Sepenggal Cerita Seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngadagan tahun 1947

  11 - Jun - 2010 -   prigel_landwb -   45 Comments »

Sebuah desa yang tenang, dengan kondisi geografi berupa hamparan sawah dan perbukitan. Desa Ngandagan, terletak di sebelah barat laut Kabupaten Purworejo. Siapa yang menyangka bahwa Desa ini pada jaman kejayaanya sekitar tahun 1947, merupakan satu-satunya desa di Kecamatan Pituruh yang pernah dikunjungi oleh Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno.

Mengapa Presiden Soekarno Berkunjung ke Desa Ngandagan ?

Dibawah kepimpinan seorang Glondhong (lurah) yang jujur, cerdas, bijaksana dan “mumpuni” bernama Sumotirto dengan nama kecil Mardikun (1946-1963) Desa Ngandagan menjadi sebuah desa percontohan yang sangat terkenal. Tidak heran para pejabat pemerintahan dengan mobilnya yang saat itu merupakan barang langka sering terlihat hilir mudik mengunjungi Desa itu. Dari sekedar rekreasi hingga yang bertujuan melakukan peninjauan. Belum lagi kunjungan murid-murid sekolah maupun masyarakat umum dari berbagai daerah. Bahkkan tidak heran ketika itu tahun 1960 seorang mahasiswa pernah melakukan penelitian (1961-1981) hasilnya : Land Reform in a Javanes strong>e Village Ngandagan : a case study on the role of Lurah in decision making prosess dan pada tahun 2009 kembali muncul dengan Judul Dari Desa ke Agenda Bangsa (Dari Ngandagan Jawa Tengah sampai Porto Alegre Brazil) siapa lagi penulisnya kalau bukan (Dr. HC) Ir. Gunawan Wiradi M. Soc. S.c yang cukup dikenal di IPB Bogor.


Hamparan sawah yang menghijau di Desa Ngandagan

Melalui cerita dari saksi hidup antara lain menyebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Glondhong Sumotirto tidak ada warga desa yang malas (bhs jawa gembeng), tidak ada maling berani mengusik ketentraman desa. Yang membuat saya merinding “tidak ada rumput yang boleh tumbuh megotori jalan Desa Ngandagan”. Walaupun terkesan otoriter dan disiplin semua warga desa saat itu merasakan kemakmuran dan ketentraman.

Jadilah Desa Ngandagan menjadi Desa percontohan, sepanjang jalan yang bersih ditaburi kerikil, kiri-kanan jalan ditanami pohon Pepaya Unggul berbuah sangat lebat dan besar-besar. Dari kejauhan bukit yang menghijau ditanami pohon jeruk dan buahnya juga sangat lebat, dibawahnya terdapat kolam ikan dengan airnya yang sangat jernih. Dan di ujung bukit yang kelihatan “mecucu” karena terletak di ketinggian, terdapat tempat peristirahatan Gua Gunung Pencu. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana pemikiran seorang lurah yang sangat maju di jaman itu, jika dikaitkan dengan konsep Desa Wisata yang tengah digembar-gemborkan, diwacanakan, namun belum bisa diwujudkan hingga sekarang. Ternyata berpuluh-puluh tahun yang silam telah dicontohkan dengan sempurna oleh seorang Glondhongbernama Sumotirto tanpa meminta bantuan dari pemerintah alias berdikari.

Mengapa warga Desa Ngandagan saat itu sangat menghormati dan mencintai kepemimpinan beliau ? Jawabanya adalah karena beliau memimpin melalui pendekatan kesejahteraan, kejujuran, disiplin dan pemberian sanksi yang keras. Sebagai contoh jika ada warga yang akan mantu atau khitanan, maka beliau akan meminta perangkat desa mendata siapa-siapa yang akan mantu atau khitanan. Setelah didata maka beliau sendiri yang akan menanggung biaya hajatan dan khitanan tersebut secara masal. Ini sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi warga di luar desa yang akan mengunjungi Desa Ngandagan. Yang terkenal hingga saat ini beliau pernah menikahkan 21 orang pasangan pengantin. Warga Desa Ngandagan benar-benar merasa diayomi sang pemimpin mereka.

Hasil pertanianpun tidak boleh dijual kepada tengkulak, tetapi harus dijual ke pasar. Jika ada warga yang masih tinggal di gunung, maka akan dibantu dipindahkan ke tanah desa dan dibantu membangun rumahnya atau istilah kerennya resettlement . Jika ada pencuri yang tertangkap di desanya maka pencuri itu akan beliau bina, menjadi orang baik dan bila perlu dicarikan jodoh dari warga Desa Ngadagan. Jika masih ada warganya yang nempur beras untuk makan, maka beliau tidak segan akan memberinya bantuan beras. Melalui Land reform kepemilikan tanah diupayakan supaya lebih adil antara lain dengan cara memberikan tanah garapan kepada rakyat miskin dan Tunakisma. Tanah desa tidak boleh dijual kepada orang dari luar desa (beberapa desa masih menerapkan aturan ini hingga sekarang). Karena akan terkait dengan sumbangan tenaga kerja pemilik tanah yang harus disumbangkan kepada kemajuan desa istilah orang kampung “kerigan/kerja bakti”.

