KABAR KABUR

  3 - Feb - 2011 -   massito -   13 Comments »

Kebenarannya masih perlu dipertanyakan, tetapi konon kabarnya begitu kisahnya.
Letaknya antara Desa Jenar dan Wingkoharjo dan antara Desa Bowok dengan Sruwoh, sebutannya Ngangkruk ketip. Pada jaman dulu tempat ini jauh dari sana sini, dan sepi, kalau lewat sendiri banyak orang masih pada takut, kalau saat ini sudah rame, bahkan sudah ada marung disitu. Dan kalau siang suka ada tukang dawet mangkal disitu, jadi pas juga kalau lagi haus bisa minum dulu. Dulu waktu aku masih SR Pak guruku bercerita tentang tempat ini.
Kata cerita, hiduplah satu keluarga sederhana sebut saja namanya Pak Badar, pekerjaannya tidak menentu, estiri dan anaknya juga tidak tahu apa pekerjaan Pak Badar itu. Anak2nya sudah menginjak remaja, tapi karena faktor ekonomi, maka anak2 tersebut tidak bisa meneruskan sekolah lebih tinggi lagi dan pada waktu itu tidak lazim anak perempuan sekolah lebih tinggi. Sang Ibu pekerjaannya berdagang. Pak Badar setiap malam pergi, pulang pagi, sampai dirumah tidur, sedangkan Isterinya 2 hari sekali ke pasar berjualan, makanya suami isteri tersebut jarang ngobrol bersama. Sang Suami tidak mau tahu urusan rumah tangga, kalau disambati isterinya marah2 melulu. Dari pada berantem terus menerus, maka isterinya mencari pekerjaan supaya dapat membantu ekonomi keluarga, karena menjagakan suami tidak menentu penghasilannya. Kadang2 dapat uang, sebagian dikasih isterinya, sebagaian lagi dipegang sendiri. Setiap ditanya sesungguhnya pekerjaannya apa sih tidak pernah terus terang, tetapi yang jelas setiap malam pergi dan pulang pagi. Dari pada setiap hari berantem maka isteri dan anaknya lebih baik diam.
Pada suatu malam Pak Badar menjalankan pekerjaannya, waktu itu sekitar jam 3 dini hari, Pak Badar menyelinap dibalik pohon trembisi yang ada disekitar perempatan Ngangkruk, bersiap2 menunggu mangsa. SUdah beberapa hari pekerjaannya tidak mendatangkan hasil. Pada pagi itu dari kejauhan kelihatan ada bara api, yang biasa dipakai untuk penerangan bila sedang jalan malam, waktu itu belum ada senter, maka yang digunakan adalah blarak kering kemudian diikat dan disulut dengan api, sambil dilambaikan seiring dengan langkah kaki, maka nyalanya dapat untuk penerang perjalanan. Makin lama api tadi makin mendekat dengan tempat Pak Badar bersembunyi, karena sengaja mau membegal orang yang membawa obor tadi. Makin mendekat dan mendekat, dan tidak perlu tahu siapa orang itu, semua barang miliknya dirampas, kain dan baju yang dipakai diambil, kemudian orang tersebut dibunuh dan dibuang. menurut cerita tersebut ditempat tersebut masih sepi dan kiri kanan hutan. Setelah semua pakaian dan kain diambil, kemudian dicuci dikali, supaya tidak ada darah yang tersisa. Mayat korban dibuang disekitar tempat itu, Pak Badar buru-buru pulang. Sampai dirumah pakaian itu direndam dengan air, maksudnya akan dicuci, kemudia dijual supaya dapat uang untuk menyambung hidup. Setelah selesai mencuci pakaian tadi kemudian dijemur, dan langsung ditinggal tidur. Sudah jam 12 siang Ibunya belum pulang, anak perempuannya mondar mandir mencari Ibunya, sambil menangis mau tanya Bapaknya takut dimarahi, karena selama ini kalau ditanya selalu marah2 melulu. Berkali2 kalau lewat tempat jemuran anak itu selalu ingat Ibunya, rasanya pakaian itu tadi malam dipakai ibunya, tetapi kok pagi2 sudah dicuci, terus ibunya pakai baju yang mana, karena bajunya tidak banyak. Setelah menjelang magrib Ibunya belum juga pulang Pak Badar tanya kepada anaknya, Ibunya kemana sudah jam segini kok belum pulang, sianak tidak menjawab, malah nagis sambil menunjuk pakaian yang tadi dijemur. Pak Badar merasa tidak mendapat jawaban dengan benar makin marah. Semalaman anaknya nangis terus, Pak Badar juga tidak bisa tidur karena kebiasaannya memang tidak tidur malam, lama2 ingat pakaian dan kain itu kok mirip yang sering dipakai isterinya. Dalam kegelapan malam itu Pak Badar mendatangi tempat membuat mayat yang dibegal kemaren, berhubung masih malam Pak Badar tidak bisa mengenal isterinya. baru setelah agak siang samar2 wajah korban pembegalan kemaren dapat dikenal, yang ternyata adalah isterinya sendiri, maka Pak Badar pun memeluk mayat yang sudah 2 hari dibuang dan mulai membusuk, kemudian menyerahkan diri kepada pamong desa untuk dibawa kekantor polisi. Itulah sekilas dongeng waktu masih kecil dulu, nama yng tertulis hanya nama dongeng saja.Purs

