“PASAR ILANG KEMANDANGE”, KISAH TENTANG PASAR DESA SUSUK

  24 - Dec - 2010 -   slamet wijadi -   37 Comments »

“Pasar ilang kemandange”, ungkapan ini, yang dipercaya sebagai “ramalan Joyoboyo” sudah terdengar sejak saya masih kecil, sekitar tahun seribu sembilaratus tigapuluhan, namun saat itu orang kurang menyadari apa sesungguhnya makna ungkapan “ramalan tersebut”.

Kini lebih tujuhpuluh tahun kemudian, ramalan tersebut kita saksikan telah menjadi kenyataan yang tidak terbantahkan, termasuk untuk pasar desa Susuk; pasar telah kehilangan kemandang/gemanya, baik secara harafiah maupun kiasannya.

Rumah tempat saya dilahirkan itu berada di sebelah pasar desa, Pasar Susuk, Ngombol, Purworejo. Di sekitar tempat tinggal saya ada beberapa pasar desa, seperti pasar nJoso, Wonoroto, Cokroyasan dan Wingko. Lebih jauh lagi ada pasar Kedunggong/ Megil (Grabag), nJono/Kendal, Purwodadi, Jenar, Krendetan,Sendang, Demplo, Ngori/Banyuurip, Tegalmiring dan Seboro Pasar. Kini beberapa sudah almarhum, termasuk Cokroyasan (lokasinya sudah jadi gedung SD), nJono dan Tegalmiring(?) sedang yang lain umumnya sudah “merana” dan kehilangan “gema”nya” sebagaimana yang saya ingat dulu. Khusus untuk pasar nJono almarhum, saya ingat pasar ini sangat ramai dan lengkap, termasuk alat alat untuk cari ikan seperti seser, wuwu, pancing, jaring dan sebagainya.

Suasana Pasar Susuk saat ini, sepi pengunjung, sudah "ilang kemandange"...

Suasana Pasar Susuk saat ini, sepi pengunjung, sudah "ilang kemandange"...

Kenangan saya tentang pasar2 tersebut waktu itu “ngengreng”, “regeng”, asri, biasanya ada pohon besar yang “menghias” di dalam pasar dan ramai sekali pada waktu hari-hari pasaran. Untuk Pasar Susuk hari Selasa dan Jumat, Joso Rabu dan Sabtu, Wonoroto Kamis dan Minggu.
Kini saya akan berkisah tentang pasar Susuk. Hubungan saya dengan pasar ini memang cukup erat dan khusus. Kebetulan juga karena ibu saya waktu itu punya bango (semacam kios) di dalam pasar Susuk, jadi kisah ini sekaligus juga merupakan kenangan terhadap ibu.

Saya tidak tahu sejak kapan pasar Susuk dibangun, yang jelas pasar itu dulu terkenal dengan nama Pasar Wunut, menurut cerita dulunya pindahan dari desa itu, dan yang konon berlokasi di sebelah utara SD Wunut sekarang.

Sewaktu saya kecil nampaknya pasar Susuk baru selesai di bangun/renovasi dengan los-los panjang yang kokoh membujur kebarat dan selatan dengan lantai semen. Jalan masuk ke pasar lewat jembatan/buh melalui sebuah bangunan kantor yang cukup bagus tempat penarikan karcis bagi para pedagang. Saya masih ingat nama “carik pasar”nya, Pak Marsudi, masih pernah ponakan Lurah desa. Jabatan itu cukup “bergengsi” untuk ukuran desa pada waktu itu.

Di tengah pasar agak ketimur ada pohon asem besar dan rindang dengan buahnya yang manis, yang usianya sudah puluhan tahun. Di situlah kami anak-anak sering manjat sampai puncaknya untuk memetik buah asem.
Oleh sementara orang pohon ini dianggap “angker” terbukti seringnya mereka memberi sesajen dengan memakai ancak dan membakar dupa serta menabur bunga di bawahnya; sekelilingnya diberi pager/krepyak.

Di sebelah barat ada pohon beringin yang juga besar dan cukup tua, tempat berbagai jenis burung bertengger. Dengan “hiasan” pohon asem dan beringin ini pasar jadi nampak teduh, tenteram dan asri. Sebelah barat pasar terletak sawah bengkok lurah desa seluas beberapa bahu, bila tanaman padi sedang gemadung sungguh menambah keasrian pemandangan pasar desa waktu itu.

Pukul empat pagi menjelang subuh pada saat burung larwa/murai mengawali kicauannya, suasana di rumah saya sudah sibuk untuk menyiapkan barang yang akan di angkut ke pasar. Hari itu adalah hari pasaran, Selasa atau Jumat; ibu bertindak sebagai pimpinan. Barang dagangan dimasukkan dalam kotak kotak dan menjelang pagi mulai diangkut ke pasar. Mengingat pasarnya ada disamping rumah dan hanya berbatas dengan selokan, cara angkutnya cukup dengan di usung satu persatu; saya termasuk “anggota pasukan” angkut. Ini saya lakukan dengan senang hati karena untuk itu ada “upah”nya sebesar satu sen. Dengan uang itu saya dapat beli “penek” Ngandul Nini Sowing yang terkenal sedap, satu pincuk setengah sen, lengkap dengan nasi anget, sudah dikasih kaldu gulai ayam diatas sayur nangka muda pedas, kalau mau dengan suwiran ayam, satu sen. Saya pilih yang setengah sen, sisanya saya belikan “camcao” Pak Supingi yang mangkal di sebelah penek; cukup segar dengan gula tetesnya.

Menjelang pukul enam, bango ibu saya sudah penuh dan rapi dengan dagangan “klonthong” termasuk uba-rampe rokok, tembakau, klembak, menyan, garet.Dagangan ibu saya itu termasuk komplit dan terkenal untuk pasar Susuk, saya ingat hampir semua kebutuhan sehari hari ada, termasuk limun Bagelen dan “banyu londo”(air mineral/soda), obat2an dan bahkan menjelang Lebaran juga menjual mercon/petasan cap singa dan cabe rawit.

