Nostalgia Nonton Wayang Bersama Bung Karno

  5 - Jun - 2010 -   slamet wijadi -   21 Comments »
Bung Karno Wayang

Bung Karno dengan tokoh idolanya Sang Gathutkaca di dampingi Walikota Jakarta Soediro

Kejadiannya sudah berlalu sekitar 50 tahunan, sekitar permulaan tahun ‘60-an, namun dalam ingatan saya sepertinya baru kemarin saja.Tempatnya di Istana Negara, waktunya suatu malam Minggu. Dalangnya Ki Gitosewoko, dalang kesayangan Bung Karno (BK) yang kebetulan juga berasal dari Blitar. Karawitan RRI Studio Jakarta pimpinan Pak Sukiman dengan waranggana nyi Tjondrolukito dan teamnya. Lakon, pilihan BK atas usul ki Dalang, yang penting harus ada kiprah Sang Gathutkaca, tokoh wayang idola BK. Memang ini hak dari BK karena beliau yang punya gawe, nanggap wayang, rata2 sebulan sekali di Istana Negara, dan ngundang sekitar 100-an undangan untuk menemani dan menikmati malam Minggu bersama.

Sukarno

Mas Sutomo, pejabat protokol istana yang mengatur pertunjukkan wayang bersalaman dengan Bung Karno.

Siapa yang beruntung dapat undangan? Sesungguhnya setiap orang yang berminat bisa minta Sekretariat Negara, sama sekali tidak ada kekhususan, namun karena jumlahnya terbatas biasanya lalu berlaku sistem teman “orang dalam” Sekneg, khususnya protokol istana. Yang saya tahu pasti, undangan itu diberikan secara gratis, tanpa embel2 apapun. Saya sendiri kebetulan waktu itu diperbantukan oleh Deplu ke Sekretariat Dewan Pertimbangan Agung/Sekneg, sehingga memiliki info awal bila akan ada wayangan, dan tanpa membuang waktu menghubungi teman “orang dalam” untuk memperoleh undangan.

Pukul tujuh sore para undangan sudah harus masuk Istana Negara lewat pintu belakang Jalan Segara/Veteran, cukup dengan menunjukkan kartu undangan langsung dipersilahkan masuk menuju ruang pagelaran wayang, hampir tanpa pemeriksaan keamanan. Sungguh berbeda dengan keadaan sekarang, jaman itu masih “sederhana dan aman”. Sekitar pukul setengah delapan, gamelan mulai ditabuh. Pertunjukan akan dimulai pukul delapan. Menjelang pukul delapan mulai talu, semetara ki Dalang sudah siap di tempat. Selesai talu, BK masuk ke ruang pertunjukan diiringi dua/tiga pejabat penggemar wayang dan ajudan, semua penonton berdiri, BK kasih salam dengan senyumnya yang khas kepada para penonton dan langsung duduk di tempat yang disediakan.

Demi keamanan, BK duduk di depan/terlindung oleh pilar, di kiri kanan terlihat satu dua pejabat dan teman-teman Bung Karno penggemar wayang. Suasana nampak akrab layaknya orang orang yang sedang menonton wayang, santai tanpa rasa tegang. Saya sendiri waktu itu duduk hanya beberapa meter dari BK arah samping kiri belakang, tidak terasa bahwa di dekat saya duduk orang nomer satu di Republik ini.

