MENGENANG MAS KARDIYONO DARI PURWODADI, BUPATI MADIUN (‘6I-’65)

  19 - Feb - 2011 -   slamet wijadi -   21 Comments »

Perkenalan saya dengan Mas Kardiyono dimulai pada tahun ’46 di SMP Satu Purworejo. Kami tinggal bersama di Asrama Pelajar Kedungkebo, Pangen. Dia klas dua saya klas satu. Di Asrama itu tinggal sekitar 20-30 orang, ada enam kamar tidur besar yang dihuni sekitar 4-5 orang masing2 kamar. Saya kebetulan satu kamar dengan mas Kardiyono, kalau tidak salah dia berasal dari desa Banjarsari, Purwodadi. Hampir setiap hari Sabtu kami pulang kampung dengan naik sepeda bersama dan berpisah di Purwodadi, dia ke selatan saya ke barat.

Pergaulan kami di Asrama itu cukup erat, makan bersama dan berangkat sekolah bersama, menempuh jarak pendek tidak sampai 500 meter. Di Asrama itu tinggal beberapa orang yang kemudian menjadi tokoh Tentara Pelajar Kedu Selatan, a.l. Mas Imam Pratignyo dan mas Rusmin Nuryadin, duduk 2 klas di atas saya.

Kembali kepada Mas Kardiyono, kami berpisah tahun ’49, tahun ’50 saya meneruskan sekolah ke Jogja sampai tamat SMA tahun ’53 dan kemudian melanjutkan di Jakarta. Sejak saat pisah itu saya tidak ada kontak lagi dengan mas Kardiyono, sampai tahun ’60-‘61 ketika saya pacaran dengan gadis Madiun, saya dengar bahwa Kepala Kejaksaan Madiun adalah orang dari Bagelen/ Purworejo, namanya Kardiyono. Dalam “penilisikan” lebih lanjut, ternyata dia adalah mas Kardiyono teman saya waktu di Asrama dulu. Nampaknya setamat dari SMA, dia meneruskan ke UGM, Fakultas Hukum sampai Sarjana Muda, kemudian masuk ke Kejaksaan. Di permulaan tahun ‘60 itu dia sudah menjadi Kepala Kejaksaan Madiun.

Pada waktu saya pacaran dengan gadis Madiun itu mas Kardiyono sudah menjadi Bupati Kabupaten Madiun. Kami bertemu dalam suasana akrab, layaknya dua orang kawan yang lama berpisah. Saya diberi-tahu bahwa istrinya berasal dari Ponorogo dan adalah adik Ibu Hartini, isteri Bung Karno. Saya kagum juga dengan apa yang telah dia capai dalam hidup. Jadi Bupati dan menjadi “per-ipean” Bung Karno pada usia yang begitu masih muda.

Menjelang pernikahan kami tahun ’61 saya ketemu lagi dengan mas Kardiyono yang kini sudah mendiami rumah dinas Bupati Madiun, suatu bangunan kuno yang teletak sebelah utara alun-alun Madiun. Disitulah para Bupati sejak jaman Belanda tinggal, terkesan sebagai bangunan yang berhalaman luas layaknya sebuah dalem kabupaten, “angker” dan berwibawa penuh misteri. Menyadari saya sebagai “orang asing” di Madiun, dia secara spontan menawarkan kiranya saya mau “menginap” di Kabupaten, banyak kamar kosong, katanya. Tawaran yang simpatik dari seorang teman itu serta-merta saya terima, jadilah saya “mondok” di Kabupaten beberapa hari menjelang pernikahan.

Gedung Kabupaten saat ini.  Bangunan asli masih diertahankan

Gedung Kabupaten Madiun saat ini. Bangunan asli masih dipertahankan.

Saya dikenalkan dengan sang isteri yang ramah, luwes dan manis, ciri khas gadis Ponorogo, juga kepada ibu mertuanya yang adalah juga mertuanya Bung Karno. Mendapat tempat satu kamar besar, malam hari sebelum tidur pikiran saya “ ngelambrang di awang2”, alangkah “aneh dan misterinya” hidup ini, siapa ngira seorang anak desa yang dulu sering tidur di atas “babrakan” kandang kerbau ,mendapat kehormatan seperti ini justru pada saat akan mengakhiri masa lajangnya; itulah berkah dari kebaikan seorang teman dan tentunya juga bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas “terjadinya” ini. Hari berikutnya saya diajak mas Kardiyono dengan mobil yang dia setir sendiri, keliling daerah Kabupaten Madiun dan mampir di Pasar nDlopo untuk menikmati durian Ngebel yang terkenal lezatnya.

