PABRIK GULA JENAR

  11 - May - 2011 -   slamet wijadi -   51 Comments »

Mengungkap Purworejo Tempo Dulu
Bagi siapa saja yang pernah membaca riwayat hidup/biografi Jendral Achmad Yani akan mengetahui bahwa Pahlawan Revolusi itu dilahirkan oleh keluarga Bpk. Wongsoredjo dan Ibu Murtini pada tanggal 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo. Pada waktu itu Bpk Wongsoredjo bekerja sebagai sopir Meneer/Tuan Boss, salah satu pimpinan Pabrik Gula Jenar Purworejo dan Pak Yani dilahirkan di perumahan di lingkungan Pabrik tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud membahas riwayat hidup Pak Yani yang sudah banyak ditulis dan kita ketahui bersama, namun akan “bercerita” tentang tempat dimana beliau dilahirkan, yaitu PABRIK GULA JENAR.

Pabrik Gula Jenar Selesai Dibangun dan Mulai Beroperasi tahun 1910

Pada waktu saya kecil, sekitar akhir tahun ‘30-an, saya sudah mendengar cerita tentang Pabrik Gula Jenar dari seorang pembantu kami, Man Soyitno dari Wunut yang mengerjakan sawah kami di sebelah barat desa tersebut yang kami kenal dengan nama sawah “kulon ban”, yang sampai kini masih kami miliki. Saya sering ikut ke sawah itu dan memperhatikan bahwa di pinggir sebelah timur sawah ada gundukan tanah setinggi kira2 satu meter memanjang dari utara ke selatan sekitar limapuluh meter. Waktu saya tanyakan, dia menjawab itulah sisa bekas ban rel lori/k.a kecil dari pabrik gula Jenar, dan itulah mengapa sawah ini dinamakan “kulon ban”. “Lho dulu ada pabrik gula di Jenar tho?”, tanya saya. “Hiya saya dulu juga sering kesana untuk lihat tontonan, namanya ‘cembengan’, terutama pada waktu pabrik akan mengawali musim giling”. Man So ini tinggal di desa tetangga Wunut dan dilahirkan sekitar tahun ’15-an, sudah ikut membantu keluarga kami sejak jaman orang-tuanya yang juga pembantu kami untuk mengerjakan sawah. “Pada waktu anak saya yang pertama lahir pemulaan tahun ’30-an, pabrik gula itu tutup” , tambahnya. Sejak itu pikiran saya sering membayangkan tentang sebuah pabrik gula di Jenar. Dan berdasarkan cerita2 dan sumber2 kepustakaan minim yang tersedia saya rangkaikan tulisan ini sebagai bagian dari cerita mengungkap masa lalu Purworejo.

Jalan Menuju Kompleks Pabrik

Berdasarkan sumber tertulis Belanda, pabrik gula Jenar itu dibangun pada tahun 1909 oleh N.V.Suikeronderneming “Poerworedjo”, sebuah perusahaan terbuka (PT) yang dibentuk pada tahun 1908 di Amsterdam dengan tujuan untuk mengusahakan sebuah pabrik gula di Purworejo dengan modal 5 juta gulden yang terbagai dalam saham masing2 lembar senilai 1000 gulden. Nampaknya pada waktu itu orang Belanda berlomba lomba untuk mendirikan pabrik gula di Jawa sehubungan dengan adanya fasilitas berdasar Undang-Undang Agraria tahun 1870 dan juga mengingat kebutuhan gula di dunia sangat meningkat, sehingga menjelang akhir 1920 jumlah pabrik gula di Jawa ada sekitar 180 buah. Indonesia (Jawa) menjadi salah satu pengeskpor gula terbesar di dunia bersama dengan Kuba.

Untuk membangun “Suikerfabriek Poerworedjo” itu dipilih lokasinya di desa Plandi termasuk kecamatan Purwodadi, yang terletak kira2 di Km. 8 jalan Purworejo- Jogya di sebelah kanan jalan, masuk sekitar kurang 1 km dari jalan besar. Mengapa kemudian terkenal dengan nama pabrik gula Jenar, mungkin karena nama Jenar lebih “populer” dari Plandi bahkan dengan Purwodadi yang waktu itu merupakan salah satu Kawedanan (Distrik) dari Kabupaten Purworejo, dimana Jenar masuk dalam wilayahnya. Itu dugaan saya.Yang jelas pada tahun 1909 pabrik mulai dibangun dengan giatnya dan menjelang akhir tahun 1910 pabrik gula sudah siap dan mulai berproduksi.

Pembangunan pabrik gula ini nampaknya secara fisik telah mengubah wajah daerah Jenar dan Purwodadi. Hampir sebagian besar daerah Kawedanan Purwodadi (dulu) termasuk asistenan/kecamatan di lingkungannya, khususnya kecamatan Purwodadi dan Ngombol, menjadi lahan untuk tanaman tebu sebagai bahan pokok untuk pabrik gula. Daerah Purworejo selatan memang terkenal sebagai daerah persawahan yang cukup luas untuk maksud itu, dan itulah barangkali mengapa lokasi pabrik dipilih disitu.Untuk keperluan tersebut Perusahaan mendapat ijin menyewa tanah (paksa) dari pemilik/penggarap berdasar ketentuan Undang-undang Agraria tahun 1870 tersebut, dan memang Undang2 inilah yang merupakan dasar bagi berkembang-pesatnya pabrik gula di Jawa. Kurang jelas bagi saya apakah seluruh daerah persawahan di daerah selatan pabrik menjadi area tanaman tebu, namun yang jelas area itu cukup luas mengingat kebutuhan bahan baku tebu bagi produksi gula.

