Kawin Emas Eyang Slamet Wiyadi

  22 - Apr - 2011 -   Gunarso TS -   47 Comments »

“Tikungan” Pembawa Keberkahan.
Lima puluh tahun usia perkawinan, sebuah prestasi besar sebuah keluarga. Eyang Slamet Wiyadi (78), hari Minggu lalu (17/04) memperingati “Kawin Emas” itu di Hotel Grand Kemang, Jakarta. Teman seperjuangan dan handai taulan semua hadir. Meski sempat terhalang “tikungan” dalam perjalanan kariernya, justru tikungan itu telah membawa keberkahan dirinya. Selama 50 taun dalam suka dan duka rumah tangga, Pak Wiek berhasil mengantarkan ketiga putranya menjadi keluarga bahagia nan sejahtera.


Eyang Slamet Wiyadi – Ismoyomurti, memotong kue kawin emasnya, disaksikan para putra-putri dan cucu.

TIBA-tiba suasana terasa hening di ruang Magzi Ballroom, Hotel Grand Kemang, Jakarta, ketika terlihat Prof. Dr. Hasjim Djalal terisak-isak dalam kata sambutannya. Sekitar 300 undangan ikut larut dalam kenangan ayahanda Dinopati Djalal, Dubes RI di AS itu, saat kebersamaannya dengan Eyang Slamet Wiyadi di negeri Paman Sam 53 tahun silam.

“Sewaktu kampung halamanku di Bukit Tinggi (Sum-Bar) diserbu TNI untuk menumpas pembrontak PRRI tahun 1958, kepada Mas Slamet Wiyadi lah saya bercurhat, mengurai kesedihan dan kegundahanku lewat surat Virginia – Oregon……..” kenang mantan diplomat ulung dari era Presiden Soeharto hingga BJ. Habibie itu.

pak_wiek_02_ed
Prof. Dr. Hasjim Djalal (tengah), teman kuliah eyang Slamet Wiyadi di Amerika, mengucapkan selamat pada pasangan yang berbahagia itu.

Siang itu, Eyang Slamet Wiyadi MA yang juga penulis produktif di blogger Purworejo ini, tengah menikmati kebahagiannya. Bersama anak cucu dan semua kerabat dekatnya, beliau memperingati Kawin Emas-nya dengan Ibu Ismoyomurti, 50 tahun silam di kota Madiun 14 April 1961. Selain Prof. Dr. Hasjim Djalal, nampak pula hadir Joop Ave mantan Menteri Pariwisata (1993-1998), Prof. Dr. Sanyoto, mantan Rektor Universitas Ahmad Yani (Bandung), sejumlah diplomat termasuk mantan Dubes RI di Belanda, Sudarmanto Kadarisman. Banyak di antara mereka yang sesama alumnus ADLN (Akademi Dinas Luar Negeri) angkatan tahun 1953.

Dipandu MC kondang Sandrina Malakiano yang juga putri alm. Ny. Didiet Sutarti teman Pak Wiek di ADLN dulu, acara berlangsung demikian hidup dan meriah. Bersama istri tercinta Bu Ismoyomurti, Eyang Slamet lalu berkeliling mendatangi meja hadirin, menyapa dan menyalami tamu satu persatu. Sejenak mereka bernostalgia. Bahkan mantan guru Pak Wiek di SMA Yogyakarta, Sulwan Astradiningrat (87), berkenan hadir pula. Maka penulis merasa mendapat kehormatan, karena satu-satunya sesama Wong Ngombol yang bisa hadir dalam Kawin Emas Pak Wiek ini.

pak_wiek_03_ed
MC Sandrina Malakiano bersama suaminya, Eep Saefullah Fatah, berbincang-bincang dengan Oom Joop Ave (kanan), mantan Menteri Pariwisata.

Kawin jual mesin tik

Untuk sebuah perkawinan, berhasil mencapai usia 50 tahun, sungguh prestasi luar biasa. Tak banyak yang berkesempatan meraih karunia Illahi semacam ini. Namun Eyang Slamet Wiyadi – Ismoyomurti berhasil menikmati karunia yang tak ternilai itu. Dengan suara tersendat, Sri Murti Adiyastuti putri pertamanya mengatakan: “Kami menyaksikan berbagai tantangan dan cobaan yang mewarnai kehidupan pernikahan bapak dan ibu. Selama 50 tahun, kesetiaan dan kesabaran senantiasa diuji. Walaupun begitu kami juga menyaksikan bagaimana bapak dan ibu saling bekerjasama, bahu membahu dalam menghadapi semua tantangan dan cobaan…..”

Lima puluh tahun lalu, tepatnya pada Jumat Kliwon 14 April 1961 menjelang Isya, pemuda Slamet Wiyadi asal Desa Susuk Kec. Ngombol Kab. Purworejo, menikahi gadis Ismoyomurti putri kedua Bapak Kamsi Wirjoatmodjo, di kediaman Jl. Merpati No. 22, Nambangan Lor, Madiun. Mereka berkenalan saat sama-sama bekerja di LAN (Lembaga Administrasi Negara) Jakarta. Pengantin wanita adalah sekretaris Direktur LAN, Prof. Prayudi, sementara Slamet Wiyadi, pegawai Deplu yang diperbantukan di lembaga tersebut.