Category: blog, Tags: | posted by:massito


13 Responses to “KABAR KABUR”

  1. Waktu minggu lalu saya pulang kampung, saya jalan pagi sampai Ngangkruk Ketip. Mobil saya parkir di Sruwoh, jalan pagi Sruwoh-Ngangkruk Ketip pulang pergi ditengah udara segar dan pemandangan alam yang indah cukup menyehatkan. Diprapatan Ngangkruk ketemu dengan pejalan pagi dari Wingkoharjo, Pak Margono usianya 84 tahun dan pak Tohiran, 69 tahun, dari Jenar, ngobrol santai selama setengah jam. Kembali rumah badan terasa bugar, sarapan dengan sambel tempe dan ceplok telor, sedap. Sekarang ini Ngangkruk sudah tidak seangker dulu lagi, lalu-lintas, setelah jam 6.30 pagi sdh ramai.

  2. wah pak wiek ngepengini orang saja. ngomong2 siapa yang ndampingi pak. kalau nggak ada saya juga bersedia. btw kok jauh sekali sampai sruwoh pak, jalan wunut ~ tinumpuk dijamin lebih orisinil pak wiek.
    buat mas sito tolong dibikin laporan pandangan mata tentang si lele masa kini. apa masih gitu2 juga. yg jelas dulu yg rasanya jauh sekali ‘ngaluk aluk’.. sekarang jadi deket ya?
    wassalam.

    • Pak Dokter, untuk jalan pagi di desa tidak perlu ada pendamping, namun kalau pak Dokter mau mendampingi apalagi bersama mbah Suro tentu akan saya sambut, pasti gayeng, tapi kapan? Jalan Wunut-Wingko di musim hujan tidak nyaman untuk jalan pagi, skr jalan Susuk-Singkil sdh diaspal, jadi kadang saya ambil jalan itu sampai Wingko, tetapi nggak sampai Tinumpuk, pulangnya kejauhan. Jalan Sruwoh- Ngangkruk Ketip itu kalau pagi ramai orang jalan pagi, sampai jam 7.00. Saya parkir di Sruwoh supaya pulangnya tidak jalan lagi, lagian disitu ada teman, namanya Mas Sumidjo, jadi kalau perlu bisa mampir ngobrol. Salam.

  3. Pursito says:

    Jaman dulu th 60/70 an jalan Wunut/Karangtalun Wingko dapat melalui Silele, waktu itu kendaraannya sepeda, jadi untuk ukuran jalan silele masih bisa dilewati. tapi sekarang orang paling tidak pakai motor, jadi sudah tidak mau lagi lewat Silele, biarpun agak jauh memilih leWIngko harjo baru ke Susuk. Mudah2an jalan yang dulu pernah ada tidak dimatikan, melainkan diperbaiki supaya mobilitas penduduk semakin lancar dan dapat menggerak kan roda perekonomian desa. terima kasih.