Beliau ini juga terkenal sebagai penggemar seni dan juga mempunyai jiwa seni. Untuk menarik para pengunjung beliu juga tidak segan menanggap berbagai kesenian tradisional untuk menghibur warganya maupun warga dari luar Desa Ngandagan. Konon disamping rumah beliau yang ada kaki bukit terdapat rumah panggung khusus untuk menggelar/menanggap kesenian tradisional seperti wayang kulit, wayang orang dan kethoprak.

Ketenaran Desa Ngandagan sebagai desa percontohan memberikan daya tarik tersendiri bagi Presiden Soekarno kala itu. Ir. Soekarno mengunjungi Desa Ngandagan pada tahun 1947. Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk meninjau keberhasilan proyek pertanian jeruk dan perikanan di Desa Ngandagan. Selain itu ada cerita juga bahwa Presiden Soekarno dan Glondhong Sumotirto pernah belajar pada “Guru” yang sama. Sebagaiman layaknya ketika suatu daerah akan mendapat kunjungan dari Sang Presiden.

Sepanjang jalan dari arah Kemiri sampai Pituruh didirikan posko-posko penyambutan. Beragam kesenian tradisional memamerkan kepiawaiannya. Bermacam-macam hasil pertanian unggulan dipamerkan dan warga yang berminat dipersilahkan menikmati secara cuma-cuma.

Ketika rombongan Presiden Ir. Soekarno tiba di Desa Ngandagan, ribuan rakyat pengagum beliau berdesak-desakan untuk turut menyambut ataupun hanya sekedar ingin melihat langsung sosok Presiden yang mereka puja itu. Dalam pidatonya beliau memuji kemandirian Warga Desa Ngandagan bersama Glondhong Sumotirto dalam membangun desanya. Dalam pidato/dialognya dengan warga desa, kurang lebih “Aku kudu nganggo basa krama apa ngoko ? serentak dijawab ngoko…!!. Desa Ngadagan pancen hebat, ora perlu bantuan saka pemerintah nanging bisa dadi desa kang maju….

Berlangsunglah dialog rakyat dengan Presiden di depan rumah Glondhong Sumotirto. Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian rakyat yang tidak henti-hentinya menunjukkan kebolehan mereka.

Kunjungan dilanjutkan dengan meninjau tempat peristirahatan Gunung Pencu. Presiden Soekarno kembali menguji kepandaian warga desa. “Ayo sapa sing bisa nulis jenengku …maju ! Maka majulah salah seorang sukarelawan menulis Sukarno dengan aksara jawa. Namun ada kesalahan dalam menulis nama Soekarno, karena didepan huruf “Sa” yang disuku kelebihan huruf “Ha”, sehingga bunyinya “* Sukarno” dan semua yang hadir tertawa. Yang menarik Presiden Soekarno tidak marah bahkan memaklumi dan ikut tertawa. Kemudian Presiden Soekarno dengan sabar membimbingnya sambil menulis “ Sa disuku unine apa..? secara serentak masyarakat yang hadir menjawab Su…, banjur Ka dilayar Kar…, terus Na ditaling lan diwenehi tarung diwaca No… dadi wacane Su-kar-no”.

Rakyat pun senang karena dibimbing Presiden Soekarno. Bapak saya sendiri juga menyaksikan beliau ketika memasuki Gua Gunung Pencu melalui pintu sebelah timur, karena pintunya cukup rendah untuk ukuran Presiden Soekarno, maka beliau harus menunduk dan melepas kopiahnya. Setelah selesai melakukan kunjungan di Desa Ngandagan Presiden Soekarno beserta rombongan melanjutkan perjalan ke Kota Purworejo, dan melakukan pidato di alun-alun Purworejo.

Pintu Timur, tempat Presiden Soekarno menikmati kesejukan Gunung Pencu kini ditumbuhi semak-semak. Lorong bagian dalam batu cadasnya diselimuti lumut dan akar-akar pohon menyembul disela-selanya

Itulah sekelumit cerita seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan yang saya peroleh dari cerita saksi hidup, ketika kembali mengunjungi Gua Gunung Pencu pada bulan Mei 2010. Bagaimanapun Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan tidak terlepas dari keberhasilan Glondhong Sumotirto dalam memimpin Desa Ngadagan. Pola kepemimpinan beliau dalam memajukan desa, bisa dijadikan contoh untuk memajukan pedesaan di Indonesia.