Dalang

Ki Gitosewoko dalang kesayangan Bung Karno

Pagelaran dimulai, penonton terbuai oleh kiprah ki Dalang , suasana tenang, tidak terdengar suara apapun antara penonton, perhatian seluruhnya kepada layar/kelir di depan sambil mengagumi keahlian dalang dalam memainkan wayang, suluk, janturan dan ontowacono dari para tokoh2 wayang. Sedikit mengenai dalang Gitosewoko. Dia memang dipilih oleh BK sebagai dalang yang “pas” sesuai dengan selera beliau, bahkan sampai di beri tempat tinggal/kamar dalam kompleks perumahan Istana Negara. Khususnya bila dia menampilkan tokoh Gathutkaca, sungguh sangat memukau, pada waktu janturan bersiap untuk terbang sampai pada klimak-nya, “jejak bantala, melesat angkoso, kebat kadiyo kilat, kesit kadiyo tathit…” diiringi dengan gending pangkur palaran dan sinden Nyi Tjondrolukito, sungguh menggetarkan perasaaan para penonton termasuk Bung Karno yang nampak sangat menikmati episode tsb. Selanjutnya saat perang kembang antara Denawa/Gathutkaca juga dengan iringan gending pangkur palaran dengan iringan suara khas Nyi Tjondrolukito “ Ampyaken kaya wong njala, krubuten kaya menjangan mati…”. Inilah nampaknya dua episode yang sangat digemari oleh BK.

Teman saya yang pinter ndalang, Mas Mulwanto dari Solo (masih ada),bekas Atase Kebudayaan di Pilipina, cerita bahkan pada waktu jadi “tahanan rumah” di Istana Bogor, ia sering diminta datang BK bersama dengan almarhum Ir. Sri Mulyono Herdalang, khusus untuk mainkan episode Gathutkaca vs Denawa diiringi oleh gending/lagu pangkur palaran. Nampaknya ini sudah menjadi “obsesi” BK… Dalam kondisi terisolasi, hiburan beliau adalah wayang dengan tokoh Gathutkaca. Saya masih menyimpan piringan hitam dari Lokananta yang berisi rekaman Gathutkaca Gandrung oleh Roesman dan Darsi, yang terkenal sebagai Gathutkaca dan Pergiwa Sri Wedari. Mereka sering diundang Bung Karno ke Istana khusus untuk menarikan tari Gathutkaca Gandrung dengan suaranya yang menggelegar . Lagi-lagi dengan pangkur palaran. Nampaknya memang tembang/lagu inilah idola Bung Karno, sampai-sampai dalam salah satu gubahan puisinya, beliau mengatakan bahwa “bila saya mendengar tembang Pangkur Palaran seakan saya juga melihat Indonesia tercinta”.

Sekitar jam sepuluh malam terdengar suara cangkir beradu, ini tandanya hidangan kopi mulai dikeluarkan, kopi pilihan Bung Karno, aromanya saja sudah cukup menggugah, rasanya sungguh nikmat ditengah suasana santai nonton wayang. Bung Karno betul-betul membaur dengan rakyatnya hampir tanpa jarak. Ketika saatnya datang adegan goro-goro suasana makin santai dan bagi yang sudah biasa nonton di Istana inilah saat yang di tunggu-tunggu. Hidangan makan malam berupa rawon kesukaan Bung Karno mulai diedarkan lengkap dengan sambelnya yang terkenal pedas merangsang. Hidangan ini langsung membangunkan mereka yang ngantuk ditambah dengan segelas teh manis panas sebagai penutup cukup untuk bekal melanjutkan nonton wayang sampai tancep kayon. Dan penonton memang baru bubar, termasuk Bung Karno, setelah tancep kayon.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya melayang dan teringat kembali kenangan sewaktu kecil di desa. Sebagai penggemar wayang “fanatik”, kemanapun ada wayang saya hampir tidak pernah melewatkan. Apabila penonton penuh sesak, kami anak-anak manjat pohon dan nangkring di atas sambil “nggayemi krimpying” desa Carikan, layaknya menonton dari balkon. Malam hari sehabis Maghrib kami berangkat , langsung cari tempat di sebelah ‘kothak’, walau di usir2 oleh Pak Niaga tetap bertahan dan tidak bergeming. Kesenangan yang luar biasa bila Pak Dhalang minta bantuan mengambilkan tokoh wayang dari ‘simpingan’, biasanya dengan menggunakan “gada panjang”. Sing niki napa? “ya”, kata Pak Dhalang. Sungguh merupakan kepuasan. Pagi hari setelah bubaran, cari ‘badharan gebleg’ untuk mengisi perut yang lapar. Sambil pulang sepanjang jalan “nggayemi” gebleg dingin alot, namun cukup terasa gurih juga.