Dalam usia 29 tahun kala itu, pemuda Slamet Wiyadi nyaris tak punya persiapan untuk menyambut perkawinannya, kecuali mesin tik portable Oliveti yang dibawanya dari Oregon saat sekolah di AS. Dengan semangat jer basuki mawa beya tentunya, mesin tik itu dijualnya laku Rp 14.000,- Keterbatasannya ini disampaikan terus terang kepada calon istri dan mertuanya. Mereka tak masalah, sehingga perkawinan atas biaya mertua itu pun berlangsung dengan khidmat. Bahkan dengan uang sisa penjualan mesin tik itu pula, pasangan bahagia tersebut bisa berbulan madu ke Selecta, Malang.

Selama 50 tahun mengarungi bahtera rumahtangga dengan segala suka dan dukanya, Eyang Slamet Wiyadi memiliki satu putri dan dua putra, masing-masing: Sri Murti Adyastuti, Hari Murti Wiyadi, dan Adi Susatio. Dari mereka telah dipersembahkan cucu-cucu ganteng dan cantik sebanyak 6 orang. Ketiga putranya semua sarjana lulusan AS, dan kini sukses menapaki keriernya masing-masing. “Walaupun keadaan ekonomi keluarga kami tak berkelebihan, kami mengenyam pendidikan di sekolah terbaik, meski Bapak dan Ibu harus mengorbankan kesenangan dan keinginan untuk bisa hidup lebih mewah dalam hal materi,” kenang Sri Murti Adyastuti dalam kesan-kesannya.

“Tikungan” bawa berkah
Pasang surutnya kehidupan, kenyang dialami pasangan Ismoyomurti – Slamet Wiyadi. Di kala mengawali kariernya sebagai diplomat di KBRI Moskow, pada 30 September 1965 tiba-tiba peristiwa G.30.S/PKI meletus. Bung Karno “digulingkan” secara perlahan, sementara para pendukungnya disingkirkan. Slamet Wiyadi yang baru 9 bulan bertugas sebagai Atase Politik merangkap Kebudayaan, terkena imbasnya. Bersama 80 temannya sesama warga Gerakan Pemuda Deparlu (GPD), dia diskors karena organisasi pendukung Bung Karno itu dianggap menguntungkan gerakan PKI.

Slamet Wiyadi ditarik ke Jakarta dan diberhentikan dengan hormat dari Deplu (Departemen Luar Negri). Inilah hari-hari sulit yang harus dilalui. Untuk menghidupi satu istri dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil, dia jadi sopir taksi gelap. Awalnya diserahkan pada orang lain, tapi karena selalu dibohongi, akhirnya mobil VW Kodok bawaan dari Soviet itu dijalankan sendiri. Teman senasib di Deparlu, Sudarmanto Kadarisman, juga naksi bareng-bareng dengan kendaraan Mercy. “Saya ngetem di terminal Grogol, Sudarmanto di Glodok,” kenang Pak Wiek sekali waktu.

Beberapa tahun kemudian hasil sekrening di Deplu memutuskan bahwa Slamet Wiyadi dinyatakan tak ada indikasi, sehingga diberi kesempatan kembali berkarier di Deplu. Tapi sebagai lelaki trah Banyuurip yang punya prinsip dan kaprawiran, Pak Wiek harus tegas memilih pada “tikungan” kariernya. Bila kembali ke Deplu niscaya akan menjadi bawahan teman seangkatannya di ADLN, karena sudah terlambat kembali beberapa tahun kemudian. Di samping itu, Pak Wiek merasa tidak nyaman bekerja pada lingkaran rezim yang telah menciderai Bung Karno selaku founding father bangsa.

Eyang Slamet Wiyadi memang pengagum berat sekaligus pendukung Bung Karno. Perkenalan yang kemudian menjadi cukup dekat itu terjadi ketika menjadi staf pribadi Ruslan Abdulgani selaku Wakil Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung). Dia selalu ikut dalam rapat-rapat DPA, sebagai asisten Pak Roeslan. Di sinilah mulai mengenal dari dekat pribadi Bung Karno dalam memimpin rapat-rapat.

Pengalaman yang tidak terlupakan adalah sewaktu Bung Karno di tengah-tengah memimpin rapat tanggal 9 Maret 1960, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan ke Istana Merdeka dari pesawat jet MIG yang ternyata dilakukan oleh Daniel Maukar. Slamet Wiyadi menyaksikan betapa tenangnya Bung Karno menghadapi hal itu. “Beliau men-skors rapat untuk hari itu, namun hari berikutnya dilanjutkan lagi sepertinya tidak ada kejadian apa-apa,” kenang Eyang Slamet kepada penulis.

Pada “tikungan” kariernya itulah Eyang Slamet memutuskan memilih jalur swasta yang ternyata membawa berkah. Atas ajakan teman dia mengajar di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Berkat modal ijasah MA-nya pula Eyang Slamet berhasil bekerja di Semen Cibinong, juga perusahaan minyak asing, dengan gaji lebih dari cukup. Itu dibuktikan dengan kemampuannya membeli tanah dan membangun rumah di kompleks real estate Pondok Indah. Ketiga putranya yang mulai beranjak dewasa, satu demi satu disekolahkan di AS.