Emplasemen Rel Lori Pabrik untuk Angkutan Tebu

Untuk mengangkut hasil tebu dari area yang tersebar luas itu,disamping menggunakan sarana tranportasi tradisional seperti “grobag sapi racuk” lewat jalan2 yang ada, dibangunlah satu jaringan rel kereta-api kecil atau lori sesuai dengan kebutuhan dan menjangkau seluruh area tanaman tebu. Sisa-sisa jaringan itu sampai akhir2 ini (tahun ‘60-an) masih terlihat dibeberapa area persawahan sebagaimana disebut diatas. Dari cerita saksi mata dikatakan bahwa dari Pabrik, rel utama memanjang kearah Purwodadi , sebagaian terus kedaerah Bubutan sepanjang kali Bogowonto dan sekitarnya, dan sebagian belok kekanan terus ke-area tanaman tebu kedaerah Ngombol, Ngangkruk ketip, Wingko, Wunut dan sekitarnya. Sayang data otentik untuk ini tidak ada. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa area tanaman tebu itu pasti cukup luas untuk menjamin “berputar”nya gilingan pabrik gula yang menguntungkan.

Gedung Kantor Administrasi Pabrik

Selama berproduksi, pabrik gula Jenar memberikan sumbangan kepada total produksi gula sebanyak 3 juta ton per tahun yang dihasilkan oleh 180 pabrik gula di Jawa, sebagian besar untuk tujuan ekspor. Keuntungan bersih yang diraup oleh pabrik gula Jenar pada tahun 1916 (sebagai contoh) sebesar 51 ribu gulden. Untuk menggambarkan nilai uang sebesar itu harus dibandingkan dengan pendapatan buruh-tani yang saya ketahui ditahun-tahun ‘30-an, sebesar 14 sen sehari dan harga nasi rames satu sen sebungkus/sepincuk. Gaji seorang nDoro Mantri Guru sekolah Vervolkschool (Ongko Loro) sebesar 60-70 gulden/bulan. Gaji sebesar itu sudah cukup untuk hidup “sangat” mewah bagi ukuran desa. Saya sendiri hanya dapat “jatah” dari ibu saya sepuluh sen bila Lebaran datang, dan dari pengumpulan keliling “cari sangu” ada tambahan sekitar 5-6 sen, sudah merasa sebagai orang “kaya”, bisa jajan, beli mainan dan plesir kemana-mana.

Bagaimana pengaruh keberadaan pabrik gula Jenar bagi kesejahteraan masyarakat Bagelen waktu itu? Sebuah studi mengenai hal itu menyatakan bahwa masuknya modal dan kegiatan usaha perkebunan di daerah Bagelen/Purworejo termasuk keberadaan pabrik tersebut hampir tidak berdampak positif secara sosial dan ekonomi. Keuntungan yang berlimpah hanya dinikmati oleh pemilik modal dan “pengusaha antara” yang umumnya di monopoli oleh golongan etnis Cina, sedang penduduk/masyarakat hanyalah sebagai “penonton” yang pasif.

Kejayaan pabrik gula tiba-tiba tersungkur dengan datangnya krisis ekonomi dunia bulan Oktober tahun 1929 yang terkenal dengan depresi besar tahun 1929, dipicu dengan ambruknya Bursa Saham (stock market crash) Wallstreet di New York yang kemudian menjalar keseluruh dunia. Di Eropa “the Great Depression” itu dikenal sebagai “Malaise” dan ke Indonesia di plesetkan sebagai “jaman Meleset” yang berimbas dengan berbagai kesulitan hidup. Sejalan dengan krisis tersebut, permintaan dunia untuk gula anjlog sementara suplai tetap membanjir. Kenyataan itu memaksa diadakan sistem quota yang membatasi produksi gula, yang terkenal dengan perjanjian Charbourne tahun 1931. Indonesia (Jawa) harus menurunkan produksi dari semula 3 juta ton menjadi hanya 1.4 juta ton ( pengurangan lebih dari 50%), akibatnya 9 dari 17 pabrik gula di daerah Jogya “tersungkur” dan tutup.

Nampaknya pabrik gula Jenar tidak bisa menghindar dari kenyataan tersebut dan harus menerima nasib yang sama, tidak bisa bertahan. Tahun 1932 mulai “meregang nyawa” dan akhirnya tahun 1933 tidak ada pilihan lain, bangkrut dan di liquidasi alias bubar… Selesailah sudah episode tentang sebuah pabrik gula Jenar di daerah Purworejo. Ternyata sebuah perusahaan itu tidak ada bedanya dengan kehidupan manusia, dia lahir, tumbuh, berkembang dan mati/menghilang. Seperti halnya umur manusia, nasibnya juga berbeda-beda, ada yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang.

Dalam hal pabrik gula Jenar, usianya tidak lebih dari 24 tahun sejak didirikan/dilahirkan tahun 1909, terhitung usia yang pendek. Beberapa pabrik gula yang dibangun sebelum pabrik gula Jenar bahkan masih bisa bertahan sampai saat ini.

Prasasti di Jembatan Pulutan Ngombol th 1925 Dibangun oleh Pabrik Gula Purworejo/Jenar (Foto Koleksi Gunarso TS)

Sekarang ini, lebih 100 tahun sejak didirikan dan hampir 80 tahun sejak bubar, nyaris tidak ada lagi kenangan yang tersisa dari keberadaan sebuah pabrik gula Jenar. Di lokasi bekas pabrik hanya tersisa reruntuhan yang tidak memberikan kesan bahwa disitu dulu pernah ada bangunan2 yang besar didaerah Purworejo. Di desa Pulutan, kecamatan Ngombol, masih ada jembatan desa yang tersisa yang dibangun oleh “SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925”, itulah salah satu monumen/bukti bagi kita tentang adanya sebuah pabrik gula di Jenar. Selebihnya, generasi sekarang hanya mengenal nama pabrik gula Jenar pada waktu mempelajari riwayat hidup Pahlawan Revolusi Jendral Achmad Yani yang memang lahir di tempat itu.