Sekitar duapuluh tahunan kemudian setelah peristiwa wayangan desa itu, saya pulang nonton wayang bukan dari Ngringgit, Briyan atau Singkil, tapi dari Istana Negara bahkan nonton bersama dengan Bung Karno, tokoh yang paling saya kagumi, bukan dengan jalan kaki tapi naik mobil walaupun mobil dinas. Sungguh di luar impian dan khayalan bahwa hal itu bisa terjadi. Perjalanan hidup seseorang memang penuh misteri, namun bagi saya itulah hikmah dan nikmat kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno dan tentunya tidak terlepas dari kehendak dan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa juga.

Slamet Wijadi.

Category: blog, Tags: | posted by:slamet wijadi


21 Responses to “Nostalgia Nonton Wayang Bersama Bung Karno”

  1. widibintoro says:

    Pak wik, saya jadi yang pertama ngomentarin ya, kebetulan lagi jalan hujan, ngiyup di warnet aja. Pokoknya kalau mbaca tulisan Bapak sepertinya terbawa. Walaupun sederhana tapi enak dibaca dan garansi tidak akan bosan. Beruntung ya punya kesempatan nonton wayang di istana sama Presiden Soekarno. Coba kalau sekarang baru mau ngiyup di dekat Sekneg aja udah ada yang ngawasin. Ya jaman memang sudah berubah. Di kampungpun saat ini hanya segelintir orang yang sanggup nanggap wayang karena butuh biaya besar. Kalau sudah seperti ini terkadang “banyak hal di jaman dahulu yang sulit dicapai saat ini”. Salam.

    • Mas Widi, memang jamannya sudah berubah, dulu sangat terasa ada hubungan yang hangat antara pemimpin dan yang dipimpin, karena pemimpin dekat dengan rakyatnya seperti nonton wayang bersama itu, hampir tidak ada jarak, ngopi dan makan rawon bersama sambil menikmati kiprah ki dhalang. Kalau sampai sekarang orang masih “rindu” pada BK barangkali memang ada hubungan/ikatan batin yang didasari oleh kecintaan timbal balik antara kedua belah pihak. Terimakasih untuk komentar yang menyenangkan. Kapan tulisan tentang desa Ngandagan akan muncul? Salam.

      • widibintoro says:

        Pak Wik, tulisan re Desa Ngandagan dan Bung karno sudah saya post ke BP, layak atau tidaknya dimuat kula serahkan sama Mas Meds, selaku admin. Nuwun

  2. Gunarso Ts says:

    Setelah kejatuhan Orde Lama, tradisi wayangan di Istana memang hilang hingga kini. Pak Harto yang konon pecinta budaya Jawa, ternyata tak pernah wayangan di Istana. Kini wayangan di kampung-kampung juga mulai jarang, karena keluarga-keluarga generasi kini tak tertarik lagi. Maka nostalgia Pak Slamet Wiyadi makan krimpying sambil nonton wayang, di zamanku (1960-1970)berganti makan geblek. Aku juga pernah memiliki kebanggaan seperti Bpk, ketika nonton Ki Hadisugto di Jenar Lor th 1970-an. Karena aku dekat kotak, sering diminta mengambilkan wayang yang akan dipentaskannya.

    • Mas Gunarso, tradisi wayangan di Istana itu kan “penemuan” BK, karena beliau sendiri memang “fanatik” wayang. Setelah BK nggak ada ya hilang bersama penemunya, kan waktu itu semua yang berbau BK harus ikut pergi.
      Saya senang mas Gun punya pengalaman sama. Nampaknya sepele cuma mengambilkan wayang, tetapi bagi anak kecil memang suatu kebanggaan tersendiri, apalagi kalau ngambilnya pas cocok spt yang dikehendaki dhalang, besoknya nggak habis2 di “umuk”kan pada teman2nya. Salam.