Sekitar pukul tujuh pagi pasar sudah penuh manusia dengan segala kegiatannya, hampir semua kebutuhan sehari-hari dapat diperoleh di pasar, bahkan dari Purwodadi ada seorang Cina yang punya bango, namanya Gun Siong. Saat itulah, sampai sekitar pukul delapan, pasar mencapai kegiatan puncaknya, atau dikatakan “temawon” ( suaranya seperti sarang tawon), dari jauh kedengaran suaranya “brengengeng” bak tawon- laler yang keluar masuk glodogan, kemandangnya terdengar sampai ujung desa. Barangkali pohon asem besar dan beringin yang saya ceritakan itulah yang juga telah “membantu” memantulkan gema/kumandang sampai jauh. Kesan saya, pada waktu temawon itu, untuk jalan saja agak sulit mengingat banyaknya pengunjung.

Kios ibu saya termasuk salah satu yang paling laris, sehingga ibu sangat sibuk melayani pembeli. Kegiatan ibu berdagang ini sangat mendukung ekonomi keluarga, disamping kedudukan Bapak sebagai bekel desa, sehingga mampu menyekolahkan anak anaknya ke kota.Dengan usaha dagang itu ibu mampu membeli grobag dan dokar dengan kudanya yang digunakan untuk belanja ke pasar Kutoarjo. Satu kenangan indah untuk hari-hari pasaran, ibu selalu membeli daging kambing untuk di gulai atau ikan kutuk segar untuk dimasak sambel goreng bumbu pedas, sehingga lauk hari itu terasa sungguh istimewa. Peristiwa ini selalu dikenang oleh seluruh saudara-saudara sampai tua bila kami berkumpul.

Hampir semua kebutuhan pokok tersedia di pasar, ada penjual beras/dedak, penjual kelapa,daging,macam2 ikan segar, ayam hidup, macam2 sayuran/tempe/tahu, bermacam kuweh, geblek, penek, camcao, jamu godogan/racikan, jamu gandring pikulan dengan hiasan wayang klithik Jiweng dan Thoples dan “obat anget”nya, minyak klentik/patra, macam2 klonthongan, baju/celana, kain, tukang jahit, alat2 pertanian, pande besi dengan ububannya,ojogan dengan pikulannya, mainan anak2 seperti plembungan/balon, gambar wayang, layangan, burung merpati, warung wedang/kewedangan dan bagi anak kecil disamping camcao dan dawet wetan kali tersedia “glali ceklek”, semacam kembang gula yang pembuatannya langsung ditempat dan merupakan atraksi menarik bagi anak-anak kecil yang berdesakan merubung. Kalau punya setengah sen beruntung bisa beli glali yang masih hangat dan fresh. Pendek kata pasar Susuk jaman itu sungguh “regeng’, ramai, “asri” dan berkumandang.

Menjelang pukul sebelas pasar berangsur sepi dan sekitar pukul duabelas sudah bubar. Kini giliran anak2 termasuk saya mencari sisa-sisa atau istilahnya waktu itu “goris” ditempat/los2 tertentu, biasanya ditempat tukang jamu untuk mencari potongan “manis jangan”yang manis rasanya, sebelum kedahuluan Pak Surokaryo, tukang sapu pasar. Sementara itu di tempat los penjual daging sudah terlihat beberapa anjing dan puluhan burung gagak warna hitam dengan suaranya yang khas, gaok, gaok, gaok yang juga mencari sisa sisa daging/ tulang, kegiatan yang hampir sama dengan anak-anak… . Kini sudah lama burung-burung ini lenyap dari alam perdesaan bersama dengan beberapa jenis burung lainnya.

Pasar desa juga berfungsi sebagai tempat main anak-anak. Di los yang panjang dengan lantai semen itu kami main “bingkat”, permainan yang mungkin sekarang sudah hilang, yaitu menyepak batu pipih menuju sasaran, siapa yang lebih dulu mengenai sasaran dinyatakan menang, taruhannya pakai gendongan, merupakan kebanggan sendiri. Juga diantara los los itu kita mengadakan pertandingan kasti antar desa di daerah Ngombol, misal antara Singkil-Susuk/Mangunrejo/Wingko/Margosari dll… Untuk kegiatan ini tiap desa boleh “ngebon” pemain bagus dari desa lain. Saya ingat, dari Wingko kami ngebon mas Wito, juga Sandi dan Umar, sedang dari Margosari mas Subiyono pernah ikut main bersama team Mangunrejo.

Keadaan “normal” tersebut secara “drastis” berubah seiring dengan kedatangan tentara pendudukan Jepang pemulaan tahun 1942. Ekonomi desa hancur, pertanian mundur dan hasil2 padinya di “rampas” untuk membantu peperangan Jepang. Kelaparan merajalela, banyak penderita penyakit beri2. Tenaga muda di berangkatkan keluar desa menjadi romusha(tenaga sukarela paksa) dan tidak pernah kembali lagi. Desa kekurangan tenaga, kemiskinan di tunjukkan dengan banyaknya orang yang busung lapar dan berpakaian karung goni, akibatnya kutu/tumo merajalela dan wabah “gudik/kurap” berkembang pesat. Sepeda pakai “ban mati”, itu kalau beruntung mampu beli dengan harga cathutan. Saya masih ingat, mayat hanya dibungkus dengan tikar mendhong, mengingat kain tidak ada apalagi mori/kain kafan. Jepang mencetak uang kertas “gambar wayang orang Gathutkaca” dengan semena-mena mengakibatkan inflasi, harga melambung namun barang tidak ada.

Kehancuran kehidupan perekonomian desa tersebut langsung tercermin pada keadaan pasar pasar desa. Kesulitan keuangan dan daya beli yang lemah serta kelangkaan barang mengakibatkan menurunnya pengunjung pasar. Prioritas orang saat itu adalah bagaimana untuk bertahan hidup dengan segala caranya. Bagi yang tidak bisa meninggalkan rokok misalnya, harus puas untuk memakai “garet koran” atau daun kawung. Kemenyan merupakan barang mewah sehingga rokok cukup dengan tembakau tanpa bumbu, atau paling untung dengan “uwur”, semacam bumbu yang baunya wangi. Korek api tidak ada “batu”nya. Menyalakan rokok pakai batu thithikan, atau “upet”.

Dalam jaman Jepang itulah seingat saya pohon asem tumbang, seakan merupakan pertanda tentang berakhirnya satu jaman, disusul dengan matinya pohon beringin. Los-los pasar tidak terpelihara dan berangsur lengang. Ibu saya mulai sakit-sakitan dan kemudian berhenti dagang, grobag dan dokar di jual.