Pada resepsi pernikahan yang diselenggarakan secara sederhana di rumah Mertua, Mas Kardiyono datang bersama sang isteri sebagai pendamping bersama-sama dengan keluarga dan saudara2 saya. Betapa saya berterimaksih atas kebaikan mereka ini yang tidak mungkin akan saya lupakan. Sekitar tahun ’64 dia datang ke Jakarta dan sempat mampir ke rumah dan kami jamu dengan makan bersama ala kadarnya.

Sejak pertemuan terakhir ditahun ’64 itu kami kehilangan kontak, masing2 dengan kesibukannya sendiri melanjutkan kehidupannya. Akhir tahun itu kami berangkat ke Moskow untuk bertugas pada KBRI sehingga hubungan kami praktis terputus. Sepulang kami di tanah air dan dengan terjadinya peristiwa G 30 S 1965, saya berusaha untuk mencari kabar tentang nasib teman saya itu. Suhu politik pada saat itu seperti kita sudah ketahui bersama sangat “panas”. Apa yang saya dengar kemudian ternyata merupakan kabar yang membuat saya sedih. Dia dikabarkan termasuk pejabat yang di “amankan” dan sepanjang pengetahuan saya tidak ketahuan dimana dan bagaimana nasibnya, dengan kata lain “hilang” sampai saat ini. Lepas dari keyakinan dan risiko yang harus dia tanggung sebagai pejabat, saya merasa sedih atas nasib yang telah menimpanya, itulah barangkali bagian dari jalan hidupnya.

Menjelang usia pernikahan kami yang ke-50 tahun ini, beberapa waktu lalu kami berkunjung ke Madiun, khususnya untuk nyekar ke makam orang-tua/mertua. Pagi hari sebagaimana biasa saya berolah-raga jalan pagi dengan tujuan daerah sekitar alun2 Madiun, sekaligus bernostalgia dan napak tilas. Pada waktu sampai didepan Kabupaten, saya seperti diingatkan, kenapa tidak “mampir” tempat “pondokan”mu dulu itu.

Dengan pakaian kaos dan celana pendek olah-raga ala kadarnya, saya nekat masuk halaman Kabupaten. Dasar nasib baik, saya ditemui oleh Pak Setiawan, Kepala Keamanan yang sangat simpatik. Dia mempersilahkan menunggu sampai selesainya acara “Hari Korpri” yang sedang belangsung dan dipimpin Pak Bupati. Setelah lapor dan mendapat ijin dari atasannya saya “dikawal” untuk berkeliling meninjau tempat2 dimana hampir 50 tahun yl saya berada, khususnya kamar tidur yang semuanya masih asli seperti dulu hanya tentu saja sudah dengan penampilan yang berbeda jauh dan lebih indah.

Berada di ruang tengah dalem kabupaten saya ditunjukkan foto2 para Bupati Madiun sejak jaman Belanda sampai saat ini yang terpampang berjajar di tembok bagian atas. Pak Setiawan meminta agar saya menunjukkan mana foto Pak Kardiyono diantara para Bupati itu. Apakah ini merupakan satu “bentuk test” bagi saya? Tentu saja dengan mudah saya jawab, saya tidak melihat foto Pak Kardiyono diantara para Bupati Madiun itu. Dia langsung menjawab “Bapak betul, memang tidak ada karena kami tidak punya fotonya”. Mungkin dengan jawaban dari saya itu Pak Setiawan lebih diyakinkan lagi tentang hubungan saya dengan mas Kardiyono dan cerita saya sebelumnya.