  3. hasmadji says:

    Pak Slamet, sungguh ini tulisan yang menarik. Sekelumit sejarah yang terungkap dari sebagian kecil sisi kehidupan Ir.Soekarno yang juga ternyata penggemar wayang kulit. Dan bagi Pak Slamet sendiri yang berkesempatan “sak pejagong” dengan sang tokoh nomor satu RI, juga tokoh yang Pak Slamet kagumi tersebut boleh jadi merupakan pengalaman dan kebahagiaan yang sangat “bernilai” yang tak kan tergantikan oleh apapun. Saya ikut bangga Pak.

    Sependapat dengan komentar Mas Widi dan Mas Gunarso, memang di beberapa daerah di Jawa kini sudah langka yang nanggap wayang. Agak ironis memang!! Padahal, apa kata dunia? Dunia sudah mengakuinya loh !! Buktinya sejak tahun 2003 lalu UNESCO sudah menetapkan bahwa wayang kulit menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia. Ki Manteb Sudarsono yang ketika itu menjadi duta dari Indonesia, di hadapan petinggi Unesco diminta pentas pakeliran padat untuk lakon Rahwana-Ramayana dalam waktu tidak lebih dari lima belas menit. Sukses !!

    Berbeda dengan Soekarno, berbeda pula tentang Soeharto dalam hal merefleksikan kecintaannya kepada wayang kulit. Bagaimanapun saya tetap kagum kepada beliau berdua yang pada masing-masing rezimnya tentu telah berperan besar dalam melestarikan budaya wayang kulit khususnya.

    Kini, tidak berlebihan rasanya kalau masyarakat pecinta wayang masih menggantungkan harapan agar masa kejayaan dapat kembali terjadi seperti dulu.
    Demikian Pak Slamet, semoga berkesan. Tak lupa teriring salam sukses untuk Mas Widi dan Mas Gunarso.

    Salam, Hasmadji.

    • Mas Madji, saya merasa “deket” dengan BK karena alasan pribadi yang mendasar, tokoh ini yang memerdekakan Indonesia dan dengan kemerdekaan terbuka kesempatan bagi kami ini anakanak desa untuk menikmati pendidikan yang setinggi tingginya dan mengubah nasib/jalan hidup hingga seperti sekarang ini. Memang beliau tidak sendirian tapi tanpa pimpinan beliau apakah akan ada proklamasi yang mendapat dukungan seluruh rakyat Indonesia? Dan tanpa proklamasi, akankah ada negara Indonesia seperti sekarang ini?
      Saya tidak pesimis tentang hari depan wayang, mungkin agak meredup sementara, namun akan ada waktunya bangkit kembali, makanya biarlah proses alam berjalan secara wajar.
      Tadi Mas Gun datang ke rumah dan lama ngobrol tentang wayang dan berbagai hal, terimakasih atas kunjungannya. Salam, Sw.

  4. alhamdulillah ketemu pak wik lagi yang tulisan2nya selalu menarik bagi saya.
    wayang memang punya daya tarik tersendiri bagi penggemarnya.
    wayang memang memiliki seni yg sangat tinggi baik ontowacono kiprah
    seni sungging maupun sanepo / perlambang didalamnya sungguh mempunyai
    nilai yang sangat tinggi. kita mestinya harus appreciate sama empu utamanya
    sunan kalijogo yang telah menciptakaan wayang kulit seperti sekarang ini.
    jadi sudah seyogyanyalah wayang ditanamkan didada anak2 jawa.

  5. Matur nuwun Pak Dokter,e maaf Eyang Bethoro,Sunan Kalijogo itu memang tokoh yang “sangat luar biasa” tidak percuma kalau disebut Wali Mumpuni, segala ajarannya “pas” untuk masyarakat Jawa. Dalam hal wayang beliau itu “genius”, menciptakan sesuatu yang menjadi “baku” dan klasik hingga saat ini, hampir tidak mengalami perobahan berarti dalam semua aspeknya, dicintai hampir semua lapisan masyarakat. Sungguh sayang bila warisan budaya luhur ini akan terlantar, namun saya yakin satu kali tempo akan bangkit kembali, karena wayang sudah menjadi bagian hidup orang Jawa.Semoga, salam, Sw.