Dengan datangnya jaman kemerdekaan, berangsur angsur keadaan ekonomi desa mulai pulih, namun kondisi pasar desa sudah terlanjur “merana”, jauh dari keadaan sebelum kedatangan Jepang. Tidak ada lagi suasanan yang regeng, asri dan saat saat “temawon” yang memantulkan kemandang, mungkin hilangnya pohon asem dan beringin itu juga berpengaruh, disamping pengunjungnya memang menyusut, seiring dengan perubahan jaman.

Di tahun tujuhpuluhan ada peraturan yang mengharuskan setiap desa memiliki “Balai Desa”.Sebelum itu “kantor kelurahan” adalah juga kediaman Lurah. Dengan keharusan memiliki Balai Desa itu diperlukan lahan, dan pilihannya jatuh pada sebagian lahan pasar. Di bangunlah Balai Desa dengan mengambil sekitar seperempat lahan pasar sebelah timur. Jalan masuk pasar dipindah ke barat, sampai sekarang.Pasar desa menjadi lebih sempit, namun yang kecil itupun sekarang tidak pernah penuh, bahkan separoh saja tidak, suasana pasar “cembring” dan menyedihkan, apalagi bila dibanding dengan saat jaya jayanya dulu.

Memang jaman sudah berubah, pasar sudah hilang kemandange, “ramalan Joyoboyo” sudah menjadi kenyataan, baik secara harafiah, gema suaranya, maupun secara kiasan, ditinggalkan pengunjung.

Setelah bubar pasar, suasana yang lengang...

Setelah bubar pasar, suasana yang lengang...

Dengan perubahan jaman, pasar nampak sudah mulai ditinggalkan para pengunjung untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ada pilihan lain dalam bentuk warung warung yang menjamur, pedagang keliling dan “pasar modern”, mini market yang sudah mulai menyerbu ke daerah pedalaman. Di Purwodadi saja sudah ada dua mini market, semoga tidak akan “menyerbu” ke kecamatan dan desa, yang tentunya akan “menghilangkan” lebih lanjut kemandang pasar desa. Semoga.

Slamet Wijadi

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


37 Responses to ““PASAR ILANG KEMANDANGE”, KISAH TENTANG PASAR DESA SUSUK”

  1. djati widodo says:

    Saya pikir, kita memang harus legawa menerima perubahan, apapun bentuknya. Kita tidak boleh sekedar berdalih melestarikan budaya, lalu ngotot menolak sesuatu yang baru. Bukan berarti yang lama harus dibuang, melainkan juga harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang juga berubah, supaya tidak terjadi pertentangan. Hanya saja, kita harus selalu berusaha jangan sampai lupa pada kaidah moral.

    • Mas Djati, trimakasih untuk komentarnya. Setuju, kita harus legawa menerima perobahan, itu memang hukum alam. Dengan tulisan itu saya hanya ingin sekedar “me record” masa lampau sebelum hal itu “hilang” ditelan oleh jaman karena tidak ada yang menceritakan lagi. Generasi saya hampir “punah”, cerita saya semoga akan bisa jadi “dongeng” bagi “anak cucu” yang berminat.
      Saya setuju dengan perobahan, namun harapan saya perobahan itu semoga menuju kearah yang lebih baik, yang “murakabi” bagi masyarakat banyak. Salam kenal, Sw.

  2. Gunarso Ts says:

    Wah, matur nuwun Pak Wiek! Tulisan Bapak banyak memancing kisah masa lalu yang belum terekam dalam bukuku “Nostalgia anak kampung”. Di masa anak-anak saya seputar tahun 1955-1964, jajanan glali ceklek tinggal capet-capet saya ingat. Sejenis itu, adalah arum manis yang merupakan uap atau busanya gula pasir. Bakul jamu gandring juga masih menyambangi desaku, Pulutan. Kuingat benar, “obat anget” itu dibungkus dengan kelaras. Lalu untuk menarik anak-anak, wayang Jiweng yang ada pada pikulannya pun dimainkan. Sayang “kidalang” mainnya ngawur, bukan seperti wayang golek yang pernah kutonton di Ngombol, tapi hanya kata-kata pendek (maaf): “Truk kenceng, truk kenceng!”
    Bakul ojogan hampir setiap sore masih ider di kampungku. Dia mikul rombongnya dari Pasar Njoso, lalu lewat jalan kulon Kembangkuning menuju Desa Sruwoh. Dari sana belok kanan menjelusuri jalan desa Walikoro, dan tibalah di kampungku, Pulutan. Tukang ojogan bernama Kyai Mugeni (orang Kebumen), nginep dan menitipkan dagangannya di rumah Siwa Donomihardjo. Di bulan Ramadan dia sering jadi imam tarawih.
    Kiai Mugeni pernah sial. Selama ditinggal pulang ke Kebumen, barang dagangannya diambili anak-anak kampung yang dolan ke rumah Siwa Dono. Paling sial, saat meniti jembatan glugu (wot) dikejar orang stress, sehingga salah satu rombongnya terlepas dan byurrrr….. masuk kalen. Praktis sejumlah dagangannya seperti saput (bedak) “ora kalap” lagi.
    Pasar Wunut di masa kecilku hanya melihat sepintas, tak pernah masuk ke dalamnya. Soalnya simbok jualan beras hanya di Pasar Njoso, Purwodadi dan Njenar. Tapi bango-bangonya yang sepi sebagaimana yang Pak Wiek tampilkan, mengingatkan saya ke Pasar Purwodadi. Tukang bea-nya kala itu bernama Mangku Purwadi (th 1960-an), orang sekampungku. Dibelikan penek Pasar Purwodadi oleh simbok, wah, nikmatnya bukan main. Aku paling senang nonton tukang pande yang kiosnya berdiri di timur pasar. Di sini pula aku pernah melihat tukang copet berbaju merah ati, tertangkap basah. Dengan dinamo sepeda yang masih ada di tangannya, dia dibawa rame-rame ke kantor polisi.
    Saya baru tahu sekarang duduk persoalannya. Ternyata di masa kecil Pak Wiek ada pedagang cina Pasar Purwodadi bernama Gun Siong. Ketika saya usia 6 tahunan, tetanggaku Mas Sarusi (alm) selalu memplesetkan namaku menjadi: Gun Siong, Gun Siong…..! Saya pikir itu nama cina di Purworejo kota, karena kala itu Mas Sarusi sekolah di Purworejo.
    Benar Pak Wiek, pasar ilang kumandange seperti jangka Jayabaya, memang telah terjadi. Dulu, baru sampai prapatan dekat toko Bawean, pasar Purwodadi yang temawon itu demikian terdengar nyata. Tapi sekarang tidak lagi. Mungkin juga disebabkan tak adanya lagi pohon-pohon di sekitar pasar.
    Lalu, ada kosakata yang sudah lamaaaa sekali saya tak mendengar. Tapi lewat tulisan bapak, saya jadi ingat lagi kata “goris” itu. Di masa kecilku memang juga senang sekali makan kayu manis dan bakaran kedawung, rempah-rempahnya jamu orang bersalin. Tapi “goris” di era saya adalah mencari cibuk di pekarangan orang. Sisa-sisa tanaman tela munthul yang habis dipanen, beberapa minggu kemudian akan tumbuh lagi daun-daunnya yang “mrekoyok”. Nah, itu saya bongkar lagi bersama teman-teman, dan dimakan setelah dikesotke celana. Rasanya manis…..!
    Terima kasih Pak Wiek, saya tunggu terus karya-karya yang lain.