Namun rangkaian kunjungan resmi tersebut hingga saat ini kurang dikenal, dan yang lebih mengemuka adalah bahwa kunjungan Presiden Soekarno ke Ngadagan (Gua Gunung Pencu) adalah untuk mengambil barang/pusaka. Ini sangat terasa ketika saya berjalan menyusuri jalan setapak ke Gua Gunung Pencu, langsung ditanya “Mas..badhe pados “barang/pusaka” tinggalane Pak Presiden Soekarno napa ?. Rupanya mengapa ada  lubang galian yang tidak dikembalikan seperti semula di tengah lorong Gua terkait dengan pertanyaan itu. Saya hanya bisa geleng kepala, jaman begini masih ada saja orang-orang seperti itu.

Tulisan Semangat Perjuangan 1945 di depan Pintu Sebelah Timur sampai kapan mampu bertahan ?

Saya juga teringat ketika saya masih duduk di SD sekitar 1980 an, Gua Gunung Pencu sempat menjadi kunjungan wajib bagi para siswa. Dengan berjalan kaki perjalanan dilanjutkan ke Gua Gong, Silumbu dan Watu Lawang yang terdapat di sebelah utara Desa Ngandagan. Sambil berdiri menatap beberapa bagian lorong yang roboh itu, saya masih terngiang-ngiang ketika teman-teman sebaya dengan riang belarian di komplek Gua gunung Pencu, sambil beradu pendapat mengira-ngira setiap apa yang kami lihat. Dahulu tempat itu sangat bersih dan sejuk. Namun sayang saat ini kondisinya memprihatinkan. Disana sini ditumbuhi semak, beberapa bangunan hancur, dan tulisan bernada semangat perjuangan 45 mulai memudar tergerus hujan dan lumut. Melalui coretan ini saya berharap semoga masih ada kepedulian dari pihak-pihak terkait untuk menyelamatkan bukti peninggalan sejarah tersebut, dan kalau kita mau mempelajari konsep pengembangan Desa Ngadagan waktu itu, potensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata alternatif di Purworejo sangat memungkinkan.

WB

Category: blog, Tags: | posted by:prigel_landwb


45 Responses to “Sepenggal Cerita Seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngadagan tahun 1947”

  1. hasmadji says:

    Mas Widi, sungguh saya terkejut sekaligus kagum begitu menyimak tulisan ini. Tak menyangka kalau ternyata ada mutiara yang terpendam di kaki bukit Pencu yang boleh jadi hanya sedikit orang saja yang mengenalnya, tak terkecuali bagi masyarakat yang tinggal atau berasal dari Purworejo sekalipun. Jujur saja saya yang Purworejo tulen agak asing juga lho mengenai Ngandagan? Kalau Pituruh saya sih sudah paham.

    Tulisan yang dikemas secara runtut dan enak dibaca, terkesan mirip sebuah dongeng walaupun ini sebuah kisah nyata. Ada hikmah yang bisa diambil dari keteladanan sang tokoh ingkang minulya yakni Bapak Sumotirto Alm. Selain hikmah tentu ada juga pertanyaan; Apakah sifat dan sikap dari sang tokoh itu sudah juga terwariskan kepada warga Ngandagan pada masa sekarang ini?

    Sang Pendahulu sudah melakukan yang baik, patutlah ditiru. Memang tidak mudah, namun bukan hal yang mustahil akan muncul Sumotirto-Sumotirto berikutnya. Mesti diperjuangkan dengan satu modal yaitu “ikhlas berkorban” yang untuk ukuran sekarang mungkin sudah langka. Semoga….?

    Mas Widi sekian komentar saya, ma’af kalau kurang berkenan.

    Salam, Hasmadji.

    • widibintoro says:

      Salam, Pak Hasmadji. Bermula ketika kecil saya sering bermain ketempat tersebut, tetapi tidak tahu apa-apa. Nah ketika saya mencoba kembali dan menanyakan ke orang yang pernah mengalami peristiwa tsb, baru terungkap sebagian tentang Desa Ngadagan dan kaitan dengan kunjungan Bung Karno. Karena banyak versi tentang mengapa Bung Karno sampai berkenan berkunjung ke Desa Ngadagan. Saya tidak punya interest apapun (karena banyak) sebenarnya cerita terselubung tentang desa Ngandagan yang nyerempet masalah politik. Saya hanya mengambil cerita dari perspektif saya. Ya sisi baik keteladanan seorang Glondhong waktu itu dan kunjungan Bung Karno. Mudah-mudahan ada yang lebih mengerti ttg cerita yang sebenarnya. Silahkan saya akan senang kalu ada yang mengoreksi. Nuwun

    • Wagiri says:

      Saya mencari judul buku tersebut di perpustakaan belum menemukan, mungkin minim jumlahnya ya Mas?

