Terimakasih Ayah, Sudah Nunjukin Betapa Miskinnya Kita

  7 - Jun - 2010 -   Anu Dhihasto -   4 Comments »

Sebulan lalu saya sekeluarga pulang kampong ke Purworejo bersama Istri tercinta dan Jagoan kecil saya TANGGUH ELGAR KEN PANDHYA (Elgar). Selain karena memang belum pernah pulkam selama 6 tahun terakhir, sekalian nengok Mbah Tjarik yang udah kangen pengen lihat cucunya. Kalo Istri sih pengen lihat Borobudur ama sekalian pengen tahu juga kampung halaman suaminya.

Elgar ibaratnya Jago Kate, wanine neng kandange dhewe. Lihat banyak pesawat di bandara senengnya bukan main, maklum dirumah khan banyak mainan replika pesawat. Tapi ternyata saat boarding begitu masuk cabin pesawat…wah mak cenger, nangis ga ketulungan (maklum umur baru 20 bulan dan pertama kali naik pesawat). Sampai-sampai penumpang lain terganggu dan terpaksa harus ke ruangan Pramugari dulu sampai dia berhenti menangis. Sesampainya di Semarang dijemput Adik tercinta Pandhes bersama Istri, menginap semalam di rumahnya. Keesokan harinya baru nyetir ke Puworejo bareng-bareng, ga lupa request Istri, mampir Borobudur. Siangnya sampe ke Purworejo, mampir BAKSO MANTEP Ps. Baledono. Dan akhirnya sampe ke rumah Mbah Tjarik. Bahagianya disambut, disembelehke pitik terus.

Kami menginap selama seminggu di kampung yang merupakan sebuah daerah pertanian yang sangat sederhana.

(mode on : saya membayangkan Elgar sudah bisa berbicara fasih dan berkomunikasi verbal dengan saya)

Pada perjalanan pulang, saya tanya Elgar “Bagaimana perjalanan kali ini?”
“Wah, sangat luar biasa Ayah”
“Kau lihat sendiri Nak, di kampung betapa manusia bisa sangat miskin” kata saya.
“Oh iya” kata Elgar
“Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?” tanya saya.
Kemudian Elgar menjawab.
“Saya saksikan bahwa :

Kita hanya punya satu anjing, mereka punya empat.
Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya.
Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari.
Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh.
Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita.
Kita punya pelayan-pelayan, pembantu rumah untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya.
Kita membeli segala keperluan untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.
Di Makassar kita setengan mati cari GENJER untuk di tumis, biar ke Gelael ga ada, ke HERO ga ada, ke Ps Pabaeng-Baeng ga ada, ke Ps Cidu juga ga ada. Tapi mereka tinggal memetik di sawah.
Kita mempunyai satpam dan tembok untuk melindungi kekayaan kita tapi mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.
Mendengar hal ini saya langsung mak klakep, kamisesegen, ora iso kumecap, Ayah tak dapat berbicara.
Kemudian Elgar menambahkan “Terimakasih Ayah, telah menunjukkan kepada saya betapa miskinnya kita.”
Betapa seringnya kita melupakan apa yang kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya.

Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua ini berdasarkan kepada cara pandang seseorang.
Membuat kita bertanya apakah yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan sebagai rasa terima kasih kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta lebih. Subhanallah walhamdulillah walaillahaillalah allahuakbar.

Category: blog, Tags: | posted by:Anu Dhihasto


4 Responses to “Terimakasih Ayah, Sudah Nunjukin Betapa Miskinnya Kita”

  1. mbah suro says:

    Purworejo nya dimana Mas? Salam kenal…

  2. Anu Dhihasto says:

    Purworejonya di Tlogorejo, Kec. Purwodadi
    Tepatnya Pendowo ke arah barat sekitar 2 km.

  3. aguss says:

    makassarnya dimana mas?

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net