 1432 H kemarin, saya mengantar Bpk. Suparto Brata sastrawan/sejarawan kota Surabaya, ke rumah Bpk Haryo Kecik di Bekasi. Inti pertemuan itu adalah, Pak Parto menanyakan apakah Pak Haryo Ketjik bersedia jika diundang ke Surabaya untuk berceramah tentang 10 Nopember 1945 dulu. Jawab Pak Haryo Ketjik, bersedia!
    Semoga rencana DHD 45 dan Museum Sampurna ini bagaikan “tumbu oleh tutup”. Matur nuwun. (gts)

  8. Mas Gun, trims komennya yang melengkapi, mudah2an dua acara tsb. bisa terlaksana dan sinkrun. Sore tadi saya bicara lama dengan Pak Hario dan menyebut tentang kedatangan “orang Surabaya” yang mengundang beliau, saya yakin itu pak Parto bersama mas Gun.Semoga keberadaannya di Surabaya akan menambah semarak peringatan Hari Pahlawan yad. Saya senang bahwa tulisan saya itu telah berkembang menjadi lantaran bagi terhubungnya semua itu. Pak Hario juga senang membaca kisah/tulisan saya tsb. Salam, Sw.

  9. Gunarso Ts says:

    Matur nuwun Pak Wiek. Berkat Bapak juga, saya kemudian bisa menyaksikan kiprah belakangan pelaku sejarah Pertempuran Surabaya di bulan Nopember 1945 itu. Saat Pak Suparto Brata bertemu Pak Haryo Ketjik, beliu lebih banyak chek and richek para pelaku pertempuran Surabaya itu. Di antaranya soal Sabarudin yang tidak sabaran, sehingga potong leher sesama pejuang, atau kisah alm Iswahyudi (diabadikan sebagai nama Lanud Madiun) yang hampir dieksekusi pejuang karena dikira mata-mata. Penjelasan-penjelasan Pak Haryo kemudian juga seperti yang sudah diceritakan beliau dalam buku memoarnya sebanyak 4 jilid itu. (gts)

  10. Ayu Saraswati says:

    Dear Bapak Slamet Wijadi dan rekan-rekan sekalian,

    Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih telah menyediakan waktu untuk membalas comment saya. Saya akan segera menghubungi beliau, dan bagi rekan-rekan lain yang sekiranya memiliki minat terkait pertempuran 10 November, kami persilahkan untuk hadir dalam pameran “Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk” Photography Exhibition bekerja sama dengan GJFA mulai tanggal 11 November-11 Desember 2011 di Museum House of Sampoerna.

    Thanks & Best Regards,

    Ayu Saraswati (ARA)
    Tlpn : 031-353 9000 x 24112
    Email : ayu.saraswati@sampoerna.com
    Museum Researcher, House of Sampoerna
    Taman Sampoerna 6, Surabaya 60163, Indonesia

  11. primanto sleman says:

    merdeka!
    salam kenal, saya primanto dari sleman, merapi. kebetulan lebih dari 10 tahun ini saya mengasuh sebuah perpustakaan untuk umum, dengan isi utama segala buku dan tulisan tentang biografi dan sejarah. Dalam koleksi balai bacaan srigunting itulah tersedia lengkap buku-buku dari pak hario kecik, baik memoar (3 jilid), pemikiran militer (4 jilid), maupun novel-novel dan skenario Samber Nyawa.
    Memang mengagumkan arek suroboyo yang 1 ini. Yang paling berkesan bagi saya yang muda ini adalah betapa pak hario tidak menyerah dalam belenggu kemarahan pada pihak yang telah memenjarakannya bertahun-tahun dan “nguyo-nguyo” dirinya sekeluarga. Ia pilih untuk berkarya dengan menulis buku dan bukan mengumbar amarah atau dendam yang membutakan jiwa. Hormat sepenuhnya pada watak ksatria seperti itu.
    Ternyata angkatan pendiri republik ini ada juga yang pantas dihormati lantaran punya harga diri, baik secara pribadi maupun terutama pada negeri yang ia ikut dirikan. Sampai saat ini Pak Hario terus menulis, tiap hari. Ia terus berjuang, terus memberi arti bagi 20 ribu nyawa orang muda Indonesia yang gugur tanpa nama dalam pertempuran Surabaya.
    Dengan semangat seperti itulah saya menyambut baik dialog dengan anda sekalian melalui blog ini. Salam.
    primanto nugroho

