Asal-usul Aksara Jawa

  14 - Jul - 2010 -   Anu Dhihasto -   6 Comments »

Diantara kita jarang sekali ada yang mengetahui asal mula aksara Djawa. Jangankan asal mulanya, bentuk tulisannya saja diantara kita pasti tidak tahu. Apalagi makna yang terkandung di dalamnya. Memang aksara Djawa ini bukan menjadi bahasa (tulisan) wajib negara kita.

Para Pemuda-Pemudi telah mengikrarkan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Tetapi setidaknya sebagai bangsa yang baik, kita bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Djawa tidak melupakan sejarah peninggalan Leluhur terdahulu. Beranjak dari keadaan tersebut di atas maka Penulis hendak mengingatkan kembali, aksara (huruf) Djawa yang sudah mulai punah dan terlupakan.

Di sini Penulis tidak bermaksud membawa kepentingan SARA atau Golongan (Djawa). Seperti yang telah dikemukakan di atas, Penulis hanya ingin mengingatkan kembali sejarah peninggalan Leluhur terdahulu. Sehingga muncul halaman ini, mari kita simak dan ingat kembali asal usul aksara (huruf) Djawa terlebih dahulu.

Cerita ini berawal dari seorang Raja yang mempunyai dua orang murid. Raja ini bernama Prabu Aji Saka, dengan dua orang muridnya bernama Duro dan Sembodro. Salah satu muridnya yang bernama Duro ditugaskan oleh Prabu Aji Saka untuk menjaga pusaka kerajaan. Nama pusaka kerajaan tersebut adalah Sarutama, dalam cerita Djawa berarti Hina tetapi utama (Saru-Utama).

Saat itu Prabu Aji Saka berpesan “Siapapun tidak dapat mengambil Pusaka Sarutama, kecuali Prabu Aji Saka sendiri”. Pusaka Sarutama ini dipercayakan kepada Duro. Prabu Aji Saka pada saat itu berangkat perang, namun ditengah-tengan peperangan Prabu Aji Saka mengalami kesulitan. Sehingga Prabu Aji Saka memerlukan pusaka Sarutama. Prabu Aji Saka pun menugaskan Sembodro yang mendampinginya di medan perang, untuk mengambil pusaka Sarutama di kerajaan.

Sembodro pun pulang kembali dengan maksud mengambil pusaka Sarutama. Sesampainya kembali di kerajaan, Sembodro meminta Duro untuk menyerahkan pusaka Sarutama kepadanya. Tetapi karena Duro sudah diberi amanat oleh Prabu Aji Saka guru mereka untuk tidak menyerahkan pusaka sarutama kepada siapapun kecuali kepada Prabu Aji Saka, maka Duro menolak untuk menyerahkan pusaka saru tama tersebut.

Sembodro pun mendapat amanat untuk mengambil pusaka Sarutama tersebut. Akhirnya Sembodro tetap memaksa Duro untuk mnyerahkan pusaka Sarutama tersebut. Karena sama-sama mendapat amanat (pesan) dari Prabu Aji Saka, merekapun berusaha mejalankan amanat masing-masing. Merekapun bertempur untuk menjalankan amanat mereka.

Pertempuran sesama murid kepercayaan Prabu Aji Saka ini berlangsung sengit. Hingga akhirnya mererka mati (gugur) demi menjalankan amanat mereka dari Prabu Aji Saka. Keadaan mereka disaat mati saling rangkul/pangku (mati sampyuh, Djawa).

Kita dapat mengambil inti sari makna dari cerita di atas. Bahwa masyarakat Djawa memiliki sifat yang luhur, setia dan taat, serta rela berkorban mati-matian demi mengemban amanat. Satu lagi sifat masyarakat Djawa, masyarakat Djawa akan marah apabila kita memposisikan diri kita di atas mereka. Tetapi mereka akan mati (luluh hatinya) kalau kita memposisikan diri di bawah (dipangku) mereka. Itu mengapa akhirnya di dalam aksara Djawa bila di akhir huruf dipangku akan mati.

Category: budaya, Tags: | posted by:Anu Dhihasto


6 Responses to “Asal-usul Aksara Jawa”

  1. siswy says:

    salah satu kecerdasan leluhur dalam mengajarkan aksara jawa kepada generasi penerusnya..untuk memudahkan pengajaran, dibuatlah cerita fiksi/khayal/bohong (DORA, bukan dora the explorer atau doraemon lho ya), tapi sembada (konsekuen/nyembadani).

  2. siswy says:

    salah satu kecerdasan leluhur dalam mengajarkan aksara jawa kepada generasi penerusnya..untuk memudahkan pengajaran, dibuatlah cerita fiksi/khayal/bohong (DORA, bukan dora the explorer atau doraemon lho ya), tapi sembada (SEMBADA = konsekuen/nyembadani/mencukupi). dalam bahasa lain, misalnya bhs. Arab, dibuat lagu : Alif Ba Ta Tsa dst, atau bahasa Inggris dibuat lagu : Ei Bi Si Di I Ef Ji dst…sedangkan leluhur orang Jawa sudah mengenal teori pengajaran bagaimana memudahkan pengajaran. Aksara Jawa disampaikan melalui cerita sehingga lebih berkesan dalam benak generasi penerusnya.

  3. Gunarso TS says:

    Mas Dihasto, ada yang perlu diluruskan dari “legenda” asal-usul huruf Jawa ini. Tokoh yang benar dalam kisah itu bukan Duro dan Sembodro, tapi Dora dan Sembada. Kalau Sembodro adalah nama wayang istri Harjuna.
    Ajisaka menciptakan huruf Jawa berdasarkan kisah perkelahian dua murid yang mati sampyuh tersebut, yakni: ha na ca ra ka (ada utusan, da ta sa wa la (berselisih paham), pa da ja ya nya (sama-sama sakti), ma ga ba tha nga (jadi mayat semua.

  4. KARMUN says:

    MENCARI TEMAN TEMAN STM TAMAN KARYA MADYA PURWOREJO TAHUN ANGKATAN 1990 / 1993 ATAS INFORMASINYA SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH HP 081388338936

  5. Anu Dhihasto says:

    Makasih Pak atas koreksinya.
    Maklum pelajaran SD, sudah banyak lupa.

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Menggagas Pembentukan Karakter Generasi Muda melalui Karya Sastra

3 - Mar - 2010 | Riyadi | 2 Comments »

Sekedar Mudik ke Purworejo atau Mudik Selamanya

21 - Jul - 2013 | indra.ngombol | 6 Comments »

Bedhug dan Kenthongan

6 - Mar - 2008 | meds | 8 Comments »

Asal-usul Aksara Jawa

14 - Jul - 2010 | Anu Dhihasto | 6 Comments »

Awal mula tarian dolalak

2 - Feb - 2009 | agus | 23 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net