  2. Mas Widi, tulisan ini bagi saya seperti mengungkap kembali kenangan tentang peristiwa itu. Saya adalah saksi sejarah tentang kunjungan Bung Karno ke Ngandagan tahun 1947 bulannya sekitar Mei-Juni. Saya sudah duduk di klas dua di SMP Negeri I, yang waktu itu terletak di pertigaan jalan Jogya-Kutoarjo. Saya mengikuti berita dari koran Kedaulatan Rakyat dan Nasional Jogya yang ramai memberitakan kunjungan tsb.Desa Ngandagan dinilai sebagai desa percontohan dengan usaha perkebunan jeruk dan budidaya perikanan sehingga layak untuk mendapat kehormatan kunjungan Kepala Negara, Bung Karno, yang sangat membanggakan kemajuan yang telah dicapai desa Ngandagan. Kepala Desanya mendapat pujian hebat dari Bung Karno dan menjadikan desa tsb,. sebagai desa model/percontohan. Barang siapa yang ingin mengetahui lebih janjut, silahkan membuka-buka koran waktu itu.
    Sepulang dari kunjungan tsb. Bung Karno berhenti sebentar di tikungan jalan depan SMP Negeri I dimana “kebetulan” saya ada di situ. Itulah kali pertama saya berhadapan langsung dengan Sang Pemimpin idola saya. Dengan ramahnya dan senyumnya yang khas beliau mengulurkan tangan yang tentu saja saya sambut dengan gemetar. Luar biasa, satu peristiwa yang tidak mungkin saya lupakan selama hidup.
    Menurut ingatan saya peristiwa itu terjadi sekitar pukul tiga sore dan kemudian Bung Karno menerusknan perjalanan ke Jogya, jadi tidak mungkin beliau berpidato di alun-alun Pwr waktu itu.
    Saya sedih mengetahui “nasib” desa Ngandagan sekarang yang telah begitu banyak menyimpan kejayaan dan sejarah namun kini tinggal puing-puing berserakan yang telah dilupakan orang, bahkan telah berkembang menjadi tempat yang menjurus kepada “klenik”. Bangsa yang besar adalah yang tidak melupakan sejarahnya dan Ngandagan telah menuliskan sejarahnya, tinggal bagaimana kita sebagai ahli waris menyikapi. Tulisan yang bagus Mas Wdi, selamat. Salam.

    • widibintoro says:

      Pak Wik, kalau terkait cerita Bung Karno, kok Bapak lagi yang beruntung selalu ketemu. Giliran Saya kapan beruntungya ? kula bisane namung nerusin dongeng saja. Mohon Ma’af walaupun sudah diedit dan dibantu Mas Meds masih ada saja salah ketik dan bagian terakhir malah pakai garis jadi agak menggangu yang mbaca. Terima kasih Mas Meds. Jadi tulisan saya masih jauh dari bagus Pak. Kemarin saya sempat pulang lagi dan bertemu dengan para peneliti Agraria gabungan dari UGM, UNSOED, IPB dan STPN yang kembali melakukan riset agararia di Desa Ngandagan. Mungkin launching buku hasil riset sekitar bulan September 2010. Menurut Mas Lutfi Lulusan Sejarah dari UGM yang juga ikut riset selain meninjau kemajuan Desa Ngandagan Bung Karno juga sedang menjalankan Program Pemberantasan Buta Huruf (PBH)di pulau Jawa (termasuk foto yang belum terjawab dimana lokasinya). Kalau Pidato ke alun2 mungkin ya/tidak menurut Bapak saya ya (maklum sudah sepuh) bisa saja salah. Kalau gambar sosok Glondhong Sumotirto ada di fb saya kelihatan sorot matanya sangat tajam. Rupanya beliau juga aktivis SI di Sumatra. Kemungkinan kenal dekat Bung Karno di Sumatra (Bengkulu) bukan Digul (Soekarno pernah dibuang ke Digul ?). Kalau ende dan Bengkulu ya. Walaupun saya bukan kelahiran Desa Ngadagan saya turut prihatin dengan kondisi Gua sekarang + klenik makin nambah angker saja kelihatannya. Namun demikian ketika saya ambil foto dan duduk didalam gua rasa nyaman dan sejuk seperti yang saya rasakan jaman dahulu masih ada. Mana yang merasa putra dari Desa Ngandagan saya tantang untuk mau peduli. Tolong itu sejarah yang sangat bagus ttg Desa Anda! Sekali lagi selamat Pak Wik punya kesempatan langka bisa bersalaman dengan The Founding Father Bung Karno. Salam

  3. terjebak 2 kali.
    pada awal membaca artikel ini saya pikir tulisan ini karya pak wik. eee ternyata tulisan mas widi.
    ketika membaca coment nomer 1 kembali saya mengira ini pasti dari pak wik. lho ternyata dari mas hasmadji.
    wah.. anda bertiga hebat… gaya bahasanya sama bagusnya.
    salam kenal dari saya dan salam hormat buat pak wik.