    • slametwijadi says:

      Mas Primanto, setuju dengan penilaian dan komentar anda tentang Pak Haryo. Banyak kwalitas pribadi yang perlu diteladani dari beliau. Dalam usia yang sudah begitu lanjut, Pak Haryo tidak merasa perlu dikasiani, bahkan dia selalu berusaha untuk memberikan sumbangan kepada bangsanya dalam bentuk tulisan2nya yang akan menjadi acuan bagi generasi2 yad.
      Memang betul bahwa baginya tidak ada gunanya terbelenggu kemarahan pada pihak2 yang telah menzalimi, yang penting sumbangan apa yang dapat ia berikan kepada bangsa dan negara yang ia cintai dari sisa umurnya yang ia miliki itu.
      Kalau mas Primanti ingin dialog dengan beliau, silahkan langsung hubungi, saya yakin beliau akan senang untuk menyambutnya. Salam, Sw.

      • primanto says:

        banyak terima kasih atas tanggapan segeranya, pak slamet wijadi. tentu saja saya dengan senang hati jika bisa bertemu “panglima kesayangan Bung Karno” itu. tetapi tak kurang pentingnya dan tak kurang senangnya bila saya nanti bisa bersilaturahmi ke purworejo -yang lebih dekat dari sleman ini- dan bertemu dengan Bapak. Syukur2 pas musim durian Menoreh yang terkenal itu ….:)
        Tentunya akan banyak hal tentang sosok dan latar jaman Pak Hario yang bisa saya dapatkan ceritanya dari Bapak yang sudah lama mengenal beliau. Di perpustakaan kami yang kecil ini anak-anak muda dari berbagai penjuru negeri masih terus mengumpulkan catatan tentang aneka segi sejarah republik -khususnya sejarah yang masih tersembunyi dari mata dan ingatan publik.
        sumbang saran dan cerita dari generasi Pak Slamet Wijadi pasti akan membantu melengkapi catatan itu.
        Salam,
        primanto nugroho

  12. slametwijadi says:

    Mas Primanto, dengan senang hati saya akan menyambut anda, namun bukan di Pwr, karena domisili saya di Jkt. Kami memang punya rumah warisan di sana, tetapi kami menetap di Jkt, hanya sekali2 “mudik” bila kangen dengan suasana perdesaan dan tempat kelahiran, biasanya setahun dua kali. Kalau nanti kami ada disana tentu akan saya kabari dan silahkan untuk bersilaturahmi ke desa. Tentu akan saya traktir durian Menoreh bila memang lagi musimnya. Sejauh apa yang bisa saya lakukan saya dengan senang hati untuk membantu. Mohon dikirim alamat e-mailnya, mungkin dalam bulan Januari/Pebruari, Insya Allah, kami akan tilik desa. Salam, Sw.

    • primanto says:

      Baik pak. Terima kasih sekali atas kesediannya. Nanti kalau saya ke Jakarta juga saya kabari. Kebetulan saya sok kulakan buku di blok m. Email saya ada di srigunting123@yahoo.com.
      Sekali lagi terima kasih atas tanggapan baiknya pak. Salam hangat dari kaki merapi.

      primanto

      • slametwijadi says:

        Trimakasih Mas Primanto, nanti kalau saya berada di desa, ingin juga mampir ke “kaki merapi”, sekaligus mau nyambangi RM Jejamuran di Sleman yang selalu saya kunjungi bila ke Jogja. E-mail saya di slametwijadi@yahoo.com . Salam, Sw.

  13. pujiastuti says:

    Maaf saya ikut nulis di sini, mohon untuk yang mempunyai persoalan pribadi yang menyangkut harga diri untuk tidak di utarakan di blog ini, yang lalu biar berlalu, sambutlah hari hari yang akan datang lebig cemerlang.

    • slametwijadi says:

      Mbak Puji, setuju dengan komennya yang bersifat positif. Sebaiknya memang Blogger kita ini harus kita jadikan sebagai ajang untuk membina persahabatan dan persaudaraan antar-kita dengan informasi dan cerita/kisah yang bermanfaat bagi kita bersama. Salam kenal, Sw.