  4. Assalamu’alaikum Mbah Slamet
    kalau tidak salah dulu Kawasan Ngangkruk Kethip itu perkebunan tebu pada jaman Belanda, membentang sampai wetan deso Susuk dan Mendiro, mungkin bekas gudang tebu masih ada di sana! di sebelah timur kali. Hamparan sawah yang luas sangat menyejukkan mata, apalagi jika kita melihat sebelah timur terlihat pegunungan Goa Seplawan. Sungguh ngangeni sekali!
    teringat dulu waktu kecil suka mencari “endhog Blekok” di kali itu
    Wss

    • Mas Julian, komen-nya harap ditujukan kepada penulis, bukan kepada saya, nanti jadi simpang-siur.Tapi sekedar untuk menjawab, saya cerita sedikit. Sebelum ditutup pada permulaan tahun ’30, di Jenar ada Pabrik Gula besar, terletak di desa Plandi, sekarang masih ada bekasnya, Jendral Achmad Yani dilahirkan disitu. Betul daerah Ngangkruk Ketip sampai Mendiro dan sekitarnya adalah lahan tanaman tebu. Di sawah saya, kulon Wunut sampai akhir2 ini masih ada bekas ban jalan lori tebu, kini sudah kami bongkar. Cerita selanjutnya nanti kalau sempat saya tulis khusus.Maaf pada Mas Pursito sdh “membajak” lahannya. Salam.

  5. Oh maaf, sy jadi malu, kurang teliti bacanya, karena saking asyik baca tulisan di atas!
    kalo boleh pesen cerita tentang yang “mbaurekso” di desa Susuk, kalo gak salah makamnya ada di belakang rumah pak Lurah Cipto!
    sedikit cerita,sosoknya wanita cantik dan selalu memakai kebaya dan jarik. dan apabila ada warga yang memakai baju serupa dengannya, maka akan meninggal.
    terima kasih

  6. mbah suro says:

    Awal bulan Pebruari ini menjelang tengah malam saya melewati Ngangkruk ketip hanya berdua dengan istri, suasana sepi nyenyet mana hujan gerimis. Untuk mengusir rasa “takut” sengaja saya pakai lampu panjang, lampu rotator warna birupun saya nyalakan, bahkan menjelang perempatan Ngangkruk saya bunilan sirine.
    Maksud saya bukan takut krn “begal” tapi untuk menghindari kecelakaan/ tabrakkan dengan pengguna jalan dari arah lain, karena kabarnya sekarang ini di Ngangkruk sering terjadi tabrakkan akibat kurangnya hati-hati para pemakai jala. Salam…..

  7. Gunarso Ts says:

    Sampai tahun 1980-an situasi di Ngangkruk Ketip memang masih menyeramkan, karena posisinya yang adoh lor adoh kidul. Di seputar tahun-tahun itu pula pernah ditemukan korban pembunuhan. Aksi kejahatan itu dilakukan di Purwokerto, tapi mayatnya dibuang di Ngangkruk Ketip sini.
    Sebelum tahun 1960, Pak Karpus priyayi Jenar Lor yang suami Bu Guru Sainem, pernah jatuh naik spedel di sini. Pak Karpus yang membonceng, tak kurang satu apa. Tapi kakak iparnya, Pak Sardjo, kini masih sugeng di Jenar Lor, yang mengalami luka-luka karena kakinya tergencet bodi motor.
    Kala itu Bu Sainem adalah guru SR Margosari. Barangkali pembaca banyak yang pernah jadi muridnya. Orangnya hitam manis, suaranya bagus sekali jika mengajari nembang murid-muridnya. Jika dia tengah nembang di depan kelas, maka wong macul d kulon ndesa Pulutan, otomatis akan berhenti nyangkul, untuk menikmati suara Bu Guru Sainem yang merdu dan urut usuk ini.
    Sekitar tahun 1960-an aku pernah diajak bapak halal bihalal di daerah Sendang. Pulangnya bapak menyempatkan salat Ashar di kidul Ngangkruk Ketip. Beliau wudlu dengan air sawah, lalu sembahyang di tanggul jalan dengan sajadah baju beskapnya.Kenangan manis yang tak terlupakan, tapi ayahku sudah meninggal taun 2006 lalu.