*) Foto-foto koleksi Tropenmuseum (KIT)

Slamet Wiyadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


51 Responses to “PABRIK GULA JENAR”

  1. GEBLEX says:

    Sekadar nambah informasi, lori tebu milik pabrik gula Jenar juga melimtas di pinggir jalan Purworejo ke Kutoarjo. Bekasnya adalah berupa ruas jalan kurang lebih selebar 2 meter di kanan jalan dari arah Purworejo. Ruas jalan ini berhenti di utara perumahan KBN, dekat SMAN I sekarang. Di dekat Nglengkong, Kledung dahulu ada pegawai pabrik gula Belanda yang dijuluki penduduk dengan nama Tuan Gram. Tuan Gram pekerjaannya menimbang tebu. Lori dari arah Kutorjo kemudian menuju ke Jenar melalui jalan masuk ke arah pondok pesantren di Nglengkong. Satu rangkaian lori biasanya 2 sampai 3 lori. Anak-anak waktu itu suka menempelkan telinganya untuk mendengar suara kereta api tebu sebelum sampai ke depan rumahnya. Kejadiannya tahun 1930-an. Demikian cerita dari Ibu saya.

    • slamet wijadi says:

      Mas Geblex, trimakasih untuk tambahan informasinya, jadi bisa melengkapi cerita tentang Pabrik Gula Jenar. Ternyata menurut Mas Widi dari daerah Pituruh, jaringan Pabrik tersebut juga menjangkau sampai sana, sehingga dapat dikatakan bahwa Pabrik itu meliputi hampir seluruh Kabupaten Pwr. Memang sumber2 yang tertulis tentang cakupan itu belum pernah saya jumpai, makanya cerita2 dari orang-tua yang mengalami jaman itu sangat berguna untuk melengkapi kisah Pabrik Gula tsb. Terimakasi sekali lagi, salam. Sw.

  2. Dwi Soediono says:

    Dari data-data pabrik gula di indonesia yg disusun para kadang bulé…, lebar rel lori tebu PG Djenar Poerworedjo adlh 700mm dan smp thn 1930 memiliki 17 lokomotip uap (kbnykn buatan Jung).., dgn total daya 1130 HP…, panjang lintasan rel terpasang mencapai 184km.., dan punya 1216 lori tebu…

    • slamet wijadi says:

      Mas Dwi, trimakasih untuk tambahan info/data yang tentunya akan melengkapi Kisah Pabrik Gula Jenar. Berdasar info tsb. dapat disimpulkan bahwa jaringan armada transportasi Pabrik cukup besar dengan panjang lintasan rel terpasang mencapai 184 km dan 17 lokomotif uap serta 1216 lori tebu. Sehingga tidak mengherankan bahwa pada waktu jayanya Pabrik tsb pasti mencakup area yang cukup luas dari Kabupaten Pwr. Sayangnya oleh karena krisis ekonomi dunia waktu itu Pabrik terpaksa harus bangkrut dan mengakhiri kejayaannya. Kini yang tersisa hanya tinggal cerita dan situs area Pabrik yang makin lama juga akan menghilang… Salam, Sw.

  3. anton jenar says:

    Jaman saya kecil kalau main ke pantai jatimalang/tambak pasti pulangnya nyolong tebu…kalau ketahuatn mandornya bawa klewang yang besar diacung2kan langsung kabuuurrrr…..Maklum takut banget
    Tapi sayang sudah nggak mengalami pabrik tebu di Plandi/Mbabrik…cuma denger sejarahnya saja….
    Terimakasih koment2 yang menjelaskann masa lalu sebagai bagian sejarah dan cerita anak cucu…

  4. baskoro says:

    gereja katolik kutoarjo didirikan diatas bangunan bekas gudang pabrik gula jenar.

  5. Lengkong Sanggar Ginaris says:

    wuah,menarik sekali artikel yang anda tulis.Kebetulan saya seorang mahasiswa Arkeologi yang ingin menggarap skripsi tentang sf Jenar.Tambahan lagi,jangkauan lori sf Jenar ternyata sampai di daerah Keseneng,utaranya daerah Brengkelan.Terus ada juga sisa jembatan lori (atau decauville) di belakang gardu induk Banyuurip.Masyakarat daerah sana menyebutnya jembatan bolong telu karena lubangnya ada tiga.insyaallah saya akan mengajak dosen saya untuk berkunjung ke daerah ini.

  6. Gunarso Ts says:

    Benar sekali Pak Wiek, prasasti di jembatan buh lor di Pulutan desaku, memang selalu menimbulkan tanda tanya bagiku di masa kecil. Apa artinya: KW. Poeloetan uitgevoerd door de suikeronderneming “Poerworedjo” 1925, itu? Kata Bu Sis bulikku, prasasti Bahasa Belanda tersebut artinya: jembatan ini dikerjakan atau dibangun oleh perkebunan Purworejo pada tahun 1925. Jembatan tersebut banyak menyimpan kenangan masa kecilku. Aku pernah tawu bersama teman-teman, tepat di bawah kolong jembatan ini. Ketika ngomong di bawah sana, maka suaranya akan ngumandang (bergema).
    Kalen lor yang membelah desaku di bagian utara, dibangun di masa itu sebagai saluran irigasi untuk mengairi onderneming (perkebunan) tebu milik PG Jenar. Saluran selebar 3-4 meter tersebut ke arah barat makin mengecil, hingga berujung di barat desa Walikoro. Ayahku (1918-2006) di masa kecilnya masih menyaksikan kejayaan PG Djenar tersebut.
    Setidaknya bapak pernah bercerita, rerimbunan kebun tebu sering menjadi arena persembunyian begal setelah melakukan aksinya. Pernah pula korban pembegalan itu kelabakan karena matanya diraupi sambel. Bahkan kata Bulik Sis berdasarkan cerita orang-orang yang mengalami jaman itu, ada seorang warga Candi yang merampok Cina Mindring (tukang kredit keliling) dan mayatnya dibuang ke tengah kebun tebu.
    Di masa kecilku seputar 1955-1965, sisa-sisa peninggalan PG Djenar sudah tak berbekas. Setahuku, bekas PG Djenar disulap menjadi pabrik beras atas nama PT. Sri Rahayu, dikelola pengusaha Belanda bernama Sidik. Dulu (1968-1969) aku sering disuruh simbok ngloper beras ke pabrik beras tersebut.
    Sekitar tahun 1962-an, aku bersama sejumlah teman pernah nekad berjalan kaki menuju pabrik untuk mencari burung sriti. Setibanya di sana kami segera masuk ke urung-urung (gorong-gorong) di bawah puing-puing pabrik yang menyimpan kejayaan masa lalu. Tanpa merasa takut tergigit ular atau terkena beling, kami berebut masuk ke dalam air yang berkedalaman setinggi leher anak-anak. Ribuan burung sriti beterbangan, dan kami pun menangkapinya tanpa tahu apa gunanya.
    Aku masih ingat benar, topi pandanku penuh dengan burung sriti yang basah dan mati. Padahal pada akhirnya, burung-burung tersebut hanya kubuang percuma. Kamipun pulang kembali berjalan kaki, melewati tanggul kali Purwodadi hingga Purwosari. Dari sana belok ke kanan, menyelusuri selokan dan kemudian lewat sawah lor Walikoro, dan tibalah di rumah dengan perut lapar dan kehausan.