  3. Mas Gun, wah komentarnya jadi melengkapi kisah tempo dulu. Misalnya “arum manis”, saya ingat namanya dulu terkenal dengan, maaf, “jembut kocing”… Tukang pande di pasar Susuk namanya Pak Supo, banyak bercerita sambil kerja dan melayani pelanggan, sekali tempo saya minta coba ndorong ububannya yang turun naik, kayaknya kok asyik.
    Bakul ojogan memang fenomena jaman itu, seperti bakul kepang dan dabag, dengan suarana khasnya “pang, kepaaang”. Gun Siong itu toko/rumahnya persis di kulon pasar Pwd, namanya saja yang Cina, kalau bicara ya logat Pwd… Saya kok jadi ingat “njugil” cuplak telo munthul, rasanya manis dan renyah.Apa sekarang masih dikenal istilah “goris”?
    Hebat betul itu ramalan Jayabaya termasuk “kali ilang kedhunge”, semuanya sudah kita saksikan, mungkin ungkapan2 itu bisa kita jadikan judul untuk kisah2 selanjutnya, bagaiman kalau mas Gun mulai. Trims untuk komentarnya yang mantap, Salam, Sw.

  4. Mbah Slamet, Sugeng ndalu…
    saya sebagai putra desa susuk sangat terharu, ternyata simbah walaupun sudah berumur namun sangat aktif menulis di blog ini, saya pengen sekali ketemu dengan simbah, walaupun simbah belum pernah kenal dan bertemu dengan saya,
    Kisah pasar desa susuk membuat saya teringat akan masa kecil saya, sering maen di pasar itu, sambil ngaji di Masjid belakang pasar.
    masa yang indah mbah,
    oya, kalau boleh, saya pengen tahu sejarah Jan Toorop, pelukis belanda yang lahir di purworejo, tolong ya mbah,
    matur nuwun

  5. Assalamu ‘alaikum
    Mbah Slamet, Tolong permintaan saya tentang Jan Toorop dipenuhi, saya sangat tertarik dengan sejarah Indonesia, apalagi di Purworejo,
    Tolong ya Mbah Slamet,

    • Mas Julian, riwayat hidup Jan Toroop dapat di baca di Google dan Wikipedia, kalau saya ceritakan, sumbernya ya dari situ juga, makanya lebih baik langsung mas Julian baca dari situ saja. Salam.

  6. Giri says:

    Satu lagi dari Pak Slamet.
    Saya belum mengenal cerita itu semua walaupun saya sendiri “anak pasar”. Dari kecil saya juga dah dipasar,tapi saya sudah tidak mengenal nama-nama yang disebut. Berjuta-juta JEMPOL buat Pak Slamet.

  7. andri wijaya says:

    ass
    cerita -cerita mbah slamet buat saya memberikan kita bisa sedikit mengenal bagaimana desa susuk tempo dulu.kita perlu mendapat referensi yang lebih tentang gambaran program2 kerja pemerintahan dalam masa2 mbah slamet dulu yang mungkin layak untuk dijadikan wacana untuk saat ini…

  8. Mas Andri, “program2 kerja pemerintahan masa2 itu” saya tidak mengetahui. Saya sudah meninggalkan desa sejak jaman Jepang dan hanya berada di desa sekali2 saja. Trims untuk komentarnya, saya akan menulis untuk hal2 yang saya alami/tahu saja. Salam.

  9. widibintoro says:

    Apa khabar Pak Wik,pasar tradisional memang tempat explore masa kanak-kanak yang mengasyikan selain sawah, sungai, ngalas/gunung dan pantai. Kebetulan jaman saya kecil simbah saya juga jualan beras di pasar Pituruh. Karena masih kecil saya tidak boleh nyusul ke pasar tanpa diantar kakak saya. Pokoknya seneng banget kalau boleh nyusul ke pasar, karena sudah terbayang apa-apa yang mau saya minta. Kalau tidak nyusul malam hari pasaran saya akan menunggu di pintu sampai simbah putri datang bawa obor klari (saat itu belum ada listrik) sambil nggendong “grembang” isinya pasti macam-macam jajanan pasar. Saya ingat karena waktu itu masih jarang penggunaan bungkus plastik kalau simbah bawa jajan opak/klanting angka delapan diikat pakai tali bambu, sampai rumah dijamin pasti ames bin alot. Setelah usia sekolah di hari pasaran Selasa dan Jum’at pulang sekolah bersama geng main saya pasti ke pasar. Apa lagi kalau sekolah libur acara pertama ya ke pasar nonton bakul jamu yang juga main sulap namanya kalau tidak salah Pak Ispangat terkenal dengan atraksi sepeda roda satu, batang korek keluar dari kuping, sulap rokok, duit dll. Setelah bubar pasar acaranya sama dengan masa kecil Pak Wik kalau di Pituruh istilah “goris” disebut “jitur” (baca njitur; mungkin dari istilah barang siji olehe nutur)dari yang bisa dimakan sampai gelang karet syukur-syukur nemu uang recehan dibawah sampah atau “lincak” tempat berjualan pedagang pasar senangnya bukan main. Kalau ke tempat pande besi biasanya ngambilin potongan besi gepeng ukuran 2-3 cm untuk dikasih ke bapak saya buat pantek cangkul, tapi harus diganti dengan uang jajan (minta secara halus). Seiring perubahan jaman, mungkin juga semakin banyak suara-suara kendaraan dan hilangnya pohon diganti gedung, maka gema atau kumandang suara orang-orang dipasar juga hilang. Apalagi sekarang diganti pasar modern atau Mall yang tertutup pasti tidak akan terdengar lagi suara-suara “gemremeng” orang bertransaksi. Memang benar Ramalan2 Jayabaya sudah banyak yang kita temukan kenyataanya “nemoni jaman edan” yang akhirnya semua juga kembali ke manusianya tinggal bagaimana menyikapi agar kita selalu berperilaku bijaksana. salam