Setelah “puas” dengan peninjauan nostalgia itu, Pak Setiawan mengenalkan saya dengan Pak Bupati, Bapak H. Muhtarom, yang sedang berada di halaman Kabupaten, lengkap beserta para Staf-nya dan Ibu Muhtarom yang baru saja selesai dengan acara Hari Korpri. Dengan ramahnya Pak Bupati menyambut kehadiran seorang yang mungkin dianggap “aneh” yang bercerita tentang “jaman dulu”, tentang suasana dan kondisi Kabupaten permulaan tahun ‘60-an dan membandingkan dengan keadaan kini, tentu dengan bumbu2 humor yang menyegarkan sehingga suasana pertemuan menjadi “ramai” dan akrab. Tidak lama kemudian saya mohon pamit, mengucapkan terimaksih atas ijin dan kesempatan “menengok” kembali tempat “pondokan”. Dan sebagai kenang-kenangan kami bergambar bersama dengan pak Bupati dan Bu Muhtarom beserta seluruh Staf-nya. Tak lupa juga terimakasih pada Pak Setiawan yang telah berbaik hati menjadi Pemandu.

Dalam perjalanan kembali ke penginapan, saya “memutar kembali film” perjalanan hidup selama 50 tahun terakhir, khususnya yang terkait dengan masa pacaran dengan gadis Madiun yang kemudian menjadi isteri yang setia mendampingi saya sampai sekarang. Dari dua orang ini telah berkembang menjadi tiga anak dan enam cucu yang kesemuanya sehat2 dan baik2. Betapa kami bersyukur atas semua berkah dan nikmat yang telah kami terima dari Allah SWT. Ingatan saya kembali ke masa-masa lalu ke tempat2 yang kami kunjungi berdua di dalam kota maupun tempat2 sekitar Madiun, sampai ke Telaga Sarangan.Kepada rumah tempat tinggal keluarga/orang tua dimana isteri saya dibesarkan dan tempat dimana kita berjanji dan mengikatkan diri sebagai suami-isteri, yang Alhamdulillah lestari hampir 50 tahun sampai saat ini. Sayang, rumah tersebut kini hanya tinggal kenangan, sudah terjual mengingat tidak ada diantara saudara yang enam orang itu ingin kembali ke Madiun.

Foto bersama dengan Bapak Bupati dan ibu beserta staf selepas peringatan hari Korpri.

Foto bersama dengan Bapak Bupati dan ibu beserta staf selepas peringatan hari Korpri.

Kunjungan saya ke dalem kabupaten Madiun itu menggugah kenangan saya akan seorang teman, Mas Kardiyono yang telah begitu baik hati sehingga kenangan saya tentang Madiun tidak bisa dipisahkan dari kebaikan hati seorang teman yang kini telah lama pergi. Semoga masih ada kesempatan untuk bisa bertemu dengan keluarganya, yang saya tidak tahu dimana keberadannya. Lewat keluarganya itu saya ingin menyampaikan rasa simpati dan sekaligus mengucapkan terimaksih atas semua kebaikan yang telah kami terima.

Limapuluh tahun lalu saya bertemu dengan seorang teman yang baik hati, Mas Kardiyono dari Purwodadi yang telah berhasil meniti karier menjadi Bupati Kabupaten Madiun, satu prestasi yang “hebat” untuk jamannya, namun jalan hidupnya harus berakhir dengan menyedihkan, itulah barangkali takdirnya. Semoga dia mendapatkan ketenangan abadi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Slamet Wiyadi.

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


21 Responses to “MENGENANG MAS KARDIYONO DARI PURWODADI, BUPATI MADIUN (‘6I-’65)”

  1. Assalamu’alaikum Mbah Slamet
    Wow Wow Wow…Berjuta2 jempol saya acungkan kepada simbah! Salut dan sangat bangga!Simbah hanya memakai celana pendek, pake sepatu olahraga tapi begitu dihargai di Madiun, bersama Pak Bupati lagi ! sangat salut!!!
    benar2 sungguh luar biasa!Cerita simbah tentang Pak Kardiyono ini dapat membuat saya terinspirasi!
    Tapi yang menjadi pertanyaan bagi saya
    Apakah harus orang pandai, cerdas, pintar, dan dari keluarga kaya yang dapat berprestasi seperti Mbah Slamet dan Pak Kardiyono?
    Wss