    • Matur nuwum Pak Eyang Bethoro, salam hormat kembali, semoga selalu sehat dan sejahtera seluruh keluarga.

    • widibintoro says:

      Kagem Eyang Bethoro, tulisan saya masih ketinggalan sangat jauh jika dibanding dengan Pak Wik, Pak Hasmadji dan juga Eyang Bethoro Sendiri. Wong masih bocah wingi sore, kudu sinau sing luwih akeh. Tetapi saya maunya belajar dari yang pinter2 jadi nanti ketularan pinter bukan begitu ? Saya lebih senang kalau dibilang tulisanya masih jelek sekaligus dikasih tahu yang baik begini..begitu seperti ini seperti itu he…he…gratis lagi. Salam hormat saya untuk Eyang Bethoro. Nuwun

  4. hasmadji says:

    Yang ini tentu bukan jebakan untuk yang ke tiga kali, akan tetapi semoga menjadi salam dan sapa yang hangat dari saya dalam menyambut karib yang baru. Terima kasih, harapan saya silaturahim kita bisa lebih erat lagi dan bloger Pwr akan semakin bersinar.

    Terkait tulisan, karya Eyang Bethoro juga tak kalah hebatnya lho!? Beberapa tulisan dalam Kenangan Sepanjang Masa sempat juga saya baca, akan tetapi mohon ma’af saya belum coment.
    Selamat terus berkarya, dan semoga senantiasa dalam bahagia.

    Salam, Hasmadji.

    • widibintoro says:

      Sekali lagi Pak Hasmadji, apapun komentarnnya saya akan dengan senang hati menerimanya. Tidak ada istilah tidak berkenan. BP juga sebagai salah satu sarana silaturahim sesama warga PWR walaupun belum pernah bertemu langsung. Selain itu juga sharing ilmu bagi saya yang harus belajar lebih banyak. Matur nuwun.

  5. indr@ says:

    wuah kuwi sik ngandhap bangunan nopo pak? teng kecamatan pundi to? (ra gaul mode: on)

    • widibintoro says:

      Mas Indra, itu bangunan Gua Gunung Pencu, tinggalan Lurah Ngandagan sekitar tahun 1943an, lokasinya di Desa Ngandagan, Kec. Pituruh, Kab. Purworejo. Salam

  6. widibintoro says:

    Kepada temans blogger Purworejo, para peneliti ttg Desa Ngandagan (pada awal Juni 2010)diketuai Mas Ahmad Luthfi berencana akan mengekspose hasil riset tentang Desa Ngandagan (agraria) pada 1-2 Agustus 2010. Kepada yang berminat dan punya waktu dipersilakan datang dengan menghubungi Mas Ahmad Luthfi terlebih dahulu fb:Ahmad Nashih Luthfi.

  7. reban says:

    Bravo buat bapak-bapak penulis tentang situs desa ngandagan, insya alloh saya akan ikut menggali tentang situs yang ada tsb di kemudian hari, salam hormat buat semuanya…./reban anak kaligintung

    • widibintoro says:

      Tks, Mas Reban atas tanggapannya, kalau Mas Reban punya pendapat,ide atau cerita tentang Kaligintung dan sekitarnya (Gua Gong, Silumbu, Watulawang), coba dituangkan di BP pasti menarik. Mas mo tanya, kalau jalan Kalikotes ke atas (utara) apakah sudah nyambung ke simpang lima Kepil, Bruno? Itu kalau dikembangkan untuk wisata pedesaan apalagi sambil naik sepeda Gunung sangat bagus. Salam

  8. Robin Hatun says:

    Kagem kawulo sedoyo wargi ing tlatah Purworejo lan sa’indengipun,kulo badhe nderek tepang bilih nami kulo Robin Hatun lare Somogede alias bocah GUNUNG KEMBANG ingkang gesang ing paran.Pramilo menawi sedoyo komunitas Purworejo mugiyo kerso pawarto.Nuwun…nuwun…nuwun

  9. Robin Hatun says:

    Kathur Mas Widibintoro
    Kalau mas Widibintoro tanya masalah jalan dari Kalikotes ke utara Polowangi,Kaligintung,Somogede,Kaligondang,dst itu adalah Wana Wisata yg paling indah dan sejuk dg udara yg belum tercemar polusi sama sekali dan warganya sangat bersahabat dan ramah untuk menyambut orang asing.Desa Somogede adalah desa terpencil yang gemah ripah loh jinawi rakyatnya ayem tentrem dan tidak ada durjono.Dan salam buat ponakanku Luhur Pambudi

    • widibintoro says:

      Kagem Mas Robin Hatun, matur nuwun tanggapan dan informasinnya, kalau ada waktu coba dibuat tulisan tentang Desa Somogede, dan sekitarnya sekaligus promosi potensi Pituruh Ngalor, kalau ada gambarnya lebih menarik Mas. Seandainya pohon-pohon sepanjang jalan masih utuh (kala itu 1999 habis ditebangi oknum)dan air masih mengalir disisi tebing kanan sepanjang jalan itu alangkah indahnya. Tapi saya lihat terakhir sudah ada penghijauan kembali. Mudah-mudahan akan hijau kembali. Nuwun

  10. agustina kristyaningsih says:

    mas terima kasih ya…kebetulan saya cucu mbah glondong somotirto dari anak angkat beliau Yohanes Sukatmo,
    dari saya kecil mbah suyar( istri beliau ) selalu bercerita tentang mbah kakung,tapi hanya sepenggal aja,dan sekarang saya lebih tau lagi tentang beliau.
    waktu saya lahir beliau sudah lama sekali meninggal bahkan kakak saya yang pertama saja tidak sempat melihatnya…
    saya hanya bisa menengok mbah kakung di pekuburan didesa wonosari.
    nanti saya akan cerita ke bapak saya,pasti dia akan senang sekali.
    makasih ya mas…

  11. agustina kristyaningsih says:

    ada tambahan mas..
    kata mbah suyar waktu pak karno datang ke ngandagan,beliau suka sekali dengan sayur nangka buatan simbah putri…
    cerita pak karno datang ke ngandagan udh sering saya dengar dari mbah putri,
    tapi kalau tentang kepemimpinan mbah kakung baru saya baca ini.
    dari cerita mbah putri dan bapak saya
    di desa ngandagan dulu ada semacam rumah2han ditengah sawah yang digunakan simbah untuk kumpul2..
    tapi sayang sekarang udah gak ada,
    kalau mas widi mampir lagi ke ngandagan mampir kerumah ya mas,alamatnya ya dirumah mbah glondong itu rumah saya,samping gereja ngandagan.

  12. widibintoro says:

    Maturu nuwun Mbak Christin atas tanggapannya. Wah anda bangga ya jadi cucu seorang pejuang bagi warga Ngandagan dan Beliau sangat dekat dengan Presiden RI yang pertama Soekarno. Kalau Mbak punya cerita yang lengkap atau menambahkan tentang Eyang Soemotirto, saya dan teman2 blogger maupun pembaca tentu akan senang sekali. Kapan-kapan kalau saya pulang saya akan mampir dan mungkin bisa bertemu dengan keluarga dari Trah Pak Glondhong Soemotirto, sehingga cerita ini nanti akan lebih lengkap dan menarik, sekali lagi salam bangga menjadi cucu belliau. Wassalam. WB

  13. bagus sekali ulasannya ttg ds ngandagan n gun pencu dan sdh kita tindak lanjuti melalui bapeda utk buat konsep desa wisata ngandagan kalikotes n jalan lingkar ke bruno kr gedang tp tentunya bertahap pngembangannya . hmmm salam ntuk para sesepuh n paklik semua kl perlu rembag rembag bs email japri n telp telp nan hmmm sdr reban jg bs membantu kan????

  14. widibintoro says:

    Mas Luhur Pambudi (mudah-mudahan ini Mas Ir. Luhur Pambudi, MM) ya ? salam kenal Mas, terima kasih tanggapannya. Semoga rencana pengembangan tersebut akan terwujud kelak. Saya belum lama juga sudah mencoba menyusuri jalanan Pituruh naik sampai tembus ke perlimaan Kepil. walaupun cukup jauh hampir 3 jam dgn sepeda motor, bisa terobati dengan pemandangan yang cukup bagus. Apalagi pulangnya mampir ke Curug Muncar, Bruno. Saya rasa dengan polesan disana-sini layak jadi tempat wisata. Hanya sayang jalanan dari Bruno arah Karang Dhuwur agak rusak. Sebaliknya yang ke arah utara cukup bagus dan mulus. Kelebatan hutan disekitar Curug juga sudah sangat berkurang tidak seperti dahulu sekitar th 1990an kala itu hawanya masih dingin dan pepohonannya besar-besar (perlu perbaikan jalan dan penghijauan lagi). salam

  15. luthfi says:

    dear all,
    penelitian tentang sejarah pelaksanaan landreform di ngandagan, pituruh, telah dibukukan dan akan dilaunching februari mendatang. ringkasannya, silahkan baca di: http://ikhtisarstudiagraria.blogspot.com/2011/01/land-reform-lokal-la-ngandagan-inovasi.html

    salam,
    luthfi

  16. iqul says:

    izin repost ya pak, buat mengenalkan lagi daerah Purworejo..