    • Mas Widi, Selamat untuk temanten baru, semoga selalu “rukun-bahagia sampai kaken-ninen kadiya mimi lan mintuna”.Kapan kerumah kami?
      Tanggapan mas Widi menegaskan bahwa kehidupan anak di desa tempo dulu mirip dimana-mana. Beruntunglah anak yang dilahirkan di desa dan mempunyai memori tentang kehidupan masa kecilnya yang demikian mengasyikkan, lingkungan sawah, gunung,laut, hutan, kehidupan masyarakat yang kaya-warna serta berbagai pengalaman dengan pasar, permainan, kehidupan keluarga yang sederhana namun penuh kasih sayang antara embah, ibu/bapak dan saudara2, kesemuanya itu kelak akan merupakan ikatan yang sangat kuat dan berharga yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan yang nyata. Inilah yang saya rasakan, dan saya tidak pernah menyesal dilahirkan di desa…
      Pengalaman kecil mas Widi tentang pasar betul2 mirip, walaupun sudah terpisah puluhan tahun, mudah2an anak2 desa sekarang masih mengalami, walaupun pasarnya sudah makin “cembring”.Jaman nampaknya sudah berobah sesuai ramalan Jayabaya itu… Salam.

  10. hasmadji says:

    Tak akan jemu saya “salut sanget” kepada Pak Slamet yang hingga kini tetap produktif menuangkan pengalaman pribadi di blogger ini, semoga bermanfaat bagi lintas generasi, sedangkan bagi generasi yang pada waktu itu ikut merasakan/mengalami beberapa peristiwa yang diceritakan, maka nuansa kesan/kenangan seakan kembali tampak di depan mata.
    Masa kecil saya di era enam puluhan pernah punya kenangan tentang perjalanan ke pasar Wonoroto. Meskipun tidak lama, Ibu saya ( Bu Sis ) pernah pula berdagang ayam dan telur bebek/ayam. Sesekali saya ikut membantu menemani Ibu mencari dagangan di Pasar Wonoroto. Kami harus berangkat pada pagi buta. Dengan melengkapi obor blarak dan oncor ketika fajar belum menyingsing, kami dan rombongan pedagang dari lain desa sudah berjalan beriringan di atas tanggul sisi saluran irigasi yang panjang mengular mulai dari Buh Njoso lantas melewati pinggir desa Wasiat terus keselatan hingga pinggiran desa Tunjungan menjelang desa Wonoroto pasar yang kami tuju. Sepanjang jalan di depan kami tampak pancaran sinar obor menyala dengan indahnya, pemandangan yang sama juga tampak di belakang kami, karena di kedua sisi tanggul yang kami lewati adalah terbentang sawah yang luas, maka barisan obor layaknya sebuah pawai yang didalamnya ternyata adalah laskar-laskar pelaku ekonomi rakyat yang sedang menggeliat pasca pergantian rezim dari orde lama ke orde baru.
    Kembali pada “pasar sing wis ilang kemandange” adalah fenomena yang sangat pas untuk kondisi pasar-pasar yang tersebar dipelosok desa, berangkat dari masa kejayaan kemudian berlanjut kepada masa merana dan kini boleh jadi disebut masa-masa yang suram. Dalam kurun hampir tujuh dekade sejak kemerdekaan, secara jujur kita akui perekonomian masyarakat desa sudah cukup maju, namun kondisi pasar desa ternyata masih jauh tertinggal. Mengapa……..? Tentu ada yang tidak tepat dalam tatakelola perekonomian yang berpihak kepada rakyat khususnya yang berada di pedesaan. Kiranya masih diperlukan perjuangan yang sangat panjang.
    Demikian Pak Slamet, semoga berkesan. Tak lupa teriring salam sukses untuk rekan-rekan yang sudah koment sebelumnya; Mas Djati, Mas Widi, Mas Gunarso, Mas Julian, Mas Andri..

    Salam, Hasmadji.

    • Mas Hasmadji, pengalaman pribadi saya memang saya maksudkan sebagai “catatan jaman” agar tidak hilang ditelan waktu. Generasi saya hampir punah, yang ada juga tidak banyak yang bisa cerita apalagi main internet. Saya senang mas Madji menanggapi tulisan sekaligus melengkapi dengan kenangan yang sangat pas, seperti halnya dengan mas Gun dan mas Widi.
      “Obor blarak” kayaknya baru kita alami belum lama, namun itu sudah berlalu sekitar 50 tahun yl. Saya masih jelas ingat para pedagang berangkat pasar dengan obor itu,suaranya “gemremeng” sepanjang jalan. Saya jadi ingat ucapan ki dalang, “colok lintang sambung obor” dan itu berati ya obor blarak.
      Saya juga punya kenangan pasar Wonoroto waktu kecil. Bersama beberapa teman kami cari ayam aduan kesana, berangkat subuh dengan obor bersama mbok2 pedagang. Sampai disana cari ayam lencir, disana pilihan banyak. Stl dapat, sebelum pulang, mampir di “kewedangan” kebetulan milik tetangga Pak Kasan, medang teh manis dengan jadah panggang, nikmat…
      Kini,sewaktu terakhir di desa saya jalan pagi napak tilas ke pasar Wonoroto, bukan untuk beli ayam, tetapi sekedar nostalgia. Puas keliling pasar mampir di “kewedangan” namun sekarang bukan lagi jadah panggang tetapi kopi “3 in one” dan mie instan… kecewa juga namun memang jamannya sudah berobah. Sebelum pulang jalan kaki, saya “nyambangi” tempat jual cd campursari dan menikmati gending2 jawa, memang laras juga, tapi pasar Wonoroto sekarang juga sudah ilang kemandange, sehingga suara gending jawa itu juga terdengar agak cemplang… Salam dan terimakasih atas komentarnya mas Madji.