  7. Bali SEO says:

    saya baru tahu kalau mereka dilahirkan di daerah pabrik gula jenar

  8. Mbah Suro says:

    Tahun enam puluhan bekas rel lori tebu di Wingko mulyo masih tampak, tanah gundukan setinggi lebih kurang satu meter membentang ditengah sawah dari arah timur kebarat (arah Jenar sampai Seboro pasar) Orang dulu menyebut “ngetrim” mungkin dari asal kata TREM. Saya masih ingat ada pemuda dari Wingko mulyo yang kaki kanannya putus karena terlindas Trem/ lori pengangkut tebu namanya Pak Kadir, beliau tinggal di Jakarta, hanya sesekali kondur ke Wingko pada saat Idul Fitri saja.
    Masih ditahun 60 an ketika saya duduk dikelas dua SMP Marhaen Wunut, saya sering ikut Traktornya Mbah Carik Mangun Sukarto (Carik Wingko mulyo) ngangkut padi kepabrik beras di Jenar, supirnya saya masih ingat betul namanya Mas Ngusman dari Cokroyasan. Traktor yang biasanya untuk membajak sawah pada musim kemarau, kalau musim hujan dipasang gandengan untuk angkut padi kepabrik, kadang ambil padinya dari Wonoroto, Pasir puncu. Ngawu-awu dan daerah pesisir selatan.
    Sepulang dari pabrik beras tidak langsung pulang, tetapi ke Mboro ngambil batu kali/ pasir untuk nguruk jalan desa yang masih becek.
    Konon kabarnya Mbah saya yang bernama Tjokrosendjojo dengan nama kecil Banjir dulu sebagai mandor tebu, itulah sedikit ceritera yang masih saya ingat sehubungan dengan tulisan Pak Slamet Wiyadi, tentang Pabrik Gula Jenar yang “bangkrut” karena “krisis” yang pada akhirnya berubah menjadi pabrik beras.
    Matur nuwun Pak Slamet telah mengingatkan kenangan masa kecil saya di Wingko, krn saya tinggal di Wingko hanya beberapa tahun saja, mohon maklum karena orang tua saya seorang tentara yang sering dipindah tugas. Salam…..

  9. Mbah Suro, syukur kalau tulisan saya itu menggugah kenangan masa kecilnya di Wingko. Memang tujuan tulisan itu antara lain untuk untuk bernostalgia dengan daerah asal kita Purworejo dan kata orang “nostalgia” itu mempunyai pengaruh positif bagi kejiwaan kita. Pabrik gula Jenar dan kemudian pabrik berasnya adalah masa lampau Pwr spt juga ditulis Mas Gunarso. Masih banyak cerita2 masa lampau Purworejo yang layak untuk ditampilkan, juga pengalaman waktu kecil, kenapa mbah Suro tidak memulai menuliskannya?
    Kedua, saya ingin tanya mengenai pemuda Wingko yang kakinya kelindes trem, itu terjadi kira2 tahun berapa, sebab”trem” itu kan sudah “hilang” bersama dengan bangkrutnya pabrik permulaan tahun ’30-an.
    Salam, Sw.

  10. Yoyo S says:

    Trima kasih Pak Slamet Wiyadi, atas karya sejarahnya mengenai Pabrik Gula, jadi saya ingat sewaktu masih kecil saya sering di ajak Mbah saya dari Desa Borowetan jalan kaki ke desa Plandi dengan tujuan silaturahmi di tempat adiknya Mbah saya. namanya Mbah Tuminah rumahnya di sebelah selatan pabrik gula ( waktu itu sudah alih fungsi jadi penggilingan padi ) tahun 1962 an, kala itu belum ada kendaraan umum seperti sekarang,Bus jurusan Jokja aja masih jarang sekali, paling paling kalo punya ongkos naik dokar, kalo melihat bekas bekas peninggalan bangunan jalan lory yang sampai sekarang masih tersisa sepertinya kala itu tanah sawah dari daerah Jenar sampai ujung utara ( di Desa Pakisrejo) di jadikan lahan tanaman tebu, dan yang sampai sekarang masih tersisa bekas jalur rel lory di sawah Desa Borowetan yang membujur dari arah selatan sampai wilayah Desa Tegalrejo, sawah di kanan kiri gundukan bekas rel tersebut kalo orang desa saya bilang sawah daerah ngetrim. Ini sekelumit untuk mengenang masa lalu. Salam buat Warga Purworejo di manapun berada.