Sang istri, Bu Ismoyomurti, adalah juga seorang pengelola keuangan yang handal. Di samping berperan sebagai ibu rumah tangga, dia tak kalah sibuknya dalam organisasi sosial. Selama 30 tahun tinggal di Grogol dia memimpin berbagai kegiatan organisasi wanita, ikut dalam kegiatan Asean Women dan kini sudah lebih 10 tahun jadi Ketua Koperasi Rakyat Sejahtera Grogol, atas dasar pilihan anggota. Koperasi ini berkali-kali menerima penghargaan sebagai koperasi yang terbaik di Jakarta Barat. Uniknya, meskipun Eyang Slamet Wiyadi sekeluarga sudah pindah ke Pondok Indah, para anggota tetap mempertahankannya. Bu Ismoyomurti memang menyenangi kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan mengisi kesibukan yang bermanfaat.

Penuh syukur dan syukur
Pada usia 68 di tahun 2000, Eyang Slamet Wiyadi memutuskan pensiun dari perusahaan minyak asing itu. Mengisi kesibukannya di usia senja, selain rutin olahraga jalan pagi setiap pukul 05.00, juga membaca koran, menulis untuk mengasah pikirannya untuk menghindari kepikunan. Setahun 2 kali Eyang Slamet Wiyadi mengunjungi kampung halamannya di Desa Susuk Kecamatan Ngombol. Pada musim haji 2008 lalu Pak Wiek bersama istri dan anak-anak telah berhasil menunaikan rukun Islam ke-5.

Seperti berulangkali dikatakannya dalam sambutan lisan pada acara Kawin Emas-nya, Eyang Slamet Wiyadi merasa bersyukur dan bersyukur atas karunia Illahi yang sangat berlimpah. Dia tak pernah menyesali atas ketidakmulusan kariernya sebagai diplomat. Karena itu sudah menjadi takdir dan kehendak-Nya. Maklum, sebagai priyayi Jawa Pak Wiek tak pernah lepas dari filosofinya leluhur: Tri prakara kang sanyata, manungsa datan ngawruhi, siji tibaning pepesthi, loro jodho, tri pepintaning rejeki, kabeh iku kapurba Hyang Maha Kuwasa.

Eyang Slamet Wiyadi pun merasa sangat bersyukur telah memberi bekal ilmu yang cukup bagi anak-anaknya. Tanggungjawabnya sebagai orangtua, selesailah sudah. Dengan gaman (senjata) itulah dipersilakan putra-putrinya meniti kariernya masing-masing. Meski kemampuan ada, Pak Wiek tak pernah memanjakan anak-anaknya. Pernah sekali waktu ketika hendak mantu anak bungsunya di tahun 1990, Pak Wiek memberikan sejumlah pilihan. Ada dana sebanyak Rp 20 juta, ini untuk biaya resepsi ataukah untuk tambah-tambah beli rumah? Alhamdulillah, ternyata sang anak cukup realistis, dia memilih uang itu untuk tambahan beli rumah di Bandung.

Banyaknya kalangan mantan diplomat yang hadir pada acara Kawin Emas itu, menunjukkan juga betapa Eyang Slamet Wiyadi masih dianggap bagian dari lingkungan Deplu. Setelah waktunya banyak luang sebagai pensiunan, sejak 2007 beliau memang dipilih teman-teman sebagai Ketua Paguyuban ADLN angkatan 1953. Ternyata kegiatan ini merupakan berkah untuk lebih mempererat silaturahmi antar teman. “Saya malah dianggap sebagai “glue” (perekat) oleh Sdr. Joop Ave,” kata Eyang Slamet Wiyadi seraya tertawa.

pak_wiek_04_ed
Penulis merasa mendapat kehormatan, karena satu-satunya wong Ngombol yang diundang menghadiri hari bahagia Eyang Slamet Wiyadi.

Menurutnya, kelebihan seorang pensiunan adalah bisa mengatur kegiatan sendiri untuk hal-hal yang ia senangi, tak ada beban dan perintah dari siapapun dan dari manapun. Hakekat seorang pensiunan adalah manusia merdeka dalam arti yang sebenarnya. Tentu hal ini memerlukan perencanaan, dan yang sangat penting, ada bekal. Bagi pensiunan, bekal terpenting adalah kesehatan dan keuangan. Soalnya, punya uang banyak tapi sakit-sakitan, juga percuma. Sebaliknya, tubuh sehat tapi kantong kempes, juga bikin nelangsa. (Gunarso Tjokrosutikno).

Category: berita, Tags: | posted by:Gunarso TS


47 Responses to “Kawin Emas Eyang Slamet Wiyadi”

  1. meds says:

    Kagem Pak Slamet Wijadi, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun Perkawinan Emas. Semoga selalu diberi kebahagiaan dan kedamaian.

    Semoga masih berkenan berbagi cerita dan pemikirannya di forum Blogger Purworejo ini.

    • Mas Meds, trimakasih untuk perhatian dan doanya, juga trims telah menyediakan forum Blogger Purworejo yang memungkinkan mas Gunarso memunculkan tulisannya, yang tentu saja merupakan “surprise” yang menyenangkan bagi kami sekeluarga. Insya Allah saya akan terus menulis di Blogger Pwr, krn inilah forum “berbagi” untuk berbagai hal bagi keluarga besar masyarakat Pwr. Salam Sw.