  17. luthfi says:

    Mas Widi dkk,
    Buku sejarah ngandagan yang saya tulis mencatat banyak cerita tentang mbah glondong soemotirto. jika kawan-kawan terterik mendapatkan buku tersebut, silahkan hubungi Uus: 081328084499.

    Sekedar info juga, draft buku tersebut di bulan november 2010 yll dipresentasikan di Leiden oleh Moh. Shohibuddin (salah satu penulis buku ini), dan saya sendiri di fisipol Atmajaya, Yogyakarta.

    Trims

  18. luthfi says:

    Mbak Agustina Kristyaningsih, Mas Widibintoro, dan Mas Luhur Pambudi, dkk sekalian…

    Bagaimana kalau untuk menggerakkan “pembangunan desa” Ngandagan dimulai dari membangkitkan kembali kebanggaan desa Ngandagan. Artinya, mulai dari potensi apa yang ada di Ngandagan. Tentu saja potensi pertama adalah orang-orang Ngandagan sendiri, anak-anak mudanya sebagai ujung tombak. Selain juga potensi kesejarahan Ngandagan yang membanggakan yang bisa dibangkitkan kembali spiritnya, dan ada potensi gua pencu yang bisa direkonstruksi dan dijadikan lokasi wisata kembali. Saya pernah dengar, gua pencu ini pernah dicatat sebagai lokasi tujuan wisata di dinas pariwisata tahun 50-60-an.
    Bisakah kita membuat kegiatan bersama di Ngandagan dalam rangka di atas?
    Saya yakin bisa dimulai. Saya siap turut serta

    Salam, Luthfi.

    http://ikhtisarstudiagraria.blogspot.com/2011/01/land-reform-lokal-la-ngandagan-inovasi.html

    • widibintoro says:

      Mas Luthfi, ide yang sangat bagus, mungkin sekarang yang bisa memulai ya masyarakat di Desa Ngandagan sendiri dan di dukung pihak terkait dari Pemda Purworejo. Semoga kejayaan Desa Ngandagan akan kembali seperti jaman dahulu,, dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya. salam

  19. Mas Widi, trimakasih untuk Fw “Naskah Ngandagan” Oleh Tim Mas Lufti mengenai Land Reform Lokal a la Ngandagan. Karena naskah itu hasil sebuah penelitian ilmiah yang cukup intensif tentunya tidak bisa hanya dibaca sambil lalu, namun dari bacaan saya secara “grambyangan”, saya bisa menyimpulkan ini hasil penelitian yang sangat menarik untuk mendapatkan perhatian khususnya dari para pihak terkait. Walau sebagai hasil penelitian ilmiah, namun tulisannya enak untuk dibaca dan mudah diikuti bagi awam.
    Bagi saya yang terutama sangat menarik adalah sosok Lurah Soemotirto yang menurut saya manusia “luar biasa”, bahkan sampai sebelum ajalnya itu dia masih bisa menyelamatkan rakyatnya dari malapetaka yang akan datang di tahun 1965, sepertinya dia sudah mempunyai firasat. Dia sendiri pergi beberapa bulan sebelum peristiwa itu, seakan menandakan bahwa tugasnya telah selesai…
    Disini bukan tempatnya untu membahas materi naskah, namun secara sepintas saya ingin menyampaikan “selamat kepad Tim yang telah berhasil menampilkan sosok Lurah Soemotirto dan hasil karyanya yang nampaknya telah mendahului jamannya dan bahkan masih relevant sampai saat ini.
    Satu komen tentang Pabrik Gula di Pwr (Jenar), menurut saya kurang tepat. Tahun 1940 sudah tidak ada pabrik gula di Pwr, karena sudah bangkrut dan tutup pada permulaan tahun 1930 sebagai akibat depresi/resesi ekonomi dunia waktu itu. Sekali lagi trims untuk mas Widi dan selamat untuk Tim. Salam.

  20. widibintoro says:

    Pak Wik, terimakasih kembali atas apresiasinya tentunya untuk Mas Lutfi dan Tim. Memang luar biasa sekali sosok Lurah Soemotirto hingga akhir hayatnya masih memikirkan rakyatnya. Andaikata kepemimpinan seperti beliau masih ada hingga saat ini, bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar. Kalau komentar untuk pabrik gula, silahkan Mas Lutfi dan Tim dapat meninjau kembali, demi kesempurnaan buku tsb. Mungkin juga model bubungan yang bergaya sumatera”Minangkabau” karena tidak hanya di Ngadagan saja yang memakai model tsb tetapi hampir di daerah Pituruh sampai Kemiri dari jaman dahulu sudah menggunakan model seperti itu. Salam