  11. kalo gak salah yang ada di foto pertama itu adalah Rizal(baju orange)dan yang sedang berjualan adalah mbak Sri,
    sedangkan foto kedua itu adalah Siwo Ngatino(kiri,pake topi)
    betul gak mbah Slamet?

    • Saya tidak mengenal orang2 di foto pertama itu, yang terang yang satu itu adalah jualan clorot, sedang di foto yang kedua memang betul, salah satunya adalah Ngatino, dulu ikut saya di Jkt sampai tamat SD, skr jaga di rumah bekas kelurahan jaman dulu dan ahli bikin jenang alot/kresikan.

  12. kang mas says:

    Nuwun sewu, artikelnya kepanjangan, jadi mbacanya agak mremet n mumet. Dos pundi menawi dipisah-pisah menjadi beberapa kelompok paragraf sesuai dgn topiknya. Pareeeeng…

  13. nurrahman says:

    neo liberl memang sudah mendunia,yg kaya semakin kaya karena tdk mau berbagi dengan yg miskin…menciptakan dunia ketiga

    • Mas Nurrahman, “yang kaya semakin kaya karena tidak berbagi dengan yg miskin”,makin jauh saja dari tujuan para “founding fathers” waktu memperjuangkan kemerdekaan yang sekarang hanya dinikmati oleh segelintir orang. Trims untuk komennya.

  14. mbah suro says:

    Istilah “goris” dan nemu cuwilan kulit kayu manis yang rasanya legi dan sedikit semriwing, mengingatkan saya ditahun 60 an. Kebetulan saya dulu juga sering “goris” di Pasar Sirinding (Wingko) sambil membantu simbah putri yang profesinya sebagai “pesapon” pasar.

    Bukan saja cuwilan kulit kayu manis saja yg didapat, termasuk bumbu dapur seperti brambang, bawang putih dan rontokan sayur mayur menjadi hasil “goris”, waahhh masa kanak-kanak yg sulit dilupakan.

    Monggo Pak SW, kapan kita bernostalgia “goris” ke pasar nJenar. Salam…..

  15. Mbah Suro, maaf kalau sekarang saya suruh “goris” mencari sisa kulit kayu manis jangan, apalagi ditemani mbah Suro bisa geger orang sak pasar, kok ada kakek2 kere yang cari sensasi… apa isih genep kakek2 iku… Salam.

  16. Siwo Ngatino, saya kenal sekali dengan sosoknya! Dia mempunyai seorang anak, salah satu pelestari budaya Purworejo,
    dia menjadi penari jidur/dolalak, yang sangat terkenal di sekitar daerah Ngombol.

  17. menerawang ms kecil,adalah sebuah kenangan yg sangat indah dlm ingatan. sekalipun pd saat menjalaninya terasa buram. nampakya,kegiatan menerawang ms lalu,sdh menjadi kesenangaan seragam bg siapa yg sdh tua-tua. tdk terkecuali bgt jg halnya,sy sangat menikmati kegiatan itu. yg tdk jarang berakhir dng menitiknya air mata kesedihan manakala,mengingat semua teman-teman dimasa kecil dulu.adakah ini sebuah cara Tuhan mengajarkan pd kt,agar menjadi terbiasa berpisah untuk tdk bertemu lagi,dng siapa yg kt sayangi.
    salam kenal,salam hangat..

    • Mas Pitaha, salam kenal dan trims untuk komen-nya.Saya setuju sepenuhnya “menerawang ms kecil,adalah sebuah kenangan yg sangat indah…”, bahkan bukan saja indah tapi juga “menyehatkan”. Ini saya kutipkan kata2 seorang penulis barat terkenal: “There is nothing higher and stronger and more wholesome and useful for life in later years than some good memory, especially a memory connected with childhood, with home. If a man carries many such memories with him into life, he is safe to the end of his days…” dan hubungan antara seseorang dengan tempat kelahiran serta lingkungan dimana dia dibesarkan sama seperti antara pohon dan daunnya,tak mungkin terpisahkan… Dan kalau mas Pitaha mengatakan bahwa itu mungkin cara Tuhan untuk mengajarkan pada kita agar menjadi terbiasa untuk berpisah dengan siapa yang kita sayangi, memang bisa diartikan demikian juga, tinggal bagaimana kita menarik hikmahnya. Salam, Sw.

  18. Hariadi says:

    Assalamuallaikum,

    Salam jumpa lagi eyang Wiek, saya sudah pindah tidak lagi di Bintan, sekarang sudah “balik kandang” kerja di Jakarta, biar deket dengan rumah di Pogung, sudah setahun ini, Kangen juga dengan cerita-cerita dan dongeng dari eyang Wiek.
    Terimakasih
    Hariyadi

  19. Mas Hariadi, selamat “balik kandang”, kalau di kandang sendiri ada lahan yang cukup “menjanjikan” mengapa harus jauh2 ketanah seberang. Betapapun, dekat dengan kampung halaman akan memberikan perasaan yang nyaman karena hubungan batin manusia dengan tempat kelahirannya adalah sangat alamiah.
    Kalau soal dongeng2 itu semoga masih ada bahan2 yang layak didongengkan dan tidak membosankan. Bagi saya sendiri “mendongeng” itu adalah latihan otak agar tidak cepat pikun. Salam sukses. Sw.