  2. Mas Gunarso, terus terang saya susah untuk mengomentari tulisan tentang diri saya sendiri. Yang jelas kami merasa “tersanjung” dengan tulisan itu, sekaligus sangat berterimakasih bhw mas Gun sdh bersusah payah untuk menampilkan tulisan tsb. Walaupun tidak sepenuhnya akurat, namun secara umum itulah perjalanan hidup keluarga kami selama lebih 50 tahun kebelakang. Sekali lagi trims mas Gun, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Salam, Sw.

    • Gunarso Ts says:

      Pak Wiek, pepatah lama telah mengatakan “batang padi, semakin berisi semakin merunduk”, dan memang itulah yang kutemukan dari sosok dan pribadi Bapak. Bagi saya, Bapak merupakan sumber inspirasi dan penggalian ide yang tak ada habisnya.
      Sesuai dengan masukan dari Bapak, tulisan ini telah saya revisi, semoga berkenan dan terima kasih pada Mas Sumedi selaku admin blog ini. Matur nuwun.

      • Mas Gun,terimakasih untuk revisi kecilnya. Secara keseluruhan, tulisan mas Gun bagus, enak dibaca, gayanya seperti wartawan Tempo… Selamat.Soal sanjungan sebagai “batang padi”, mungkin terlalu berlebihan, perasaan saya kok masih jauh dari itu, namun setidaknya saya maturnuwun atas penilaian tsb, semoga saya “kuat” memikul “beban” itu. Salam, Sw.

  3. Anston says:

    selamat ulang tahun perkawinan emas pak slamet wijadi.

  4. Ratno says:

    selamat ulang tahun perkawinan emas pak Slamet Wijadi.Smoga senantiasa di beri kesehatan dan keselamatan dan keberkahan.

    • Mas Ratno terimakasih untuk perhatian dan doanya, memang itu juga merupakan doa saya setiap hari, kesehatan, keselamatan dan keberkahan, saya tidak minta lebih dari itu… Salam, Sw.

  5. SUDIRAN says:

    Sugeng mengeti polokromo kencono kagem Pak Slamet W.
    mugi-mugi Gusti Ingkang Moho Kuwaos tansah maringi karaharjan dumateng Pak Slamet Wiyadi sak Keluarga besar ipun.
    sudiran cah wunut

    • Mas Sudiran, ini istimewa untuk kami, ucapan selamat dari “orang Wunut”, maturnuwun, dari generasi kapan mas Diran ini? Kapan meninggalkan desa? Salam, Sw.

      • SUDIRAN says:

        Pak SW Yth
        Ass Wr Wb.
        Saya meninggalkan desa Wunut sejak Th 1971 dan sekarang masih tinggal di Pondok Gede, saya ada rencana tinggal di Susuk ditempat Pak Cokro Alm(Bapaknya Lurah sekarang)saya masih menunggu anak saya selesai kuliah dulu.
        Saya berharap semoga Pak Slamet Wijadi selalu diberi kesehatan supaya tetap menulis di bloger Purworejo untuk dapat memberi wawasan untuk generasi sekarang.
        Wass Wr Wb.

        • Sekarang saya baru ingat, mas Sudiran yang datang ke rumah waktu kami di Susuk dan menyarankan agar saya menulis tentang menanam padi jaman dulu. Saya senang mas Diran akan “pulang kandang” dan jadi tetangga kami, rencananya kapan? Sekali lagi trims untuk perhatian, salam bagi seluruh keluarga. Sw.

  6. hasmadji says:

    Katur Pak Slamet dan Ibu Ismoyomurti, kami sekeluarga mengucapkan selamat merayakan “Pernikahan Emas”. Semoga Karunia Illahi yang berlimpah senantiasa menambah rasa syukur yang tiada henti.

    Benar sekali tulisan Mas Gun, tidak banyak orang memiliki kesempatan untuk menyelenggarakan acara yang sarat nostalgia tersebut, terlebih lagi masih dapat dihadiri oleh mantan guru sewaktu SMAnya dulu yang kini sudah berusia 87 tahun. Subhanallah…..! Juga kiasan ibarat “pohon padi” nya, kiranya memang pas benar untuk sosok H.Slamet Wiyadi MA. Saya pun pernah punya kesan yang sama saat berkesempatan berlebaran di Griya Susuk Ngombol pada Idul Fitri 1431 H lalu.

    Masih dalam suasana bahagia ini, kedua orang tua saya Bapak dan Ibu Siswo Soebroto juga menitip salam untuk menyampaikan Salam Bahagia bagi keluarga besar Pak Slamet Wiyadi.

    • Mas Madji, pertama kami maturnuwun untuk salam dari Bapak&Ibu Siswosubroto, yang saya anggap dan kenyataannya adalah senior saya. Salam kami kembali, nanti kalau saya di Susuk akan saya perlukan sowan ke Pulutan.
      Mengenai acara itu sendiri, kami memang sangat bersyukur bahwa Allah SWT masih memberikan kesempatan bagi terselenggakannya peristiwa tsb yang telah belangsung dengan lancar. Semoga kita dapat menarik hikmahnya.
      Untuk penilaian Mas Madji soal “pohon padi” tanggapan saya sama spt yang saya kemukakan pada mas Gun, betapapun, maturnuwun mas Madji, Salam, Sw.