    • Mas Widi, Saya setuju, model bubungan “bergaya Minangkabau” itu menurut saya tidak ada hubungan dengan pengembaraan Pak Soemotirto di Sumatra. Model itu lumrah sebagai hiasan wuwungan rumah desa dimana-mana, setidaknya di daerah Pwr, sejak saya kecil (tahun ’30-an) sampai sekarang. Mungkin bagian dari naskah mengenai ini perlu dikaji ulang demi keakuratan data.
      Untuk Pabrik Gula Pwr, saya tahu gambar itu dari sumber KITLV Belanda, tetapi pencantuman tahunnya tidak benar. Pabrik itu terletak di desa Plandi, Jenar, makanya terkenal dengan nama Pabrik Gula Jenar (Jendral Yani lahir di situ). Waktu tahun ’46 saya berkunjung kesitu sudah tinggal reruntuhan dan hanya tersisa satu-dua gedung saja. Salam.

  21. luthfi says:

    kawan-kawan sekalian, diskusi buku Ngandagan telah dilaksanakan Sabtu, 19 Maret kemarin di Toko Buku Toga Mas, Jogja. Beritanya bisa dilihat di: http://www.harianjogja.com/app/webroot/epaper/
    hlm 2 kanan bawah

    matur nuwun
    luthfi

  22. luthfi says:

    oya, jika ada yang berminat buku tsb, bisa hub. wulan: 081328064642
    trims

    • Maryana Marcus says:

      Dear Pak Luthfi,
      Saya sebagai putra asli Ngandagan yang saat ini tinggal di perantauan (Jakarta) sangat berminat dengan buku tersebut.
      Kalau teman-teman lain yang asli Ngandagan tahu, pasti semuanya berminat untuk membelinya.
      Terima kasih.

      Best regards,
      Marcus

  23. luthfi says:

    Saya menitip buku hasil riset kami tersebut di Pak Paulus Polisi Desa Ngandagan (Krg Turi). Monggi jika ingin menggandakannya. Atau jika berkenan, memesan ke penerbit. Nuwun

    • widibintoro says:

      Terimakasih informasinya Mas Lutfi, silahkan bagi siapa yang berminat terutama yang punya sejarah lahir dll dengan Desa Ngandagan, saya anjurkan pesan ke penerbit untuk menghargai jerih payah Mas Lutfi dan Tim. Selamat untuk Mas Lutfi dan Tim, semoga dapat berlanjut ke penelitian-penelitian selanjutnya, dan rencana kenaikan gaji bagi para peneliti Indonesia segera terealisasikan.Nuwun

  24. Luthfi says:

    Kini buku Ngandagan sudah bisa diunduh gratis di -book LIPI. sumangga:
    http://www.buku-e.lipi.go.id/utama.cgi?lihatarsip&moha007&1327703136

    • widibintoro says:

      Selamat Mas Lufti, semoga sukses dengan penelitian-penelitian yang baru di masa datang. Sepertinya dengan masih maraknya konflik terkait senketa tanah menajdi tantangan tersendiri bagi peneliti Agraria, apa sebenarnya menjadi persoalan utama konflik-konflik agraria di Indonesia seperti kasus Kasus Lampung sampai Bima. Salam

  25. Raden Bagoes says:

    Seng sabar mawon….

    NB : MOJOPAHIT

  26. Een says:

    ada lagi selain buku berjudul landreform lokal ala ngandagan, yaitu “ngandagan kontemporer: implikasi sosial landreform lokal” semoga ngandagan tidak kehilangan kejayaan seperti di masa lampau #bocah ngandagan#

  27. Bambang says:

    Pak Widhi,

    Saya aseli Prapag Lor, tapi selepas SD sudah ngekos di Purworejo, SMP di SMP 1 Purworejo. Saya baru tahu setelah googling sejarah Purworejo.Bahkan sedikit sekali yang saya tahu tentang tanah kelahiran saya. Terus gethok-tularkan pak, lewat media dan lewat lisan, biar kebanggaan kita terhadap tanah kelahiran tidak sirna.

    Salam,

    Bambang HN

  28. widibintoro says:

    Tks Pak Bambang atas tanggapannya, kalau Bapak punya cerita atau pengalaman terkait Tanah kelahiran mangga dituangkan dalam coretan biar yang lain ikut berbagi pengalaman Pak, Nuwun. Wasalam

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

Arisan Warga Purworejo Radio P2SC Walet Emas Jakarta

21 - Jun - 2009 | Febri Aryanto | 11 Comments »

NAIK KERETA API DI JAMAN JEPANG

20 - Sep - 2012 | slamet wijadi | 12 Comments »

Bapak Ibu Guru ku tercinta

9 - Sep - 2011 | massito | 5 Comments »

Kanthong Macan Mbah Mijem ( Cerita bahasa Jawa )

23 - Sep - 2014 | slamet_darmaji | 5 Comments »

Membangun Purworejo dari penciptaan blogger desa

6 - May - 2013 | indra.ngombol | 11 Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net