    • Mas Julian, kalau niatnya baik dan berlaku sopan, walau dengan pakaian seadanya ternyata tidak menjadi masalah, semuanya memang tergantung dari sikap dan perilaku kita sendiri. Syukur kalau kisah itu bisa dijadikan sumber inspirasi. Soal prestasi itu bukan hanya milik “yang pandai, pintar, cerdas dan dari keluarga kaya”. Yang tidak kalah penting bahkan pokok, ialah sikap mental keinginan untuk maju didukung oleh usaha, kerja keras, ulet, siap bersaing dan tidak kenal putus asa untuk belajar, belajar terus. Kepintaran rata2 saja sudah cukup, dan soal “kaya”, ini bahkan bisa jadi hambatan kalau terlalu diandalkan.Contoh cukup banyak. Salam.

  2. Gunarso Ts says:

    Saya sangat memahami, betapa pilu hati Pak Wiek ketika memasuki pendhapa Kabupaten Madiun itu. Sudut-sudut ruangan itu kembali mengingatkan kebersamaannya dengan teman masa perjuangan di Purworejo dulu. Sangat mengharukan memang, peruntungan nasibnya yang demikian cemerlang, tapi pada akhirnya justru mengenaskan karena jadi korban politik.
    Semoga saja Pak Kardiyono “kepenak nggone” di alam sana. Itulah jahatnya politik. Seorang pejabat yang “lugu” bisa menjadi korban permainan politik, sehingga dikorbankan dan difitnahkan. Banyak sekali orang yang bernasib seperti sahabat Pak Wiek ini.

  3. Mas Gun, trimakasih komen-nya. Harus saya akui memang ada perasaan “haru” waktu memasuki pendhapa Kabupaten, tetapi sekaligus juga ada rasa bangga ketika membaca nama Mas Kardiyono terpampang dalam daftar nama2 Bupati Madiun, setidaknya sudah terekam sebagai sejarah. Ada cerita “kepercayaan” waktu itu bahwa bupati2 Madiun itu akan meninggal dalam masa jabatan mereka, ini dikuatkan dengan beberapa fakta. Rupanya mas Kardiyono sudah “tahu” hal ini, karenannya, menurutnya, dia “mesu sarira” a.l. dengan hanya tidur di lantai dan dengan laku2 lainnya. Bahwa kenyataannya dia juga meninggal dalam jabatan, saya yakin bukan karena “kutukan” itu. Saya lebih percaya bahwa itu adalah kehendak dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagai takdir jalan hidupnya sebagaimana telah digariskan. Saya setuju dengan mas Gun semoga dialam sana “kepenak nggone”, dan bagi saya kisah itu adalah merupakan ungkapan terimakasih saya atas segala kebaikannya, mas Kardiyono alm., seorang teman yang berasal dari Purwodadi. Salam.

  4. widibintoro says:

    Pertama-tama saya mengucapkan selamat atas Peringatan tahun emas (50 th) pernikahan Bapak dengan Ibu semoga tetap abadi. Kalau membaca dan mendengar kisah-kisah sebelum hiruk pikuknya politik pasca 65 sepertinya hidup di jaman itu sangat damai dan indah. Sayang semuanya berakhir tragis gara-gara ambisi politik segelintir orang tidak bertanggung jawab, dan mungkin akan selamanya menjadi mistery sejarah bangsa ini. Semoga orang-orang yang menjadi korban mendapat tempat yang layak disisi-Nya termasuk alm. Pak Kardiyono yang sampai saat ini ‘dihilangkan’ entah dimana. Semoga peritiwa semacam itu tidak pernah ada lagi di bumi Indonesia tercinta. Salam

    • Mas Widi, terimakasih, tetapi masih agak dini untuk ucapan selamatnya, karena memang “belum sampai”, semoga Allah SWT memberkahi sampai datangnya hari tersebut,Insya Allah, namun sekali lagi trims untuk perhatian.
      Setiap jaman itu mempunyai “romantisme”nya sendiri, apa yang bisa dan harus kita lakukan adalah menikmati jaman dan keadaan dimana saat sekarang kita berada dan bersyukur bahwa kita mendapat kesempatan untuk “menangi” berbagai macam jaman… Salam.

  5. Giri says:

    harus kasih comment apa lagi,ya….
    setiap baca tulisan pak slamet,saya juga pingin “nulis”. tapi saya msh bingung, apa yg harus saya tulis. salut.