  7. massito says:

    Selamat Pak Slamet, untuk acara ulang tahun perkawinan yang ke 50 semoga selalu dikaruniai kesehatan sehingga tulisannya terus mengalir seperti turunnya hujan dari langit yang selalu memberi berkah dan anugerah. amien

    • Mas Massito, trimakasih untuk perhatian dan doanya. Bagi saya menulis itu adalah “keharusan” sebagai bagian dari cara untuk memperlambat kepikunan. Namun kalau kemudian ada manfaatnya bagi pembaca, ya syukur dan itu merupakan bonus tersendiri. Mas Massito juga harus terus menulis lho. Salam,Sw.

  8. selamat dan sukses atas keberhasilan pak wiek membina keluarga yang sakinah mawwadah wa rohmah, yang tentu saja memjadi suri tauladan bagi kita semua.
    semoga kedepan pak dan seluruh keluarga besar dikaruniai bimbingan, rahmat dan barokah dari allah swt. amiien.
    wassalam indro n fam.

    • Pak Dokter, maturnuwun atas perhatian dan doanya. Hidup berumah-tangga selama 50 tahun adalah suatu berkah yang luar biasa yang kami terima dari Allah SWT. Kami merasa bersyukur atas semuanya itu dan semoga berkah tersebut masih akan kami nikmati dihari-hari mendatang, Amien. Salam katur keluarga, Sw.

  9. eko juli says:

    selamat berbahagia untuk pak wik dan keluarga…

    kebahagiaanya terasa sampai balikpapan lohh pak..

    smoga bisa ngikuti merakayakan kawin emas pada saatnya nanti…

    insyaallah.. amien

    • Mas Eko, kalau ada keinginan/doa dan usaha, Insya Allah, semoga Allah SWT akan ngijabahi. Trimakasih untuk perhatian, salam sukses untuk mas Eko sekeluarga di Balikpapan. Sw.

  10. ilyasa' muhtarom says:

    Saya wong Magelang yang sering membuka blog ini. Ketertarikan terhadap blog ini terutama karena tulisan-tulisan Pak SW yang inspiratif, informatif dan dalam setiap tulisan selalu mengadirkan detil berbagai aspek kehidupan yang pernah dialami oleh Pak SW di masa lampau. Sebelumnya ijinkan saya mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN PERKAWINAN EMAS” buat Pak SW dan Ibu. Semoga kebahagiaan, kesehatan dan kesejahteraan senantiasa melimpahi Bapak & Ibu beserta keluarga. Pak SW, saya punya usulan, alangkah bagusnya apabila Bapak berkenan menuangkan berbagai pengalaman kehidupan Bapak dalam bentuk sebuah buku. Kehadiran buku tersebut saya yakin akan disambut positif banyak kalangan karena kekayaan pengalaman Bapak dalam menjalani karier dan roda kehidupan yang banyak warna. Ditambah lagi kemampuan Bapak menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan yang runut, lancar dan enak dibaca akan memberikan kekuatan tersendiri bagi hadirnya buku ini. Mohon dipertimbangkan ide saya ini Pak! Matur nuwun sebelumnya dan salam buat Bu SW dan putro-putri. Wassalam.

    • Sebuah “surprise” yang menyenangkan saya terima hari ini dari Mas Muhtarom “wong Magelang”. Pertama tentu saja “terimakasih” atas perhatian dan doanya untuk 50 th usia pernikahan kami yang memang sangat kami syukuri. Kedua, terimakasih untuk “sanjungan” terhadap tulisan2 saya, yang sesungguhnya hanya saya maksudkan sebagai “sinambi kalaning nganggur”, sekedar mengisi waktu sebagai orang pensiunan dan mengasah otak agar tidak cepat pikun. Tentu saja akan merupakan bonus/kepuasan tersendiri bagi saya bila tulisan2 tsb.dapat memberikan nilai tambah bagi para pembacanya, padahal yang saya tulis itu adalah hal2 yang “sepele2″ saja.
      Usul tentang “menuangkan pengalaman dalam bentuk buku” sungguh menggelitik dan “menggugah” bagi saya dan akan saya pertimbangkan berdasarkan pertimbangan2 praktis.
      Betapapun, saya sekali lagi mengucap terimakasih atas perhatian dan apresiasi Mas Muhtarom terhadapa tulisan2 saya. Di Magelang-nya dimana, saya selalu ke Magelang bila pulang desa. Wass. Sw.

  11. ilyasa' muhtarom says:

    Saya di Magelang numpang lahir dan besar hingga selesai kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM angkatan tahun 1983, Pak. Selesai kuliah tahun 1989, saya “nyangkul” di Jakarta di dunia komunikasi sampai tahun 2004. Setelah menunaikan ibadah haji tahun 2004, saya bernazar untuk keluar dari kehidupan ruyinitas ala orang kantoran dan belajar bisnis mandiri sampai sekarang di usaha kuliner dan industri fashion keciL-kecilan. Sekarang saya tinggal di Cibubur, Jakarta. Alhamdulillah di Magelang Bapak dan Ibu masih sugeng. Umurnya hampir seusia Pak SW. Mereka tinggal di Desa Paremono, Kec. Mungkid, Kab Magelang, sekitar 7 km dari Candi Borobudur.