  11. massito says:

    Saya ingin nyambung dengan yang namanya Pak Kadir, pada tahun 60 an saya juga melihat orang tersebut, waktu tiu sudah pakai Kruk, tetapi kakinya kenapa saya tidak tahu, keluarganyapun saya tidak tahu, adapun sekarang tidak ada kabarnya lagi. Setelah era Pabruik tebu tahun 30 puluhan dimana waktu itu saya belum lahir, pada tahun 70an daerah sebelah barat Ngangkruk pernah juga ditanami tebu, cuma Pabriknya dimana saya tidak tahu. Selain itu didesa Wingko Mulyo dan Wingko tinumpuk pada sekitar tahun 70 an pernah juga ditanami Rosela. Tetapi pabriknya dimana saya tidak pernah tahu, setahu saya setelah selesai dikontrak kira2 2 tahun tanahnya menjadi subur. Dan disela2 tanaman banyak ikannya. itu sekilas masa lalu yang masih saya ingat. Massito

  12. nuhaa says:

    Nuwun sewu, Jenderal Ahmad Yani lahir wonteng ing Jenar, Purworejo punopo Desa Rendeng, Kecamatan Gebang< Purworejo. Ingkang leres pundi???

  13. widibintoro says:

    Ternyata komentar Bapak terhadap foto pabrik gula di Jenar waktu itu, sekarang semakin diperjelas dengan tulisan ini, terima kasih dan semoga jadi masukan yang bagus bagi Mas Luthfi dkk. Kalau cerita simbah saya dulu, tidak hanya pesisir selatan saja yang di tanami/diproyek tebu oleh Belanda, tetapi dari Pituruh sampai Kemiri terus ke timur hampir semua wilayah persawahan yang ada saat itu diwajibkan menanam Tebu. Karena tanahnya masih sangat subur, ukuran Tebu saat itu lebih besar mungkin dua kali lipat dari yang kita jumpai saat ini (gedhene sak pring/bambu kata simbah). Bukti keberadaan proyek tebu tersebut yang masih dapat dijumpai adalah adanya jalan yang namanya “Ngetrem” membujur dari Desa Rowobayem Kemiri kearah Timur, arah ke Barat hanya berupa tanggul yang lebih tinggi tanah dari kiri-kanan. Katanya itu dahulu bekas jalur Trem atau kereta lori yang mengangkut Tebu dari wilayah Pituruh dan Kemiri menuju pabrik Gula di Purworejo ya pastinya Pabrik Gula Jenar itu. Salam

  14. nuhaa says:

    Nuwun inggih, matur nuwun.

  15. Nama saya Bambang Sudiyono lahir di desa Ngentak Wingko Mulyo 65 tahun yang lalu, kepernah pakliknya ny. Surowo Sahono (mbah Suro…?). Memang cerita tentang tanah gundukan bekas lori “ngetrem” angkut tebu pada zaman Kompeni waktu saya meninggalkan desa Ngentak karena masuk tentara tahun 1966 masih ada, dan oleh warga ditanami singkong/jagung. Bahkan di kali disebelah barat makam (njaratan) sejajar jalan Ngentak-Wingko Mulyo masih ada gorong-gorongnya. Yang lebih menakutkan lagi, lokasi itu masih dianggap angker/wingit (lebih-lebih malam hari).
    Nggih mboten nak Rowo ??????

  16. Gunarso Ts says:

    Berkat tulisan Pak Wiek, kisah-kisah seputar PG Jenar menjadi semakin kaya. Minggu lalu saya kebetulan pulang ke Ngombol, sekalian menengok dan memotret sisa-sisa PG Jenar, karena penasaran akan cerita Pak Wiek. Dengan mencarter ojek saya memasuki desa Plandi bukan saja dari jalan raya Pendawa, tapi juga lewat samping jaratan Padon Sanga, Jenar Lor. Insya Allah saya akan menuliskan “oleh-oleh” itu dalam waktu tidak lama lagi. (gts)

  17. Sri Widodo Soetardjowiyono says:

    Mantap. Semakin memperkaya khasanah sejarah Indonesia, khususnya Purworejo. Prihatin sekali melihat kondisi bangsa saat ini yang dipimpin oleh bangsa sendiri, di mana impor gula tak terkendali. Padahal, dulu pengekspor terbesar kedua di dunia. Ternyata Belanda jauh memiliki kepedulian terhadap masa depan rakyatnya.

    Pak Wi, jika diperkenankan, saya ingin sekali Pak Wi menulis tentang Purworejo sebagai Tanah Pardikan. Terima kasih sebelumnya.

  18. [...] tulisan Pak Slamet Wiyadi tentang Pabrik Gula Jenar di Blogger Purworejo ini, kenanganku di masa lalu kembali bersliweran di depan mata. Demikian [...]

  19. wah… saya betul-betul kaget dan terkagum dengan tulisan bapak. sudah lama kami mendapatkan / unduh foto-foto kuno pabrik gula di purworejo dari sebuah website sebuah museum di belanda, tanpa tahu dimana posisi dan tahun pabrik itu dahulu.
    mohon ijin akan kami share di blog kami : budayapurworejo.blogspot.com dan akun fb kami : facebook.com/budaya.purworejo.
    salam hangat…

  20. Mas,
    Terima kasih banyak. Sumber sejarah tsb dari mana ya? Majalah berbahasa Jawa terbitan Surabaya ” “Jayabaya” edisi Juli 2011 ini juga menulis Pabrik Goela di Plandi. Sedikit berbeda bahwa pabrik ini berdiri sekitar 18xx (akhir).
    Salam,
    AP – Jenarkidul