    • Mas Giri, trimakasih untuk komennya. Untuk nulis yang penting dimulai saja segera, ada yang bilang “semua permulaan itu sulit”, tapi kalau sudah dimulai lama2 pasti bisa. Tulis mengenai hal2 yang sederhana berdasar pengalaman yang nyata, misalnya pengalaman mengikuti orang-tua menjelajah pasar2 didaerah Ngombol/Purwodadi dan membandingkan suasana antara berbagai pasar itu, katanya mas Giri “anak pasar”. Itu pasti menarik. Banyak lagi subyek2 yang sederhana, yang penting kita harus tahu betul tentang subyek yang kita tulis. Selamat mencoba. Salam.

  6. wanto says:

    Assalamualikum,
    Semoga simbah masih diparingi sehat sampai hari ini,ketika saya sering membaca dan mendengarkan cerita “sukses” seperti simbah kakung,perjuangan dan romantisme dulu kenapa tidak bisa kita rasakan “ruhnya” pada jaman ini(banyak orang bilang globalisasi, ataukah jaman gombalisasi) seperti kata orang-orang yang sering kita lihat ditv bahwa mereka adalah orang yang sudah berjuang (omdo)
    saya berharap generasi yang akan datang akan bisa menjadi “orang”seperti simbah dan akan menjadikan negeri ini seperti apa yang simbah Slamet Dan simbah Kardiyono perjuangkan (amien)saya adalah anak seorang tukang macul.
    Wassalamualaikum

    • Mas Wanto, trimakasih untuk komen dan apresiasinya terhadap tulisan/cerita saya. Memang jaman perjuangan dulu tidak mungkin dibandingkan dengan jaman sekarang, dahulu orang masih dijiwai oleh “idealisme” demi perjuangan, dan itu memang rata2 demikian dari pemimpin sampai rakyatnya, sekarang jamannya sudah total berobah, yang dikejar materi, materi, realitas dunia. Dan itu memang tidak keliru, sebab “semuanya” hampir begitu. Bagi yang tidak mau menyesuaikan dengan kenyataan itu ya “tergilas” dan terpinggirkan, tidak ada yang mau memikirkan dan peduli lagi. Sungguh menyedihkan.Bagi generasinya mas Wanto, generasi muda, harus menghadapi kehidupan yang “keras”, tetapi oleh karena semuanya begitu ya masing2 berpandai-pandai untuk beradaptasi dengan jaman dan keadaan.Itulah sekedar pendapat saya, salam, Sw.

  7. wanto says:

    Siang P Slamet,
    apakah itu artinya P Slamet “merestui”adanya “nazarudin-nazarudin” baru karena zaman sekarang harus berperilaku seperti itu kalo mau dibilang “sudah jadi orang”sementara wong tani selalu menjadi wong cilik(seperti masyarakat umummya dikampungku purwodadi grobogan)karena selalu nrimo,dengan perilaku dan ketidak mampuan utk “membeli kedudukan” matur suwun

    • Tidak juga demikian, maksud saya “beradaptasi” itu pandai menyesuaikan dengan keadaan namun jangan sampai larut dengan hal2 yang negatip, orang Jawa bilang “sak beja-bejane sing lali, isih beja sing eling lan waspada”, caranya bagaimana? Ya masing2 orang mengembangkan dirinya sendiri2 sebab pemerintah/pimpinan tidak memberikan tauladan dan pengarahan yang baik lagi. Contohnya adalah masalah TKI/TKW, itulah caranya orang cilik beradaptasi untuk hidup sebab pemerintah sudah kewalahan menyedikan lapangan kerja. Betapun mereka kerja secara halal untuk bisa hidup. Salam, Sw.