  14. yoyo.s says:

    Trimakasih kepada pengelola Bloger Purworejo, ini tampil sudah kembali semula, yang beberapa hari lalu nggak bisa di akses, saya sempat menanyakan dan Alhamdulilalah sudah terjawab, Salam buat para pecinta Bloger ini.

  15. pandu ganesa says:

    Hario Kecik menjadi salah seorang narasumber film dokumenter berjudul “100 Tahun Karl May di Indonesia”. Beliau membaca Karl May sewaktu di sekolah dasar ELS dalam versi Belanda pada tahun 1930-an. Dalam otobiografinya yang jiid II dan III, disebutkan juga sepintas tentang pengarang buku petualangan sekaligus ajaran tentang budi pekerti ini.

  16. Sudjarwo says:

    Tolong pencerahannya dimana saya bisa mendapatkan/membeli buku2 pak Hario Kecik ? khususnya otobiografinya.

    Terima kasih

    • slamet wijadi says:

      Mas Djarwo, buku2 Pak Hario Kecik dapat diperoleh di TB Gramedia, tetapi untuk otobiografinya mungkin sudah tidak tersedia di toko buku. Coba hubungi penerbitnya; OBOR Penerbit, telpun 021-3192-69-78. Semoga membantu, salam.

  17. Didid Janu dwiana says:

    Salam damai, mohon imformasi alamat/no telpon Pak Haryo.karena ibu saya waktu kecil (dari G Kawi malang) diasuh oleh beliau..dan beliau bergerilya tinggal dirumah kakek saya.Terima kasih banyak (mohon di jawab lewat email)

  18. EDHIE SUTARTO says:

    Bapak saya ,S.Moestaman ( alm , veteran di Mojokerto) kawannya Oom Hario , ketika saya masih kecil ( 9 th ) beliau sering ketemuan dengan bapak saya, saya masih ingat senyum beliau dengan dialek Suroboyoan , saya ingin menikmati senyum beliau lagi , kalau mungkin bisa sowan silaturahmi saya sangat bahagia , salam

    • slamet wijadi says:

      Mas Edhie, senang sekali dengar kisah/kenangan masa lalu dengan alm. Ayah dan Pak Hario. Nampaknya kalau senyumnya memang khas Pak Hario sampai sekarang, juga dialek Suroboyoannya. Silahkan kontak beliau lewat telpun 021-884-11-03. Pak Hario pasti akan senang menyambut anda. Salam Sw.

  19. christian listianto says:

    selamat malam bpk slamet wijadi ,, salam kenal sy tian mahasiswa ilmu sejarah universitas airlangga . kebetulan saya sedang mengerjakan skripsi sy seputar suasana peristiwa 10 november . sy rasa beliau merupakan salh satu narsumber yg wajib utk sy cari . dan saya berharap skali beliau bersedia untuk menerima saya bertamu ke kediaman beliau & berbagi kisah serta pengalaman beliau .
    bolehkah sy minta kontak beliau yg bs dihubungi ?

    • slamet wijadi says:

      Mas Listianto, untuk menghubungi Pak Hario silahkan kontak telp.021-884-11-03, katakan dapat nomer telpun dari Pak Wijadi. Salam.

      • christian listianto says:

        baik pak ,, terima kasih skali atas informasinya . sy akan coba hubungi beliau ,, semoga bpk hario bersedia . salam :)

  20. Ano Darno says:

    Turut berduka cita atas meninggalnya Pak Hario Kecik. Semoga diterima segala amal kebaikan & ibadahnya, serta diampuni segala dosa-dosanya. Saya sangat kehilangan sosok Angkatan ’45 yg mengagumkan & penuh teladan ini.

  21. Smash UP says:

    Ini nih iblis yang membantai keluarga kerajaan bulungan dan menjarah harta bendanya..
    pasti ndak tenang ni orang di alam sana..
    bener2 anjing ni orang

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

PABRIK GULA JENAR

11 - May - 2011 | slamet wijadi | 52 Comments »

PROMOSIKAN BLOGGER PURWOREJO?

15 - Dec - 2008 | indiez | 10 Comments »

Perencanaan Mudik Lebaran

11 - Aug - 2009 | Cah-DkDungus | 8 Comments »

Family Gathering Idul Fitri 1434 H “PAPAKU” di Pantai Ketawang

21 - Aug - 2013 | Adi Degreen | 4 Comments »

Pandangan Politik

9 - Apr - 2010 | slamet_darmaji | 7 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net