  21. Gunarso Ts says:

    Terima kasih atas perhatian Mas Agung Prastowo. Saya sebagai penulis artikel tersebut di Minggon Jaya Baya Surabaya (JB No. 46, Juli 2011), tak merasa menulis keterangan seperti itu. Pada halaman 8 kolom 3 penjelasan seputar berdirinya PG Djenar sebagai berikut:
    PG Jenar mujudake salah sijine PG ing Hindia Belanda (Indonesia), sing melu bangkrut mau. Dhek jaman kencana rukmine PG taun 1929, PG Jenar uga melu darbe andhil, saengga ekspor gula saka Indonesia paling gedhe dhewe sadonya. “Sukses”-e industri gula Ing Tanah Jawa, satemene ora uwal saka kekejamane Landa liwat politik Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830-1870). Liwat Cultuurstelsel gagasane gubernur jendral Van Den Bosch (1830-1833) mau kas negara Landa bisa diisi nganti 66, 1 juta gulden taun 1831. Wiwit taun 1832-1867 total saldo kauntungan (batig slot) saka Tanah Jawa nganti 823 juta gulden.
    Bareng program Tanam Paksa dijabel taun 1870, perkebunan tebu kang diurus swasta terus ngrembaka, saengga suiker fabriek (pabrik gula) madeg ing ngendi-endi. Ing Kab. Purworejo dhewe, NV (Naamlooze Venootschap) Suikeronderneming sawise adol saham lumantar idine Notaris JP. Smits Desember 1908, wiwit Juni 2009 mbangun PG ing Desa Plandi Kecamatan Purwodadi. Taun 1910 candhake pabrik kasebut wiwit produksi.
    Demikian penjelasan saya, semoga Mas Agung Prastowo bisa memahami. (gts)

  22. Gunarso Ts says:

    Sorry Mas, pengetikan ulang baris ketiga dari bawah mestinya: wiwit Juni 1908. Terima kasih. (gts)

  23. agung_prastowo says:

    Pengetahuan saya kepada Pak Suparto Brata (Pak Parto) sebenarnya terjadi secara tidak sengaja. Sewaktu dulu saya kuliah di Jogya th 1988-an, berkenalan dg mahasiswi dari fakultas lain yg kemudian bicara ngalor ngidul termasuk asal-usul saya. Saya kaget ketika dia yg berasal dari JaTim kok bisa mengimbangi pembicaraan saya soal daerah saya, bahkan pasaran Purwodadi yg hanya buka hari Senin dan Kamis saja diketahuinya. Ujung-ujungnya dia menyodorkan majalah Kartini yg memuat cerpen Pak Parto tentang romantika yg berlatarbelakang Purwodadi – Ngombol.
    Ketika mulai berkenalan dg email & internet, saya mendapat email dari Pak Parto menerangkan novel beliau yg berlatar Purwodadi-Ngombol seperti Mas Gun sampaikan.
    Pokoknya bravo untuk tulisan-tulisan yg bercerita tentang daerah asal…membacanya lebih mengedepankan passion he..he.. Salam (AP).

  24. Aya Tary says:

    Waaaah,,sya sampe merinding Pak,,saya lahir di Jatimalang PWD PWR 23thn lalu baru skrg tau tntg ini,,Amazing..
    Matur swun..

  25. teguh says:

    apa yg di maksud PG jnar lor itu yg skrg terletak di dukuh pbrik kidul sblah barat jln yogya tepatnya pertigaan asemlabour ke barat 500m ada bgunan pabrik..yg skrg bkas purworejo tex,dan seblah utaranya di dukuh pabrik lor,komplek rumah milik mantan kades sumberrejo keluarga yohanes marios mook,yg skrng jd pabrik lidi manunggal perkasa,n di sebelah barat di krossten area ada bkas bngunan yg konon ktanya PG,,dan di bendungan seblah timur dukuh persidi ada bekas jmbtan rel kerta api n sumur tua sepanjang dukuh pabrik yg smpai skrng airnya sgt baik di konsumsi hingga ke bngunan bekas purworejo tex..trimaksih.

  26. slametwijadi says:

    Mas Teguh, benar sekali, disitu memang lokasi bekas Pabrik Gula Jenar. Pada waktu tahun ’40-an masih banyak tersisa bangunan2/gedung pabrik. Waktu itu saya berkunjung ke rumah teman saya yang satu klas di SMP Pwr, putra Lurah Plandi,dan saya diajak jalan-jalan ke bekas area pabrik itu. Trimakasih. Salam, Sw.

  27. Mas saya mau tanya itu foto-foto yang dimuat lokasinya dimana ya? apakah di desa Plandi Purwodadi,karena disana ada yang namanya dukuh PABRIK lengkap dengan orang keturunan BELANDA tapi sudah seperti orang jawa kalau gak salah FAM / MARGA nya VANMOOK apa betul begitu ya?

  28. slamet wijadi says:

    Mas Wawan, lokasi foto-foto itu ya dilokasi Pabrik Gula Jenar yang memang terletak dalam lingkungan kelurahan Plandi, Purwodadi. Kalau sekarang ada dukuh yang namanya dukuh Pabrik, saya yakin disitulah letak/lokasi bangunan pabriknya. Mengenai adanya orang keturunan Belanda, ya mungkin saja, keberadaan pabrik selama sekitar 20 tahun mestinya memungkinkan adanya hubungan pernikahan/biologis antara staf orang Belanda dengan warga wanita setempat yang kemudian menghasilkan turunannya sampai sekarang. Ini subyek yang menarik untuk bahan kajian, seperti tulisan saya tentang Londo Ireng Purworejo itu. Salam.

  29. Mas Gun, komentarnya melengkapi cerita tentang Pabrik Gula Jenar. “Prasasti Pulutan” itu bukti tentang jangkauan operasi pabrik masa itu dalam usahanya untuk mengamankan suplai bahan pokok tebu. Cerita2 sang ayah tentang begal dan sebagainya sehubungan dengan rerimbunan kebun tebu itu sangat masuk akal, bahkan sewaktu saya kecil yang namanya begal, kecu, rampok, maling nggangsir merupakan cerita harian dan itulah mengapa setiap asistenan ada “mantri polisi” yang bertanggung jawab pada keamanan.
    Walaupun tidak menyadari, mas Gun masih beruntung telah mengalami/menjadi bagian dari bekas pabrik itu dan masih mendengar tentang cerita2nya. Generasi sekarang saya yakin sudah “tidak terhubung” lagi dengan masa itu. Itulah a.l. tujuan tulisan saya, setidaknya sebagai bahan cerita masa lalu Purworejo bagi yang masih punya minat akan hal itu. Terimakasih untuk komennya yang menarik, salam perdesaan. Sw.