  20. Pak Slamet, Nak Surowo/nak Muning/Mbakyu Ngartini/Nak Djuwarso di Depok, dan saudara-2 saya asli Ngentak di Jakarta. Membaca mengenai cerita pasar ilang kumandange diatas, dengan kondisi saya pada saat ini, kok lalu mengingatkan suka duka saya ketika dulu masih kecil klas 4,5,6 Sekolah Rakyat Wingko, membantu simbok menjual kelapa di pasar Demplo ( kadang-kadang juga ke pasar Sirinding). Bambang kecil terpaksa mikul kelapa (sudah dikuliti tapi belum dipecahi, masih utuh, beratnya minta ampun…)subuh sudah berangkat dari Ngentak ke pasar Demplo. Mengapa subuh-2 sudah berangkat, karena agar wayah byar sudah sampai dipasar, dan langsung dibeli orang (payu). Ah, ternyata bener juga, begitu masuk trebis selatan pasar Demplo (lewat makam sedikit), saya yang menggeh-2 dleweran kringet dan simbok sudah ditunggu orang yang mau beli…! Yo wis, tinimbang abot-2 mikul ya oleh simbok langsung dijual sama orang pertama itu…., dan simbok menerima duitnya, alhamdulliah,
    Selanjutnya, saya diajak simbok melanjutkan perjalanan kira-2 75 m lagi menuju kepasar Demplonya.Sampai dipasar Simbok beli kebutuhan dapur seperti: garam,lombok, lengo klentik, mbako, klembak menyan untuk ngrokok bapak, tidak lupa beli jajanan kesenengan saya : getuk telo ( bentuknya bulat,warna putih,besarnya mirip bola pingpong), opak-apik,jengkol rebus disunduki seperti sate serta grontol.
    Gini ya pak Slamet,kenangan itu sangat membekas pada diri saya. Pekerjaan membantu orang tua itu saya lakoni sampai saya lulus Sekolah Rakyat Wingko dan masuk SMP Indra dan SMA institut Indonesia di Purworejo.Tapi sekali-kali jika libur sekolah, ya tetap dijalani. Berhenti total setelah tamat SMA tahun 1965, saya ndaftar tentara dan diterima menjadi Bintara TNI. Pangkat pertama Sersan Dua. Dan sejak itu saya gak lagi mikul kelapa, mikul beras, ( sudah barang tentu gak macul di sawah lagi, matun, golek air untuk mengairi sawah ketika kemarau sampai berantem ) tapi mikul senjata… dan selama 36 tahun mengabdi di TNI, tahun 2002 pensiun di Kodam VI Diponegoro Semarang dengan pangkat kolonel…., bahkan menyandang sarjana hukum militer…
    Pak Slamet….., tulisan pasar ilang kumandange benar-benar membuat saya teringat masa kecil dan sangat berutang budi sama simbok. Saya anak deso Ngentak, nggotane golek iwak di kali Cluwek, gogoh yuyu nang Selis, ngirit kalen cari lunjar, kalo malam cari belut dan kodok disawah bawa obor (nyuluh), ternyata menjadi warga Ngentak dan mungkin malah yang pertama kali meraih keberhasilan.. ya semua itu karena Ridho Allah SWT.Amin.
    Sekarang ini, bapak dan simbok sudah almarhum.Namun perjuangan membesarkan anak-anaknya pada waktu itu ( dari 13, meninggal 5 dan 8 hidup )benar-2 tegar. Setegar-tegarnya kumandangnya pasar waktu itu. Tapi pak Slamet menulis pasar-2 tersebut ilang kumandange,malah akhir-2 ini dengan munculnya swalayan dimana-mana menjadi kenyataan. Tapi doa saya, semoga pasar-2 tradisional di desa-2 tidak terpengaruh, dan kalo bisa harus tetap berkumandang. Setuju pak Slamet ?

    • Pak Bambang, trimaksih atas apresiasinya terhadap tulisan “Pasar ilang Kemandange”, saya “tersentuh” dengan “pengakuan” pak Bambang, “tulisan pasar ilang kumandange benar-benar membuat saya teringat masa kecil dan sangat berhutang budi sama simbok”. Perjuangan seorang ibu sebagaimana diceritakan pak Bambang sungguh tidak pernah akan terbayar oleh putra2nya, namun “pengakuan” pak Bambang tersebut sudah merupakan ungkapan bakti dan “balas budi” kepada almh. Seperti saya ceritakan, tulisan saya itu saya buat sekaligus juga untuk mengenang ibu saya yang juga luar bisa, sehingga harus “pergi” dalam usia yang masih muda akibat kerja terlalu keras demi para putra2nya. Saya juga terkesan atas perjuangan hidup pak Bambang sehingga berhasil mencapai puncak karier begitu tinggi apalagi untuk seorang anak desa. Inilah barangkali yang perlu dicontoh oleh para generasi muda dari desa, tidak ada sukses tanpa perjuangan yang keras. Salam.Sw.

  21. numpang lewat yaa… mau jalan-jalan ke medan? atau mau wisata kuliner di medan? jangan lupa mampir di blog http://www.indrahalim.com ya. Blog kuliner top kota medan. Situs yang lengkap reviewnya tuk resto or kedai yg menyediakan makanan enak di medan.

  22. rbambang sudiyono,sh says:

    Temen sepermainan saya sewaktu kecil di dukuh Ngentak tidak lain keponakan saya namanya Wagiran, beberapa bulan yang lalu dipanggil Tuhan YME karena sakit dan dimakamkan di “njaratan” sebelah selatan desa Ngentak.. Selamat jalan, semoga arwahnya diterima disisi Allah SWT.Pangkat almarhum saya tidak tahu persis, apakah Sersan Satu atau Sersan Kepala (jika keliru mohon maaf ).
    Kenangan saya bahwa almarhum setelah tamat sekolah di SR Wingko (tahunnya saya lupa)lalu masuk menjadi tentara dan dididik di BTC Purworejo sekitar tahun 1966 dengan pangkat pertama Prajurit Dua. Waktu almarhum dalam pendidikan,sering datang ketempat adiknya juga keponakan saya juga, bernama Paini yang indekost masak sendiri bersama-sama saya di Plaosan Gang IV Purworejo, dirumahnya “Mbah Yan”.Paini nikah dengan sdr keponakan saya juga, Ngadono ( menjadi Anggota TNI Paskhau/sudah pensiun/salah satu putranya menjadi dokter/ ketika nikahkan putranya saya tidak diundang…).
    Waktu itu (awal 1966)saya sedang kuliah dan
    belum masuk tentara (baru pertengahan tahun 1966 saya masuk tentara).
    Kenangan yang tidak terlupakan ketika musim rendeng tiba ,ketika hujan turun berhari-hari, banjir lalu bersama-sama cari burung dengan cara “mbranjang” burung disawah, lalu “tawu” dikali
    Ciluwek, dan “ngundo” layangan pakai “sendaren”.
    Setelah bertahun-tahun sama-sama jadi tentara, tidak pernah ketemu lagi, dan hampir ketemu ketika saya menjadi Kepala Hukum Kodam IV/Diponegoro di Semarang tahun 2002,dengan pangkat Kolonel gagal kunjungan kerja ke daerah Batang Jawa Tengah. Saya mendengar bahwa almarhum sudah pensiun tapi masih disitu.
    Sekali lagi “Selamat jalan” teman, selamat jalan Prajurit,pengorbananmu akan tertulis dengan tinta emas, membela nusa dan bangsa demi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
    Amin.
    Dari teman sepermainanmu di dukuh Ngentak Wingko Mulyo: Kolonel Purnawirawan Bambang Sudiyono, SH