  6. mbah suro says:

    Eh… wayangan, njur kelingan nalika isih SR. Nonton wayang, wayange wis bubar krinan tangi, turu ning ngisor wit gedang. Waduh isin tenan.

    Pak SW! kapan Purworejo perantauan nanggap wayang? Monggo diseponsori Pak. Nuwun….

    • Lucu dan kocak juga pengalaman mbah Suro, krinan nonton wayang turu ning ngisor wit gedang, jarang lho yang punya kenangan demikian, untung tidak di “sudhung” kambing… Gagasan untuk perantauan Pwr nanggap wayang setuju saja, namun untuk jadi sponsor kayaknya sudah “kedalu warso”. Itu lho yang muda-muda kan banyak. Kalau saya cocoknya “hamung anyengkuyung” saja…. Salam.

  7. hariadi says:

    Assallamuallaikum,
    Memang semua yang Eyang tulis sangat sangat membawa ke zaman dulu yg mengesankan walau saya dr zaman yg berbeda.Amazing…
    setidaknya ada sekelumit kejayaan wayang yang masih sempat saya nikmati waktu kecil sebelum pergeseran masa dan budaya, waktu itu lagi ramenya Ki dalang Hadi sugito dari Temon..
    Karena senangnya akan lakon wayang itu, dulu saya berfikir nanti kalo saya punya anak lelaki akan saya namakan Abimanyu, dan alhamdulillah kesampaian..
    Oya Eyang mulai bulan Juli saya pindah kerja di jakarta, biar deket sama keluarga.
    wassallam.
    hariadi

    • Mas Hariadi, thanks untuk komen-nya. Memang tulisan2 saya banyak menengok ke jaman lampau, jaman yang sudah “hilang”, namun sebagai kenangan terasa sangat menggugah memori, setidaknya untuk saya. Syukur mas Hariadi mempunyai kaitan kenangan juga.
      Saya senang mas Hariadi “pulang kandang”, dan dekat dengan keluarga, sehingga pembinaannya lebih mudah.
      Dalang Hadisugito itu dari Toyan Wates, tapi ibunya yang mbakyunya dalang Timbul asli dari Plandi/Jenar, spt yang saya tulis dulu. Sayang sudah alm. Sama spt mas Hariadi, anak saya juga ada yang nama wayang, ya namanya wong Jowo…
      Kalau sudah di Jkt silahkan mapir kalau ada waktu. Salam.

  8. Gunarso TS says:

    Matur nuwun Pak Slamet Wiyadi, pengalaman panjenengan kula dadosaken bahan artikel wonten majalah basa Jawi JAYA BAYA no. 47 edisi Juli 2010. Mugi-mugi nambahi seserepan kagem para sutresna JB ingkang dereng pana babagan internet. Matur bares kemawon, seratan bapak ing blog punika kathah ingkang saged nuwuhaken gagasan enggal kangge seratan kula salajengipun. Sepindhah malih, matur nuwun Bapak.

    • Mas Gunarso, tidak mengira bhw tulisan saya menjadi bahan untuk penulisan di majalah Jaya Baya. Semoga pembacanya senang membacanya. Kalau pembacanya senang, mungkin ada dua alasan, ceritanya menarik atau penyajian mas Gunarso sebagai wartawan yang mumpuni dengan bahasa Jawa-nya memang hebat. Kayaknya yang bener yang kedua.Bagaimanapun, maturnuwun telah “mempopulerkan” tulisan saya yang tidak lain sekedar merupakan kenangan terhadap pahlawan idola saya. Salam, kalau kondur Pulutan lebaran nanti jangan lupa kampir di rumah Susuk, Insya Allah kami ada disana. Salam.

  9. ken says:

    komentar saya cuma sederhana saja, membaca tulisan anda seakan saya membaca tulisan idola saya, Umar Kayam

    • Mas Ken(?), sanjungan ini sudah “kebablasan”, masak tulisan saya di”sejajarkan” dengan tulisan sastrawan besar Umar Kayam yang juga idola saya. Betapapun, saya sangat menghargai dan mengucapkan “thank you full”. Salam.