  8. Kulonuwun Eyang Kakung, Saya bangga dengan Eyang, begitu mencengankan saya atas tulisan eyang, dalam sanubari saya berpikir saat itu Eyang muter-muter ndalem pendopo Bupati Madiun ada haru, trenyuh, rindu, sak abrek abrek rasa yang menggelantungi benak dan hati Eyang. Dengan Kematangan emosi Eyang bisa memanagemen keadaaan hati dan pikiran sehingga mampu bertindak dan berbuat yang terbaik untuk Eyang dan Bupati serta stafnya. Apalagi muncul tulisan yang indah patut dinikmati oleh banyak orang. Wow…..kata anak sekarang (mantav.. Eyang…). Yang menjadi pikiran saya pasti di zaman “PURBAKALA” Eyang Takut Nulisnya, bisa-bisa diciduk ya Eyang… nderek tepangan. Saya anak wong cilik lahir dan besar di sekitar prapatan polisi pojok alun alun Purworejo, kala kecil sekolah nyambi mbantu tiang sepuh dodol rokok malam di prapatan dan siang di depan Pengadilan (sekarang Mesium Tosan Aji), Sore jadi Ballyoungen di Lap tennis Garnizun. Pendopo Kabupaten, Otonom, DPRD lama, Kantor Polisi, Pengadilan, Kejaksaan Lama, penjara,P & K, Denpal TNI AD tempat saya bludus bludus dolanan, Saya besar di asrama Zibang TNI AD. (numpang keren di Blog Eyang ya…). Kalau boleh tahu sekarang aktifitas Eyang apa, dan engkang dipun lengahi woten pundi ? matur nuwun.

  9. Mas Widodo, trimakasih atas tanggapan thd tulisan saya. Cerita itu saya buat memang untuk mengenang kebaikan seorang teman yang telah “mewarnai” kisah penggalan hidup kami lebih 50 tahun yl.Ada yang bilang, hutang uang bisa dibayar, namun budi baik tetap akan terkenang sepanjang hayat.Sayang Mas Kardiyono begitu cepat “mengakhiri” hidupnya secara tragis, tetapi nampaknya masing2 orang sudah membawa takdirnya sesuai kehendak Tuhan YME, kita hanya bisa mendoakan semoga alm. tenang di sisiNYA.
    Mas Widodo cerita tentang Pwr yang juga akrab diingatan saya. Dulu saya nderek mBah di Suronegaran dan sekolah di SD Widodo belakang Bioskop Bagelen. Masih ingat di sebelah/sepanjang jalan kearah prapatan alun2 ada Warung Petruk, terkenal dengan jadah dan tempe bacemnya, sebelahnya ada pabrik rokok klembak menyan lintingan “Suthur” yang terkenal, setiap olah raga kami ke alun2 depan Kabupaten, banyak kenangan di Pwr sampai klas tiga SMP Negeri Satu di Pangen.
    Kami tinggal di Jakarta sejak tahun ’53, jadi ya sudah ngoyod, kini berada didaerah Jkt.Selatan. Kalau soal penderitaan waktu kecil, itu harus dijadikan sebagai kenangan manis hidup dan rasa syukur akan semua nikmat yang kini telah kita terima dari Gusti Allah. Mas Widodo tinggal didaerah mana? Sementara cukup dulu, sekali lagi trimakasih untuk apresiasinya, salam, Sw.

  10. Matur suwun, saya tinggal di Gembongan Pabelan Kartosura Sukoharjo. Eyang…….. kita sama sama lulusan SMP Negeri 1. Kebetulan Eyang ngoyod di Betavia, kalau saya “lebu ketiup angin” Suroboyo, Kupang, Bandung, Solo, Boyolali, Merauke, Solo. Mudah mudahan sampai pensiun. Kebetulan masih sisa 8 thn lagi

    • Wah mas Widodo sudah “njajah desa milang kori”, kalau boleh tanya kerja dlm bidang apa kok sering2 pindah. Kartosura bagi saya hanya merupakan “kota lintasan” kalau menuju ke Solo atau Madiun. Disamping itu juga kota singgah untuk mampir makan siang kalau kebetulan sdh waktunya, sejak thn 70-an sering mampir di RM Ayam Madukoro itu, waktu jaya2nya nampak “regeng”, terakhir tahun lalu kami mampir sdh sepi, padahal makan dan harganya masih lumayan, sayang. Sebagai penggemar sejarah, saya sesungguhnya ingin berkunjung ke situs bekas kerajaan Kartosura, katanya sudah hampir tidak berbekas.
      Delapan tahun lagi pensiun, bagaimana rencananya? Kembali ke Pwr atau tempat lain. Enak lho di Pwr, keadaannya ayem tentrem, “berirama”… Kami punya rumah di desa yang sering kami kunjungi bila merasa sdh bosen dengan suasana Jakarta. Sekian dulu, salam, Sw.