  30. Mas Bali SEO, kalau membaca riwayat hidupnya Pak Yani akan jelas hal itu. Salam, Sw.

  31. Gunarso Ts says:

    Mbah Suro, kinten-kinten Pak Kadir punika punapa taksih sugeng? Wonten Jakarta lenggahipun wonten pundi, sukur bage panjenengan priksa alamatipun. Kula kok kapiadreng saged pinanggih kaliyan Pak Kadir punika, mbok menawi saged kangge dhudhah-dhudhah cariyos jaman ingkang sampun kapengker. Matur nuwun.

  32. Mas Yoyo, memang betul dibeberapa tempat sisa2 pabrik gula Jenar bisa dibuktikan dengan adanya bekas “ban” rel lori yang nampaknya menjangkau daerah/area penanaman tebu yang cukup luas, bahkan ke utara/timur sampai di desa Borowetan. Sayang kepustakaan tentang pabrik itu sangat minim, sehingga kita hanya bisa menduga2 berdasarkan tinggalan gundukan rel lori tsb.Barangkali karena usia pabrik yang cukup singkat. Namun sebagai kajian sejarah daerah Purworejo, keberadaan pabrik itu cukup penting, lagian disitulah salah seorang putra terbaik Indonesia dilahirkan, Pak Yani.
    Saya senang bahwa “dongeng” tentang pabrik gula itu telah “menggugah” kenangan lama mas Yoyo, kenangan dengan mbah tercinta dan perjalanan kedesa Plandi yang cukup melekat dalam kenangan sebagai bagian dari sejarah hidup mas Yoyo. Terimakasih untuk komentarnya, salam, Sw.

  33. Terimakasih mas Massito sudah ikut meramaikan kisah pabrik gula Jenar. Sekarang giliran mbah Suro untuk memberikan “pencerahan” tentang Pak Kadir, sudah ada tiga pertanyaan yang menyangkut tentang dirinya.
    Mengenai tanaman tebu di sebelah barat Ngangkruk, dugaan saya adalah itu untuk suplai pabrik gula di daerah Jogja. Waktu itu, sekitar tahun 70-an, daerah sepanjang Pasir Puncu sampai Congot juga merupakan area kebon tebu yang diperuntukkan bagi suplai bagi pabrik gula Jogja (Madukismo?). Salam, Sw.

  34. Mas Nuhaa, Jendral Achmad Yani lahir di Jenar, waktu itu ayahnya bekerja di pabrik gula Jenar. Silahkan baca di Wikipedia dan buku2 riwayat hidup Pak Yani.Yang saya tahu desa Rendeng itu adalah desa asal/asli orang tua Pak Yani.Salam, Sw.

  35. Trims mas Widi untuk komen nya. “Cerita simbah” itu menjadi bukti bahwa cakupan pabrik gula Jenar itu cukup luas dan meliputi hampir seluruh daerah Kabupaten Purworejo. Sayangnya cerita tentang hal itu sampai saat ini tidak terdokumentasi, bahkan tidak pernah disebut dalam profil/sejarah kabupaten kita. Pabrik gula Jenar hanya disebut dalam biografi Pak Yani sebagai tempat kelahiran putra Purworejo ini. Rupanya memang bangsa kita kurang berminat untuk menghargai sejarah dan cepat lupa, hal ini juga berlaku untuk tingkat nasional menyangkut perjuangan bangsa sendiri, sayang… Salam.

  36. Trimakasih kembali.

  37. Pak Bambang, trimakasih sudah meramaikan forum tentang pabrik gula Jenar. Ceritanya itu melengkapi kisah keberadaan pabrik yang telah ditutup pada permulaan tahun 30′an. Ternyata cakupan area tanaman tebu cukup luas, kebarat/utara sampai daerah Pituruh dan ketimur/selatan hampir seluruh daerah Bagelen/Banyuurip dan Ngombol. Kini yang tersisa sebagai bukti hanyalah (kalau masih ada) tanah gundukan bekas lori “ngetrem” angkut tebu dan gorong2 yang dinggap angker… Dilokasi pabrik sendiri bekasnya sudah nyaris punah, padahal itu baru 80 tahun yl. Masih lebih hebat candi2 bikinan nenek moyang kita yang umurnya telah ribuan tahun. Bagaimanapun, keberadaan pabrik gula Jenar adalah merupakan bagian sejarah dari daerah kita, setidaknya salah satu pahlawan kita, Pak Yani, lahir disitu. Salam

  38. Mas Gun, saya senang bahwa tulisan tentang pabrik gula Jenar mendapat respons cukup lumayan sehingga mampu menggugah kenangan lama bagi para teman2 blogger. Kita tunggu tulisan mas Gun yang pasti akan melengkapi kisah pabrik kita ini dengan cerita bagaimana keadaan saat ini, tentunya dengan menampilkan foto2nya. Usaha mas Gun sampai mencarter ojek dan “blusukan” liwat samaping jaratan Padon Sanga hanya untuk membuktikan keadaan bekas pabrik gula sungguh perlu mendapatkan apresiasi, itulah jiwa seorang wartawan sejati… Salam.

  39. Mas Sri Widodom trimaksih untuk komentarnya. Tulisan saya itu sekedar “iseng2″ pengisi waktu sebagai pensiunan, mengenai hal2 yang mungkin menarik bagi “kawula” Purworejo yang berminat sejarah tentang daerahnya. Saya juga ingin “memancing” para blogger lain agar menulis segala sesuatu khususnya yang terkait dengan daerah kita spt apa yang selama ini saya coba.Memang masih banyak hal2 yang menarik dari daerah Pwr yang belum terungkap.
    Mengenai usul untuk menulis Purworejo sebagai Tanah Perdikan, apa maksud mas Sri yang terkait pada jaman Mataram Kuno yang kemudian menjadi sumber hari jadi Kabupaten Purworejo? Kalau itu kan sdh ada ceritanya.
    Salah satu kesulitan untuk menulis kisah masa lalu adalah kendala tentang sedikitnya bahan2 yang bisa dijadikan acuan/rujukan. Kalau tanpa itu akan menjurus pada sekedar dongeng/legenda. Salam.