    • Mas Muhtarom, saya senang dengar bhw Bpk&ibu masih sugeng dan hampir seusia dengan saya,berarti termasuk generasi tiga jaman, syukur alhamdulillah. Kalau angkatan tahun ’83, mas Muhtarom seangakatan dengan anak kami nomer 2 dan 3 yang angk. ’84, sedang yang pertama angk. ’81.
      Keluar dari jalur “umum” dan berusaha sendiri merupakan putusan yang “krusial” dan hanya orang2 dengan mental baja sanggup melakukan hal demikian. Saya pernah melakukan hal itu, waktu ditantang oleh keadaan, keluar dari “comfort zone”… ternyata setelah dijalani kok tidak segawat yang dibayangkan, bahkan tidak pernah menyesal atas putusan itu.
      Saya doakan mas Muhtarom sukses dalam wirausahanya dan kalau memang dijalani dengan tekun dan ulet, mengapa tidak? Salam sukses.Sw.

      • ilyasa' muhtarom says:

        Terima kasih atas doa’nya, Pak. Proses yang kemudian saya jalani memang tidak mudah dan mulus. Tapi itulah tantangannya. Mudah-mudahan melalui forum ini, jalinan silaturahim kita bisa berlanjut ya Pak! Sekali lagi mengulangi usulan saya agar Bapak menyisihkan waktu buat menyusun sebuah buku. Entah itu berbentuk memoar, biografi atau sekadar cerita-cerita nostalgi Bapak yang sangat menarik itu. Jika Bapak berkenan, saya siap membantu mengedit. Saya punya pengalaman telah mengedit beberapa buku sewaktu aktif di dunia jurnalistik dan menghubungkan dengan penerbit yang Insya Allah tertarik dengan buku tersebut untuk menerbitkannya. Terima kasih.

        • Mas Muhtarom, kami baru kembali dari Bandung setelah kumpul bersama anak-cucu disana.Lepas dari hiruk pikuk Jkt. dan berada di alam indah Bandung Utara, kami sungguh menikmati suasana yang berbeda, bahkan ada pikiran menggoda mengapa nggak “pindah” saja kesana,demikian lamunannya. Saran dan tawaran mas Muhtarom sungguh memberikan semangat dan “keberanian” untuk maju selangkah lagi. Terimakasih. Pikiran yang selalu mengganjel, apakah tulisan2 semacam pengalaman saya itu layak untuk disajikan bagi konsumsi umum dan apa manfaatnya.Jangan sampai ada kesan penonjolan diri yang ujungnya hanya sekedar untuk “gagah2-an”. Namun biarlah semuanya itu saya endapkan dulu sambil pikir2 untuk pengumpulan bahan2. Sementara itu saya setuju agar lewat forum ini kita kembangkan tali silaturahmim, bahkan tidak ada jeleknya bila kelak kita bisa tatap muka dan bertemu langsung. Salam Sukses. Sw.

        • ilyasa' muhtarom says:

          Sungguh kenikmatan dari Allah yang menurut pengamatan saya tiada putus-putusnya Bapak terima. Pinaringan panjang yuswo, berhasil menapaki usia perkawinan yang panjang, sehat, ekonomi keluarga yang mapan ,putra-putri sukses, dan mampu menikmati waktu-waktu luang yang menyenangkan dan bermakna. Hanya sangat sangat sangat sedikit orang yang mampu meraihnya Pak. Karena akhir-akhir ini saya agak jarang membuka internet berhubung lagi mempersiapkan usaha baru, apabila Bapak berkenan menghubungi saya, ini no HP saya Pak : 081386028009. Matur nuwun.

        • Mas Muhtarom, terimakasih, maturnuwun. Penilaian tsb menambah rasa syukur kami atas semua kenikmatan yang telah kami terima dari Allah SWT.Kami sungguh merasa beruntung dan menundukkan kepala atas semua berkah yang telah kami terima dan nikmati itu dan berdoa semoga berkah tersebut dapat juga di terima dan dinikmati bagi siapa saja yang percaya terhadap kekuasaan Allah SWT atas semua kehidupan kita. Untuk itu kami telah membuktikan.Saya sudah catat no HP mas Muhtarom, sewaktu-waktu akan saya kontak. Sekali lagi trimakasih dan salam. Sw.

  12. mbah suro says:

    Provisiat dan selamat berbahagia kepada Bapak Slamet Wijadi dan Ibu Ismoyomurti dalam perayaan ulang tahun perkawinan emas, hidup berumah tangga dalam kurun waktu 50 tahun tidaklah mudah, ini adalah sebuah perjuangan dan bukti cinta sejati dalam membina relasi bersama pasangan.
    Semoga perkawinan emas ini menjadi suri tauladan bagi kita semua, khususnya bagi pasangan muda, untuk bisa belajar dari pasutri Bpk/ Ibu Slamet Wijadi.
    Sekali lagi selamat dan berbahagia bersama keluarga dan putro wayah. Amin…..

    • Mbah Suro, trimakasih atas perhatian dan doanya, semoga mbah Suro juga akan mengikuti jejak-langkah kami. Limapuluh tahun memang lama tapi kalau sudah dijalani terasa sebentar. Kami sendiri perasaannya baru “kemarin” mengikuti upacara “temu penganten”, eee ujug2 kok sudah 50 tahun… Alhamdulillah, puji syukur, semoga berkah masih dapat kami nikmati untuk hari2 yad. Amien, Salam, Sw.