  11. Gunarso Ts says:

    Mas Widodo, menyebut kampung Gembongan Kartosura, saya jadi ingat RM Madukara milik seorang pemain Janaka di WO Sriwedari Sala. Di tahun 1975-an menjadi RM bergengsi untuk pertemuan dan makan-makan para pejabat di kota itu. Entah apa sekarang masih berjaya seperti 30 tahunan lalu.
    Saya jadi ingat masa-masa itu, ketika “glidig” di mingguan Bhs Jawa “Parikesit” yang berkantor di Jl. Sidomulyo 30 B (kini Jl. KH Agus Salim), Purwosari, Solo. Temanku yang putra Bupati Samino di Wonogiri, anaknya iseng banget, suka ngerjain teman-teman. Sehabis liputan malam hari, rombongan mobil berhenti dekat RM Madukara, bukan untuk jajan, melainkan temanku bernama Isniyadi dari bag. Sirkulasi kebelet pipis. Dia segera turun dan cari medan yang aman.
    Di sinilah keisengan Bandrio muncul. Tahu-tahu mobil yang dikemudikannya terus kabur. Teman-teman menegur agar nunggu dulu, tapi dia tak peduli, kecuali malah tertawa. Rupanya dia ingin ngetest, bisa pulang nggak. Esok paginya Isniyadi di kantor misuh-misuh khas Solo. “Untung aku isih nduwe dhit, nek ora rak klakon engklek Kartosura – Solo, no. Jan ra teges kabeh…!” Tapi Bandrio temanku tak merasa berdosa, kecuali cekikian puas. Begitulah sepenggal kenangan di Solo, Mas Widodo. Trims. (gts)

    • Mas Gun, itu temannya yang suka iseng “sudah kebacut”, iseng yang membawa penderitaan. Betul masih “untung” bawa uang kalau tidak kan sengsara, apa tidak dipikir sampai situ? Semoga keisengannya itu tidak berbalas…
      RM Ayam Madukara bagi kami membawa kenangan, sejak tahun 70-an kalau melintas dlm perjalanan ke Madiun atau sekembalinya, itulah tempat “jujugan” kami. Terakhir thn lalu kami mampir namun suasananya kok makin sepi, hanya kami yang makan, padahal pada waktu jaya2nya harus antri, dimana salahnya? Mengapa usaha bangsa kita selalu “obor2 blarak”, sebentar terang kemudian meredup. Mungkin sampai saat itu Ayam Suharti asli di Jugja itu yang mampu bertahan, semoga demikian seterusnya. Ayam Goreng mbok Berek yang di Tebet dan Pondok indah juga kayaknya sudah meliwati “jaman keemasan”nya, dimana letak masalahnya ya? Sekian dulu, salam Ayam goreng Asli Suharti, Sw.

  12. pakne salwa says:

    Dari pantauan saya selama menjadi pembaca setia (karena masih menunggu lamaran saya diterima mas medi hehehee…) koq mboten wonten yang mengkisahkan dirinya dari Bubutan ya… Saya pendatang di kampung tersebut, tapi saya sangat tertarik dengan cerita2 yang selama ini saya baca. Dan akan lebih merasa dekatnya kalo kiranya ada “wargo” BP yang berkisah mengenai Desa Bubutan. Tempat anak dan istriku kutinggalkan demi sesuap nasi yang ku cari di negeri orang…

  13. Bernadi SD says:

    Salam rahayu..

    Jika diperkenankan saya mohon alamat email bapak.

    Matur suwun

    bernadisdangin@gmail.com

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Tahukah anda tentang rayap ???

28 - Apr - 2013 | Adi Degreen | 18 Comments »

NAIK SEPOR

8 - May - 2008 | GUNIDA | 18 Comments »

Salam Untuk Semua

13 - Dec - 2008 | oetoet | 1 Comment »

SEKOLAH YANG DILUPAKAN

11 - Aug - 2009 | massito | 4 Comments »

Sepenggal Cerita Seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngadagan tahun 1947

11 - Jun - 2010 | prigel_landwb | 45 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net