  10. Bambang says:

    Pak Slamet Wijadi, saya sangat tertarik dengan tulisan ttg Nonton Wayang bersama Bung Karno. Nyuwun pirso, apakah PH yg dimaksud itu ph dg judul Gatotkatja Krama, keluarana Lokananta. Tapi ini Wayang Orang. P Rusman sbg Gatutkaca dan P S Darsi sebagai Sengkuni. Pemain RRI Surakarta diperkuat oleh WO Sriwedari.
    Salam
    Bambang / Montreal

    • Mas Bambang/Montreal, ph yang saya maksud bukan dengan judul Gathutkaca Krama, tetapi khusus menyajikan Gathutkaca Gandrung/Gambiranom, dengan peranan Rusman sebagai Gathutkaca dan Darsi (sang isteri) sebagai Pergiwa, sebagian besar berisi lagu2 yang di bawakan oleh Rusman dengan suara dan gaya yang “cocok” dengan selera Bung Karno, khususnya lagu Pangkur Palaran-nya.
      Di Montreal masih ingat wayang juga Mas? Sdh berapa lama mukim di disitu? Tahun 1958 (sdh kuno ya), saya berkunjung ke Vancouver BC, waktu saya belajar di Oregon. Salam semoga krasan .

  11. htluzgdg says:

    hkkSGd ousmtibabmov, [url=http://juooxbwqzpjm.com/]juooxbwqzpjm[/url], [link=http://igvyarmhzcsx.com/]igvyarmhzcsx[/link], http://yajnyegfwzyj.com/

  12. Wim says:

    Sekadar melengkapi penuturan Pak Slamet Wijadi(SW): kebetulan saya juga pernah beruntung mendapat undangan nonton wayang kulit bersama BK di Istana. Kalau Pak SW mendapat undangan lewat jalur Sekneg, saya dari jalur RRI Pusat. Seorang teman yang bekerja di Voice of Indonesia, RRI telah berbaik hati memberi undangan itu.
    Untuk diketahui wayangan d Istana itu selalu di relay RRI Pusat. Bukan cuma yang di Istana, wayangan yang menjadi acara bulanan RRI Pusat itu pun kadang di gelar di Kantin Polisi (dulu dikenal dengan sebutan Hopbiro, kini Polda Metro Jaya)letaknya persis di seberang RRI Pusat di Jl Merdeka Barat. Jadi, di area Monas sekarang.
    Acara hidangan rawon itu (sekitar tengah malam, waktu goro-goro/perang kembang/bambangan)seingat saya berlanjut dengan kopi/teh gitel-legi kenthel)plus pisang atawa ubi goreng pada sekitar 02.00 — 03.00 dinihari.
    Yang juga masih saya ingat, sesekali BK perlu ke urinoir/peturasan yang tak jauh dari kelir. Meskipun sangat boleh jadi tetap dalam pengawalan namun tidak ketara amat.
    Tayungan Seno, Gathutkoco, Setiaki atau kstaria lain seusai memenangi angkaramurka di ujung pergelaran selalu membuat merinding. Lantaran tokoh-tokoh wayang itu jadi “hidup” di tangan Ki Gitosewoko. Atau, di ujung pergelaran itu kadang tanpil(wayang)golek yang begitu centhil menari membuang/mengibas sampur (juga) di tangan Ki Dhalang Gitosewoko …
    Matur nuwun, Pak SW. nJenengan telah menggugah kenangan saya di tahun 1950-an itu …

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

fenomena mesin uang otomatis

6 - Jan - 2010 | singgih | 5 Comments »

BUDI DAYA ITIK (BEBEK)

25 - Jul - 2011 | Ratno | 13 Comments »

Sekolah Partikelir

3 - Mar - 2013 | slamet_darmaji | 17 Comments »

Hari Ulang Tahun

16 - Jun - 2012 | slamet_darmaji | 9 Comments »

LUMBUNG PADI KEDU SELATAN

25 - Jul - 2009 | massito | No Comments »

© copyleft - 2010 by Blogger Purworejo
Theme by: azimat.net