  13. widibintoro says:

    Walaupun terlambat Saya ikut mengucapkan Selamat Atas Ulang Tahun Perkawinan Emas Bapak Slamet Wijadi dan Ibu Ismoyomurti semoga selalu diberkahi Allah SWT. Sebuah kisah perjuangan mengarungi kehidupan yang dapat dijadikan contoh bagi kita semua. Saya setuju dengan ide Mas Muhtarom dari Magelang, agar Bapak kerso menyusun dan mengumpulkan kisah perjalanan hidup Bapak ke dalam sebuah buku, dan Mas Muhtarom punya pengalaman untuk untuk membantu mewujudkannya. Tunggu apalagi Pak ? Dengan setting berlatar belakang perjalanan waktu semenjak masa kecil Bapak SW hingga saat ini, yang penuh inspirasi, dan sekaligus dapat menggambarkan perjalanan hiruk pikuk bangsa Indonesia tercinta, Saya yakin buku tersebut tidak hanya menarik, tetapi akan bermanfaat bagi Bapak, keluarga dan juga orang banyak. Saya hanya bisa membantu do’a saja semoga Buku Suka Duka Perjalanan Hidup Anak Desa Susuk segera terwujud. Sekali lagi selamat buat Bapak dan Ibu SW serta salam sukses juga untuk Mas Muhtarom. Salam

    • Mas Widi, trimakasih untuk perhatian dan doanya, ini untuk kedua kalinya mas Widi mengucapkan selamat, yang pertama saya “tolak” krn mendahului waktunya. Skr. alhamdulillah, kami terima dengan syukur dan maturnuwun, semoga berkah dan hikmah tsb. bermanfaat bagi kita semua, termasuk mas Widi sekalian.
      Perjalanan hidup yang mendekati kepala delapan ini memang cukup panjang dan betul banyak hal2 yang terjadi sepanjang perjalanan tsb. Saya selalu merasa bersyukur bahwa dilahirkan pada waktu yang “tepat” sehingga bisa menyaksikan kejadian2 yang sangat bersejarah melintas tiga jaman sampai saat ini. Generasi saya yang masih tersisa tinggal sedikit dan yang sedikit itu sudah banyak yang uzur, jangan bicara lagi pengenalan dengan dunia internet. Karenanya saya merasa sungguh beruntung, alhamdulillah. Dalam kerangka ini saran dan dan tawaran bantuan dari mas Muhtarom serta dorongan dari mas Widi menemukan maknanya. Namun demikian saya masih berpikir apakah cukup “layak” untuk menampilkan hal2 yang menurut saya “biasa2″ saja. Jangan sampai menjadi bahan tertawaan orang dan terkesan cuma “mengada-ada” saja.Sementara itu biarlah semua itu mengendap sampai pada suatu saat tiba waktunya: “this is the right moment to start”… Salam untuk mas Widi sekalian.Sw.

  14. Pak SW, 50 tahun, setengah abad. Perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga yang bukan sebentar. Tentu di dalamnya banyak menyimpan cerita menarik. Suka maupun duka. Saya yakin Bapak dan Ibu termasuk orang hebat.
    Selamat atas usia perkawinan ke-50. Semoga Allah SWT senantiasa mengabulkan setiap do’a dan permohonan Bapak dan Ibu.

    Salam dari kami di Bogor!

    • Mas Jumar, trimakasih atas perhatian dan doanya, khususnya dari Wong Mendiro. Betul 50 tahun memang menyimpan banyak cerita dan pengalaman yang menarik dengan suka-duka-nya, mungkin kalau diurai akan menjadi buku sebagaimana yang disarankan Mas Muhtarom diatas. Namun kalau dikatakan “termasuk orang hebat” itu terlalu berlebihan. Kami merasa hanya sebagai orang “yang lebih beruntung” dan itu juga semata karena berkah Gusti Allah juga, makanya kami tidak hentinya selalu bersyukur… Kapan kumpul2 warga Mendiro, tempo hari Mas Prof.Dr.Busono dan ibu beranjang-sana tindak rumah kami. Salam perdesaan dari Susuk. Sw.

  15. pujo.h. says:

    50 tahun..

    Seperti yang Pakde katakan adalah tahun-tahun yang panjang yang penuh suka dan duka, banyak cerita menarik yang bisa terus diceritakan.
    Kami akan selalu menunggu cerita-cerita berikutnya.

    Untuk Pakde sekeluarga, saya mengucapkan selamat ulang tahun ‘Pernikahan Emas’, semoga tetap sehat wal’afiat dan selalu dalam lindungan Alloh S.W.T. Amin.

    Wassalam
    Pujo H.

    • Mas Pujo, trimakasih untuk perhatian dan doanya. Ada orang yang bilang: “banyak jalan banyak yang dilihat, panjang umur banyak pengalaman” dan pengalaman itulah yang bisa membimbing kita untuk menapak perjalanan selanjutnya. Semoga dengan pengalaman2 itu kita akan lebih bijak lagi dalam menempuh perjalanan hidup ini. Salam, Sw.

  16. Sri Widodo Soetardjowiyono says:

    Selamat Ulang Tahun Perkawinan Emas untuk Pak Slamet dan keluarga. Ikut berbahagia dan haru. Tidak mudah bagi manusia zaman sekarang bisa mengikuti jejak Pak Slamet. Mempertahankan usia perkawinan hingga 50 tahun, tentu butuh rumus tersendiri. Apalagi kalau kita saksikan di masyarakat, banyak sekali pasangan muda yang gagal membina keluarga. Baru seumur jagung sudah bubar. Saya yakin Pak Slamet memiliki cara tersendiri bagaimana sukses mengarungi bahtera rumah tangga itu. Maka dari itu sebagai anak muda, kami sangat berterima kasih kalau Pak Slamet berkenan membagi ilmunya buat kami, siapa tahu bisa mengikuti jejak Pak Slamet. Sekali lagi selamat dan sukses. Orangtua Pak Slamet tidak salah memberi nama Slamet yang nyatanya betul-betul SELAMAT mengarungi kehidupan ini.
    Salam hangat,
    Widodo-Bogor.