    • slamet wijadi says:

      Kisah menarik Pak Sudiyono, dari seorang anak desa mampu meraih pangkat Kolonel dengan jabatan Kepala Hukum Kodam IV Diponegoro. Alangkah baiknya kalau Pak Sudiyono kisahkan perjalanan hidup tersebut dalam tulisan di Blogger Purworejo, agar menjadi inspirasi bagi generasi muda. Jaman saya kecil, kalau hujannya “nggrejih” dan sawah baru selesai matun kedua, juga mbedag burung di sawah bersama-sama, burung brekuwok dan babonan… kenangan indah ya… salam.

  23. Julian says:

    Selamat siang Pak Wik, sugeng riyadi mohon maaf lahir batin. lebaran tahun ini pak Wik nggak pulang kampung? padahal saya sudah menantikan kedatangan pak Wik dikampung halaman. Sekedar ingin sowan ke rumah pak Wik di Susuk. Salam sehat selalu

    • slamet wijadi says:

      Mas Julian, maaf memang Lebaran tahun ini kami tidak berada di desa, rencananya kami baru akan pulang bulan September/Oktober yad.Sekali2 juga ingin merasakan berlebaran di Jakarta. Berapa hari Mas Julian berada di kampung dan bagaimana suasanya. Saya dengar panen gadu tahun ini kurang memuaskan, apakah ada pengaruhnya terhadap Lebaran di desa? Salam, Sw.

  24. Salam Pak Wik, mohon maaf lahir batin nggih…

    Kemarin di daerah susuk dan sekitarnya memang sempat kena wabah wereng, tetapi telat dan kurang diantisipasi, karena dianggap skala kecil, tidak seperti wabah wereng beberapa tahun sebelumnya. Siapa sangka dengan “operasi senyap” nya sang wereng bisa menghasilkan kerugian panen hingga 50% dari hasil normal. Saat ini para petani harus pintar pintar berhemat, karena musim tanam selanjutnya masih cukup lama, menunggu datangnya musim hujan, mengingat lahan sawah desa susuk hanya tadah hujan, otomatis panen selanjutnya masih bisa 5-6 bulan ke depan

    • slamet wijadi says:

      Mas Indra, trimakasih, sama2 mohon maaf lahir batin juga. Saya ikut “prihatin” menerima berita tentang kerugian panen tahun gadu ini yang memang mencapai 50%. Bayangin banyak orang desa yang hanya hidup dari hasil “maro” sebagai satu2nya sumber untuk hidup/makan yang pas-pasan, kalau harus dipotong separo, ya tidak bisa membayangkan betapa mereka akan survive. Namun saya yakin mereka cukup kreatif dalam menghadapi masa2 sulit berdasar pengalaman mereka diwaktu2 yl. Soal maro ini saya tahu betul karena semua sawah tinggalan ortu kami digarap oleh orang, jadinya kalau dihitung2 pendapatan bersih mereka itu sangat minim setelah dipotong biaya2nya. Jadi kalau harus menerima hanya seperempat dari biasanya ya bisa dihitung sendiri. Itu mengapa susah bagi tenaga muda untuk hidup di desa kalau hanya bersumber dari hasih sawah. Semoga kedepan ada terobosan untuk mengatasi masalah ini sebagaimana disarankan oleh mas Idra. Salam, Sw.

  25. kuncoro says:

    Assalamu’alaikum wr wb

    Luarr biasa tuk tulisannya. Setelah bertahun lamanya saya mencoba mencaricari informasi akhirnya ditemukan juga pembahasan hal ihwal sejarah kehidupan di wilayah Ngombol.

    Salam Kenal. Saya adalah generasi yang hampir saja terputus dari tanah leluhur saya di Ngombol dan Cokroyasan lantaran kedua orang tua saya keluar dari desanya semenjak mereka remaja dan membuat kami anak-anaknya lahir dan besar di ibu kota.

    Namun, dalam beberapa kali kesempatan, kami berkesempatan mengunjungi mbah-mbah kami di kedua desa tersebut. Masih kencang dalam ingatan bagaimana kami kecil menikmati hampir semua pasar yang masih berdiri di tahun 80-an. Aroma dagangan di pasar dan keramahan pedagang serta pengunjungnya begitu membekas dan kami rasa turut mengiringi proses perkembangan jati diri kami sampai saat ini.

    Terimakasih sekali lagi untuk penulis. Kami di tanah perantauan orangtua kami yang kini terpaksa kami jadikan tanah air kami begitu rindu banyak hal tentang tanah leluhur kami. Kami disini generasi gamang yang seakan tak berpijak pada bumi yang diinjaknya. Kami bukan orang betawi tapi merasa orang jawa… tapi kami tak tahu bagaimana orang jawa itu sebenarbenarnya… kami ingin kuatkan jati diri kami.. jika ada kursus bahasa dan budaya jawa.. kami insyaAllaH pasti turut….

    Kami telah mencoba dan berusaha lekatkan diri kami pada budaya tanah leluhur kami. Beberapa kali kami selenggarakan pertunjukkan Dolalak atau Jidur pada pestapesta kami….

    Kami rindu geblek.. kami rindu aroma blarak.. kami rindu pemandangan sawah2 di desa leluhur kami….

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Jaran Mbedal

24 - Jun - 2012 | slamet_darmaji | 7 Comments »

Resensi Buku

21 - Nov - 2009 | Riyadi | 1 Comment »

Perjalanan dari Bogor – Purworejo 2008

8 - Oct - 2008 | cahmbegelen | 9 Comments »

H. Hardjosubianto, tokoh terlupakan dari Purwodadi

17 - Nov - 2012 | Gunarso TS | 12 Comments »

Test Purworejo Blog

27 - Jun - 2007 | meds | No Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net