  40. Mas Agung, trimakasih untuk komentar dan apresiasinya terhadap tulisan saya. Syukur kalau kisah itu memberikan informasi baru bagi mas Agung. Silahkan kalau mau di share, saya bahkan akan “bangga” memperoleh kehormatan itu. Saya juga sudah membuka blog budaya purworejo dan saya menemukan banyak kisah2 menarik yang saya tidak tahu sebelumnya, misalnya tentang Kadipaten Kuthoarjo. Mungkin kalau disetujui dapat diusulkan adanya “kerjasama” antar dua blog ini yang hakekatnya mempunyai misi/tujuan yang sama, sebagai forum komunikasi masyarakat Pwr. Namun semuanya terserah kpd pengelolanya. Salam kenal, Sw.

  41. Mas Agung, dengan penjelasan dari mas Gunarso sebagai penulis artikel di Jayabaya, kiranya sudah terjawab pertanyaan mas Agung tsb. Terimakasih atas perhatian thd. tulisan saya, salam, Sw.

  42. agung_prastowo says:

    Mantap… “Mongkok” rasane ati saya kalau membaca tulisan yg di-publish yg berlatar belakang daerah Purwodadi, Jenar, dan sekitarnya. Mas Gunarso harus meng-enlarge tulisan-tulisannya termasuk cerita fiksi kalau perlu. Saya iri kalau membaca novel Laskar Pelangi (LP), dimana novel ini bisa memberikan efek domino menaikkan kunjungan wisatawan ke daerah Belitung. Meskipun tidak sedahsyat LP, rasa kangen saya akan daerah saya terobati dg membaca cerita karangan pak Suparta Brata.

  43. Mas Gunarso, trimakasih atas tanggapan dan penjelasannya, sehingga semuanya jadi “clear”. Salam, Sw.

  44. Gunarso Ts says:

    Mas Agung mungkin sudah baca buku-bukunya Pak Suparto Brata yang berjudul Kerajaan Raminem (4 jilid), Donyane Wong Culika? Semua novel itu mengambil setting seputar Purwodadi dan Ngombol. Novel Jawa lainnya yang berjudul “Asmarani” (1964), juga bercerita tentang anak desa Ngombol. Pak Parto begitu ngelotok seputar Kab. Purworejo, karena istrinya, Bu Ribut Aryani, adalah kembang desa Njoso Kecamatan Ngombol.
    Mereka menikah tahun 1961. Aku yang masih anak-anak, kala itu diajak kondangan simbok ke rumah teman bakul berasnya, Mbok Kasan Dirdjo, yang kala itu mantu dengan nanggap wayang klithik. Sungguh tak menyangka, pengantin lelakinya 5 tahun kemudian merupakan pengarang Jawa yang kugemari. Saat dalam novel “Asmarani” dimuat di mingguan Jaya Baya, pengarang Peni (nama samaran Pak Parto) begitu ngelotok soal Ngombol, aku sungguh penasaran. Tahun 1990, ketika saya ke Surabaya dan ketemu Pak Parto bersama ibu, semuanya baru terjawab. Ternyata Bu Parto adalah bekas muridnya Lik Guru Pomo, pamanku.
    Foto-foto pengantin Pak Parto di tahun 1961, yang mengabadikan Lurah Tomo, Kades Njoso, yang punya foto studio “Kenangan” di Purwosari. Kini bu Aryati sudah almarhum, meninggal tahun 2002 di Surabaya. Hingga kini, saya hampir tiap hari selalu kontak-kontakan dengan Pak Parto, bahkan sering ketemu dalam kegiatan Sastra Jawa di Jateng dan Jatim.
    Begitulah Mas Agung, semoga menjadi lebih terang adanya. Trima kasih. (gts)

  45. Trimakasih untuk komennya, syukur kalau dapat menambah wawasan tentang Pwr tempo dulu dan saya “tersanjung” dengan kata2 “sampai merinding”… padahal kan cerita biasa. Jatimalangnya dimana? Kalau pulang kampung saya selalu kesana untuk “jalan pagi di sepanjang pantai” dan sesekali mampir tempatnya Yu Yem untuk menikmati sea food. Salam, Sw.

  46. Aya Tary says:

    Timur balai desa Jatimalang Pak..
    Monggo mampir griyo bpak kulo..hehehe..
    Pak,,ada sedikit unek2..
    Sngat disyangkan di BP ini,,cerita soal purwodadi keselatan tepatnya daerah sya sngatlah sedikit bhkan sudah sya bolak balik ttp tdk ada,,pdahl cerita tntang ngombol dan purworejo utara bnyak bgt..
    Hehehe,,simbah sya jarang cerita jman dahulu,,paling hnya cerita tentang duit benggol & jaman nipon,,mkanya sya brharap dri sni bsa tau bnyk tntg daerah selatan Purworejo..
    Terima kasih..
    Sukses trs untk Pak Wiek..Amin..

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

KENANGAN NGLONJO DARI WINGKO KE PURWODADI

27 - Jun - 2011 | Mbah Suro | 8 Comments »

Menarik Hikmah Dari Musibah Situ Gintung.

7 - Apr - 2009 | slamet wijadi | 8 Comments »

Perencanaan Mudik Lebaran

11 - Aug - 2009 | Cah-DkDungus | 8 Comments »

Hamil dan Resikonya ( Bayi di bawa makluk Halus )

25 - Mar - 2014 | slamet_darmaji | 2 Comments »

PEMILIHAN LURAH

13 - Apr - 2013 | massito | 23 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net