  17. Mas Sri Widodo, kami sangat berterimakasih atas perhatian dan apresiasi terhadap 50 tahun usia pernikahan kami, demikian juga doanya.Memang benar tidak mudah membina hidup rumah-tangga selama jangka waktu yang begitu lama,setara dengan hampir dua-pertiga usia kami. Banyak sekali faktor2 X (sesuatu diluar kendali kita) yang akan menghadang dalam perjalanan selama itu. Nampaknya tidak ada “rumus” yang berlaku secara umum, masing2 rumah-tangga (pasangan) harus menemukan sendiri2 karena tidak ada dua kasus kehidupan rumah-tangga yang sama sehingga solusinyapun akan berbeda. Dalam hal kasus kami, mungkin yang paling “dominan” adalah faktor “keberuntungan” yang adalah berkah dari Allah SWT.Mungkin benar juga spt kata mas Widodo bahwa nama saya yang sederhana yang diberikan orang tua saya yang sekaligus merupakan doa itu, ikut mendorong keberuntungan tsb. Tetapi mungkin juga bahwa kehidupan rumah tangga yang dijiwai “kesederhanaan” dalam segala hal yang berasal dari nama saya itu membantu menjadikan hidup lebih “mudah”. Yang jelas semuanya itu saya kembalikan kepada kekuasan Gusti Allah, dan kami hanya bisa bersyukur untuk semua kenikmatan ini. Itulah sekedar pendapat saya. Salam.

  18. Hariadi says:

    Dumateng Eyang Wiek,
    Selamat Ulang Tahun perkawinan Emas untuk eyang dan keluarga, jujur saya harus banyak belajar dalam menjalani kehidupan berumah tangga, dan salah satunya dari jalan panjang pernikahan eyang Wiek, salah satu point yang saya bisa ambil adalah meninggalkan segala bentuk “kesenangan”, demi untuk keluarga dan berpegang teguh akan prinsip dalam menjalani pekerjaan yang tentunya didasari akan pemikiran dan pertimbangan yang kuat.
    Demikian dari Saya
    Hariyadi
    Life’s journey from Dixie-Bintan-Jakarta.

    • Mas Hariadi, senang mendengar kembali “suara”nya, setelah sekian lama. Komentar mas Har itu sudah benar, memang harus begitu kalau orang mau “memanen” ya harus menanam dulu, dan menanam selalu harus dengan usaha/kerja keras, tidak ada yang “ujug2″. Kebanyakan kita hanya tahu hasil akhirnya, lupa bahwa semua itu kembali kepada usaha kita sendiri, tentunya dengan ridho dan berkah Gusti Allah juga. Kalau perjalanan hidup saya bisa ditarik manfaatnya ya syukur, semoga mas Hariadi/keluarga akan sukses. Syukur kalau sudah kembali Jakarta. Salam.

  19. Kalau boleh mengutip perkataan Mario Teguh, peristiwa ini “super sekali”.
    Selamat Pak Slamet, semoga kebahagiaan ini akan terus berlanjut.

    • Mas Julian, Trimaksih untuk perhatian dan doanya. Karena mas Julian sudah mengutip perkataan Mario Teguh, saya juga mau ngutip perkataan mas Gunarso, piyayi Pulutan yang telah menulis artikel itu: semua itu adalah “karunia Illahi” semata, menungsa mung saderma nglakoni… Salam desa Susuk. Sw.

  20. cah_ndhiro says:

    Asalam’mualaikum WR.WB.

    Sungguh “LUAR BIASA”, semoga keluarga dari Pakde SLAMET WIJADI sebagai suri toladan bagi kita semua, saya hanya bisa menghaturkan kata selamat (walau pun telat )atas pernikahan emas semoga Alloh ta’ala selalu memberikan limpahan nikmat kepada keluarga pakde dan kita semua … amin

    wasalam

  21. cah_ndhiro says:

    njih pakde, dalem dipun perbantukan wonten lapangan beberapa saat ini, kejar target karena sampun telat, matur nuwun ugi doa dari pakde salam kagem keluarga, amin ….

    wasalam

  22. kasiat says:

    Waahhhh….ketinggalan aku, SELAMAT ULANG TAHUN PERKAWINAN EMAS untuk pak Slamet Wijadi semoga kesehatan dan kemakmuran senantiasa bersamanya serta tetap dalam lidungan ALLAH SWT. Amin…

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Bangsa Ini Ada Baiknya Belajar dari Purworejo

9 - Feb - 2009 | masdodi | 27 Comments »

Diusulkan bangun PLTB di Purworejo

22 - Apr - 2009 | eko_juli | 9 Comments »

SDN Mudal, Purworejo Roboh

13 - Nov - 2008 | cahmbegelen | 3 Comments »

Presidenku

26 - Jun - 2008 | mastogog | 3 Comments »

Purworejo produksi Biodiesel Nyamplung

25 - Mar - 2012 | meds | 1 Comment »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net