  8. Pursito says:

    Terima kasih Mas Gunarso TS, atas komentarnya, saya doakan mudah2an arwah ayah mas Gun dapat diterima disisiNYA sesuai dengan amal baktinya amien.
    Sebagai orang yang masa kecilnya di WIngko, Ngangkruk adalah tempat yang cukup dikenal, dengan segala ceritanya. yach sekedar bernostalgia. terima kasih.

  9. Yoyo S says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb, Walah walah, kalo mengenang daerah yang namanya ngankruk kelip memang panjang banget, saya punya ceritera tersendiri mengenai tempatitu ( Tahun 68 ),waktu itu saya pernah mencari ikan sampai di daerah pesisir selatan dan pada waktu itu jalan leawat yang namanya ngangkruk kelip itu, saya berdua dengan teman, masing masing membawa alat diantaranya obor ( Blencong ) pas di perrempatan jalan itu saya bertemu dua orang yang sedang duduk di pingggir jalan, karena saya mau lewat jadi saya menyapa duluan ( Derek langkung Pak )dan di jawab dengan sopan monggo, karena teman saya menganjak istirahat dulu karena capek jadinya saya berdua malah berhenti di situ juga dan ngobrol sama dua orang itu, setelah omong omong saya nanya Bapak itu dari mana dan mau kemana, menurut pengakuannya mereka berasal dari desa Ngawu awu ( Desa di pinggir pantai selatan )dan katanya sedang mencari rezeki di situ.
    Kira kira lima menit teman saya nyubit saya dan saya maksut dengan cubitan dia, dan saya pamit dengan kedua orang yang ada di situ dengan jalan agag dedgdegan dan berulang kali nengok kebelakang, setelah sampai di jalan asapalan ( Purworejo – Jogja ) saya istirahat di gardu desa Popongan, rasanya lega sudah tidak was was lagi karena teman saya bilang orang yang berdua tadi sebetulnya begal yang sedang mencari sasaran, hanya kebetulan yang lewat saya berdua ( pencari ikan ) yang gag bawa apa apa malah mbawa parang ( pedang panjang ) dan blencong dan lagi gag dapat banyak ikan ( Katak ) itulah sekedar ceritera mengenang Angkruk Kelip, akan tetapi sekarang memang sudah rame dan sudah aman. Wasalamu’alaikum

  10. massito says:

    Pak Yoyo S, untung saja cepat ambil keputusan, kalau saja tidak cepat-cepat pergi mungkin ceritanya jadi lain, kalau namanya orang punya niat jahat, yang dicari pasti yang banyak duitnya, kalau ada, kalau tidak, ya apa ada, dari pada tidak dapat apa-apa. selamat pak Yoyo.s

  11. Yoyo S says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb, Ya mungkin begitulah Mas Sito, Alhamdulillah saya sampai sekarang masih di beri kesehatan hingga bisa ceritera sama teman teman warga Purworejo di mana saja berada, begitulah wongnamanya jaman kecilnya saya kan susah banget. Wassalamu’alaikum Wr Wb

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

informasi kerukunan orang purworejo di kaltim

21 - Mar - 2009 | eko_juli | 7 Comments »

BANDUNG: Sebuah “IMPIAN” yang Menjadi Kenyataan.

2 - Mar - 2013 | slamet wijadi | 18 Comments »

Jaran Mbedal

24 - Jun - 2012 | slamet_darmaji | 7 Comments »

Mengapa Purworejo Disebut Kota Pensiun

16 - Mar - 2009 | masdodi | 69 Comments »

Domain blog ini hampir benar-benar expired

12 - Jul - 2009 | meds | 16 Comments »

© copyleft - 2011 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net